Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Edukasi Granostic

Hemofilia
HEMOFILLIA adalah kelainan pembekuan darah yang diturunkan ibu ke anak laki-laki. Faktor-faktor pembekuan darah di dalam plasma darah dilambangkan dengan angka romawi, contoh: Faktor VIII: Faktor Delapan dan Faktor IX: Faktor Sembilan.Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah yang menyebabkan darah menjadi sulit membeku. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya faktor pembekuan darah alias koagulasi di dalam tubuh. Penyakit hemofilia adalah kelainan yang tidak dapat disembuhkan. Pengobatan yang ada saat ini bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi kesehatan di kemudian hari.Terdapat tiga jenis penyakit hemofilia:Hemofilia A yakni disebut sebagai hemofilia klasik yang diturunkan secara genetik. Hemofilia tipe A adalah penyakit yang terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembekuan darah VIII. Biasanya, hemofilia tipe A dikaitkan dengan kehamilan, penggunaan obat-obatan tertentu, penyakit kanker, lupus dan rematik.Hemofilia B adalah kondisi yang terjadi karena tubuh kekurangan faktor pembekuan darah IX. Kondisi ini biasanya diwariskan oleh ibu, tapi bisa juga terjadi ketika gen berubah atau bermutasi sebelum bayi dilahirkan.Hemofilia C merupakan gangguan yang disebabkan oleh berkurangnya faktor pembekuan darah XI. Kondisi ini juga disebut dengan sindrom Rosenthal. Kasus kejadian hemofilia C tergolong paling jarang ditemukan dibandingkan dengan jenis lainnyaPENYEBAB HEMOFILLIAHemofilia terjadi akibat mutasi genetik yang menyebabkan darah kekurangan faktor pembekuan VIII atau IX. Kekurangan faktor tersebut menyebabkan darah sukar membeku sehingga perdarahan sulit berhenti.Mutasi genetik yang terjadi pada hemofilia mempengaruhi kromosom X. Kelainan pada kromosom X kemudian diturunkan oleh ayah, ibu, atau kedua orang tua kepada anak.Hemofilia yang bergejala biasanya terjadi pada laki-laki. Anak perempuan lebih sering menjadi pembawa (carrier) gen abnormal yang berpotensi untuk diwariskan kepada keturunannya.Namun, dalam kasus acquired hemophilia, ada beberapa penyebab lain yang membuat seseorang mengalami gangguan pada produksi faktor pembekuan darah sekalipun tidak memiliki keturunan. Beberapa di antaranya adalah:Masalah pada sistem imun tubuhPenyakit peradangan kronis, seperti rheumatoid arthritis, lupus, dan diabetesPenyakit hati, seperti hepatitis atau sirosisKankerGEJALA HEMOFILLIAGejala utama hemofilia adalah darah yang sukar membeku sehingga menyebabkan perdarahan sulit berhenti atau berlangsung lebih lama selain itu juga terdapat gejala lain nya seperti: Perdarahan yang sulit berhenti, misalnya pada mimisan atau luka goresPerdarahan pada gusiPerdarahan yang sulit berhenti setelah operasi, misalnya setelah sunat (sirkumsisi)Darah pada urine dan tinjaMudah mengalami memarPerdarahan pada sendi yang ditandai dengan nyeri dan bengkak pada sendi siku dan lututTingkat keparahan perdarahan yang dialami penderita hemofilia tergantung pada jumlah faktor pembekuan dalam darah.Pada hemofilia ringan, jumlah faktor pembekuan dalam darah bervariasi dari 5 hingga 50%. Orang dengan hemofilia ringan mungkin tidak memiliki gejala apapun. Namun, pasien mungkin mengalami pendarahan yang sulit dihentikan jika lukanya cukup parah atau baru saja menjalani prosedur medis, seperti operasi dan pencabutan gigi.DIAGNOSIS HEMOFILLIATes darah untuk menentukan jumlah sel darah lengkap. Walaupun tidak mempengaruhi sel darah merah secara langsung, namun pendarahan akibat hemofilia dapat menyebabkan seseorang kekurangan sel darah merah dan hemoglobin (anemia).Tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi fungsi dan kerja faktor pembekuan darah melalui pemeriksaan PT (prothrombin time), APTT (activated partial thromboplastin time), dan fibrinogen. Pemeriksaan ini juga bisa menentukan tingkat keparahan hemofilia, dengan mengukur jumlah faktor VIII dan IX.Tes genetikTes genetik dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik yang menyebabkan hemofilia, terutama pada orang yang keluarganya memiliki riwayat hemofilia. Tes ini juga dapat mengetahui apakah seseorang merupakan pembawa (carrier) hemofilia.Tes genetik pada ibu hamil dapat mengetahui risiko janin menderita hemofilia. Pemeriksaan yang bisa dilakukan selama kehamilan meliputi:Chronionic villus sampling (CVS), yaitu pengambilan sampel dari plasenta untuk melihat apakah janin mengalami hemofilia. Tes ini dilakukan pada minggu ke-11 sampai ke-14 masa kehamilan.Amniocentesis, yaitu tes untuk memeriksa sampel cairan ketuban. Tes ini dilakukan pada minggu ke-15 sampai ke-20 masa kehamilan.Tingkatan penyakit hemofilia:Hemofilia ringan ditunjukkan dengan faktor pembekuan dalam plasma di antara 5-40 persen.Hemofilia sedang ditandai dengan faktor pembekuan dalam plasma sekitar 1-5 persen.Hemofilia berat diindikasikan dengan faktor pembekuan dalam plasma kurang dari 1 persen. Setelah dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, pilihan pengobatan dan perawatan sudah bisa ditentukan.Ada beberapa upaya yang bisa mencegah terjadinya luka dan cedera, yaitu:Menghindari kegiatan yang berisiko menyebabkan cederaMenggunakan pelindung, seperti helm, pelindung lutut, dan pelindung siku, jika harus melakukan aktivitas yang berisikoMemeriksakan diri ke dokter secara rutin untuk memantau kondisi hemofilia dan kadar faktor pembekuan yang dimilikiTidak meminum obat yang dapat memengaruhi proses pembekuan darah, seperti aspirin, tanpa resep dokterMenjaga kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut, termasuk rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigiPENULIS: Vicky Nur Fadila EDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Shapiro, S., et al. (2022). Cardiovascular Disease in Hereditary Haemophilia: The Challenges of Longevity. British Journal of Haematology, 00, pp. 1–10.Kadhim, K., Al-Lami, F., & Baldawi, K. (2019). Epidemiological Profile of Hemophilia in Baghdad-Iraq. Inquiry: The Journal of Health Care Organization, Provision, and Financing, 56, pp. 0046958019845280What Is Hemophilia? – CDC. (2020). Retrieved 16 April 2020Hemophilia A – National Hemophilia Foundation. (n.d.). Retrieved 16 April 2020Hemophilia B – National Hemophilia Foundation. (n.d.). Retrieved 16 April 2020
ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura)
Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) adalah penyakit yang menyebabkan tubuh mudah memar atau berdarah. Hal ini terjadi karena rendahnya jumlah sel keping darah (trombosit) dalam tubuh. ITP dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. Kondisi ini tidak menular sehingga interaksi langsung dengan penderita tidak menyebabkan seseorang tertular. Trombosit adalah sel darah yang berperan dalam proses penggumpalan darah untuk menghentikan perdarahan. Ketika jumlah trombosit rendah, seseorang akan mudah mengalami memar atau perdarahan.PENYEBAB ITPPenyebab ITP belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, dugaan utama penyebab ITP adalah gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang disebut penyakit autoimun. Pada penderita ITP, sistem kekebalan tubuh menganggap trombosit sebagai benda asing yang berbahaya sehingga dibentuk antibodi untuk menyerang trombosit. Hal inilah yang menyebabkan jumlah trombosit menurun. Selain itu, beberapa hal berikut ini juga dapat memicu munculnya ITP:Infeksi virus atau bakteri, umumnya pada anak-anakVaksinasiPaparan racun atau bahan kimia berbahaya, misalnya insektisidaPenyakit autoimun lain, misalnya SLEPengobatan kemoterapiGEJALA ITPGejala utama ITP adalah munculnya ruam merah atau memar di berbagai bagian tubuh dan perdarahan yang sulit dihentikan ketika luka. Beberapa tanda dan gejala tambahan lain yang disebabkan oleh ITP adalah:Rasa lelah yang berlebihanMimisanBercak darah pada urine atau tinjaGusi berdarah, terutama setelah menjalani perawatan gigiPerdarahan berlebihan saat menstruasiPada anak-anak, ITP terkadang tidak menimbulkan gejala. Jika muncul, gejala biasanya bersifat ringan dan berlangsung kurang dari 6 bulan (akut). Gejala ITP juga dapat berlangsung lebih dari 6 bulan (kronis), tetapi biasanya terjadi pada penderita dewasa.KAPAN HARUS KE DOKTER?ITP ditandai dengan perdarahan yang dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. Konsultasikan dengan dokter bila Anda sering mengalami perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau memar, terutama bila perdarahan tersebut terjadi secara spontan atau tanpa didahului cedera.Penderita ITP perlu berhati-hati dalam beraktivitas, khususnya aktivitas yang melibatkan kontak fisik dan berisiko menyebabkan cedera atau luka, misalnya bermain sepak bola. Bila mengalami luka, lakukan upaya untuk menghentikan perdarahan dengan menekan area yang berdarah.Bila perdarahan tidak juga berhenti, segera pergi ke instalasi gawat darurat (IGD) di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.DIAGNOSIS ITPDokter akan memeriksa seluruh bagian tubuh pasien untuk mendeteksi memar atau perdarahan. Jika terjadi perdarahan akibat luka, dokter akan memeriksa kondisi luka tersebut dan segera mengobatinya.Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk melihat jumlah trombosit. Jumlah trombosit normal adalah antara 150.000–400.000 per mikroliter. Penderita ITP memiliki trombosit di bawah nilai normal. Makin rendah trombosit, maka risiko perdarahan akan makin meningkat.Tidak ada pemeriksaan yang bisa memastikan ITP. Oleh sebab itu, dokter akan mencari dan menyingkirkan kemungkinan perdarahan dan rendahnya jumlah trombosit disebabkan oleh kondisi lain. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:Uji fungsi hatiPemeriksaan fungsi ginjalAspirasi sumsum tulangPENGOBATAN ITPITP yang ringan tidak memerlukan penanganan secara khusus, tetapi dokter akan memantau dan melakukan pemeriksaan trombosit secara rutin untuk mencegah perdarahan.Sedangkan pada ITP yang lebih parah, dokter akan memberikan penanganan untuk menjaga agar jumlah trombosit tidak turun sehingga tidak terjadi perdarahan.Penanganan ITP dapat diberikan dalam bentuk:OBAT-OBATAN:Sejumlah obat-obatan yang diberikan dokter untuk mengatasi ITP adalah:KortikosteroidKortikosteroid berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan jumlah trombosit. Dokter akan memberikan instruksi kepada pasien untuk berhenti mengonsumsi obat ini jika jumlah trombosit sudah kembali normal.EltrombopagJenis obat ini digunakan untuk membantu sumsum tulang agar dapat memproduksi lebih banyak trombosit.RituximabRituximab berfungsi untuk meredakan respons sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan rusaknya trombosit.Intravenous immunoglobulin (IVIg)IVIg adalah obat yang diberikan untuk meningkatkan jumlah trombosit ketika obat lain tidak lagi efektif dalam mengatasi ITP. Obat ini juga digunakan untuk meningkatkan jumlah darah ketika pasien mengalami perdarahan sebelum menjalani operasi. OPERASIJika ITP sudah parah dan obat-obatan tidak lagi efektif dalam mengatasi gejala, dokter akan melakukan operasi pengangkatan organ limpa atau splenektomi.Prosedur splenektomi bertujuan untuk mencegah penghancuran trombosit di organ limpa. Meski demikian, prosedur operasi ini jarang sekali dilakukan karena berisiko menimbulkan infeksi.KOMPLIKASI ITPKomplikasi ITP yang dapat terjadi adalah perdarahan, baik di saluran pencernaan maupun di organ tubuh lain. Jika terjadi di otak, perdarahan dapat membahayakan nyawa penderitanya, tetapi kondisi ini sangat jarang terjadi.Penggunaan kortikosteroid cukup efektif dalam mengobati ITP. Meski begitu, obat ini berpotensi menyebabkan efek samping jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Efek samping yang dapat muncul adalah:KatarakOsteoporosisDiabetesHilangnya massa ototOperasi pengangkatan organ limpa dapat meningkatkan risiko terkena infeksi bakteri, karena limpa berperan dalam melawan infeksi.Penderita ITP yang sedang hamil dapat menjalani masa kehamilan dan persalinan secara normal. Namun, konsultasikan dengan dokter kandungan mengenai hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari, baik selama kehamilan maupun persalinan.Perlu diketahui, bayi yang lahir dari penderita ITP berisiko memiliki jumlah trombosit yang rendah. Jika hal ini terjadi, dokter anak akan melakukan pengawasan intensif pada bayi selama beberapa hari.Dalam kondisi normal, jumlah trombosit bayi akan menurun sebelum akhirnya naik kembali. Namun, jika jumlah trombosit bayi tidak juga meningkat selama beberapa hari, dokter akan memberikan penanganan untuk mempercepat peningkatan trombosit.PENCEGAHAN ITPMeskipun ITP sendiri tidak dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan, yaitu:Lindungi diri Anda dari hal-hal yang dapat menyebabkan cedera.Konsultasikan kepada dokter tentang obat-obatan yang aman untuk Anda. Dokter akan melarang penggunaan obat yang dapat memengaruhi kadar trombosit dan meningkatkan risiko perdarahan, seperti aspirin atau ibuprofen.Segera hubungi dokter jika Anda mengalami gejala infeksi, misalnya demam. Tindakan ini penting dilakukan jika Anda menderita ITP atau telah menjalani pengangkatan organ limpa.PENULIS: Muhammad Nurul LailiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Zainal, A., Salama, A., & Alweis, R. (2019). Immune Thrombocytopenic Purpura. Journal of Community Hospital Internal Medicine Perspectives, 9(1), pp. 59–61.Nomura, S. (2016). Advances in Diagnosis and Treatments for Immune Thrombocytopenia. Clinical Medicine Insights: Blood Disorders, 9, pp. 15-22. Platelet Disorder Support Association (2020). What is ITP?National Institute of Health (2022). MedlinePlus. Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP).Mayo Clinic (2021). Diseases & Conditions. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).Donahue, M. Healthline (2022). Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).
