Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Edukasi Granostic

Rheumatoid Arthritis
DEFINISI REUMATHOID ARTHRITISRheumatoid arthritis merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik atau penyakit autoimun di mana rheumatoid arthritis ini memiliki karakteristik terjadinya kerusakan pada tulang sendi, ankilosis dan deformitas. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan penyambung difus yang diperantarai oleh imunitas.Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani, “arthon” yang berarti sendi, dan “itis” yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang pada sendi. Sedangkan Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit autoimun di mana persendian (biasanya tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali menyebabkan kerusakan pada bagian dalam sendi.Rheumatoid Arthritis merupakan penyakit autoimun yang mengenai jaringan persendian, dan sering juga melibatkan organ tubuh lainnya yang di tandai dengan terdapatnya sinovitis erosif sistemik. Insiden puncak antara usia 40-60 tahun, lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.American College of Rheumatology (2012) menyatakan bahwa, Rheumatoid Arthritis adalah penyakit kronis (jangka panjang) yang menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan serta keterbatasan gerak dan fungsi banyak sendi. Artritis pasca trauma, ini dapat diikuti cedera lutut yang serius. Patah tulang di lutut atau di ligamen lutut mungkin merusak articular kartilago, hal ini menyebabkan nyeri lutut dan fungsi lutut menurun.KLASIFIKASI REUMATHOID ARTHRITISBuffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu:Rheumatoid arthritis klasik pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.Rheumatoid arthritis defisit pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.ETIOLOGI ATAU PENYEBAB Penyebab Rheumatoid Arthritis belum diketahui dengan pasti. Kecenderungan wanita untuk menderita rheumatoid arthritis dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyakit ini. Walaupun demikian karena pembenaran hormon estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini. Namun, kejadiannya dikorelasikan dengan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.Genetik, berupa hubungan dengan gen HLA-DRB1 dan faktor ini memiliki angka kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60%.Hormon Sex, perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental Corticotraonin Releasing Hormone yang mensekresi. dehidropiandrosteron (DHEA), yang merupakan substrat penting dalam sintesis estrogen plasenta. Dan stimulasi estrogen dan progesteron pada respon imun humoral (TH2) dan menghambat respon imun selular (TH1). Pada RA respon TH1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesteron mempunyai efek yang berlawanan terhadap perkembangan penyakit iniFaktor Infeksi, beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk semang (host) dan merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga muncul timbulnya penyakit RA. Faktor Lingkungan, salah satu contohnya adalah merokok dan aktifitas yang berat sehari-harinya.Infeksi telah diduga merupakan penyebab rheumatoid arthritis. Dugaan faktor infeksi timbul karena umumnya omzet penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi suatu organisme dari jaringan synovial, hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa terdapat suatu komponen peptidoglikan atau endotoksin mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya rheumatoid arthritis. Agen infeksius yang diduga merupakan penyebab rheumatoid arthritis Antara lain bakteri, mycoplasma atau virus.Hipotesis terbaru tentang penyebab penyakit ini adalah adanya faktor genetik yang akan menjurus pada penyakit setelah terjangkit beberapa penyakit virus, seperti infeksi virus Epstein-Barr. Heat Shock Protein (HSP) adalah sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk oleh sel seluruh spesies sebagai respon terhadap stress. Walaupun telah diketahui terdapat hubungan antara Heat Shock Protein dan sel T pada pasien rheumatoid arthritis namun mekanisme hubungan ini belum diketahui dengan jelas.GEJALA KLINISMenurut (Aspiani, 2014) ada beberapa gejala klinis yang umum ditemukan pada pasien rheumatoid arthritis. Gejala klinis ini tidak harus timbul secara bersamaan. Oleh karenanya penyakit ini memiliki gejala klinis yang sangat bervariasi:Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun, dan demam. Terkadang dapat terjadi kelelahan yang hebat.Poliaritis simetris, terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalang distal, hampir semua sendi diartrodial dapat terangsang.Pentingnya untuk membedakan nyeri yang disebabkan perubahan mekanis dengan nyeri yang disebabkan inflamasi. Nyeri yang timbul setelah aktivitas dan hilang setelah istirahat serta tidak timbul pada pagi hari merupakan tanda nyeri mekanis. Sebaliknya nyeri inflamasi akan bertambah berat pada pagi hari saat bangun tidur dan disertai kaku sendi atau nyeri yang hebat pada awal gerak dan berkurang setelah melakukan aktivitas.Kekakuan di pagi hari selama lebih dari satu jam, dapat bersifat generalisata terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartratis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari satu jam.Arthritis erosif, merupakan ciri khas rheumatoid arthritis pada gambaran radiologic. