Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285
Buka 24 Jam

Kabar Terbaru Granostic Diagnostic Center

Answer All Your Needs
Answer to all your needs is here!Tes gen yang dapat digunakan untuk:Mendeteksi penyakit (saat belum menunjukkan gejala)Mencegah penyakit (faktor keturunan)Mengobati secara tepat untuk setiap penyakitMerancang gaya hidup sehat yang disesuaikan dengan setiap individuMENGAPA harus skrining gen?Hemat BiayaHemat WaktuPengobatan tepatMetode diet yang dipersonalisasikan sesuai landasan profesionalGaya hidup lebih sehatGRANOMIC : Granostic Genomic ServicePelayanan tes genetika dengan hasil tercepat!Dikerjakan oleh PROFESIONALLayanan pemeriksaan LENGKAPHasil sangat AKURATDengan metode yang NYAMANGranomic - Answer All Your Needs
DIET Seimbang yang BAIK | Health Podcast
Bagaimana fenomena “Remaja Jompo” ini menyebabkan penyakit-penyakit metabolik?    Gangguan metabolik adalah suatu kejadian yang terjadi karena proses metabolisme yang gagal dan menyebabkan tubuh memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit zat yang penting agar tetap sehat. Dengan begitu, beberapa penyakit dapat terjadi ketika beberapa zat penting tersebut kurang atau lebih.Terdapat multi-faktor yang memengaruhi terjadinya Gangguan Metabolik dalam isi podcast kali ini, yaitu:Orang-orang dengan orangtua yang memiliki riwayat, lebih rentan mengalami gejala metabolik lebih tinggi, apalagi ketika mereka termasuk dari “Remaja Jompo”. Tidak ada aktivitas rutin hingga pola makan yang tidak dijaga akan menyebabkan penumpukan kalori dan lemak. Jika dibiarkan kalori dan lemak yang sudah menumpuk akan menyumbat pembuluh darah.Apakah kita harus tetap memperhatikan 4 Sehat 5 Sempurna? Apakah harus seperti itu? Atau ada makanan tertentu yang harus kita hindari?    4 Sehat 5 Sempurna memiliki semua nutrisi baik makro maupun mikronutrien memang dibutuhkan. Namun, apakah dari 4 Sehat 5 Sempurna termasuk ke dalam makanan yang higienis dan bersih dalam pengolahannya? Lantas komposisi di dalamnya seperti apa? Apakah sudah seimbang dengan kegiatan sehari-hari, di mana tubuh membutuhkan semua nutrisi dari sana.    Yuk, simak podcast dalam tema "Remaja Jompo" bersama dr. Aji Wibowo di Youtube Granostic, serta ikuti podcast-podcast bermanfaat lainnya.
RUBELLA
    Rubella adalah penyakit akut dan mudah menular Ini sering menginfeksi anak-anak dan dewasa muda yang rentan. Penyakit Ini memiliki gejala klinis ringan dan 50% tidak menunjukkan gejala. Infeksi rubella pada Wanita hamil dapat mengalami keguguran atau kecacatan Lahir permanen atau dikenal sebagai bayi dengan Sindrom rubella kongenital (CRS). akibat yang ditimbulkan oleh rubella adalah cacat seumur hidup yang harus ditanggung oleh penderita, keluarga, bahkan bangsa dan negara.(WHO Weekly Epidemiological Record, No. 29, 2011, 301-316)Epidemiologi Penyakit Rubela    Angka penemuan kasus dan kematian karena campak dan rubela di Indonesia pada tahun 2014-2018 yang dilaporkan adalah 14.192 positif rubela. kurang lebih 77% penderita merupakan anak usia di bawah 15 tahun. (Kemenkes, 2019)Patogenesis dan Penularan RubelaPenyebab Rubella Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh togaviridae Jenis rub virus yang termasuk golongan virus RNA. Virus rubela cepat mati oleh sinar ultra violet, bahan kimia, bahan asam dan pemanasan. Virus rubela dapat menembus sawar placenta dan menginfeksi janin.Akibat hal tersebut dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin, antara lain: abortus, lahir mati atau cacat berat kongenital (birth defects) yang dikenal sebagai penyakit Congenital Rubella Syndrome (CRS). Rubella juga dapat ditularkan melalui droplet saluran pernapasan saat batuk atau bersin. Virus dapat berkembang biak di nasofaring dan kelenjar getah bening regional. Dengan percikan cairan seperti air liur atau keringat orang lain.Masa Inkubasi Penyakit Rubella Masa inkubasi penyakit rubela berkisar antara 14–21 hari.GejalaGejala penyakit rubela ditandai dengan:Demam ringan (37,2°C) dan bercak merah/rash/ruam makulopapuler (sering terjadi pada ana-anak) Pembesaran kelenjar getah bening (limfe) di belakang telinga, leher belakang dan sub occipital.Rubela pada wanita dewasa sering menimbulkan arthritis atau arthralgia.Dampak Infeksi RubelaDampak infeksi rubela pada wanita hamil, terutama pada kehamilan