Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Edukasi Granostic

DIET Seimbang yang BAIK | Health Podcast
Bagaimana fenomena “Remaja Jompo” ini menyebabkan penyakit-penyakit metabolik?    Gangguan metabolik adalah suatu kejadian yang terjadi karena proses metabolisme yang gagal dan menyebabkan tubuh memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit zat yang penting agar tetap sehat. Dengan begitu, beberapa penyakit dapat terjadi ketika beberapa zat penting tersebut kurang atau lebih.Terdapat multi-faktor yang memengaruhi terjadinya Gangguan Metabolik dalam isi podcast kali ini, yaitu:Orang-orang dengan orangtua yang memiliki riwayat, lebih rentan mengalami gejala metabolik lebih tinggi, apalagi ketika mereka termasuk dari “Remaja Jompo”. Tidak ada aktivitas rutin hingga pola makan yang tidak dijaga akan menyebabkan penumpukan kalori dan lemak. Jika dibiarkan kalori dan lemak yang sudah menumpuk akan menyumbat pembuluh darah.Apakah kita harus tetap memperhatikan 4 Sehat 5 Sempurna? Apakah harus seperti itu? Atau ada makanan tertentu yang harus kita hindari?    4 Sehat 5 Sempurna memiliki semua nutrisi baik makro maupun mikronutrien memang dibutuhkan. Namun, apakah dari 4 Sehat 5 Sempurna termasuk ke dalam makanan yang higienis dan bersih dalam pengolahannya? Lantas komposisi di dalamnya seperti apa? Apakah sudah seimbang dengan kegiatan sehari-hari, di mana tubuh membutuhkan semua nutrisi dari sana.    Yuk, simak podcast dalam tema "Remaja Jompo" bersama dr. Aji Wibowo di Youtube Granostic, serta ikuti podcast-podcast bermanfaat lainnya.
RUBELLA
    Rubella adalah penyakit akut dan mudah menular Ini sering menginfeksi anak-anak dan dewasa muda yang rentan. Penyakit Ini memiliki gejala klinis ringan dan 50% tidak menunjukkan gejala. Infeksi rubella pada Wanita hamil dapat mengalami keguguran atau kecacatan Lahir permanen atau dikenal sebagai bayi dengan Sindrom rubella kongenital (CRS). akibat yang ditimbulkan oleh rubella adalah cacat seumur hidup yang harus ditanggung oleh penderita, keluarga, bahkan bangsa dan negara.(WHO Weekly Epidemiological Record, No. 29, 2011, 301-316)Epidemiologi Penyakit Rubela    Angka penemuan kasus dan kematian karena campak dan rubela di Indonesia pada tahun 2014-2018 yang dilaporkan adalah 14.192 positif rubela. kurang lebih 77% penderita merupakan anak usia di bawah 15 tahun. (Kemenkes, 2019)Patogenesis dan Penularan RubelaPenyebab Rubella Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh togaviridae Jenis rub virus yang termasuk golongan virus RNA. Virus rubela cepat mati oleh sinar ultra violet, bahan kimia, bahan asam dan pemanasan. Virus rubela dapat menembus sawar placenta dan menginfeksi janin.Akibat hal tersebut dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin, antara lain: abortus, lahir mati atau cacat berat kongenital (birth defects) yang dikenal sebagai penyakit Congenital Rubella Syndrome (CRS). Rubella juga dapat ditularkan melalui droplet saluran pernapasan saat batuk atau bersin. Virus dapat berkembang biak di nasofaring dan kelenjar getah bening regional. Dengan percikan cairan seperti air liur atau keringat orang lain.Masa Inkubasi Penyakit Rubella Masa inkubasi penyakit rubela berkisar antara 14–21 hari.GejalaGejala penyakit rubela ditandai dengan:Demam ringan (37,2°C) dan bercak merah/rash/ruam makulopapuler (sering terjadi pada ana-anak) Pembesaran kelenjar getah bening (limfe) di belakang telinga, leher belakang dan sub occipital.Rubela pada wanita dewasa sering menimbulkan arthritis atau arthralgia.Dampak Infeksi RubelaDampak infeksi rubela pada wanita hamil, terutama pada kehamilan trimester pertama, dapat mengakibatkan abortus, lahir mati atau bayi lahir dengan CRSBentuk kelainan pada CRS:Kelainan jantung: Patent Ductus Arteriosus (PDA), Defek Septum Atrial/Atrial Septal Defect (ASD), Defek Septum Ventrikel/Ventricular Septal Defect (VSD), Stenosis Katup Pulmonal/Pulmonary Stenosis (PS)Kelainan pada mata: Katarak Kongenital, Glaukoma Kongenital, Pigmentary Retinopathy; Kelainan pendengaran: Tuli Sensouri Neural/ Sensouri Neural Hearing Loss (SNHL)Kelainan pada sistim saraf pusat: retardasi mental, mikrocephalia dan meningoensefalitis; Kelainan lain: purpura, splenomegali, ikterik yang muncul dalam 24 jam setelah lahir, radioluscent bone, serta gangguan pertumbuhanPemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menunjang diagnosis infeksi virus rubella dan untuk status imunologis. Karena prosedur isolasi virus sangat lama dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. Bahan pemeriksaan untuk menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari apusan (swab) tenggorok, darah, urin dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:Isolasi VirusVirus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, apusan tenggorok, urin, dan cairan serebrospinalis penderita rubella. Virus juga dapat diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu setelah munculnya ruam. Meskipun metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 karena prosedur pemeriksaan yang rumit. Hal ini menyebabkan metode isolasi virus bukan sebagai metode diagnostik rutin. Untuk isolasi secara primer spesimen klinis, sering menggunakan kultur sel yaitu Vero; African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE).Pemeriksaan SerologiPemeriksaan serologis digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella kongenital dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda) dan untuk menentukan status imunologik terhadap rubella. Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah bersentuhan dengan penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti. Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim (ELISA) terhadap serum penderita untuk menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dipastikan dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah khusus. Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena telah mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella dengan ELISA juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan re-infeksi. Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu:Membantu menetapkan diagnosis rubella kongenital. Dalam hal ini dilakukan imunoasai IgM terhadap rubellaMembantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderitaMemeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu, sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat disebabkan oleh berbagai macam virus yang lainMemantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas)Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi. Adanya antibodi IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa penderita tersebut pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan terhadap virus rubella. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring untuk Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 kehamilan adalah sebagai berikut: sebelum kehamilan, bila positif ada perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan muda (trimester pertama).Kadar IgG ≥15 IU/ml, umumnya dianggap dapat melindungi janin terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila positif berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada.Pemeriksaan RNA VirusJenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella antara lainPolymerase Chain Reaction (PCR): PCR merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris, PCR digunakan sebagai metode evaluasi rutin untuk menemukan virus rubella dalam spesimen klinis. Penemuan RNA rubella dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai sensitivitas 87–100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu setelah onset infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR menggunakan sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang sering digunakan untuk kepentingan pengawasan (surveillance).Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP) RT- LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali RNA virus rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan sensitivitas antara pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus yang dilakukan di Jepang, ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT-LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan 33,3% untuk isolasi virus. Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan RT-PCR tetapi hasil pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat tingkat kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan inkubasi di alat turbidimeter.Pencegahan Tindakan pencegahan terbaik adalah vaksinasi sesuai dengan jadwal vaksinasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Vaksinasi MMR pertama berusia 15 bulan dan yang kedua berusia 5 tahun. Vaksinasi juga dapat diberikan sebelum bepergian ke daerah endemis rubella dan setidaknya satu bulan sebelum kehamilan.Rubella dapat dicegah dengan mempraktikkan kebiasaan berikut:Menjaga kebersihan diri, yaitu mandi secara teratur dan mencuci tangan dengan sabun. Hindari kontak dengan penderita rubella. Isolasi penderita rubella di ruangan terpisah dari keluarga mereka.PENULIS: Vicky Nur FadilaEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Medicalnewstoday. Diakses pada 2022. Rubella (German measles)Pedoman. Campak & Rubella 2022Fitriany, Julia dan Husna, Yulia. 2018. Sindrom Rubella Kongenital. Bagian ilmu Kesehatan anak, Universitas Malikussaleh: Lhokseumawe