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan dapat dilihat pada radiogram.Deformitas, kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, sublukasi sendi metakarpofalangeal, leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering di jumpai pasien. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat terangsang dan akan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi.Nodula-nodula rheumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita rheumatoid arthritis. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa elekranon (sendi siku), atau di sepanjang permukaan ekstanor dari lengan, walaupun demikian nodul-nodul ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Nodul-nodul ini biasanya merupakan suatu tanda penyakit yang aktif dan lebih berat.Manifestasi ekstra articular, rheumatoid arthritis juga dapat menyerang organorgan lain diluar sendi. Jantung (pericarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan rusaknya pembuluh darah.PEMERIKSAAN PENUNJANGDiagnosis Rheumatoid Arthritis memerlukan sejumlah tes untuk meningkatkan kepastiandiagnosis, membedakannya dengan bentuk artritis yang lain, memprediksi perkembangan penyakit pasien, serta melakukanmonitoring untuk mengetahui perkembangan penyakit yaitu:Laju endap darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP) menunjukkan adanya proses inflamasi, akan tetapi memiliki spesifisitas yang rendah untuk RA. Tes ini berguna untuk memonitor aktivitas penyakit dan responnya terhadap pengobatan.Tes RF (Rheumatoid Factor). Tes ini tidak konklusif dan mungkin mengindikasikan penyakit peradangan kronis yang lain (positif palsu). Pada beberapa kasus RA, tidak terdeteksi adanya RF (negatif palsu). RhF ini terdeteksi positif pada sekitar 60-70% pasien RA. Level RF jika dikombinasikan dengan level antibodi anti-CCP dapat menunjukkan tingkat keparahan penyakit.Tes antibodi anti-CCP (Cyclic Citrullinated Peptide) adalah tes untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis secara dini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tes tersebut memiliki sensitivitas yang mirip dengan tes RF, akan tetapi spesifisitasnya jauh lebih tinggi dan merupakan prediktor yang kuat terhadap perkembangan penyakit yang erosif.Analisis cairan sinovial. Peradangan yang mengarah pada rheumatoid arthritis ditandai dengan cairan sinovial abnormal dalam hal kualitas dan jumlahnya yang meningkat drastis. Sampel cairan ini biasanya diambil dari sendi (lutut), untuk kemudian diperiksa dan dianalisis tanda-tanda peradangannya.X-ray tangan dan kaki dapat menjadi kunci untuk mengidentifikasi adanya erosi dan memprediksi perkembangan penyakit dan untuk membedakan dengan jenis artritis yang lain, seperti osteoartritis.Scan tulang. Tes ini dapat digunakan untuk mendeteksi adanya inflamasi pada tulang.PENCEGAHAN REUMATHOID ARTHRITISEtiologi untuk penyakit RA ini belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menekan faktor risiko:Membiasakan berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mengurangi risiko peradangan oleh RA. Oleh penelitian Nurses Health Study AS yang menggunakan 1.314 wanita penderita RA didapatkan mengalami perbaikan klinis setelah rutin berjemur di bawah sinar UV-B.Melakukan peregangan setiap pagi untuk memperkuat otot sendi. Gerakan-gerakan yang dapat dilakukan antara lain, jongkok-bangun, menarik kaki ke belakang pantat, ataupun gerakan untuk melatih otot lainnya. Bila mungkin, aerobik juga dapat dilakukan atau senam taichi.Menjaga berat badan. Jika orang semakin gemuk, lutut akan bekerja lebih berat untuk menyangga tubuh. Mengontrol berat badan dengan diet makanan dan olahraga dapat mengurang risiko terjadinya radang pada sendi.Mengonsumsi makanan kaya kalsium seperti almond, kacang polong, jeruk, bayam, buncis, sarden, yoghurt, dan susu skim. Selain itu vitamin A, C, D, E juga sebagai antioksidan yang mampu mencegah inflamasi akibat radikal bebas.Memenuhi kebutuhan air tubuh. Cairan synovial atau cairan pelumas pada sendi juga terdiri dari air. Dengan demikian diharapkan mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup dapat memaksimalkan sistem bantalan sendi yang melumasi antar sendi, sehingga gesekan bisa terhindarkan. Konsumsi air yang disarankan adalah 8 gelas setiap hari.Berdasarkan sejumlah penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa merokok merupakan faktor risiko terjadinya RA. Sehingga salah satu upaya pencegahan RA yang bisa dilakukan masyarakat ialah tidak menjadi perokok aktif maupun pasif.PENULIS: Tri Miranda PrasastiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Suarjana. 2009. Buku ajaran Ilmu Penyakit Dalam Edisi V, Interna Publishing, Jakarta (etiologi RA)Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gerontik (jilid 1; Tunut Ari M@fuhin, ed.). Jakarta: Trans Info Media. (gejala klinis RA)Lukman. dkk. (2013). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal (Aklia Suslia, ed.). Jakarta: salemba medika. (definisi RA)Candra K. (2013). Teknik Pemeriksaan Genu Pada Kasus Osteoarthritis Dengan Pasien Non Koperatif. Academia Edu (pencegahan RA)Febriana (2015). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis Ankle Billateral Di RSUD Saras Husada Purworejo. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (pencegahan RA)
APA ITU CYTOMEGALOVIRUS?
