Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Edukasi Granostic

Yuk Cari Tau Bun! Panduan MPASI Bayi 7 Bulan
Seiring dengan pertambahan usia si Kecil, kebutuhan nutrisi yang diperlukan bayi pun akan bertambah. Begitu pula saat akan menyiapkan MPASI untuk bayi usia 7 bulan, yang baiknya Anda lakukan dengan mengikuti panduan yang tepat.Pada masa perkembangan, khususnya mulai dari usia 6–23 bulan, bayi memerlukan lebih banyak asupan nutrisi dan tak hanya bisa tercukupi dari ASI maupun susu formula saja. Karena itu, Makanan Pendamping ASI (MPASI) sangat direkomendasikan untuk orang tua berikan pada anak di periode ini.Dalam praktiknya, tahapan pemberian MPASI pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Orangtua harus bisa mengenali kesiapan si Kecil untuk menerima berbagai jenis makanan dan tekstur yang tepat berdasarkan usia maupun perkembangan fisik mereka.Khusus untuk pemberian MPASI pada bayi berusia 7 bulan, Anda dapat mengikuti panduan berikut ini!Pembiasaan Makan BayiLangkah pertama yang harus Anda lakukan adalah menerapkan pembiasaan makan yang tepat dan sehat pada bayi. Untuk menerapkannya, Anda bisa melakukan beberapa langkah di bawah ini:1. Kenali Isyarat BayiBerbeda dengan saat anak-anak berusia 6 bulan, yang baru memasuki awal pengenalan makanan semi padat. Ketika memasuki usia 7 bulan, si Kecil tentu sudah jauh berkembang dan mulai terbiasa dengan kebiasaan makan yang Anda ciptakan.Tentunya, di umur 7 bulan ini, si Kecil pun akan sedikit lebih luwes dalam meraih dan memegang makanan mereka, gerakan antara tangan serta mulut pun jadi lebih sinkron.Selain itu, pada usia ini, anak-anak juga dapat mengekspresikan rasa nyaman dan kesukaan mereka pada makanan tertentu dengan cukup baik. Sebagai orangtua, Anda tentu harus mengenali isyarat anak saat memilih menu MPASI yang mereka senangi dan tidak sukai.IDAI merekomendasikan untuk menerapkan responsive feeding. Dimana saat proses pemberian MPASI, tak hanya soal anak memakan makanannya, namun juga menjadi pembelajaran dan kasih sayang. Orangtua harus peka dengan Bahasa tubuh anak, juga mengenali bagaimana tanda lapar dan kenyang. Sebab, bukan orangtua yang menentukan cukup atau tidaknya makanan itu bagi pencernaan anak, melainkan oleh anak itu sendiri.2. Latihan MandiriPada usia 7 bulan ini, si Kecil tentu sudah cukup terbiasa dengan pola makan MPASI yang Anda terapkan sejak berumur 6 bulan. Karenanya, Anda bisa mencoba untuk melatih anak makan sendiri.Tak perlu langsung setiap saat, Anda bisa memulainya dengan memberi si Kecil camilan yang bisa dipegang dengan tangan mereka (finger food). Hal ini bisa dilakukan kalau si Kecil sudah pandai menggenggam dan memiliki sinkronisasi gerakan yang bagus antara tangan dan mulut mereka.3. Ciptakan Suasana PositifSelanjutnya, meski sering mengurang emosi, pemberian MPASI juga berguna untuk membantu meningkatkan hubungan antara orangtua dan anak. Karenanya, Anda harus mencoba terus bersabar dan selalu menciptakan suasana positif di waktu makan.Bahkan, Anda bisa membantu anak-anak jadi lebih nyaman dengan mengajak mereka sedikit mengobrol dan memperkenalkan menu yang Anda buatkan. Sehingga anak-anak akan selalu menantikan waktu makan yang menyenangkan tersebut bersama Anda.Jadwal Pemberian MPASIPada dasarnya dari frekuensi dan waktu pemberian MPASI untuk bayi 7 bulan ini, belumlah banyak berbeda dengan bayi usia 6 bulan. Nah, untuk mengatur jadwal pemberian MPASI bagi bayi 7 bulan, Moms bisa menyimak dua aspek berikut ini:1. Frekuensi MakanMelansir dari siaran pers Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), frekuensi makan yang ideal untuk bayi berusia 7 bulan adalah 2–3 kali makan besar dan diselingi 1–2 kali makan camilan per harinya. Frekuensi ini dapat Anda tingkatkan setelah kemampuan mengunyah dan menelan makanan pada bayi mengalami peningkatan, atau pada usia 10 bulan.2. Waktu MakanAnda dapat menerapkan waktu makan untuk bayi usia 7 bulan ini sesuai dengan arahan atau contoh yang diberikan oleh IDAI, yaknii:Pukul 06.00 - saat bayi baru bangun Anda bisa memberikannya ASI.Pukul 08.00 - Berikan makan pagi yang bisa dikombinasikan dengan MPASI dan ASI.Pukul 10.00 - Anda bisa memberikan makanan selingan atau snack pada si Kecil, dapat berupa buah, pudding, ataupun rebusan yang ringan di perut.Pukul 12.00 - Berikan makan siang Utama untuk anak, ajak untuk makan bersama keluarga.Pukul 14.00 - Berikan ASI sebagai selingan.Pukul 16.00 - Anda dapat memberikan makanan cemilan atau selingan yang ringan di perut si Kecil.Pukul 18.00 - Makan sore Bersama keluarga dengan menu MPASI yang lengkap.Pukul 21.00 - Berikan ASI pada si Kecil.Komposisi dan Bahan MPASI yang SesuaiSelain menerapkan waktu yang tepat dan frekuensi makan yang dianjurkan oleh IDAI. Anda pun perlu memperhatikan komposisi dan bahan MPASI yang sesuai dengan kebutuhan si Kecil, seperti:1. KarbohidratKarbohidrat dapat berfungsi sebagai sumber energi tubuh, yang sangat dibutuhkan oleh si Kecil untuk tumbuh kembangnya. Kandungan ini dapat diperoleh dari buah-buahan (karbohidrat sederhana), dan dari sayuran bertepung, biji-bijian, nasi, hingga gandum (karbohidrat kompleks).2. ProteinKomposisi gizi yang baiknya ada dalam MPASI selanjutnya adalah protein. Kandungan ini dapat membantu pembentukan antibodi, yang sangat penting mendukung sistem kekebalan tubuh si Kecil.Protein sendiri dapat diperoleh dari biji-bijian (protein nabati), serta dari daging, telur, daging ayam, hingga ikan (protein hewani).3. SayuranMoms juga perlu memastikan untuk menyajikan sayuran ke dalam MPASI si Kecil. Karena bahan pangan ini mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan si Kecil untuk bertumbuh kembang dengan baik, seperti vitamin, mineral, hingga cairan.4. Buah-buahanBuah-buahan mengandung banyak gizi penting seperti vitamin, mineral, bahkan karbohidrat sederhana yang sangat baik untuk perkembangan tubuh si Kecil. Selain itu, rasanya yang menyegarkan dan ringan pun akan mudah menarik perhatian anak saat Moms memberikan MPASI.5. Lemak SehatMenurut IDAI, bayi 6-11 bulan perlu mendapatkan asupan lemak sebanyak 35 gram per harinya. Anda bisa memberikan kandungan lemak tak jenuh dan jenuh sebagai tambahan komposisi MPASI.Contoh bahan pangan yang memiliki kandungan lemak jenuh dan tak jenuh adalah kacang kacangan, juga bahan hewani seperti daging dan ikan laut.Menu MPASI yang Sehat dan TepatMenentukan menu MPASI yang tepat dan menarik untuk anak memang agak tricky ya, Moms. Karena itu, Klinik Granostic akan membagikan inspirasi menu MPASI yang sehat dan tepat berikut ini:Pagi (08:00)Sebagai sarapan, Moms bisa memberikan MPASI dengan kandungan karbohidrat kompleks, yang dipadukan dengan kesegaran dan rasa manis dari buah-buahan. Contohnya, Moms bisa memasak bubur beras merah dengan puree pisang.Berikut Cara Membuatnya: Siapkan buah pisang matang secukupnya, kemudian lumat hingga lembut.Masak beras merah yang sudah disediakan hingga menjadi bubur.Campurkan keduanya hingga menjadi kombinasi bubur, tambahkan ASI dan susu formula bila MPASI tampak terlalu kental.Camilan (10:00)Setelah makanan utama, selang 2 jam Anda bisa memberikan camilan untuk mengganjal perut si Kecil. Anda bisa memberikan finger food, berupa potongan buah yang lembut dan mudah digigit oleh si Kecil. Contohnya buah pepaya atau alpukat yang sudah matang sempurna.Berikut Cara Menyiapkannya: Siapkan buah pepaya atau alpukat, kemudian bersihkan.Potong buah kecil-kecil sesuai kemampuan makan dan genggaman bayi.Siang (12:00)Sebagai makan siang, Anda bisa menyajikan makanan dengan gizi lengkap seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, hingga mineral dan vitamin dari sayuran. Sebagai inspirasi bubur kentang dengan pure ayam dan brokoli.Cara: Siapkan kentang, bersihkan dan potong kecil-kecil.Siapkan daging ayam, potong kecil-kecil.Bersihkan dan potong brokoli.Kukus ketiga bahan di atas sampai matang dan lembut, kemudian haluskan dan campur.Camilan (15:00)Sebagai camilan kedua setelah makan siang, Anda bisa menyiapkan makanan yang ringan dan menyegarkan. Misalnya yoghurt bayi atau biskuit bayi, dan pastikan keduanya tidak mengandung tambahan gula dan memang khusus dibuat untuk si kecil.Sore (18:00)Sebagai makan sore, Anda bisa menyajikan MPASI dengan hidangan yang juga berbeda dari makan siang untuk menambah pengalaman makan si Kecil. Anda bisa membuat nasi tim dengan daging cincang dan sayuran.Cara Menyiapkan Nasi Tim dengan Daging Cincang dan Sayuran:Siapkan beras merah secukupnya, Siapkan daging yang telah dincincang lembutSayur-sayuran seperti wortel dan bayam, potong halus untuk memudahkan proses memasak.Masak nasi tim dengan tambahan daging cincang halus dan sayuran yang telah disiapkan tersebut.Jangan Lupa Meminta Saran dan Konsultasi Ke DokterSaat membaca panduan menyiapkan menu MPASI si Kecil di atas, mungkin terdengar mudah. Namun dalam prakteknya, Moms dan Dads sangat mungkin untuk mengalami kesulitan.Karenanya, jangan lupa untuk meminta saran dan konsultasi bersama dokter di Klinik Granostic melalui layanan Baby Packages. Mengapa langkah ini perlu?1. Konsultasi BerkalaBerkunjung ke dokter anak sangatlah penting untuk mengonsultasikan kesehatan anak secara berkala, terlebih menyangkut pemenuhan gizi dan perkembangan tubuh si Kecil. Langkah ini juga sangat penting untuk mendeteksi dini jika terjadi kendala atau masalah pada perkembangan tubuh si Kecil.2. Pengenalan TeksturDokter anak pun akan memberikan arahan bagaimana cara yang tepat bagi Moms dan Dads untuk mengenalkan tekstur MPASI, yang juga dapat dipersonalisasikan sesuai dengan perkembangan fisik dan motorik anak Anda.3. Hindari Makanan BerisikoSeperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lewat pemeriksaan kesehatan rutin bersama dokter anak, si Kecil akan melalui prosedur medis sehingga dapat diketahui bagaimana kondisi fisik dan motoriknya. Dokter pun akan dapat melihat bagaimana reaksi tubuh si Kecil terhadap makanan-makanan tertentu, termasuk risiko adanya alergi dan makanan yang justru bisa mengganggu pertumbuhan anak.4. Pantau AlergiAlergi pada anak bisa dipicu oleh apa saja, termasuk makanan dan kebiasaan si Kecil. Karena itu, ketika rutin berkonsultasi dengan dokter di Klinik Granostic, Moms dan Dads dapat memantau perkembangan alergi pada si Kecil serta mencegahnya untuk kambuh.Nah, Moms, itu adalah penjelasan mengenai panduan MPASI untuk bayi 7 bulan yang perlu Anda tahu. Apakah artikel ini memberikan penjelasan yang Anda butuhkan?Perkara memilih menu yang sehat dan tepat bagi anak tak pernah mudah. Juga bukan suatu hal yang bisa diremehkan begitu saja. Karena itu, bila Anda masih merasa bingung dengan pemilihan menu, waktu dan jadwal pemberian MPASI, hingga tips penyimpanannya yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis ahli terkait.Apalagi di Klinik Granostic, Anda juga bisa melakukan konsultasi online lewat layanan Home Service. Anda akan tetap mendapatkan layanan terbaik dan profesional dengan dokter kami.Nggak percaya? Langsung coba klik tombol Home Service di bawah dan langsung konsultasikan kebingungan Anda soal MPASI anak bersama ahlinya.
