Dampak Buruk Mager atau Kurang Gerak yang Perlu Diketahui
20 November 2023
Gaya hidup modern dan kecanggihan teknologi yang mendukungnya telah menyebabkan banyak orang menjadi kurang aktif atau enggan untuk bergerak. Terlebih lagi, saat ini banyak orang memilih untuk menggunakan layanan online untuk berbelanja atau membayar tagihan. Sedangkan pada masa sebelum internet menjadi begitu luas, orang harus keluar rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut.Kebiasaan malas bergerak telah menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari. Dampak negatif dari kebiasaan ini mungkin tidak dirasakan secara langsung, tetapi baru akan terasa saat memasuki usia tua, saat tubuh yang jarang digerakkan mulai menunjukkan konsekuensi buruknya. Di bawah ini adalah beberapa dampak negatif yang akan dialami oleh individu yang cenderung malas untuk bergerak.1. Tubuh Menjadi Mudah Letih Ketika Digerakkan SedikitAnda akan merasa mudah kelelahan karena tubuh tidak digunakan dalam melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan oleh rasa kelelahan awal yang kamu rasakan sebelum melaksanakan aktivitas yang sebenarnya mudah. Ketika Anda terus-menerus menghindari aktivitas atau mengesampingkan kewajiban, tubuh akan mengalami penurunan kondisi fisik dan mental yang signifikan. Perasaan kelelahan yang muncul sebelum melakukan aktivitas hanya akan semakin memperburuk situasi.Hasilnya, Anda akan kehilangan semangat dalam menjalani hidup. Daya dorong dan motivasi untuk mencapai tujuan dalam kehidupan akan terkikis secara perlahan. Ini bisa menjadi masalah serius yang berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan Anda, seperti kesehatan, hubungan sosial, dan produktivitas. Kelelahan yang disebabkan oleh kemalasan dapat menyebabkan Anda terjebak dalam siklus negatif di mana semakin sulit untuk menemukan energi dan semangat untuk melakukan apa pun.2. Terjadi Dekondisi Pada Otot dan SendiDilansir dari National Institutes of Health, dekondisi adalah suatu kondisi yang terjadi ketika kapasitas fungsional tubuh mengalami penurunan yang signifikan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kurangnya aktivitas fisik yang cukup. Ketidakaktifan fisik yang berkelanjutan dapat memiliki dampak negatif pada kemampuan tubuh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal.Selain itu, dekondisi juga dapat menyebabkan berkurangnya massa otot. Ketika tubuh tidak terlibat dalam aktivitas fisik yang memadai, otot-otot menjadi kurang terlatih dan akhirnya mengalami penurunan dalam volume dan kekuatan. Penurunan massa otot ini bisa mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan risiko cedera dan ketidakmampuan dalam menjalankan tugas-tugas sehari-hari.Dampak lain dari dekondisi adalah terkait dengan peradangan pada sendi. Ketika tubuh tidak aktif, sendi-sendi cenderung menjadi kaku dan kurang fleksibel. Hal ini dapat menyebabkan peradangan pada sendi-sendi tersebut, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan rasa nyeri, pembengkakan, dan bahkan gangguan dalam mobilitas sehari-hari.3. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan KardiovaskularKurangnya aktivitas fisik secara signifikan adalah faktor yang berpengaruh besar terhadap penurunan tingkat metabolisme lemak dalam darah. Ketika seseorang tidak cukup bergerak dan berolahraga secara teratur, tubuhnya cenderung mengalami perubahan dalam kadar lipoprotein, yang merupakan molekul pembawa lemak dalam darah.Dikutip dari Kementerian Kesehatan, akan terjadi peningkatan kadar LDL (Low-Density Lipoprotein), yang sering disebut sebagai "kolesterol jahat." Tingginya kadar LDL dalam darah dapat menyebabkan akumulasi plak aterosklerotik dalam dinding pembuluh darah. Akumulasi plak ini bertahap menyempitkan lumen pembuluh darah, yang dapat mengganggu aliran darah normal.Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik akan menurunkan kadar HDL (High-Density Lipoprotein), yang dikenal sebagai "kolesterol baik." HDL berperan penting dalam membersihkan kolesterol dari dinding pembuluh darah dan membawanya kembali ke hati untuk pemrosesan lebih lanjut atau penghilangan dari tubuh. Ketika kadar HDL rendah, proses ini terhambat, dan kolesterol akan tetap terperangkap dalam plak aterosklerotik.Seiring berjalannya waktu, akumulasi lemak dalam dinding pembuluh darah menjadi semakin signifikan. Plak aterosklerotik yang semakin besar dan kompleks dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah, memicu reaksi peradangan, dan dalam beberapa kasus, menyebabkan pembentukan bekuan