STROKE
06 Agustus 2022
Stroke atau Cerebrovaskular accident menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal ataupun global karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih. Stroke merupakan kematian beberapa sel otak secara mendadak disebabkan karena kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak hilang karena adanya penyumbatan atau pecahnya arteri di otak. Stroke merupakan karakteristik klasik yang menunjukkan terjadinya defisit neurologis yang dikaitkan dengan cedera fokal akut dari sistem saraf pusat (SSP) yang berasal dari pembuluh darah, termasuk infark serebral, perdarahan serebral dan perdarahan subaraknoid, dan merupakan penyebab utama kecacatan serta kematian di seluruh dunia (AHA/ASA, 2013).Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sekitar sel otak mati akibat terhentinya aliran darah akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Terhentinya aliran darah berarti suplai oksigen dan nutrisi ke otak juga terhenti sehingga beberapa bagian otak tidak dapat berfungsi dengan baik.Matinya jaringan otak bisa mengakibatkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan otak tersebut. Jika tidak segera ditangani , penyakit ini bisa berakibat fatal & berujung kematian. Meskipun bisa diselamatkan, kadang – kadang si penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, menghilangnya sebagaian ingatan, atau menghilangnya kemampuan berbicara. Bentuknya bisa berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, dan gangguan rasa pada kulit wajah, lengan, atau tungkai.KLASIFIKASI STROKEStroke dibagi menjadi dua tipe yaitu iskemik dengan angka kejadian sebesar 87% dan hemoragik sebesar 13% (American Stroke Association, 2016). Klasifikasi penyakit stroke terdiri dari beberapa kategori, diantaranya adalah berdasarkan kelainan patologis, secara garis besar stroke dibagi dalam dua tipe yaitu, stroke iskemik disebut juga infark atau non-hemorragic disebabkan oleh gumpalan atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak yang sebelumnya sudah mengalami aterosklerosis. Stroke iskemik terdiri dari tiga macam yaitu stroke emboli (1/3), stroke thrombosis (2/3) dan hipoperfusi stroke. Tipe kedua adalah stroke hemoragik terjadi karena kerusakan atau pecahnya pembuluh darah di otak, perdarahan dapat disebabkan karena hipertensi yang terjadi sangat lama dan anuerisma otak. Ada dua macam stroke hemoragik yaitu subarachnoid hemorrhage dan intracerebral hemorrhage.Stroke iskemik terjadi karena adanya obstruksi pada pembuluh yang mensuplai darah ke otak. Hal yang mendasari terjadinya obstruksi adalah peningkatan deposit lemak yang melapisi pembuluh darah atau biasa disebut sebagai ateroskelrosis. Kondisi ini kemudian menyebabkan dua obstruksi yaitu trombosis serebral dan emboli serebral. Trombosis serebral mengacu pada trombus (bekuan darah) yang berkembang di bagian pembuluh darah yang tersumbat. Emboli serebral mengacu pada bekuan darah yang umumnya terbentuk pada lokasi lain pada sistem peredaran darah, biasanya jantung dan arteri besar di dada bagian atas dan leher. Sebagian dari pecahan bekuan darah lepas, memasuki aliran darah dan berjalan melalui pembuluh darah otak hingga mencapai pada pembuluh darah yang lebih kecil untuk dimasuki oleh plak tersebut. Penyebab penting kedua terjadinya emboli adalah denyut jantung yang tidak teratur, yang dikenal sebagai fibrilasi atrium. Ini menyebabkan kondisi di mana bekuan darah terbentuk di jantung kemudian lepas dan berjalan ke otak.Stroke Hemoragik merupakan akibat dari pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menyebabkan pendarahan di sekitar otak. Darah yang keluar kemudian terakumulasi dan menekan jaringan sekitar otak. Hal ini disebabkan karena dua hal, yaitu anuerisma dan arteriovenous malformation. Anuerisma merupakan pembuluh darah lemah yang membentuk balon yang jika dibiarkan akan menyebabkan ruptur dan berdarah hingga ke otak. Sedangkan arteriovenous malformation merupakan sekelompok pembuluh darah yang terbentuk secara abnormal dan salah satu satu dari pembuluh darah itu dapat mengalami ruptur dan meyebabkan darah masuk ke otak, biasanya terjadi karena hipertensi, aterosklerosis, kebiasaan merokok dan faktor usia. Ada dua tipe stroke hemoragik, yaitu intracerebral hemmorhage dan subarachnoid hemorrhage. Intracerebral hemorrhage (ICH) biasanya disebabkan hipertensi yang meyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, disfungsi autoregulatori dengan aliran otak yang berlebihan, arteriopati, aneurisma