Ini Loh New Mom! Panduan MPASI Bayi 6 Bulan
Makanan Pendamping ASI (MPASI) direkomendasikan untuk diberikan pada bayi ketika memasuki usia 6 bulan. Namun, pada praktek pengenalan awal MPASI untuk anak ini, sangat mungkin bila Moms akan mengalami kendala. Agar tak salah, Moms bisa mengikuti panduan MPASI bayi 6 bulan dalam artikel ini. Penasaran?Sebelumnya, Moms mungkin bertanya-tanya, mengapa begitu penting untuk memberikan makanan pendamping pada bayi? Mengingat mereka belum mahir mengunyah maupun belum bisa memakan dalam porsi yang besar. Apakah susu saja tidak cukup?Melansir dari berbagai jurnal kesehatan, saat memasuki usia 6 bulan si Kecil memerlukan gizi yang lebih banyak, yang tak dapat dicukupi hanya dengan ASI atau susu formula. Tak hanya pemenuhan gizi, MPASI juga berfungsi melatih kemampuan otot oromotor dan motorik pada bayi, serta mencegah masalah gizi pada si Kecil.Meski begitu, memulai memperkenalkan makanan pendamping pada anak bisa jadi cukup tricky di awal. Sebab tak sedikit juga kasus dimana anak-anak menolak MPASI yang diberikan oleh orang tua.Nah, di bawah ini, Klinik Granostic akan memberikan panduan MPASI untuk bayi 6 bulan yang bisa Moms praktekkan di rumah. Catat, ya, Moms!Pembiasaan Makan BayiPanduan pertama, mulailah melakukan pembiasaan makan pada si Kecil. Hal ini bisa jadi cukup sulit di awal, mengingat si Kecil terbiasa mengatasi rasa lapar mereka dengan susu formula atau ASI.Namun, Anda bisa melakukan beberapa langkah pembiasaan di bawah ini:1. Mulai Secara BertahapMulailah dengan memperkenalkan makanan secara bertahap pada si Kecil. Tak perlu langsung menyuguhkannya dalam porsi besar dengan ragam pilihan menu yang variatif. Moms, selalu bisa memulainya dengan porsi yang kecil sebanyak 2–3 sendok makan, juga dalam 2–3 kali sehari.Setelah itu, Moms bisa menaikkan porsi dan menetapkan frekuensi makan si Kecil secara bertahap sesuai dengan perkembangan makannya. Pastikan juga Moms tidak memaksakan si Kecil untuk menghabiskan seluruh MPASI tersebut, sebab akan menimbulkan trauma dan justru memicu Gerakan Tutup Mulut (GTM).2. Kenali Tanda-tanda KesiapanSelain umur, Moms juga perlu menyimak kesiapan si Kecil untuk menerima MPASI dari kemampuan motorik dan sensoriknya. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa si Kecil sudah siap untuk MPASI, yakni:Mampu menahan kepala dan lehernya dalam posisi tegak tanpa bantuan orang tua maupun sandaran.Si Kecil dapat duduk sendiri atau dengan sedikit bantuan saja.Refleks menjulurkan lidah juga semakin berkurang.Si Kecil tampak tertarik dengan makanan yang dikonsumsi oleh orang tua atau orang yang sedang dilihatnya.Si Kecil dapat meniru cara makan orang dewasa, serta memiliki koordinasi tangan dan mulut yang baik.Si Kecil tampak lebih mandiri dan antusias untuk belajar makan sendiri.3. Ciptakan Suasana NyamanAgar upaya pengenalan MPASI ini berjalan lancar, sangat penting untuk orang tua menciptakan suasana yang nyaman saat sedang makan. Karena ketika Anda membentuk suasana yang tak menyenangkan, anak-anak bisa salah mengartikan bahwa kegiatan makan menjadi suatu hal yang menakutkan.Jadwal Pemberian MPASIPerlu Moms dan Dads ketahui, bahwa menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG), jumlah energi total yang dibutuhkan oleh bayi berusia 6 bulan adalah sekitar 550 kilokalori (kkal) tiap harinya.Nah, karena itu, Anda bisa menerapkan jadwal MPASI yang ideal untuk memenuhi kebutuhan gizi dan energi anak dengan tepat. Seperti:1. Frekuensi AwalBerdasarkan panduan IDAI bayi 6 bulan, Anda dapat mempersiapkan MPASI sebanyak 2–3 sendok makan atau setengah mangkuk berukuran 250 ml. Porsi ini diselingi dengan 1–2 kali makan camilan.Sementara itu, frekuensi makanan Utama ini dapat dilakukan 3 kali sehari dan diselingi menyusu setiap 3–4 jam.2. Waktu MakanSementara untuk jadwal atau Waktu makan, Anda bisa menerapkan contoh yang diberikan oleh IDAI berikut ini:Mulai dari pukul 06.00: berikan ASI untuk si KecilPukul 08.00: Berikan MPASI yang lembut untuk sarapan si Kecil.Pukul 10.00: Anda dapat memberikan camilan atau makanan selingan untuk si Kecil.Pukul 12.00: MPASI untuk makan siang.Pukul 14.00: Kembali berikan ASI untuk si Kecil.Pukul 16.00: Berikan makanan selingan atau cemilan untuk si Kecil.Pukul 18.00: Anda bisa memberikan MPASI untuk makan malam si Kecil.Pukul 21.00: Berikan ASI untuk si Kecil. Komposisi dan Bahan MPASI yang SesuaiSelain membentuk kebiasaan dan jadwal makan, Anda juga perlu memperhatikan komposisi dan bahan makanan yang sesuai untuk MPASI. Berikut beberapa bahan yang wajib ada dalam menu si Kecil, loh Moms.1. KarbohidratMakanan berkarbohidrat kompleks juga sangat penting karena mengandung mineral dan vitamin, juga protein sebagai asupan harian si Kecil. Contoh makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks antara lain beras merah, buncis, lentil, kacang poloh, hingga olahan gandum utuh.2. ProteinProtein nabati dan hewani sangatlah baik untuk mendukung perkembangan serta pertumbuhan tubuh si Kecil. Protein hewani mengandung zat besi yang baik untuk cegah anemia, juga memiliki asam amino yang baik untuk otot dan tulang si Kecil.Sementara itu, protein nabati dapat melengkapi asupan protein si Kecil untuk mencegah stunting.Beberapa contoh sumber protein baik nabati maupun hewani misalnya daging, telur, ikan, keju, susu, hati ayam, juga kacang edamame, kedelai, alpukat, dan banyak lainnya.3. SayuranSelain itu, sayur-sayuran juga sangat penting untuk dimasukkan dalam komposisi MPASI si kecil. Sebab, bahan pangan ini mengandung banyak mineral dan vitamin yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh si Kecil.4. Buah-buahanBuah-buahan segar juga bisa Anda masukkan dalam jadwal MPASI, khususnya juga sebagai camilan. Bahan pangan ini dapat melengkapi kebutuhan vitamin, mineral, dan cairan dalam tubuh si Kecil.5. Lemak SehatDalam masa pertumbuhan, anak-anak perlu mendapatkan supan gizi yang cukup, termasuk lemak sehat. Sumber lemak sehat ini dapat diperoleh dari buah alpukat, coklat hitam, biji chia, minyak zaitun, hingga kacang-kacangan.Apa Saja Menu MPASI yang Tepat?Setelah menyimak komposisi MPASI di atas, apakah sudah terpikirkan oleh Moms menu seperti apa yang tepat untuk si Kecil? Kalau belum, langsung simak inspirasinya di bawah ini, ya!Hari 1-3: Pure Buah atau SayurDi hari pertama hingga ketiga di awal pengenalan MPASI pada si Kecil, Moms bisa memilih bahan makanan yang mudah dan ringan seperti buah dan sayur. Cara membuat puree sendiri sangatlah mudah, Moms. Anda hanya perlu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, mengukusnya ketika buah atau sayur tersebut memiliki tekstur yang padat dan keras, lalu menghaluskannya. Namun, untuk buah dengan tekstur yang lembek seperti pisang atau alpukat, Anda tidak perlu merebusnya dan cukup langsung melumatnya saja.Berikut ini resep pure buah pisang yang bisa Anda berikan untuk si Kecil:Bahan:Siapkan satu buah pisang yang berukuran kecil dan telah matang,Siapkan air, susu formula atau ASI untuk membantu mempermudah melumatkan pisang.Cara: Kupas dan potong-potong kecil pisang yang telah disiapkan.Hancurkan dan haluskan pisang menggunakan garpu, atau langsung menggunakan blender.Setelahnya tambahkan ASI, susu formula, atau air untuk membuat konsistensi puree sesuai keinginan. Sajikan pada si Kecil selagi masih segar.Hari 4-6: Tambahkan KarbohidratSetelah si Kecil sudah terbiasa dengan jadwal makan yang Anda berikan, maka sudah waktunya untuk menambah komposisi MPASI si Kecil, yakni menambahkan karbohidrat.Anda bisa menggunakan beras merah atau kentang dan menyajikannya sebagai bubur atau dengan cara ditumbuk halus.Berikut resep menu karbohidrat bubur nasi dan salmon yang bisa Anda coba di rumah:Bahan:Siapkan 60 gram nasiDua potong daging ikan salmon segar1 siung bawang putih, geprek dan cacah hingga sangat halusPerasan jeruk nipisSeledri secukupnya sajaCara Membuat: Lumuri ikan salmon yang telah disiapkan dengan air perasan jeruk nipis dan diamkan selama 10 menit.Setelahnya, kukus salmon bersamaan dengan bawang putih dan seledri selama 30 menit.Sambil menunggu salmon matang, lumat nasi sampai benar-benar halus. Anda dapat menambahkan air untuk membuat konsistensinya jadi lebih cair.Campurkan salmon yang matang ke dalam nasi yang telah dilumat.Bubur ikan salmon siap disajikan!Hari 7-9: Campuran Buah dan SayurSelain menggunakannya secara terpisah, kombinasi buah dan sayur pun bisa menjadi pilihan yang menarik sebagai puree. Tak hanya menawarkan kombinasi rasa yang unik, Moms juga bisa memilih buah-buahan dengan warna-warna menarik untuk menarik perhatian si Kecil.Sebagai inspirasi, Anda bisa membuat puree apel dan labu dengan panduan berikut ini:Bahan-bahan yang disiapkan:2 buah apel segar, yang sudah dikupas dan buang bijinya, serta potong kecil-kecil.1 labu kecil, kupas dan buang bijinya, serta potong kecil-kecil.Air untuk merebus buah apel dan labu.Cara:Rebus potongan apel dan labu hingga empuk, paling tidak selama 10–15 menit.Haluskan keduanya menggunakan garpu atau blender hingga tekstur benar-benar lembut.Campurkan apel dan labu yang sudah dihaluskan ke dalam wadah yang sama, jika puree tampak terlalu kental, Anda bisa menambahkan susu formula atau ASI untuk mengencerkannya.Puree siap untuk dihidangkan pada si Kecil! Hari 10-12: Tambahkan ProteinSetelah memasuki hari kesepuluh dan dua belas, Anda bisa menambahkan protein ke dalam komposisi MPASI si Kecil. Protein yang dipilih bisa berupa telur, ayam, ikan, atau daging.Misalnya, Anda bisa menyajikan puree brokoli, kentang dan ayam. Berikut cara membuatnya:Bahan yang disiapkan:1 buah kentang berukuran sedang atau secukupnya saja, kupas dan potong.1/2 cangkir brokoli yang segar, kemudian potong kecil-kecil.Sediakan 50 gram daging ayam tanpa kulit, kemudian cincang halus.Siapkan 1 siung bawang merah dan putih, cincang keduanya hingga halus.Air secukupnya dan minyak jagung/zaitun untuk menumis.Cara:Rebus potongan kentang yang sudah dicuci bersih hingga empuk.Sambil menunggu, Anda bisa memanaskan minyak zaitun/jagung di wajanKemudian masukkan cacahan bawang putih dan merah, tumis hingga tercium aroma sedapSetelah itu, tambahkan daging ayam dan ke dalam wajan, tumis hingga matang.Setelah kentang terasa empuk, tambahkan brokoli ke panci untuk merebusnya sampai lembut.Kalau sudah, Anda bisa meniriskan kentang dan brokoli, kemudian gunakan blender untuk menghaluskan keduanya.Tambahkan tumis cacahan ayam ke dalam puree kentang dan brokoli, aduk hingga merata.Hidangkan untuk si Kecil Ketika suhu puree sudah lebih dingin, ya, Moms.Hari 13-15: Campuran LengkapSelanjutnya, saat sudah memasuki hari ke-13 dan 15 MPASI, Anda bisa memberikan menu campuran yang lengkap. Dengan menggunakan kombinasi karbohidrat, protein, dan sayuran.Sebagai contoh, kita dapat membuat bubur telur dan hati ayam dengan resep sebagai berikut:Bahan:Siapkan nasi yang sudah matang sebanyak 60 gram 5 butir telur puyuh rebus, kupas kulitnya dan bersihkan terlebih dahulu15 gram hati ayam, cincang dengan halus15 gram buncis, cincang kecil-kecil7,5 ml minyak jagung yang digunakan untuk menumis bahan-bahan tersebut.Masing-masing 1 siung bawang merah dan putih, cacah hingga halus.Cara: Panaskan minyak jagung, kemudian tumis bawang merah dan putih hingga tercium bau harum.Setelahnya masukkan potongan telur puyuh rebus, hati ayam, dan buncis cincang ke dalam wajan dan tumis hingga matang.Setelahnya masukkan nasi dan tambahkan air secukupnya hingga Anda mendapatkan tekstur bubur yang ideal untuk si Kecil.Pastikan Bunda Juga Meminta Saran DokterNah, setelah mengintip inspirasi menu di atas, sudah siapkah Moms untuk menerapkan jadwal dan menu MPASI sehat untuk si Kecil?Jika masih merasa bingung, Moms juga bisa berkonsultasi dan meminta sarang langsung dari dokter anak. Kunjungi layanan kesehatan berkualitas seperti Klinik Granostic, yang menyajikan layanan Medical Check Up (MCU) menyeluruh dan profesional untuk si Kecil dalam layanan Baby Packages.1. Konsultasi AwalLakukan konsultasi awal bersama dokter anak untuk membicarakan bagaimana kondisi tubuh anak, termasuk pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam proses ini Moms dan Dad, juga bisa menanyakan atau mendiskusikan keresahan Anda terhadap tumbuh kembang anak.Dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kebiasaan anak, riwayat kesehatan, juga melakukan pemeriksaan fisik seperti menyimak berat dan panjang tubuh anak.2. Pengenalan BertahapSelanjutnya, dokter pun bisa memberikan saran mengenai pengenalan bertahap MPASI yang paling cocok untuk anak sesuai dengan kondisi tubuhnya. Anda dapat meminta arahan dokter untuk membentuk jadwal, pola frekuensi, dan seberapa besar porsi MPASI yang diberikan sesuai tahapan usia si Kecil.3. Pemantauan PertumbuhanDengan berkonsultasi bersama dokter anak secara rutin, Anda pun dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara langsung. Selain itu, Anda juga bisa melihat bagaimana efek pemberian MPASI yang tepat ini terhadap kesehatan si Kecil.Dokter dapat menyarankan menu makanan dan komposisi gizi yang bisa Anda kreasikan dalam MPASI si kecil untuk menunjang pertumbuhannya di masa mendatang.4. Mengatasi Masalah MakanIstilah Gerakan Tutup Mulut (GTM) bukanlah hal baru, dan bahkan begitu populer di kalangan orang tua. Masalah makan pada anak ini bukan satu-satunya dan bisa terjadi pada siapa saja.Karena itu, sangat penting untuk melakukan konsultasi dan cek kesehatan rutin ke dokter anak demi dapat mendeteksi dini adanya masalah pada kebiasaan makan si Kecil. Dengan begitu, dokter dapat memberikan saran perawatan dan penanganan yang tepat untuk Anda. 5. Edukasi NutrisiMoms, meski saat ini mencari informasi seputar tips perawatan si Kecil di internet sangatlah mudah, namun tak ada yang bisa menggantikan esensi berkonsultasi langsung dengan dokter anak.Ada banyak batasan informasi yang akan Anda temui ketika menggantungkan tips di Internet saja. Karena itu, perlu adanya pendampingan dari tenaga medis ahli untuk melihat bagaimana kondisi faktual dari si Kecil, sehingga Anda dapat memperoleh analisis yang lebih akurat dan tepat sasaran.Dokter pun dapat memberikan edukasi seputar nutrisi dan gizi penting untuk anak, sesuai dengan kebutuhan dan hasil pemeriksaan kesehatan buah hati Anda. Yap, secara eksklusif!Apalagi konsultasi bersama dokter di Klinik Granostic sendiri sangatlah mudah. Anda dapat mengatur janji temu secara online dengan klik tombol Home Service.Yuk, Moms & Dads, selalu jaga dan kawal pertumbuhan si Kecil bersama dokter dan tenaga medis ahli lainnya di Klinik Granostic!
