Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Edukasi Granostic

Hai New Mom! Cari Tau Yuk Apa Itu MPASI? Berikut Penjelasannya
Hi, Moms! Sebagai orang tua baru, Anda mungkin overwhelming dengan berbagai informasi penting seputar Si Kecil. Salah satunya yang berkaitan dengan pemenuhan gizi Si Kecil lewat MPASI. Memang apa sih MPASI itu? Juga bagaimana aturan pemberiannya yang tepat?Memastikan Si Kecil mendapatkan asupan gizi dan nutrisi seimbang adalah hal yang sangat penting. Karena berkaitan dengan pertumbuhan otak dan tubuh mereka di masa mendatang.Moms juga pasti sudah berusaha sangat keras untuk memberikan yang terbaik, misalnya dengan memberikan ASI atau susu formula untuk Si Kecil. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan buah hati, tentu ASI saja tidak akan cukup.Karenanya, Moms dianjurkan untuk memberikan MPASI dengan komposisi gizi yang seimbang. Dalam artikel ini, Granostic akan menjelaskan pada Anda secara lengkap mengenai apa itu MPASI dan aturan pemberian yang tepat untuk mama muda.Penasaran, kan? Langsung baca artikelnya di bawah ini, yuk, Moms!Pengertian MPASIFirst thing first, apa itu MPASI? Yang dimaksud dengan MPASI merupakan singkatan dari makanan pendamping ASI. Makanan ini diberikan pada Si Kecil ketika memasuki usia 6 bulan.Melansir dari panduan pemberian MPASI oleh WHO, makanan ini merupakan hak setiap bayi untuk memperoleh asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan usia mereka. Sebab, saat mendapatkan makanan pendamping yang tepat dan bergizi, bayi akan bisa bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang dengan baik.Dalam rentang usia 6 hingga 23 bulan, pemberian ASI dan MPASI akan dapat mencukupi kebutuhan nutrisi, vitamin, dan mineral pada tubuh Si Kecil. Ketiga nutrisi ini sangatlah penting untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan fisik, serta fungsi kognitif Buah Hati Anda.Selain itu, tahukah Moms bahwa MPASI ini memiliki banyak manfaat untuk Si Kecil? Berikut penjelasan lengkapnya, ya!Pentingnya Pemberian MPASIMPASI memiliki peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan anak. Untuk penjelasan lengkapnya, Moms bisa simak ulasan berikut ini:1. Nutrisi TambahanSeperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketika memasuki usia 6 bulan nutrisi dalam ASI saja tidaklah cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan si Kecil.Namun dalam kondisi tertentu, misalnya saat berat badan si Kecil tidaklah naik dengan semestinya, Anda perlu mulai memberikan MPASI. Proses ini pun perlu melalui evaluasi penyebab dan kesiapan makan Si Kecil oleh dokter.Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk memberikan makanan dengan kandungan makronutrien sebagai sumber energi, protein hewani dan nabati. Juga melengkapi kebutuhan mikronutrien, yaitu mineral dan vitamin seperti kalsium, zinc, vitamin C, vitamin A, dan asam folat.2. Perkembangan MotorikTak hanya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi, memberikan MPASI juga dapat melatih motorik halus si Kecil. Kemampuan motorik halus sendiri adalah kemampuan si Kecil untuk mengontrol gerakan otot-otot halus yang berada di sekitar tangan, termasuk pada jari-jarinya.Sebab, ketika si Kecil sudah berlatih untuk makan sendiri, tangannya akan berusaha terjulur untuk meraih dan mengambil makanan dengan jemari mereka. Gerakan tersebut diketahui dapat memberikan stimulus yang sangat baik untuk melatih gerakan motorik Buah Hati.3. Adaptasi Rasa dan TeksturKetika memberikan MPASI, bagi si Kecil itu bukan hanya tentang makan dan memenuhi kebutuhan gizi mereka. Namun sebagai petualangan baru untuk mengenali rasa dan tekstur makanan. Sehingga, hal ini akan membantu si Kecil untuk menentukan selera dan pola makan mereka di masa mendatang.Moms dapat memanfaatkan masa MPASI ini dengan sebaik mungkin untuk membentuk selera dan pola makan sehat pada si Kecil. Anda bisa memperkenalkan sayur-sayuran, buah-buahan, dan makanan sehat lainnya pada si Kecil.4. Pencegahan Kekurangan GiziPada periode usia 6–23 bulan si Kecil juga sangatlah krusial, karena ketika Anda mencukupi kebutuhan nutrisi lewat MPASI, akan mencegah terjadinya malnutrisi pada bayi.Misalnya gizi buruk, kekurangan berat badan, kelebihan berat badan, juga berbagai masalah kesehatan pada si Kecil terkait dengan kecukupan asupan nutrisi lainnya.Aturan Pemberian MPASISetelah menyimak betapa pentingnya pemberian MPASI di atas, Moms pasti setuju untuk menerapkan pola makan sehat ini pada si Kecil, bukan? Namun pemberian MPASI ini juga sebaiknya harus diperhatikan dan dilakukan dengan tepat. Sehingga anak akan mendapatkan nutrisi yang cukup, tidak berlebih atau kekurangan.Berikut aturan pemberian MPASI yang bisa Moms terapkan untuk si Kecil:1. Waktu PemberianPertama, Anda harus memperhatikan waktu pemberian MPASI yang tepat, yakni mulai usia 6 bulan, ya Moms. Namun, jika si Kecil mengalami kondisi tertentu seperti penurunan atau kenaikan berat badan yang tidak wajar, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.Moms dapat mengenali tanda-tanda umum kesiapan bayi menerima MPASI dengan menyimak cirinya berikut ini:Si Kecil tampak tertarik dengan makanan yang dikonsumsi oleh orang tua.Otot leher si Kecil telah cukup kuat untuk mengangkat kepalanya hingga tegak.Si Kecil sudah bisa mengangkat kepalanya sendiri, atau tanpa bantuan dari orang dewasa.Refleks si Kecil untuk melepeh makanan sudah tidak sering terjadi.Meski begitu, menurut ESPGHAN, pemberian MPASI ini tidak disarankan untuk bayi yang berusia di bawah 4 bulan dan lebih dari usia 6 bulan. Sebab memberikan MPASI pada usia terlalu dini akan memunculkan risiko infeksi pada saluran cerna , alergi, hingga obesitas si Kecil. Sementara terlambat memberikan MPASI akan memunculkan kemungkinan anak-anak mengalami kekurangan gizi, berat badan yang kurang, hingga stunting.2. FrekuensiAturan memberikan MPASI pada bayi selanjutnya adalah dengan memperhatikan frekuensinya yang tepat, tidak berlebihan ataupun kurang. Maksudnya, Anda perlu memberikan MPASi ini secara responsif, yakni dengan konsisten sesuai dengan kebutuhan rasa lapar bayi.Meski begitu, Anda juga bisa mengatur jadwal yang teratur saat memberikan MPASI untuk si Kecil. Umumnya, Waktu makan yang ideal untuk bayi adalah tiga kali makanan Utama, yang diselingi dengan dua kali makanan ringan atau cemilan per harinya.3. Porsi dan TeksturSelain frekuensi makan, Anda juga harus memperhatikan tekstur dan porsi makan si Kecil. Pastikan untuk memberi porsi yang tepat pada si Kecil dan lakukan secara bertahap.Melansir dari berbagai sumber, Anda bisa memberikan porsi dan tekstur MPASI pada si Kecil dengan aturan berikut:Usia 6–7 bulan: berikan 2–3 sendok makan, sebanyak 2–3 kali sehari. MPASI berupa bubur kental atau makanan yang dilumatkan hingga halus.Usia bayi 8–9 bulan: atur pola makan 3 kali sehari dengan 2–3 kali makanan camilan sebagai selingan. Teksturnya bisa dengan dicincang halus atau kasar.Usia bayi 12+ bulan: Anda dapat memberikan makanan Utama sebanyak 3 kali sehari, dengan selingan 2–3 kali per hari. Tekstur MPASI pada usia 12+ bulan ini bisa dicincang dengan seperlunya.Lebih lengkap mengenai umur pemberian, berikut detail MPASI mulai umur berapa?.4. Kebersihan Bahan Makanan dan PengolahanSelanjutnya, pastikan untuk menjaga kebersihan bahan makanan, alat makan, dan proses pengolahan yang tepat. Anda bisa memisahkan talenan yang digunakan untuk memotong bahan makanan mentah dan bahan makanan matang. Selain itu, cuci tangan juga sebelum mempersiapkan MPASI maupun saat akan menyuapi si Kecil. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah adanya bakteri tumbuh di makanan si Kecil.Moms juga perlu memperhatikan bagaimana cara menyimpan makanan dengan tepat. Misalnya dengan menaruh MPASi di kulkas bagian bawah yang bersuhu kurang dari 5 derajat celcius. Serta simpan daging dan ikan di dalam plastic, kemudian letakkan secara terpisah dengan makanan yang telah matang.MPASI yang sudah Moms bekukan pun bisa disajikan kembali, namun dengan menghangatkannya terlebih dahulu menggunakan microwave atau merendam MPASI di dalam air. Selain itu, pastikan untuk tidak membekukan kembali makanan yang dihangatkan tersebut ya, Moms.5. Pengenalan BertahapPenting untuk Moms perhatikan, bahwa saat memperkenalkan makanan baru untuk si Kecil, sangat dianjurkan untuk melakukannya secara bertahap. Anda dapat memberikannya dalam porsi kecil terlebih dahulu, misalnya 1–3 sendok makan, sebanyak 2–3 kali sehari. Kemudian Anda dapat meningkatkannya secara bertahap menjadi setengah mangkuk berukuran 250 ml, berikan 3–4 kali per hari.Selain pada porsinya, Moms pun perlu memberikan tekstur makanan secara bertahap. Saat baru memasuki usia 6 bulan, berikan tekstur yang lembut seperti bubur atau puree. Kemudian saat anak sudah mulai bisa mengunyah Anda bisa meningkatkan teksturnya menjadi cacahan lembut. Untuk New Mom Lebih Baik Konsultasi dulu ke AhlinyaMeskipun terlihat sepele, menyiapkan MPASI yang tepat untuk si Kecil kadang cukup tricky. Apalagi untuk Anda para new mom, yang benar-benar baru merasakan dunia per-ibu-an. Salah satu cara untuk dapat memberikan porsi dan jenis MPASI yang tepat untuk si Kecil, Moms bisa berkonsultasi langsung dengan dokter menggunakan paket Medical Check Up (MCU) di Klinik Granostic, loh. Info lengkapnya berikut mengenai Baby Package Prosedur konsultasi gizi MPASI untuk anak ini juga melalui prosedur yang lengkap, namun tak menyulitkan Anda. Seperti yang akan dijelaskan di bawah ini, Moms!1. Penilaian Kesiapan BayiLangkah pertama, dokter akan memeriksa kesiapan bayi dalam menerima MPASI. Baik dengan memperhatikan usia si Kecil, kondisi kesehatan, hingga perkembangan dan pertumbuhan si Kecil.2. Panduan NutrisiBersama dokter di Klinik Granostic, Anda dapat mengatur jadwal, pola makan, dan komposisi MPASI yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh si Kecil. Anggaplah Anda mendapatkan resep yang dibuat khusus untuk pertumbuhan si Kecil.3. Pemantauan PertumbuhanBersama dokter Klinik Granostic, Anda juga dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan fisik si kecil secara berkala. Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan lengkap, kemudian memberikan diagnosa sesuai prosedur tersebut.Sehingga Anda dapat menyimak seberapa efektif pemberian MPASI tersebut pada pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. Serta, dapat melanjutkan diet dan program gizi yang tepat untuk menunjang pertumbuhannya di masa mendatang.4. Penanganan Masalah KesehatanMelakukan konsultasi kesehatan anak pada dokter secara berkala pun dapat membantu menangani masalah kesehatan. Sebab, dokter dapat menyimak tanda-tanda masalah kesehatan sejak dini lewat pemeriksaan kesehatan rutin. Serta dapat memberikan anjuran-anjuran yang tepat sasaran untuk mencegah serangan penyakit dan mengembalikan kesehatan si Kecil.5. Edukasi Informasi MPASIBersama dokter Klinik Granostic, Anda juga akan mendapatkan edukasi seputar informasi MPASI langsung bersama ahlinya. Apalagi kalau Anda ingin menerapkan metode pemberian MPASI tertentu, seperti Baby-Led Weaning (BLW) yang tidak boleh dilakukan sembarangan.Selain itu, sebagai orang tua, Anda juga perlu menikmati momen-momen menyiapkan MPASI untuk si Kecil ini dengan baik. Karena tak hanya untuk memberikan gizi seimbang dan memastikan pertumbuhan si Kecil optimal, MPASI juga bisa membantu meningkatkan kedekatan Mom dengan anak.Nah, bagaimana Moms? Apakah informasi mengenai MPASI di atas membantu Anda? Jika ada pertanyaan yang mengganjal, Anda dapat langsung berkonsultasi dengan dokter anak Klinik Granostic lewat layanan Home Service.Atau Anda juga bisa langsung berkonsultasi dengan berkunjung ke klinik kami di Surabaya. Dapatkan pelayanan yang cepat, efisien, dan profesional dari tenaga medis ahli Klinik Granostic.Yuk, jaga tumbuh kembang si Kecil agar optimal bersama Klinik Granostic!
