APA ITU CYTOMEGALOVIRUS?

DEFINISI CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi bawaan yang paling sering terjadi pada manusia. Cytomegalovirus (CMV) sendiri merupakan virus DNA yang termasuk genus Herpes. CMV yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV.
CMV sendiri merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling umum di seluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemahaman lebih lanjut mengenai topik ini menjadi penting karena kita semua perlu mengetahui mengenai virus ini tentang bagaimana penyebaran, gejala, pengobatan, serta pencegahannya.
Kebanyakan orang tidak menyadari terinfeksi virus ini karena jarang menimbulkan gejala. Namun demikian, bila anda hamil dan sistem kekebalan anda melemah, ada baiknya anda berpikir tentang CMV. Infeksi CMV sering digabung dalam infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex). Padahal infeksi CMV tidak terbatas pada ibu hamil saja, melainkan dapat menyerang setiap individu.
Setelah infeksi primer atau infeksi pertama kali, CMV hidup menetap (dormant) dalam tubuh seumur hidup kita. Infeksi berjalan laten, namun reaktivasi, replikasi, reinfeksi sering terjadi. Penyebaran dalam tubuh atau endogen dapat terjadi melalui sirkulasi darah. Infeksi CMV bersifat sistemik, menyerang berbagai organ tubuh dan dapat meningkatkan proses inflamasi, memacu respons autoimun, terlibat dalam patogenesis aterosklerosis, memacu timbulnya dan mempercepat perkembangan pada kasus-kasus keganasan, menyebabkan infertilitas.
ETIOLOGI ATAU PENYEBAB
Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi bawaan yang paling sering terjadi pada manusia. Infeksi cytomegalovirus dapat diikuti oleh infeksi primer maupun melalui kehamilan. Sekitar 90% infeksi CMV pada bayi baru lahir yang terinfeksi saat dalam kandungan tidak menunjukkan gejala apapun. Infeksi CMV kongenital dapat didiagnosis dengan mengisolasi virus melalui urin atau saliva saat bayi berusia 0-3 minggu, atau dengan amplifikasi DNA atau teknik hibridisasi.
Cytomegalovirus (CMV) sendiri merupakan virus DNA yang termasuk genus Herpes. CMV yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV. Cytomegalovirus menyebabkan perbesaran ukuran sel sampai dua kali lipat ukuran sel normal. CMV hidup secara parasit intrasel dan sepenuhnya tergantung pada sel inang untuk bereplikasi dengan cara menginfeksi sel inang yang permissive, atau sel dalam kondisi tidak mampu melawan invasi dan replikasi virus. CMV mengikat diri pada reseptor di permukaan sel inang, kemudian menembus membran sel, masuk ke dalam vakuola di sitoplasma. Lalu selubung virus terlepas dan nucleocapsid dengan cepat menuju nukleus sel inang. Terjadilah ekspresi gen imediate early (IE) spesifik RNA atau transkrip gen alfa yang dapat dijumpai tanpa ada sintesis protein virus de novo. Ekspresi protein ini penting untuk ekspresi gen virus berikutnya, yaitu gen beta yang menunjukkan transkripsi kedua dari RNA. Setelah lepas dari sel, virus dapat ditemukan dalam urin dan cairan tubuh lainnya, menyerap β2 mikroglobulin (Beta-2 mikroglobulin) sehingga dapat melindungi antigen virus dan mencegah netralisasi antibodi sehingga infeksi dapat terus berlanjut.
Cytomegalovirus memiliki kaitan dengan virus-virus yang menyebabkan cacar air, herpes simpleks, dan mononukleosis. Sekali anda terinfeksi oleh CMV, maka virus akan tinggal selama anda hidup, tetapi tak selalu aktif. CMV dapat bersiklus antara periode dormant (tidur) dan reaktivasi. Bila anda sehat, ia akan tidur, anda dapat menularkan virus bila mengalami reaktivasi. Transmisi virus terjadi melalui paparan terhadap cairan tubuh termasuk darah, air liur, ASI, air mata, cairan semen, dan cairan vagina. Tetapi tidak oleh kontak yang bersifat biasa dalam pergaulan.