Yuk Konsultasi Gizi MPASI Bayi Surabaya di Granostic
Kehadiran Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi sangatlah penting. Karenanya, Anda perlu melakukan konsultasi gizi MPASI untuk bayi bersama dokter anak di klinik terpercaya, seperti Granostic.Sejak memasuki usia 6 bulan, Moms sudah diperkenankan dan dianjurkan untuk mengenalkan si Kecil dengan makanan pendampin. Sebab, dalam rentang usia tersebut, kebutuhan nutrisi si Kecil tak lagi dapat terpenuhi dari susu formula atau ASI saja.Meski begitu, Moms pun perlu memperhatikan bagaimana cara pemberian MPASI yang tepat, pemilihan komposisi bahan dan menu yang sehat, serta pengolahan dan penyimpanannya.Tak jarang karena membutuhkan perhatian yang besar, hal ini bisa membuat orang tua sedikit overwhelming. Nah, untuk itu Anda bisa melakukan konsultasi gizi MPASI untuk bayi bersama tenaga medis ahli di Klinik Granostic.Seperti apa prosedurnya? Langsung simak ulasannya di bawah ini, ya, Moms!Konsultasi Gizi MPASI di GranosticDengan konsultasi gizi MPASI di Granostic, Moms dapat mendiskusikan kondisi anak dan kesiapan mereka untuk mendapatkan makanan pendamping. Juga dapat mengonsultasikan masalah makan atau gizi, rekomendasi menu MPASI, hingga edukasi lanjutan untuk para orang tua.Untuk penjelasan lengkapnya, Moms bisa menyimak ulasan di bawah ini:1. Konsultasi PersonalKonsultasi personal ini meliputi pemeriksaan kondisi tubuh si Kecil terkait kesiapan mereka untuk mendapatkan MPASI, panduan pemberian MPASI yang tepat sesuai kebutuhan, juga pemantauan nutrisi si Kecil.Penilaian Kesiapan MPASISetiap bayi tentu memiliki kondisi tubuh dan perkembangan yang berbeda-beda, karenanya pemeriksaan fisik yang dilakukan dapat membantu melihat seberapa besar kesiapan MPASI si Kecil.Secara umum, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan ciri-ciri fisik si Kecil sudah bisa diperkenalkan MPASI antara lain:Bayi sudah mampu duduk dengan leher tegak dan mengangkat kepalanya sendiri, atau tanpa bantuan Anak juga sudah menunjukkan ketertarikan terhadap makanan di depannya, misalnya dengan mencoba meraih, membuka mulutnya, dan sejenisnyaSerta anak menjadi lebih lapar, serta menunjukkan tanda lapar, meskipun Moms sudah memberikan ASI secara rutin.Panduan Pemberian MPASISetelah mengetahui bagaimana kesiapan si Kecil, dokter akan memberikan panduan memberikan MPASI yang paling sesuai dengan kondisi anak Anda. Misalnya dengan pemilihan tekstur MPASI yang tepat, serta cara-cara yang dipersonalisasikan dengan kebutuhan si Kecil.Pemantauan NutrisiKetika melalui proses pemeriksaan kesehatan langsung bersama dokter kami, Anda dapat memperoleh laporan perkembangan anak dan kondisi medisnya. Hal ini akan membantu Anda untuk menentukan menu MPASI yang tepat sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak.Selain itu, konsultasi yang dilakukan secara berkala pun akan membantu memantau bagaimana MPASI yang Moms berikan bisa berdampak secara spesifik pada tumbuh kembang si Kecil.2. Rekomendasi Makanan dan ResepNah, selain memeriksa kondisi personal si Kecil, bersama dokter Anda bisa meminta rekomendasi makanan dan resep MPASI yang sehat, loh.Makanan SeimbangKebutuhan nutrisi dan energi si Kecil akan terus bertambah seiring dengan perkembangan fisik dan usia mereka. Hal ini juga bisa sangat berbeda pada tiap bayi, karena pertumbuhan dan kondisi fisik antar anak juga tidak sama.Karenanya, dengan konsultasi gizi bersama dokter dan lewat paket Medical Check Up (MCU) untuk bayi di Granostic, Anda dapat meninjau bagaimana kebutuhan nutrisi anak. Dokter pun dapat merekomendasikan makanan dengan gizi seimbang sesuai kebutuhan si Kecil agar pertumbuhan dan perkembangannya kian optimal.Resep MPASIAnda mungkin sudah paham apa saja bahan-bahan yang boleh dan tak boleh digunakan untuk meramu MPASI si Kecil, tapi bagaimana dengan resepnya?Nah, bersama dengan dokter Klinik Granostic, Anda bisa mendiskusikan pilihan menu dan resep MPASI yang cocok untuk si Kecil. Anda juga bisa merangkum resep dari Internet kemudian mendiskusikannya dengan dokter, melihat apakah informasi yang didapat tersebut dapat diikuti dan dokter bisa memberikan masukan sesuai dengan kondisi si Kecil.3. Solusi Masalah MakanPeriode MPASI sendiri sangatlah penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak, yang juga esensial bagi perkembangan dan pertumbuhannya. Sayangnya, tak sedikit kasus dimana anak-anak menunjukkan masalah makan, yang membuat orangtua resah.Misalnya menolak untuk makan MPASI, hanya ingin makan jenis makanan tertentu saja, atau terdapat ciri alergi dan intoleransi terhadap bahan pangan tertentu.Mengatasi Penolakan MakananMoms, pasti sudah sering mendengar atau bahkan mengalami masalah penolakan makan pada anak. Masalah ini juga sering disebut dengan Gerakan Tutup Mulut (GTM), yang disebabkan oleh banyak hal, misalnya:Si kecil belum terbiasa dengan makanan lain selain ASI atau susu formula.Si Kecil belum menunjukkan kesiapan untuk mulai menerima MPASITidak suka dengan tekstur atau rasa makanan yang disajikanTidak nyaman dengan lingkungan atau suasana saat makanTerdapat masalah kesehatan tertentu pada si KecilMasalah penolakan makan ini bisa jadi masalah besar bila tidak diatasi dengan baik. Misalnya terjadinya malnutrisi, kekurangan berat badan, hingga stunting.Hal inilah yang menjadikan konsultasi teratur dengan dokter anak begitu penting. Anda dapat mendeteksi penyebab anak menolak untuk makan dan mendapatkan arahan langsung dari spesialis untuk menangani masalah tersebut dengan efektif.Identifikasi Alergi atau IntoleransiDengan pemeriksaan medis yang lengkap dan berkala, Anda juga bisa mendeteksi dini adanya alergi atau intoleransi makanan pada anak. Dengan demikian, Anda bisa menghindari menggunakan bahan-bahan alergen yang bisa memicu gejala-gejala pada si Kecil.4. Edukasi dan Dukungan untuk Orang TuaTak hanya untuk si Kecil, MPASI sendiri sangatlah penting bagi orang tua. Khususnya dalam menjalin hubungan emosi yang lebih kuat dengan sang anak. Karenanya sangat disarankan untuk Moms dan Dads saling mendukung serta membantu dalam program MPASI ini.Berkonsultasi dengan dokter anak juga akan membantu memberikan edukasi seputar gizi dan MPASI untuk bayi. Serta dapat menjadi dukungan orang tua untuk mengambil langkah yang tepat, memilih perawatan dan penanganan yang tepat bagi si Kecil.Panduan dan Tim Dokter di GranosticNah, Moms dan Dads setelah menyimak bagaimana urgensi untuk melakukan konsultasi rutin bersama dokter anak di atas, Anda pasti setuju bahwa tindakan ini perlu dilakukan.Klinik Granostic hadir dengan layanan terbaik dan terlengkap, yang akan memenuhi kebutuhan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan si Kecil. Kami memiliki Baby Packages yang cocok untuk bunda yang ingin mengetahui detail kesehatan hingga konsultasi dengan tim Ahli Granostic.Prosedur pemeriksaan kesehatannya juga sangat efisien, Anda dapat langsung mengunjungi klinik kami dan mendaftar. Kemudian Anda akan diarahkan untuk bertemu dokter dan melakukan pemeriksaan yang direkomendasikan.Selain itu, pemeriksaan kesehatan dan konsultasi ini pun akan ditangani oleh tenaga medis profesional. Sehingga pemeriksaan kesehatan si Kecil akan dapat dilakukan secara menyeluruh, meliputi:pemeriksaan fisik anak secara lengkap, dari ujung kepala hingga kaki,memeriksa tanda-tanda vital pada si Kecil,memeriksa dan memberikan imunisasi sesuai kebutuhan si Kecil,pemeriksaan pendengaran dan penglihatan, hingga pemeriksaan laboratorium.Lewat pemeriksaan lengkap ini, dokter akan menarik simpulan mengenai kesiapan si Kecil akan MPASI dan menu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Dokter pun bisa memberikan arahan yang dipersonalisasikan untuk membantu mengoptimalisasi perkembangan dan pertumbuhan si Kecil.Nah, Moms dan Dads, lebih baik lagi bahwa klinik Granostic juga menawarkan layanan konsultasi jarak jauh, yakni Home Service. Layanan ini akan memudahkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter anak kami dari mana saja dan kapan saja Anda membutuhkannya.Bagaimana, Parents? Jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan dan konsultasi kebutuhan gizi MPASI si Kecil di Klinik Granostic, ya!
Yuk Bunda! Mengenal Tahapan Tekstur MPASI Untuk Si Kecil
Makanan Pendamping ASI (MPASI) sangatlah penting untuk pertumbuhan si Kecil, yang baiknya diberikan sejak bayi berusia 6 bulan. Namun, tahukah Moms kalau ada tahapan tekstur MPASI untuk si Kecil?Saat memasuki usia 6 bulan, kebutuhan nutrisi si Kecil sudah tak bisa dipenuhi hanya dari ASI atau susu formula saja, Moms. Melainkan, Anda sudah perlu memperkenalkan makanan padat atau pendamping ASI.Lewat MPASI juga Anda bisa memperkenalkan berbagai jenis makanan sehat pada anak seperti ikan, daging, telur, ayam, sayur, dan buah-buahan. Selain itu, Anda juga bisa menerapkan pola makan yang tepat dengan mengatur jadwal makan yang konsisten.Akan tetapi, dalam pemberian MPASI ini juga tak boleh sembarangan. Misalnya pada tahap awal pengenalan, pastikan untuk memberikan MPASI dengan tekstur yang mudah dikonsumsi oleh anak. Nah, dalam artikel kali ini, Klinik Granostic akan membagikan apa saja tahapan tekstur MPASI yang perlu Moms ketahui. Catat ya, Moms!Tahapan Tekstur MPASIPada dasarnya, pemberian MPASI ini tak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi si Kecil, melainkan juga untuk melatih mereka untuk mengunyah dan menelan makanan.  Bahkan, Moms bisa menstimulasi si Kecil untuk bicara dan mengekspresikan emosi mereka lewat kegiatan pemberian MPASI ini, loh.Adapun 4 tahapan tekstur MPASI bayi menurut usianya yang harus Anda tahu, antara lain:1. Tahap 1: Tekstur Halus (6-8 Bulan)Dikategorikan juga sebagai tahap awal MPASI, bayi yang baru berusia 6 bulan idealnya diberikan makanan dengan tekstur yang lembut seperti bubur halus maupun kental (puree). Sebab, pada usia ini si Kecil masih beradaptasi dan lebih rentan tersedak karena belum mampu mengeluarkan zat asing yang menyumbat saluran pernapasan mereka.Nah, membuat bubur lembut dan kental ini tidaklah sulit, Moms. Langsung simak beberapa langkah berikut ini, ya Moms:Pilih resep yang edible dan bergizi tinggi untuk si Kecil, misalnya resep dengan menggunakan daging ikan, daging ayam, maupun yang kaya sayur-sayuran dan protein nabati.Pastikan untuk membersihkan semua bahan dan peralatan masak yang Moms gunakan demi menjaga sanitasi MPASI.Masak sesuai resep, setelah matang Anda bisa menghaluskannya menggunakan blender.Saring kembali untuk mendapatkan tekstur yang lebih lembut sehingga lebih mudah dicerna oleh si Kecil.Pada usia 6-8 bulan, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) si Kecil membutuhkan 600 kalori tiap harinya. Dengan rincian, 400 kalori dari ASI Moms dan 200 kalori dari MPASI yang diberikan.Karenanya, Moms bisa memberikan MPASI ini juga dengan porsi yang cukup, yakni sebanyak 2–3 sendok MPASI dengan gizi yang lengkap dan makan sebanyak 2 kali sehari.2. Tahap 2: Tekstur Lembut Berbutir (8-10 Bulan)Saat memasuki usia 8–10 bulan, si Kecil sudah diperbolehkan untuk mencoba MPASI dengan tekstur yang lebih padat atau lembut berbutir. Dalam hal ini, Moms hanya perlu menghaluskan atau melumat makanan sekali. Serta tidak perlu lagi untuk menyaringnya setelah di-blender.Pada tahap 2 ini, si Kecil juga akan belajar untuk mengunyah dan menelan makanan dengan tekstur yang sedikit berbutir.Menu yang bisa disiapkan untuk si Kecil pada tahap tekstur MPASI kedua ini juga bisa berupa mashed potato (kentang tumbuk), yang bisa Anda kombinasikan dengan bahan makanan lain seperti labu, daging ikan, daging ayam, dan banyak lainnya.Selain peningkatan tekstur, porsi makan si Kecil juga bisa Anda tingkatkan dalam periode ini. Masih tetap dengan 2–3 sendok per makan, namun dengan pola 3 kali sehari, Moms.3. Tahap 3: Tekstur Kasar (10-12 Bulan)Pada tahap tekstur MPASI ketiga, Anda bisa memberikan makanan dengan tekstur yang lebih kasar seperti cincang halus (minced), cincang kasar (chopped), dan makanan yang dapat digenggam oleh si Kecil (finger foods).Lewat memberikan tekstur yang lebih kasar ini, Moms bisa membantu si Kecil untuk beradaptasi dengan jenis makanan baru dan mendorong kemahiran mereka dalam mengunyah serta menelan makanan.Moms bisa memilih makanan dengan gizi yang sangat penting untuk pertumbuhan si Kecil. Misalnya:Menu dengan kandungan protein tinggi, seperti daging sapi, ayam, telur, ikan tanpa tulang yang dipotong atau cincang kecil-kecil.Makanan dengan tinggi zat besi, seperti hati sapi, daging merah, bayam, kalkun, bebek, udang, yang juga dicincang halus.Menu yang tinggi DHA dan omega-3, yang bisa didapat dari berbagai jenis ikan laut, buah-buahan seperti alpukat, dan sayuran hijau.Menu yang kaya akan karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, kentang, ubi dan jagung yang juga perlu dibuat dengan tekstur yang mudah digigit dan dikunyah oleh anak.Makanan sumber serat, seperti berbagai jenis buah-buahan dan sayuran.Pada tahap tekstur MPASI ketiga ini, Moms bisa mengatur jadwal makan si Kecil sebanyak 3–4 kali sehari, dengan porsi sebanyak setengah mangkuk berukuran 250 ml.4. Tahap 4: Makanan Keluarga (12 Bulan Ke Atas)Saat si Kecil memasuki usia 12 bulan ke atas, Moms tidak perlu terlalu memusingkan tekstur MPASI. Sebab, di usia ini si Kecil sudah dapat beradaptasi dan menerima segala macam bentuk makanan. Jadi meski terkadang kemampuannya belum sempurna, Moms bisa memberikan menu keluarga untuk si Kecil dengan jadwal makan 3–4 kali sehari.Selain makanan utama, Moms juga bisa memberikan cemilan sehat sebagai selingan di antara jam makan, yakni sebanyak 1–2 kali sehari. Contoh cemilan sehat yang dimaksud bisa berupa rebusan, roti, pancake, buah-buahan, ataupun puding.Tips untuk Setiap Tahap Pengenalan MPASIMeski tampaknya mudah, dalam prakteknya memberikan MPASI bisa sangat menguras tenaga, loh, Moms. Apalagi kalau si Kecil menolak memakan MPASI yang Moms berikan secara terus menerus.Untuk itu, Moms bisa menerapkan beberapa tips untuk tiap tahap pengenalan MPASI berikut ini, ya!1. Kenalkan Makanan Baru Secara BertahapTips pertama selalu lakukan pemberian MPASI ini secara bertahap, baik menu makanan yang dipilih maupun teksturnya. Sebab, pertumbuhan si Kecil dari waktu ke waktu tentu sangatlah berbeda, Moms harus menyesuaikan jenis dan tekstur MPASI ini untuk memudahkan si Kecil menikmati hidangannya.2. Variasi MakananMoms sangat direkomendasikan untuk kreatif dalam menciptakan menu-menu makanan MPASI. Tak hanya mengenalkan rasa baru pada anak, ketika dapat menghidangkan makanan dengan warna-warna mencolok dan rasa yang menggugah, maka si Kecil akan lebih tertarik untuk selalu mencoba MPASI yang Moms hidangkan.3. Tekstur BertahapSeperti yang telah kita singgung sebelumnya, bahwa sangat penting untuk memberikan MPASI dengan tekstur yang tepat sesuai dengan kemampuan fisik si Kecil.Anda sangat tidak disarankan untuk memberikan MPASI kasar pada bayi berusia 6 bulan karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengeluarkan benda asing yang menyumbat saluran pernapasan. Sehingga si Kecil akan rawan tersedak.Sebaiknya lakukan secara bertahap, dengan memulainya lewat MPASI bertekstur super lembut seperti bubur halus atau puree. Kemudian tingkatkan seiring dengan peningkatan kemampuan si Kecil dalam mengunyah dan menelan makanan mereka.4. Higienitas Untuk Peralatan Makan dan Bahan MakananSelalu pastikan bahwa bahan makanan dan alat-alat yang Anda gunakan untuk masak serta menyajikan MPASI dalam keadaan benar-benar bersih. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri, virus, atau jamur yang bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada si Kecil.Apa Saja Komposisi dan Bahan MPASI yang Sesuai?Agar dapat memberikan manfaat yang optimal pada pertumbuhan dan perkembangan si Kecil, orang tua perlu memperhatikan apa saja komposisi dan bahan MPASI yang tepat. Berikut penjelasannya, Moms!1. KarbohidratKomposisi MPASI yang perlu ada adalah karbohidrat kompleks, sebagai sumber energi si Kecil. Anda dapat memilih sumber karbohidrat kompleks yang sehat dan mudah dicerna oleh si Kecil seperti pasta gandum, beras merah, sereal gandum utuh, lentil, kacang polong, buncis, hingga roti gandum.2. ProteinSelanjutnya, Anda pun perlu memasukkan makanan kaya protein dalam komposisi MPASI si Kecil. Beberapa bahan makanan yang bisa jadi pilihan sumber protein misalnya telur, ayam, ikan, daging, dan biji-bijian yang mengandung protein nabati.3. SayuranSayuran juga wajib masuk dalam komposisi MPASI si Kecil, loh, Moms. Sebab bahan pangan ini sangat kaya akan mineral, vitamin, dan zat besi yang diperlukan untuk tumbuh kembang si Kecil.4. Buah-buahanTak kalah dengan sayuran, buah-buahan juga sangat dikenal karena kandungan vitaminnya yang tinggi. Juga kaya akan antioksidan, kandungan air yang tinggi, serta micronutrient lain yang bisa membantu menjaga daya tahan tubuh si Kecil dan memaksimalkan pertumbuhan mereka.5. Lemak SehatSebagai sumber energi, Anda juga bisa memasukkan makanan dengan lemak sehat ke dalam komposisi MPASI si Kecil. Contoh bahan pangan yang memiliki lemak sehat misalnya buah alpukat, ikan salmon, daging, biji rami, minyak kanola, yourt, minyak zaitun, susu murni, dan sejenisnya.Jika Bunda Bingung, Konsultasi Gizi Ke AhlinyaMeski dapat menemukan petunjuk pemberian MPASI dengan mudah di Internet, tak jarang banyak yang masih kesulitan dan tak yakin bagaimana cara memberikan MPASI yang tepat untuk si Kecil.Nah, untuk menjawab persoalan ini, Moms bisa langsung melakukan konsultasi gizi ke dokter di layanan Baby Package, seperti Klinik Granostik.Bersama tenaga kesehatan Klinik Granostic, Moms bisa mendapatkan layanan terkait tumbuh kembang si Kecil secara lengkap, seperti:1. Panduan NutrisiMemperoleh panduan nutrisi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan perkembangan tubuh si Kecil. Sebab, setiap proses konsultasi, dokter akan melakukan pemeriksaan kesehatan si Kecil secara menyeluruh.Lewat pemeriksaan tersebut, dokter akan dapat menyimak bagaimana kondisi perkembangan si Kecil, kemudian nutrisi apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhannya di masa mendatang.Sehingga, Moms akan memperoleh panduan nutrisi yang dapat disesuaikan langsung dengan kebutuhan anak. Serta dapat menyiapkan makanan-makanan dengan gizi yang pas dan spesifik untuk mendorong pertumbuhan si Kecil. Dengan layanan ini, Moms akan lebih mengenal banyak informasi melalui Konsultasi Gizi Bayi Granostic.2. Pemantauan Pertumbuhan BayiSelanjutnya, lewat berkonsultasi dengan dokter, Moms juga dapat memantau pertumbuhan bayi langsung bersama ahlinya. Pemantauan yang dilakukan dengan rutin dari waktu ke waktu, akan menunjukkan apakah pemberian MPASI menunjukkan efek yang maksimal ataukah terjadi kendala tertentu pada pertumbuhan si Kecil. Sehingga dokter pun bisa menyarankan langkah-langkah yang efektif untuk mencegah masalah pertumbuhan ini kian buruk.3. Identifikasi Masalah Alergi atau Intoleransi MakananBerkonsultasi dengan dokter anak juga memungkinkan untuk Anda mengidentifikasi masalah alergi atau intoleransi makanan terhadap anak. Sehingga, Anda bisa berhati-hati dalam memberikan makanan tertentu pada si Kecil di masa mendatang.4. Edukasi Lebih Orang TuaBelajar dari internet saja tentu tidak akan cukup. Anda perlu berdiskusi langsung bersama ahlinya untuk meningkatkan pengetahuan Anda soal MPASI yang tepat untuk si Kecil. Apalagi dengan berkonsultasi, Anda dapat menanyakan dan memvalidasi setiap keraguan Anda soal MPASI langsung bersama dokter. Menyesuaikan jadwal makan, pola, serta menu-menu yang tepat dan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan anak Anda. Di Internet, Anda hanya akan menemukan panduan yang bersifat umum. Padahal anak-anak memiliki keadaan dan perkembangan yang sangat berbeda satu sama lain. Karenanya, konsultasi bersama dokter ini akan membantu mempersonalisasi informasi MPASI sesuai kondisi anak Anda.Kabar baiknya, Klinik Granostic pun menawarkan layanan Home Service yang akan memudahkan Anda untuk berkonsultasi jarak jauh, serta kapanpun Anda mau.Namun, kami tetap merekomendasikan untuk berkunjung langsung di klinik untuk pemeriksaan awal. Yuk, mulai rutin mengonsultasikan dan memeriksakan tumbuh kembang si Kecil lewat paket Medical Check Up (MCU) for Babies di Klinik Granostic sekarang juga!