intracranial (biasanya juga terjadi pada pendarahan subarachnoid), arteriovenous malformation (penyebab pada 60% kasus), trombosis vena sinus serebral dan infark vena, tumor otak dan tumor SSP primer, dan penyalahan penggunaan obat (misalnya, kokain dan amfetamin). Subarachnoid hemorrhage 80% disebabkan karena aneurisma intrakranial, kemudian diikuti oleh arteriovenous malformation sebagai sebab kedua dengan persentase 10%, sisanya disebabkan karena angioma, tumor, dan trombosis kortikal.ETIOLOGI ATAU PENYEBAB STROKETerhambatnya pasokan darah ke otak beberapa detik saja bisa mengakibatkan pingsan. Apalagi penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah pada otak, mampu mengakibatkan sel – sel saraf pada otak menjadi rusak & mengakibatkan kelumpuhan. Berbagai faktor yang mampu mengakibatkan stroke, seperti faktor keturunan, gaya hidup, dam komplikasi penyakit. Orang – orang yang mempunyai satu atau lebih factor risiko pada bawah ini digolongkan ke pada stroke prone person, yaitu orang yang mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami stroke daripada orang normal suatu ketika selama bepergian hidupnya bila tidak diawasi. Terdapat 2 macam faktor yang mengakibatkan orang mengalami stroke (Agromedia, 2009) yaitu :Faktor Yang Tidak Dapat Diubah1) KeturunanPara ahli meyakini terdapat hubungan antara risiko stroke dengan factor keturunan, walaupun secara tidak langsung. Pasien yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke perlu mewaspadai factor-faktor yang dapat menyebabkan stroke, seperti hipertensi dan hiperkolesterol.2) Jenis KelaminMenurut studi kasus yang sering ditemukan, laki – laki lebih berisiko terkena stroke tiga kali lipat dibandingkan dengan wanita. Laki – laki cenderung terkena stroke iskemik, sedangkan wanita cenderung terkena hemoragik.3) UmurMayoritas stroke menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Namun, dengan pola makan dan jenis makanan yang ada sekarang ini, tidak menutup kemungkinan stroke bisa menyerang mereka yang berusia muda.4) RasRas kulit hitam lebih berisiko terkena stroke dibandingkan dengan ras kulit putih. Hal ini disebabkan, dugaan dari angka kejadian hipertensi dan konsumsi garam yang tinggi pada ras kulit hitam.Faktor Yang Dapat Diubah1) HipertensiHipertensi dapat menyebabkan stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Hipertensi menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel – sel endotel pembuluh darah melalui mekanisme perusakan lipid di bawah otot polos. Karena itu, sangat penting untuk mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal untuk menurunkan risiko terjadinya serangan stroke. Menurut Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa 50% kasus stroke berhubungan dengan hipertensi dan terdapat 25,8% penduduk menderita hipertensi (Kemenkes RI, 2017).2) Penyakit JantungPenyakit jantung coroner, dan orang yang melakukan pemasangan katup jantung buatan akan meningkatkan risiko stroke. Stroke emboli biasanya disebabkan kelainan penyakit jantung tersebut.3) Diabetes MellitusPenyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan mempercepat terjadinya arteriosklerosis pada arteri kecil termasuk pembuluh darah otak. Selain itu, risiko terkena stroke menjadi 2,6 kali lebih besar pada pria dan 3,8 kali lebih besar pada wanita dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Jika seseorang sudah pernah terkena stroke, sebaiknya pertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal untuk mencegah berulangnya stroke dan mencegah meluasnya kerusakan jaringan otak.4) Obesitas (Kegemukan)Kaitan antara obesitas atau kegemukan terhadap serangan stroke belum diketahui secara pasti. Namun, secara epidemiologis, orang yang mengalami obesitas cenderung menderita hipertensi, hiperkolesterol, dan diabetes mellitus. Menurut Kemkes RI menyatakan 1 dari 5 kasus stroke terjadi akibat obesitas dan terdapat 26,1% penduduk kurang aktivitas fisik (Kemenkes RI, 2017).5) HiperkolesterolKolesterol merupakan zat yang paling berperan dalam terbentuknya arteriosklerosis pada lapisan dalam pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah terutama pembuluh darah di otak. Jika penyumbatan telah menutupi seluruh rongga pembuluh darah, maka aliran darah pada jaringan otak terhenti dan terjadilah stroke. Data Kemenkes RI menyatakan 1 dari 4 kasus stroke berhubungan dengan kadar LDL tinggi dan sekitar 15,9% penduduk > 15 tahun memiliki kadar LDL tinggi (Kemenkes RI, 2017).6) Faktor Gaya HidupGaya Hidup yang Tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik dan kurang olahraga, meningkatkan risiko terkena penyakit stroke. Hal ini disebabkan, gaya hidup yang tidak sehat rentan terkena obesitas, diabetes, arteriosclerosis, dan penyakit jantung. Penyakit tersebut sebagai salah satu pemicu terjadinya stroke.Merokok Nikotin pada rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, menurunkan kolesterol HDL, meningkatkan kolesterol LDL, dan mempercepat arteriosclerosis. Kebiasaan merokok merupakan factor risiko yang potensial terhadap serangan stroke iskemik dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah pada daerah posterior otak. Perokok berat mempunyai risiko terkena stroke dua kali lipat. Risiko terkena stroke akan berkurang jika telah berhenti merokok selama lima tahun dibandingkan dengan terus merokok. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 dari 10 kasus stroke berhubungan dengan merokok dan terdapat 36,3% penduduk usia > 15 tahun yang merokok , perempuan usia >10 tahun (1,9%) (Kemenskes Republik Indonesia, 2017). Stres Stres dapat mengakibatkan hati memproduksi radikal bebas lebih banyak dan mempengaruhi system imunitas tubuh secara umum sehingga mengganggu fungsi hormonal. Stres yang berujung pada depresi dapat menjadi salah satu factor terjadinya stroke. Bagaimana depresi dapat meningkatkan stroke, sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas. Mekanisme yang mungkin adalah stres dan depresi menyebabkan peningkatan tekanan darah yang berarti juga meningkatkan risiko stres.Konsumsi Alkohol dan Obat – Obatan TerlarangObat – Obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 juta kasus stroke berhubungan dengan konsumsi alkohol berlebihan dan sekitar 4,6% penduduk > 10 tahun minum – minuman beralkohol (Kemenskes Republik Indonesia, 2017).GEJALA KLINIS STROKEGejala awal stroke sering tidak diketahui oleh penderitanya. Stroke sering muncul secara tiba – tiba, serta berlangsung cepat dan langsung menyebabkan penderita tidak sadar diri. Karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala awal terjadinya stroke. Berikut beberapa gejala awal terjadinya stroke :Nyeri kepala disertai penurunan kesadaran, bahkan bisa mengalami koma (perdarahan otak).Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Mendadak seluruh badan lemas dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop attack) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop). Gangguan penglihatan (mata kabur) pada satu atau dua mata. Gangguan keseimbangan berupa vertigo dan sempoyongan (ataksia). Rasa baal pada wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi. Kelemahan atau kelumpuhan wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi.Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara (afasia).Gangguan daya ingat atau memori baru (amnesia). Gangguan menelan cairan atau makanan padat (disfagia).Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala stroke terbagi menjadi tiga, sebagai berikut :Bagian system saraf pusat, yaitu kelemahan otot (hemiplegia), kaku, dan menurunnya fungsi sensorik.Batang otak, yang terdapat 12 saraf kranial. Gejalanya yaitu lidah melemah; kemampuan membau, mengecap, mendengar, melihat secara parsial atau keseluruhan menjadi menurun; serta kemampuan reflex, ekspresi wajah, pernafasan, dan detak jantung menjadi terganggu. Cerebral cortex. Cerebral cortex merupakan permukaan luar cerebrum, apabila Cerebral cortex ini mengalami gangguan akan menyebabkan tidak bisa berbicara (afasia), kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan – gerakan yang bertujuan (apraksia), daya ingat menurun, kegagalan melaksanakan sebuah fungsi sebagaian badan (hemiparese), dan kebingungan. Jika tanda – tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), yang merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Keadaan ini sangat menguntungkan karena penderita bisa sembuh 100%.Namun, penderita harus tetap waspada terhadap gejala – gejala stroke yang mungkin timbul (Agromedia, 2009).Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia gejala dan tanda – tanda stroke adalah dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yang terdiri dari :Se, Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba – tiba Ge, Gerak separuh anggota tubuh melemah secara tiba – tibaRa, Bicara pelo / tiba – tiba tidak dapat bicara / tidak mengerti kata – kata / bicara tidak nyambung Ke, Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuhR, Rabun, pandangan satu mata kabur terjadi secara tiba – tibaS, Sakit kepala hebat yang muncul tiba – tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.PEMERIKSAAN PENUNJANG STROKEPemeriksaan penunjang dilakukan untuk memastikan jenis serangan stroke, letak sumbatan atau penyempitan pembuluh darah, letak perdarahan, serta luas jaringan otak yang mengalami kerusakan (Indarwati , Sari, & Dewi, 2008)CT-Scan Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infarkPemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) Pemeriksaan MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark atau hemoragik (Oktavianus, 2014). MRI mempunyai banyak keunggulan dibanding CT dalam mengevaluasi stroke, MRI lebih sensitif dalam mendeteksi infark, terutama yang berlokasi di batang otak dan serebelum Pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA) Merupakan metode non-infasif yang memperlihatkan arteri karotis dan sirkulasi serebral serta dapat menunjukan adanya oklusi(Hartono, 2010) Pemeriksaan ultrasonografi karotis dan dopler transkranial Mengukur aliran darah serebral dan mendeteksi penurunan aliran darah stenosis di dalam arteri karotis dan arteri vetebrobasilaris selain menunjukan luasnya sirkulasi kolateral. Kedua pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengkaji perburukkan penyakit vaskular dan mengevaluasi efek terapi yang ditimbulkan pada vasospasme, seperti yang terjadi pada perdarahan subaraknoid. Angiografi serebral merupakan prosedur invasif yang menggunakan media kontras untuk menunjukan pembuluh darah serebral, kepatenan, dan lokasi stenosis, oklusi atau aneurisma. Pemeriksaan aliran darah serebral membantu menentukan derajat vasopasme Pemeriksaan lumbal pungsi Pemeriksaan fungsi lumbal menunjukkan adanya tekanan. Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA, sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranialPemeriksaan EKG Dapat membantu mengidentifikasi penyebab kardiak jika stroke emboli dicurigai terjadi (Hartono, 2010) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal, kadar glukosa, lipid, kolestrol, dan trigliserida dilakukan untuk membantu menegakan diagnoseEEG (Electro Enchepalografi) Mengidentifikasi masalah di dasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifikAngiografi serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obtruksi arteri, oklusi/rupturSinar X tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada perdarahan sub arachnoid.Pemeriksaan foto thorax Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari masa yang meluas.PENCEGAHAN PENYAKIT STROKEPencegahan stroke bertujuan untuk mengendalikan angka kematian akibat stroke dan kejadian stroke, memperkecil kemungkinan disabilitas akibat stroke serta mencegah terjadinya stroke berulang. Bentuk – bentuk upaya pencegahan stroke yang dapat dilakukan:Pencegahan Primer. Pencegahan Primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang sehat atau kelompok berisiko yang belum terkena stroke untuk mencegah kemungkinan terjadinya serangan stroke yang pertama, dengan mengendalikan faktor risiko dan mendeteksi diri serangan stroke. Hal ini dapat dilakukan dengan: 1) Peningkatan aktivitas fisik 2) Penyediaan pangan sehat & percepatan perbaikan gizi 3) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit 4) Peningkatan kualitas lingkungan 5) Peningkatan edukasi hidup sehat 6) Peningkatan perilaku hidup sehat, yang diimplementasikan dalam perilaku “CERDIK” yaitu : C ; Cek kesehatan secara berkala, E ; Enyahkan asap rokok, R ; Rajin aktivitas fisik, D ; Diet sehat dengan gizi seimbang, I ; Istirahat yang cukup, K ; Kelola stressPencegahan Sekunder Pencegahan Sekunder adalah pencegahan yang dilakukan pada orang yang sudah mengalami serangan stroke, agar tidak terjadi serangan stroke berulang yaitu dengan penambahan obat pengencer darah seperti aspirin. Disamping pengendalian faktor risiko lainnya, individu pasca stroke tetap secara rutin dan teratur mengontrol faktor risiko (P2PTM Kemenkes RI, 2018).PENULIS: Tri Miranda PrasastiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Agromedia, R. (2009). Solusi Sehat Mengatasi Stroke (1st ed.)Kemenskes Republik Indonesia. (2017). Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Stroke di Indonesia. Farida, I., & Amalia, N. (2009). mengantisipasi stroke : petunjuk mudah, lengkap, dan praktis sehari-hari. Yogjakarta: Buku Biru.Hartono, A. (2010). Patofisiologi : Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Indarwati , L., Sari, W., & Dewi, C. S. (2008). Care Yourself, Stroke. Penebar Plus: Depok