LEPTOSPIROSIS
    Leptospirosis pada manusia pertama kali ditemukan oleh Van der Scheer pada tahun 1892 di Indonesia, namun isolasi baru dapat dilakukan pada tahun 1922 oleh Vervoort. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan saat ini leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena belum dapat dikendalikan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, selama tahun 2014 – 2016 terdapat tujuh provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten dan Kalimantan Selatan.    Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis menular yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Kejadian leptospirosis biasanya dihubungkan dengan bencana banjir, air pasang di daerah pantai, daerah rawa atau lahan gambut.EPIDEMIOLOGI    Leptospirosis tersebar luas di negara-negara yang beriklim tropis termasuk Indonesia. Kondisi lingkungan di wilayah tropis sangat mendukung penyebaran bakteri Leptospira, karena bakteri ini cocok hidup pada lingkungan dengan temperatur hangat, pH air dan tanah netral, kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Terlebih jika kondisi lingkungan dalam keadaan yang buruk yang mendukung perkembangan dan lama hidup bakteri. Di wilayah Asia Pasifik leptospirosis dikategorikan sebagai penyakit yang ditularkan melalui media air (water borne disease), terlebih air yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi jika ada kontak antara manusia dengan hewan atau lingkungan yang sudah terinfeksi bakteri Leptospira. Manifestasi leptospirosis ini beragam mulai dari gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. Sedangkan hewan yang terinfeksi oleh leptospira belum tentu tampak dalam kondisi sakit, karena bakteri ini bersifat komensal pada beberapa jenis hewan termasuk tikus yang dikenal sebagai reservoir leptospirosis di Indonesia. Secara alamiah leptospirosis terjadi karena adanya interaksi yang sangat kompleks dan beragam antara agent (pembawa penyakit), host (tuan tumah/pejamu) dan environment (lingkungan).Agent (Pembawa Penyakit)     Agent atau pembawa penyakit adalah mikroorganisme infeksius atau patogen. Pembawa leptospirosis adalah bakteri berbentuk spiral berpilin yang masuk dalam genus Leptospira. Bakteri ini bersifat komensal pada hewan dan secara alamiah memang berada di tubulus ginjal dan saluran kelamin hewan tertentu.    Bakteri Leptospira memiliki dua lapis membran, berbentuk spiral, lentur, tipis dengan tebal 0,1 µm dan panjang 10-20 µm. Pada kedua ujungnya terdapat kait berupa flagelum periplasmik. Bergerak maju mundur dan memutar sepanjang sumbunya. Bakteri ini dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan dan peka terhadap asam. Dalam air laut, air selokan dan air kemih yang pekat, bakteri ini akan cepat mati. Berdasarkan strainnya, bakteri Leptospira dibedakan menjadi strain yang patogen dan non patogen. Leptospira patogen dikenal sebagai L. interrogans, sedangkan yang non-patogen dikenal sebagai L. biflexa. Bakteri Leptospira memiliki lebih dari 250 buah serovar patogen yang terbagi ke dalam 25 serogrup. Beberapa serovar yang ditemukan selama ini di Indonesia antara lain adalah serovar hardjo, tarassovi, pomona, australis, rachmati, bataviae, djasiman, icterohamorragie, hebdomadis, autumnalis, dan canicola.Host (Tuan Rumah/Pejamu)     Host atau tuan rumah adalah manusia yang dapat terserang penyakit. Penyakit Leptospira memiliki dua pejamu, yaitu binatang/mamalia dan manusia. Mamalia yang menjadi pejamu ini dikenal dengan sebutan reservoir, berupa binatang buas dan juga ternak, termasuk tikus. Di Indonesia, sumber penularan utama leptospirosis adalah tikus. Tikus yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira terkadang tampak dalam keadaan sehat, karena bakteri ini bersifat komensal terhadap binatang inangnya. Beberapa spesies tikus yang menjadi reservoir leptospirosis di Indonesia di antaranya adalah Rattus tanezumi, Rattus norvegicus, Bandicota indica, Rattus exculan, Mus musculus dan Suncus murinus.    Leptospirosis pada manusia menampakkan gejala yang bervariasi, mulai dari gejala ringan sampai dengan berat, tergantung jenis serovar yang masuk ke dalam tubuh manusia. Gejala klinis leptospirosis setelah masa inkubasi berupa demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk, rasa tidak nyaman di badan, muntah, nyeri pada perut, diare, sufusi konjungtiva, jaundice, urin berwarna seperti teh, oliguria, anuria, batuk berdarah, perdarahan pada kulit, pusing dan lesu. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan beberapa organ berupa kegagalan hati akut, kegagalan ginjal akut, perdarahan pada paru-paru, miokarditis dan meningoencephalitis yang berakhir pada kematian. Leptospirosis sebagian besar menyerang laki-laki pada usia produktif, bekerja di luar rumah, memiliki kontak dengan tikus dan juga air yang terkontaminasi dengan bakteri Leptospira.LINGKUNGAN    Lingkungan adalah faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi pembawa penyakit dan memberikan kesempatan pada pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit, termasuk faktor fisik, biologi dan sosial ekonomi.    Penyakit leptospirosis ini biasanya terjadi pada wilayah tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi, udara yang hangat dan lembab serta biasanya terjadi setelah banjir berlangsung. Biasanya setelah banjir berakhir, manusia dan binatang akan terpapar oleh air maupun tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan dengan genangan air di sekitar rumah berhubungan dengan kejadian leptospirosis, selain itu, rumah dengan dinding dapur bukan dari tembok, tidak ada langit-langit di rumah, tempat sampah terbuka, kondisi rumah yang tidak rapi juga berhubungan dengan kejadian leptospirosis dan daerah yang rawan banjir.    Manusia dan binatang dapat terinfeksi oleh bakteri ini melalui kontak antara kulit atau mukosa dengan air maupun tanah yang mengandung urin binatang yang terinfeksi oleh bakteri ini. Infeksi juga dapat terjadi jika manusia mengkonsumsi air ataupun makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang ada di kulit, membran mukosa (hidung, mulut dan mata), atau bahkan melalui air minum. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri ini berada di dalam darah dan menyerang jaringan dan organ tubuh.DIAGNOSIS    Diagnosis leptospirosis dapat dilakukan baik pada hewan maupun manusia. Pada hewan diagnosis dilakukan pada ginjal dan limpa, sedangkan pada manusia diagnosis dilakukan pada serum, plasma darah, urin dan cairan serebrospinal. Diagnosis laboratorium leptospirosis melibatkan dua kelompok pengujian. Kelompok pertama didesain untuk mendeteksi antibodi anti-leptospira, sedangkan kelompok kedua untuk mendeteksi Leptospira, antigen Leptospira atau asam nukleat Leptospira pada cairan tubuh maupun jaringan.    Kultur dan Microscopic Agglutination Test (MAT) adalah standar emas untuk diagnosis laboratorium dan yang paling banyak digunakan. Beberapa cara skrining cepat penegakan diagnosis leptospirosis telah dikembangkan, di antaranya Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), uji aglutinasi lateks, uji aliran lateral dan dipstik IgM, tapi sayangnya sensitivitas alat tersebut masih sangat rendah terutama pada saat fase akut. Selain MAT, alat diagnosis yang digunakan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR) yang terbukti berguna untuk mendiagnosis leptospirosis lebih awal sebelum dimulainya produksi antibodi, sayangnya biaya operasional PCR ini sangat mahal, sehingga dirasa kurang efisien.    Diagnosis kasus leptospirosis pada manusia dapat dilakukan pada saat masa akut, transisi dari masa akut ke masa imun dan fase imun. Pada masa akut diagnosis dilakukan dengan mengkultur bakteri Leptospira dari darah, urin dan cairan serebrospinal; selain itu diagnosis dilakukan melalui PCR. Saat masa transisi dari fase akut ke fase imun diagnosis dilakukan melalui uji ELISA IgM dan dipstik. Pada saat fase imun diagnosis dilakukan melalui uji MAT, yang merupakan standar emas penegakan diagnosis leptospirosis berdasarkan rekomendasi dari WHO.PENGOBATAN    Pengobatan leptospirosis tergantung pada tingkat keparahannya. Bagi penderita leptosiprosis ringan pengobatannya berupa tablet doksisiklin dengan dosis 100 mg diminum dua kali sehari selama tujuh hari. Bagi penderita leptospirosis sedang dan/atau berat pengobatannya berupa penicilin G intravena dengan dosis 1,5 MU setiap enam jam selama tujuh hari. Jika terjadi gagal ginjal perlu dilakukan hemodialisa dan perlu dilakukan ventilasi pernafasan mekanis jika terjadi perdarahan pada paru-paru. Bagi orang yang memiliki risiko tinggi terkena leptospirosis, maka perlu diberikan doksisiklin oral sebagai profilaksis sebesar 200 mg per minggu selama terpapar risiko.PENCEGAHAN     Berdasarkan saran WHO, upaya pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu pada hewan sebagai sumber infeksi, jalur penularan dan manusia. Pada hewan sebagai sumber infeksi, pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin kepada hewan yang berpotensi tertular leptospirosis. Selain itu kebersihan kandang hewan peliharaan juga perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya leptospirosis pada hewan. Pada jalur penularan, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memutus jalur penularan.    