MPASI Mulai Usia Berapa? Ketahui Detailnya Ya Bunda
Hi, Moms! Memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) memang sangat direkomendasikan untuk menunjang kebutuhan nutrisi dan gizi si Kecil. Namun tahukah Anda, sejak usia berapa sih MPASI ini baiknya mulai diberikan? Seiring dengan tumbuh kembang si Kecil, tentu kebutuhan gizi dan nutrisi tubuh mereka pun akan berubah. Bahkan, periode pemberian MPASI termasuk masa yang penting dalam 1000 hari pertama kehidupan seorang anak.Sebab di momen ini pula, si Kecil mulai belajar untuk makan, mengenal apa itu rasa lapar dan kenyang, serta mulai menjelajah rasa dan tekstur makanan baru. Terlebih jika Moms memberikan komposisi MPASI yang tepat, maka akan sangat menunjang pertumbuhan dan perkembangan si Kecil agar kian optimal, loh.Nah, salah satu aspek yang perlu Moms perhatikan ketika memberikan MPASI pada si Kecil adalah waktu. Kira-kira Moms tahu nggak, mulai usia berapa MPASI baiknya diberikan pada si Kecil?Agar tak salah, langsung simak penjelasannya di bawah ini, ya, Moms!Idealnya MPASI Mulai Usia Berapa?Menurut World Health Organization (WHO), MPASI sebaiknya mulai diberikan setelah bayi memasuki usia 6 bulan. Mengapa demikian?Asupan nutrisi dari MPASI akan sangat dibutuhkan oleh anak untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh mereka. Pada usia ini pula, sistem pencernaan nak kan mulai berkembang dengan lebih baik. Sehingga si Kecil dapat mencerna, mengolah, dan juga menyerap nutrisi dari bahan makanan lain selain ASI, Moms.Selain itu, Anda juga bisa untuk meningkatkan variasi menu dan tekstur MPASI yang dapat dilakukan secara bertahap. Pertambahan ini dapat Anda lakukan dengan pertambahan usia si Kecil.Pemberian secara bertahap ini dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi, serta kemampuan si Kecil dalam mengunyah makanan.Indikator Sensorik dan MotorikSelain menilik dari usia bayi, Anda juga bisa mulai mempertimbangkan indicator sensorik dan motoric untuk menilai kesiapan si Kecil untuk menerima MPASI.Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut ini beberapa indikator yang menunjukkan bayi siap MPASI. Apa saja?1. Kontrol KepalaSalah satu tanda si Kecil sudah siap untuk mulai diberi MPASI adalah saat mereka bisa menahan dan mengontrol kepalanya dalam posisi tegak sendiri. Tak hanya mampu menahan kepalanya, si Kecil juga dapat menjaga agar lehernya tetap tegak tanpa harus dibantu dengan sandaran atau sanggahan. Hal ini menunjukkan bahwa si Kecil dapat menjaga keseimbangan tubuhnya saat makan. 2. Duduk dengan Sedikit atau Tanpa BantuanSelain menjaga kepala dan leher tetap tegak, si Kecil yang sudah mampu duduk dengan sedikit atau tanpa bantuan juga menunjukkan kesiapan untuk MPASI, loh Moms. Bahkan akan lebih baik lagi, bila si Kecil sudah bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya ketika berusaha menjangkau atau meraih sesuatu.3. Kehilangan Refleks EkstrusiSi Kecil umumnya memiliki kemampuan untuk menghisap dan menjulurkan lidahnya selama fase menyusui ASI eksklusif, yang disebut refleks ekstrusi. Sehingga memudahkan si Kecil saat menyusu Moms.Akan tetapi, refleks ekstrusi akan kian berkurang Ketika bayi memasuki usia 6 bulan. Karenanya, pada usia inilah idealnya Anda bisa pelan-pelan memperkenalkan makanan pendamping untuk si Kecil.4. Ketertarikan pada MakananSaat si Kecil sudah menunjukkan ketertarikan pada makanan tertentu, ini juga bisa menandakan bahwa Moms bisa mulai memberikan MPASI padanya. Bahkan, kadang-kadang si Kecil bisa sangat aktif menunjukkan rasa tertariknya pada makanan ini dengan meraih makanan yang Anda dan pasangan makan. Contoh lainnya, ketika mereka membuka mulut saat Anda menyodorkan sendok atau ketika menyuapi makanan ke mulutnya, atau mencondongkan tubuh mereka untuk meminta makanan.5. Keterampilan MengunyahKesiapan si Kecil untuk menerima MPASI ini juga dapat dilihat dari kemampuan mereka dalam mengunyah makanan. Jika diasosiasikan dengan pertumbuhan gigi, maka seharusnya si Kecil sudah dapat mengunyah makanan mereka ketika berusia 7–9 bulan.Meski begitu, Moms juga perlu memperhatikan tekstur MPASI yang pas untuk si Kecil, karena mereka belum bisa mengunyah makanan dengan sempurna. Untuk bayi berusia 6 bulan, baiknya berikan MPASI yang lembek seperti bubur halus dan kental. Selanjutnya Anda dapat meningkatkan tekstur makanan pendamping ASI ini seiring dengan pertumbuhan dan pertambahan usia si Kecil, ya, Moms.Nah, setelah menyimak indikator motorik dan sensorik bayi yang siap MPASI di atas, kira-kira si Kecil apakah sudah memenuhi kriteria tersebut, Moms?Bagaimana Jika Bayi Menolak MPASI?Dikatakan bahwa masa MPASI ini harus juga dinikmati para orang tua, karena di momen inilah mereka bisa mempererat ikatan batin dengan sang anak. Bukannya tanpa alasan, karena kegiatan memberikan MPASI ini bisa memberikan tantangan tersendiri, loh, Moms. Misalnya ketika bayi menolak MPASI yang diberikan. Lantas bagaimana cara menanganinya? Simak penjelasannya di bawah ini, ya!1. Cobalah Berulang KaliIngat pepatah usaha tidak akan mengkhianati hasil, Moms? Yap, Anda harus menerapkan semangat ini Ketika memperkenalkan MPASI pada bayi untuk pertama kalinya.Karena prosesnya tidak selalu mulus dan si Kecil pun pasti pernah melakukan penolakan. Namun, peran Moms sebagai orang tua pun sangatlah penting untuk membentuk kemampuan dan kebiasaan makan si Kecil nantinya.Karenanya, saat bayi menolak Anda jangan menyerah. Anda bisa beristirahat sejenak, setelah Anda dan si Kecil lebih rileks, baru cobalah kembali untuk memberikan MPASI padanya.2. Perkenalkan Berbagai Tekstur dan RasaAgar menarik minat si Kecil terhadap MPASI yang diberikan, Anda bisa memperkenalkan berbagai tekstur dan rasa makanan. Tak hanya mencegah rasa bosan, cara ini juga sangat efektif untuk membuat anak-anak mau berkenalan dengan berbagai macam rasa makanan yang Anda berikan.Anda bisa mengkreasikan bumbu dan bahan yang menarik, untuk menciptakan MPASI yang sedap dan menarik bagi si Kecil. Bunda bisa mempelajari Mengenal Tahapan Tekstur MPASI agar si Kecil lebih doyan makan.3. Waktu Pemberian yang TepatSelanjutnya, Anda juga perlu memperhatikan waktu pemberian MPASI yang tepat. Misalnya Anda dapat menghindari memberikan MPASI dengan jarak yang terlalu dekat dengan waktu minum susu. Karena sangat wajar kalau anak menolak MPASI, karena perutnya masih terisi.Baiknya berikan Jarak minimal 2–3 jam sehingga susu yang diminum dapat dicerna dengan baik, dan perut bayi kembali kosong.Begitu pula, baiknya jangan menjadwalkan waktu makan terlalu dekat dengan jadwal tidur si Kecil. Juga hindari mengisi waktu makan dengan memberi si Kecil susu, ya, Moms.4. Konsistensi dan KesabaranNah, yang lebih penting Anda harus tetap konsisten dan sabar untuk memberikan si Kecil MPASI. Pastikan untuk selalu memberikan MPASI sesuai dengan jadwal yang telah Anda terapkan, serta jangan bosan untuk mencoba menu baru untuk mengundang daya tarik anak.Saatnya Bunda Konsultasi Ke AhlinyaMoms, kalau kebiasaan menolak MPASI ini berlanjut dan Anda mengalami kebuntuan saat menghadapinya, akan lebih baik untuk berkonsultasi langsung dengan dokter di Klinik Granostic.Sebab, Klinik Granostic menyediakan paket Medical Check Up (MCU) yang spesifik diberikan untuk si Kecil. Nantinya, bersama dokter Granostic Anda dapat mendiskusikan berbagai hal seputar masalah MPASI untuk si Kecil. Berikut detail mengenai MCU Baby PackageNah, lantas bagaimana sih layanan konsultasi ke dokter anak di Klinik Granostic? Langsung simak penjelasannya berikut ini, yuk.1. Memberikan Panduan MPASI yang TepatDokter Klinik Granostic akan memberikan panduan MPASI yang tepat sesuai dengan kondisi perkembangan dan pertumbuhan buah hati Moms. Sebab, dalam setiap kunjungan kesehatan, dokter pun akan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengamati tumbuh kembang anak.Nah, hasil dari pemeriksaan inilah yang kemudian digunakan sebagai acuan untuk memberikan petunjuk pemberian MPASI, mulai dari waktu yang tepat hingga jenis bahan yang sesuai dengan kondisi si Kecil. 2. Mengidentifikasi MasalahSelain itu, karena dilakukan pengamatan secara berkala terhadap kesehatan anak dan efektivitas pemberian menu MPASI Anda. Maka akan semakin cepat pula bagi Anda dan dokter untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan nutrisi pada diri si Kecil.Dengan demikian, dokter pun bisa dengan segera memberikan himbauan perawatan yang paling efisien dan efektif untuk mencegah masalah kesehatan tersebut menjadi lebih buruk. 3. Menilai Pertumbuhan dan PerkembanganBerkonsultasi langsung dengan dokter kami secara langsung juga bisa membantu Anda untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan anak langsung bersama ahlinya. Sehingga jika terjadi kendala, seperti kekurangan gizi atau kelebihan berat badan, dokter akan dapat memberikan arahan yang efisien untuk mengatasinya.4. Rekomendasi Nutrisi SpesifikSeperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dengan berkonsultasi dengan dokter profesional di Klinik Granostic, si Kecil akan melalui pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Hal ini akan membantu dokter menyimak mengenai kondisi tubuh si Kecil dan melihat kebutuhan nutrisi yang penting untuk tumbuh kembangnya.Sehingga, dokter pun bisa memberikan rekomendasi nutrisi yang spesifik sesuai dengan kondisi si Kecil lewat menu-menu MPASI yang tepat.Kabar baiknya lagi, Moms, konsultasi bersama dokter ini tak selalu harus Anda lakukan di klinik secara langsung, loh. Lewat layanan Home Service dari Klinik Granostic, Anda dapat melakukan konsultasi jarak jauh dan mendiskusikan kendala MPASI yang Anda alami bersama dokter kami.Pelayanan yang diberikan juga tetap dilakukan secara profesional, begitu pula dengan pemeriksaan tumbuh kembang anak, konsultasi medis, dan bahkan dokter kami juga bisa memberikan resep untuk Anda, loh.Menarik, bukan? Yuk, jaga kesehatan si kecil dengan rutin melakukan kunjungan dokter anak di Klinik Granostic, ya Moms & Dad!