Virus dapat menyebar dengan banyak cara:
- Menyentuh mata atau bagian dalam hidung atau mulut sehabis kontak cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Ini adalah cara paling umum, ia menyebar karena CMV meresap keselaput lendir.
- Melalui kontak seksual dengan pasangan terinfeksi.
- Melalui ASI dari ibu terinfeksi.
- Melalui transplantasi organ atau transfusi darah.
- Melalui plasenta, dari ibu terinfeksi kepada bayi belum lahir, atau selama kelahiran.
Epidemiologi
Infeksi CMV tersebar luas di seluruh dunia, terjadi secara endemik dan tidak dipengaruhi oleh musim. Prevalensi CMV sangat bervariasi yakni antara 0,2 - 2,4% pada negara yang berbeda. Pada negara yang memiliki sosial ekonomi yang baik ditemukan 60-70% orang dewasa dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif terinfeksi CMV. Angka ini meningkat kurang lebih 1% per tahun. Sedangkan pada negara berkembang atau negara dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah maka populasi manusia dengan infeksi CMV positif ditemukan lebih tinggi yakni berkisar 80-90%. Di Indonesia belum didapatkan data yang cukup mengenai prevalensi infeksi CMV pada populasi. Namun, ditemukan sebanyak 90% populasi masyarakat umum dengan seropositif CMV.
CMV sendiri merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling umum di seluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang. Infeksi CMV dapat berasal dari urin, hasil sekresi orofaring, hasil sekresi servikal dan vaginal, semen, air susu ibu, air mata, dan darah. Prevalensi infeksi CMV kongenital sangat bervariasi, ada yang melaporkan sebesar 0,2 sampai 3%, ada pula sebesar 0,7% sampai 4,1%. Di Amerika Serikat, insiden CMV pada bayi sampai usia 6 bulan adalah 39 - 56%. Hal ini disebabkan pemberian air susu ibu yang kembali populer di kalangan ibu. Selain itu, penelitian lain mengemukakan bahwa prevalensi CMV yakni 1 - 2% dari seluruh kehamilan. Infeksi CMV seperti yang dilaporkan oleh Ogilvie terjadi pada 1 dari 3 kasus wanita hamil.
GEJALA KLINIS
Bayi baru lahir dengan CMV dari dalam kandungan (CMV kongenital), bayi yang terinfeksi selama persalinan, atau segera setelah lahir (CMV perinatal) misalnya karena menyusui, dan orang-orang yang mengalami penurunan kekebalan tubuh memiliki risiko lebih besar terinfeksi CMV dibandingkan orang dewasa sehat.
Gejala infeksi CMV pada Bayi
Wanita hamil, lalu terinfeksi CMV, berada pada risiko rendah menularkan virus kepada bayinya. Apabila ini adalah pertama kali infeksi (primary CMV), maka risiko transmisi kepada bayi lebih tinggi dari pada infeksi reaktivasi (ulang). Transmisi umumnya terjadi pada paruh awal kehamilan, biasanya pada trimester pertama.
Bayi yang terinfeksi selama kehamilan, pada saat lahir umumnya tampak sehat, tetapi beberapa diantara mereka akan menunjukkan gejala seiring berjalannya waktu. Yang paling umum terjadi adalah gangguan pendengaran, ada juga dalam jumlah sedikit yang mengalami gangguan penglihatan.
Bayi-bayi dengan CMV kongenital yang sakit pada waktu dilahirkan cenderung sakit berat. Tanda dan gejalanya meliputi:
- Kulit dan mata kuning (jaundice)
- Noda-noda ungu kulit atau ruam merah pada kulit, atau bisa keduanya.
- Berat badan lahir rendah.