DEFINISI CYTOMEGALOVIRUS (CMV)Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi bawaan yang paling sering terjadi pada manusia. Cytomegalovirus (CMV) sendiri merupakan virus DNA yang termasuk genus Herpes. CMV yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV.CMV sendiri merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling umum di seluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemahaman lebih lanjut mengenai topik ini menjadi penting karena kita semua perlu mengetahui mengenai virus ini tentang bagaimana penyebaran, gejala, pengobatan, serta pencegahannya.Kebanyakan orang tidak menyadari terinfeksi virus ini karena jarang menimbulkan gejala. Namun demikian, bila anda hamil dan sistem kekebalan anda melemah, ada baiknya anda berpikir tentang CMV. Infeksi CMV sering digabung dalam infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex). Padahal infeksi CMV tidak terbatas pada ibu hamil saja, melainkan dapat menyerang setiap individu.Setelah infeksi primer atau infeksi pertama kali, CMV hidup menetap (dormant) dalam tubuh seumur hidup kita. Infeksi berjalan laten, namun reaktivasi, replikasi, reinfeksi sering terjadi. Penyebaran dalam tubuh atau endogen dapat terjadi melalui sirkulasi darah. Infeksi CMV bersifat sistemik, menyerang berbagai organ tubuh dan dapat meningkatkan proses inflamasi, memacu respons autoimun, terlibat dalam patogenesis aterosklerosis, memacu timbulnya dan mempercepat perkembangan pada kasus-kasus keganasan, menyebabkan infertilitas.ETIOLOGI ATAU PENYEBABInfeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi bawaan yang paling sering terjadi pada manusia. Infeksi cytomegalovirus dapat diikuti oleh infeksi primer maupun melalui kehamilan. Sekitar 90% infeksi CMV pada bayi baru lahir yang terinfeksi saat dalam kandungan tidak menunjukkan gejala apapun. Infeksi CMV kongenital dapat didiagnosis dengan mengisolasi virus melalui urin atau saliva saat bayi berusia 0-3 minggu, atau dengan amplifikasi DNA atau teknik hibridisasi.Cytomegalovirus (CMV) sendiri merupakan virus DNA yang termasuk genus Herpes. CMV yang spesifik menyerang manusia disebut sebagai human CMV. Cytomegalovirus menyebabkan perbesaran ukuran sel sampai dua kali lipat ukuran sel normal. CMV hidup secara parasit intrasel dan sepenuhnya tergantung pada sel inang untuk bereplikasi dengan cara menginfeksi sel inang yang permissive, atau sel dalam kondisi tidak mampu melawan invasi dan replikasi virus. CMV mengikat diri pada reseptor di permukaan sel inang, kemudian menembus membran sel, masuk ke dalam vakuola di sitoplasma. Lalu selubung virus terlepas dan nucleocapsid dengan cepat menuju nukleus sel inang. Terjadilah ekspresi gen imediate early (IE) spesifik RNA atau transkrip gen alfa yang dapat dijumpai tanpa ada sintesis protein virus de novo. Ekspresi protein ini penting untuk ekspresi gen virus berikutnya, yaitu gen beta yang menunjukkan transkripsi kedua dari RNA. Setelah lepas dari sel, virus dapat ditemukan dalam urin dan cairan tubuh lainnya, menyerap β2 mikroglobulin (Beta-2 mikroglobulin) sehingga dapat melindungi antigen virus dan mencegah netralisasi antibodi sehingga infeksi dapat terus berlanjut.Cytomegalovirus memiliki kaitan dengan virus-virus yang menyebabkan cacar air, herpes simpleks, dan mononukleosis. Sekali anda terinfeksi oleh CMV, maka virus akan tinggal selama anda hidup, tetapi tak selalu aktif. CMV dapat bersiklus antara periode dormant (tidur) dan reaktivasi. Bila anda sehat, ia akan tidur, anda dapat menularkan virus bila mengalami reaktivasi. Transmisi virus terjadi melalui paparan terhadap cairan tubuh termasuk darah, air liur, ASI, air mata, cairan semen, dan cairan vagina. Tetapi tidak oleh kontak yang bersifat biasa dalam pergaulan.Virus dapat menyebar dengan banyak cara:Menyentuh mata atau bagian dalam