Hai New Mom! Cari Tau Yuk Apa Itu MPASI? Berikut Penjelasannya
Hi, Moms! Sebagai orang tua baru, Anda mungkin overwhelming dengan berbagai informasi penting seputar Si Kecil. Salah satunya yang berkaitan dengan pemenuhan gizi Si Kecil lewat MPASI. Memang apa sih MPASI itu? Juga bagaimana aturan pemberiannya yang tepat?Memastikan Si Kecil mendapatkan asupan gizi dan nutrisi seimbang adalah hal yang sangat penting. Karena berkaitan dengan pertumbuhan otak dan tubuh mereka di masa mendatang.Moms juga pasti sudah berusaha sangat keras untuk memberikan yang terbaik, misalnya dengan memberikan ASI atau susu formula untuk Si Kecil. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan buah hati, tentu ASI saja tidak akan cukup.Karenanya, Moms dianjurkan untuk memberikan MPASI dengan komposisi gizi yang seimbang. Dalam artikel ini, Granostic akan menjelaskan pada Anda secara lengkap mengenai apa itu MPASI dan aturan pemberian yang tepat untuk mama muda.Penasaran, kan? Langsung baca artikelnya di bawah ini, yuk, Moms!Pengertian MPASIFirst thing first, apa itu MPASI? Yang dimaksud dengan MPASI merupakan singkatan dari makanan pendamping ASI. Makanan ini diberikan pada Si Kecil ketika memasuki usia 6 bulan.Melansir dari panduan pemberian MPASI oleh WHO, makanan ini merupakan hak setiap bayi untuk memperoleh asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan usia mereka. Sebab, saat mendapatkan makanan pendamping yang tepat dan bergizi, bayi akan bisa bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang dengan baik.Dalam rentang usia 6 hingga 23 bulan, pemberian ASI dan MPASI akan dapat mencukupi kebutuhan nutrisi, vitamin, dan mineral pada tubuh Si Kecil. Ketiga nutrisi ini sangatlah penting untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan fisik, serta fungsi kognitif Buah Hati Anda.Selain itu, tahukah Moms bahwa MPASI ini memiliki banyak manfaat untuk Si Kecil? Berikut penjelasan lengkapnya, ya!Pentingnya Pemberian MPASIMPASI memiliki peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan anak. Untuk penjelasan lengkapnya, Moms bisa simak ulasan berikut ini:1. Nutrisi TambahanSeperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketika memasuki usia 6 bulan nutrisi dalam ASI saja tidaklah cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan si Kecil.Namun dalam kondisi tertentu, misalnya saat berat badan si Kecil tidaklah naik dengan semestinya, Anda perlu mulai memberikan MPASI. Proses ini pun perlu melalui evaluasi penyebab dan kesiapan makan Si Kecil oleh dokter.Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk memberikan makanan dengan kandungan makronutrien sebagai sumber energi, protein hewani dan nabati. Juga melengkapi kebutuhan mikronutrien, yaitu mineral dan vitamin seperti kalsium, zinc, vitamin C, vitamin A, dan asam folat.2. Perkembangan MotorikTak hanya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi, memberikan MPASI juga dapat melatih motorik halus si Kecil. Kemampuan motorik halus sendiri adalah kemampuan si Kecil untuk mengontrol gerakan otot-otot halus yang berada di sekitar tangan, termasuk pada jari-jarinya.Sebab, ketika si Kecil sudah berlatih untuk makan sendiri, tangannya akan berusaha terjulur untuk meraih dan mengambil makanan dengan jemari mereka. Gerakan tersebut diketahui dapat memberikan stimulus yang sangat baik untuk melatih gerakan motorik Buah Hati.3. Adaptasi Rasa dan TeksturKetika memberikan MPASI, bagi si Kecil itu bukan hanya tentang makan dan memenuhi kebutuhan gizi mereka. Namun sebagai petualangan baru untuk mengenali rasa dan tekstur makanan. Sehingga, hal ini akan membantu si Kecil untuk menentukan selera dan pola makan mereka di masa mendatang.Moms dapat memanfaatkan masa MPASI ini dengan sebaik mungkin untuk membentuk selera dan pola makan sehat pada si Kecil. Anda bisa memperkenalkan sayur-sayuran, buah-buahan, dan makanan sehat lainnya pada si Kecil.4. Pencegahan Kekurangan GiziPada periode usia 6–23 bulan si Kecil juga sangatlah krusial, karena ketika Anda mencukupi kebutuhan nutrisi lewat MPASI, akan mencegah terjadinya malnutrisi pada bayi.Misalnya gizi buruk, kekurangan berat badan, kelebihan berat badan, juga berbagai masalah kesehatan pada si Kecil terkait dengan kecukupan asupan nutrisi lainnya.Aturan Pemberian MPASISetelah menyimak betapa pentingnya pemberian MPASI di atas, Moms pasti setuju untuk menerapkan pola makan sehat ini pada si Kecil, bukan? Namun pemberian MPASI ini juga sebaiknya harus diperhatikan dan dilakukan dengan tepat. Sehingga anak akan mendapatkan nutrisi yang cukup, tidak berlebih atau kekurangan.Berikut aturan pemberian MPASI yang bisa Moms terapkan untuk si Kecil:1. Waktu PemberianPertama, Anda harus memperhatikan waktu pemberian MPASI yang tepat, yakni mulai usia 6 bulan, ya Moms. Namun, jika si Kecil mengalami kondisi tertentu seperti penurunan atau kenaikan berat badan yang tidak wajar, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.Moms dapat mengenali tanda-tanda umum kesiapan bayi menerima MPASI dengan menyimak cirinya berikut ini:Si Kecil tampak tertarik dengan makanan yang dikonsumsi oleh orang tua.Otot leher si Kecil telah cukup kuat untuk mengangkat kepalanya hingga tegak.Si Kecil sudah bisa mengangkat kepalanya sendiri, atau tanpa bantuan dari orang dewasa.Refleks si Kecil untuk melepeh makanan sudah tidak sering terjadi.Meski begitu, menurut ESPGHAN, pemberian MPASI ini tidak disarankan untuk bayi yang berusia di bawah 4 bulan dan lebih dari usia 6 bulan. Sebab memberikan MPASI pada usia terlalu dini akan memunculkan risiko infeksi pada saluran cerna , alergi, hingga obesitas si Kecil. Sementara terlambat memberikan MPASI akan memunculkan kemungkinan anak-anak mengalami kekurangan gizi, berat badan yang kurang, hingga stunting.2. FrekuensiAturan memberikan MPASI pada bayi selanjutnya adalah dengan memperhatikan frekuensinya yang tepat, tidak berlebihan ataupun kurang. Maksudnya, Anda perlu memberikan MPASi ini secara responsif, yakni dengan konsisten sesuai dengan kebutuhan rasa lapar bayi.Meski begitu, Anda juga bisa mengatur jadwal yang teratur saat memberikan MPASI untuk si Kecil. Umumnya, Waktu makan yang ideal untuk bayi adalah tiga kali makanan Utama, yang diselingi dengan dua kali makanan ringan atau cemilan per harinya.3. Porsi dan TeksturSelain frekuensi makan, Anda juga harus memperhatikan tekstur dan porsi makan si Kecil. Pastikan untuk memberi porsi yang tepat pada si Kecil dan lakukan secara bertahap.Melansir dari berbagai sumber, Anda bisa memberikan porsi dan tekstur MPASI pada si Kecil dengan aturan berikut:Usia 6–7 bulan: berikan 2–3 sendok makan, sebanyak 2–3 kali sehari. MPASI berupa bubur kental atau makanan yang dilumatkan hingga halus.Usia bayi 8–9 bulan: atur pola makan 3 kali sehari dengan 2–3 kali makanan camilan sebagai selingan. Teksturnya bisa dengan dicincang halus atau kasar.Usia bayi 12+ bulan: Anda dapat memberikan makanan Utama sebanyak 3 kali sehari, dengan selingan 2–3 kali per hari. Tekstur MPASI pada usia 12+ bulan ini bisa dicincang dengan seperlunya.Lebih lengkap mengenai umur pemberian, berikut detail MPASI mulai umur berapa?.4. Kebersihan Bahan Makanan dan PengolahanSelanjutnya, pastikan untuk menjaga kebersihan bahan makanan, alat makan, dan proses pengolahan yang tepat. Anda bisa memisahkan talenan yang digunakan untuk memotong bahan makanan mentah dan bahan makanan matang. Selain itu, cuci tangan juga sebelum mempersiapkan MPASI maupun saat akan menyuapi si Kecil. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah adanya bakteri tumbuh di makanan si Kecil.Moms juga perlu memperhatikan bagaimana cara menyimpan makanan dengan tepat. Misalnya dengan menaruh MPASi di kulkas bagian bawah yang bersuhu kurang dari 5 derajat celcius. Serta simpan daging dan ikan di dalam plastic, kemudian letakkan secara terpisah dengan makanan yang telah matang.MPASI yang sudah Moms bekukan pun bisa disajikan kembali, namun dengan menghangatkannya terlebih dahulu menggunakan microwave atau merendam MPASI di dalam air. Selain itu, pastikan untuk tidak membekukan kembali makanan yang dihangatkan tersebut ya, Moms.5. Pengenalan BertahapPenting untuk Moms perhatikan, bahwa saat memperkenalkan makanan baru untuk si Kecil, sangat dianjurkan untuk melakukannya secara bertahap. Anda dapat memberikannya dalam porsi kecil terlebih dahulu, misalnya 1–3 sendok makan, sebanyak 2–3 kali sehari. Kemudian Anda dapat meningkatkannya secara bertahap menjadi setengah mangkuk berukuran 250 ml, berikan 3–4 kali per hari.Selain pada porsinya, Moms pun perlu memberikan tekstur makanan secara bertahap. Saat baru memasuki usia 6 bulan, berikan tekstur yang lembut seperti bubur atau puree. Kemudian saat anak sudah mulai bisa mengunyah Anda bisa meningkatkan teksturnya menjadi cacahan lembut. Untuk New Mom Lebih Baik Konsultasi dulu ke AhlinyaMeskipun terlihat sepele, menyiapkan MPASI yang tepat untuk si Kecil kadang cukup tricky. Apalagi untuk Anda para new mom, yang benar-benar baru merasakan dunia per-ibu-an. Salah satu cara untuk dapat memberikan porsi dan jenis MPASI yang tepat untuk si Kecil, Moms bisa berkonsultasi langsung dengan dokter menggunakan paket Medical Check Up (MCU) di Klinik Granostic, loh. Info lengkapnya berikut mengenai Baby Package Prosedur konsultasi gizi MPASI untuk anak ini juga melalui prosedur yang lengkap, namun tak menyulitkan Anda. Seperti yang akan dijelaskan di bawah ini, Moms!1. Penilaian Kesiapan BayiLangkah pertama, dokter akan memeriksa kesiapan bayi dalam menerima MPASI. Baik dengan memperhatikan usia si Kecil, kondisi kesehatan, hingga perkembangan dan pertumbuhan si Kecil.2. Panduan NutrisiBersama dokter di Klinik Granostic, Anda dapat mengatur jadwal, pola makan, dan komposisi MPASI yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh si Kecil. Anggaplah Anda mendapatkan resep yang dibuat khusus untuk pertumbuhan si Kecil.3. Pemantauan PertumbuhanBersama dokter Klinik Granostic, Anda juga dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan fisik si kecil secara berkala. Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan lengkap, kemudian memberikan diagnosa sesuai prosedur tersebut.Sehingga Anda dapat menyimak seberapa efektif pemberian MPASI tersebut pada pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. Serta, dapat melanjutkan diet dan program gizi yang tepat untuk menunjang pertumbuhannya di masa mendatang.4. Penanganan Masalah KesehatanMelakukan konsultasi kesehatan anak pada dokter secara berkala pun dapat membantu menangani masalah kesehatan. Sebab, dokter dapat menyimak tanda-tanda masalah kesehatan sejak dini lewat pemeriksaan kesehatan rutin. Serta dapat memberikan anjuran-anjuran yang tepat sasaran untuk mencegah serangan penyakit dan mengembalikan kesehatan si Kecil.5. Edukasi Informasi MPASIBersama dokter Klinik Granostic, Anda juga akan mendapatkan edukasi seputar informasi MPASI langsung bersama ahlinya. Apalagi kalau Anda ingin menerapkan metode pemberian MPASI tertentu, seperti Baby-Led Weaning (BLW) yang tidak boleh dilakukan sembarangan.Selain itu, sebagai orang tua, Anda juga perlu menikmati momen-momen menyiapkan MPASI untuk si Kecil ini dengan baik. Karena tak hanya untuk memberikan gizi seimbang dan memastikan pertumbuhan si Kecil optimal, MPASI juga bisa membantu meningkatkan kedekatan Mom dengan anak.Nah, bagaimana Moms? Apakah informasi mengenai MPASI di atas membantu Anda? Jika ada pertanyaan yang mengganjal, Anda dapat langsung berkonsultasi dengan dokter anak Klinik Granostic lewat layanan Home Service.Atau Anda juga bisa langsung berkonsultasi dengan berkunjung ke klinik kami di Surabaya. Dapatkan pelayanan yang cepat, efisien, dan profesional dari tenaga medis ahli Klinik Granostic.Yuk, jaga tumbuh kembang si Kecil agar optimal bersama Klinik Granostic!