Jalur penularan adalah lingkungan yang bisa menjadi tempat berkembang biak dan hidup bakteri Leptospira. Lingkungan dengan kondisi sanitasi yang buruk menjadi faktor risiko terjadinya leptospirosis. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus, termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah yang benar sehingga tidak menjadi sarang tikus.    Pada manusia, pencegahan yang bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan individu setelah beraktivitas di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis; pendidikan kesehatan untuk menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis; menjaga kebersihan kandang hewan peliharaan; membersihkan habitat sarang tikus; pemberantasan hewan pengerat bila kondisi memungkinkan dan pemberian kaporit atau sodium hipoklorit pada air tampungan yang akan digunakan oleh masyarakat. Selain itu perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini, terlebih bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi dan juga penyedia pelayanan kesehatan.PENULIS: Achmad Priyas Budi Santoso, A.md. KesEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011. 1-97 p.Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta; 2017.  Raharjo J, Hadisaputro S, Winarto. Faktor Risiko Host pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak. Balaba. 2015;11(2):105–10. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Terintegrasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Tular Vektor Dan Reservoir di Jawa Tengah. Salatiga; 2014.Dll
Diet Seimbang Untuk Gaya Hidup Sehat
Setelah membahas tentang fenomena remaja jompo yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik dan berlangsung lama, dr Aji menjelaskan tentang diet seimbang yang baik untuk memperbaiki gaya hidup, melalui Granostic Health Podcast ep. 2. Diet seimbang yang baik untuk tubuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing. Tidak hanya memerhatikan porsi makan, tetapi juga harus memerhatikan jenis makanan apa saja yang ada dalam satu porsi makan. Dr. Aji menyampaikan bahwa sebaiknya, pada 1 piring makan harus terisi dengan 1/3 karbohidrat, 1/3 lemak, dan 1/3 protein. Selain itu pemilihan jenis  makanan juga harus diperhatikan. Misalnya karbohidrat, sebisa mungkin memilih karbohidrat kompleks yang tidak mudah dicerna oleh tubuh, sehingga dapat kenyang lebih lama. Selanjutnya adalah lemak, pemilihan lemak juga harus diperhatikan, hal ini karena lemak yang kurang baik untuk tubuh akan menyumbat pembuluh-pembuluh darah dan dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya. Maka dari itu lemak yang dipilih untuk dikonsumsi haruslah lemak tak jenuh, seperti lemak dari tumbuh-tumbuhan. 1/3 porsi berikutnya adalah protein. Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mengabaikan porsi protein dalam makanan sehari-harinya. Protein merupakan salah satu nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas dan membangun otot sehingga tubuh lebih berenergi. Pemilihan protein tidak harus dari suplemen atau vitamin, cukup dengan mengonsumsi kacang-kacangan, daging ayam, sapi maupun ikan. Tidak hanya nutrisi berupa karbohidrat, lemak dan protein, kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan. Meskipun perhitungannya tidak sekompleks nutrisi utama, vitamin dan mineral tidak dapat disepelekan. Vitamin dan mineral dapat dengan mudah didapatkan melalui buah dan sayur. Yang tidak kalah penting adalah variasi menu makanan setiap hari. Selain dapat menyebabkan kebosanan, mengonsumsi makanan yang tidak bervariasi dapat menyebabkan gizi yang masuk dalam tubuh tidak seimbang. Maka variasi makanan diperlukan untuk mencegah hal tersebut. SIMAK INFORMASI LENGKAPNYA DI CHANNEL YOUTUBE GRANOSTIC CENTER, ATAU KLIK LINK DI BAWAH INI : Granostic Health Podcast Ep.2 : Diet Seimbang
Sleep Hygiene untuk meningkatkan produktivitas
Istilah 'tidur produktif' merujuk pada kondisi di mana manusia beristirahat untuk meningkatkan produktivitas. Pada praktiknya metode tidur ini memperhatikan beberapa hal yang dapat mendukung tidur manusia lebih berkualitas. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jam tidur. Untuk orang dewasa, jam tidur yang dibutuhkan tubuh adalah 6-8 jam dalam sehari, dan waktu tidur yang baik adalah di saat malam hari, yaitu pukul 10-5 pagi. Waktu tidur juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena hal ini berhubungan dengan jam kerja organ-organ dalam tubuh kita. Beberapa organ akan menurunkan kinerjanya di jam-jam tertentu, dan hal ini akan sangat baik jika didukung dengan mengurangi aktivitas tubuh. Setelah itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah sleep hygiene, yaitu kondisi tempat sobat beristirahat yang harus bebas dari gangguan. Di antaranya adalah gangguan kebisingan dan gangguan pencahayaan. Hal-hal ini akan membantu manusia untuk tidur dengan lebih berkualitas, yaitu tidur dengan nyenyak dan tubuh dapat beristirahat dengan maksimal, sehingga akan mendorong produktivitas kerja saat siang hari. Simak informasi lengkapnya di instagram Granostic Center, atau klik link di bawah ini : Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 1Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 2
KAKI DIABETIK
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin atau ketidakmampuan tubuh untuk menggunakan hormon insulin secara efektif.Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar kelima di dunia. Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF), ada 19,5 juta warga Indonesia berusia 20-79 tahun yang mengidap penyakit tersebut pada 2021. Jumlah itu menempati urutan kelima terbesar di dunia setelah China, India, Pakistan dan Amerika Serikat. Salah satu akibat dari diabetes yang tidak terkontrol dengan baik adalah timbul komplikasi luka (borok) pada kaki yang tidak kunjung sembuh, yang lebih dikenal dengan istilah kaki diabetik (diabetic foot). Hal ini disebabkan karena sirkulasi darah yang buruk pada penderita Diabetes. Perawatan kaki pada penderita Diabetes dilakukan tidak hanya ketika muncul luka atau borok tetapi juga ketika belum ada luka agar mencegah tidak timbul luka pada kaki. Perawatan kaki diabetik yang tidak dilakukan dengan baik akan memperburuk luka yang timbul, oleh karena itu penderita perlu memahami cara merawat kaki dan luka yang timbul dan berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan yang lebih tepat. Apabila dibiarkan dan tidak ditangani dengan benar, maka infeksi dapat menyebar dan menyebabkan kerusakan pada jaringan dan tulang, hingga mungkin diperlukan tindakan amputasi. Bagaimana cara merawat kaki pada penderita Diabetes ? Yuk, kita simak tips di bawah ini:Gunakan alas kaki Rasa peka pada penderita Diabetes cenderung menurun. Hal ini sering menimbulkan muncul luka pada kaki tanpa diketahui dan dirasakan oleh penderita, sehingga disarankan untuk tetap menggunakan alas kaki dimanapun termasuk dirumah. Hindari menggunakan sepatu berhak tinggi atau sepatu yang sempit. Gunakan sepatu yang nyaman dengan ukuran yang sesuai.Cek kondisi kaki setiap hariCek kaki penderita Diabetes sekali sehari. Jika sulit menjangkau kaki, gunakan cermin untuk melihat seluruh bagian kaki hingga ke telapak kaki.Berhati-hati ketika memotong kukuBerhati-hatilah ketika memotong kuku. Jangan memotong kuku terlalu dalam untuk menghindari terjadi luka.Gunakan krim pelembabAnda bisa mencuci kaki dengan air hangat sekali sehari, dikeringkan dengan handuk dengan lembut dan gunakan krim pelembab untuk menjaga agar kulit kaki tetap lembut.Berkonsultasi dengan dokterJika muncul luka pada kaki, segera konsultasikan dengan dokter agar segera ditangani dan tidak menjadi makin parah.Perawatan Kaki DiabetikJika terdapat luka pada kaki penderita Diabetes, maka perlu segera berkonsultasi dengan dokter agar luka tidak makin meluas. Penderita Diabetes perlu waspada jika luka mulai menghitam, berbau, atau keluar nanah. Apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dengan foto Rontgen atau USG Doppler untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi diabetes yang lebih lanjut. Perawatan kaki diabetik dapat dilakukan secara mandiri oleh dokter sesuai dengan arahan dokter.Langkah perawatan kaki diabetik meliputi : Cuci tangan bersih menggunakan sabun dan air mengalirGunakan sarung tangan sekali pakaiBuka perban secara perlahanLuka dibersihkan dengan kasa yang telah dibasahi oleh larutan salin (NaCl 0,9%) dari arah tengah ke tepi lukaGunakan kasa yang lain untuk pembersihan ulang. Jangan dengan kasa yang samaGunakan kasa kering baru untuk mengeringkan luka yang telah dibersihkanTutup luka dengan perbanPENULIS: dr. May Fanny TanziliaKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:M Ivan Mahdi. "Penderita Diabetes Indonesia Terbesar Kelima di Dunia". Hutagalung MBZ, Dwinka SE, Awalita, Vivi PS, Gaby DAS, Galenisa FS. Diabetic Foot Infection (Infeksi Kaki Diabetik) : Diagnosis dan Tatalaksana. CDK-277/ vol. 46 no. 6 th. 2019:414-417. Dinata IGS, Anak Agung GWPS. Tatalaksana Terkini Infeksi Kaki Diabetes. Ganesha Medicina Journal, Vol 1 No 2 September 2021:91-96. 