trimester pertama, dapat mengakibatkan abortus, lahir mati atau bayi lahir dengan CRSBentuk kelainan pada CRS:Kelainan jantung: Patent Ductus Arteriosus (PDA), Defek Septum Atrial/Atrial Septal Defect (ASD), Defek Septum Ventrikel/Ventricular Septal Defect (VSD), Stenosis Katup Pulmonal/Pulmonary Stenosis (PS)Kelainan pada mata: Katarak Kongenital, Glaukoma Kongenital, Pigmentary Retinopathy; Kelainan pendengaran: Tuli Sensouri Neural/ Sensouri Neural Hearing Loss (SNHL)Kelainan pada sistim saraf pusat: retardasi mental, mikrocephalia dan meningoensefalitis; Kelainan lain: purpura, splenomegali, ikterik yang muncul dalam 24 jam setelah lahir, radioluscent bone, serta gangguan pertumbuhanPemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menunjang diagnosis infeksi virus rubella dan untuk status imunologis. Karena prosedur isolasi virus sangat lama dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. Bahan pemeriksaan untuk menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari apusan (swab) tenggorok, darah, urin dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:Isolasi VirusVirus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, apusan tenggorok, urin, dan cairan serebrospinalis penderita rubella. Virus juga dapat diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu setelah munculnya ruam. Meskipun metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 karena prosedur pemeriksaan yang rumit. Hal ini menyebabkan metode isolasi virus bukan sebagai metode diagnostik rutin. Untuk isolasi secara primer spesimen klinis, sering menggunakan kultur sel yaitu Vero; African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE).Pemeriksaan SerologiPemeriksaan serologis digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella kongenital dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda) dan untuk menentukan status imunologik terhadap rubella. Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah bersentuhan dengan penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti. Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim (ELISA) terhadap serum penderita untuk menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dipastikan dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah khusus. Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena telah mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella dengan ELISA juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan re-infeksi. Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu:Membantu menetapkan diagnosis rubella kongenital. Dalam hal ini dilakukan imunoasai IgM terhadap rubellaMembantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderitaMemeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu, sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat disebabkan oleh berbagai macam virus yang lainMemantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas)Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi. Adanya antibodi IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa penderita tersebut pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan terhadap virus rubella. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring untuk Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 kehamilan adalah sebagai berikut: sebelum kehamilan, bila positif ada perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan muda (trimester pertama).Kadar IgG ≥15 IU/ml, umumnya dianggap dapat melindungi janin terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila positif berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada.Pemeriksaan RNA VirusJenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella antara lainPolymerase Chain Reaction (PCR): PCR merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris, PCR digunakan sebagai metode evaluasi rutin untuk menemukan virus rubella dalam spesimen klinis. Penemuan RNA rubella dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai sensitivitas 87–100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu setelah onset infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR menggunakan sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang sering digunakan untuk kepentingan pengawasan (surveillance).Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP) RT- LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali RNA virus rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan sensitivitas antara pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus yang dilakukan di Jepang, ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT-LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan 33,3% untuk isolasi virus. Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan RT-PCR tetapi hasil pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat tingkat kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan inkubasi di alat turbidimeter.Pencegahan Tindakan pencegahan terbaik adalah vaksinasi sesuai dengan jadwal vaksinasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Vaksinasi MMR pertama berusia 15 bulan dan yang kedua berusia 5 tahun. Vaksinasi juga dapat diberikan sebelum bepergian ke daerah endemis rubella dan setidaknya satu bulan sebelum kehamilan.Rubella dapat dicegah dengan mempraktikkan kebiasaan berikut:Menjaga kebersihan diri, yaitu mandi secara teratur dan mencuci tangan dengan sabun. Hindari kontak dengan penderita rubella. Isolasi penderita rubella di ruangan terpisah dari keluarga mereka.PENULIS: Vicky Nur FadilaEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Medicalnewstoday. Diakses pada 2022. Rubella (German measles)Pedoman. Campak & Rubella 2022Fitriany, Julia dan Husna, Yulia. 2018. Sindrom Rubella Kongenital. Bagian ilmu Kesehatan anak, Universitas Malikussaleh: Lhokseumawe
TBC (TUBERKULOSIS)
    TB atau Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis atau BTA (Bakteri Tahan Asam). Penyakit ini menyerang paru-paru namun bisa juga menyebar ke anggota tubuh lainnya (ekstra paru). Penyakit ini menular melalui udara atau aerogen pada saat penderita TB batuk, bersin atau berbicara lalu mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri M. tuberculosis dan menyebar melalui udara. Kebijakan Pengendalian TB di Indonesia dilaksanakan melalui penggalangan kerja sama antara pemerintah, non pemerintah, swasta dan masyarakat dalam Gerakan Terpadu Nasional Pengendalian TB.    KLASIFIKASI      Klasifikasi TBC Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik, dan riwayat pengobatan sebelumnya.A. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.B. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB Paru:1) Tuberkulosis paru BTA positif :Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.2) Tuberkulosis paru BTA negatif : Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatifFoto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosisTidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan C. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu: a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal. b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat kelamin.    Catatan: Bila seorang pasien TB ekstra paru juga mempunyai TB paru, maka untuk kepentingan pencatatan, pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ, maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.D. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu: Kasus Baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).Kasus Kambuh (Relaps) adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO) adalah pasien TB yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.Kasus Gagal (Failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.Kasus Pindahan (Transfer In) adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.Kasus lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan. Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologiCiri-ciri Mycobacterium tuberculosis, yaitu :Berbentuk batang (basil) dengan panjang 1-10 mikron, dan lebar 0,2-0,8 mikron.Tahan terhadap suhu rendah (40oC hingga (-70oC) sehingga bisa bertahan hidup dalam waktu lama.Dalam suhu 30-37oC dapat bertahan hidup hingga kurang satu minggu.Bersifat tahan asam jika diperiksa secara mikroskopis dalam pewarnaan metode Ziehl-Neelsen.Bakteri tampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan mikroskop.Memerlukan media biakan khusus yaitu Loweinsten-Jensen dan Ogawa.Sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan ultraviolet, sehingga apabila terpapar langsung sebagian besar bakteri akan mati dalam beberapa menit.Bakteri dapat bersifat tidur atau tidak berkembang (dormant) (Kemenkes RI, 2014, 2017).Etiologi atau PenyebabCara Penularan :Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).Infeksi akan terjadi bila seseorang menghirup udara yang mengandung percikan dahak pasien TB.Sekali batuk penderita TB dapat mengeluarkan 0- 3500 bakteri, sedangkan bersin 4500-1.000.000 bakteri.Umumnya penularan terjadi dalam ruangan tertutup dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi udara yang baik dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan beberapa jam pada kondisi yang gelap dan lembab.Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, maka makin tinggi daya penularan pasien tersebut.Gejala Kritis    Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.Gejala Sistemik/Umum: Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul Penurunan nafsu makan dan berat badan Perasaan tidak enak (malaise), lemahGejala Khusus: Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.Kalau ada cairan di rongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.Pemeriksaan PenunjangApabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak). Pemeriksaan patologi anatomi (PA). Rontgen dada (thorax photo).Uji tuberkulin.    Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS): S (sewaktu): Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.P (Pagi): Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.S (sewaktu): Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.     Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. PencegahanMembudayakan perilaku hidup bersih dan sehatMembudayakan perilaku etika ketika batukMelakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehatPeningkatan daya tahan tubuhPenanganan penyakit penyerta TBCPenerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan di luar Fasilitas Pelayanan KesehatanPENULIS: Anggraeni Windi RosariEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Kemenkes RI. (2013). pedoman SUN. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis, i–100.Kemenkes RI. (2018). Infodatin Tuberkulosis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 1–8. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-tuberkulosis-2018.pdfPedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2, cetakan pertama. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007 Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis pada Anak. Kelompok Kerja TB Anak Depkes – IDAI. 2008 International Standards for Tuberculosis Care : Diagnosis, Treatment, Public Health. Tuberculosis Coalition for Technical Assistance (TBCTA). 2006
PAKET PERAWATAN LUKA
Paket pemeriksaan dan perawatan luka, menangani : Luka Akut dan Kronis Luka Bakar Luka Kecelakaan Luka Akibat PenyakitBEST DEAL, TERSEDIA DALAM 3 PAKET : PAKET 1x : Rp. 990.000PAKET 3x : Rp. 2.180.000PAKET 6x : Rp. 3.480.000PAKET PEMERIKSAAN MELIPUTI : 1. Cek Laboratorium : Gula Darah Puasa, HbA1C*, Darah Lengkap**2. Perawatan luka oleh tenaga profesional 3. FREE konsultasi dan pemantauan oleh dokter 4. Harga spesial untuk telekonsultasi dengan dokter spesialis PAKET PERAWATAN HANYA BERLAKU 2 BULAN SEJAK PEMERIKSAAN AWAL *Pemeriksaan HbA1C hanya dilakukan di awal pemeriksaan **Pemeriksaan Darah Lengkap dilakukan 2x, di awal dan di akhir pemeriksaan ***Harga tertera belum termasuk biaya telekonsultasi dengan dokter spesialisKLIK DISINI UNTUK PESAN DAN INFORMASI LAINNYA 
Paket Pemeriksaan Penyakit : Kolesterol
Paket pemeriksaan kolesterol berguna untuk screening dan monitoring kadar lemak dalam tubuh. Meskipun lemak merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh, tetapi masih perlu untuk dipantau dan dicek secara berkala agar tidak memberikan dampak buruk bagi tubuh. Pemeriksaan dalam paket, meliputi : 1. Darah Lengkap 2. Kolesterol Total 3. HDL 4. LDL 5. Konsultasi dokter umum 6. Pemeriksaan tekanan darah KLIK DISINI UNTUK PESAN DAN INFORMASI LAINNYA
Paket Pemeriksaan Penyakit : Diabetes
Diabetes adalah penyakit banyak terjadi di Indonesia, dan sering juga disebut sebagai penyakit kencing manis dan penyakit gula. Penyakit ini terjadi karena hormon insulin pada tubuh manusia tidak bisa bekerja dengan maksimal. Penyakit diabetes dapat mengarah pada komplikasi lainnya jika tidak ditangani dengan baikPaket ini dapat digunakan untuk screening dan monitoring penyakit diabetes yang dideritaPaket meliputi : 1. Gula Darah Puasa 2. Glukosa Darah 2JPP3. HbA1C4. Konsultasi dengan dokter umum 5. Pemeriksaan tekanan darah KLIK DISINI UNTUK PEMESANAN DAN INFORMASI LAINNYA