Pentingnya Vaksinasi Hepatitis di Klinik Kesehatan Granostic
Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada organ hati yang terjadi karena berbagai faktor, termasuk infeksi virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Penyakit ini bersifat menular dan dapat menetap di tubuh dalam jangka waktu panjang, serta memicu komplikasi. Karenanya, penting sekali melakukan vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan terpercaya, seperti Granostic.Penularan hepatitis sendiri bisa melalui beragam cara, salah satunya lewat fecal-oral. Situasi ini terjadi ketika feses mengontaminasi makanan, minuman, atau benda-benda tertentu milik Anda. Sehingga memungkinkan perpindahan virus dari feses penderita ke mulut Anda.Bahkan, pada kasus hepatitis B dan C, ibu hamil dengan hepatitis B dapat menularkan virus tersebut kepada janin yang dikandungnya.Penyakit hepatitis dalam skala akut memang dapat sembuh sendiri tanpa pemberian obat-obatan khusus. Akan tetapi, tak sedikit juga kasus yang menunjukkan perkembangan virus hepatitis menjadi kronis. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang berbahaya, khususnya pada organ hati kita.Karenanya, klinik kesehatan Granostic menaruh perhatian besar dalam upaya pencegahan penularan virus hepatitis ini. Khususnya dengan melayani vaksinasi hepatitis, loh.Lantas, apa sih pentingnya vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan Granostic?1. Pencegahan Penyakit Sama halnya dengan jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus lainnya, langkah awal pencegahan hepatitis pun melalui vaksinasi. Ini karena vaksin diciptakan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh, sehingga menghasilkan sistem perlindungan terhadap infeksi virus hepatitis.Pemberian vaksinasi ini pun dapat diterapkan pada anak-anak, ibu hamil, orang dewasa, dan lansia. Tentu saja dokter akan menyesuaikan dosis dan jangka waktu pemberian vaksin dengan standar resmi, serta memperhatikan dengan baik bagaimana kondisi kesehatan Anda.2. Perlindungan Jangka Panjang Bagi seseorang yang melakukan vaksinasi hepatitis, hal ini dapat memberikan perlindungan jangka panjang. Sebab, ketika mendapat vaksinasi lengkap, mereka akan memiliki kekebalan tubuh yang kuat terhadap infeksi virus hepatitis A maupun B.Terlebih penularan virus ini pun dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti berbagi makanan dengan pengidap hepatitis, melakukan kontak langsung, berhubungan seksual tanpa pengaman, juga menggunakan jarum tato yang tidak steril.3. Mengurangi Penyebaran Virus Selain memberikan manfaat bagi individu, ketika sekelompok masyarakat melakukan vaksinasi hepatitis secara keseluruhan, maka hal ini dapat mengurangi penyebaran virus. Akhirnya, akan mudah untuk mengendalikan penularan hepatitis di daerah tertentu dan mencegah terjadinya endemi.4. Mencegah Komplikasi Serius Infeksi hepatitis memang awalnya tidak menunjukkan gejala yang mencolok, sehingga seringnya penderita tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi hingga masuk dalam fase kronis. Kondisi ini sangatlah berbahaya, karena virus hepatitis yang menetap dalam tubuh dapat berkembang dan memicu berbagai komplikasi yang serius. Beberapa jenis komplikasi yang dapat timbul akibat hepatitis adalah:Fibrosis hati, merupakan komplikasi hepatitis kronis paling umum terjadi. Kondisi ini terjadi karena hati mengalami peradangan secara terus menerus, sehingga membuatnya tak bisa berfungsi seperti semula.Kolestasis, yakni timbul dari komplikasi hepatitis A yang sering mengancam lansia. Meski dapat sembuh sendiri, jika tidak dipantau dan mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi ini akan menimbulkan penumpukan cairan empedu pada organ hati.Gagal hati, merupakan salah satu komplikasi dari hepatitis A. Umumnya, terjadi pada lansia yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, serta penyakit hati lainnya.Kanker hati, yang lebih berisiko pada pengidap hepatitis B dan C.Viral co-infection, kondisi dimana tubuh bisa mengalami dua infeksi virus sekaligus. Ini karena hepatitis menurunkan kemampuan sistem imun untuk melawan virus lain. Sehingga kemungkinan tubuh untuk terserang dua virus secara bersamaan cukup tinggi.5. Keamanan dan Efikasi Vaksin Pentingnya melakukan vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan Granostic selanjutnya adalah jaminan keamanan dan efikasi vaksin. Bersama dengan tenaga medis ahli dan dokter spesialis profesional, prosedur vaksinasi akan dilakukan dengan teliti dan sesuai dengan standar yang diberlakukan.Selain itu, sebelum melakukan vaksinasi, di klinik kesehatan Granostic Anda akan melalui beberapa tes kesehatan dan mendiskusikan kondisi tubuh Anda bersama dokter. Sehingga, proses vaksinasi ini akan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Anda tersebut.Tujuannya untuk memastikan efikasi vaksin tersebut optimal. Sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap infeksi virus hepatitis.6. Biaya Efektif Dengan melakukan vaksinasi hepatitis di klinik kesehatan granostic, Anda pun akan mendapatkan biaya yang efektif. Karena kami menyediakan layanan vaksinasi hepatitis lengkap, yakni vaksin hepatitis A dan B.Selain itu, dengan sekali bayar Anda pun bisa langsung berkonsultasi bersama dokter ahli kami untuk mendiskusikan kemungkinan adanya efek samping, perawatan yang mungkin dilakukan, dan banyak lainnya.7. Melindungi Generasi Mendatang Telah kita singgung sebelumnya, bahwa hepatitis pun dapat ditularkan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya. Melansir dari laman CNN News, kasus hepatitis di Indonesia pada tahun 2022 cukup memprihatinkan, dengan 35.757 bayi terinfeksi hepatitis B dari ibunya yang juga positif.Lebih lanjut, dikatakan pula bahwa jumlah kasus hepatitis B di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2013, kasus hepatitis B tersebut sebesar 18 juta, sementara pada tahun 2019 menjadi 22 juta kasus.Sobat Granostic, inilah mengapa sangat penting untuk melakukan vaksinasi hepatitis. Tak hanya menjaga diri Anda di masa sekaran, namun juga akan melindungi anak-anak kita di masa mendatang dengan memutus rantai infeksi itu sendiri.Sebab, hepatitis tak hanya sekadar jadi penyakit musiman, melainkan menimbulkan dampak yang fatal pada organ hati kita. Kerusakan hati ini bisa menyebabkan berbagai masalah pada kesehatan, karena memang fungsi organ ini sangatlah penting untuk metabolisme tubuh kita.Nah, apakah setelah membaca ketujuh alasan pentingnya melakukan vaksinasi hepatitis di atas, Anda tertarik untuk mendapatkannya?Tenang, klinik kesehatan Granostic dapat membantu menyediakan kebutuhan Anda soal vaksinasi hepatitis lengkap, berkualitas, dan aman. Sebelum menjadwalkan vaksinasi, Anda pun bisa berkonsultasi dengan dokter kami terlebih dahulu untuk melihat bagaimana riwayat kesehatan dan kondisi tubuh saat ini. Sehingga akan didapatkan jadwal atau perencanaan vaksinasi yang efisien dan efektif.Tak hanya itu, klinik kesehatan Granostic pun memiliki layanan Home Service, yang memudahkan Anda untuk terhubung dengan dokter kami. Sehingga ketika memiliki pertanyaan seputar efek samping, cara perawatan, dan konsultasi gejala hepatitis, Anda dapat langsung bertanya dan berkonsultasi secara online.Selain itu, di klinik kesehatan Granostic Anda pun dapat melakukan prosedur tes kesehatan yang lengkap dan didampingi oleh tenaga medis ahli, serta menggunakan teknologi termutakhir. Sehingga dapat melakukan pendeteksian dini terhadap virus hepatitis, yang hampir tidak menunjukkan gejala di awal. Menarik bukan? Yuk, segera atur jadwal kunjungan Anda ke klinik Granostic dan rencanakan vaksinasi hepatitis yang Anda mau.
Berikut Makanan Baik Untuk Penderita Hepatitis
Hati manusia memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem metabolisme tubuh. Sehingga ketika terinfeksi hepatitis, organ hati akan mengalami peradangan dan dapat berdampak pada fungsinya. Untuk itu, bagi penderita hepatitis memilih menu makanan yang tepat adalah hal yang sangat penting. Mari simak rekomendasinya, yuk!Sebelumnya, hepatitis sendiri merupakan jenis penyakit peradangan pada organ hati. Penyebabnya cukup beragam mulai dari infeksi virus, minum alkohol secara berlebihan, paparan zat berbahaya dan overdosis obat-obatan tertentu, dan lainnya.Ketika terjadi peradangan, hati tidak dapat bekerja dengan optimal. Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan penderita hepatitis lebih rentan terserang diabetes.Karenanya, pemilihan menu makanan untuk penderita hepatitis yang tepat pentung untuk mengurangi kerusakan yang disebabkannya pada hati maupun Kesehatan tubuh secara umum. Apalagi hepatitis juga dapat terjadi karena gaya hidup yang kurang sehat dan bersih.Lantas apa saja jenis makanan yang baik untuk penderita hepatitis tersebut? Mari simak keenam jenisnya di bawah ini, ya, Sobat!1. Buah-buahan dan Sayuran Buah dan sayuran hijau dapat menjadi rekomendasi makanan yang baik untuk penderita hepatitis. Sayuran hijau kaya akan nutrisi dan tinggi antioksidan.Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi sayuran hijau dapat membantu mengurangi peradangan pada hati, serta meningkatkan fungsi hati pada penderita hepatitis.Bahkan, menurut studi oleh Hodge dkk (2016) menjelaskan bahwa menu makan tinggi sayuran hijau dikaitkan dengan penurunan risiko perkembangan fibrosis hati pada penderita hepatitis A dan B.Sementar itu, buah-buahan kaya akan kandungan mineral, vitamin, dan serat yang sangat mendukung Kesehatan hati. Tak hanya itu, kandungan antioksidan dari buah-buahan juga mampu melindungi sel-sel hati dari kerusakan akibat stress oksidatif.Selain itu, mengonsumsi makanan yang kaya serat juga akan membantu membuat Anda tidak gampang merasa lapar, karena efeknya yang mengenyangkan.2. Sumber ProteinSelain buah-buahan dan sayuran, menu makanan untuk penderita hepatitis selanjutnya adalah yang mengandung protein sehat. Misalnya sumber protein nabati yang berasal dari kacang-kacangan dan biji-bijian.Melansir dari hasil riset yang dipublikasikan oleh World Journal of Hepatology (2015), menyatakan bahwa diet dengan konsumsi tinggi protein nabati akan membantu mengurangi tingkat enzim hati pada penderita hepatitis B.Tak hanya itu, protein juga akan membantu membangun dan mempertahankan masa otot. Hal ini juga dapat membantu dalam proses perbaikan jaringan tubuh Anda.Memastikan asupan protein tentunya sangat penting untuk mendukung perbaikan jaringan tubuh.Rekomendasi jenis sumber protein yang baik dikonsumsi oleh penderita hepatitis antara lain dada ayam, kacang, telur, produk susu, kacang kedelai, dan makanan laut.Meski begitu, Anda juga harus memperhatikan takaran mengonsumsi protein. Karena kelebihan konsumsi protein pun dapat berdampak buruk bagi penderita hepatitis.Berbagai ahli Kesehatan menyarankan bagi para penderita hepatitis untuk membatasi konumsi sumber protein menjadi 1–1.5 gram per kilogram berat badan mereka.3. Karbohidrat KompleksJenis makanan yang baik untuk penderita hepatitis selanjutnya adalah golongan karbohidrat kompleks. Anda dapat menemukannya dari nasi merah, gandum utuh, jagung, dan beras cokelat.Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna, sehingga energi yang dihasilkan makanan tersebut pun akan bertahan lebih lama.Selain itu, sumber makanan berkarbohidrat kompleks pun memiliki kandungan zinc dan vitamin B6. Keduanya sangat baik untuk menjaga kesehatan organ hati.4. Lemak SehatSelanjutnya adalah lemak sehat, yang dapat Anda peroleh dari berbagai sumber pangan seperti ikan, kacang-kacangan, minyak zaitun, biji-bijian, hingga ikan.Lemak sehat dapat membantu menyimpan energi, melindungi jaringan tubuh, serta mengangkut vitamin melalui darah. Karenanya, makanan ini menjadi menu yang direkomendasikan dan baik untuk penderita hepatitis.Contohnya, ikan salmon yang mengandung asam lemak omega 3 sangat baik untuk mengurangi peradangan dan penumpukan lemak pada hati. Sementara alpukat mampu membantu memperbaiki kerja organ hati secara keseluruhan.5. Suplemen dan Rempah-rempahSelain menu-menu makanan berat di atas, pasien hepatitis juga boleh mengonsumsi suplemen dan rempah-rempah. Keduanya dapat membantu meringankan gejala, memperkuat fungsi tubuh dan hati, dan memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh secara umum.Salah satu contoh rempah yang baik untuk penderita hepatitis adalah kunyit. Ya, rempah yang sering diolah sebagai jamu ini dapat membantu menjaga Kesehatan organ hati, loh.Kunyit mengandung senyawa kurkumin, yang dapat menghambat masuknya berbagai genotipe virus hepatitis C. Selain itu, senyawa kurkumin pun dapat merusak virus hepatitis C dan dapat menggagalkan proses infeksi ke liver.Selain pada hepatitis C, senyawa dalam kunyit ini pun diketahui dapat menghambat aktivitas virus hepatitis B dan mencegahnya untuk berlipat ganda pada tubuh.Rempah nusantara selanjutnya yang juga bermanfaat untuk penderita hepatitis adalah akar manis. Bahan alami ini banyak digunakan untuk pengobatan tradisional bagi penyakit tukak lambung, hingga hepatitis C.6. Air PutihSelanjutnya, pengidap hepatitis pun harus mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan minum air putih yang cukup. Ketika tubuh terhidrasi dengan baik, Anda pun tak akan mudah merasa lemah dan jadi lebih segar.Nah, selain keenam makanan di atas, ada beberapa jenis makanan juga yang harus dihindari oleh penderita hepatitis, seperti:Junk food: umumnya tinggi kandungan garam, gula, lemak jenuh, kalori kosong, dan berbagai zat aditif lainnya. Tubuh penderita hepatitis tidak akan mendapatkan nutrisi yang baik dari makanan ini.Minuman atau makanan beralkohol: konsumsi alkohol berlebihan bisa memicu peradangan pada hati. Selain itu, minum alkohol bagi penderita hepatitis pun dapat memperlancar kerusakan pada organ hati penderita.Terlalu banyak zat besi: bagi penderita hepatitis C makanan ini bisa memicu perkembangan virus, karena zat besi dapat memproduksi radikal bebas.Makanan berkandungan gula tinggi: saat mengidap hepatitis, Anda pun perlu memperhatikan kandungan gula dalam makanan yang Anda konsumsi. Sebab, gula darah tinggi bisa memperparah kerusakan hati akibat hepatitis.Baca Juga: Apa Saja Penanganan Tepat Untuk Hepatitis Akut?Selain beberapa contoh pantangan makanan di atas, penderita hepatitis pun harus menghindari berbagai faktor risiko yang menyebabkan ia terpapar virus. Seperti memakan makanan sembarangan, tidak cuci tangan, dan sebagainya.Itulah berbagai jenis makanan sehat untuk penderita hepatitis, mulai dari buah, sayur, protein, karbohidrat kompleks, hingga rempah-rempah sehat. Sebenarnya hepatitis sendiri dapat dicegah penularannya dengan menerapkan gaya hidup sehat, serta rutin melakukan cek kesehatan di klinik kesehatan terpercaya, seperti Granostic.Lengkap dengan teknologi termutakhir, tenaga medis ahli dan dokter spesialis yang menemani Anda sepanjang tes kesehatan, akan didapatkan hasil yang akurat. Sehingga dapat mendeteksi sedini mungkin infeksi hepatitis pada tubuh Anda.Lebih baiknya lagi, Anda bisa menggunakan layanan Home Service untuk berdiskusi dengan dokter spesialis kami dimanapun dan kapanpun Anda menginginkannya.Yuk, cegah penularan hepatitis dengan rutin cek kesehatan di klinik Granostic!
Apa Saja Penanganan Tepat Untuk Hepatitis Akut?