Pentingnya Vaksinasi Hepatitis di Klinik Kesehatan Granostic
Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada organ hati yang terjadi karena berbagai faktor, termasuk infeksi virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Penyakit ini bersifat menular dan dapat menetap di tubuh dalam jangka waktu panjang, serta memicu komplikasi. Karenanya, penting sekali melakukan vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan terpercaya, seperti Granostic.Penularan hepatitis sendiri bisa melalui beragam cara, salah satunya lewat fecal-oral. Situasi ini terjadi ketika feses mengontaminasi makanan, minuman, atau benda-benda tertentu milik Anda. Sehingga memungkinkan perpindahan virus dari feses penderita ke mulut Anda.Bahkan, pada kasus hepatitis B dan C, ibu hamil dengan hepatitis B dapat menularkan virus tersebut kepada janin yang dikandungnya.Penyakit hepatitis dalam skala akut memang dapat sembuh sendiri tanpa pemberian obat-obatan khusus. Akan tetapi, tak sedikit juga kasus yang menunjukkan perkembangan virus hepatitis menjadi kronis. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang berbahaya, khususnya pada organ hati kita.Karenanya, klinik kesehatan Granostic menaruh perhatian besar dalam upaya pencegahan penularan virus hepatitis ini. Khususnya dengan melayani vaksinasi hepatitis, loh.Lantas, apa sih pentingnya vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan Granostic?1. Pencegahan Penyakit Sama halnya dengan jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus lainnya, langkah awal pencegahan hepatitis pun melalui vaksinasi. Ini karena vaksin diciptakan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh, sehingga menghasilkan sistem perlindungan terhadap infeksi virus hepatitis.Pemberian vaksinasi ini pun dapat diterapkan pada anak-anak, ibu hamil, orang dewasa, dan lansia. Tentu saja dokter akan menyesuaikan dosis dan jangka waktu pemberian vaksin dengan standar resmi, serta memperhatikan dengan baik bagaimana kondisi kesehatan Anda.2. Perlindungan Jangka Panjang Bagi seseorang yang melakukan vaksinasi hepatitis, hal ini dapat memberikan perlindungan jangka panjang. Sebab, ketika mendapat vaksinasi lengkap, mereka akan memiliki kekebalan tubuh yang kuat terhadap infeksi virus hepatitis A maupun B.Terlebih penularan virus ini pun dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti berbagi makanan dengan pengidap hepatitis, melakukan kontak langsung, berhubungan seksual tanpa pengaman, juga menggunakan jarum tato yang tidak steril.3. Mengurangi Penyebaran Virus Selain memberikan manfaat bagi individu, ketika sekelompok masyarakat melakukan vaksinasi hepatitis secara keseluruhan, maka hal ini dapat mengurangi penyebaran virus. Akhirnya, akan mudah untuk mengendalikan penularan hepatitis di daerah tertentu dan mencegah terjadinya endemi.4. Mencegah Komplikasi Serius Infeksi hepatitis memang awalnya tidak menunjukkan gejala yang mencolok, sehingga seringnya penderita tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi hingga masuk dalam fase kronis. Kondisi ini sangatlah berbahaya, karena virus hepatitis yang menetap dalam tubuh dapat berkembang dan memicu berbagai komplikasi yang serius. Beberapa jenis komplikasi yang dapat timbul akibat hepatitis adalah:Fibrosis hati, merupakan komplikasi hepatitis kronis paling umum terjadi. Kondisi ini terjadi karena hati mengalami peradangan secara terus menerus, sehingga membuatnya tak bisa berfungsi seperti semula.Kolestasis, yakni timbul dari komplikasi hepatitis A yang sering mengancam lansia. Meski dapat sembuh sendiri, jika tidak dipantau dan mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi ini akan menimbulkan penumpukan cairan empedu pada organ hati.Gagal hati, merupakan salah satu komplikasi dari hepatitis A. Umumnya, terjadi pada lansia yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, serta penyakit hati lainnya.Kanker hati, yang lebih berisiko pada pengidap hepatitis B dan C.Viral co-infection, kondisi dimana tubuh bisa mengalami dua infeksi virus sekaligus. Ini karena hepatitis menurunkan kemampuan sistem imun untuk melawan virus lain. Sehingga kemungkinan tubuh untuk terserang dua virus secara bersamaan cukup tinggi.5. Keamanan dan Efikasi Vaksin Pentingnya melakukan vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan Granostic selanjutnya adalah jaminan keamanan dan efikasi vaksin. Bersama dengan tenaga medis ahli dan dokter spesialis profesional, prosedur vaksinasi akan dilakukan dengan teliti dan sesuai dengan standar yang diberlakukan.Selain itu, sebelum melakukan vaksinasi, di klinik kesehatan Granostic Anda akan melalui beberapa tes kesehatan dan mendiskusikan kondisi tubuh Anda bersama dokter. Sehingga, proses vaksinasi ini akan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Anda tersebut.Tujuannya untuk memastikan efikasi vaksin tersebut optimal. Sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap infeksi virus hepatitis.6. Biaya Efektif Dengan melakukan vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan granostic, Anda pun akan mendapatkan biaya yang efektif. Karena kami menyediakan layanan vaksinasi hepatitis lengkap, yakni vaksin hepatitis A dan B.Selain itu, dengan sekali bayar Anda pun bisa langsung berkonsultasi bersama dokter ahli kami untuk mendiskusikan kemungkinan adanya efek samping, perawatan yang mungkin dilakukan, dan banyak lainnya.7. Melindungi Generasi Mendatang Telah kita singgung sebelumnya, bahwa hepatitis pun dapat ditularkan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Melansir dari laman CNN News, kasus hepatitis di Indonesia pada tahun 2022 cukup memprihatinkan, dengan 35.757 bayi terinfeksi hepatitis B dari ibunya yang juga positif.Lebih lanjut, dikatakan pula bahwa jumlah kasus hepatitis B di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2013, kasus hepatitis B tersebut sebesar 18 juta, sementara pada tahun 2019 menjadi 22 juta kasus.Sobat Granostic, inilah mengapa sangat penting untuk melakukan vaksinasi hepatitis. Tak hanya menjaga diri Anda di masa sekaran, namun juga akan melindungi anak-anak kita di masa mendatang dengan memutus rantai infeksi itu sendiri.Sebab, hepatitis tak hanya sekadar jadi penyakit musiman, melainkan menimbulkan dampak yang fatal pada organ hati kita. Kerusakan hati ini bisa menyebabkan berbagai masalah pada kesehatan, karena memang fungsi organ ini sangatlah penting untuk metabolisme tubuh kita.Nah, apakah setelah membaca ketujuh alasan pentingnya melakukan vaksinasi hepatitis di atas, Anda tertarik untuk mendapatkannya?Tenang, klinik kesehatan Granostic dapat membantu menyediakan kebutuhan Anda soal vaksinasi hepatitis lengkap, berkualitas, dan aman. Sebelum menjadwalkan vaksinasi, Anda pun bisa berkonsultasi dengan dokter kami terlebih dahulu untuk melihat bagaimana riwayat kesehatan dan kondisi tubuh saat ini. Sehingga akan didapatkan jadwal atau perencanaan vaksinasi yang efisien dan efektif.Tak hanya itu, klinik kesehatan Granostic pun memiliki layanan Home Service, yang memudahkan Anda untuk terhubung dengan dokter kami. Sehingga ketika memiliki pertanyaan seputar efek samping, cara perawatan, dan konsultasi gejala hepatitis, Anda dapat langsung bertanya dan berkonsultasi secara online.Selain itu, di klinik kesehatan Granostic Anda pun dapat melakukan prosedur tes kesehatan yang lengkap dan didampingi oleh tenaga medis ahli, serta menggunakan teknologi termutakhir. Sehingga dapat melakukan pendeteksian dini terhadap virus hepatitis, yang hampir tidak menunjukkan gejala di awal. Menarik bukan? Yuk, segera atur jadwal kunjungan Anda ke klinik Granostic dan rencanakan vaksinasi hepatitis yang Anda mau.
Berikut Makanan Baik Untuk Penderita Hepatitis
Hati manusia memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem metabolisme tubuh. Sehingga ketika terinfeksi hepatitis, organ hati akan mengalami peradangan dan dapat berdampak pada fungsinya. Untuk itu, bagi penderita hepatitis memilih menu makanan yang tepat adalah hal yang sangat penting. Mari simak rekomendasinya, yuk!Sebelumnya, hepatitis sendiri merupakan jenis penyakit peradangan pada organ hati. Penyebabnya cukup beragam mulai dari infeksi virus, minum alkohol secara berlebihan, paparan zat berbahaya dan overdosis obat-obatan tertentu, dan lainnya.Ketika terjadi peradangan, hati tidak dapat bekerja dengan optimal. Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan penderita hepatitis lebih rentan terserang diabetes.Karenanya, pemilihan menu makanan untuk penderita hepatitis yang tepat pentung untuk mengurangi kerusakan yang disebabkannya pada hati maupun Kesehatan tubuh secara umum. Apalagi hepatitis juga dapat terjadi karena gaya hidup yang kurang sehat dan bersih.Lantas apa saja jenis makanan yang baik untuk penderita hepatitis tersebut? Mari simak keenam jenisnya di bawah ini, ya, Sobat!1. Buah-buahan dan Sayuran Buah dan sayuran hijau dapat menjadi rekomendasi makanan yang baik untuk penderita hepatitis. Sayuran hijau kaya akan nutrisi dan tinggi antioksidan.Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi sayuran hijau dapat membantu mengurangi peradangan pada hati, serta meningkatkan fungsi hati pada penderita hepatitis.Bahkan, menurut studi oleh Hodge dkk (2016) menjelaskan bahwa menu makan tinggi sayuran hijau dikaitkan dengan penurunan risiko perkembangan fibrosis hati pada penderita hepatitis A dan B.Sementar itu, buah-buahan kaya akan kandungan mineral, vitamin, dan serat yang sangat mendukung Kesehatan hati. Tak hanya itu, kandungan antioksidan dari buah-buahan juga mampu melindungi sel-sel hati dari kerusakan akibat stress oksidatif.Selain itu, mengonsumsi makanan yang kaya serat juga akan membantu membuat Anda tidak gampang merasa lapar, karena efeknya yang mengenyangkan.2. Sumber ProteinSelain buah-buahan dan sayuran, menu makanan untuk penderita hepatitis selanjutnya adalah yang mengandung protein sehat. Misalnya sumber protein nabati yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian.Melansir dari hasil riset yang dipublikasikan oleh World Journal of Hepatology (2015), menyatakan bahwa diet dengan konsumsi tinggi protein nabati akan membantu mengurangi tingkat enzim hati pada penderita hepatitis B.Tak hanya itu, protein juga akan membantu membangun dan mempertahankan masa otot. Hal ini juga dapat membantu dalam proses perbaikan jaringan tubuh Anda.Memastikan asupan protein tentunya sangat penting untuk mendukung perbaikan jaringan tubuh.Rekomendasi jenis sumber protein yang baik dikonsumsi oleh penderita hepatitis antara lain dada ayam, kacang, telur, produk susu, kacang kedelai, dan makanan laut.Meski begitu, Anda juga harus memperhatikan takaran mengonsumsi protein. Karena kelebihan konsumsi protein pun dapat berdampak buruk bagi penderita hepatitis.Berbagai ahli Kesehatan menyarankan bagi para penderita hepatitis untuk membatasi konumsi sumber protein menjadi 1–1.5 gram per kilogram berat badan mereka.3. Karbohidrat KompleksJenis makanan yang baik untuk penderita hepatitis selanjutnya adalah golongan karbohidrat kompleks. Anda dapat menemukannya dari nasi merah, gandum utuh, jagung, dan beras cokelat.Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna, sehingga energi yang dihasilkan makanan tersebut pun akan bertahan lebih lama.Selain itu, sumber makanan berkarbohidrat kompleks pun memiliki kandungan zinc dan vitamin B6. Keduanya sangat baik untuk menjaga kesehatan organ hati.4. Lemak SehatSelanjutnya adalah lemak sehat, yang dapat Anda peroleh dari berbagai sumber pangan seperti ikan, kacang-kacangan, minyak zaitun, biji-bijian, hingga ikan.Lemak sehat dapat membantu menyimpan energi, melindungi jaringan tubuh, serta mengangkut vitamin melalui darah. Karenanya, makanan ini menjadi menu yang direkomendasikan dan baik untuk penderita hepatitis.Contohnya, ikan salmon yang mengandung asam lemak omega 3 sangat baik untuk mengurangi peradangan dan penumpukan lemak pada hati. Sementara alpukat mampu membantu memperbaiki kerja organ hati secara keseluruhan.5. Suplemen dan Rempah-rempahSelain menu-menu makanan berat di atas, pasien hepatitis juga boleh mengonsumsi suplemen dan rempah-rempah. Keduanya dapat membantu meringankan gejala, memperkuat fungsi tubuh dan hati, dan memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh secara umum.Salah satu contoh rempah yang baik untuk penderita hepatitis adalah kunyit. Ya, rempah yang sering diolah sebagai jamu ini dapat membantu menjaga Kesehatan organ hati, loh.Kunyit mengandung senyawa kurkumin, yang dapat menghambat masuknya berbagai genotipe virus hepatitis C. Selain itu, senyawa kurkumin pun dapat merusak virus hepatitis C dan dapat menggagalkan proses infeksi ke liver.Selain pada hepatitis C, senyawa dalam kunyit ini pun diketahui dapat menghambat aktivitas virus hepatitis B dan mencegahnya untuk berlipat ganda pada tubuh.Rempah nusantara selanjutnya yang juga bermanfaat untuk penderita hepatitis adalah akar manis. Bahan alami ini banyak digunakan untuk pengobatan tradisional bagi penyakit tukak lambung, hingga hepatitis C.6. Air PutihSelanjutnya, pengidap hepatitis pun harus mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan minum air putih yang cukup. Ketika tubuh terhidrasi dengan baik, Anda pun tak akan mudah merasa lemah dan jadi lebih segar.Nah, selain keenam makanan di atas, ada beberapa jenis makanan juga yang harus dihindari oleh penderita hepatitis, seperti:Junk food: umumnya tinggi kandungan garam, gula, lemak jenuh, kalori kosong, dan berbagai zat aditif lainnya. Tubuh penderita hepatitis tidak akan mendapatkan nutrisi yang baik dari makanan ini.Minuman atau makanan beralkohol: konsumsi alkohol berlebihan bisa memicu peradangan pada hati. Selain itu, minum alkohol bagi penderita hepatitis pun dapat memperlancar kerusakan pada organ hati penderita.Terlalu banyak zat besi: bagi penderita hepatitis C makanan ini bisa memicu perkembangan virus, karena zat besi dapat memproduksi radikal bebas.Makanan berkandungan gula tinggi: saat mengidap hepatitis, Anda pun perlu memperhatikan kandungan gula dalam makanan yang Anda konsumsi. Sebab, gula darah tinggi bisa memperparah kerusakan hati akibat hepatitis.Baca Juga: Apa Saja Penanganan Tepat Untuk Hepatitis Akut?Selain beberapa contoh pantangan makanan di atas, penderita hepatitis pun harus menghindari berbagai faktor risiko yang menyebabkan ia terpapar virus. Seperti memakan makanan sembarangan, tidak cuci tangan, dan sebagainya.Itulah berbagai jenis makanan sehat untuk penderita hepatitis, mulai dari buah, sayur, protein, karbohidrat kompleks, hingga rempah-rempah sehat. Sebenarnya hepatitis sendiri dapat dicegah penularannya dengan menerapkan gaya hidup sehat, serta rutin melakukan cek kesehatan di klinik kesehatan terpercaya, seperti Granostic.Lengkap dengan teknologi termutakhir, tenaga medis ahli dan dokter spesialis yang menemani Anda sepanjang tes kesehatan, akan didapatkan hasil yang akurat. Sehingga dapat mendeteksi sedini mungkin infeksi hepatitis pada tubuh Anda.Lebih baiknya lagi, Anda bisa menggunakan layanan Home Service untuk berdiskusi dengan dokter spesialis kami dimanapun dan kapanpun Anda menginginkannya.Yuk, cegah penularan hepatitis dengan rutin cek kesehatan di klinik Granostic!