LEPTOSPIROSIS
    Leptospirosis pada manusia pertama kali ditemukan oleh Van der Scheer pada tahun 1892 di Indonesia, namun isolasi baru dapat dilakukan pada tahun 1922 oleh Vervoort. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan saat ini leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena belum dapat dikendalikan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, selama tahun 2014 – 2016 terdapat tujuh provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten dan Kalimantan Selatan.    Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis menular yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Kejadian leptospirosis biasanya dihubungkan dengan bencana banjir, air pasang di daerah pantai, daerah rawa atau lahan gambut.EPIDEMIOLOGI    Leptospirosis tersebar luas di negara-negara yang beriklim tropis termasuk Indonesia. Kondisi lingkungan di wilayah tropis sangat mendukung penyebaran bakteri Leptospira, karena bakteri ini cocok hidup pada lingkungan dengan temperatur hangat, pH air dan tanah netral, kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Terlebih jika kondisi lingkungan dalam keadaan yang buruk yang mendukung perkembangan dan lama hidup bakteri. Di wilayah Asia Pasifik leptospirosis dikategorikan sebagai penyakit yang ditularkan melalui media air (water borne disease), terlebih air yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi jika ada kontak antara manusia dengan hewan atau lingkungan yang sudah terinfeksi bakteri Leptospira. Manifestasi leptospirosis ini beragam mulai dari gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. Sedangkan hewan yang terinfeksi oleh leptospira belum tentu tampak dalam kondisi sakit, karena bakteri ini bersifat komensal pada beberapa jenis hewan termasuk tikus yang dikenal sebagai reservoir leptospirosis di Indonesia. Secara alamiah leptospirosis terjadi karena adanya interaksi yang sangat kompleks dan beragam antara agent (pembawa penyakit), host (tuan tumah/pejamu) dan environment (lingkungan).Agent (Pembawa Penyakit)     Agent atau pembawa penyakit adalah mikroorganisme infeksius atau patogen. Pembawa leptospirosis adalah bakteri berbentuk spiral berpilin yang masuk dalam genus Leptospira. Bakteri ini bersifat komensal pada hewan dan secara alamiah memang berada di tubulus ginjal dan saluran kelamin hewan tertentu.    Bakteri Leptospira memiliki dua lapis membran, berbentuk spiral, lentur, tipis dengan tebal 0,1 µm dan panjang 10-20 µm. Pada kedua ujungnya terdapat kait berupa flagelum periplasmik. Bergerak maju mundur dan memutar sepanjang sumbunya. Bakteri ini dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan dan peka terhadap asam. Dalam air laut, air selokan dan air kemih yang pekat, bakteri ini akan cepat mati. Berdasarkan strainnya, bakteri Leptospira dibedakan menjadi strain yang patogen dan non patogen. Leptospira patogen dikenal sebagai L. interrogans, sedangkan yang non-patogen dikenal sebagai L. biflexa. Bakteri Leptospira memiliki lebih dari 250 buah serovar patogen yang terbagi ke dalam 25 serogrup. Beberapa serovar yang ditemukan selama ini di Indonesia antara lain adalah serovar hardjo, tarassovi, pomona, australis, rachmati, bataviae, djasiman, icterohamorragie, hebdomadis, autumnalis, dan canicola.Host (Tuan Rumah/Pejamu)     Host atau tuan rumah adalah manusia yang dapat terserang penyakit. Penyakit Leptospira memiliki dua pejamu, yaitu binatang/mamalia dan manusia. Mamalia yang menjadi pejamu ini dikenal dengan sebutan reservoir, berupa binatang buas dan juga ternak, termasuk tikus. Di Indonesia, sumber penularan utama leptospirosis adalah tikus. Tikus yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira terkadang tampak dalam keadaan sehat, karena bakteri ini bersifat komensal terhadap binatang inangnya. Beberapa spesies tikus yang menjadi reservoir leptospirosis di Indonesia di antaranya adalah Rattus tanezumi, Rattus norvegicus, Bandicota indica, Rattus exculan, Mus musculus dan Suncus murinus.    