hidung atau mulut sehabis kontak cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Ini adalah cara paling umum, ia menyebar karena CMV meresap keselaput lendir.Melalui kontak seksual dengan pasangan terinfeksi.Melalui ASI dari ibu terinfeksi.Melalui transplantasi organ atau transfusi darah.Melalui plasenta, dari ibu terinfeksi kepada bayi belum lahir, atau selama kelahiran.EpidemiologiInfeksi CMV tersebar luas di seluruh dunia, terjadi secara endemik dan tidak dipengaruhi oleh musim. Prevalensi CMV sangat bervariasi yakni antara 0,2 - 2,4% pada negara yang berbeda. Pada negara yang memiliki sosial ekonomi yang baik ditemukan 60-70% orang dewasa dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif terinfeksi CMV. Angka ini meningkat kurang lebih 1% per tahun. Sedangkan pada negara berkembang atau negara dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah maka populasi manusia dengan infeksi CMV positif ditemukan lebih tinggi yakni berkisar 80-90%. Di Indonesia belum didapatkan data yang cukup mengenai prevalensi infeksi CMV pada populasi. Namun, ditemukan sebanyak 90% populasi masyarakat umum dengan seropositif CMV.CMV sendiri merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling umum di seluruh dunia terutama pada negara-negara berkembang. Infeksi CMV dapat berasal dari urin, hasil sekresi orofaring, hasil sekresi servikal dan vaginal, semen, air susu ibu, air mata, dan darah. Prevalensi infeksi CMV kongenital sangat bervariasi, ada yang melaporkan sebesar 0,2 sampai 3%, ada pula sebesar 0,7% sampai 4,1%. Di Amerika Serikat, insiden CMV pada bayi sampai usia 6 bulan adalah 39 - 56%. Hal ini disebabkan pemberian air susu ibu yang kembali populer di kalangan ibu. Selain itu, penelitian lain mengemukakan bahwa prevalensi CMV yakni 1 - 2% dari seluruh kehamilan. Infeksi CMV seperti yang dilaporkan oleh Ogilvie terjadi pada 1 dari 3 kasus wanita hamil.GEJALA KLINISBayi baru lahir dengan CMV dari dalam kandungan (CMV kongenital), bayi yang terinfeksi selama persalinan, atau segera setelah lahir (CMV perinatal) misalnya karena menyusui, dan orang-orang yang mengalami penurunan kekebalan tubuh memiliki risiko lebih besar terinfeksi CMV dibandingkan orang dewasa sehat.Gejala infeksi CMV pada BayiWanita hamil, lalu terinfeksi CMV, berada pada risiko rendah menularkan virus kepada bayinya. Apabila ini adalah pertama kali infeksi (primary CMV), maka risiko transmisi kepada bayi lebih tinggi dari pada infeksi reaktivasi (ulang). Transmisi umumnya terjadi pada paruh awal kehamilan, biasanya pada trimester pertama.Bayi yang terinfeksi selama kehamilan, pada saat lahir umumnya tampak sehat, tetapi beberapa diantara mereka akan menunjukkan gejala seiring berjalannya waktu. Yang paling umum terjadi adalah gangguan pendengaran, ada juga dalam jumlah sedikit yang mengalami gangguan penglihatan.Bayi-bayi dengan CMV kongenital yang sakit pada waktu dilahirkan cenderung sakit berat. Tanda dan gejalanya meliputi:Kulit dan mata kuning (jaundice)Noda-noda ungu kulit atau ruam merah pada kulit, atau bisa keduanya.Berat badan lahir rendah.Limpa (lien) membesarLiver membesar dan tidak berfungsi baik.PneumoniaKejang-kejang.Gejala Infeksi CMV pada orang dengan penurunan kekebalan (compromised immunity)Gejala muncul setelah 6 – 90 hari setelah infeksi primer. Kadang hanya muncul dengan gejala mirip sakit flu (flu-like symptoms). Sakit yang menyerupai mononukleosis infeksius adalah tampilan yang umum terjadi dari CMV pada orang-orang dengan penurunan kekebalan (immunocompromised).CMV juga dapat menyerang organ-organ spesifik. Tanda dan gejala bisa berikut ini:DemamPneumoniaDiareUlkus (borok) saluran cerna, dapat menyebabkan perdarahan.HepatitisPeradangan otak (ensefalitis)Perubahan perilaku.Kejang-kejangKomaGangguan penglihatan atau kebutaanKebanyakan orang yang terinfeksi