Fenomena Remaja Jompo Indonesia, Dan Hubungannya Dengan Produktivitas
Fenomena remaja jompo adalah kondisi dimana orang-orang di usia produktif mengalami sakit di daerah pinggang, punggung dan leher sehingga banyak dari mereka membutuhkan bantuan obat pereda nyeri dan obat-obatan lainnya seperti minyak angin, obat masuk angin, dan koyo untuk meringankan rasa sakit yang mereka rasakan. Fenomena ini kemudian ditanggapi oleh Dokter Aji, dokter umum dari Laboratorium Granostic Center, melalui Granostic Health Podcast. Dr. Aji menyampaikan bahwa fenomena ini disebabkan karena gaya hidup masyarakat saat ini yang tidak sehat dan dilakukan terus menerus. Gaya hidup yang dimaksud adalah pola makan, pola aktivitas, pola istirahat dan pola stress yang tidak seimbang sehingga memberikan dampak yang membahayakan bagi tubuh. Pola makan masyarakat yang tidak memperhatikan nutrisi secara seimbang dan juga kecenderungan untuk mengonsumsi makanan junk food menjadi salah satu kunci mengapa hal ini marak terjadi. Selain itu kurangnya aktivitas fisik karena banyaknya kegiatan saat ini yang dilakukan secara online dan di dalam ruangan serta tidak rutin berolahraga menjadi faktor pendukung fenomena ini banyak terjadi di masyarakat. Tidak hanya itu, pola istirahat yang tidak teratur dan jam tidur yang kurang juga dapat memperparah keluhan ini. Serta pola stress yang buruk akan semakin memperburuk kondisi ini. Jika gaya hidup yang seperti ini tidak segera diperbaiki, hal ini dapat merujuk pada timbulnya penyakit-penyakit metabolik seperti diabetes, asam urat dan kolesterol. Meskipun penyakit metabolik ini sering dikaitkan dengan keturunan dalam keluarga, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang dari keluarga yang tidak memiliki riwayat penyakit ini, tetapi memiliki gaya hidup yang tidak seimbang dalam jangka waktu lama, juga dapat terserang penyakit ini. Untuk mengatasi hal ini, dr Aji menyampaikan bahwa sebaiknya masyarakat, terutama orang-orang dengan keluhan penyakit ini, mulai merubah gaya hidupnya. Mulai dari pola makan yang lebih seimbang, menambah aktivitas fisik, mengatur jadwal dan jam tidur, serta mengelola stress dengan baik. Hal ini tidak hanya membantu meredakan rasa sakit yang dirasakan, tetapi juga dapat meningkatkan produktifitas, baik dalam pekerjaan maupun pembelajaran. Simak informasi lengkapnya di channel youtube Granostic Center, atau klik Granostic Health Podcast Ep 1 : Remaja Jompo Indonesia
INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)
Infeksi saluran kemih merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran kemih manusia. Saluran kemih manusia merupakan organ-organ yang bekerja untuk mengumpul dan menyimpan urine serta organ yang mengeluarkan urine dari tubuh, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Menurut National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC), ISK merupakan penyakit infeksi kedua tersering setelah infeksi saluran pernafasan dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per tahun. Infeksi saluran kemih dapat menyerang pasien dari segala usia mulai bayi baru lahir hingga orang tua (Sukandar, 2006).Klasifikasi infeksi saluran kemih (ISK) berdasarkan level anatomisnya dibedakan menjadi dua, antara lain:ISK bagian bawah pada umumnya terjadi tanpa disertai komplikasi, umumnya dapat berupa peradangan kandung kemih bagian bawah (sistitis) pada pasien dengan saluran kemih yang normal. Sistitis dapat bersifat akut maupun kronik dan pada sistitis akut urine pasien keluar sedikit serta sering diikuti rasa sakit jika peradangan tersebut meluas menjadi uretritis.ISK bagian atas meliputi pielonefritis akut dan kronis. Pielonefritis akut adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sedangkan pielonefritis (infeksi ginjal) kronis proses lanjut dari pielonefritis akut yang berkepanjangan atau infeksi sejak kecil.Penyebab dari Infeksi saluran kemih salah satunya oleh mikroorganisme patogen, contoh bakteri Escherichia Coli, Streptococcus dan Pseudomonas. Faktor risiko yang umum terjadi pada ISK adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara sempurna serta terjadi penurunan daya tahan tubuh dan peralatan yang digunakan pada saluran perkemihan seperti penggunaan kateter dalam jangka waktu yang lama dan prosedur sistoskopi.Tanda dan gejala yang berhubungan dengan ISK bervariasi. Pada bayi dan anak gejala ISK tidak spesifik dapat berupa demam, nafsu makan berkurang/ tidak mau makan, pertumbuhan lambat, muntah, diare, distensi abdomen. Infeksi saluran kemih pada kelompok umur ini terutama yang dengan demam tinggi harus dianggap sebagai pielonefritis (Pardede, 2018). Sedangkan pada usia di atas 12 ke atas sebagian dari penderita ISK yang ditemukan adanya bakteri dalam urine, tetapi tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Gejala tipikal ISK adalah berupa rasa nyeri dan panas ketika berkemih (dysuria), frekuensi berkemih yang meningkat dan terdesak ingin selalu berkemih (urgency), sulit berkemih dan disertai kejang otot pinggang (stranguria), rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih walaupun sudah kosong (tenesmus), kecenderungan selalu ingin buang air kecil pada malam hari (nokturia) dan kesulitan memulai berkemih (prostatismus).Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis ISK meliputi :AnamnesisPemeriksaan FisikPemeriksaan DarahLeukositosis (peningkatan sel darah putih), peningkatan nilai absolut neutrofil, peningkatan laju endap darah (LED), C-Reactive Protein (CRP) yang positif, Prokalsitonin dan sitokin proinflamatori (TNF-α; IL-6; IL-1β) meningkat pada fase akut infeksi, termasuk pada pielonefritis akut (Pardede, 2018).Pemeriksaan UrinalisisPemeriksaan urinalisis meliputi leukosituria, nitrit, leukosit esterase, protein, dan darah. Leukosituria merupakan petunjuk kemungkinan adanya bakteriuria tetapi tidak adanya leukosituria tidak menyingkirkan ISK. Bakteriuria dapat juga terjadi tanpa leukosituria. Leukosituria dengan biakan urine steril perlu dipertimbangkan pada infeksi oleh kuman Proteus sp., Klamidia sp., dan Ureaplasma urealitikum. leukosit esterase dan nitrit merupakan parameter pemeriksaan urine utama sebagai skrining dan diagnose ISK. Dan Menurut Roring, A.G dkk (2016) bahwa salah satu parameter yang bermakna dalam mendiagnosis ISK adalah jumlah leukosit dan bakteriuria dalam sedimen urine. Kultur UrineKultur urine digunakan untuk mendeteksi serta jumlah bakteri dalam urine. Selain mendeteksi keberadaan bakteri, kultur urine juga dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri penyebab infeksiCara untuk mencegah terjadinya Infeksi saluran kemih : Banyak minum air putih untuk mendorong bakteri keluarJangan menahan buang air kecil, segeralah buang air kecil saat terasaBasuh kemaluan dari arah depan ke belakang, bukan sebaliknya, hal ini akan mengurangi kemungkinan bakteri masuk ke saluran urine dari rektumSegera buang air kecil setelah berhubungan seksualGanti selalu pakaian dalam setiap hari, karena bila tidak diganti bakteri akan berkembang biak secara cepat dalam pakaian dalamHindari memakai celana ketat yang dapat mengurangi ventilasi udara, dan dapat mendorong perkembangbiakan bakteriJika anda menderita infeksi saluran kemih berulang maka hindari penggunaan alat kontrasepsi diafragma. Sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk memilih alat kontrasepsi yang lain.PENULIS: Dimas YudistiraEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Madjid dan Suharyanto. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan/Toto Suharyanto, Abdul Madjid; Copy Editor: Agung Wijaya, A.md-Jakarta : TIMSukandar E. 2006. Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/RS Dr. Hasan Sadikin Bandung.Pardede, S. O. 2018. Infeksi pada Ginjal dan Saluran Kemih Anak: Manifestasi Klinis dan Tata Laksana. Jurnal Sari Pediatri, 19(6), pp. 365–373. Tersedia pada https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/1342. Diakses pada tanggal 7 September 2019.