- Limpa (lien) membesar
- Liver membesar dan tidak berfungsi baik.
- Pneumonia
- Kejang-kejang.
Gejala Infeksi CMV pada orang dengan penurunan kekebalan (compromised immunity)
Gejala muncul setelah 6 – 90 hari setelah infeksi primer. Kadang hanya muncul dengan gejala mirip sakit flu (flu-like symptoms). Sakit yang menyerupai mononukleosis infeksius adalah tampilan yang umum terjadi dari CMV pada orang-orang dengan penurunan kekebalan (immunocompromised).
CMV juga dapat menyerang organ-organ spesifik. Tanda dan gejala bisa berikut ini:
- Demam
- Pneumonia
- Diare
- Ulkus (borok) saluran cerna, dapat menyebabkan perdarahan.
- Hepatitis
- Peradangan otak (ensefalitis)
- Perubahan perilaku.
- Kejang-kejang
- Koma
- Gangguan penglihatan atau kebutaan
Kebanyakan orang yang terinfeksi CMV yang dalam keadaan sehat hanya mengalami sedikit gejala. Ketika terinfeksi pertama, orang dewasa akan menunjukkan gejala seperti mononukleosis, meliputi kelelahan (fatigue), demam, dan nyeri otot.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis infeksi CMV, adalah pemeriksaan laboratorium, termasuk di dalamnya pemeriksaan serologi, kultur virus atau pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi DNA virus dan pencitraan. Ketiga pemeriksaan penunjang ini menjadi diagnosis pasti infeksi CMV pada pasien bayi, maupun pasien dewasa, termasuk di dalamnya pasien dengan riwayat imunokompromais.
- Serologi
Pemeriksaan serologi dibutuhkan untuk menentukan ada tidaknya infeksi CMV di masa lampau. Adanya hasil positif pada pemeriksaan IgG CMV mengindikasikan adanya riwayat infeksi CMV yang sudah maupun belum diketahui sebelumnya. Pemeriksaan IgM diindikasikan untuk infeksi akut, maupun infeksi yang sedang berlangsung saat ini. Namun, pemeriksaan IgM memiliki hasil yang kurang berkorelasi dengan kondisi pasien, dikarenakan kemungkinan IgM yang tetap positif selama beberapa bulan setelah terjadinya infeksi primer dan juga IgM yang memiliki nilai positif pada infeksi CMV berulang. Oleh karena itu, selain pemeriksaan IgM dan IgG, untuk menentukan diagnosis infeksi CMV juga dilakukan pemeriksaan aviditas IgG untuk membedakan infeksi CMV primer dan sekunder.
- Kultur Sel
Kultur sel umumnya dilakukan pada sel fibroblas manusia yang diinokulasikan dengan spesimen tertentu dan diamati selama 2-21 hari. Hasil positif kultur ditandai dengan adanya sel bergerombol yang bersifat fokal. Kultur sel membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendiagnosis infeksi CMV.
- Polymerase Chain Reaction (PCR)
Pemeriksaan PCR merupakan pemeriksaan yang cepat dan sensitif untuk dilakukan dalam mendeteksi infeksi CMV. Pemeriksaan PCR ini dilakukan untuk mendeteksi antigen atau DNA dari virus CMV. DNA virus dapat ditemukan pada sel darah merah, sel leukosit, sel plasma, ataupun cairan tubuh seperti urin dan cairan serebrospinal.
PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN
Pada pengobatan infeksi cytomegalovirus (CMV) dengan pemberian antivirus berupa:
1. Ganciclovir (Cytovene)
Ganciclovir adalah sintetis guanine turunan nukleosida analog aktif sebagai antivirus yang digunakan sebagai pengobatan infeksi cytomegalovirus yang mampu menghambat replikasi dari cytomegalovirus. Efek samping dari penggunaan obat ini berupa mual, pusing, anemia, gatal-gatal, dan mati rasa ataupun kesemutan. Tetapi tidak semua orang dapat mengalami efek samping dari penggunaan obat ini.