CMV yang dalam keadaan sehat hanya mengalami sedikit gejala. Ketika terinfeksi pertama, orang dewasa akan menunjukkan gejala seperti mononukleosis, meliputi kelelahan (fatigue), demam, dan nyeri otot.PEMERIKSAAN PENUNJANGPemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis infeksi CMV, adalah pemeriksaan laboratorium, termasuk di dalamnya pemeriksaan serologi, kultur virus atau pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi DNA virus dan pencitraan. Ketiga pemeriksaan penunjang ini menjadi diagnosis pasti infeksi CMV pada pasien bayi, maupun pasien dewasa, termasuk di dalamnya pasien dengan riwayat imunokompromais.SerologiPemeriksaan serologi dibutuhkan untuk menentukan ada tidaknya infeksi CMV di masa lampau. Adanya hasil positif pada pemeriksaan IgG CMV mengindikasikan adanya riwayat infeksi CMV yang sudah maupun belum diketahui sebelumnya. Pemeriksaan IgM diindikasikan untuk infeksi akut, maupun infeksi yang sedang berlangsung saat ini. Namun, pemeriksaan IgM memiliki hasil yang kurang berkorelasi dengan kondisi pasien, dikarenakan kemungkinan IgM yang tetap positif selama beberapa bulan setelah terjadinya infeksi primer dan juga IgM yang memiliki nilai positif pada infeksi CMV berulang. Oleh karena itu, selain pemeriksaan IgM dan IgG, untuk menentukan diagnosis infeksi CMV juga dilakukan pemeriksaan aviditas IgG untuk membedakan infeksi CMV primer dan sekunder.Kultur SelKultur sel umumnya dilakukan pada sel fibroblas manusia yang diinokulasikan dengan spesimen tertentu dan diamati selama 2-21 hari. Hasil positif kultur ditandai dengan adanya sel bergerombol yang bersifat fokal. Kultur sel membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendiagnosis infeksi CMV.Polymerase Chain Reaction (PCR)Pemeriksaan PCR merupakan pemeriksaan yang cepat dan sensitif untuk dilakukan dalam mendeteksi infeksi CMV. Pemeriksaan PCR ini dilakukan untuk mendeteksi antigen atau DNA dari virus CMV. DNA virus dapat ditemukan pada sel darah merah, sel leukosit, sel plasma, ataupun cairan tubuh seperti urin dan cairan serebrospinal.PENGOBATAN DAN PENCEGAHANPada pengobatan infeksi cytomegalovirus (CMV) dengan pemberian antivirus berupa:1. Ganciclovir (Cytovene)Ganciclovir adalah sintetis guanine turunan nukleosida analog aktif sebagai antivirus yang digunakan sebagai pengobatan infeksi cytomegalovirus yang mampu menghambat replikasi dari cytomegalovirus. Efek samping dari penggunaan obat ini berupa mual, pusing, anemia, gatal-gatal, dan mati rasa ataupun kesemutan. Tetapi tidak semua orang dapat mengalami efek samping dari penggunaan obat ini.2. Valganciclovir (Valcyte)Valganciclovir merupakan suatu antivirus terhadap cytomegalovirus yang aktif di dalam usus dan hati yang merupakan prodrug dari ganciclovir. Biasanya obat ini digunakan pada cytomegalovirus yang disebabkan oleh transplantasi ginjal dan pancreas dan pasien AIDS yang memiliki retinitis CMV.3. Foscarnet (Foscavir)Foscarnet adalah antivirus yang menggunakan rantai DNA inhibitor fosforilasi yang mampu menghambat replikasi dari CMV di pirofosfat dengan mengikat pada bagian spesifik virus DNA polimerase. Pemberian obat ini dianjurkan jika ganciclovir dianggap tidak efektif dalam penanganan CMV. Efek samping dari obat ini berupa anemia, sakit kepala, mual dan dapat menyebabkan perubahan metabolisme kalsium dan fosfor.Prinsip higiene yang hati-hati merupakan tindakan terbaik dalam pencegahan infeksi CMV. Para pekerja kesehatan memiliki peluang terbesar terpapar CMV, tetapi karena ada prinsip kewaspadaan universal (general precaution) yang berlaku di pelayanan kesehatan maka risiko terinfeksi menjadi rendah.Anda bisa gunakan kewaspadaan berikut untuk membantu mencegah infeksi CMV:Sering mencuci tangan. Gunakan air dan sabun selam 15 – 20 detik, terutama bila anda habis kontak dengan anak, popok, air