STROKE
Stroke atau Cerebrovaskular accident menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal ataupun global karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih. Stroke merupakan kematian beberapa sel otak secara mendadak disebabkan karena kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak hilang karena adanya penyumbatan atau pecahnya arteri di otak. Stroke merupakan karakteristik klasik yang menunjukkan terjadinya defisit neurologis yang dikaitkan dengan cedera fokal akut dari sistem saraf pusat (SSP) yang berasal dari pembuluh darah, termasuk infark serebral, perdarahan serebral dan perdarahan subaraknoid, dan merupakan penyebab utama kecacatan serta kematian di seluruh dunia (AHA/ASA, 2013).Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sekitar sel otak mati akibat terhentinya aliran darah akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Terhentinya aliran darah berarti suplai oksigen dan nutrisi ke otak juga terhenti sehingga beberapa bagian otak tidak dapat berfungsi dengan baik.Matinya jaringan otak bisa mengakibatkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan otak tersebut. Jika tidak segera ditangani , penyakit ini bisa berakibat fatal & berujung kematian. Meskipun bisa diselamatkan, kadang – kadang si penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, menghilangnya sebagaian ingatan, atau menghilangnya kemampuan berbicara. Bentuknya bisa berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, dan gangguan rasa pada kulit wajah, lengan, atau tungkai.KLASIFIKASI STROKEStroke dibagi menjadi dua tipe yaitu iskemik dengan angka kejadian sebesar 87% dan hemoragik sebesar 13% (American Stroke Association, 2016). Klasifikasi penyakit stroke terdiri dari beberapa kategori, diantaranya adalah berdasarkan kelainan patologis, secara garis besar stroke dibagi dalam dua tipe yaitu, stroke iskemik disebut juga infark atau non-hemorragic disebabkan oleh gumpalan atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak yang sebelumnya sudah mengalami aterosklerosis. Stroke iskemik terdiri dari tiga macam yaitu stroke emboli (1/3), stroke thrombosis (2/3) dan hipoperfusi stroke. Tipe kedua adalah stroke hemoragik terjadi karena kerusakan atau pecahnya pembuluh darah di otak, perdarahan dapat disebabkan karena hipertensi yang terjadi sangat lama dan anuerisma otak. Ada dua macam stroke hemoragik yaitu subarachnoid hemorrhage dan intracerebral hemorrhage.Stroke iskemik terjadi karena adanya obstruksi pada pembuluh yang mensuplai darah ke otak. Hal yang mendasari terjadinya obstruksi adalah peningkatan deposit lemak yang melapisi pembuluh darah atau biasa disebut sebagai ateroskelrosis. Kondisi ini kemudian menyebabkan dua obstruksi yaitu trombosis serebral dan emboli serebral. Trombosis serebral mengacu pada trombus (bekuan darah) yang berkembang di bagian pembuluh darah yang tersumbat. Emboli serebral mengacu pada bekuan darah yang umumnya terbentuk pada lokasi lain pada sistem peredaran darah, biasanya jantung dan arteri besar di dada bagian atas dan leher. Sebagian dari pecahan bekuan darah lepas, memasuki aliran darah dan berjalan melalui pembuluh darah otak hingga mencapai pada pembuluh darah yang lebih kecil untuk dimasuki oleh plak tersebut. Penyebab penting kedua terjadinya emboli adalah denyut jantung yang tidak teratur, yang dikenal sebagai fibrilasi atrium. Ini menyebabkan kondisi di mana bekuan darah terbentuk di jantung kemudian lepas dan berjalan ke otak.Stroke Hemoragik merupakan akibat dari pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menyebabkan pendarahan di sekitar otak. Darah yang keluar kemudian terakumulasi dan menekan jaringan sekitar otak. Hal ini disebabkan karena dua hal, yaitu anuerisma dan arteriovenous malformation. Anuerisma merupakan pembuluh darah lemah yang membentuk balon yang jika dibiarkan akan menyebabkan ruptur dan berdarah hingga ke otak. Sedangkan arteriovenous malformation merupakan sekelompok pembuluh darah yang terbentuk secara abnormal dan salah satu satu dari pembuluh darah itu dapat mengalami ruptur dan meyebabkan darah masuk ke otak, biasanya terjadi karena hipertensi, aterosklerosis, kebiasaan merokok dan faktor usia. Ada dua tipe stroke hemoragik, yaitu intracerebral hemmorhage dan subarachnoid hemorrhage. Intracerebral hemorrhage (ICH) biasanya disebabkan hipertensi yang meyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, disfungsi autoregulatori dengan aliran otak yang berlebihan, arteriopati, aneurisma intracranial (biasanya juga terjadi pada pendarahan subarachnoid), arteriovenous malformation (penyebab pada 60% kasus), trombosis vena sinus serebral dan infark vena, tumor otak dan tumor SSP primer, dan penyalahan penggunaan obat (misalnya, kokain dan amfetamin). Subarachnoid hemorrhage 80% disebabkan karena aneurisma intrakranial, kemudian diikuti oleh arteriovenous malformation sebagai sebab kedua dengan persentase 10%, sisanya disebabkan karena angioma, tumor, dan trombosis kortikal.ETIOLOGI ATAU PENYEBAB STROKETerhambatnya pasokan darah ke otak beberapa detik saja bisa mengakibatkan pingsan. Apalagi penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah pada otak, mampu mengakibatkan sel – sel saraf pada otak menjadi rusak & mengakibatkan kelumpuhan. Berbagai faktor yang mampu mengakibatkan stroke, seperti faktor keturunan, gaya hidup, dam komplikasi penyakit. Orang – orang yang mempunyai satu atau lebih factor risiko pada bawah ini digolongkan ke pada stroke prone person, yaitu orang yang mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami stroke daripada orang normal suatu ketika selama bepergian hidupnya bila tidak diawasi. Terdapat 2 macam faktor yang mengakibatkan orang mengalami stroke (Agromedia, 2009) yaitu :Faktor Yang Tidak Dapat Diubah1) KeturunanPara ahli meyakini terdapat hubungan antara risiko stroke dengan factor keturunan, walaupun secara tidak langsung. Pasien yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke perlu mewaspadai factor-faktor yang dapat menyebabkan stroke, seperti hipertensi dan hiperkolesterol.2) Jenis KelaminMenurut studi kasus yang sering ditemukan, laki – laki lebih berisiko terkena stroke tiga kali lipat dibandingkan dengan wanita. Laki – laki cenderung terkena stroke iskemik, sedangkan wanita cenderung terkena hemoragik.3) UmurMayoritas stroke menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Namun, dengan pola makan dan jenis makanan yang ada sekarang ini, tidak menutup kemungkinan stroke bisa menyerang mereka yang berusia muda.4) RasRas kulit hitam lebih berisiko terkena stroke dibandingkan dengan ras kulit putih. Hal ini disebabkan, dugaan dari angka kejadian hipertensi dan konsumsi garam yang tinggi pada ras kulit hitam.Faktor Yang Dapat Diubah1) HipertensiHipertensi dapat menyebabkan stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Hipertensi menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel – sel endotel pembuluh darah melalui mekanisme perusakan lipid di bawah otot polos. Karena itu, sangat penting untuk mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal untuk menurunkan risiko terjadinya serangan stroke. Menurut Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa 50% kasus stroke berhubungan dengan hipertensi dan terdapat 25,8% penduduk menderita hipertensi (Kemenkes RI, 2017).2) Penyakit JantungPenyakit jantung coroner, dan orang yang melakukan pemasangan katup jantung buatan akan meningkatkan risiko stroke. Stroke emboli biasanya disebabkan kelainan penyakit jantung tersebut.3) Diabetes MellitusPenyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan mempercepat terjadinya arteriosklerosis pada arteri kecil termasuk pembuluh darah otak. Selain itu, risiko terkena stroke menjadi 2,6 kali lebih besar pada pria dan 3,8 kali lebih besar pada wanita dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Jika seseorang sudah pernah terkena stroke, sebaiknya pertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal untuk mencegah berulangnya stroke dan mencegah meluasnya kerusakan jaringan otak.4) Obesitas (Kegemukan)Kaitan antara obesitas atau kegemukan terhadap serangan stroke belum diketahui secara pasti. Namun, secara epidemiologis, orang yang mengalami obesitas cenderung menderita hipertensi, hiperkolesterol, dan diabetes mellitus. Menurut Kemkes RI menyatakan 1 dari 5 kasus stroke terjadi akibat obesitas dan terdapat 26,1% penduduk kurang aktivitas fisik (Kemenkes RI, 2017).5) HiperkolesterolKolesterol merupakan zat yang paling berperan dalam terbentuknya arteriosklerosis pada lapisan dalam pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah terutama pembuluh darah di otak. Jika penyumbatan telah menutupi seluruh rongga pembuluh darah, maka aliran darah pada jaringan otak terhenti dan terjadilah stroke. Data Kemenkes RI menyatakan 1 dari 4 kasus stroke berhubungan dengan kadar LDL tinggi dan sekitar 15,9% penduduk > 15 tahun memiliki kadar LDL tinggi (Kemenkes RI, 2017).6) Faktor Gaya HidupGaya Hidup yang Tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik dan kurang olahraga, meningkatkan risiko terkena penyakit stroke. Hal ini disebabkan, gaya hidup yang tidak sehat rentan terkena obesitas, diabetes, arteriosclerosis, dan penyakit jantung. Penyakit tersebut sebagai salah satu pemicu terjadinya stroke.Merokok Nikotin pada rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, menurunkan kolesterol HDL, meningkatkan kolesterol LDL, dan mempercepat arteriosclerosis. Kebiasaan merokok merupakan factor risiko yang potensial terhadap serangan stroke iskemik dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah pada daerah posterior otak. Perokok berat mempunyai risiko terkena stroke dua kali lipat. Risiko terkena stroke akan berkurang jika telah berhenti merokok selama lima tahun dibandingkan dengan terus merokok. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 dari 10 kasus stroke berhubungan dengan merokok dan terdapat 36,3% penduduk usia > 15 tahun yang merokok , perempuan usia >10 tahun (1,9%) (Kemenskes Republik Indonesia, 2017). Stres Stres dapat mengakibatkan hati memproduksi radikal bebas lebih banyak dan mempengaruhi system imunitas tubuh secara umum sehingga mengganggu fungsi hormonal. Stres yang berujung pada depresi dapat menjadi salah satu factor terjadinya stroke. Bagaimana depresi dapat meningkatkan stroke, sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas. Mekanisme yang mungkin adalah stres dan depresi menyebabkan peningkatan tekanan darah yang berarti juga meningkatkan risiko stres.Konsumsi Alkohol dan Obat – Obatan TerlarangObat – Obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 juta kasus stroke berhubungan dengan konsumsi alkohol berlebihan dan sekitar 4,6% penduduk > 10 tahun minum – minuman beralkohol (Kemenskes Republik Indonesia, 2017).GEJALA KLINIS STROKEGejala awal stroke sering tidak diketahui oleh penderitanya. Stroke sering muncul secara tiba – tiba, serta berlangsung cepat dan langsung menyebabkan penderita tidak sadar diri. Karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala awal terjadinya stroke. Berikut beberapa gejala awal terjadinya stroke :Nyeri kepala disertai penurunan kesadaran, bahkan bisa mengalami koma (perdarahan otak).Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Mendadak seluruh badan lemas dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop attack) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop). Gangguan penglihatan (mata kabur) pada satu atau dua mata. Gangguan keseimbangan berupa vertigo dan sempoyongan (ataksia). Rasa baal pada wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi. Kelemahan atau kelumpuhan wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi.Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara (afasia).Gangguan daya ingat atau memori baru (amnesia). Gangguan menelan cairan atau makanan padat (disfagia).Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala stroke terbagi menjadi tiga, sebagai berikut :Bagian system saraf pusat, yaitu kelemahan otot (hemiplegia), kaku, dan menurunnya fungsi sensorik.Batang otak, yang terdapat 12 saraf kranial. Gejalanya yaitu lidah melemah; kemampuan membau, mengecap, mendengar, melihat secara parsial atau keseluruhan menjadi menurun; serta kemampuan reflex, ekspresi wajah, pernafasan, dan detak jantung menjadi terganggu. Cerebral cortex. Cerebral cortex merupakan permukaan luar cerebrum, apabila Cerebral cortex ini mengalami gangguan akan menyebabkan tidak bisa berbicara (afasia), kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan – gerakan yang bertujuan (apraksia), daya ingat menurun, kegagalan melaksanakan sebuah fungsi sebagaian badan (hemiparese), dan kebingungan. Jika tanda – tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), yang merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Keadaan ini sangat menguntungkan karena penderita bisa sembuh 100%.Namun, penderita harus tetap waspada terhadap gejala – gejala stroke yang mungkin timbul (Agromedia, 2009).Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia gejala dan tanda – tanda stroke adalah dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yang terdiri dari :Se, Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba – tiba Ge, Gerak separuh anggota tubuh melemah secara tiba – tibaRa, Bicara pelo / tiba – tiba tidak dapat bicara / tidak mengerti kata – kata / bicara tidak nyambung Ke, Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuhR, Rabun, pandangan satu mata kabur terjadi secara tiba – tibaS, Sakit kepala hebat yang muncul tiba – tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.PEMERIKSAAN PENUNJANG STROKEPemeriksaan penunjang dilakukan untuk memastikan jenis serangan stroke, letak sumbatan atau penyempitan pembuluh darah, letak perdarahan, serta luas jaringan otak yang mengalami kerusakan (Indarwati , Sari, & Dewi, 2008)CT-Scan Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infarkPemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) Pemeriksaan MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark atau hemoragik (Oktavianus, 2014). MRI mempunyai banyak keunggulan dibanding CT dalam mengevaluasi stroke, MRI lebih sensitif dalam mendeteksi infark, terutama yang berlokasi di batang otak dan serebelum Pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA) Merupakan metode non-infasif yang memperlihatkan arteri karotis dan sirkulasi serebral serta dapat menunjukan adanya oklusi(Hartono, 2010) Pemeriksaan ultrasonografi karotis dan dopler transkranial Mengukur aliran darah serebral dan mendeteksi penurunan aliran darah stenosis di dalam arteri karotis dan arteri vetebrobasilaris selain menunjukan luasnya sirkulasi kolateral. Kedua pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengkaji perburukkan penyakit vaskular dan mengevaluasi efek terapi yang ditimbulkan pada vasospasme, seperti yang terjadi pada perdarahan subaraknoid. Angiografi serebral merupakan prosedur invasif yang menggunakan media kontras untuk menunjukan pembuluh darah serebral, kepatenan, dan lokasi stenosis, oklusi atau aneurisma. Pemeriksaan aliran darah serebral membantu menentukan derajat vasopasme Pemeriksaan lumbal pungsi Pemeriksaan fungsi lumbal menunjukkan adanya tekanan. Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA, sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranialPemeriksaan EKG Dapat membantu mengidentifikasi penyebab kardiak jika stroke emboli dicurigai terjadi (Hartono, 2010) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal, kadar glukosa, lipid, kolestrol, dan trigliserida dilakukan untuk membantu menegakan diagnoseEEG (Electro Enchepalografi) Mengidentifikasi masalah di dasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifikAngiografi serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obtruksi arteri, oklusi/rupturSinar X tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada perdarahan sub arachnoid.Pemeriksaan foto thorax Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari masa yang meluas.PENCEGAHAN PENYAKIT STROKEPencegahan stroke bertujuan untuk mengendalikan angka kematian akibat stroke dan kejadian stroke, memperkecil kemungkinan disabilitas akibat stroke serta mencegah terjadinya stroke berulang. Bentuk – bentuk upaya pencegahan stroke yang dapat dilakukan:Pencegahan Primer. Pencegahan Primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang sehat atau kelompok berisiko yang belum terkena stroke untuk mencegah kemungkinan terjadinya serangan stroke yang pertama, dengan mengendalikan faktor risiko dan mendeteksi diri serangan stroke. Hal ini dapat dilakukan dengan:     1) Peningkatan aktivitas fisik     2) Penyediaan pangan sehat & percepatan perbaikan gizi     3) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit     4) Peningkatan kualitas lingkungan     5) Peningkatan edukasi hidup sehat     6) Peningkatan perilaku hidup sehat, yang diimplementasikan dalam perilaku “CERDIK” yaitu : C ; Cek kesehatan secara berkala,            E ; Enyahkan asap rokok, R ; Rajin aktivitas fisik, D ; Diet sehat dengan gizi seimbang, I ; Istirahat yang cukup, K ; Kelola stressPencegahan Sekunder Pencegahan Sekunder adalah pencegahan yang dilakukan pada orang yang sudah mengalami serangan stroke, agar tidak terjadi serangan stroke berulang yaitu dengan penambahan obat pengencer darah seperti aspirin. Disamping pengendalian faktor risiko lainnya, individu pasca stroke tetap secara rutin dan teratur mengontrol faktor risiko (P2PTM Kemenkes RI, 2018).PENULIS: Tri Miranda PrasastiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Agromedia, R. (2009). Solusi Sehat Mengatasi Stroke (1st ed.)Kemenskes Republik Indonesia. (2017). Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Stroke di Indonesia. Farida, I., & Amalia, N. (2009). mengantisipasi stroke : petunjuk mudah, lengkap, dan praktis sehari-hari. Yogjakarta: Buku Biru.Hartono, A. (2010). Patofisiologi : Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Indarwati , L., Sari, W., & Dewi, C. S. (2008). Care Yourself, Stroke. Penebar Plus: Depok
Answer All Your Needs
Answer to all your needs is here!Tes gen yang dapat digunakan untuk:Mendeteksi penyakit (saat belum menunjukkan gejala)Mencegah penyakit (faktor keturunan)Mengobati secara tepat untuk setiap penyakitMerancang gaya hidup sehat yang disesuaikan dengan setiap individuMENGAPA harus skrining gen?Hemat BiayaHemat WaktuPengobatan tepatMetode diet yang dipersonalisasikan sesuai landasan profesionalGaya hidup lebih sehatGRANOMIC : Granostic Genomic ServicePelayanan tes genetika dengan hasil tercepat!Dikerjakan oleh PROFESIONALLayanan pemeriksaan LENGKAPHasil sangat AKURATDengan metode yang NYAMANGranomic - Answer All Your Needs
DIET Seimbang yang BAIK | Health Podcast
Bagaimana fenomena “Remaja Jompo” ini menyebabkan penyakit-penyakit metabolik?    Gangguan metabolik adalah suatu kejadian yang terjadi karena proses metabolisme yang gagal dan menyebabkan tubuh memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit zat yang penting agar tetap sehat. Dengan begitu, beberapa penyakit dapat terjadi ketika beberapa zat penting tersebut kurang atau lebih.Terdapat multi-faktor yang memengaruhi terjadinya Gangguan Metabolik dalam isi podcast kali ini, yaitu:Orang-orang dengan orangtua yang memiliki riwayat, lebih rentan mengalami gejala metabolik lebih tinggi, apalagi ketika mereka termasuk dari “Remaja Jompo”. Tidak ada aktivitas rutin hingga pola makan yang tidak dijaga akan menyebabkan penumpukan kalori dan lemak. Jika dibiarkan kalori dan lemak yang sudah menumpuk akan menyumbat pembuluh darah.Apakah kita harus tetap memperhatikan 4 Sehat 5 Sempurna? Apakah harus seperti itu? Atau ada makanan tertentu yang harus kita hindari?    4 Sehat 5 Sempurna memiliki semua nutrisi baik makro maupun mikronutrien memang dibutuhkan. Namun, apakah dari 4 Sehat 5 Sempurna termasuk ke dalam makanan yang higienis dan bersih dalam pengolahannya? Lantas komposisi di dalamnya seperti apa? Apakah sudah seimbang dengan kegiatan sehari-hari, di mana tubuh membutuhkan semua nutrisi dari sana.    Yuk, simak podcast dalam tema "Remaja Jompo" bersama dr. Aji Wibowo di Youtube Granostic, serta ikuti podcast-podcast bermanfaat lainnya.