Rheumatoid Arthritis
DEFINISI REUMATHOID ARTHRITISRheumatoid arthritis merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik atau penyakit autoimun di mana rheumatoid arthritis ini memiliki karakteristik terjadinya kerusakan pada tulang sendi, ankilosis dan deformitas. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan penyambung difus yang diperantarai oleh imunitas.Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani, “arthon” yang berarti sendi, dan “itis” yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang pada sendi. Sedangkan Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit autoimun di mana persendian (biasanya tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali menyebabkan kerusakan pada bagian dalam sendi.Rheumatoid Arthritis merupakan penyakit autoimun yang mengenai jaringan persendian, dan sering juga melibatkan organ tubuh lainnya yang di tandai dengan terdapatnya sinovitis erosif sistemik. Insiden puncak antara usia 40-60 tahun, lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.American College of Rheumatology (2012) menyatakan bahwa, Rheumatoid Arthritis adalah penyakit kronis (jangka panjang) yang menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan serta keterbatasan gerak dan fungsi banyak sendi. Artritis pasca trauma, ini dapat diikuti cedera lutut yang serius. Patah tulang di lutut atau di ligamen lutut mungkin merusak articular kartilago, hal ini menyebabkan nyeri lutut dan fungsi lutut menurun.KLASIFIKASI REUMATHOID ARTHRITISBuffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.ETIOLOGI ATAU PENYEBAB Penyebab Rheumatoid Arthritis belum diketahui dengan pasti. Kecenderungan wanita untuk menderita rheumatoid arthritis dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyakit ini. Walaupun demikian karena pembenaran hormon estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini. Namun, kejadiannya dikorelasikan dengan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.Genetik, berupa hubungan dengan gen HLA-DRB1 dan faktor ini memiliki angka kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60%.Hormon Sex, perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental Corticotraonin Releasing Hormone yang mensekresi. dehidropiandrosteron (DHEA), yang merupakan substrat penting dalam sintesis estrogen plasenta. Dan stimulasi estrogen dan progesteron pada respon imun humoral (TH2) dan menghambat respon imun selular (TH1). Pada RA respon TH1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesteron mempunyai efek yang berlawanan terhadap perkembangan penyakit iniFaktor Infeksi, beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk semang (host) dan merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga muncul timbulnya penyakit RA. Faktor Lingkungan, salah satu contohnya adalah merokok dan aktifitas yang berat sehari-harinya.Infeksi telah diduga merupakan penyebab rheumatoid arthritis. Dugaan faktor infeksi timbul karena umumnya omzet penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi suatu organisme dari jaringan synovial, hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa terdapat suatu komponen peptidoglikan atau endotoksin mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya rheumatoid arthritis. Agen infeksius yang diduga merupakan penyebab rheumatoid arthritis Antara lain bakteri, mycoplasma atau virus.Hipotesis terbaru tentang penyebab penyakit ini adalah adanya faktor genetik yang akan menjurus pada penyakit setelah terjangkit beberapa penyakit virus, seperti infeksi virus Epstein-Barr. Heat Shock Protein (HSP) adalah sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk oleh sel seluruh spesies sebagai respon terhadap stress. Walaupun telah diketahui terdapat hubungan antara Heat Shock Protein dan sel T pada pasien rheumatoid arthritis namun mekanisme hubungan ini belum diketahui dengan jelas.GEJALA KLINISMenurut (Aspiani, 2014) ada beberapa gejala klinis yang umum ditemukan pada pasien rheumatoid arthritis. Gejala klinis ini tidak harus timbul secara bersamaan. Oleh karenanya penyakit ini memiliki gejala klinis yang sangat bervariasi:Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun, dan demam. Terkadang dapat terjadi kelelahan yang hebat.Poliaritis simetris, terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalang distal, hampir semua sendi diartrodial dapat terangsang.Pentingnya untuk membedakan nyeri yang disebabkan perubahan mekanis dengan nyeri yang disebabkan inflamasi. Nyeri yang timbul setelah aktivitas dan hilang setelah istirahat serta tidak timbul pada pagi hari merupakan tanda nyeri mekanis. Sebaliknya nyeri inflamasi akan bertambah berat pada pagi hari saat bangun tidur dan disertai kaku sendi atau nyeri yang hebat pada awal gerak dan berkurang setelah melakukan aktivitas.Kekakuan di pagi hari selama lebih dari satu jam, dapat bersifat generalisata terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartratis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari satu jam.Arthritis erosif, merupakan ciri khas rheumatoid arthritis pada gambaran radiologic. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan dapat dilihat pada radiogram.Deformitas, kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, sublukasi sendi metakarpofalangeal, leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering di jumpai pasien. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat terangsang dan akan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi.Nodula-nodula rheumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita rheumatoid arthritis. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa elekranon (sendi siku), atau di sepanjang permukaan ekstanor dari lengan, walaupun demikian nodul-nodul ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Nodul-nodul ini biasanya merupakan suatu tanda penyakit yang aktif dan lebih berat.Manifestasi ekstra articular, rheumatoid arthritis juga dapat menyerang organorgan lain diluar sendi. Jantung (pericarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan rusaknya pembuluh darah.PEMERIKSAAN PENUNJANGDiagnosis Rheumatoid Arthritis memerlukan sejumlah tes untuk meningkatkan kepastiandiagnosis, membedakannya dengan bentuk artritis yang lain, memprediksi perkembangan penyakit pasien, serta melakukanmonitoring untuk mengetahui perkembangan penyakit yaitu:Laju endap darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) menunjukkan adanya proses inflamasi, akan tetapi memiliki spesifisitas yang rendah untuk RA. Tes ini berguna untuk memonitor aktivitas penyakit dan responnya terhadap pengobatan.Tes RF (Rheumatoid Factor). Tes ini tidak konklusif dan mungkin mengindikasikan penyakit peradangan kronis yang lain (positif palsu). Pada beberapa kasus RA, tidak terdeteksi adanya RF (negatif palsu). RhF ini terdeteksi positif pada sekitar 60-70% pasien RA. Level RF jika dikombinasikan dengan level antibodi anti-CCP dapat menunjukkan tingkat keparahan penyakit.Tes antibodi anti-CCP (Cyclic Citrullinated Peptide) adalah tes untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis secara dini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tes tersebut memiliki sensitivitas yang mirip dengan tes RF, akan tetapi spesifisitasnya jauh lebih tinggi dan merupakan prediktor yang kuat terhadap perkembangan penyakit yang erosif.Analisis cairan sinovial. Peradangan yang mengarah pada rheumatoid arthritis ditandai dengan cairan sinovial abnormal dalam hal kualitas dan jumlahnya yang meningkat drastis. Sampel cairan ini biasanya diambil dari sendi (lutut), untuk kemudian diperiksa dan dianalisis tanda-tanda peradangannya.X-ray tangan dan kaki dapat menjadi kunci untuk mengidentifikasi adanya erosi dan memprediksi perkembangan penyakit dan untuk membedakan dengan jenis artritis yang lain, seperti osteoartritis.Scan tulang. Tes ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya inflamasi pada tulang.PENCEGAHAN REUMATHOID ARTHRITISEtiologi untuk penyakit RA ini belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menekan faktor risiko:Membiasakan berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mengurangi risiko peradangan oleh RA. Oleh penelitian Nurses Health Study AS yang menggunakan 1.314 wanita penderita RA didapatkan mengalami perbaikan klinis setelah rutin berjemur di bawah sinar UV-B.Melakukan peregangan setiap pagi untuk memperkuat otot sendi. Gerakan-gerakan yang dapat dilakukan antara lain, jongkok-bangun, menarik kaki ke belakang pantat, ataupun gerakan untuk melatih otot lainnya. Bila mungkin, aerobik juga dapat dilakukan atau senam taichi.Menjaga berat badan. Jika orang semakin gemuk, lutut akan bekerja lebih berat untuk menyangga tubuh. Mengontrol berat badan dengan diet makanan dan olahraga dapat mengurang risiko terjadinya radang pada sendi.Mengonsumsi makanan kaya kalsium seperti almond, kacang polong, jeruk, bayam, buncis, sarden, yoghurt, dan susu skim. Selain itu vitamin A, C, D, E juga sebagai antioksidan yang mampu mencegah inflamasi akibat radikal bebas.Memenuhi kebutuhan air tubuh. Cairan synovial atau cairan pelumas pada sendi juga terdiri dari air. Dengan demikian diharapkan mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup dapat memaksimalkan sistem bantalan sendi yang melumasi antar sendi, sehingga gesekan bisa terhindarkan. Konsumsi air yang disarankan adalah 8 gelas setiap hari.Berdasarkan sejumlah penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa merokok merupakan faktor risiko terjadinya RA. Sehingga salah satu upaya pencegahan RA yang bisa dilakukan masyarakat ialah tidak menjadi perokok aktif maupun pasif.PENULIS: Tri Miranda PrasastiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Suarjana. 2009. Buku ajaran Ilmu Penyakit Dalam Edisi V, Interna Publishing, Jakarta (etiologi RA)Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik (jilid 1; Tunut Ari M@fuhin, ed.). Jakarta: Trans Info Media. (gejala klinis RA)Lukman. dkk. (2013). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal (Aklia Suslia, ed.). Jakarta: salemba medika. (definisi RA)Candra K. (2013). Teknik Pemeriksaan Genu Pada Kasus Osteoarthritis Dengan Pasien Non Koperatif. Academia Edu (pencegahan RA)Febriana (2015). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis Ankle Billateral Di RSUD Saras Husada Purworejo. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (pencegahan RA)
APA ITU CYTOMEGALOVIRUS?
