Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

Infeksi saluran kemih merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran kemih manusia. Saluran kemih manusia merupakan organ-organ yang bekerja untuk mengumpul dan menyimpan urine serta organ yang mengeluarkan urine dari tubuh, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. 

Menurut National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC), ISK merupakan penyakit infeksi kedua tersering setelah infeksi saluran pernafasan dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per tahun. Infeksi saluran kemih dapat menyerang pasien dari segala usia mulai bayi baru lahir hingga orang tua (Sukandar, 2006).

Klasifikasi infeksi saluran kemih (ISK) berdasarkan level anatomisnya dibedakan menjadi dua, antara lain:

  1. ISK bagian bawah pada umumnya terjadi tanpa disertai komplikasi, umumnya dapat berupa peradangan kandung kemih bagian bawah (sistitis) pada pasien dengan saluran kemih yang normal. Sistitis dapat bersifat akut maupun kronik dan pada sistitis akut urine pasien keluar sedikit serta sering diikuti rasa sakit jika peradangan tersebut meluas menjadi uretritis.
  2. ISK bagian atas meliputi pielonefritis akut dan kronis. Pielonefritis akut adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sedangkan pielonefritis (infeksi ginjal) kronis proses lanjut dari pielonefritis akut yang berkepanjangan atau infeksi sejak kecil.

Penyebab dari Infeksi saluran kemih salah satunya oleh mikroorganisme patogen, contoh bakteri Escherichia Coli, Streptococcus dan Pseudomonas. Faktor risiko yang umum terjadi pada ISK adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara sempurna serta terjadi penurunan daya tahan tubuh dan peralatan yang digunakan pada saluran perkemihan seperti penggunaan kateter dalam jangka waktu yang lama dan prosedur sistoskopi.

Tanda dan gejala yang berhubungan dengan ISK bervariasi. Pada bayi dan anak gejala ISK tidak spesifik dapat berupa demam, nafsu makan berkurang/ tidak mau makan, pertumbuhan lambat, muntah, diare, distensi abdomen. Infeksi saluran kemih pada kelompok umur ini terutama yang dengan demam tinggi harus dianggap sebagai pielonefritis (Pardede, 2018). 

Sedangkan pada usia di atas 12 ke atas sebagian dari penderita ISK yang ditemukan adanya bakteri dalam urine, tetapi tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Gejala tipikal ISK adalah berupa rasa nyeri dan panas ketika berkemih (dysuria), frekuensi berkemih yang meningkat dan terdesak ingin selalu berkemih (urgency), sulit berkemih dan disertai kejang otot pinggang (stranguria), rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih walaupun sudah kosong (tenesmus), kecenderungan selalu ingin buang air kecil pada malam hari (nokturia) dan kesulitan memulai berkemih (prostatismus).

Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis ISK meliputi :

  1. Anamnesis
  2. Pemeriksaan Fisik
  3. Pemeriksaan Darah
    Leukositosis (peningkatan sel darah putih), peningkatan nilai absolut neutrofil, peningkatan laju endap darah (LED), C-Reactive Protein (CRP) yang positif, Prokalsitonin dan sitokin proinflamatori (TNF-α; IL-6; IL-1β) meningkat pada fase akut infeksi, termasuk pada pielonefritis akut (Pardede, 2018).
  4. Pemeriksaan Urinalisis
    Pemeriksaan urinalisis meliputi leukosituria, nitrit, leukosit esterase, protein, dan darah. Leukosituria merupakan petunjuk kemungkinan adanya bakteriuria tetapi tidak adanya leukosituria tidak menyingkirkan ISK. Bakteriuria dapat juga terjadi tanpa leukosituria. Leukosituria dengan biakan urine steril perlu dipertimbangkan pada infeksi oleh kuman Proteus sp., Klamidia sp., dan Ureaplasma urealitikum. leukosit esterase dan nitrit merupakan parameter pemeriksaan urine utama sebagai skrining dan diagnose ISK. Dan Menurut Roring, A.G dkk (2016) bahwa salah satu parameter yang bermakna dalam mendiagnosis ISK adalah jumlah leukosit dan bakteriuria dalam sedimen urine. 
  5. Kultur Urine
    Kultur urine digunakan untuk mendeteksi serta jumlah bakteri dalam urine. Selain mendeteksi keberadaan bakteri, kultur urine juga dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri penyebab infeksi

Cara untuk mencegah terjadinya Infeksi saluran kemih : 

  1. Banyak minum air putih untuk mendorong bakteri keluar
  2. Jangan menahan buang air kecil, segeralah buang air kecil saat terasa
  3. Basuh kemaluan dari arah depan ke belakang, bukan sebaliknya, hal ini akan mengurangi kemungkinan bakteri masuk ke saluran urine dari rektum
  4. Segera buang air kecil setelah berhubungan seksual
  5. Ganti selalu pakaian dalam setiap hari, karena bila tidak diganti bakteri akan berkembang biak secara cepat dalam pakaian dalam
  6. Hindari memakai celana ketat yang dapat mengurangi ventilasi udara, dan dapat mendorong perkembangbiakan bakteri
  7. Jika anda menderita infeksi saluran kemih berulang maka hindari penggunaan alat kontrasepsi diafragma. Sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk memilih alat kontrasepsi yang lain.

PENULIS: Dimas Yudistira
EDITOR: dr. Aji Wibowo
KOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul Chotimah

Daftar Pustaka & Referensi:

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message