liur, atau sekresi oral lainnya. Ini penting terutama bila anak berada dalam perawatan.Hindari kontak air liur dan air mata ketika mencium anak. Ketimbang mencium anak di bibir, lebih baik mencium di dahi, ini penting bila anda sedang hamil.Hindari berbagi makanan dan minuman dalam satu wadah yang sama. Berbagi gelas dan perlengkapan makan dapat menyebarkan CMV.Hati-hati dengan benda-benda habis pakai. Ketika membuang popok, tissue, dan barang-barang lain yang terkontaminasi cairan tubuh berhati-hatilah untuk tidak menyentuh area wajah anda sebelum cuci tangan dengan benar.Bersihkan mainan dan pegangan pada babywalker. Bersihkan permukaan benda-benda yang kontak dengan urin atau air liur anak.Lakukan aktivitas seksual yang sehat. Pakai kondom bila diperlukan. Ini membantu mencegah penyebaran CMV melalui cairan vagina dan cairan semen. Vaksin-vaksin eksperimental saat ini sedang diuji untuk wanita pada usia kehamilan. Vaksin ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mencegah infeksi CMV pada ibu dan anak dan menurunkan kemungkinan bayi dilahirkan dari ibu terinfeksi CMV mengalami disabilitas. Bila anda memiliki penurunan sistem kekebalan tubuh maka ada keuntungan dari minum antiviral untuk mencegah infeksi CMV.PENULIS: Hevi Dwi WahyuniEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDTOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Alexander L. Congenital cytomegalovirus infection (2003)Wilujeng PS. Infeksi cytomegalovirus kongenital (2010)Griffiths PD, Emery VC. Cytomegalovirus. In: Richman DD, Whitley RJ, Hayden FG eds. Clinical Virology. Washington: ASM Press; 2002:433-55Stehel EK, Sänchez PJ. Cytomegalovirus infection in the fetus and neonate. NeoReviews 2005;4(1):38-45Numazaki K, Fujikawa T. Chronological changes of incidence and prognosis of children with asymptomatic congenital cytomegalovirus infection in Sapporo, Japan. BMC Infectious Diseases 2004; 4: 22. 
MENGENAL KANKER PAYUDARA
Kanker payudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Penyakit ini juga dapat diderita laki-laki namun dengan frekuensi yang lebih rendah sekitar 1% dari total penderita. Di Indonesia, lebih dari 80% kasus ditemukan berada pada stadium yang lanjut, di mana upaya pengobatan sudah sangat sulit dilakukan. Angka kejadian kanker payudara di Indonesia diperkirakan 12/100.000 wanita.Berdasarkan sifat serangannya, kanker payudara terbagi menjadi dua:Kanker payudara invasif: Sel kanker merusak saluran serta dinding kelenjar sel payudara.Kanker payudara non-invasif: Kanker ini cenderung terbatas pada saluran payudara.Berdasarkan tingkat prevalensinya dibagi menjadi dua: 1) Jenis kanker payudara yang paling umum terjadi, di antaranya : Lobular carsinoma in situ (LCIS): Kanker ini memperlihatkan pertumbuhan jumlah sel yang jelas, berada dalam kelenjar payudara. Penderita kanker jenis ini, dimonitor dengan ketat setiap empat bulan sekali oleh dokter dengan uji klinis pada payudaraDuctal Carcinoma in situ (DCIS): Tipe kanker payudara non invasif yang paling umum terjadi. Dengan deteksi dini, rerata tingkat bertahan hidup penderita hampir mencapai 100%, dengan catatan, kanker tidak menyebar dari saluran payudara ke jaringan lemak payudara dan bagian tubuh yang lain.Infiltrating lobular carcinoma (ILC): Kanker ini mulai terjadi dalam kelenjar payudara atau lobules payudara, tetapi sering menyebar ke bagian tubuh lain.Infiltrating ductal carcinoma (IDC): Kanker ini terjadi dalam saluran payudara dan menjebol dinding saluran, menyerang jaringan lemak payudara hingga kemungkinan terjadi pada bagian tubuh lain2) Jenis kanker yang jarang terjadi, di antaranya : Mucinous carcinoma: Disebut juga colloid carcinoma merupakan jenis yang jarang terjadi, terbentuk dari sel kanker yang memproduksi mucus/lendir. Medullary carcinoma: Merupakan jenis kanker invasif