Berdasarkan tingkat keparahannya, hepatitis terbagi menjadi dua jenis yakni akut dan kronis. Keduanya memiliki karakteristik, dampak, serta cara penanganan yang berbeda. Lantas tahukah Anda, apa saja penanganan yang tepat untuk hepatitis akut tersebut?Sebelumnya, hepatitis akut merupakan kondisi di mana terjadi peradangan pada organ hati, akibat infeksi virus dan berbagai faktor lainnya. Akan tetapi, hepatitis akut berbeda dengan hepatitis kronis, khususnya dari durasi perkembangannya.Hepatitis kronis dapat berkembang dalam jangka waktu yang lebih lama, sedangkan hepatitis akut terjadi secara tiba-tiba. Namun, hepatitis akut juga dapat berlangsung dalam jangka waktu singkat. Karenanya, dari segi dampak untuk Kesehatan dan penanganannya pun berbeda dari hepatitis kronis, yang lebih serius.Nah, untuk penanganan hepatitis akut ini kita juga bisa membedakannya sesuai dengan tipe virus penginfeksinya. Sebab, salah satu sifat hepatitis adalah tidak adanya perubahan dari tipe virus menjadi virus yang lain. Misalnya, Anda terinfeksi hepatitis B, virus ini tidak akan ‘berkembang menjadi’ virus hepatitis C. Perkembangan yang dimaksud adalah dari stage akut ke kronis.Berikut penjelasan lebih lengkapnya, Sobat!Hepatitis A Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, jenis penyakit hepatitis ini sangat jarang mengalami pengembangan dari akut ke kronis. Namun tetap ada kemungkinan terjadinya komplikasi dan memerlukan penanganan yang tepat sejak awal terinfeksi.Nah, berikut ini adalah beberapa tindakan perawatan hepatitis A akut yang umumnya diterapkan pada upaya pengobatannya:1. Istirahat Berbagai ahli Kesehatan menyebutkan bahwa istirahat yang cukup adalah Langkah yang paling ideal untuk penderita hepatitis akut. Sebab secara umum, hepatitis A akut dapat sembuh dengan sendirinya, namun pasien juga harus menjaga kondisi tubuh agar stabil dengan beristirahat yang cukup.2. Hidrasi Selanjutnya, penanganan hepatitis A akut adalah memastikan kebutuhan cairan dalam tubuh terpenuhi. Ketika kita dapat menghidrasi tubuh secara cukup, maka akan mengoptimalkan kinerja organ-organ dalam tubuh, termasuk hati. Sebaliknya, kekurangan cairan dapat mengganggu fungsi organ-organ dalam tubuh, serta memperburuk kondisi peradangan hati karena hepatitis.3. Nutrisi Seimbang Menerapkan pola makan teratur dan menu yang sehat dengan nutrisi tinggi, juga sangat penting dalam upaya perawatan hepatitis A akut. Makanan dengan gizi seimbang akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan stamina, serta membantu meningkatkan fungsi organ hati.Beberapa menu sehat yang bisa Anda konsumsi selama perawatan hepatitis A akut adalah sayuran hijau, buah-buahan segar dengan antioksidan tinggi, protein nabati, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks.4. Pengelolaan Gejala Hepatitis A pun dapat menunjukkan beberapa gejala yang bisa membuat penderitanya tak nyaman dan merasa sakit atau nyeri. Beberapa gejala hepatitis A akut antara lain:Merasa lelah berlebihan, dapat disertai dengan nyeri sendi dan otot.Suhu tubuh naik.Nafsu makan berkurang.Merasakan rasa sakit atau nyeri di bagian kanan atas perut.Perubahan warna pada urin atau feses menjadi lebih gelap.Adanya gatal-gatal atau ruam pada kulit.Meskipun tidak ada pengobatan khusus yang diberikan untuk penanganan hepatitis A akut, dokter umumnya akan memberikan resep untuk menangani gejala yang timbul. Namun, Anda pun bisa mengelola gejala ini dengan banyak istirahat atau bahkan bed rest.Konsultasikan tiap keresahan Anda dengan dokter, kemudian ikuti saran dan resep yang diberikan dengan cermat untuk hasil pengobatan yang optimal.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B, yang berbeda dengan tipe A, jenis ini berkemungkinan besar untuk berkembang ke tahap kronis. Hepatitis B pun termasuk yang paling banyak terjadi di Indonesia, khususnya menyerang bayi yang baru lahir dan tertular dari ibu pengidap hepatitis B.Adapun langkah-langkah penanganan hepatitis B akut antara lain:1. Istirahat Istirahat yang cukup sangat penting untuk penderita hepatitis B akut. Pada kondisi dan gejala yang ringan, penderita hepatitis B akut dapat beristirahat di rumah. Akan tetapi, jika tampak gejala yang serius, dokter akan merekomendasikan perawatan di rumah sakit.2. Hidrasi dan Nutrisi Memastikan tubuh mendapatkan hidrasi yang cukup dan asupan nutrisi yang seimbang juga sangatlah penting bagi pengidap hepatitis B. Hidrasi yang cukup akan membantu memaksimalkan metabolisme tubuh, mendorong fungsi organ-organ dalam tubuh, juga memberikan stamina pada pasien. Sementara itu, nutrisi dari menu makanan yang sehat juga akan memberikan banyak manfaat baik bagi penderita hepatitis B akut. Anda bisa memilih menu dengan kandungan karbohidrat kompleks yang berserat tinggi, buah-buahan segar, sayuran hijau, protein, dan rempah-rempah tradisional yang baik untuk organ hati.3. Pengelolaan Gejala Gejala yang muncul pada penyakit hepatitis sebenarnya cukup mirip antara satu tipe dengan yang lainnya. Adapun gejala-gejala hepatitis B akut yang dimaksud antara lain:Suhu tubuh meningkat, badan demamTubuh terasa pegal-pegal dan lemasMerasa mual dan muntahAda juga yang mengalami mata kuning dan kencing berwarna cokelat.Namun, gejala-gejala ini dapat muncul dan hilang dengan sendirinya setelah 2–3 minggu. Sehingga pengobatan khusus tidak begitu diberikan pada pasien hepatitis akut.Sebaliknya, jika gejala yang muncul cenderung lebih parah, dokter akan meresepkan obat antivirus.4. Pemantauan Medis Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa hepatitis B akut sangat rentan mengalami pengembangan menjadi kronis. Karenanya, pemantauan medis sangat diperlukan untuk mencegah kemungkinan tersebut terjadi.Pemantauan ini dapat dilakukan dengan melihat gejala-gejala dan tanda-tanda vital pada pasien hepatitis B akut. Seperti tekanan darah, berat badan, laju nafas, suhu tubuh, hingga denyut nadi.Hepatitis C Hepatitis C juga termasuk jenis hepatitis dengan kasus yang tinggi di Indonesia. Penularan hepatitis C ini hampir sama dengan tipe B, yakni lewat tranfusi darah, berbagi penggunaan barang-barang pribadi dengan pasien hepatitis C, hingga leawat hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman.Hepatitis C pun sangat mungkin mengalami perkembangan hingga ke tahap kronis. Karenanya, perlu penerapan langkah penanganan dan pengobatan yang tepat. Adapun beberapa langkah penanganan hepatitis C yang tepat antara lain:1. Istirahat dan Hidrasi Pasien hepatitis C akut sangat memerlukan istirahat yang cukup. Bila gejala yang muncul dapat dikategorikan ringan, maka istirahat dapat dilakukan di rumah. Akan tetapi, jika gejalanya serius dokter akan menyarankan untuk dirawat di rumah sakit.Selain itu, pasien juga harus mendapatkan hidrasi yang cukup dengan minum air putih paling tidak 2 liter per hari. Dengan hidrasi yang cukup, metabolisme tubuh akan berjalan lebih optimal dan organ-organ tubuh juga akan berfungsi dengan baik.2. Nutrisi Seimbang Selanjutnya, memenuhi asupan nutrisi seimbang juga sangat penting dalam penanganan dan pengobatan hepatitis C akut. Nutrisi seimbang ini dapat Anda peroleh dari berbagai sumber pangan yang kaya akan protein, lemak sehat, vitamin dan antioksidan, hingga karbohidrat kompleks yang tinggi serat.Pemenuhan nutrisi ini dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, memaksimalkan metabolisme tubuh, serta meningkatkan fungsi hati. 3. Pemantauan Medis di Granostic Pemantauan medis juga termasuk dalam rangkaian penanganan hepatitis C akut yang tepat. Langkah ini untuk memastikan bahwa virus tidak mengalami pengembangan menuju tahap kronis, yang memungkinkan timbulnya komplikasi.Pemantauan dilakukan dengan menyimak perkembangan gejala dan kondisi tubuh pasien, juga memastikan stabilitas pasien lewat tanda-tanda vitalnya.Baca Juga: Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?Saat menjalani perawatan di klinik kesehatan Granostic, pemantauan medis ini tak hanya bisa dilakukan secara tatap muka atau melalui klinik kami, loh. Melainkan, Anda pun dapat melakukan pemantauan medis jarak jauh lewat layanan Home Service. Bersama dokter spesialis kami, Anda akan diarahkan untuk melakukan serangkaian pengamatan mandiri, seperti mengukur berat badan, suhu tubuh, juga menyimak gejala-gejala terkini dari hepatitis C.Pemantauan dan konsultasi tersebut dapat Anda lakukan secara online bersama dokter kami. Sehingga Anda tak perlu repot ke klinik, ditambah hasilnya akan lebih akurat karena pemeriksaan tanda-tanda tersebut cenderung lebih konsisten dari ad-hoc.Ada pertanyaan terkait cara penanganan hepatitis dan gejala-gejalanya? Yuk, hubungi tim medis klinik kesehatan Granostic lewat klik tombol WhatsApp di bawah ini!
Yuk Cari Tau! Bagaimana Penularan Hepatitis?
Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati yang terjadi akibat berbagai faktor, salah satunya adalah infeksi virus. Karenanya hepatitis ini bersifat menular dan tak menimbulkan gejala yang mencolok pada awalnya. Lantas, bagaimana penularan hepatitis tersebut?Hepatitis jika masih dalam tingkat akut, dapat sembuh dengan sendirinya dan tak memerlukan pengobatan khusus. Akan tetapi, kondisi ini dapat berkembang apabila hepatitis tak ditangani dengan tepat.Virus akan menetap dalam tubuh, kemudian menimbulkan komplikasi penyakit hati yang lebih parah, termasuk kanker hati.Jenis virus yang menulari hepatitis ini tak hanya satu atau dua saja, melainkan ada enam seperti virus hepatitis A (HAV), B (HBV), C (HCV), D (HDV), dan E (HEV). Kelimanya dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda serta gejala yang beragam. Pun pada cara penularannya pun berbeda.Nah, pada artikel kali ini Sobat Granostic dapat menyimak bagaimana penularan hepatitis dan faktor risiko seseorang terkena penyakit radang satu ini. Baca baik-baik, ya, Sobat! Hepatitis A Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A (HAV), penyakit hepatitis A sendiri tergolong jenis hepatitis yang ringan, yang dapat sembuh dalam kurun waktu tertentu. Akan tetapi dokter akan tetap memberikan resep (bila diperlukan) untuk mengatasi gejala yang ada, serta antivirus untuk menekan perkembangan HAV.Namun dalam kasus yang jarang terjadi, hepatitis A ini dapat berkembang dan berubah menjadi lebih parah. Karenanya, Anda tetap tidak boleh menyepelekan infeksi HAV, serta tetap melakukan prosedur medis dan anjuran dokter sebagai perawatan jika terinfeksi.Penularan hepatitis A dapat terjadi lewat fecal-oral. Dimana virus yang terdapat pada feses penderita hepatitis A, dapat mengontaminasi makanan/minuman atau benda-benda tertentu milik seseorang yang memungkinkan transmisi virus ke dalam mulut.Karenanya dalam upaya pencegahan hepatitis A ini, Anda dapat menerapkan beberapa langkah berikut:Melakukan vaksinasi hepatitis A.Menjaga kebersihan diri dengan rajin cuci tangan.Memastikan kebersihan makanan atau minuman.Tidak berbagi barang pribadi seperti sikat gigi dan sendok, dengan pengidap hepatitis A.Faktor Risiko Individu yang belum mendapatkan vaksinasi hepatitis A memiliki risiko tinggi untuk terpapar virus. Sebagian besarnya terjadi pada anak-anak dan beberapa orang dengan faktor risiko di bawah ini:Berkunjung atau pergi ke wilayah dengan kasus hepatitis A yang tinggi.Tinggal dengan seorang pengidap hepatitis A.Melakukan hubungan seksual yang tidak konvensional.Punya masalah kelainan faktor pembekuan darah.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B, yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis tipe B (HBV). Jenis hepatitis ini memiliki tingkat prevalensi tinggi, serta risiko komplikasinya yang beragam.Infeksi hepatitis B bisa menyebabkan hepatitis B akut dan kronis. Dalam banyak kasus, hepatitis B dapat bertahan lama dalam tubuh kemudian menjadi kronis. Kondisi ini memicu berbagai komplikasi penyakit organ hati lain seperti kanker hati dan sirosis hati.Cara penyebaran virus hepatitis B ini pun melalui cairan tubuh yang terkontaminasi oleh virus HBV. Cairan tubuh yang dimaksud dapat berupa air liur (saliva), cairan serebrospinal, cairan pleura, air ketuban, air mani, cairan vagina, darah, dan sejenisnya.Adapun cara-cara penularan virus hepatitis B ini adalah sebagai berikut:Lewat berbagi jarum suntik atau alat medis lainnya dengan pengidap hepatitis B.Bertukar makanan dan alat makan dengan pengidap hepatitis B.Kontak seksual tanpa menggunakan kondom (pengaman).Dari ibu hamil pengidap hepatitis B kepada janin yang dikandungnya.Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk mendapatkan vaksin hepatitis B sedini mungkin untuk menghindari terjadinya infeksi. Pada ibu hamil, akan diberikan pengobatan khusus yang dapat menekan perkembangan virus agar tidak berdampak pada janin.Faktor Risiko Seseorang yang belum mendapatkan vaksinasi hepatitis B akan sangat berisiko terkena infeksi virus ini. Namun, sebagian besar orang dengan beberapa faktor risiko di bawah ini pun rentan terkena virus HBV, seperti:Penggunaan jarum suntik.Memiliki aktivitas seksual yang tinggi dan sering bergonta ganti pasangan.Kontak dengan kerabat atau keluarga yang memiliki Riwayat hepatitis B.Melakukan transfusi darah atau membuat tato dengan alat yang tidak steril.Hepatitis C Menjadi salah satu tipe hepatitis yang paling berbahaya, hepatitis C juga bersifat menular. Penyakit ini awalnya tidak menimbulkan gejala apapun pada pengidap, bahkan sampai bertahun-tahun. Hingga akhirnya, hepatitis sudah masuk ke level kronis.Melansir data dari WHO 700 orang penderita penyakit ginjal dipicu oleh hepatitis C. Karenanya bila tidak ditangani sedini mungkin, kondisi ini akan menyebabkan kerusakan hati yang fatal.Beberapa cara penularan hepatitis C yang harus Anda tahu antara lain:Penggunaan jarum suntik yang tak steril, misalnya saat Anda mentato Sebagian anggota tubuh dan jarumnya tidak disteril terlebih dahulu.Melakukan hubungan seksual yang tak aman atau tak menggunakan kondom.Penularan melalui perinatal, yakni saat masa kehamilan ibu pada janin.Menggunakan alat mandi bersama seperti sikat gigi, alat gunting kuku, dan sebagainya yang memungkinkan terjadinya kontak dengan cairan tubuh penderita hepatitis B.Faktor Risiko Sebenarnya siapapun bisa terkena virus hepatitis apapun, termasuk hepatitis C. Namun terdapat beberapa faktor risiko seseorang berkemungkinan tinggi terpapar hepatitis C, yakni:Aktif secara seksual dan sering berganti pasangan.Menggunakan obat-obatan terlarang, utamanya secara berkelompok, sehingga memungkinkan adanya penggunaan jarum suntik yang sama.Transfusi darah dari pengidap hepatitis C.Memiliki pekerjaan yang mengharuskan kontak langsung dengan pengidap hepatitis C.Baca Juga: Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan mengenai bagaimana cara penularan virus hepatitis A, B, dan C yang perlu Anda tahu. Ingat, secanggih apapun pengobatan pada zaman sekarang, menjaga diri dengan mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan adalah langkah yang paling utama untuk Anda lakukan.Selain itu, infeksi hepatitis ini pun dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup yang sehat. Seperti dengan rajin menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menerapkan seks yang aman, dan menghindari faktor risiko lainnya.Anda pun perlu melakukan pengecekan kesehatan rutin untuk mendeteksi keberadaan hepatitis sejak dini. Dengan begitu, dampak buruk hepatitis pada tubuh pun dapat diminimalisir dengan maksimal serta tak akan berkepanjangan.Perlu diingat, lakukan tes kesehatan ini hanya di klinik atau rumah sakit terpercaya, seperti Granostic. Tak hanya memiliki teknologi cek kesehatan yang canggih, tim medis ahli kami pun dapat mendampingi Anda dan memberikan diagnosa akurat.Anda dapat melakukan tes kesehatan ini langsung di klinik Granostic atau buat janji temu dulu dengan dokter spesialis lewat layanan Home Service kami.Yuk, lindungi diri dan keluarga Anda dari infeksi virus hepatitis bersama klinik Granostic.
Apa Tips Pencegahan Hepatitis yang Perlu Diketahui?