darah. Semua faktor ini dapat meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis, yang merupakan proses penyakit pembuluh darah kronis yang dapat memicu serangan jantung.4. Tekanan Darah TinggiBerdasarkan penelitian Kesehatan Dasar tahun 2018 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, ditemukan bahwa sekitar 33,4 persen individu muda mengalami hipertensi. Salah satu faktor utama yang menjadi penyebab hipertensi adalah kurangnya aktivitas fisik. Aktivitas fisik adalah komponen penting dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Orang yang tidak aktif dan jarang berpartisipasi dalam kegiatan fisik cenderung memiliki denyut jantung yang lebih tinggi.Denyut jantung yang lebih tinggi berarti jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Semakin tinggi denyut jantung ini, semakin berat beban yang harus ditanggung oleh jantung pada setiap kali berkontraksi, dan tekanan pada arteri juga semakin besar. Ini dapat meningkatkan risiko hipertensi, karena tekanan darah yang tinggi dapat merusak dinding arteri dan meningkatkan risiko terjadinya berbagai masalah kesehatan, termasuk serangan jantung dan stroke.5. Meningkatkan Risiko OsteoporosisOsteoporosis merupakan kondisi medis yang ditandai oleh kerapuhan dan berkurangnya kepadatan tulang. Sayangnya, penyakit ini seringkali tidak menunjukkan gejala apa pun hingga terjadi insiden serius seperti tergelincir atau jatuh. Pada titik ini, kerapuhan tulang dapat menyebabkan tulang retak atau patah dengan lebih mudah daripada biasanya, dan ini adalah saat ketika seseorang menyadari adanya masalah. Namun, sebelum saat ini terjadi, perlahan-lahan, tulang telah mengalami penurunan kepadatan yang signifikan.Dikutip dari WebMD, osteoporosis adalah penyakit yang berkaitan erat dengan gaya hidup, dan salah satu faktor utama yang berperan dalam peningkatan angka kasus osteoporosis adalah gaya hidup yang semakin tidak aktif atau mager. Sebagaimana kita ketahui, tulang dan otot adalah komponen penting dalam sistem dukungan tubuh, dan mereka didesain untuk beraktivitas dan bergerak. Aktivitas fisik yang cukup membantu merangsang pertumbuhan dan pemeliharaan tulang, serta menjaga kepadatan tulang yang sehat. Namun, jika seseorang jarang melakukan gerakan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, ini dapat mengganggu regulasi tubuh dalam mempertahankan kepadatan tulang yang optimal.6. Terjadi Gangguan TidurKetika seseorang kurang aktif secara fisik dalam aktivitas sehari-hari, dampaknya dapat berdampak cukup signifikan pada kesejahteraan tubuh dan kualitas tidur mereka. Hal ini karena tubuh cenderung tidak mendapatkan stimulasi yang cukup untuk mengatur ritme sirkadian dengan baik.Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, Ritme sirkadian adalah suatu mekanisme internal yang mengatur siklus tidur dan bangun seseorang. Aktivitas fisik yang cukup berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan kualitas ritme sirkadian ini. Ketika seseorang aktif secara fisik, tubuh mereka memproduksi hormon-hormon seperti melatonin. Melatonin adalah hormon yang memiliki peran kunci dalam mengatur siklus tidur-bangun. Produksi melatonin meningkat saat cahaya berkurang, memberi sinyal kepada tubuh bahwa saatnya untuk tidur. Kurangnya aktivitas fisik dapat mengganggu produksi melatonin ini, sehingga dapat mengakibatkan masalah dalam menjaga pola tidur yang teratur.Selain itu, ketidakaktifan fisik juga dapat menyebabkan penumpukan energi yang tidak terpakai dalam tubuh. Ini dapat membuat tubuh sulit untuk mencapai tingkat relaksasi yang diperlukan untuk tidur yang berkualitas. Aktivitas fisik membantu melepaskan energi, sehingga tubuh merasa lebih rileks dan siap untuk tidur.7. Motivasi Hidup BerkurangKebiasaan mager yang terus menerus dilakukan akan berdampak pada kesejahteraan mental Anda sendiri. Kurangnya aktivitas fisik dapat mengakibatkan penurunan produksi endorfin, neurotransmiter yang berperan dalam meningkatkan perasaan bahagia dan mengurangi stres. Akibatnya, seseorang cenderung lebih rentan terhadap gangguan suasana hati dan kecemasan. Selain itu, kurangnya gerakan juga dapat menyebabkan penurunan sirkulasi darah dan oksigen ke otak, yang mempengaruhi fungsi kognitif dan daya ingat. Hal ini dapat mengarah pada penurunan kinerja mental dan fokus, serta meningkatkan risiko depresi. Selain dampak fisik, kebiasaan malas bergerak juga dapat menyebabkan isolasi sosial dan kurangnya interaksi dengan lingkungan sekitar, yang dapat memperburuk kondisi kesejahteraan mental seseorang.