Apa Saja Penanganan Tepat Untuk Hepatitis Akut?
Berdasarkan tingkat keparahannya, hepatitis terbagi menjadi dua jenis yakni akut dan kronis. Keduanya memiliki karakteristik, dampak, serta cara penanganan yang berbeda. Lantas tahukah Anda, apa saja penanganan yang tepat untuk hepatitis akut tersebut?Sebelumnya, hepatitis akut merupakan kondisi di mana terjadi peradangan pada organ hati, akibat infeksi virus dan berbagai faktor lainnya. Akan tetapi, hepatitis akut berbeda dengan hepatitis kronis, khususnya dari durasi perkembangannya.Hepatitis kronis dapat berkembang dalam jangka waktu yang lebih lama, sedangkan hepatitis akut terjadi secara tiba-tiba. Namun, hepatitis akut juga dapat berlangsung dalam jangka waktu singkat. Karenanya, dari segi dampak untuk Kesehatan dan penanganannya pun berbeda dari hepatitis kronis, yang lebih serius.Nah, untuk penanganan hepatitis akut ini kita juga bisa membedakannya sesuai dengan tipe virus penginfeksinya. Sebab, salah satu sifat hepatitis adalah tidak adanya perubahan dari tipe virus menjadi virus yang lain. Misalnya, Anda terinfeksi hepatitis B, virus ini tidak akan ‘berkembang menjadi’ virus hepatitis C. Perkembangan yang dimaksud adalah dari stage akut ke kronis.Berikut penjelasan lebih lengkapnya, Sobat!Hepatitis A Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, jenis penyakit hepatitis ini sangat jarang mengalami pengembangan dari akut ke kronis. Namun tetap ada kemungkinan terjadinya komplikasi dan memerlukan penanganan yang tepat sejak awal terinfeksi.Nah, berikut ini adalah beberapa tindakan perawatan hepatitis A akut yang umumnya diterapkan pada upaya pengobatannya:1. Istirahat Berbagai ahli Kesehatan menyebutkan bahwa istirahat yang cukup adalah Langkah yang paling ideal untuk penderita hepatitis akut. Sebab secara umum, hepatitis A akut dapat sembuh dengan sendirinya, namun pasien juga harus menjaga kondisi tubuh agar stabil dengan beristirahat yang cukup.2. Hidrasi Selanjutnya, penanganan hepatitis A akut adalah memastikan kebutuhan cairan dalam tubuh terpenuhi. Ketika kita dapat menghidrasi tubuh secara cukup, maka akan mengoptimalkan kinerja organ-organ dalam tubuh, termasuk hati. Sebaliknya, kekurangan cairan dapat mengganggu fungsi organ-organ dalam tubuh, serta memperburuk kondisi peradangan hati karena hepatitis.3. Nutrisi Seimbang Menerapkan pola makan teratur dan menu yang sehat dengan nutrisi tinggi, juga sangat penting dalam upaya perawatan hepatitis A akut. Makanan dengan gizi seimbang akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan stamina, serta membantu meningkatkan fungsi organ hati.Beberapa menu sehat yang bisa Anda konsumsi selama perawatan hepatitis A akut adalah sayuran hijau, buah-buahan segar dengan antioksidan tinggi, protein nabati, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks.4. Pengelolaan Gejala Hepatitis A pun dapat menunjukkan beberapa gejala yang bisa membuat penderitanya tak nyaman dan merasa sakit atau nyeri. Beberapa gejala hepatitis A akut antara lain:Merasa lelah berlebihan, dapat disertai dengan nyeri sendi dan otot.Suhu tubuh naik.Nafsu makan berkurang.Merasakan rasa sakit atau nyeri di bagian kanan atas perut.Perubahan warna pada urin atau feses menjadi lebih gelap.Adanya gatal-gatal atau ruam pada kulit.Meskipun tidak ada pengobatan khusus yang diberikan untuk penanganan hepatitis A akut, dokter umumnya akan memberikan resep untuk menangani gejala yang timbul. Namun, Anda pun bisa mengelola gejala ini dengan banyak istirahat atau bahkan bed rest.Konsultasikan tiap keresahan Anda dengan dokter, kemudian ikuti saran dan resep yang diberikan dengan cermat untuk hasil pengobatan yang optimal.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B, yang berbeda dengan tipe A, jenis ini berkemungkinan besar untuk berkembang ke tahap kronis. Hepatitis B pun termasuk yang paling banyak terjadi di Indonesia, khususnya menyerang bayi yang baru lahir dan tertular dari ibu pengidap hepatitis B.Adapun langkah-langkah penanganan hepatitis B akut antara lain:1. Istirahat Istirahat yang cukup sangat penting untuk penderita hepatitis B akut. Pada kondisi dan gejala yang ringan, penderita hepatitis B akut dapat beristirahat di rumah. Akan tetapi, jika tampak gejala yang serius, dokter akan merekomendasikan perawatan di rumah sakit.2. Hidrasi dan Nutrisi Memastikan tubuh mendapatkan hidrasi yang cukup dan asupan nutrisi yang seimbang juga sangatlah penting bagi pengidap hepatitis B. Hidrasi yang cukup akan membantu memaksimalkan metabolisme tubuh, mendorong fungsi organ-organ dalam tubuh, juga memberikan stamina pada pasien. Sementara itu, nutrisi dari menu makanan yang sehat juga akan memberikan banyak manfaat baik bagi penderita hepatitis B akut. Anda bisa memilih menu dengan kandungan karbohidrat kompleks yang berserat tinggi, buah-buahan segar, sayuran hijau, protein, dan rempah-rempah tradisional yang baik untuk organ hati.3. Pengelolaan Gejala Gejala yang muncul pada penyakit hepatitis sebenarnya cukup mirip antara satu tipe dengan yang lainnya. Adapun gejala-gejala hepatitis B akut yang dimaksud antara lain:Suhu tubuh meningkat, badan demamTubuh terasa pegal-pegal dan lemasMerasa mual dan muntahAda juga yang mengalami mata kuning dan kencing berwarna cokelat.Namun, gejala-gejala ini dapat muncul dan hilang dengan sendirinya setelah 2–3 minggu. Sehingga pengobatan khusus tidak begitu diberikan pada pasien hepatitis akut.Sebaliknya, jika gejala yang muncul cenderung lebih parah, dokter akan meresepkan obat antivirus.4. Pemantauan Medis Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa hepatitis B akut sangat rentan mengalami pengembangan menjadi kronis. Karenanya, pemantauan medis sangat diperlukan untuk mencegah kemungkinan tersebut terjadi.Pemantauan ini dapat dilakukan dengan melihat gejala-gejala dan tanda-tanda vital pada pasien hepatitis B akut. Seperti tekanan darah, berat badan, laju nafas, suhu tubuh, hingga denyut nadi.Hepatitis C Hepatitis C juga termasuk jenis hepatitis dengan kasus yang tinggi di Indonesia. Penularan hepatitis C ini hampir sama dengan tipe B, yakni lewat tranfusi darah, berbagi penggunaan barang-barang pribadi dengan pasien hepatitis C, hingga leawat hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman.Hepatitis C pun sangat mungkin mengalami perkembangan hingga ke tahap kronis. Karenanya, perlu penerapan langkah penanganan dan pengobatan yang tepat. Adapun beberapa langkah penanganan hepatitis C yang tepat antara lain:1. Istirahat dan Hidrasi Pasien hepatitis C akut sangat memerlukan istirahat yang cukup. Bila gejala yang muncul dapat dikategorikan ringan, maka istirahat dapat dilakukan di rumah. Akan tetapi, jika gejalanya serius dokter akan menyarankan untuk dirawat di rumah sakit.Selain itu, pasien juga harus mendapatkan hidrasi yang cukup dengan minum air putih paling tidak 2 liter per hari. Dengan hidrasi yang cukup, metabolisme tubuh akan berjalan lebih optimal dan organ-organ tubuh juga akan berfungsi dengan baik.2. Nutrisi Seimbang Selanjutnya, memenuhi asupan nutrisi seimbang juga sangat penting dalam penanganan dan pengobatan hepatitis C akut. Nutrisi seimbang ini dapat Anda peroleh dari berbagai sumber pangan yang kaya akan protein, lemak sehat, vitamin dan antioksidan, hingga karbohidrat kompleks yang tinggi serat.Pemenuhan nutrisi ini dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, memaksimalkan metabolisme tubuh, serta meningkatkan fungsi hati. 3. Pemantauan Medis di Granostic Pemantauan medis juga termasuk dalam rangkaian penanganan hepatitis C akut yang tepat. Langkah ini untuk memastikan bahwa virus tidak mengalami pengembangan menuju tahap kronis, yang memungkinkan timbulnya komplikasi.Pemantauan dilakukan dengan menyimak perkembangan gejala dan kondisi tubuh pasien, juga memastikan stabilitas pasien lewat tanda-tanda vitalnya.Baca Juga: Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?Saat menjalani perawatan di klinik kesehatan Granostic, pemantauan medis ini tak hanya bisa dilakukan secara tatap muka atau melalui klinik kami, loh. Melainkan, Anda pun dapat melakukan pemantauan medis jarak jauh lewat layanan Home Service. Bersama dokter spesialis kami, Anda akan diarahkan untuk melakukan serangkaian pengamatan mandiri, seperti mengukur berat badan, suhu tubuh, juga menyimak gejala-gejala terkini dari hepatitis C.Pemantauan dan konsultasi tersebut dapat Anda lakukan secara online bersama dokter kami. Sehingga Anda tak perlu repot ke klinik, ditambah hasilnya akan lebih akurat karena pemeriksaan tanda-tanda tersebut cenderung lebih konsisten dari ad-hoc.Ada pertanyaan terkait cara penanganan hepatitis dan gejala-gejalanya? Yuk, hubungi tim medis klinik kesehatan Granostic lewat klik tombol WhatsApp di bawah ini!
Yuk Cari Tau! Bagaimana Penularan Hepatitis?
Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati yang terjadi akibat berbagai faktor, salah satunya adalah infeksi virus. Karenanya hepatitis ini bersifat menular dan tak menimbulkan gejala yang mencolok pada awalnya. Lantas, bagaimana penularan hepatitis tersebut?Hepatitis jika masih dalam tingkat akut, dapat sembuh dengan sendirinya dan tak memerlukan pengobatan khusus. Akan tetapi, kondisi ini dapat berkembang apabila hepatitis tak ditangani dengan tepat.Virus akan menetap dalam tubuh, kemudian menimbulkan komplikasi penyakit hati yang lebih parah, termasuk kanker hati.Jenis virus yang menulari hepatitis ini tak hanya satu atau dua saja, melainkan ada enam seperti virus hepatitis A (HAV), B (HBV), C (HCV), D (HDV), dan E (HEV). Kelimanya dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda serta gejala yang beragam. Pun pada cara penularannya pun berbeda.Nah, pada artikel kali ini Sobat Granostic dapat menyimak bagaimana penularan hepatitis dan faktor risiko seseorang terkena penyakit radang satu ini. Baca baik-baik, ya, Sobat! Hepatitis A Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A (HAV), penyakit hepatitis A sendiri tergolong jenis hepatitis yang ringan, yang dapat sembuh dalam kurun waktu tertentu. Akan tetapi dokter akan tetap memberikan resep (bila diperlukan) untuk mengatasi gejala yang ada, serta antivirus untuk menekan perkembangan HAV.Namun dalam kasus yang jarang terjadi, hepatitis A ini dapat berkembang dan berubah menjadi lebih parah. Karenanya, Anda tetap tidak boleh menyepelekan infeksi HAV, serta tetap melakukan prosedur medis dan anjuran dokter sebagai perawatan jika terinfeksi.Penularan hepatitis A dapat terjadi lewat fecal-oral. Dimana virus yang terdapat pada feses penderita hepatitis A, dapat mengontaminasi makanan/minuman atau benda-benda tertentu milik seseorang yang memungkinkan transmisi virus ke dalam mulut.Karenanya dalam upaya pencegahan hepatitis A ini, Anda dapat menerapkan beberapa langkah berikut:Melakukan vaksinasi hepatitis A.Menjaga kebersihan diri dengan rajin cuci tangan.Memastikan kebersihan makanan atau minuman.Tidak berbagi barang pribadi seperti sikat gigi dan sendok, dengan pengidap hepatitis A.Faktor Risiko Individu yang belum mendapatkan vaksinasi hepatitis A memiliki risiko tinggi untuk terpapar virus. Sebagian besarnya terjadi pada anak-anak dan beberapa orang dengan faktor risiko di bawah ini:Berkunjung atau pergi ke wilayah dengan kasus hepatitis A yang tinggi.Tinggal dengan seorang pengidap hepatitis A.Melakukan hubungan seksual yang tidak konvensional.Punya masalah kelainan faktor pembekuan darah.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B, yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis tipe B (HBV). Jenis hepatitis ini memiliki tingkat prevalensi tinggi, serta risiko komplikasinya yang beragam.Infeksi hepatitis B bisa menyebabkan hepatitis B akut dan kronis. Dalam banyak kasus, hepatitis B dapat bertahan lama dalam tubuh kemudian menjadi kronis. Kondisi ini memicu berbagai komplikasi penyakit organ hati lain seperti kanker hati dan sirosis hati.Cara penyebaran virus hepatitis B ini pun melalui cairan tubuh yang terkontaminasi oleh virus HBV. Cairan tubuh yang dimaksud dapat berupa air liur (saliva), cairan serebrospinal, cairan pleura, air ketuban, air mani, cairan vagina, darah, dan sejenisnya.Adapun cara-cara penularan virus hepatitis B ini adalah sebagai berikut:Lewat berbagi jarum suntik atau alat medis lainnya dengan pengidap hepatitis B.Bertukar makanan dan alat makan dengan pengidap hepatitis B.Kontak seksual tanpa menggunakan kondom (pengaman).Dari ibu hamil pengidap hepatitis B kepada janin yang dikandungnya.Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk mendapatkan vaksin hepatitis B sedini mungkin untuk menghindari terjadinya infeksi. Pada ibu hamil, akan diberikan pengobatan khusus yang dapat menekan perkembangan virus agar tidak berdampak pada janin.Faktor Risiko Seseorang yang belum mendapatkan vaksinasi hepatitis B akan sangat berisiko terkena infeksi virus ini. Namun, sebagian besar orang dengan beberapa faktor risiko di bawah ini pun rentan terkena virus HBV, seperti:Penggunaan jarum suntik.Memiliki aktivitas seksual yang tinggi dan sering bergonta ganti pasangan.Kontak dengan kerabat atau keluarga yang memiliki Riwayat hepatitis B.Melakukan transfusi darah atau membuat tato dengan alat yang tidak steril.Hepatitis C Menjadi salah satu tipe hepatitis yang paling berbahaya, hepatitis C juga bersifat menular. Penyakit ini awalnya tidak menimbulkan gejala apapun pada pengidap, bahkan sampai bertahun-tahun. Hingga akhirnya, hepatitis sudah masuk ke level kronis.Melansir data dari WHO 700 orang penderita penyakit ginjal dipicu oleh hepatitis C. Karenanya bila tidak ditangani sedini mungkin, kondisi ini akan menyebabkan kerusakan hati yang fatal.Beberapa cara penularan hepatitis C yang harus Anda tahu antara lain:Penggunaan jarum suntik yang tak steril, misalnya saat Anda mentato Sebagian anggota tubuh dan jarumnya tidak disteril terlebih dahulu.Melakukan hubungan seksual yang tak aman atau tak menggunakan kondom.Penularan melalui perinatal, yakni saat masa kehamilan ibu pada janin.Menggunakan alat mandi bersama seperti sikat gigi, alat gunting kuku, dan sebagainya yang memungkinkan terjadinya kontak dengan cairan tubuh penderita hepatitis B.Faktor Risiko Sebenarnya siapapun bisa terkena virus hepatitis apapun, termasuk hepatitis C. Namun terdapat beberapa faktor risiko seseorang berkemungkinan tinggi terpapar hepatitis C, yakni:Aktif secara seksual dan sering berganti pasangan.Menggunakan obat-obatan terlarang, utamanya secara berkelompok, sehingga memungkinkan adanya penggunaan jarum suntik yang sama.Transfusi darah dari pengidap hepatitis C.Memiliki pekerjaan yang mengharuskan kontak langsung dengan pengidap hepatitis C.Baca Juga: Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan mengenai bagaimana cara penularan virus hepatitis A, B, dan C yang perlu Anda tahu. Ingat, secanggih apapun pengobatan pada zaman sekarang, menjaga diri dengan mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan adalah langkah yang paling utama untuk Anda lakukan.Selain itu, infeksi hepatitis ini pun dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup yang sehat. Seperti dengan rajin menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menerapkan seks yang aman, dan menghindari faktor risiko lainnya.Anda pun perlu melakukan pengecekan kesehatan rutin untuk mendeteksi keberadaan hepatitis sejak dini. Dengan begitu, dampak buruk hepatitis pada tubuh pun dapat diminimalisir dengan maksimal serta tak akan berkepanjangan.Perlu diingat, lakukan tes kesehatan ini hanya di klinik atau rumah sakit terpercaya, seperti Granostic. Tak hanya memiliki teknologi cek kesehatan yang canggih, tim medis ahli kami pun dapat mendampingi Anda dan memberikan diagnosa akurat.Anda dapat melakukan tes kesehatan ini langsung di klinik Granostic atau buat janji temu dulu dengan dokter spesialis lewat layanan Home Service kami.Yuk, lindungi diri dan keluarga Anda dari infeksi virus hepatitis bersama klinik Granostic.
Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?
Prevalensi hepatitis di Indonesia masih cukup tinggi. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini memang dapat menular dengan mudah dan tidak menimbulkan gejala signifikan di awal infeksinya. Meski begitu, ada berbagai tips pencegahan hepatitis yang dapat dilakukan masyarakat sejak dini. Apa saja?Hepatitis sendiri merupakan kondisi peradangan hati, yang disebabkan oleh berbagai factor, termasuk infeksi virus. Beberapa jenis virus yang diketahui dapat menyebabkan penyakit peradangan hati tersebut adalah hepatitis A, B, C, D, dan E.Hepatitis sendiri umumnya terbagi menjadi dua jenis, yakni hepatitis akut dan kronis. Keduanya harus ditangani dengan tepat dan melalui diagnose medis. Sebab, jika Anda mengabaikannya, kondisi ini dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi Kesehatan lainnya.Nah, selain melakukan pengobatan yang tepat, cara yang paling ideal untuk mengatasi hepatitis adalah dengan tidak terkena sama sekali. Karenanya, Granostic membagikan tips pencegahan hepatitis yang efektif berikut ini.Hepatitis A Hepatitis A adalah tipe hepatitis yang terjadi karena infeksi HAV, atau virus hepatitis A. Umumnya tipe hepatitis ini memiliki gejala yang lebih ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya.Dokter pun cenderung memberikan pengobatan yang fokus pada gejala dan antivirus, untuk mencegah perkembangan virus dan menghindari kerusakan organ hati. Akan tetapi, bukan berarti hepatitis A dapat diabaikan begitu saja. Karena pada kasus yang jarang terjadi, terdapat kemungkinan hepatitis A berkembang dan bersifat kronis pada penderitanya.Berikut ini adalah tips mencegah infeksi hepatitis A yang dapat Anda terapkan:Vaksinasi Langkah pencegahan pertama adalah dengan melakukan vaksin hepatitis A. Vaksin ini sangat direkomendasikan pada orang yang memiliki risiko tinggi terpapar virus hepatitis A, seperti:Petugas kebersihanSeseorang yang telah aktif berhubungan seksualSerta penderita penyakit liver kronisMeski tidak termasuk imunisasi wajib di Indonesia, vaksinasi hepatitis A dapat diberikan pada anak usia 2 sampai 18 tahun, sebanyak dua kali dengan jeda 6 sampai 12 bulan.Kebersihan Tangan Selain vaksinasi, penularan hepatitis A pun dapat dicegah dengan menerapkan kebiasaan yang sehat, termasuk rajin mencuci tangan khususnya sebelum memakan sesuatu. Sebab, penularan hepatitis A pun dapat melalui jalur fecal-oral, dimana feses dapat mengontaminasi makanan dan terbawa masuk ke dalam mulut.Makanan dan Minuman Penularan hepatitis A pun dapat melalui makanan dan minuman, yang sebelumnya telah terkontaminasi oleh virus hepatitis A. Baik kontaminasi oleh saliva penderita, maupun feses atau kotoran dari lingkungan yang tidak sehat tersebut.Karenanya, ketika mengolah makanan pastikan untuk memasaknya menggunakan air yang bersih. Juga cuci dulu dengan air mengalir dan sabun.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B atau HBV. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari dua juta orang di dunia terinfeksi hepatitis B. Pada kasus yang umum, hepatitis B dapat menetap dalam tubuh dan menjadi kronis. Kondisi ini dapat berkembang dan memicu komplikasi, seperti kanker hati. Selain itu, ibu hamil dengan hepatitis B pun berkemungkinan untuk menularkan pada janin yang dikandungnya.Karena itu, simak upaya pencegahan hepatitis B yang bisa diterapkan berikut ini:Vaksinasi Langkah paling awal dan utama dalam pencegahan penularan hepatitis B adalah melalui vaksinasi hepatitis B. Langkah ini akan membantu menciptakan sistem kekebalan tubuh untuk menciptakan antibodi khusus untuk melawan virus tersebut. Vaksinasi hepatitis B ini dapat Anda lakukan sejak anak-anak di bawah lima tahun, hingga mereka menginjak dewasa.Kontak Seksual Selain itu, hepatitis B pun dapat ditularkan lewat kontak seksual yang tak menggunakan pengaman. Penularan ini terjadi akibat pertukaran cairan tubuh melalui hubungan seksual tersebut.Karenanya, Anda bisa membentengi diri dengan menggunakan kondom. Selain itu pastikan bahwa diri Anda dan pasangan juga terbebas dari hepatitis B.Jarum dan Alat Tajam Cara mencegah infeksi hepatitis B selanjutnya adalah dengan menghindari berbagi jarum dan alat tajam dengan pengidap. Karena kedua benda ini pun bisa menjadi media yang menyalurkan virus hepatitis dari darah pengidap ke tubuh Anda.Perawatan Jika Hamil Telah kita singgung sebelumnya, bahwa hepatitis B pun dapat menginfeksi ibu hamil dan ditularkan pada janin. Untuk mengatasinya, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis akurat. Kemudian, ibu hamil akan diberikan vaksin untuk mencegah perkembangan virus. Vaksin ini aman untuk ibu dan bayi yang dikandungnya.Namun dalam kasus yang parah, dokter biasanya akan memberikan obat antivirus untuk mencegah perkembangan virus hepatitis B pada janin.Hepatitis C Timbul akibat infeksi virus hepatitis tipe C, jenis hepatitis ini pun dapat dicegah penularannya. Jenis hepatitis ini umumnya tidak memiliki gejala yang signifikan pada awal infeksinya, bahkan hingga bertahun-tahun.Kalaupun pasien mengalami gejala, sifatnya cenderung sangat umum sehingga sulit untuk diketahui sebagai hepatitis dari gejala saja.Hepatitis C membutuhkan penanganan dengan segera, karena Ketika berada di tubuh dalam jangka Panjang sangat berisiko menyebabkan kerusakan hati. Sebab itu, menerapkan upaya pencegahan hepatitis C di Bawah ini sangatlah perlu:Jarum dan Alat Medis Pertama, selain melakukan vaksin, hindari menggunakan jarum dan alat medis yang sama dengan pengidap hepatitis C. Selain itu, Anda juga harus menghindari berbagi alat pribadi lainnya bersama pengidap, seperti sikat gigi atau gunting kuku. Alat-alat ini berpotensi membawa virus dari cairan tubuh pengidap pada tubuh Anda.Kontak Seksual Selanjutnya Anda pun bisa melakukan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom. Selain itu, selalu pastikan bahwa pasangan dan Anda untuk melakukan cek kesehatan rutin. Tak hanya untuk hepatitis, namun untuk mencegah penyakit menular seksual lainnya.Perawatan Kesehatan Jika masih berada dalam tingkat akut, hepatitis C dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu tertentu. Meski begitu, Anda tetap harus pergi berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan pada gejala, serta saran merawat diri saat terkena hepatitis C.Sementara itu, juga sudah dalam level kronis dokter akan meresepkan obat antivirus untuk menekan perkembangan virus. Langkah ini juga penting untuk mencegah komplikasi penyakit hepatitis C.Umum untuk Semua Jenis Hepatitis Selain berbagai tips pencegahan hepatitis A, B, dan C di atas, secara umum Anda pun dapat menghindari penularan hepatitis dengan beberapa langkah berikut ini:Edukasi dan Kesadaran Pertama adalah memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak hepatitis, bagaimana penularannya, serta pencegahannya. Langkah ini sangat penting, mengingat hepatitis bisa menular dengan mudah di lingkungan yang sanitasinya buruk.Untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat dan bersih, Anda perlu melibatkan berbagai pihak. Karena air sungai yang tercemar dan masuk ke dalam rumah sebagai air cuci pakaian ataupun mandi, bisa membawa berbagai bakteri atau virus.Tes dan Skrining di Granostic Selanjutnya, Anda pun perlu melakukan tes kesehatan secara rutin di klinik terpercaya, seperti Granostic. Menyediakan layanan tes kesehatan lengkap, didampingi tim medis yang ahli dan dokter spesialis, hasil tes ini akan akurat.Secara umum hepatitis tak menimbulkan gejala yang mencolok di awal infeksinya. Bahkan, pada kasus hepatitis C kondisi ini dapat terjadi menahun dan saat sudah parah baru timbul gejala.Ketika Anda melakukan tes kesehatan secara rutin, maka pendeteksian hepatitis ini dapat dilakukan sedini mungkin. Upaya penanganan dan pengobatan akan dilakukan dengan segera, sehingga dampaknya pada organ hati dan kesehatan tubuh akan dapat diminimalisir semaksimal mungkin.Kebersihan Pribadi Selain lingkungan tempat tinggal, memastikan dan menjaga kebersihan pribadi adalah hal yang sangat penting dalam pencegahan hepatitis. Anda harus rajin mencuci tangan ketika akan makan, selalu memperhatikan kebersihan menu makanan, dan sebagainya.Baca Juga: Yuk Cari Tau! Bagaimana Penularan Hepatitis?Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan mengenai tips pencegahan hepatitis yang dapat Anda terapkan. Ingat, hepatitis sangat jarang menunjukkan gejala awal pada infeksinya, sehingga dapat menahun berada dalam tubuh tanpa diketahui.Kondisi ini akan merugikan bagi tubuh pasien. Karenanya, Anda pun harus tanggap dengan rutin melakukan cek kesehatan di klinik Granostic.Menariknya lagi, kami memiliki layanan konsultasi online yang memungkinkan Anda untuk terhubung dengan tim medis kami dimanapun Anda mau. Tak percaya? Langsung konsultasikan upaya pencegahan hepatitis bersama dokter klinik Granostic dengan klik Home Service di bawah ini.