2. Valganciclovir (Valcyte)
Valganciclovir merupakan suatu antivirus terhadap cytomegalovirus yang aktif di dalam usus dan hati yang merupakan prodrug dari ganciclovir. Biasanya obat ini digunakan pada cytomegalovirus yang disebabkan oleh transplantasi ginjal dan pancreas dan pasien AIDS yang memiliki retinitis CMV.
3. Foscarnet (Foscavir)
Foscarnet adalah antivirus yang menggunakan rantai DNA inhibitor fosforilasi yang mampu menghambat replikasi dari CMV di pirofosfat dengan mengikat pada bagian spesifik virus DNA polimerase. Pemberian obat ini dianjurkan jika ganciclovir dianggap tidak efektif dalam penanganan CMV. Efek samping dari obat ini berupa anemia, sakit kepala, mual dan dapat menyebabkan perubahan metabolisme kalsium dan fosfor.
Prinsip higiene yang hati-hati merupakan tindakan terbaik dalam pencegahan infeksi CMV. Para pekerja kesehatan memiliki peluang terbesar terpapar CMV, tetapi karena ada prinsip kewaspadaan universal (general precaution) yang berlaku di pelayanan kesehatan maka risiko terinfeksi menjadi rendah.
Anda bisa gunakan kewaspadaan berikut untuk membantu mencegah infeksi CMV:
- Sering mencuci tangan. Gunakan air dan sabun selam 15 – 20 detik, terutama bila anda habis kontak dengan anak, popok, air liur, atau sekresi oral lainnya. Ini penting terutama bila anak berada dalam perawatan.
- Hindari kontak air liur dan air mata ketika mencium anak. Ketimbang mencium anak di bibir, lebih baik mencium di dahi, ini penting bila anda sedang hamil.
- Hindari berbagi makanan dan minuman dalam satu wadah yang sama. Berbagi gelas dan perlengkapan makan dapat menyebarkan CMV.
- Hati-hati dengan benda-benda habis pakai. Ketika membuang popok, tissue, dan barang-barang lain yang terkontaminasi cairan tubuh berhati-hatilah untuk tidak menyentuh area wajah anda sebelum cuci tangan dengan benar.
- Bersihkan mainan dan pegangan pada babywalker. Bersihkan permukaan benda-benda yang kontak dengan urin atau air liur anak.
- Lakukan aktivitas seksual yang sehat. Pakai kondom bila diperlukan. Ini membantu mencegah penyebaran CMV melalui cairan vagina dan cairan semen. Vaksin-vaksin eksperimental saat ini sedang diuji untuk wanita pada usia kehamilan. Vaksin ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mencegah infeksi CMV pada ibu dan anak dan menurunkan kemungkinan bayi dilahirkan dari ibu terinfeksi CMV mengalami disabilitas. Bila anda memiliki penurunan sistem kekebalan tubuh maka ada keuntungan dari minum antiviral untuk mencegah infeksi CMV.
PENULIS: Hevi Dwi Wahyuni
EDITOR: dr. Aji Wibowo
KOPIEDTOR BAHASA INDONESIA: Chusnul Chotimah
Daftar Pustaka & Referensi:
- Alexander L. Congenital cytomegalovirus infection (2003)
- Wilujeng PS. Infeksi cytomegalovirus kongenital (2010)
- Griffiths PD, Emery VC. Cytomegalovirus. In: Richman DD, Whitley RJ, Hayden FG eds. Clinical Virology. Washington: ASM Press; 2002:433-55
- Stehel EK, Sänchez PJ. Cytomegalovirus infection in the fetus and neonate. NeoReviews 2005;4(1):38-45
- Numazaki K, Fujikawa T. Chronological changes of incidence and prognosis of children with asymptomatic congenital cytomegalovirus infection in Sapporo, Japan. BMC Infectious Diseases 2004; 4: 22.