RUBELLA
    Rubella adalah penyakit akut dan mudah menular Ini sering menginfeksi anak-anak dan dewasa muda yang rentan. Penyakit Ini memiliki gejala klinis ringan dan 50% tidak menunjukkan gejala. Infeksi rubella pada Wanita hamil dapat mengalami keguguran atau kecacatan Lahir permanen atau dikenal sebagai bayi dengan Sindrom rubella kongenital (CRS). akibat yang ditimbulkan oleh rubella adalah cacat seumur hidup yang harus ditanggung oleh penderita, keluarga, bahkan bangsa dan negara.(WHO Weekly Epidemiological Record, No. 29, 2011, 301-316)Epidemiologi Penyakit Rubela    Angka penemuan kasus dan kematian karena campak dan rubela di Indonesia pada tahun 2014-2018 yang dilaporkan adalah 14.192 positif rubela. kurang lebih 77% penderita merupakan anak usia di bawah 15 tahun. (Kemenkes, 2019)Patogenesis dan Penularan RubelaPenyebab Rubella Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh togaviridae Jenis rub virus yang termasuk golongan virus RNA. Virus rubela cepat mati oleh sinar ultra violet, bahan kimia, bahan asam dan pemanasan. Virus rubela dapat menembus sawar placenta dan menginfeksi janin.Akibat hal tersebut dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin, antara lain: abortus, lahir mati atau cacat berat kongenital (birth defects) yang dikenal sebagai penyakit Congenital Rubella Syndrome (CRS). Rubella juga dapat ditularkan melalui droplet saluran pernapasan saat batuk atau bersin. Virus dapat berkembang biak di nasofaring dan kelenjar getah bening regional. Dengan percikan cairan seperti air liur atau keringat orang lain.Masa Inkubasi Penyakit Rubella Masa inkubasi penyakit rubela berkisar antara 14–21 hari.GejalaGejala penyakit rubela ditandai dengan:Demam ringan (37,2°C) dan bercak merah/rash/ruam makulopapuler (sering terjadi pada ana-anak) Pembesaran kelenjar getah bening (limfe) di belakang telinga, leher belakang dan sub occipital.Rubela pada wanita dewasa sering menimbulkan arthritis atau arthralgia.Dampak Infeksi RubelaDampak infeksi rubela pada wanita hamil, terutama pada kehamilan trimester pertama, dapat mengakibatkan abortus, lahir mati atau bayi lahir dengan CRSBentuk kelainan pada CRS:Kelainan jantung: Patent Ductus Arteriosus (PDA), Defek Septum Atrial/Atrial Septal Defect (ASD), Defek Septum Ventrikel/Ventricular Septal Defect (VSD), Stenosis Katup Pulmonal/Pulmonary Stenosis (PS)Kelainan pada mata: Katarak Kongenital, Glaukoma Kongenital, Pigmentary Retinopathy; Kelainan pendengaran: Tuli Sensouri Neural/ Sensouri Neural Hearing Loss (SNHL)Kelainan pada sistim saraf pusat: retardasi mental, mikrocephalia dan meningoensefalitis; Kelainan lain: purpura, splenomegali, ikterik yang muncul dalam 24 jam setelah lahir, radioluscent bone, serta gangguan pertumbuhanPemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menunjang diagnosis infeksi virus rubella dan untuk status imunologis. Karena prosedur isolasi virus sangat lama dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. Bahan pemeriksaan untuk menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari apusan (swab) tenggorok, darah, urin dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:Isolasi VirusVirus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, apusan tenggorok, urin, dan cairan serebrospinalis penderita rubella. Virus juga dapat diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu setelah munculnya ruam. Meskipun metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 karena prosedur pemeriksaan yang rumit. Hal ini menyebabkan metode isolasi virus bukan sebagai metode diagnostik rutin. Untuk isolasi secara primer spesimen klinis, sering menggunakan kultur sel yaitu Vero; African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE).Pemeriksaan SerologiPemeriksaan serologis digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella kongenital dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda) dan untuk menentukan status imunologik terhadap rubella. Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah bersentuhan dengan penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti. Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim (ELISA) terhadap serum penderita untuk menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dipastikan dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah khusus. Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena telah mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella dengan ELISA juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan re-infeksi. Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu:Membantu menetapkan diagnosis rubella kongenital. Dalam hal ini dilakukan imunoasai IgM terhadap rubellaMembantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderitaMemeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu, sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat disebabkan oleh berbagai macam virus yang lainMemantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas)Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi. Adanya antibodi IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa penderita tersebut pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan terhadap virus rubella. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring untuk Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 kehamilan adalah sebagai berikut: sebelum kehamilan, bila positif ada perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan muda (trimester pertama).Kadar IgG ≥15 IU/ml, umumnya dianggap dapat melindungi janin terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila positif berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada.Pemeriksaan RNA VirusJenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella antara lainPolymerase Chain Reaction (PCR): PCR merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris, PCR digunakan sebagai metode evaluasi rutin untuk menemukan virus rubella dalam spesimen klinis. Penemuan RNA rubella dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai sensitivitas 87–100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu setelah onset infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR menggunakan sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang sering digunakan untuk kepentingan pengawasan (surveillance).Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP) RT- LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali RNA virus rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan sensitivitas antara pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus yang dilakukan di Jepang, ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT-LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan 33,3% untuk isolasi virus. Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan RT-PCR tetapi hasil pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat tingkat kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan inkubasi di alat turbidimeter.Pencegahan Tindakan pencegahan terbaik adalah vaksinasi sesuai dengan jadwal vaksinasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Vaksinasi MMR pertama berusia 15 bulan dan yang kedua berusia 5 tahun. Vaksinasi juga dapat diberikan sebelum bepergian ke daerah endemis rubella dan setidaknya satu bulan sebelum kehamilan.Rubella dapat dicegah dengan mempraktikkan kebiasaan berikut:Menjaga kebersihan diri, yaitu mandi secara teratur dan mencuci tangan dengan sabun. Hindari kontak dengan penderita rubella. Isolasi penderita rubella di ruangan terpisah dari keluarga mereka.PENULIS: Vicky Nur FadilaEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Medicalnewstoday. Diakses pada 2022. Rubella (German measles)Pedoman. Campak & Rubella 2022Fitriany, Julia dan Husna, Yulia. 2018. Sindrom Rubella Kongenital. Bagian ilmu Kesehatan anak, Universitas Malikussaleh: Lhokseumawe
LEPTOSPIROSIS