DEFINISI CYTOMEGALOVIRUS (CMV)Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi bawaan yang paling sering terjadi pada manusia. Cytomegalovirus (CMV) sendiri merupakan virus DNA yang termasuk genus Herpes. CMV yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV.CMV sendiri merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling umum di seluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemahaman lebih lanjut mengenai topik ini menjadi penting karena kita semua perlu mengetahui mengenai virus ini tentang bagaimana penyebaran, gejala, pengobatan, serta pencegahannya.Kebanyakan orang tidak menyadari terinfeksi virus ini karena jarang menimbulkan gejala. Namun demikian, bila anda hamil dan sistem kekebalan anda melemah, ada baiknya anda berpikir tentang CMV. Infeksi CMV sering digabung dalam infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex). Padahal infeksi CMV tidak terbatas pada ibu hamil saja, melainkan dapat menyerang setiap individu.Setelah infeksi primer atau infeksi pertama kali, CMV hidup menetap (dormant) dalam tubuh seumur hidup kita. Infeksi berjalan laten, namun reaktivasi, replikasi, reinfeksi sering terjadi. Penyebaran dalam tubuh atau endogen dapat terjadi melalui sirkulasi darah. Infeksi CMV bersifat sistemik, menyerang berbagai organ tubuh dan dapat meningkatkan proses inflamasi, memacu respons autoimun, terlibat dalam patogenesis aterosklerosis, memacu timbulnya dan mempercepat perkembangan pada kasus-kasus keganasan, menyebabkan infertilitas.ETIOLOGI ATAU PENYEBABInfeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi bawaan yang paling sering terjadi pada manusia. Infeksi cytomegalovirus dapat diikuti oleh infeksi primer maupun melalui kehamilan. Sekitar 90% infeksi CMV pada bayi baru lahir yang terinfeksi saat dalam kandungan tidak menunjukkan gejala apapun. Infeksi CMV kongenital dapat didiagnosis dengan mengisolasi virus melalui urin atau saliva saat bayi berusia 0-3 minggu, atau dengan amplifikasi DNA atau teknik hibridisasi.Cytomegalovirus (CMV) sendiri merupakan virus DNA yang termasuk genus Herpes. CMV yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV. Cytomegalovirus menyebabkan perbesaran ukuran sel sampai dua kali lipat ukuran sel normal. CMV hidup secara parasit intrasel dan sepenuhnya tergantung pada sel inang untuk bereplikasi dengan cara menginfeksi sel inang yang permissive, atau sel dalam kondisi tidak mampu melawan invasi dan replikasi virus. CMV mengikat diri pada reseptor di permukaan sel inang, kemudian menembus membran sel, masuk ke dalam vakuola di sitoplasma. Lalu selubung virus terlepas dan nucleocapsid dengan cepat menuju nukleus sel inang. Terjadilah ekspresi gen imediate early (IE) spesifik RNA atau transkrip gen alfa yang dapat dijumpai tanpa ada sintesis protein virus de novo. Ekspresi protein ini penting untuk ekspresi gen virus berikutnya, yaitu gen beta yang menunjukkan transkripsi kedua dari RNA. Setelah lepas dari sel, virus dapat ditemukan dalam urin dan cairan tubuh lainnya, menyerap β2 mikroglobulin (Beta-2 mikroglobulin) sehingga dapat melindungi antigen virus dan mencegah netralisasi antibodi sehingga infeksi dapat terus berlanjut.Cytomegalovirus memiliki kaitan dengan virus-virus yang menyebabkan cacar air, herpes simpleks, dan mononukleosis. Sekali anda terinfeksi oleh CMV, maka virus akan tinggal selama anda hidup, tetapi tak selalu aktif. CMV dapat bersiklus antara periode dormant (tidur) dan reaktivasi. Bila anda sehat, ia akan tidur, anda dapat menularkan virus bila mengalami reaktivasi. Transmisi virus terjadi melalui paparan terhadap cairan tubuh termasuk darah, air liur, ASI, air mata, cairan semen, dan cairan vagina. Tetapi tidak oleh kontak yang bersifat biasa dalam pergaulan.Virus dapat menyebar dengan banyak cara:Menyentuh mata atau bagian dalam hidung atau mulut sehabis kontak cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Ini adalah cara paling umum, ia menyebar karena CMV meresap keselaput lendir.Melalui kontak seksual dengan pasangan terinfeksi.Melalui ASI dari ibu terinfeksi.Melalui transplantasi organ atau transfusi darah.Melalui plasenta, dari ibu terinfeksi kepada bayi belum lahir, atau selama kelahiran.EpidemiologiInfeksi CMV tersebar luas di seluruh dunia, terjadi secara endemik dan tidak dipengaruhi oleh musim. Prevalensi CMV sangat bervariasi yakni antara 0,2 - 2,4% pada negara yang berbeda. Pada negara yang memiliki sosial ekonomi yang baik ditemukan 60-70% orang dewasa dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif terinfeksi CMV. Angka ini meningkat kurang lebih 1% per tahun. Sedangkan pada negara berkembang atau negara dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah maka populasi manusia dengan infeksi CMV positif ditemukan lebih tinggi yakni berkisar 80-90%. Di Indonesia belum didapatkan data yang cukup mengenai prevalensi infeksi CMV pada populasi. Namun, ditemukan sebanyak 90% populasi masyarakat umum dengan seropositif CMV.CMV sendiri merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling umum di seluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang. Infeksi CMV dapat berasal dari urin, hasil sekresi orofaring, hasil sekresi servikal dan vaginal, semen, air susu ibu, air mata, dan darah. Prevalensi infeksi CMV kongenital sangat bervariasi, ada yang melaporkan sebesar 0,2 sampai 3%, ada pula sebesar 0,7% sampai 4,1%. Di Amerika Serikat, insiden CMV pada bayi sampai usia 6 bulan adalah 39 - 56%. Hal ini disebabkan pemberian air susu ibu yang kembali populer di kalangan ibu. Selain itu, penelitian lain mengemukakan bahwa prevalensi CMV yakni 1 - 2% dari seluruh kehamilan. Infeksi CMV seperti yang dilaporkan oleh Ogilvie terjadi pada 1 dari 3 kasus wanita hamil.GEJALA KLINISBayi baru lahir dengan CMV dari dalam kandungan (CMV kongenital), bayi yang terinfeksi selama persalinan, atau segera setelah lahir (CMV perinatal) misalnya karena menyusui, dan orang-orang yang mengalami penurunan kekebalan tubuh memiliki risiko lebih besar terinfeksi CMV dibandingkan orang dewasa sehat.Gejala infeksi CMV pada BayiWanita hamil, lalu terinfeksi CMV, berada pada risiko rendah menularkan virus kepada bayinya. Apabila ini adalah pertama kali infeksi (primary CMV), maka risiko transmisi kepada bayi lebih tinggi dari pada infeksi reaktivasi (ulang). Transmisi umumnya terjadi pada paruh awal kehamilan, biasanya pada trimester pertama.Bayi yang terinfeksi selama kehamilan, pada saat lahir umumnya tampak sehat, tetapi beberapa diantara mereka akan menunjukkan gejala seiring berjalannya waktu. Yang paling umum terjadi adalah gangguan pendengaran, ada juga dalam jumlah sedikit yang mengalami gangguan penglihatan.Bayi-bayi dengan CMV kongenital