yang membentuk satu batas yang tidak lazim antara jaringan tumor dan normal. Jenis kanker ini hanya sekitar 5% dari seluruh kejadian kanker payudara.Tubular carcinoma: Kanker payudara jenis ini ditemukan hanya sekitar 2% dari keseluruhan kejadian. Tubular carcinoma merupakan satu tipe khusus dari kanker payudara invasif, dan biasanya memiliki angka kesembuhan yang cukup baik dibanding jenis kanker payudara lain.Inflamatory breast cancer: Hanya ditemukan sekitar 1% dari keseluruhan kejadian kanker payudara, akan tetapi perkembangan dari kanker ini sangat cepat. Kanker jenis ini memiliki kondisi di mana payudara terlihat meradang (merah dan hangat) dengan adanya cekungan dan atau pinggiran yang tebal yang disebabkan adanya penyumbatan pembuluh limfe kulit pembungkus payudara oleh sel kanker. Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara belum diketahui. Yang diketahui adalah faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kanker payudara, yaitu:Merokok dan terpapar asap rokok (perokok pasif)Pola dan jenis makanan yang buruk (tinggi lemak dan rendah serat, mengandung zat pengawet/ pewarna)Haid pertama pada umur kurang dari 12 tahunMenopause (berhenti haid) setelah umur 50 tahunMelahirkan anak pertama setelah umur 35 tahunTidak pernah menyusui anakPernah mengalami operasi pada payudara yang disebabkan oleh kelainan tumor jinak atau tumor ganas.Di antara anggota keluarga ada yang menderita kanker payudaraAdapun gejala klinis meliputi:1) Keluhan utamaBenjolan di payudaraKecepatan tumbuh relatif cepatBenjolan dengan/tanpa rasa sakitNipple discharge, retraksi puting payudara, dan bisa terdapat krusta pada area payudaraKelainan kulit, dimpling, peau d’orange, ulserasi, venektasi (pelebaran pembuluh darah kapiler)Benjolan pada ketiak dan edema lengan 2) Keluhan tambahan Nyeri tulang (tulang belakang, tulang panjang)Sesak dan lain sebagainya PEMERIKSAAN PENUNJANG1.) Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis beserta juga tumor marker. Apabila hasil dari tumor marker tinggi, maka perlu diulang untuk follow up.2.) Pemeriksaan Radiologi/Imaging:Mammografi Payudara Mammografi adalah pencitraan menggunakan sinar X pada jaringan payudara yang dikompresi. Mammogram adalah gambar hasil mammografi. Untuk memperoleh interpretasi hasil pencitraan yang baik, dibutuhkan dua posisi mammogram dengan proyeksi berbeda yaitu 45 dan 14 derajat (kraniokaudal dan mediolateralobligue). Mammografi juga dapat bertujuan skrining kanker payudara, diagnosis kanker payudara, dan follow up/kontrol dalam pengobatan. Mammografi rutin dikerjakan pada wanita dengan usia >40 tahun untuk perempuan Indonesia. Pemeriksaan Mammografi sebaiknya dikerjakan pada hari ke 7-10 dihitung dari hari pertama masa menstruasi, pada masa ini akan mengurangi rasa tidak nyaman pada wanita saat di kompresi dan akan memberi hasil yang optimal.USG Payudara Gambaran USG pada benjolan harus dicurigai ganas apabila ditemukan tanda-tanda seperti permukaan tidak rata, taller than wider, tepi hiperekoik, vaskularisasi meningkat, tidak beraturan. Penggunaan USG untuk tambahan mammografi meningkatkan akurasinya sampai 7,4%. Namun USG tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai modalitas skrining oleh karena didasarkan penelitian ternyata USG gagal menunjukkan efikasinya.MRI (Magnetic Resonance Imaging)MRI lebih baik daripada mammografi, namun secara umum tidak digunakan sebagai pemeriksaan skrining dikarenakan biaya yang mahal dan memerlukan waktu pemeriksaan yang lama. Akan tetapi MRI dapat dipertimbangkan pada wanita muda dengan payudara yang padat atau pada payudara dengan implant, dipertimbangkan pasien dengan risiko tinggi untuk menderita kanker payudara.3.) Biopsi kelenjar sentinel (Sentinel lymph node biopsy) adalah mengangkat kelenjar getah bening aksila sentinel sewaktu