    Leptospirosis pada manusia pertama kali ditemukan oleh Van der Scheer pada tahun 1892 di Indonesia, namun isolasi baru dapat dilakukan pada tahun 1922 oleh Vervoort. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan saat ini leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena belum dapat dikendalikan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, selama tahun 2014 – 2016 terdapat tujuh provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten dan Kalimantan Selatan.    Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis menular yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Kejadian leptospirosis biasanya dihubungkan dengan bencana banjir, air pasang di daerah pantai, daerah rawa atau lahan gambut.EPIDEMIOLOGI    Leptospirosis tersebar luas di negara-negara yang beriklim tropis termasuk Indonesia. Kondisi lingkungan di wilayah tropis sangat mendukung penyebaran bakteri Leptospira, karena bakteri ini cocok hidup pada lingkungan dengan temperatur hangat, pH air dan tanah netral, kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Terlebih jika kondisi lingkungan dalam keadaan yang buruk yang mendukung perkembangan dan lama hidup bakteri. Di wilayah Asia Pasifik leptospirosis dikategorikan sebagai penyakit yang ditularkan melalui media air (water borne disease), terlebih air yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi jika ada kontak antara manusia dengan hewan atau lingkungan yang sudah terinfeksi bakteri Leptospira. Manifestasi leptospirosis ini beragam mulai dari gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. Sedangkan hewan yang terinfeksi oleh leptospira belum tentu tampak dalam kondisi sakit, karena bakteri ini bersifat komensal pada beberapa jenis hewan termasuk tikus yang dikenal sebagai reservoir leptospirosis di Indonesia. Secara alamiah leptospirosis terjadi karena adanya interaksi yang sangat kompleks dan beragam antara agent (pembawa penyakit), host (tuan tumah/pejamu) dan environment (lingkungan).Agent (Pembawa Penyakit)     Agent atau pembawa penyakit adalah mikroorganisme infeksius atau patogen. Pembawa leptospirosis adalah bakteri berbentuk spiral berpilin yang masuk dalam genus Leptospira. Bakteri ini bersifat komensal pada hewan dan secara alamiah memang berada di tubulus ginjal dan saluran kelamin hewan tertentu.    Bakteri Leptospira memiliki dua lapis membran, berbentuk spiral, lentur, tipis dengan tebal 0,1 µm dan panjang 10-20 µm. Pada kedua ujungnya terdapat kait berupa flagelum periplasmik. Bergerak maju mundur dan memutar sepanjang sumbunya. Bakteri ini dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan dan peka terhadap asam. Dalam air laut, air selokan dan air kemih yang pekat, bakteri ini akan cepat mati. Berdasarkan strainnya, bakteri Leptospira dibedakan menjadi strain yang patogen dan non patogen. Leptospira patogen dikenal sebagai L. interrogans, sedangkan yang non-patogen dikenal sebagai L. biflexa. Bakteri Leptospira memiliki lebih dari 250 buah serovar patogen yang terbagi ke dalam 25 serogrup. Beberapa serovar yang ditemukan selama ini di Indonesia antara lain adalah serovar hardjo, tarassovi, pomona, australis, rachmati, bataviae, djasiman, icterohamorragie, hebdomadis, autumnalis, dan canicola.Host (Tuan Rumah/Pejamu)     Host atau tuan rumah adalah manusia yang dapat terserang penyakit. Penyakit Leptospira memiliki dua pejamu, yaitu binatang/mamalia dan manusia. Mamalia yang menjadi pejamu ini dikenal dengan sebutan reservoir, berupa binatang buas dan juga ternak, termasuk tikus. Di Indonesia, sumber penularan utama leptospirosis adalah tikus. Tikus yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira terkadang tampak dalam keadaan sehat, karena bakteri ini bersifat komensal terhadap binatang inangnya. Beberapa spesies tikus yang menjadi reservoir leptospirosis di Indonesia di antaranya adalah Rattus tanezumi, Rattus norvegicus, Bandicota indica, Rattus exculan, Mus musculus dan Suncus murinus.    Leptospirosis pada manusia menampakkan gejala yang bervariasi, mulai dari gejala ringan sampai dengan berat, tergantung jenis serovar yang masuk ke dalam tubuh manusia. Gejala klinis leptospirosis setelah masa inkubasi berupa demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk, rasa tidak nyaman di badan, muntah, nyeri pada perut, diare, sufusi konjungtiva, jaundice, urin berwarna seperti teh, oliguria, anuria, batuk berdarah, perdarahan pada kulit, pusing dan lesu. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan beberapa organ berupa kegagalan hati akut, kegagalan ginjal akut, perdarahan pada paru-paru, miokarditis dan meningoencephalitis yang berakhir pada kematian. Leptospirosis sebagian besar menyerang laki-laki pada usia produktif, bekerja di luar rumah, memiliki kontak dengan tikus dan juga air yang terkontaminasi dengan bakteri Leptospira.LINGKUNGAN    Lingkungan adalah faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi pembawa penyakit dan memberikan kesempatan pada pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit, termasuk faktor fisik, biologi dan sosial ekonomi.    Penyakit leptospirosis ini biasanya terjadi pada wilayah tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi, udara yang hangat dan lembab serta biasanya terjadi setelah banjir berlangsung. Biasanya setelah banjir berakhir, manusia dan binatang akan terpapar oleh air maupun tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan dengan genangan air di sekitar rumah berhubungan dengan kejadian leptospirosis, selain itu, rumah dengan dinding dapur bukan dari tembok, tidak ada langit-langit di rumah, tempat sampah terbuka, kondisi rumah yang tidak rapi juga berhubungan dengan kejadian leptospirosis dan daerah yang rawan banjir.    Manusia dan binatang dapat terinfeksi oleh bakteri ini melalui kontak antara kulit atau mukosa dengan air maupun tanah yang mengandung urin binatang yang terinfeksi oleh bakteri ini. Infeksi juga dapat terjadi jika manusia mengkonsumsi air ataupun makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang ada di kulit, membran mukosa (hidung, mulut dan mata), atau bahkan melalui air minum. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri ini berada di dalam darah dan menyerang jaringan dan organ tubuh.DIAGNOSIS    Diagnosis leptospirosis dapat dilakukan baik pada hewan maupun manusia. Pada hewan diagnosis dilakukan pada ginjal dan limpa, sedangkan pada manusia diagnosis dilakukan pada serum, plasma darah, urin dan cairan serebrospinal. Diagnosis laboratorium leptospirosis melibatkan dua kelompok pengujian. Kelompok pertama didesain untuk mendeteksi antibodi anti-leptospira, sedangkan kelompok kedua untuk mendeteksi Leptospira, antigen Leptospira atau asam nukleat Leptospira pada cairan tubuh maupun jaringan.    Kultur dan Microscopic Agglutination Test (MAT) adalah standar emas untuk diagnosis laboratorium dan yang paling banyak digunakan. Beberapa cara skrining cepat penegakan diagnosis leptospirosis telah dikembangkan, di antaranya Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), uji aglutinasi lateks, uji aliran lateral dan dipstik IgM, tapi sayangnya sensitivitas alat tersebut masih sangat rendah terutama pada saat fase akut. Selain MAT, alat diagnosis yang digunakan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR) yang terbukti berguna untuk mendiagnosis leptospirosis lebih awal sebelum dimulainya produksi antibodi, sayangnya biaya operasional PCR ini sangat mahal, sehingga dirasa kurang efisien.    Diagnosis kasus leptospirosis pada manusia dapat dilakukan pada saat masa akut, transisi dari masa akut ke masa imun dan fase imun. Pada masa akut diagnosis dilakukan dengan mengkultur bakteri Leptospira dari darah, urin dan cairan serebrospinal; selain itu diagnosis dilakukan melalui PCR. Saat masa transisi dari fase akut ke fase imun diagnosis dilakukan melalui uji ELISA IgM dan dipstik. Pada saat fase imun diagnosis dilakukan melalui uji MAT, yang merupakan standar emas penegakan diagnosis leptospirosis berdasarkan rekomendasi dari WHO.PENGOBATAN    Pengobatan leptospirosis tergantung pada tingkat keparahannya. Bagi penderita leptosiprosis ringan pengobatannya berupa tablet doksisiklin dengan dosis 100 mg diminum dua kali sehari selama tujuh hari. Bagi penderita leptospirosis sedang dan/atau berat pengobatannya berupa penicilin G intravena dengan dosis 1,5 MU setiap enam jam selama tujuh hari. Jika terjadi gagal ginjal perlu dilakukan hemodialisa dan perlu dilakukan ventilasi pernafasan mekanis jika terjadi perdarahan pada paru-paru. Bagi orang yang memiliki risiko tinggi terkena leptospirosis, maka perlu diberikan doksisiklin oral sebagai profilaksis sebesar 200 mg per minggu selama terpapar risiko.PENCEGAHAN     Berdasarkan saran WHO, upaya pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu pada hewan sebagai sumber infeksi, jalur penularan dan manusia. Pada hewan sebagai sumber infeksi, pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin kepada hewan yang berpotensi tertular leptospirosis. Selain itu kebersihan kandang hewan peliharaan juga perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya leptospirosis pada hewan. Pada jalur penularan, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memutus jalur penularan.    Jalur penularan adalah lingkungan yang bisa menjadi tempat berkembang biak dan hidup bakteri Leptospira. Lingkungan dengan kondisi sanitasi yang buruk menjadi faktor risiko terjadinya leptospirosis. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus, termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah yang benar sehingga tidak menjadi sarang tikus.    Pada manusia, pencegahan yang bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan individu setelah beraktivitas di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis; pendidikan kesehatan untuk menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis; menjaga kebersihan kandang hewan peliharaan; membersihkan habitat sarang tikus; pemberantasan hewan pengerat bila kondisi memungkinkan dan pemberian kaporit atau sodium hipoklorit pada air tampungan yang akan digunakan oleh masyarakat. Selain itu perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini, terlebih bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi dan juga penyedia pelayanan kesehatan.PENULIS: Achmad Priyas Budi Santoso, A.md. KesEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011. 1-97 p.Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta; 2017.  Raharjo J, Hadisaputro S, Winarto. Faktor Risiko Host pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak. Balaba. 2015;11(2):105–10. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Terintegrasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Tular Vektor Dan Reservoir di Jawa Tengah. Salatiga; 2014.Dll