Apa Perbedaan Hepatitis A, B dan C?
Hepatitis merupakan jenis penyakit yang menjadi masalah kesehatan di penjuru dunia. Jenis dari penyakit hepatitis ini pun ada banyak, seperti hepatitis A, B, dan C. Lantas tahukah Anda, apa saja perbedaan dari hepatitis A, B, dan C tersebut?Hepatitis merupakan jenis penyakit yang mengakibatkan peradangan pada organ hati. Faktor penyebabnya sangat beragam, dari infeksi virus, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, terpapar zat berbahaya atau overdosis obat-obatan tertentu, dan banyak lainnya.Hepatitis A, B, dan C adalah tiga contoh dari beberapa jenis hepatitis yang sering terjadi di Indonesia. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, cara penularan, hingga penanganannya.Berikut ini Granostic akan membagikan apa saja perbedaan mengenai hepatitis A, B, dan C tersebut. Simak baik-baik, ya, Sobat!Hepatitis A Merupakan jenis penyakit hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A atau HAV. Jenis hepatitis ini umumnya tidak memiliki gejala serius, serta dapat sembuh total dalam beberapa bulan.Namun dalam kasus yang langka terjadi, hepatitis A dapat memiliki status akut dan memberikan dampak besar pada organ hati. Sehingga akan mengancam jiwa bila tidak ditangani dengan baik.Penyebaran Hepatitis A Mengonsumsi makanan dan minuman dalam kondisi yang kurang bersih, misal tidak mencuci tangan terlebih dahulu.Tidak sengaja mengonsumsi minuman atau makanan yang terkontaminasi virus HAV dari feses.Berinteraksi dengan pengidap hepatitis A secara dekat.Berhubungan seksual dengan pengidap hepatitis A, meski tanpa pengaman penularan bisa saja terjadi.Gejala Hepatitis A Ketika terserang hepatitis A seseorang bisa saja pada awalnya tidak merasakan gejala apapun. Atau, tidak menyadarinya karena gejala terlalu ringan.Namun, gejala tersebut umumnya akan bertambah setelah 4 minggu sejak pertama kali terinfeksi. Gejala ini bahkan bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Berikut gejala hepatitis A yang perlu Anda tahu:Merasakan Lelah yang berlebihan, dapat disertai nyeri sendi dan otot.Demam atau naiknya suhu tubuh.Mengalami penurunan nafsu makan.Merasa sakit di bagian kanan atas perut.Adanya perubahan warna pada urine dan feses yang jadi lebih gelap.Timbul gatal-gatal pada tubuh.Langkah Pengobatan Hepatitis A Berikut ini Langkah yang dapat diambil pasien dalam pengobatan hepatitis A:Mengunjungi klinik kesehatan, melakukan cek kondisi tubuh, serta konsultasi dengan dokter.Konsumsi obat yang diberikan oleh dokter sesuai dengan resep dan dosis yang diberikan.Perbanyak istirahat dan perhatikan ruangan tempat tanggal agar tetap nyaman serta bersih.Hindari konsumsi alkohol dan berhubungan seksual dengan pasangan, untuk mencegah makin parah dan penularan.Terapkan kebiasaan yang sehat dan bersih, seperti rajin mencuci tangan serta memasak menu makan dengan tingkat kematangan yang pas.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B, yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis B atau HBV. Berbeda dengan tipe A, hepatitis B memiliki dua tingkat keparahan yakni akut dan kronis. Hepatitis B akut akut bersifat sementara. Umumnya terjadi kurang lebih 6 bulan lamanya, setelah seseorang pertama kali terpapar HBV. Kondisi ini bisa saja berkembang menjadi kronis, namun tidak selalu demikian.Sementara infeksi hepatitis kronis bersifat jangka panjang. Kondisi ini terjadi karena virus tersebut menetap dalam tubuh, kemudian berkembang dan berkemungkinan besar memicu komplikasi lainnya.Penyebaran Hepatitis B Penularan HBV ini dapat terjadi karena kontak individu ke individu yang lain lewat darah, air mani, saliva, dan berbagai cairan tubuh lainnya.Karenanya, secara umum berikut beberapa cara penyebaran HBV:Kontak seksual tanpa menggunakan pengaman, yang menyebabkan virus mudah tertular lewat darah, liur, cairan vagina, dan air mani.Penggunaan jarum suntik bersama-sama dengan pengidap hepatitis B.Melalui ibu hamil ke janin yang dikandungnya.Gejala Hepatitis B Sama halnya dengan tipe A, hepatitis B bisa saja tidak memiliki gejala yang sangat tampak. Namun pada anak-anak di atas usia 5 tahun dan orang dewasa, gejala akan muncul dalam waktu 2 hingga 5 bulan setelah terinfeksi pertama kali.Beberapa gejala yang umum dari infeksi HBV antara lain:Perubahan urin yang berwarna gelap, sementara feses jadi berwarna pucat.Mengalami diare.Merasa tubuh Lelah secara berlebihan. dapat disertai dengan nyeri sendi.Mengalami demam ringan.Nafsu makan menurun dan merasa mual atau muntah.Muncul ruam pada kulitMengalami penyakit kuning.Serta pembuluh darah akan terlihat seperti sarang laba-laba pada kulit.Langkah Pengobatan Hepatitis B Berikut ini Langkah pengobatan hepatitis B yang dapat Anda lakukan:Diagnosa: periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan perawatan tepat.Pengobatan setelah terpapar: dokter akan memberikan suntikan imunoglobulin dalam kurun waktu 12 jam setelah terpapar pertama kali. Tujuannya untuk memberikan perlindungan jangka pendek. Langkah ini pun dibarengi dengan pemberian vaksin.Pengobatan infeksi akut: karena sifatnya yang lama, dokter dapat menyarankan untuk pasien mendapatkan istirahat yang banyak, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh.Pengobatan infeksi kronis: dilakukan dengan memberikan beberapa obat antivirus, injeksi interferon, hingga transplantasi hati.Hepatitis C Sementara itu, hepatitis C merupakan jenis hepatitis yang terjadi akibat infeksi HCV atau virus hepatitis tipe C. Sama halnya dengan tipe B, jenis hepatitis ini pun dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat keparahannya, yakni akut dan kronis.Infeksi HCV akut umumnya tidak bergejala, serta persentase untuk menimbulkan kematian juga cukup kecil. Sekitar 15 hingga 45 persen pengidap hepatitis C berhasil sembuh dari tipe akut ini tanpa penanganan khusus.Sementara itu, infeksi HCV kronis dapat memberikan gejala khusus dan memicu komplikasi pada tubuh pasien. Karenanya dibutuhkan penanganan yang tanggap, cepat, dan akurat untuk menangani infeksi HCV.Penyebaran Hepatitis C Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah, yang sebelumnya telah terkontaminasi virus HCV. Selain itu, penyebaran penyakit ini pun bisa melalui kontak seksual tanpa pengaman.Gejala Hepatitis C Pada awalnya, hepatitis C tidak akan memberikan gejala yang signifikan bahkan sangat ringan sampai tak disadari oleh pasien. Akan tetapi, setelah infeksi dalam waktu yang lama, muncul beberapa gejala, seperti:Pasien akan merasa kelelahan yang sangat, dapat disertai dengan rasa nyeri.Tubuh akan mudah memar dan berdarah.Nafsu makan menurun.Warna mata dan kulit akan menjadi kuning.Urine jadi berwarna lebih gelap, sementara feses menjadi lebih pudar.Kulit yang gatal, serta terkadang diiringi ruam dan banyak lainnya.Langkah Pengobatan Hepatitis C Sama halnya dengan tipe B, hepatitis C yang masih dalam skala akut akan dapat sembuh dengan sendirinya. Karenanya, secara umum dokter tidak akan memberi obat-obatan khusus, kecuali untuk meringankan gejala serius.Selain itu, dalam kondisi ini dokter pun bisa meresepkan antivirus untuk mencegah pengembangan HCV menjadi hepatitis C kronis.Sementara pada penderita hepatitis C tipe kronis, diperlukan adanya pengobatan melalui obat antivirus untuk mencegah perkembangan virus. Sebab, virus HCV yang terus berkembang ini dapat menimbulkan kerusakan kronis pada organ hati, kemudian dapat terjadi komplikasi.Perlu Anda ingat juga, bahwa hepatitis C ini merupakan jenis yang dapat menginfeksi secara berulang. Sehingga Anda perlu tetap menjaga diri dan berhati-hati untuk tidak terinfeksi kembali setelah proses pemulihan.Nah, Sobat Granostic, itu adalah penjelasan mengenai perbedaan hepatitis A, B, dan C. Apakah penjelasan di atas mudah untuk Anda pahami, atau masih ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Anda soal hepatitis?Jangan khawatir, Anda dapat langsung berdiskusi dengan tim medis kami tanpa berkunjung ke klinik lewat layanan Home Service. Layanan konsultasi online ini memungkinkan Anda untuk terhubung dengan dokter spesialis dimanapun dan kapanpun Anda membutuhkannya.Selain itu, Granostic pun menyediakan layanan medical check up, yang dapat membantu Anda melakukan tes hepatitis A, B, maupun C. Dapatkan hasil pemeriksaan yang akurat dan arahan pengobatan yang tepat bersama dokter spesialis Klinik Granostic.Yuk, cegah penularan hepatitis A, B, dan C dengan layanan pemeriksaan kesehatan Granostic!
Kenali Apa Itu Hepatitis? Pelajari Penyebab, Gejala dan Tips Mengatasi
Hai, Sobat Granostic! Tahukah Anda, prevalensi hepatitis di Indonesia cukup tinggi, loh. Pada tahun 2024, di kota Tangerang tercatat sebanyak 2.422 kasus hepatitis B terdeteksi. Namun, sebenarnya apa sih yang dimaksud hepatitis ini?Pada dasarnya, penyakit hepatitis sendiri merupakan masalah Kesehatan dunia. Sebab penyakit ini tak hanya ditemukan di Indonesia, namun juga menyebar di berbagai wilayah dunia termasuk negara-negara benua Eropa.Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini sangat mudah ditularkan melalui fekal-oral, misalnya dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus hepatitis.Hepatitis dapat menyebabkan gangguan serius pada hati, bahkan bisa menyebabkan komplikasi yang fatal. Seperti memicu gagal hati, sirosis hati, kanker hati, kolestasis, dan lainnya.Kabar baiknya, penularan hepatitis ini dapat dicegah dan jika tertular pun pasien dapat meminimalisir dampaknya dengan pengobatan yang tepat. Namun, sebelum terlalu jauh menjawab soal ini, mari simak dulu penjelasan mengenai apa itu hepatitis berikut.Mengenal Hepatitis Jika didefinisikan, hepatitis adalah suatu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai faktor. Selain virus, hepatitis pun dapat terbentuk karena kebiasaan minum alkohol, paparan zat beracun dan jenis obat-obatan tertentu. Pada kasus hepatitis kronis, virus hepatitis dapat berkembang biak secara perlahan dan mempengaruhi Kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Khususnya dalam mempengaruhi fungsi tubuh yang berkaitan dengan proses metabolisme.Kondisi ini terjadi karena hati merupakan organ yang sangat penting dalam proses metabolisme. Misalnya untuk menghasilkan empedu, menetralisir racun, mengaktifkan enzim, mengurai berbagai zat dalam pencernaan, dan banyak lainnya.Jenis Hepatitis Ada banyak jenis penyakit hepatitis yang dibagi berdasarkan tipe virus penginfeksinya, seperti:Hepatitis A: jenis hepatitis yang timbul akibat infeksi virus hepatitis A (HAV). Jenis hepatitis ini dapat menular dengan mudah dan cepat lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Karenanya, banyak kasus hepatitis A terjadi di lingkungan yang kurang sehat dan tingkat kebersihannya buruk.Hepatitis B: jenis ini terjadi karena infeksi virus hepatitis B (HBV). Penularan hepatitis B ini dapat melalui transfusi darah yang telah terkontaminasi, serta berhubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita. Selain itu, pada beberapa kasus, virus hepatitis B pun dapat ditularkan ibu hamil pada janinnya.Hepatitis C: dipicu oleh infeksi virus hepatitis C atau HCV. Penularan jenis hepatitis ini dapat melalui penggunaan jarum suntik yang tak steril atau bergiliran dengan penderita. Selain itu, dapat pula ditularkan lewat hubungan seksual tanpa pengaman dengan penderita.Hepatitis D: yang dipicu akibat infeksi virus hepatitis D atau HDV. Jenis ini memiliki risiko yang lebih tinggi pada seseorang yang punya riwayat penyakit hepatitis B. Sebab, ada kemungkinan besar bahwa seseorang dapat terinfeksi hepatitis B dan D secara berurutan serta bersamaan.Hepatitis E: teradi karena infeksi virus hepatitis E atau HEV. Jenis ini dapat ditularkan lewat makanan atau minuman yang sebelumnya telah terkontaminasi. Umumnya jenis ini pun sering ditularkan pada lingkungan yang tak sehat dan kurang bersih.Penyebab Hepatitis Telah banyak kita singgung sebelumnya, bahwa penyebab hepatitis cukup beragam. Namun secara garis besarnya, hepatitis dapat disebabkan oleh dua faktor berikut:1. Virus Salah satu penyebab utama dari penyakit hepatitis adalah serangan virus. Akan tetapi jenis virus hepatitis ini tidaklah sama, namun ada lima jenis yang dinamai virus hepatitis A (HAV), B (HBV), (HCV), D (HDV), dan E (HEV).Kelimanya dibedakan karena gejala, cara penularan, dan efeknya pada pasien pun berbeda. Misalnya, hepatitis A dapat ditularkan lewat makanan atau minuman, sementara hepatitis B ditularkan lewat hubungan seksual tanpa pengaman. Begitupun ketiga jenis hepatitis lainnya yang juga memiliki karakteristik sendiri.2. Penyebab Non-virus Selain virus, hepatitis pun bisa disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti:Kondisi autoimun: terjadi karena sistem imun salah mengira bahwa hati adalah organ yang berbahaya sehingga menyerangnya. Ini kemudian memicu peradangan pada hati secara berkelanjutan, dari skala ringan hingga berat dan umumnya menghambat fungsi hati.Hepatitis neonatal: yang hanya terjadi pada bayi dalam rentang usia satu hingga dua bulan setelah kelahiran.Hepatitis alkoholik: yang terjadi akibat mengonsumsi alkohol secara berlebihan.Toxic