Leptospirosis pada manusia menampakkan gejala yang bervariasi, mulai dari gejala ringan sampai dengan berat, tergantung jenis serovar yang masuk ke dalam tubuh manusia. Gejala klinis leptospirosis setelah masa inkubasi berupa demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk, rasa tidak nyaman di badan, muntah, nyeri pada perut, diare, sufusi konjungtiva, jaundice, urin berwarna seperti teh, oliguria, anuria, batuk berdarah, perdarahan pada kulit, pusing dan lesu. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan beberapa organ berupa kegagalan hati akut, kegagalan ginjal akut, perdarahan pada paru-paru, miokarditis dan meningoencephalitis yang berakhir pada kematian. Leptospirosis sebagian besar menyerang laki-laki pada usia produktif, bekerja di luar rumah, memiliki kontak dengan tikus dan juga air yang terkontaminasi dengan bakteri Leptospira.LINGKUNGAN    Lingkungan adalah faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi pembawa penyakit dan memberikan kesempatan pada pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit, termasuk faktor fisik, biologi dan sosial ekonomi.    Penyakit leptospirosis ini biasanya terjadi pada wilayah tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi, udara yang hangat dan lembab serta biasanya terjadi setelah banjir berlangsung. Biasanya setelah banjir berakhir, manusia dan binatang akan terpapar oleh air maupun tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan dengan genangan air di sekitar rumah berhubungan dengan kejadian leptospirosis, selain itu, rumah dengan dinding dapur bukan dari tembok, tidak ada langit-langit di rumah, tempat sampah terbuka, kondisi rumah yang tidak rapi juga berhubungan dengan kejadian leptospirosis dan daerah yang rawan banjir.    Manusia dan binatang dapat terinfeksi oleh bakteri ini melalui kontak antara kulit atau mukosa dengan air maupun tanah yang mengandung urin binatang yang terinfeksi oleh bakteri ini. Infeksi juga dapat terjadi jika manusia mengkonsumsi air ataupun makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang ada di kulit, membran mukosa (hidung, mulut dan mata), atau bahkan melalui air minum. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri ini berada di dalam darah dan menyerang jaringan dan organ tubuh.DIAGNOSIS    Diagnosis leptospirosis dapat dilakukan baik pada hewan maupun manusia. Pada hewan diagnosis dilakukan pada ginjal dan limpa, sedangkan pada manusia diagnosis dilakukan pada serum, plasma darah, urin dan cairan serebrospinal. Diagnosis laboratorium leptospirosis melibatkan dua kelompok pengujian. Kelompok pertama didesain untuk mendeteksi antibodi anti-leptospira, sedangkan kelompok kedua untuk mendeteksi Leptospira, antigen Leptospira atau asam nukleat Leptospira pada cairan tubuh maupun jaringan.    Kultur dan Microscopic Agglutination Test (MAT) adalah standar emas untuk diagnosis laboratorium dan yang paling banyak digunakan. Beberapa cara skrining cepat penegakan diagnosis leptospirosis telah dikembangkan, di antaranya Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), uji aglutinasi lateks, uji aliran lateral dan dipstik IgM, tapi sayangnya sensitivitas alat tersebut masih sangat rendah terutama pada saat fase akut. Selain MAT, alat diagnosis yang digunakan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR) yang terbukti berguna untuk mendiagnosis leptospirosis lebih awal sebelum dimulainya produksi antibodi, sayangnya biaya operasional PCR ini sangat mahal, sehingga dirasa kurang efisien.    Diagnosis kasus leptospirosis pada manusia dapat dilakukan pada saat masa akut, transisi dari masa akut ke masa imun dan fase imun. Pada masa akut diagnosis dilakukan dengan mengkultur bakteri Leptospira dari darah, urin dan cairan serebrospinal; selain itu diagnosis dilakukan melalui PCR. Saat masa transisi dari fase akut ke fase imun diagnosis dilakukan melalui uji ELISA IgM dan dipstik. Pada saat fase imun diagnosis dilakukan melalui uji MAT, yang merupakan standar emas penegakan diagnosis leptospirosis berdasarkan rekomendasi dari WHO.PENGOBATAN    Pengobatan leptospirosis tergantung pada tingkat keparahannya. Bagi penderita leptosiprosis ringan pengobatannya berupa tablet doksisiklin dengan dosis 100 mg diminum dua kali sehari selama tujuh hari. Bagi penderita leptospirosis sedang dan/atau berat pengobatannya berupa penicilin G intravena dengan dosis 1,5 MU setiap enam jam selama tujuh hari. Jika terjadi gagal ginjal perlu dilakukan hemodialisa dan