Prevalensi hepatitis di Indonesia masih cukup tinggi. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus ini memang dapat menular dengan mudah dan tidak menimbulkan gejala signifikan di awal infeksinya. Meski begitu, ada berbagai tips pencegahan hepatitis yang dapat dilakukan masyarakat sejak dini. Apa saja?Hepatitis sendiri merupakan kondisi peradangan hati, yang disebabkan oleh berbagai factor, termasuk infeksi virus. Beberapa jenis virus yang diketahui dapat menyebabkan penyakit peradangan hati tersebut adalah hepatitis A, B, C, D, dan E.Hepatitis sendiri umumnya terbagi menjadi dua jenis, yakni hepatitis akut dan kronis. Keduanya harus ditangani dengan tepat dan melalui diagnose medis. Sebab, jika Anda mengabaikannya, kondisi ini dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi Kesehatan lainnya.Nah, selain melakukan pengobatan yang tepat, cara yang paling ideal untuk mengatasi hepatitis adalah dengan tidak terkena sama sekali. Karenanya, Granostic membagikan tips pencegahan hepatitis yang efektif berikut ini.Hepatitis A Hepatitis A adalah tipe hepatitis yang terjadi karena infeksi HAV, atau virus hepatitis A. Umumnya tipe hepatitis ini memiliki gejala yang lebih ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya.Dokter pun cenderung memberikan pengobatan yang fokus pada gejala dan antivirus, untuk mencegah perkembangan virus dan menghindari kerusakan organ hati. Akan tetapi, bukan berarti hepatitis A dapat diabaikan begitu saja. Karena pada kasus yang jarang terjadi, terdapat kemungkinan hepatitis A berkembang dan bersifat kronis pada penderitanya.Berikut ini adalah tips mencegah infeksi hepatitis A yang dapat Anda terapkan:Vaksinasi Langkah pencegahan pertama adalah dengan melakukan vaksin hepatitis A. Vaksin ini sangat direkomendasikan pada orang yang memiliki risiko tinggi terpapar virus hepatitis A, seperti:Petugas kebersihanSeseorang yang telah aktif berhubungan seksualSerta penderita penyakit liver kronisMeski tidak termasuk imunisasi wajib di Indonesia, vaksinasi hepatitis A dapat diberikan pada anak usia 2 sampai 18 tahun, sebanyak dua kali dengan jeda 6 sampai 12 bulan.Kebersihan Tangan Selain vaksinasi, penularan hepatitis A pun dapat dicegah dengan menerapkan kebiasaan yang sehat, termasuk rajin mencuci tangan khususnya sebelum memakan sesuatu. Sebab, penularan hepatitis A pun dapat melalui jalur fecal-oral, dimana feses dapat mengontaminasi makanan dan terbawa masuk ke dalam mulut.Makanan dan Minuman Penularan hepatitis A pun dapat melalui makanan dan minuman, yang sebelumnya telah terkontaminasi oleh virus hepatitis A. Baik kontaminasi oleh saliva penderita, maupun feses atau kotoran dari lingkungan yang tidak sehat tersebut.Karenanya, ketika mengolah makanan pastikan untuk memasaknya menggunakan air yang bersih. Juga cuci dulu dengan air mengalir dan sabun.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B atau HBV. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari dua juta orang di dunia terinfeksi hepatitis B. Pada kasus yang umum, hepatitis B dapat menetap dalam tubuh dan menjadi kronis. Kondisi ini dapat berkembang dan memicu komplikasi, seperti kanker hati. Selain itu, ibu hamil dengan hepatitis B pun berkemungkinan untuk menularkan pada janin yang dikandungnya.Karena itu, simak upaya pencegahan hepatitis B yang bisa diterapkan berikut ini:Vaksinasi Langkah paling awal dan utama dalam pencegahan penularan hepatitis B adalah melalui vaksinasi hepatitis B. Langkah ini akan membantu menciptakan sistem kekebalan tubuh untuk menciptakan antibodi khusus untuk melawan virus tersebut. Vaksinasi hepatitis B ini dapat Anda lakukan sejak anak-anak di bawah lima tahun, hingga mereka menginjak dewasa.Kontak Seksual Selain itu, hepatitis B pun dapat ditularkan lewat kontak seksual yang tak menggunakan pengaman. Penularan ini terjadi akibat pertukaran cairan tubuh melalui hubungan seksual tersebut.Karenanya, Anda bisa membentengi diri dengan menggunakan kondom. Selain itu pastikan bahwa diri Anda dan pasangan juga terbebas dari hepatitis B.Jarum dan Alat Tajam Cara mencegah infeksi hepatitis B selanjutnya adalah dengan menghindari berbagi jarum dan alat tajam dengan pengidap. Karena kedua benda ini pun bisa menjadi media yang menyalurkan virus hepatitis dari darah pengidap ke tubuh Anda.Perawatan Jika Hamil Telah kita singgung sebelumnya, bahwa hepatitis B pun dapat menginfeksi ibu hamil dan ditularkan pada janin. Untuk mengatasinya, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis akurat. Kemudian, ibu hamil akan diberikan vaksin untuk mencegah perkembangan virus. Vaksin ini aman untuk ibu dan bayi yang dikandungnya.Namun dalam kasus yang parah, dokter biasanya akan memberikan obat antivirus untuk mencegah perkembangan virus hepatitis B pada janin.Hepatitis C Timbul akibat infeksi virus hepatitis tipe C, jenis hepatitis ini pun dapat dicegah penularannya. Jenis hepatitis ini umumnya tidak memiliki gejala yang signifikan pada awal infeksinya, bahkan hingga bertahun-tahun.Kalaupun pasien mengalami gejala, sifatnya cenderung sangat umum sehingga sulit untuk diketahui sebagai hepatitis dari gejala saja.Hepatitis C membutuhkan penanganan dengan segera, karena Ketika berada di tubuh dalam jangka Panjang sangat berisiko menyebabkan kerusakan hati. Sebab itu, menerapkan upaya pencegahan hepatitis C di Bawah ini sangatlah perlu:Jarum dan Alat Medis Pertama, selain melakukan vaksin, hindari menggunakan jarum dan alat medis yang sama dengan pengidap hepatitis C. Selain itu, Anda juga harus menghindari berbagi alat pribadi lainnya bersama pengidap, seperti sikat gigi atau gunting kuku. Alat-alat ini berpotensi membawa virus dari cairan tubuh pengidap pada tubuh Anda.Kontak Seksual Selanjutnya Anda pun bisa melakukan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom. Selain itu, selalu pastikan bahwa pasangan dan Anda untuk melakukan cek kesehatan rutin. Tak hanya untuk hepatitis, namun untuk mencegah penyakit menular seksual lainnya.Perawatan Kesehatan Jika masih berada dalam tingkat akut, hepatitis C dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu tertentu. Meski begitu, Anda tetap harus pergi berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan pada gejala, serta saran merawat diri saat terkena hepatitis C.Sementara itu, juga sudah dalam level kronis dokter akan meresepkan obat antivirus untuk menekan perkembangan virus. Langkah ini juga penting untuk mencegah komplikasi penyakit hepatitis C.Umum untuk Semua Jenis Hepatitis Selain berbagai tips pencegahan hepatitis A, B, dan C di atas, secara umum Anda pun dapat menghindari penularan hepatitis dengan beberapa langkah berikut ini:Edukasi dan Kesadaran Pertama adalah memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak hepatitis, bagaimana penularannya, serta pencegahannya. Langkah ini sangat penting, mengingat hepatitis bisa menular dengan mudah di lingkungan yang sanitasinya buruk.Untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat dan bersih, Anda perlu melibatkan berbagai pihak. Karena air sungai yang tercemar dan masuk ke dalam rumah sebagai air cuci pakaian ataupun mandi, bisa membawa berbagai bakteri atau virus.Tes dan Skrining di Granostic Selanjutnya, Anda pun perlu melakukan tes kesehatan secara rutin di klinik terpercaya, seperti Granostic. Menyediakan layanan tes kesehatan lengkap, didampingi tim medis yang ahli dan dokter spesialis, hasil tes ini akan akurat.Secara umum hepatitis tak menimbulkan gejala yang mencolok di awal infeksinya. Bahkan, pada kasus hepatitis C kondisi ini dapat terjadi menahun dan saat sudah parah baru timbul gejala.Ketika Anda melakukan tes kesehatan secara rutin, maka pendeteksian hepatitis ini dapat dilakukan sedini mungkin. Upaya penanganan dan pengobatan akan dilakukan dengan segera, sehingga dampaknya pada organ hati dan kesehatan tubuh akan dapat diminimalisir semaksimal mungkin.Kebersihan Pribadi Selain lingkungan tempat tinggal, memastikan dan menjaga kebersihan pribadi adalah hal yang sangat penting dalam pencegahan hepatitis. Anda harus rajin mencuci tangan ketika akan makan, selalu memperhatikan kebersihan menu makanan, dan sebagainya.Baca Juga: Yuk Cari Tau! Bagaimana Penularan Hepatitis?Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan mengenai tips pencegahan hepatitis yang dapat Anda terapkan. Ingat, hepatitis sangat jarang menunjukkan gejala awal pada infeksinya, sehingga dapat menahun berada dalam tubuh tanpa diketahui.Kondisi ini akan merugikan bagi tubuh pasien. Karenanya, Anda pun harus tanggap dengan rutin melakukan cek kesehatan di klinik Granostic.Menariknya lagi, kami memiliki layanan konsultasi online yang memungkinkan Anda untuk terhubung dengan tim medis kami dimanapun Anda mau. Tak percaya? Langsung konsultasikan upaya pencegahan hepatitis bersama dokter klinik Granostic dengan klik Home Service di bawah ini.
Apa Perbedaan Hepatitis A, B dan C?
Hepatitis merupakan jenis penyakit yang menjadi masalah kesehatan di penjuru dunia. Jenis dari penyakit hepatitis ini pun ada banyak, seperti hepatitis A, B, dan C. Lantas tahukah Anda, apa saja perbedaan dari hepatitis A, B, dan C tersebut?Hepatitis merupakan jenis penyakit yang mengakibatkan peradangan pada organ hati. Faktor penyebabnya sangat beragam, dari infeksi virus, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, terpapar zat berbahaya atau overdosis obat-obatan tertentu, dan banyak lainnya.Hepatitis A, B, dan C adalah tiga contoh dari beberapa jenis hepatitis yang sering terjadi di Indonesia. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, cara penularan, hingga penanganannya.Berikut ini Granostic akan membagikan apa saja perbedaan mengenai hepatitis A, B, dan C tersebut. Simak baik-baik, ya, Sobat!Hepatitis A Merupakan jenis penyakit hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A atau HAV. Jenis hepatitis ini umumnya tidak memiliki gejala serius, serta dapat sembuh total dalam beberapa bulan.Namun dalam kasus yang langka terjadi, hepatitis A dapat memiliki status akut dan memberikan dampak besar pada organ hati. Sehingga akan mengancam jiwa bila tidak ditangani dengan baik.Penyebaran Hepatitis A Mengonsumsi makanan dan minuman dalam kondisi yang kurang bersih, misal tidak mencuci tangan terlebih dahulu.Tidak sengaja mengonsumsi minuman atau makanan yang terkontaminasi virus HAV dari feses.Berinteraksi dengan pengidap hepatitis A secara dekat.Berhubungan seksual dengan pengidap hepatitis A, meski tanpa pengaman penularan bisa saja terjadi.Gejala Hepatitis A Ketika terserang hepatitis A seseorang bisa saja pada awalnya tidak merasakan gejala apapun. Atau, tidak menyadarinya karena gejala terlalu ringan.Namun, gejala tersebut umumnya akan bertambah setelah 4 minggu sejak pertama kali terinfeksi. Gejala ini bahkan bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Berikut gejala hepatitis A yang perlu Anda tahu:Merasakan Lelah yang berlebihan, dapat disertai nyeri sendi dan otot.Demam atau naiknya suhu tubuh.Mengalami penurunan nafsu makan.Merasa sakit di bagian kanan atas perut.Adanya perubahan warna pada urine dan feses yang jadi lebih gelap.Timbul gatal-gatal pada tubuh.Langkah Pengobatan Hepatitis A Berikut ini Langkah yang dapat diambil pasien dalam pengobatan hepatitis A:Mengunjungi klinik kesehatan, melakukan cek kondisi tubuh, serta konsultasi dengan dokter.Konsumsi obat yang diberikan oleh dokter sesuai dengan resep dan dosis yang diberikan.Perbanyak istirahat dan perhatikan ruangan tempat tanggal agar tetap nyaman serta bersih.Hindari konsumsi alkohol dan berhubungan seksual dengan pasangan, untuk mencegah makin parah dan penularan.Terapkan kebiasaan yang sehat dan bersih, seperti rajin mencuci tangan serta memasak menu makan dengan tingkat kematangan yang pas.Hepatitis B Selanjutnya adalah hepatitis B, yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis B atau HBV. Berbeda dengan tipe A, hepatitis B memiliki dua tingkat keparahan yakni akut dan kronis. Hepatitis B akut akut bersifat sementara. Umumnya terjadi kurang lebih 6 bulan lamanya, setelah seseorang pertama kali terpapar HBV. Kondisi ini bisa saja berkembang menjadi kronis, namun tidak selalu demikian.Sementara infeksi hepatitis kronis bersifat jangka panjang. Kondisi ini terjadi karena virus tersebut menetap dalam tubuh, kemudian berkembang dan berkemungkinan besar memicu komplikasi lainnya.Penyebaran Hepatitis B Penularan HBV ini dapat terjadi karena kontak individu ke individu yang lain lewat darah, air mani, saliva, dan berbagai cairan tubuh lainnya.Karenanya, secara umum berikut beberapa cara penyebaran HBV:Kontak seksual tanpa menggunakan pengaman, yang menyebabkan virus mudah tertular lewat darah, liur, cairan vagina, dan air mani.Penggunaan jarum suntik bersama-sama dengan pengidap hepatitis B.Melalui ibu hamil ke janin yang dikandungnya.Gejala Hepatitis B Sama halnya dengan tipe A, hepatitis B bisa saja tidak memiliki gejala yang sangat tampak. Namun pada anak-anak di atas usia 5 tahun dan orang dewasa, gejala akan muncul dalam waktu 2 hingga 5 bulan setelah terinfeksi pertama kali.Beberapa gejala yang umum dari infeksi HBV antara lain:Perubahan urin yang berwarna gelap, sementara feses jadi berwarna pucat.Mengalami diare.Merasa tubuh Lelah secara berlebihan. dapat disertai dengan nyeri sendi.Mengalami demam ringan.Nafsu makan menurun dan merasa mual atau muntah.Muncul ruam pada kulitMengalami penyakit kuning.Serta pembuluh darah akan terlihat seperti sarang laba-laba pada kulit.Langkah Pengobatan Hepatitis B Berikut ini Langkah pengobatan hepatitis B yang dapat Anda lakukan:Diagnosa: periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan perawatan tepat.Pengobatan setelah terpapar: dokter akan memberikan suntikan imunoglobulin dalam kurun waktu 12 jam setelah terpapar pertama kali. Tujuannya untuk memberikan perlindungan jangka pendek. Langkah ini pun dibarengi dengan pemberian vaksin.Pengobatan infeksi akut: karena sifatnya yang lama, dokter dapat menyarankan untuk pasien mendapatkan istirahat yang banyak, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh.Pengobatan infeksi kronis: dilakukan dengan memberikan beberapa obat antivirus, injeksi interferon, hingga transplantasi hati.Hepatitis C Sementara itu, hepatitis C merupakan jenis hepatitis yang terjadi akibat infeksi HCV atau virus hepatitis tipe C. Sama halnya dengan tipe B, jenis hepatitis ini pun dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat keparahannya, yakni akut dan kronis.Infeksi HCV akut umumnya tidak bergejala, serta persentase untuk menimbulkan kematian juga cukup kecil. Sekitar 15 hingga 45 persen pengidap hepatitis C berhasil sembuh dari tipe akut ini tanpa penanganan khusus.Sementara itu, infeksi HCV kronis dapat memberikan gejala khusus dan memicu komplikasi pada tubuh pasien. Karenanya dibutuhkan penanganan yang tanggap, cepat, dan akurat untuk menangani infeksi HCV.Penyebaran Hepatitis C Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah, yang sebelumnya telah terkontaminasi virus HCV. Selain itu, penyebaran penyakit ini pun bisa melalui kontak seksual tanpa pengaman.Gejala Hepatitis C Pada awalnya, hepatitis C tidak akan memberikan gejala yang signifikan bahkan sangat ringan sampai tak disadari oleh pasien. Akan tetapi, setelah infeksi dalam waktu yang lama, muncul beberapa gejala, seperti:Pasien akan merasa kelelahan yang sangat, dapat disertai dengan rasa nyeri.Tubuh akan mudah memar dan berdarah.Nafsu makan menurun.Warna mata dan kulit akan menjadi kuning.Urine jadi berwarna lebih gelap, sementara feses menjadi lebih pudar.Kulit yang gatal, serta terkadang diiringi ruam dan banyak lainnya.Langkah Pengobatan Hepatitis C Sama halnya dengan tipe B, hepatitis C yang masih dalam skala akut akan dapat sembuh dengan sendirinya. Karenanya, secara umum dokter tidak akan memberi obat-obatan khusus, kecuali untuk meringankan gejala serius.Selain itu, dalam kondisi ini dokter pun bisa meresepkan antivirus untuk mencegah pengembangan HCV menjadi hepatitis C kronis.Sementara pada penderita hepatitis C tipe kronis, diperlukan adanya pengobatan melalui obat antivirus untuk mencegah perkembangan virus. Sebab, virus HCV yang terus berkembang ini dapat menimbulkan kerusakan kronis pada organ hati, kemudian dapat terjadi komplikasi.Perlu Anda ingat juga, bahwa hepatitis C ini merupakan jenis yang dapat menginfeksi secara berulang. Sehingga Anda perlu tetap menjaga diri dan berhati-hati untuk tidak terinfeksi kembali setelah proses pemulihan.Nah, Sobat Granostic, itu adalah penjelasan mengenai perbedaan hepatitis A, B, dan C. Apakah penjelasan di atas mudah untuk Anda pahami, atau masih ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Anda soal hepatitis?Jangan khawatir, Anda dapat langsung berdiskusi dengan tim medis kami tanpa berkunjung ke klinik lewat layanan Home Service. Layanan konsultasi online ini memungkinkan Anda untuk terhubung dengan dokter spesialis dimanapun dan kapanpun Anda membutuhkannya.Selain itu, Granostic pun menyediakan layanan medical check up, yang dapat membantu Anda melakukan tes hepatitis A, B, maupun C. Dapatkan hasil pemeriksaan yang akurat dan arahan pengobatan yang tepat bersama dokter spesialis Klinik Granostic.Yuk, cegah penularan hepatitis A, B, dan C dengan layanan pemeriksaan kesehatan Granostic!
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message