hepatitis: terjadi karena penggunaan obat-obatan tertentu yang melebihi dosis, juga paparan senyawa kimia beracun.Hepatitis akibat cacing hati: infeksi opisthorchiidae dan fasciolidae yang dapat terjadi karena sering mengonsumsi makanan mentah atau belum matang. Hepatitis akut misterius: yang terjadi secara mendadak namun penyebabnya belum benar-benar diketahui.Gejala Hepatitis Pada awal infeksinya, hepatitis bisa saja menunjukkan gejala yang sangat ringan hingga sulit terdeteksi.Gejala hepatitis sendiri umumnya baru timbul saat tubuh mengalami kerusakan hingga memengaruhi fungsi hati.Gejala hepatitis ini dapat kita bedakan dari jenis tingkat keparahannya, seperti:1. Gejala Hepatitis Akut Pertama kali dilaporkan di Inggris pada tahun 2022, hepatitis akut diduga berasal dari Adenovirus, SARS CoV-2, virus ABV dll, yang menyerang saluran pencernaan dan pernapasan pasien (Oswari dalam Kemenkes, 2022).Beberapa gejala hepatitis akut antara lain:Pasien mengalami mual dan/atau muntah,Mengalami diare berat,Urin pasien berwarna pekat,Juga BAB tampak berwarna putih pucat.2. Gejala Hepatitis Kronis Jika dibandingkan dengan hepatitis akut, kasus hepatitis kronis cukup jarang terjadi. Akan tetapi kondisi ini dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang, serta virus hepatitis dapat berkembang biak dalam tubuh.Beberapa gejala pada pasien hepatitis kronis antara lain:Terjadi perubahan warna pada kulit dan bagian putih mata menjadi kuning. Kondisi ini terjadi karena deposit bilirubin berlebihan.Terjadi pembesaran limpa, spider angioma, penurunan fungsi otak, yang menandakan hepatitis telah berkembang menjadi sirosis.Pasien mengalami masalah pembekuan darah.Mengalami penurunan fungsi otak akibat kerusakan hati yang semakin parah.Tinja pasien berwarna terang.Tips Mengatasi Hepatitis Ketika mengalami gejala-gejala di atas, Anda jangan larut dalam rasa panik dan gelisah. Langsung periksakan diri ke dokter untuk mengatasi penyakit hepatitis yang dialami.Berikut ini beberapa tips mengatasi hepatitis yang perlu Anda ketahui.1. Berdasarkan Jenis Pertama, pengobatan penyakit hepatitis ini dapat disesuaikan dengan jenis virus yang menginfeksinya. Pada hepatitis A, B, dan E akut jarang dilakukan penanganan yang spesifik. Namun, focus pada meredakan gejala-gejala hepatitis yang muncul pada pasien.Selain itu pemberian obat pun harus dilakukan dengan hati-hati, karena pasien hepatitis mengalami gangguan fungsi hati.Namun bila penyakit hepatitis yang timbul kronis, dokter akan meresepkan obat antivirus yang dapat menghambat perkembangbiakan virus pada tubuh. Pemberian antivirus ini pun dapat mencegah kerusakan pada hati lebih lanjut. Pengobatan ini pun dapat diterapkan pada pengidap hepatitis B atau C kronis.2. Hepatitis Alkoholik Sementara pada hepatitis yang disebabkan oleh alkohol, yang paling Utama adalah menghentikan konsumsi minuman beralkohol. Dokter pun akan merekomendasikan diet yang sehat seperti mengonsumsi sayur, buah, dan suplemen vitamin untuk memenuhi nutrisi tubuh.Selain itu, dokter akan meresepkan obat-obatan yang sesuai dengan gejala dan kondisi pasien. Pada skala keparahan tertentu, dokter juga sangat mungkin untuk merekomendasikan melakukan transplantasi hati.3. Hepatitis Obat atau Racun Metode yang digunakan untuk mengatasi hepatitis dari toxin (obat-obatan dan paparan zat berbahaya), adalah dengan menghindari dan mengatasi penyebab utamanya. Ketika penanganan ini dilakukan dengan tanggap, maka perkembangan kerusakan jaringan liver akan dapat dihindari.4. Hepatitis Autoimun Untuk hepatitis yang disebabkan oleh autoimun, maka pengobatannya akan menggunakan obat imunosupresan. Tujuannya untuk menekan sistem imun agar tidak menyerang organ hati.Pencegahan Dengan Pantau Kesehatan di Granostic Nah, Sobat Granostic, itu adalah penjelasan lengkap mengenai hepatitis yang perlu Anda ketahui. Mulai dari definisi, gejala, jenis-jenis, juga bagaimana cara mengatasinya dengan tepat.Seperti pepatah, “lebih baik mencegah daripada mengobati”, konsep yang sama pun dapat Anda terapkan dalam kasus penyakit hepatitis ini.Karena meski mudah ditularkan, hepatitis juga tak mustahil untuk dicegah. Selain mengontrol gaya hidup, membatasi kegiatan seksual yang tidak aman, serta memperhatikan kebersihan lingkungan. Anda pun perlu melakukan pemantauan kesehatan secara rutin di klinik terpercaya, seperti Granostic!Baca Juga: Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?Kami menyediakan layanan cek kesehatan lengkap dengan teknologi termutakhir, juga didampingi oleh tenaga medis profesional dan dokter spesialis berpengalaman. Karenanya, hasil pemeriksaan kesehatan di Granostic akan terjamin akurasinya, juga melalui pelayanan yang tanggap dan efisien.Selain itu, Granostic pun menyediakan layanan Home Service yang memungkinkan Anda untuk terhubung dengan tim medis kami secara daring. Lewat layanan ini pula, Anda dapat mengatur janji temu dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi.Yuk, lindungi diri dan keluarga Anda dari hepatitis dengan rutin cek kesehatan di Granostic!
Langkah Pengobatan Stroke di Klinik Kesehatan Granostic
Serangan stroke dapat muncul secara mendadak dan memiliki skala keparahan yang berbeda-beda. Bila tidak mendapat penanganan dengan segera, serangan ini dapat berakibat fatal dan menimbulkan efek panjang pada penderitanya. Karenanya dibutuhkan langkah penanganan dan pengobatan stroke yang tepat dan cepat, seperti di Klinik Granostic. Kendati tingkat keparahan serangan stroke dapat berbeda-beda pada tiap individu. Bukan berarti Anda bisa menyepelekan gejala ringannya.Sebab, setiap serangan stroke terjadi sel-sel otak dapat mengalami kerusakan hingga kematian. Hal ini berdampak pada penurunan fungsi tubuh, seperti mengalami kesulitan berjalan, anggota tubuh tidak dapat digerakkan, sulit bicara dan mencerna pembicaraan, dan banyak lainnya.Penanganan yang cepat dan tepat akan membantu meringankan dampak serangan stroke pada pasien, serta dapat mengelola rasa sakit yang mereka alami dengan lebih baik.Sebagai salah satu klinik kesehatan terbaik di Surabaya, Granostic memberikan perhatian besar pada penanganan pasien yang terserang dan pascastroke.Kami memberikan pelayanan lengkap dan prosedur yang runtut, namun memudahkan bagi pasien. Lantas bagaimana langkah pengobatan stroke di klinik kesehatan Granostic? Simak penjelasan di bawah ini, ya, Sobat!1. Penilaian Awal dan Diagnosis Langkah pertama dalam proses pengobatan stroke di klinik kesehatan Granostic adalah penilaian awal dan diagnosis oleh dokter spesialis. Kedua proses ini dilakukan melalui beberapa prosedur, seperti:Gejala Untuk mendiagnosis stroke, dokter akan memperhatikan gejala-gejala fisik yang terjadi pada pasien. Stroke sendiri memiliki gejala yang sangat khas dan mudah untuk dikenali, seperti:Pasien mengalami mati rasa, kelumpuhan pada bagian tubuh tertentu, atau kelemahan otot.Senyum pasien tampak kaku dan miring.Terdapat rasa pusing, hingga membuat keseimbangan tubuh hilang secara mendadak.Adanya gangguan penglihatan mendadak, seperti mata yang tiba-tiba buram bahkan kebutaan pada salah satu mata.Pasien juga dapat merasa mual dan muntah.Mengalami kesulitan untuk mengunyah dan menelan makanan.Riwayat Medis Selain melihat gejala-gejala pada pasien, dokter juga akan memeriksa riwayat medis. Hal ini sangat penting untuk mengetahui faktor risiko yang menyebabkan terjadinya gangguan pada peredaran darah ke otak, sehingga menimbulkan serangan stroke.Dengan mengetahui penyebab gangguan tersebut, dokter akan dapat mendiagnosis dengan akurat serta mampu merencanakan langkah pengobatan yang tepat sasaran.Pemeriksaan Fisik Serangan stroke secara umum memberikan dampak pada fisik pasien. Seperti memberikan kelemahan pada otot, sehingga tubuh tidak mampu berdiri tegak. Selain itu, tak sedikit juga penderita stroke mengalami sebagian wajah yang turun dan kaku.Kondisi tersebut akan membuat pasien merasa kesulitan untuk berekspresi, berkomunikasi, juga untuk mengonsumsi sesuatu.2. CT Scan atau MRI Otak Setelah penilaian awal dan diagnosis lewat kondisi fisik, gejala umum, serta riwayat kesehatan pasien. Dokter Klinik Granostic pun akan menyarankan Anda untuk melakukan CT Scan atau MRI Otak.Lewat prosedur CT Scan, dokter dapat menyimak kondisi otak pasien secara mendetail. Pemeriksaan ini sangat penting untuk mendeteksi tanda-tanda pendarahan, keberadaan tumor, serta stroke pada pasien.Sementara itu, pemeriksaan MRI bertujuan untuk memberikan gambaran detail dari otak pasien stroke. Sebab prosedur ini memungkinkan pendeteksian jaringan otak secara terperinci, khususnya yang mengalami kerusakan akibat pendarahan otak atau stroke iskemik.3. Stabilisasi Pasien Langkah pengobatan stroke di klinik kesehatan Granostic selanjutnya adalah stabilisasi pasien. Langkah stabilisasi ini meliputi serangkaian tindakan medis yang dilakukan oleh tim perawatan kesehatan, yang tujuannya untuk memastikan bahwa kondisi pasien tetap terkendali dan bertambah buruk.Adapun prosedur langkah stabilisasi yang dimaksud antara lain:Pemantauan Vital Signs Pertama, melakukan pemantauan tanda-tanda vital pada pasien stroke. Tanda-tanda vital yang dimaksud meliputi suhu, tekanan darah, nadi, dan respirasi pasien. Berikut penjelasan lengkapnya:Pemeriksaan suhu tubuh pasien: yang dilakukan untuk mengetahui stabilitas dari suhu pasien stroke. Pengukuran suhu ini juga dilakukan dengan beberapa cara seperti meletakkan thermometer digital, thermometer air raksa, hingga thermometer gun.Pemeriksaan tekanan darah: yang dilakukan untuk mengetahui tekanan darah pasien stroke, baik pengukuran systolic maupun diastolic.Pemeriksaan pada denyut nadi pasien: dilakukan demi mengetahui frekuensi pemompaan jantung pada pembuluh darah arteri. Dokter atau perawat medis akan dapat menentukan irama serta kekuatan denyut nadi pasien selama satu menit. Pada individu normal, denyut nadi memiliki frekuensi sekitar 600–100 kali per menitnya.Pemeriksaan laju nafas: penting untuk mengetahui frekuensi laju pernapasan per menitnya. Idealnya, pemeriksaan ini dilakukan saat pasien stroke sedang tidur atau beristirahat. Pada individu sehat, frekuensi laju pernapasan ini berada di kisaran 12–20 kali per menitnya.Pengelolaan Jalur Nafas Setelah memeriksa tanda-tanda vital pada pasien stroke, termasuk bagaimana laju nafasnya. Tim medis Klinik Granostic pun akan menerapkan prosedur pengelolaan jalan napas. Langkah ini dilakukan untuk memastikan jalan napas pasien tetap normal dan menjamin kecukupan oksigenasi pada tubuh pasien.Bila pasien stroke mengalami hipoksia, yakni kondisi saturasi oksigen di Bawah 94%, maka akan diberikan oksigen. Pemberian ini akan dilakukan dengan dosis yang tepat dan sesuai dengan kondisi pasien, juga dalam pengawasan dokter.4. Dukungan Psikososial (Konseling dengan Ahli) Selain ketiga langkah vital di atas, Klinik Granostic pun menerapkan prosedur dukungan psikososial pada penanganan dan pengobatan penderita stroke. Langkah ini sangatlah penting untuk merawat kesehatan mental pasien serta mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, serta mencegah depresi pada pasien.Melansir dari laman Kementerian Kesehatan pun dikatakan bahwa kebutuhan psikososial sangat berpengaruh pada Activity of Daily Living (ADL) pada pasien stroke. Salah satu bentuk psikososial tersebut adalah dukungan emosional atau psikologis, yang dapat didapatkan dari pendampingan pasien saat menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, dukungan ini juga dapat diperoleh dengan sesi konseling bersama ahlinya.Klinik Granostic pun memiliki tenaga psikiater handal dan berpengalaman di bidangnya, sehingga dapat memberikan konseling yang akan sangat membantu pada laju penyembuhan pasien stroke.Terlebih pasien stroke pun sangat rentan terkena depresi, akibat kesulitannya dalam mengontrol emosi dan keterbatasan fisik yang dialami pasien. Dengan berkonsultasi bersama ahli, pasien akan mendapatkan informasi mengenai kondisi tubuh dan peluang-peluang penyembuhan yang bisa diraih. Hal ini tentunya akan menambah semangat mereka dalam menjalani pengobatan.Baca Juga: Yuk Ketahui! Jenis Terapi StrokeNah, Sobat, itu adalah penjelasan mengenai langkah melakukan pengobatan stroke di klinik kesehatan Granostic. Mulai dari penilaian awal, tindakan CT Scan atau MRI, stabilisasi pasien, hingga pemberian dukungan psikososial.Bersama dengan tim medis yang terlatih dan ahli, peralatan yang termutakhir, serta prosedur yang komprehensif akan memberikan perawatan yang efisien dan tanggap. Sehingga dampak serangan stroke pada pasien dapat diminimalisir sebaik mungkin, serta menghindari efek jangka panjangnya.Karenanya, Sobat, bila Anda atau kerabat mendapati gejala yang mengarah pada stroke, segera hubungi call center Klinik Granostic. Kami juga menyediakan layanan terapi pasca serangan stroke, serta Home Service yang memudahkan Anda untuk berkomunikasi dan konsultasi secara online Bersama tim medis kami.Anda punya pertanyaan seputar pengobatan stroke atau pelayanan kesehatan lainnya di Klinik Granostic? Klik tombol WhatsApp di bawah untuk terhubung dengan tim kami!