perlu dilakukan ventilasi pernafasan mekanis jika terjadi perdarahan pada paru-paru. Bagi orang yang memiliki risiko tinggi terkena leptospirosis, maka perlu diberikan doksisiklin oral sebagai profilaksis sebesar 200 mg per minggu selama terpapar risiko.PENCEGAHAN     Berdasarkan saran WHO, upaya pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu pada hewan sebagai sumber infeksi, jalur penularan dan manusia. Pada hewan sebagai sumber infeksi, pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin kepada hewan yang berpotensi tertular leptospirosis. Selain itu kebersihan kandang hewan peliharaan juga perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya leptospirosis pada hewan. Pada jalur penularan, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memutus jalur penularan.    Jalur penularan adalah lingkungan yang bisa menjadi tempat berkembang biak dan hidup bakteri Leptospira. Lingkungan dengan kondisi sanitasi yang buruk menjadi faktor risiko terjadinya leptospirosis. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus, termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah yang benar sehingga tidak menjadi sarang tikus.    Pada manusia, pencegahan yang bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan individu setelah beraktivitas di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis; pendidikan kesehatan untuk menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis; menjaga kebersihan kandang hewan peliharaan; membersihkan habitat sarang tikus; pemberantasan hewan pengerat bila kondisi memungkinkan dan pemberian kaporit atau sodium hipoklorit pada air tampungan yang akan digunakan oleh masyarakat. Selain itu perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini, terlebih bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi dan juga penyedia pelayanan kesehatan.PENULIS: Achmad Priyas Budi Santoso, A.md. KesEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011. 1-97 p.Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta; 2017.  Raharjo J, Hadisaputro S, Winarto. Faktor Risiko Host pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak. Balaba. 2015;11(2):105–10. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Terintegrasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Tular Vektor Dan Reservoir di Jawa Tengah. Salatiga; 2014.Dll
Paket Pemeriksaan Penyakit Hipertensi
Penyakit hipertensi disebut juga sebagai 'silent killer disease', hal ini karena kebanyakan pasien hipertensi tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit ini sehingga penanganan penyakit ini terlambat dilakukan. Paket ini dapat digunakan untuk screening hepatitis maupun monitoring penyakitnya. Paket berisi : 1. HbA1C2. LDL3. Trigliserida 4. Ureum 5. Kreatinin 6. Asam Urat 7. Urine Lengkap 8. Kalium 9. Natrium 10. Kalsium 11. Klorida 12. EKG 13. Konsultasi dokter umum 14. Pemeriksaan tekanan darah KLIK DISINI UNTUK PESAN DAN INFORMASI LEBIH LANJUT
Diet Seimbang Untuk Gaya Hidup Sehat
Setelah membahas tentang fenomena remaja jompo yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik dan berlangsung lama, dr Aji menjelaskan tentang diet seimbang yang baik untuk memperbaiki gaya hidup, melalui Granostic Health Podcast ep. 2. Diet seimbang yang baik untuk tubuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing. Tidak hanya memerhatikan porsi makan, tetapi juga harus memerhatikan jenis makanan apa saja yang ada dalam satu porsi makan. Dr. Aji menyampaikan bahwa sebaiknya, pada 1 piring makan harus terisi dengan 1/3 karbohidrat, 1/3 lemak, dan 1/3 protein. Selain itu pemilihan jenis  makanan juga harus diperhatikan. Misalnya karbohidrat, sebisa mungkin memilih karbohidrat kompleks yang tidak mudah dicerna oleh tubuh, sehingga dapat kenyang lebih lama. Selanjutnya adalah lemak, pemilihan lemak juga harus diperhatikan, hal ini karena lemak yang kurang baik untuk tubuh akan menyumbat pembuluh-pembuluh darah dan dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya. Maka dari itu lemak yang dipilih untuk dikonsumsi haruslah lemak tak jenuh, seperti lemak dari tumbuh-tumbuhan. 1/3 porsi berikutnya adalah protein. Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mengabaikan porsi protein dalam makanan sehari-harinya. Protein merupakan salah satu nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas dan membangun otot sehingga tubuh lebih berenergi. Pemilihan protein tidak harus dari suplemen atau vitamin, cukup dengan mengonsumsi kacang-kacangan, daging ayam, sapi maupun ikan. Tidak hanya nutrisi berupa karbohidrat, lemak dan protein, kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan. Meskipun perhitungannya tidak sekompleks nutrisi utama, vitamin dan mineral tidak dapat disepelekan. Vitamin dan mineral dapat dengan mudah didapatkan melalui buah dan sayur. Yang tidak kalah penting adalah variasi menu makanan setiap hari. Selain dapat menyebabkan kebosanan, mengonsumsi makanan yang tidak bervariasi dapat menyebabkan gizi yang masuk dalam tubuh tidak seimbang. Maka variasi makanan diperlukan untuk mencegah hal tersebut. SIMAK INFORMASI LENGKAPNYA DI CHANNEL YOUTUBE GRANOSTIC CENTER, ATAU KLIK LINK DI BAWAH INI : Granostic Health Podcast Ep.2 : Diet Seimbang
Sleep Hygiene untuk meningkatkan produktivitas
Istilah 'tidur produktif' merujuk pada kondisi di mana manusia beristirahat untuk meningkatkan produktivitas. Pada praktiknya metode tidur ini memperhatikan beberapa hal yang dapat mendukung tidur manusia lebih berkualitas. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jam tidur. Untuk orang dewasa, jam tidur yang dibutuhkan tubuh adalah 6-8 jam dalam sehari, dan waktu tidur yang baik adalah di saat malam hari, yaitu pukul 10-5 pagi. Waktu tidur juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena hal ini berhubungan dengan jam kerja organ-organ dalam tubuh kita. Beberapa organ akan menurunkan kinerjanya di jam-jam tertentu, dan hal ini akan sangat baik jika didukung dengan mengurangi aktivitas tubuh. Setelah itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah sleep hygiene, yaitu kondisi tempat sobat beristirahat yang harus bebas dari gangguan. Di antaranya adalah gangguan kebisingan dan gangguan pencahayaan. Hal-hal ini akan membantu manusia untuk tidur dengan lebih berkualitas, yaitu tidur dengan nyenyak dan tubuh dapat beristirahat dengan maksimal, sehingga akan mendorong produktivitas kerja saat siang hari. Simak informasi lengkapnya di instagram Granostic Center, atau klik link di bawah ini : Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 1Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 2
GC Medical Foundation menyediakan 'layanan tes diagnostik' di seluruh Indonesia
Menandatangani kontrak pasokan dengan Granistic Diagnostic Center... Layanan yang akan diberikan kepada lembaga diagnostik dan pengujian lokalMenandatangani 8 kontrak konsinyasi luar negeri pada semester pertama tahun ini saja... Mempercepat masuk ke pasar medis luar negeri seperti Asia TenggaraGC The Medical Foundation menyediakan layanan tes diagnostik di seluruh Indonesia melalui perusahaan pengujian diagnostik lokal.GC Medical Foundation mengumumkan pada tanggal 14 bahwa mereka telah menandatangani perjanjian dengan 'Pusat Diagnostik Granostik' untuk menyediakan layanan pengujian diagnostik pada tanggal 6Granistic Diagnostic Center adalah lembaga pengujian diagnostik yang berbasis di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Baru-baru ini, perusahaan mengumumkan rencana untuk mendirikan laboratorium baru di Indonesia bagian timur, seperti Bali, Sulawesi, dan Kalimantan, dan memperluas cakupan layanan medis di masyarakat dengan cepat.GC Medical Foundation berpartisipasi dalam IFCC Seoul 2022, konferensi paling bergengsi di bidang diagnostik dan kedokteran laboratorium pada bulan Juni, dan menandatangani kontrak layanan pengiriman tes diagnostik dengan tiga perusahaan Eropa dan Asia Tenggara, mencapai masuk ke pasar Hongaria , Bosnia dan Thailand. Termasuk kontrak di Indonesia ini, yayasan telah menandatangani delapan kontrak baru tahun ini. Sejauh ini, telah mendapatkan 16 mitra di 13 negara di Timur Tengah, Asia dan Eropa. Dengan kontrak ini sebagai titik awal, perusahaan berencana untuk memperkuat posisinya di pasar medis Asia Tenggara dan memperluas bisnisnya dengan sungguh-sungguh.Lee Eun-hee, presiden GC Medical Foundation, mengatakan, "Yayasan kami secara agresif memasuki pasar luar negeri dengan menandatangani delapan kontrak konsinyasi luar negeri pada semester pertama tahun ini saja. Kami berharap ini akan menjadi jembatan penting bagiSumber: Sedaily
Registrasi Online Home Service
Loading
Toast Message