yang sakit pada waktu dilahirkan cenderung sakit berat. Tanda dan gejalanya meliputi:Kulit dan mata kuning (jaundice)Noda-noda ungu kulit atau ruam merah pada kulit, atau bisa keduanya.Berat badan lahir rendah.Limpa (lien) membesarLiver membesar dan tidak berfungsi baik.PneumoniaKejang-kejang.Gejala Infeksi CMV pada orang dengan penurunan kekebalan (compromised immunity)Gejala muncul setelah 6 – 90 hari setelah infeksi primer. Kadang hanya muncul dengan gejala mirip sakit flu (flu-like symptoms). Sakit yang menyerupai mononukleosis infeksius adalah tampilan yang umum terjadi dari CMV pada orang-orang dengan penurunan kekebalan (immunocompromised).CMV juga dapat menyerang organ-organ spesifik. Tanda dan gejala bisa berikut ini:DemamPneumoniaDiareUlkus (borok) saluran cerna, dapat menyebabkan perdarahan.HepatitisPeradangan otak (ensefalitis)Perubahan perilaku.Kejang-kejangKomaGangguan penglihatan atau kebutaanKebanyakan orang yang terinfeksi CMV yang dalam keadaan sehat hanya mengalami sedikit gejala. Ketika terinfeksi pertama, orang dewasa akan menunjukkan gejala seperti mononukleosis, meliputi kelelahan (fatigue), demam, dan nyeri otot.PEMERIKSAAN PENUNJANGPemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis infeksi CMV, adalah pemeriksaan laboratorium, termasuk di dalamnya pemeriksaan serologi, kultur virus atau pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi DNA virus dan pencitraan. Ketiga pemeriksaan penunjang ini menjadi diagnosis pasti infeksi CMV pada pasien bayi, maupun pasien dewasa, termasuk di dalamnya pasien dengan riwayat imunokompromais.SerologiPemeriksaan serologi dibutuhkan untuk menentukan ada tidaknya infeksi CMV di masa lampau. Adanya hasil positif pada pemeriksaan IgG CMV mengindikasikan adanya riwayat infeksi CMV yang sudah maupun belum diketahui sebelumnya. Pemeriksaan IgM diindikasikan untuk infeksi akut, maupun infeksi yang sedang berlangsung saat ini. Namun, pemeriksaan IgM memiliki hasil yang kurang berkorelasi dengan kondisi pasien, dikarenakan kemungkinan IgM yang tetap positif selama beberapa bulan setelah terjadinya infeksi primer dan juga IgM yang memiliki nilai positif pada infeksi CMV berulang. Oleh karena itu, selain pemeriksaan IgM dan IgG, untuk menentukan diagnosis infeksi CMV juga dilakukan pemeriksaan aviditas IgG untuk membedakan infeksi CMV primer dan sekunder.Kultur SelKultur sel umumnya dilakukan pada sel fibroblas manusia yang diinokulasikan dengan spesimen tertentu dan diamati selama 2-21 hari. Hasil positif kultur ditandai dengan adanya sel bergerombol yang bersifat fokal. Kultur sel membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendiagnosis infeksi CMV.Polymerase Chain Reaction (PCR)Pemeriksaan PCR merupakan pemeriksaan yang cepat dan sensitif untuk dilakukan dalam mendeteksi infeksi CMV. Pemeriksaan PCR ini dilakukan untuk mendeteksi antigen atau DNA dari virus CMV. DNA virus dapat ditemukan pada sel darah merah, sel leukosit, sel plasma, ataupun cairan tubuh seperti urin dan cairan serebrospinal.PENGOBATAN DAN PENCEGAHANPada pengobatan infeksi cytomegalovirus (CMV) dengan pemberian antivirus berupa:1. Ganciclovir (Cytovene)Ganciclovir adalah sintetis guanine turunan nukleosida analog aktif sebagai antivirus yang digunakan sebagai pengobatan infeksi cytomegalovirus yang mampu menghambat replikasi dari cytomegalovirus. Efek samping dari penggunaan obat ini berupa mual, pusing, anemia, gatal-gatal, dan mati rasa ataupun kesemutan. Tetapi tidak semua orang dapat mengalami efek samping dari penggunaan obat ini.2. Valganciclovir (Valcyte)Valganciclovir merupakan suatu antivirus terhadap cytomegalovirus yang aktif di dalam usus dan hati yang merupakan prodrug dari ganciclovir. Biasanya obat ini digunakan pada cytomegalovirus yang disebabkan oleh transplantasi ginjal dan pancreas dan pasien AIDS yang memiliki retinitis CMV.3. Foscarnet (Foscavir)Foscarnet adalah antivirus yang menggunakan rantai DNA inhibitor fosforilasi yang mampu menghambat replikasi dari CMV di pirofosfat dengan mengikat pada bagian spesifik virus DNA polimerase. Pemberian obat ini dianjurkan jika ganciclovir dianggap tidak efektif dalam penanganan CMV. Efek samping dari obat ini berupa anemia, sakit kepala, mual dan dapat menyebabkan perubahan metabolisme kalsium dan fosfor.Prinsip higiene yang hati-hati merupakan tindakan terbaik dalam pencegahan infeksi CMV. Para pekerja kesehatan memiliki peluang terbesar terpapar CMV, tetapi karena ada prinsip kewaspadaan universal (general precaution) yang berlaku di pelayanan kesehatan maka risiko terinfeksi menjadi rendah.Anda bisa gunakan kewaspadaan berikut untuk membantu mencegah infeksi CMV:Sering mencuci tangan. Gunakan air dan sabun selam 15 – 20 detik, terutama bila anda habis kontak dengan anak, popok, air liur, atau sekresi oral lainnya. Ini penting terutama bila anak berada dalam perawatan.Hindari kontak air liur dan air mata ketika mencium anak. Ketimbang mencium anak di bibir, lebih baik mencium di dahi, ini penting bila anda sedang hamil.Hindari berbagi makanan dan minuman dalam satu wadah yang sama. Berbagi gelas dan perlengkapan makan dapat menyebarkan CMV.Hati-hati dengan benda-benda habis pakai. Ketika membuang popok, tissue, dan barang-barang lain yang terkontaminasi cairan tubuh berhati-hatilah untuk tidak menyentuh area wajah anda sebelum cuci tangan dengan benar.Bersihkan mainan dan pegangan pada babywalker. Bersihkan permukaan benda-benda yang kontak dengan urin atau air liur anak.Lakukan aktivitas seksual yang sehat. Pakai kondom bila diperlukan. Ini membantu mencegah penyebaran CMV melalui cairan vagina dan cairan semen. Vaksin-vaksin eksperimental saat ini sedang diuji untuk wanita pada usia kehamilan. Vaksin ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mencegah infeksi CMV pada ibu dan anak dan menurunkan kemungkinan bayi dilahirkan dari ibu terinfeksi CMV mengalami disabilitas. Bila anda memiliki penurunan sistem kekebalan tubuh maka ada keuntungan dari minum antiviral untuk mencegah infeksi CMV.PENULIS: Hevi Dwi WahyuniEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDTOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Alexander L. Congenital cytomegalovirus infection (2003)Wilujeng PS. Infeksi cytomegalovirus kongenital (2010)Griffiths PD, Emery VC. Cytomegalovirus. In: Richman DD, Whitley RJ, Hayden FG eds. Clinical Virology. Washington: ASM Press; 2002:433-55Stehel EK, Sänchez PJ. Cytomegalovirus infection in the fetus and neonate. NeoReviews 2005;4(1):38-45Numazaki K, Fujikawa T. Chronological changes of incidence and prognosis of children with asymptomatic congenital cytomegalovirus infection in Sapporo, Japan. BMC Infectious Diseases 2004; 4: 22. 