operasi. Kelenjar getah bening sentinel adalah kelenjar getah bening yang pertama kali menerima aliran limfatik dari tumor, menandakan mulainya terjadi penyebaran dari tumor primer. Biopsi kelenjar getah bening sentinel dilakukan menggunakan blue dye, radiocolloid, maupun kombinasi keduanya.4.) Pemeriksaan Patologi Anatomi pada kanker payudara meliputi pemeriksaan sitologi yaitu penilaian kelainan morfologi sel payudara, pemeriksaan histopatolgi merupakan penilaian morfologi biopsi jaringan tumor dilakukan dengan proses potong beku dan blok paraffin, dan pemeriksaan molekuler berupa immunohistokimia, in situ hibridisasi dan gene array.5.) Pemeriksaan Imunohistokimia (IHK) adalah metode pemeriksaan menggunakan antibodi sebagai probe untuk mendeteksi antigen dalam potongan jaringan (tissue sections) ataupun bentuk preparasi sel lainnya. IHK merupakan standar dalam menentukan subtipe kanker payudara.Pemeriksaan IHK pada karsinoma payudara berperan dalam membantu menentukan prediksi respons terapi sistemik dan prognosis. Pemeriksaan imunohistokimia yang standar dikerjakan untuk kanker payudara adalah:Reseptor hormonal yaitu reseptor estrogen (ER) dan reseptor progesteron (PR)HER2Ki-67Pemeriksaan ER dan PR dilakukan pada material dari blok parafin (spesimen core biopsy dan eksisi), dan dapat juga dari hapusan sitologi atau cell block.PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA:1.) Pencegahan (primer)Pencegahan primer berupa mengurangi, meniadakan, atau menghindari faktor risiko yang diduga sangat erat kaitannya dengan peningkatan insiden kanker payudara. 2.) Pencegahan sekunderPencegahan sekunder adalah melakukan skrining kanker payudara.Skrining kanker payudara adalah pemeriksaan atau usaha untuk menemukan abnormalitas yang mengarah pada kanker payudara pada seseorang atau kelompok orang yang tidak mempunyai keluhan. Tujuan dari skrining adalah menurunkan angka morbiditas akibat kanker payudara dan angka kematian. Pencegahan sekunder merupakan primadona dalam penanganan kanker secara keseluruhan.Selain skrining dari pemeriksaan penunjang yang telah disebutkan diatas, kita juga dapat melakukan skrining secara mandiri yang disebut dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri).Prosedur cara melakukan pemeriksaan SADARI adalah:Berdiri tegak. Cermati bila ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, pembengkakan dan/atau perubahan pada puting. Bentuk payudara kanan dan kiri tidak simetris? Jangan cemas, itu biasa.Angkat kedua lengan ke atas, tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala, dorong siku ke depan dan cermati payudara; dan dorong siku ke belakang dan cermati bentuk maupun ukuran payudara.Posisikan kedua tangan pada pinggang, condongkan bahu ke depan sehingga payudara menggantung, dan dorong kedua siku ke depan, lalu kencangkan (kontraksikan) otot dada Anda.Angkat lengan kiri ke atas, dan tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian atas punggung. Dengan menggunakan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan area payudara, serta cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke area ketiak. Lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran dan gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan Anda.Cubit kedua puting. Cermati bila ada cairan yang keluar dari puting. Berkonsultasilah ke dokter seandainya hal itu terjadi.Pada posisi tiduran, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Angkat lengan ke atas. Cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak.PENULIS: Defanny Viendah RamadhaniEDITOR: dr. May Fanny Tanzilia, Sp.PK(K) dan dr. Aji WibowoKOPIEDTOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:P2PTM Kemenkes RIPedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Kanker Payudara 
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message