Diet Seimbang Untuk Gaya Hidup Sehat
Setelah membahas tentang fenomena remaja jompo yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik dan berlangsung lama, dr Aji menjelaskan tentang diet seimbang yang baik untuk memperbaiki gaya hidup, melalui Granostic Health Podcast ep. 2. Diet seimbang yang baik untuk tubuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing. Tidak hanya memerhatikan porsi makan, tetapi juga harus memerhatikan jenis makanan apa saja yang ada dalam satu porsi makan. Dr. Aji menyampaikan bahwa sebaiknya, pada 1 piring makan harus terisi dengan 1/3 karbohidrat, 1/3 lemak, dan 1/3 protein. Selain itu pemilihan jenis  makanan juga harus diperhatikan. Misalnya karbohidrat, sebisa mungkin memilih karbohidrat kompleks yang tidak mudah dicerna oleh tubuh, sehingga dapat kenyang lebih lama. Selanjutnya adalah lemak, pemilihan lemak juga harus diperhatikan, hal ini karena lemak yang kurang baik untuk tubuh akan menyumbat pembuluh-pembuluh darah dan dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya. Maka dari itu lemak yang dipilih untuk dikonsumsi haruslah lemak tak jenuh, seperti lemak dari tumbuh-tumbuhan. 1/3 porsi berikutnya adalah protein. Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mengabaikan porsi protein dalam makanan sehari-harinya. Protein merupakan salah satu nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas dan membangun otot sehingga tubuh lebih berenergi. Pemilihan protein tidak harus dari suplemen atau vitamin, cukup dengan mengonsumsi kacang-kacangan, daging ayam, sapi maupun ikan. Tidak hanya nutrisi berupa karbohidrat, lemak dan protein, kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan. Meskipun perhitungannya tidak sekompleks nutrisi utama, vitamin dan mineral tidak dapat disepelekan. Vitamin dan mineral dapat dengan mudah didapatkan melalui buah dan sayur. Yang tidak kalah penting adalah variasi menu makanan setiap hari. Selain dapat menyebabkan kebosanan, mengonsumsi makanan yang tidak bervariasi dapat menyebabkan gizi yang masuk dalam tubuh tidak seimbang. Maka variasi makanan diperlukan untuk mencegah hal tersebut. SIMAK INFORMASI LENGKAPNYA DI CHANNEL YOUTUBE GRANOSTIC CENTER, ATAU KLIK LINK DI BAWAH INI : Granostic Health Podcast Ep.2 : Diet Seimbang
Sleep Hygiene untuk meningkatkan produktivitas
Istilah 'tidur produktif' merujuk pada kondisi di mana manusia beristirahat untuk meningkatkan produktivitas. Pada praktiknya metode tidur ini memperhatikan beberapa hal yang dapat mendukung tidur manusia lebih berkualitas. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jam tidur. Untuk orang dewasa, jam tidur yang dibutuhkan tubuh adalah 6-8 jam dalam sehari, dan waktu tidur yang baik adalah di saat malam hari, yaitu pukul 10-5 pagi. Waktu tidur juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena hal ini berhubungan dengan jam kerja organ-organ dalam tubuh kita. Beberapa organ akan menurunkan kinerjanya di jam-jam tertentu, dan hal ini akan sangat baik jika didukung dengan mengurangi aktivitas tubuh. Setelah itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah sleep hygiene, yaitu kondisi tempat sobat beristirahat yang harus bebas dari gangguan. Di antaranya adalah gangguan kebisingan dan gangguan pencahayaan. Hal-hal ini akan membantu manusia untuk tidur dengan lebih berkualitas, yaitu tidur dengan nyenyak dan tubuh dapat beristirahat dengan maksimal, sehingga akan mendorong produktivitas kerja saat siang hari. Simak informasi lengkapnya di instagram Granostic Center, atau klik link di bawah ini : Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 1Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 2
KAKI DIABETIK
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin atau ketidakmampuan tubuh untuk menggunakan hormon insulin secara efektif.Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar kelima di dunia. Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF), ada 19,5 juta warga Indonesia berusia 20-79 tahun yang mengidap penyakit tersebut pada 2021. Jumlah itu menempati urutan kelima terbesar di dunia setelah China, India, Pakistan dan Amerika Serikat. Salah satu akibat dari diabetes yang tidak terkontrol dengan baik adalah timbul komplikasi luka (borok) pada kaki yang tidak kunjung sembuh, yang lebih dikenal dengan istilah kaki diabetik (diabetic foot). Hal ini disebabkan karena sirkulasi darah yang buruk pada penderita Diabetes. Perawatan kaki pada penderita Diabetes dilakukan tidak hanya ketika muncul luka atau borok tetapi juga ketika belum ada luka agar mencegah tidak timbul luka pada kaki. Perawatan kaki diabetik yang tidak dilakukan dengan baik akan memperburuk luka yang timbul, oleh karena itu penderita perlu memahami cara merawat kaki dan luka yang timbul dan berkonsultasi dengan dokter untuk penanganan yang lebih tepat. Apabila dibiarkan dan tidak ditangani dengan benar, maka infeksi dapat menyebar dan menyebabkan kerusakan pada jaringan dan tulang, hingga mungkin diperlukan tindakan amputasi. Bagaimana cara merawat kaki pada penderita Diabetes ? Yuk, kita simak tips di bawah ini:Gunakan alas kaki Rasa peka pada penderita Diabetes cenderung menurun. Hal ini sering menimbulkan muncul luka pada kaki tanpa diketahui dan dirasakan oleh penderita, sehingga disarankan untuk tetap menggunakan alas kaki dimanapun termasuk dirumah. Hindari menggunakan sepatu berhak tinggi atau sepatu yang sempit. Gunakan sepatu yang nyaman dengan ukuran yang sesuai.Cek kondisi kaki setiap hariCek kaki penderita Diabetes sekali sehari. Jika sulit menjangkau kaki, gunakan cermin untuk melihat seluruh bagian kaki hingga ke telapak kaki.Berhati-hati ketika memotong kukuBerhati-hatilah ketika memotong kuku. Jangan memotong kuku terlalu dalam untuk menghindari terjadi luka.Gunakan krim pelembabAnda bisa mencuci kaki dengan air hangat sekali sehari, dikeringkan dengan handuk dengan lembut dan gunakan krim pelembab untuk menjaga agar kulit kaki tetap lembut.Berkonsultasi dengan dokterJika muncul luka pada kaki, segera konsultasikan dengan dokter agar segera ditangani dan tidak menjadi makin parah.Perawatan Kaki DiabetikJika terdapat luka pada kaki penderita Diabetes, maka perlu segera berkonsultasi dengan dokter agar luka tidak makin meluas. Penderita Diabetes perlu waspada jika luka mulai menghitam, berbau, atau keluar nanah. Apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dengan foto Rontgen atau USG Doppler untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi diabetes yang lebih lanjut. Perawatan kaki diabetik dapat dilakukan secara mandiri oleh dokter sesuai dengan arahan dokter.Langkah perawatan kaki diabetik meliputi : Cuci tangan bersih menggunakan sabun dan air mengalirGunakan sarung tangan sekali pakaiBuka perban secara perlahanLuka dibersihkan dengan kasa yang telah dibasahi oleh larutan salin (NaCl 0,9%) dari arah tengah ke tepi lukaGunakan kasa yang lain untuk pembersihan ulang. Jangan dengan kasa yang samaGunakan kasa kering baru untuk mengeringkan luka yang telah dibersihkanTutup luka dengan perbanPENULIS: dr. May Fanny TanziliaKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:M Ivan Mahdi. "Penderita Diabetes Indonesia Terbesar Kelima di Dunia". Hutagalung MBZ, Dwinka SE, Awalita, Vivi PS, Gaby DAS, Galenisa FS. Diabetic Foot Infection (Infeksi Kaki Diabetik) : Diagnosis dan Tatalaksana. CDK-277/ vol. 46 no. 6 th. 2019:414-417. Dinata IGS, Anak Agung GWPS. Tatalaksana Terkini Infeksi Kaki Diabetes. Ganesha Medicina Journal, Vol 1 No 2 September 2021:91-96. 