MENGENAL KANKER PAYUDARA
Kanker payudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Penyakit ini juga dapat diderita laki-laki namun dengan frekuensi yang lebih rendah sekitar 1% dari total penderita. Di Indonesia, lebih dari 80% kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, di mana upaya pengobatan sudah sangat sulit dilakukan. Angka kejadian kanker payudara di Indonesia diperkirakan 12/100.000 wanita.Berdasarkan sifat serangannya, kanker payudara terbagi menjadi dua:Kanker payudara invasif: Sel kanker merusak saluran serta dinding kelenjar sel payudara.Kanker payudara non-invasif: Kanker ini cenderung terbatas pada saluran payudara.Berdasarkan tingkat prevalensinya dibagi menjadi dua: 1) Jenis kanker payudara yang paling umum terjadi, di antaranya : Lobular carsinoma in situ (LCIS): Kanker ini memperlihatkan pertumbuhan jumlah sel yang jelas, berada dalam kelenjar payudara. Penderita kanker jenis ini, dimonitor dengan ketat setiap empat bulan sekali oleh dokter dengan uji klinis pada payudaraDuctal Carcinoma in situ (DCIS): Tipe kanker payudara non invasif yang paling umum terjadi. Dengan deteksi dini, rerata tingkat bertahan hidup penderita hampir mencapai 100%, dengan catatan, kanker tidak menyebar dari saluran payudara ke jaringan lemak payudara dan bagian tubuh yang lain.Infiltrating lobular carcinoma (ILC): Kanker ini mulai terjadi dalam kelenjar payudara atau lobules payudara, tetapi sering menyebar ke bagian tubuh lain.Infiltrating ductal carcinoma (IDC): Kanker ini terjadi dalam saluran payudara dan menjebol dinding saluran, menyerang jaringan lemak payudara hingga kemungkinan terjadi pada bagian tubuh lain2) Jenis kanker yang jarang terjadi, di antaranya : Mucinous carcinoma: Disebut juga colloid carcinoma merupakan jenis yang jarang terjadi, terbentuk dari sel kanker yang memproduksi mucus/lendir. Medullary carcinoma: Merupakan jenis kanker invasif yang membentuk satu batas yang tidak lazim antara jaringan tumor dan normal. Jenis kanker ini hanya sekitar 5% dari seluruh kejadian kanker payudara.Tubular carcinoma: Kanker payudara jenis ini ditemukan hanya sekitar 2% dari keseluruhan kejadian. Tubular carcinoma merupakan satu tipe khusus dari kanker payudara invasif, dan biasanya memiliki angka kesembuhan yang cukup baik dibanding jenis kanker payudara lain.Inflamatory breast cancer: Hanya ditemukan sekitar 1% dari keseluruhan kejadian kanker payudara, akan tetapi perkembangan dari kanker ini sangat cepat. Kanker jenis ini memiliki kondisi di mana payudara terlihat meradang (merah dan hangat) dengan adanya cekungan dan atau pinggiran yang tebal yang disebabkan adanya penyumbatan pembuluh limfe kulit pembungkus payudara oleh sel kanker. Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara belum diketahui. Yang diketahui adalah faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kanker payudara, yaitu:Merokok dan terpapar asap rokok (perokok pasif)Pola dan jenis makanan yang buruk (tinggi lemak dan rendah serat, mengandung zat pengawet/ pewarna)Haid pertama pada umur kurang dari 12 tahunMenopause (berhenti haid) setelah umur 50 tahunMelahirkan anak pertama setelah umur 35 tahunTidak pernah menyusui anakPernah mengalami operasi pada payudara yang disebabkan oleh kelainan tumor jinak atau tumor ganas.Di antara anggota keluarga ada yang menderita kanker payudaraAdapun gejala klinis meliputi:1) Keluhan utamaBenjolan di payudaraKecepatan tumbuh relatif cepatBenjolan dengan/tanpa rasa sakitNipple discharge, retraksi puting payudara, dan bisa terdapat krusta pada area payudaraKelainan kulit, dimpling, peau d’orange, ulserasi, venektasi (pelebaran pembuluh darah kapiler)Benjolan pada ketiak dan edema lengan 2) Keluhan tambahan Nyeri tulang (tulang belakang, tulang panjang)Sesak dan lain sebagainya PEMERIKSAAN PENUNJANG1.) Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis beserta juga tumor marker. Apabila hasil dari tumor marker tinggi, maka perlu diulang untuk follow up.2.) Pemeriksaan Radiologi/Imaging:Mammografi Payudara Mammografi adalah pencitraan menggunakan sinar X pada jaringan payudara yang dikompresi. Mammogram adalah gambar hasil mammografi. Untuk memperoleh interpretasi hasil pencitraan yang baik, dibutuhkan dua posisi mammogram dengan proyeksi berbeda yaitu 45 dan 14 derajat (kraniokaudal dan mediolateralobligue). Mammografi juga dapat bertujuan skrining kanker payudara, diagnosis kanker payudara, dan follow up/kontrol dalam pengobatan. Mammografi rutin dikerjakan pada wanita dengan usia >40 tahun untuk perempuan Indonesia. Pemeriksaan Mammografi sebaiknya dikerjakan pada hari ke 7-10 dihitung dari hari pertama masa menstruasi, pada masa ini akan mengurangi rasa tidak nyaman pada wanita saat di kompresi dan akan memberi hasil yang optimal.USG Payudara Gambaran USG pada benjolan harus dicurigai ganas apabila ditemukan tanda-tanda seperti permukaan tidak rata, taller than wider, tepi hiperekoik, vaskularisasi meningkat, tidak beraturan. Penggunaan USG untuk tambahan mammografi meningkatkan akurasinya sampai 7,4%. Namun USG tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai modalitas skrining oleh karena didasarkan penelitian ternyata USG gagal menunjukkan efikasinya.MRI (Magnetic Resonance Imaging)MRI lebih baik daripada mammografi, namun secara umum tidak digunakan sebagai pemeriksaan skrining dikarenakan biaya yang mahal dan memerlukan waktu pemeriksaan yang lama. Akan tetapi MRI dapat dipertimbangkan pada wanita muda dengan payudara yang padat atau pada payudara dengan implant, dipertimbangkan pasien dengan risiko tinggi untuk menderita kanker payudara.3.) Biopsi kelenjar sentinel (Sentinel lymph node biopsy) adalah mengangkat kelenjar getah bening aksila sentinel sewaktu operasi. Kelenjar getah bening sentinel adalah kelenjar getah bening yang pertama kali menerima aliran limfatik dari tumor, menandakan mulainya terjadi penyebaran dari tumor primer. Biopsi kelenjar getah bening sentinel dilakukan menggunakan blue dye, radiocolloid, maupun kombinasi keduanya.4.) Pemeriksaan Patologi Anatomi pada kanker payudara meliputi pemeriksaan sitologi yaitu penilaian kelainan morfologi sel payudara, pemeriksaan histopatolgi merupakan penilaian morfologi biopsi jaringan tumor dilakukan dengan proses potong beku dan blok paraffin, dan pemeriksaan molekuler berupa immunohistokimia, in situ hibridisasi dan gene array.5.) Pemeriksaan Imunohistokimia (IHK) adalah metode pemeriksaan menggunakan antibodi sebagai probe untuk mendeteksi antigen dalam potongan jaringan (tissue sections) ataupun bentuk preparasi sel lainnya. IHK merupakan standar dalam menentukan subtipe kanker payudara.Pemeriksaan IHK pada karsinoma payudara berperan dalam membantu menentukan prediksi respons terapi sistemik dan prognosis. Pemeriksaan imunohistokimia yang standar dikerjakan untuk kanker payudara adalah:Reseptor hormonal yaitu reseptor estrogen (ER) dan reseptor progesteron (PR)HER2Ki-67Pemeriksaan ER dan PR dilakukan pada material dari blok parafin (spesimen core biopsy dan eksisi), dan dapat juga dari hapusan sitologi atau cell block.PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA:1.) Pencegahan (primer)Pencegahan primer berupa mengurangi, meniadakan, atau menghindari faktor risiko yang diduga sangat erat kaitannya dengan peningkatan insiden kanker payudara. 2.) Pencegahan sekunderPencegahan sekunder adalah melakukan skrining kanker payudara.Skrining kanker payudara adalah pemeriksaan atau usaha untuk menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada seseorang atau kelompok orang yang tidak mempunyai keluhan. Tujuan dari skrining adalah menurunkan angka morbiditas akibat kanker payudara dan angka kematian. Pencegahan sekunder merupakan primadona dalam penanganan kanker secara keseluruhan.Selain skrining dari pemeriksaan penunjang yang telah disebutkan diatas, kita juga dapat melakukan skrining secara mandiri yang disebut dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri).Prosedur cara melakukan pemeriksaan SADARI adalah:Berdiri tegak. Cermati bila ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, pembengkakan dan/atau perubahan pada puting. Bentuk payudara kanan dan kiri tidak simetris? Jangan cemas, itu biasa.Angkat kedua lengan ke atas, tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala, dorong siku ke depan dan cermati payudara; dan dorong siku ke belakang dan cermati bentuk maupun ukuran payudara.Posisikan kedua tangan pada pinggang, condongkan bahu ke depan sehingga payudara menggantung, dan dorong kedua siku ke depan, lalu kencangkan (kontraksikan) otot dada Anda.Angkat lengan kiri ke atas, dan tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian atas punggung. Dengan menggunakan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan area payudara, serta cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke area ketiak. Lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran dan gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan Anda.Cubit kedua puting. Cermati bila ada cairan yang keluar dari puting. Berkonsultasilah ke dokter seandainya hal itu terjadi.Pada posisi tiduran, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Angkat lengan ke atas. Cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak.PENULIS: Defanny Viendah RamadhaniEDITOR: dr. May Fanny Tanzilia, Sp.PK(K) dan dr. Aji WibowoKOPIEDTOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:P2PTM Kemenkes RIPedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Kanker Payudara 
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message