Yuk Ketahui! Jenis Terapi Stroke
Tak seperti serangannya yang tiba-tiba, stroke memberikan dampak fatal dan berkepanjangan pada tubuh penderita. Karenanya, sangat penting bagi pasien untuk melakukan terapi pasca serangan stroke sesuai dengan rekomendasi dokter. Lantas tahukah Anda apa saja jenis terapi stroke tersebut?Serangan stroke, ringan atau berat, memiliki dampak yang gawat pada penderitanya. Akibat terganggunya pasokan darah ke otak, asupan nutrisi dan oksigen pun tak dapat terpenuhi. Kondisi ini menyebabkan sel-sel otak mengalami kerusakan, hingga mati.Dampak penyakit stroke ini tak hanya dapat dirasakan oleh pasien ketika terjadi serangan. Melainkan memberikan efek jangka panjang, yang berupa menurunnya fungsi tubuh. Misalnya kelumpuhan sebagian area tubuh, kesulitan menelan, kesulitan bicara, dan banyak lainnya.Karenanya, direkomendasikan bagi pasien stroke untuk melakukan serangkaian jenis terapi sesuai dengan arahan dokter spesialis, seperti dalam ulasan berikut ini.1. Fisioterapi (Physical Therapy) Saat terserang stroke, seseorang dapat mengalami kelemahan otot dan paralisis. Karenanya, fisioterapi sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kemampuan fisik pasien yang melemah akibat serangan stroke dalam jangka Waktu lama.Prosedur fisioterapi pun selalu difokuskan untuk melatih kemampuan fisik atau motorik pasien. Misalnya, melakukan Latihan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh serta kekuatan otot, menggunakan alat bantu jalan, dan sejenisnya.Perlu dipahami, bahwa prosedur fisioterapi ini selalu disesuaikan dengan kondisi pasien dan tingkat keparahan serangan stroke.Pada seseorang yang mengalami stroke ringan dan hanya mengalami kesulitan menggerakkan tangannya, maka prosedur terapi fisik ini akan berfokus untuk menangani masalah tersebut.Namun, bila seseorang mengalami kelumpuhan pascastroke, maka dokter akan merekomendasikan prosedur yang lebih beragam untuk mengembalikan satu per satu kemampuan fungsi tubuh.2. Terapi Okupasi (Occupational Therapy) Selanjutnya adalah terapi okupasi atau occupational therapy, yang dilakukan untuk memulihkan kemampuan pasien pascastroke dalam menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.Jenis latihan yang dilakukan pun akan disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas pasien, seperti latihan makan sendiri, menggosok gigi, dan banyak lainnya.3. Terapi Wicara dan Bahasa (Speech and Language Therapy) Selanjutnya adalah terapi wicara dan bahasa, yang umumnya juga dilakukan beriringan dengan terapi okupasi. Jenis terapi ini sangat penting dilakukan, sebab penderita stroke sangat rentan mengalami penurunan kemampuan berkomunikasi dan berbahasa.Kondisi ini terjadi karena berkurangnya koordinasi di otak atau terdapat gangguan pada motorik lidah dan mulut, akibat serangan stroke.Jenis terapi stroke ini dapat dibimbing oleh terapis bicara dan Bahasa, yang akan membantu melatih pasien untuk berbicara dengan jelas dan runtut.Akan tetapi jika gangguan bicara yang pasien alami makin parah, maka terapi stroke akan dilakukan dengan menawarkan cara berkomunikasi lain selain komunikasi verbal.4. Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) Jenis terapi untuk pasien stroke selanjutnya adalah terapi kognitif atau cognitive therapy. Terapi ini bertujuan untuk mengembalikan kemampuan berpikir dan penalaran pada pasien stroke. Sehingga pasien bisa memahami situasi dengan baik, kemudian dapat mengelola respon emosional dirinya seperti sedia kala.Sebab, pasien stroke pun sangat rentan mengalami penurunan kemampuan berpikir dan kesulitan untuk memahami pembicaraan. Karenanya, kondisi ini pun umumnya dapat mempengaruhi perubahan perilaku dan sisi emosional pada pasien.5. Terapi Psikologis dan Dukungan Emosional Telah disinggung sebelumnya, bahwa seseorang yang terkena stroke akan sangat rentan mengalami perubahan perilaku dan memiliki emosi yang tidak stabil. Karenanya, penting dilakukan terapi khusus yang membantu memulihkan kondisi psikologis dan dapat memberikan dukungan emosional pada pasien.Terlebih, seseorang yang telah mengalami stroke sangat rentan untuk mengalami depresi. Kondisi ini dapat dilihat dari kebiasaan pasien yang cenderung menarik diri dan pesimistik terhadap kesembuhannya.Oleh sebab itu, dalam proses penyembuhan dan pemulihan, sangat penting bagi kerabat dan orang-orang terdekat pasien stroke selalu memberikan pendampingan serta dukungan. Sehingga mereka dapat lebih semangat dan optimis.6. Terapi Musik (Music Therapy) Selanjutnya adalah terapi music, yang juga berdampak baik untuk proses pemulihan pasien stroke. Jenis terapi ini melibatkan proses mendengarkan musik dan juga didampingi oleh terapis dalam penerapannya.Terapi musik memberikan banyak manfaat pada pasien stroke, seperti:dapat membantu pasien untuk mengembangkan koordinasi tubuh, meningkatkan daya ingat, membuat mood jadi lebih baik dan memberikan efek relaksasi, serta membantu pengalihan rasa nyeri dan sakit pada pasien.7. Terapi Aquatic (Aquatic Therapy) Selanjutnya adalah terapi akuatik, yang menggunakan media air serta bertujuan untuk memulihkan kualitas fungsi tubuh bagi penderita stroke. Jenis terapi stroke ini pun dikatakan memiliki efek yang sangat baik untuk mengembalikan fungsi otot serta pada keseimbangan tubuh pasien.Karena memiliki sifat daya apung, media air bisa memberikan perlindungan terhadap beban berlebihan selama latihan. Pasien pun akan langsung didampingi oleh terapi ahli.8. Robot-Assisted Therapy Seperti namanya, robot-assisted therapy mengacu pada terapi stroke yang menggunakan perangkat cerdas robotic untuk memantau gerakan dan posisi pasien stroke. Kemudian perangkat cerdas ini akan memberikan umpan balik untuk berinteraksi dengan pasien.Selain itu, terapi dengan didampingi robot ini pun diklaim memiliki keuntungan tertentu dibanding terapi biasa. Seperti jenis pelatihan yang terstandarisasi, dukungan adaptif, serta peningkatan intensitas dan dosis pelatihan.9. Terapi Akupunktur Jika Anda termasuk seseorang yang suka dengan hal-hal tradisional, terapi akupuntur pun bisa dapat dipertimbangkan. Dengan catatan, Anda juga harus mengonsultasikannya dengan dokter spesialis yang menangani pasien stroke tersebut.Akupuntur sendiri dapat menjadi pelengkap metode rehabilitasi medik untuk pasien stroke. Pasalnya, akupuntur dikatakan dapat merangsang kemampuan tubuh untuk melawan atau mengatasi penyakit, serta memperbaiki ketidakseimbangan energi dalam tubuh pasien.Meski begitu, belum ada penelitian yang menjelaskan secara pasti mengenai efek integral dari terapi akupuntur dengan kesuksesan rehabilitasi pasien stroke. Karenanya, selalu diskusikan dengan dokter spesialis Anda terlebih dahulu sebelum menggunakan terapi ini, ya.10. Biofeedback Therapy Terapi selanjutnya adalah biofeedback, yakni prosedur pemulihan stroke dengan memantau kondisi fisiologis sendiri lewat bantuan instrumen dan informasi yang didapatkan. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan mengendalikan kondisi fisik sehingga Kesehatan tubuh akan meningkat.Prosedur ini pun menggunakan elektroda yang dapat memantau waktu dan aktivitas otot pada pasien. Sehingga pasien stroke dapat memperoleh umpan balik mengenai kondisi ototnya baik secara auditori maupun visualisasi gerakan-gerakan ototnya.11. Virtual Reality Therapy (VR Therapy) Last but not least, virtual reality (VR) therapy, yang bisa memberikan pengalaman pada pasien untuk melihat anggota tubuhnya bergerak secara virtual.Menurut Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, VR therapy dapat memberikan harapan baru pada pasien pascastroke. Penggunaan VR therapy ini pun dapat membuat proses pemulihan stroke menjadi lebih ringan, karena tak terbatas waktu, tempat, dan memiliki pendekatan yang berbeda untuk mempercepat proses mandiri pasien.Baca Juga: Yuk Pelajari! Pemulihan Untuk Penderita StrokeMasalah penurunan fungsi tubuh akibat serangan stroke tentu akan sangat berpengaruh pada kualitas hidup pasien. Karena itu, perlu diterapkannya serangkaian terapi pascastroke yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.Jika Anda ingin berkonsultasi lebih jauh mengenai rangkaian penanganan dan terapi pascastroke, Anda dapat mempercayakannya pada Klinik Granostic. Sebab, Klinik Granostic memiliki Dokter Spesialis Neurologi yang berpengalaman dan ahli dibidangnya.Untuk mempermudah proses penanganan, Anda bisa langsung memanfaatkan layanan Home Service kami. Sehingga Anda dapat terhubung langsung dengan tim medis Klinik Granostic, kemudian membuat janji temu yang paling ideal untuk konsultasi tatap muka.Yuk, lindungi keluarga Anda dan diri sendiri dengan rajin tes kesehatan di Klinik Granostic!