Fenomena Remaja Jompo Indonesia, Dan Hubungannya Dengan Produktivitas
Fenomena remaja jompo adalah kondisi dimana orang-orang di usia produktif mengalami sakit di daerah pinggang, punggung dan leher sehingga banyak dari mereka membutuhkan bantuan obat pereda nyeri dan obat-obatan lainnya seperti minyak angin, obat masuk angin, dan koyo untuk meringankan rasa sakit yang mereka rasakan. Fenomena ini kemudian ditanggapi oleh Dokter Aji, dokter umum dari Laboratorium Granostic Center, melalui Granostic Health Podcast. Dr. Aji menyampaikan bahwa fenomena ini disebabkan karena gaya hidup masyarakat saat ini yang tidak sehat dan dilakukan terus menerus. Gaya hidup yang dimaksud adalah pola makan, pola aktivitas, pola istirahat dan pola stress yang tidak seimbang sehingga memberikan dampak yang membahayakan bagi tubuh. Pola makan masyarakat yang tidak memperhatikan nutrisi secara seimbang dan juga kecenderungan untuk mengonsumsi makanan junk food menjadi salah satu kunci mengapa hal ini marak terjadi. Selain itu kurangnya aktivitas fisik karena banyaknya kegiatan saat ini yang dilakukan secara online dan di dalam ruangan serta tidak rutin berolahraga menjadi faktor pendukung fenomena ini banyak terjadi di masyarakat. Tidak hanya itu, pola istirahat yang tidak teratur dan jam tidur yang kurang juga dapat memperparah keluhan ini. Serta pola stress yang buruk akan semakin memperburuk kondisi ini. Jika gaya hidup yang seperti ini tidak segera diperbaiki, hal ini dapat merujuk pada timbulnya penyakit-penyakit metabolik seperti diabetes, asam urat dan kolesterol. Meskipun penyakit metabolik ini sering dikaitkan dengan keturunan dalam keluarga, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang dari keluarga yang tidak memiliki riwayat penyakit ini, tetapi memiliki gaya hidup yang tidak seimbang dalam jangka waktu lama, juga dapat terserang penyakit ini. Untuk mengatasi hal ini, dr Aji menyampaikan bahwa sebaiknya masyarakat, terutama orang-orang dengan keluhan penyakit ini, mulai merubah gaya hidupnya. Mulai dari pola makan yang lebih seimbang, menambah aktivitas fisik, mengatur jadwal dan jam tidur, serta mengelola stress dengan baik. Hal ini tidak hanya membantu meredakan rasa sakit yang dirasakan, tetapi juga dapat meningkatkan produktifitas, baik dalam pekerjaan maupun pembelajaran. Simak informasi lengkapnya di channel youtube Granostic Center, atau klik Granostic Health Podcast Ep 1 : Remaja Jompo Indonesia
INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)
Infeksi saluran kemih merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran kemih manusia. Saluran kemih manusia merupakan organ-organ yang bekerja untuk mengumpul dan menyimpan urine serta organ yang mengeluarkan urine dari tubuh, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Menurut National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC), ISK merupakan penyakit infeksi kedua tersering setelah infeksi saluran pernafasan dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per tahun. Infeksi saluran kemih dapat menyerang pasien dari segala usia mulai bayi baru lahir hingga orang tua (Sukandar, 2006).Klasifikasi infeksi saluran kemih (ISK) berdasarkan level anatomisnya dibedakan menjadi dua, antara lain:ISK bagian bawah pada umumnya terjadi tanpa disertai komplikasi, umumnya dapat berupa peradangan kandung kemih bagian bawah (sistitis) pada pasien dengan saluran kemih yang normal. Sistitis dapat bersifat akut maupun kronik dan pada sistitis akut urine pasien keluar sedikit serta sering diikuti rasa sakit jika peradangan tersebut meluas menjadi uretritis.ISK bagian atas meliputi pielonefritis akut dan kronis. Pielonefritis akut adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sedangkan pielonefritis (infeksi ginjal) kronis proses lanjut dari pielonefritis akut yang berkepanjangan atau infeksi sejak kecil.Penyebab dari Infeksi saluran kemih salah satunya oleh mikroorganisme patogen, contoh bakteri Escherichia Coli, Streptococcus dan Pseudomonas. Faktor risiko yang umum terjadi pada ISK adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara sempurna serta terjadi penurunan daya tahan tubuh dan peralatan yang digunakan pada saluran perkemihan seperti penggunaan kateter dalam jangka waktu yang lama dan prosedur sistoskopi.Tanda dan gejala yang berhubungan dengan ISK bervariasi. Pada bayi dan anak gejala ISK tidak spesifik dapat berupa demam, nafsu makan berkurang/ tidak mau makan, pertumbuhan lambat, muntah, diare, distensi abdomen. Infeksi saluran kemih pada kelompok umur ini terutama yang dengan demam tinggi harus dianggap sebagai pielonefritis (Pardede, 2018). Sedangkan pada usia di atas 12 ke atas sebagian dari penderita ISK yang ditemukan adanya bakteri dalam urine, tetapi tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Gejala tipikal ISK adalah berupa rasa nyeri dan panas ketika berkemih (dysuria), frekuensi berkemih yang meningkat dan terdesak ingin selalu berkemih (urgency), sulit berkemih dan disertai kejang otot pinggang (stranguria), rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih walaupun sudah kosong (tenesmus), kecenderungan selalu ingin buang air kecil pada malam hari (nokturia) dan kesulitan memulai berkemih (prostatismus).Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis ISK meliputi :AnamnesisPemeriksaan FisikPemeriksaan DarahLeukositosis (peningkatan sel darah putih), peningkatan nilai absolut neutrofil, peningkatan laju endap darah (LED), C-Reactive Protein (CRP) yang positif, Prokalsitonin dan sitokin proinflamatori (TNF-α; IL-6; IL-1β) meningkat pada fase akut infeksi, termasuk pada pielonefritis akut (Pardede, 2018).Pemeriksaan UrinalisisPemeriksaan urinalisis meliputi leukosituria, nitrit, leukosit esterase, protein, dan darah. Leukosituria merupakan petunjuk kemungkinan adanya bakteriuria tetapi tidak adanya leukosituria tidak menyingkirkan ISK. Bakteriuria dapat juga terjadi tanpa leukosituria. Leukosituria dengan biakan urine steril perlu dipertimbangkan pada infeksi oleh kuman Proteus sp., Klamidia sp., dan Ureaplasma urealitikum. leukosit esterase dan nitrit merupakan parameter pemeriksaan urine utama sebagai skrining dan diagnose ISK. Dan Menurut Roring, A.G dkk (2016) bahwa salah satu parameter yang bermakna dalam mendiagnosis ISK adalah jumlah leukosit dan bakteriuria dalam sedimen urine. Kultur UrineKultur urine digunakan untuk mendeteksi serta jumlah bakteri dalam urine. Selain mendeteksi keberadaan bakteri, kultur urine juga dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri penyebab infeksiCara untuk mencegah terjadinya Infeksi saluran kemih : Banyak minum air putih untuk mendorong bakteri keluarJangan menahan buang air kecil, segeralah buang air kecil saat terasaBasuh kemaluan dari arah depan ke belakang, bukan sebaliknya, hal ini akan mengurangi kemungkinan bakteri masuk ke saluran urine dari rektumSegera buang air kecil setelah berhubungan seksualGanti selalu pakaian dalam setiap hari, karena bila tidak diganti bakteri akan berkembang biak secara cepat dalam pakaian dalamHindari memakai celana ketat yang dapat mengurangi ventilasi udara, dan dapat mendorong perkembangbiakan bakteriJika anda menderita infeksi saluran kemih berulang maka hindari penggunaan alat kontrasepsi diafragma. Sebaiknya konsultasi dengan dokter untuk memilih alat kontrasepsi yang lain.PENULIS: Dimas YudistiraEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Madjid dan Suharyanto. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan/Toto Suharyanto, Abdul Madjid; Copy Editor: Agung Wijaya, A.md-Jakarta : TIMSukandar E. 2006. Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/RS Dr. Hasan Sadikin Bandung.Pardede, S. O. 2018. Infeksi pada Ginjal dan Saluran Kemih Anak: Manifestasi Klinis dan Tata Laksana. Jurnal Sari Pediatri, 19(6), pp. 365–373. Tersedia pada https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/1342. Diakses pada tanggal 7 September 2019.
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message