Jangan Panik! Ini Tips Atasi dan Pertolongan Pertama Stroke Tiba-tiba
Serangan stroke kerap terjadi secara tiba-tiba, namun Anda tidak perlu panik ketika menanganinya. Berikut ini adalah tips atasi dan pertolongan pertama serangan stroke tiba-tiba. Apa saja?Tahukah, Sobat? Serangan stroke terjadi karena adanya gangguan suplai darah ke otak secara tiba-tiba. Kondisi ini akan mengakibatkan otak tidak menerima asupan oksigen yang cukup. Gangguan suplai darah ke otak ini dapat disebabkan oleh pembuluh darah yang pecah atau adanya penyumbatan.Hal yang perlu diperhatikan, meskipun gejala awal stroke termasuk ringan, kondisi ini tetap masuk keadaan darurat medis. Karenanya, pertolongan pertama yang tepat akan dapat membantu meminimalisir dampak serangan stroke tersebut, serta menurunkan risiko terjadinya cacat permanen. Lantas, bagaimana sih tips pertolongan pertama saat terjadi serangan stroke? Simak penjelasannya di bawah ini, Sobat!Pertolongan Pertama untuk Stroke Memberikan pertolongan pertama saat seseorang mengalami serangan stroke sangatlah penting. Berikut langkah-langkah yang dapat Anda lakukan, Sobat Granostic.1. Tetap Tenang dan Bertindak Cepat Langkah pertama adalah pastikan Anda tidak ikut panik terlebih dahulu. Sebelum pikiran dipenuhi dengan hal-hal negatif, Anda bisa mengalihkannya dengan mengambil tindakan cepat.Seperti membantu pasien jika terjatuh dalam posisi yang membahayakan, kemudian memanggil layanan darurat, serta meminta bantuan pada tetangga atau orang-orang terdekat lainnya.2. Gunakan Metode FAST untuk Mengidentifikasi Gejala Stroke Selanjutnya, gunakan metode FAST untuk mengidentifikasi gejala stroke pada pasien. Metode FAST ini merupakan serangkaian cara memeriksa kondisi gejala fisik yang muncul pada pasien. Beberapa rumus dalam metode FAST adalah:Face (wajah), identifikasi gejala dari perubahan wajah misalnya dengan pertanyaan: Apakah wajah pasien tampak terkulai di salah satu sisi saat mencoba untuk tersenyum atau tertawa?Arms (lengan), mengidentifikasi gejala dengan melihat kelemahan pada lengan pasien: Anda dapat meminta pasien untuk mengangkat kedua lengannya, kemudian simak apakah salah satu lengan tampak lemah dalam proses tersebut.Speech (berbicara/komunikasi), Anda dapat meminta pasien untuk mengulang kalimat sederhana, kemudian simak apakah dia dapat mengikutinya dan apakah terdengar cadel atau sulit dimengerti.Time (waktu), yang sangat penting saat terjadi serangan stroke. Ketika Anda menemukan tanda-tanda di atas pada pasien, maka penting untuk segera membawa pasien ke rumah sakit atau menelpon ambulans untuk mendapatkan penanganan yang tepat.3. Hubungi Layanan Darurat Serangan stroke dapat berakibat fatal pada pasien, karena efeknya pada saraf otak. Hanya dalam beberapa menit saja, sel-sel otak pasien dapat mengalami kerusakan hingga kematian. Hal ini akan berpengaruh pada kelangsungan hidup pasien, dan jika tidak ditangani dengan tepat bisa menyebabkan hasil yang sangat fatal.Karenanya, segera hubungi layanan darurat ketika menemukan gejala-gejala stroke pada kerabat atau orang tersayang Anda. Sebelumnya, Anda pun dapat menghubungi Klinik Granostic di (031) 5994080, untuk mengakses layanan darurat kami.Tetaplah menjaga ketenangan sambil menunggu kedatangan ambulans. Anda juga bisa menyiapkan berkas-berkas rekam medis dan identitas pasien untuk mempermudah proses administrasi lainnya.4. Posisikan Pasien dengan Benar Tips melakukan pertolongan pertama pada serangan stroke selanjutnya adalah dengan memperbaiki posisi pasien. Apabila memungkinkan, Anda bisa mengubah posisi pasien untuk berbaring pada satu sisi tubuh. Kemudian posisikan bagian kepala dengan sedikit diangkat, sehingga pasien akan lebih nyaman.Pada pasien stroke, terkadang mereka akan merasa mual dan ingin muntah. Sehingga posisi kepala sebaiknya diangkat sedikit untuk memudahkan proses muntah tersebut. Hal ini bisa membantu pasien agar tidak mudah tersedak.5. Jangan Berikan Makanan atau Minuman Sebagai upaya pertolongan pertama saat serangan stroke pada pasien, pastikan Anda tidak memberikan makanan atau minuman terlebih dahulu. Karena saat sedang stroke, pasien mengalami kelemahan otot dan sistem saraf mereka terganggu. Hal ini dapat berpengaruh pada kemampuan menelan, sehingga akan membuat pasien tersedak.6. Pantau Pernafasan dan Denyut Nadi Pastikan juga untuk mengecek dan mengatur pernapasan pasien dengan baik saat gejala stroke muncul. Apabila pasien merasa sulit untuk bernapas, Anda bisa memberikan ruang di sekitarnya dan membantu melonggarkan pakaian yang tampak terlalu ketat.Minta dan bombing pasien untuk mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Tujuannya untuk membantu pernapasan pasien dapat Kembali stabil dan normal.Tips Mengatasi Stroke dalam Jangka Panjang Setelah mempelajari bagaimana penanganan pertama ketika mendapat serangan stroke. Anda pun harus mengetahui apa saja tips mengatasi stroke dalam jangka panjang, yakni:1. Ikuti Program Rehabilitasi Stroke bisa memberikan dampak jangka panjang pada kesehatan dan kondisi tubuh pasien. Bahkan, bagi seseorang penyintas stroke pun memiliki kemungkinan yang tinggi untuk kembali mengalami serangan sekunder.Karenanya, pasien perlu mengikuti program rehabilitasi lengkap sebagai upaya pemulihan pasca stroke. Biasanya pasien akan mengikuti serangkaian terapi yang telah diatur dan dijadwalkan oleh Dokter Spesialis Neurologi.Beberapa terapi yang dimaksud seperti terapi fisik, terapi kognitif, terapi bicara, terapi penggunaan alat bantu, dan banyak lainnya. Perlu adanya ketekunan untuk melakukan rehabilitasi ini, sehingga orang-orang terdekat harus selalu menunjukkan dukungan dan optimisme yang bisa memberikan pasien semangat.2. Konsumsi Obat-obatan Sesuai Anjuran Dokter Selain berbagai jenis terapi di atas, biasanya dokter pun akan memberikan resep sesuai dengan kebutuhan pasien stroke. Pastikan saudara atau orang terdekat Anda yang terkena stroke untuk mengonsumsi obat-obatan ini sesuai dengan anjuran dokter, ya.3. Adopsi Gaya Hidup Sehat Gaya hidup tak sehat dan pola makan yang buruk, berkontribusi besar pada faktor risiko terjadinya serangan stroke pada seseorang. Bahkan untuk seseorang yang berusia di bawah lima puluh tahun sekalipun.Pastikan bahwa pasien stroke memiliki pola makan yang teratur, sebanyak tiga kali sehari. Anda pun bisa memilih menu makanan sehat dengan gizi yang tinggi. Menghindari makanan berkolesterol tinggi, mengandung garam tinggi, dan sebagainya.Anda bisa mendiskusikan mengenai pola makan dan menu diet sehat ini bersama dokter spesialis.4. Periksa Kesehatan Rutin di Granostic Mengingat dampaknya yang dapat sangat fatal dan berkepanjangan, Anda harus menerapkan pencegahan stroke sejak dini. Salah satunya adalah dengan memeriksakan kesehatan secara rutin di instansi kesehatan yang kredibel, seperti Klinik Granostic.Tak hanya memiliki alat medical check up yang termutakhir, Klinik Granostic pun memiliki Dokter Spesialis Neurologis dan Penyakit Dalam yang bisa sangat membantu Anda dalam penanganan serta proses pemulihan stroke.Bersama dengan tenaga kesehatan ahli kami, Anda bisa memperoleh hasil pemeriksaan yang lengkap, akurat, serta dalam waktu yang cepat. Kemudian dokter akan melakukan diagnosa dan memberikan saran penanganan yang sesuai dengan hasil diagnosa pasien.Tak hanya langsung datang ke klinik, Anda dapat terhubung dengan tim kesehatan Klinik Granostic secara online dan melakukan konsultasi dimanapun Anda berada lewat layanan Home Service.Yuk, Sobat Granostic, mulai lindungi diri dan keluarga Anda dari serangan stroke dengan rutin melakukan cek kesehatan!
Jangan Gampang Diagnosa Sendiri! Pelajari Mitos dan Fakta Penyakit Stroke
Stroke merupakan jenis penyakit gawat darurat yang perlu penanganan secara cepat dan tepat. Sayangnya, tak sedikit mitos yang beredar membuat penanganan stroke jadi lambat dan menimbulkan dampak besar pada pasien. Nah, apa saja mitos dan fakta penyakit stroke tersebut?Bagi Anda yang belum tahu, stroke sendiri merupakan jenis penyakit yang timbul akibat adanya gangguan pada saluran pembuluh darah ke otak. Gangguan ini dapat terjadi karena adanya penyumbatan (iskemik), juga karena pecahnya pembuluh darah di otak (hemoragik).Kendati dikategorikan sebagai kondisi medis yang fatal, serangan stroke sendiri bisa dicegah dan diminimalisir dampaknya dengan perawatan yang tepat. Akan tetapi, beredarnya mitos-mitos yang salah membuat masyarakat kadang keliru mendiagnosa gejala yang mereka alami, sehingga terjadi keterlambatan penanganan.Agar Sobat Granostic tak salah langkah, mari pelajari berbagai mitos dan fakta mengenai penyakit stroke di bawah ini.Mitos 1:Stroke Hanya Menyerang Orang Tua? Fakta Kata siapa, penyakit stroke hanya dapat menyerang para lansia atau orang tua? Meski memang banyak terjadi pada seseorang yang berusia di atas 55 tahun, akan tetapi bukan berarti anak muda pun tak memiliki risiko terkena stroke. Justru kasus serangan stroke pada individu di bawah 50 tahun pun meningkat. Penyebab serangan stroke di usia muda ini pun beragam mulai dari gaya hidup tak sehat, akibat diabetes, hipertensi, serta obesitas.Mitos 2: Stroke Tidak Dapat Dicegah FaktaMeskipun datang serangan penyakit ini mendadak, bukan berarti stroke tidak dapat dicegah sama sekali. Jika kita menyimak dari penyebabnya, penyakit stroke sangat bisa kita hindari dengan beralih menjalani gaya hidup yang lebih sehat, serta mengelola berbagai faktor risikonya.Nah, Sobat, ada beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena stroke, yakni:Mengelola tekanan darah agar selalu stabil.Menjaga berat badan yang sehat agar tidak obesitas.Berhenti merokok dan minum minuman beralkohol.Lakukan olahraga secara teratur.Kelola kadar gula darah dengan baik, serta mengurangi minuman kemasan yang manis.Beralih mengonsumsi makanan rendah lemak tak sehat, tinggi vitamin dan mineral, serta mengatur pola yang teratur.Rajin melakukan medical check up lengkap untuk mendeteksi adanya faktor risiko yang mengarah ke stroke.Mitos 3: Stroke Tidak Bisa Diobati Fakta Mitos yang satu ini paling sering diterima oleh masyarakat, padahal stroke bisa disembuhkan. Khususnya bila pasien mendapatkan penanganan yang tepat saat memasuki golden period, yakni rentang waktu kurang dari 4,5 jam setelah serangan stroke.Selain itu, ketika pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin maka segala dampak yang terjadi nantinya itu dapat diminimalisir. Bahkan mengurangi risiko terjadinya cacat permanen pada pasien.Mitos 4: Gejala Stroke Akan Hilang dengan Sendirinya Fakta Jangan pernah menganggap bahwa gejala stroke akan hilang dengan sendirinya. Sebab, saat serangan stroke terjadi, sel-sel otak dapat mengalami kerusakan hingga mati karena tidak ada asupan nutrisi dan oksigen dari pembuluh darah.Hal ini akan berakibat fatal, begitu Anda mengabaikannya. Tak hanya menimbulkan kecacatan pada pasien, namun juga bisa mengarah pada dampak yang lebih buruk.Karenanya, ketika Anda merasakan gejala awal stroke, bahkan ringan sekalipun, segera kunjungi klinik/puskesmas/rumah sakit setempat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Dengan begitu, dampak dari stroke tersebut dapat diminimalisir dan tidak menurunkan kualitas hidup pasien secara drastis di masa mendatang.Mitos 5: Stroke Tidak Akan Terjadi Lagi Setelah Satu Kali Terjadi Fakta Salah satu mitos mengenai stroke yang sangat menyesatkan adalah bahwa seseorang yang telah mengalami serangan stroke sekali, tidak akan lagi kambuh. Hal ini salah besar, sebab penderita stroke memiliki risiko lebih besar untuk mengalami serangan stroke berulang.Bahkan, pada kasus serangan berulang ini gejala dan dampaknya pada tubuh pun akan lebih berat daripada serangan stroke pertama. Karenanya, sangat penting untuk melakukan pengobatan secara tuntas, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan demi memantau kondisi tubuh pasien.Mitos 6: Stroke Tidak Menyebabkan Nyeri Fakta Meskipun stroke bisa membuat badan paralyze atau dalam keadaan paralisis, bukan berarti pasien tidak akan merasakan nyeri sama sekali. Sebaliknya, karena serangan stroke berdampak langsung pada saraf otak, yang menyebabkan pasien mungkin mengalami kekakuan, atau mengalami peningkatan tonus yang abnormal.Kondisi ini menimbulkan rasa nyeri, kencang, dan membuat otot menjadi kaku. Sehingga tidak dapat bergerak dengan bebas.Mitos 7: Hanya Ada Satu Jenis Stroke Fakta Serangan stroke dibedakan menjadi dua, menurut dari sumber gangguan pada saluran pembuluh darah ke otak. Jika gangguan tersebut timbul akibat penyumbatan pada pembuluh darah ke otak, maka disebut sebagai stroke iskemik. Sementara jika gangguan tersebut terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak, maka disebut sebagai stroke hemoragik.Karena penyebabnya berbeda, maka gejala yang ditimbulkan dan cara penanganannya yang tepat pun tak sama. Sehingga, Anda tidak bisa menyamakan antara stroke hemorgik dan iskemik begitu saja.Mitos 8: Pemulihan Stroke Hanya Terjadi Dalam Beberapa Bulan Pertama Fakta Pemulihan stroke tidak hanya dilangsungkan pada beberapa bulan saja, akan tetapi perlu setidaknya 6 bulan sampai pasien kembali mendapatkan kualitas hidup yang baik.Meski begitu, bukan berarti pasien stroke bisa hidup secara sembarangan lagi. Mereka harus tetap mengontrol gaya hidup untuk selalu sehat, juga memantau faktor risiko yang bisa mennyebabkan serangan berulang.Mitos 9: Stroke Hanya Mempengaruhi Satu Sisi Tubuh Fakta Banyak desas desus berkata bahwa stroke hanya mempengaruhi satu sisi tubuh saja. Benarkah begitu?Tentu tidak. Meski pada gejala stroke ringan, umumnya hanya satu sisi tubuh saja yang tampak terpengaruh secara fisik. Akan tetapi, kondisi ini dapa mempengaruhi sisi tubuh yang lain, bergantung bagian otak mana yang terdampak.Selain itu, gejalanya pun tak hanya berkaitan dengan kelumpuhan sebagian tubuh saja. Melainkan mengurangi daya ingat, konsentrasi, hingga berpengaruh pada kondisi emosi dan psikologi penderita stroke.Mitos 10: Hanya Dokter yang Bisa Mendeteksi Gejala Stroke Fakta Terdapat satu lagi mitos tentang stroke, yakni hanya seorang dokter atau spesialis saja yang bisa mendeteksi gejala stroke. Padahal, sebaliknya gejala stroke bisa dengan jelas Anda simak dan ketahui dari kondisi tubuh Anda.Gejala awal stroke bahkan sangat jelas bagi orang awam sekalipun, seperti:Merasa kesulitan bicara, baik menjadi lebih lambat atau sulit memahami apa yang dikatakan seseorang.Merasa mati rasa atau kelemahan pada salah satu bagian tubuh.Terasa tubuh tak seimbang, sehingga sulit untuk berjalan sendiri dan tanpa bantuan alat.Kepala terasa pusing dan berputar.Mengalami gangguan penglihatan, seperti pandangan tiba-tiba menjadi buram dan gelap.Baca Juga: Sudah Tau Dampak dari Penyakit Stroke? Ini Penjelasannya!Ketika Anda merasakan gejala-gejala awal tersebut, penting untuk segera menghubungi dokter atau pergi ke klinik kesehatan terdekat demi mendapatkan pemeriksaan medis. Nah, Sobat Granostic, itu adalah penjelasan mengenai mitos dan fakta seputar penyakit stroke yang perlu Anda tahu. Sehingga, ketika ada kerabat atau orang terdekat yang mengalami hal serupa, Anda tidak mengambil langkah yang salah dan fatal.Selain bertindak cepat saat mengetahui adanya gejala stroke, Anda pun bisa mencegah serangan penyakit ini dengan rutin melakukan medical check up di Klinik Granostic.Sebab, kami memiliki teknologi tes kesehatan terlengkap dan mutakhir, sehingga menghasilkan pemeriksaan yang akurat. Selain itu, bersama dokter spesialis dan tenaga medis ahli Klinik Granostic, Anda akan mendapatkan pelayanan yang cepat, tanggap, dan berkualitas.Yuk, Sobat Granostic, lindungi diri dan keluarga Anda dari serangan penyakit stroke bersama Klinik Granostic!
Home Service
Loading
Toast Message