Apa Itu Frozen Shoulder? Berikut Penjelasannya & Gejalanya
![]()
Adhesive capsulitis atau yang dikenal sebagai frozen shoulder merupakan gangguan pada bahu yang dapat terjadi pada siapa pun, tetapi umumnya sering dirasakan oleh orang-orang yang bekerja di perkantoran. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pekerja kantoran cenderung menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan duduk dan melakukan tugasnya di depan layar komputer.
Gejala dari kondisi frozen shoulder mencakup sensasi nyeri dan kaku di daerah bahu. Perkembangan frozen shoulder dapat semakin parah seiring berjalannya waktu, bahkan bisa berlangsung bertahun-tahun. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai adhesive capsulitis atau frozen shoulder, simak ulasannya di bawah ini;
Apa Yang Dimaksud Dengan Frozen Shoulder?
Dilansir dari Mayo Clinic, frozen shoulder merupakan suatu keadaan di mana bahu penderita akan mengalami nyeri disertai dengan kekakuan, sehingga individu yang mengalaminya menghadapi kesulitan dalam melakukan gerakan pada bahu atau lengan atas.
Bahkan, seiring berjalannya waktu, kondisi ini dapat menyebabkan bahu menjadi tidak mampu digunakan sama sekali. Sekadar informasi tambahan, dalam setiap sendi bahu memiliki kapsul yang berfungsi sebagai lapisan pelindung untuk tulang, tendon, dan ligamen.
Jika bahu mengalami cedera atau tidak bergerak secara semestinya dalam jangka waktu yang lama, kapsul tersebut akan mengalami penebalan yang bertahap dan akhirnya menyebabkan keterbatasan pergerakan sendi atau bahkan kehilangan kemampuan gerak sepenuhnya. Istilah Indonesianya untuk kondisi ini adalah bahu kaku.
Meskipun frozen shoulder terdengar sangat mengerikan, namun penyakit ini juga dapat sembuh seiring waktu. Setiap individu membutuhkan durasi penyembuhan yang berbeda untuk pulih dari kondisi frozen shoulder.
Ciri-Ciri Dari Penyakit Frozen Shoulder
Berikut merupakan ciri-ciri dari penyakit ini yang sudah kami rangkum dari Cleveland Clinic
1. Nyeri Pada Bagian Bahu
Anda akan mengalami sensasi nyeri di daerah bahu yang terus-menerus, tanpa henti, atau mungkin hanya terasa ketika Anda melakukan gerakan tertentu dengan bahu Anda. Rasa sakit ini bisa bersifat sementara, muncul dalam beberapa keadaan tertentu, atau bahkan sepanjang waktu, yang berarti terus-menerus ada tanpa henti. Nyeri ini bisa muncul sebagai respons terhadap aktivitas fisik, cedera, atau kondisi medis tertentu yang mempengaruhi struktur atau fungsi bahu tubuh.
Apabila Anda mengalami nyeri bahu yang berlangsung sepanjang waktu, hal ini dapat menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius, seperti gangguan saraf, atau penyakit kardiovaskular. Sedangkan, rasa sakit hanya saat Anda bergerak mungkin mengindikasikan bahwa ada masalah pada otot atau ligamen yang terlibat dalam gerakan tersebut. Untuk itu, selalu cek semua gejala yang menjadi pertanda bahwa ada masalah kronis yang memerlukan perhatian medis lebih lanjut.
2. Bahu Sulit Digerakkan
Bahu merupakan bagian tubuh yang memiliki peran penting dalam memberikan fleksibilitas dan mobilitas untuk mengangkat serta menggerakkan tangan dengan leluasa. Sebagai satu dari bagian tubuh yang sangat dinamis, bahu memungkinkan kita melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dengan mudah. Namun, ketika mengalami nyeri pada bahu, hal tersebut dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas hidup sehari-hari.
Nyeri pada bahu dapat menghambat kemampuan untuk melakukan tugas-tugas sederhana seperti menyisir rambut atau berpakaian. Aktivitas sehari-hari yang mungkin kita anggap remeh, seperti mengambil barang dari rak, menggerakkan tangan untuk menjangkau sesuatu di atas kepala, atau bahkan berolahraga, dapat menjadi tugas yang sulit dan tidak nyaman ketika bahu mengalami ketidaknyamanan tersebut.
3. Bahu Menjadi TIdak Bisa Digerakkan
Dalam beberapa situasi, terutama apabila kondisi ini tidak ditangani atau diobati dengan tepat, risiko terjadinya dislokasi bahu dapat meningkat. Mengutip situs resmi Cleveland Clinic, Dislokasi bahu merujuk pada kondisi di mana tulang lengan atas terlepas dari posisinya yang seharusnya, yang mengakibatkan sensasi nyeri yang amat sangat, pembengkakan yang muncul, dan ketidakmampuan untuk menggunakan lengan tersebut dengan normal.
Pada individu yang mengalami frozen shoulder, terdapat kecenderungan bahwa otot dan ligamen di sekitar bahu akan mengalami kelemahan atau kekakuan. Ketidakmampuan untuk menggerakkan bahu secara total dapat menyebabkan seseorang akan membatasi kemampuannya dalam menjalani aktivitas sehari-hari atau bahkan menghentikannya dari segala aktivitas.
Pengobatan Frozen Shoulder
1. Fisioterapi
Fisioterapi bertujuan untuk memulihkan pergerakan lengan seoptimal mungkin. Pasien dengan kondisi bahu kaku akan diberikan panduan gerakan yang dapat mendukung proses penyembuhan. Dalam sesi fisioterapi, dokter dapat melibatkan terapi listrik yang dikenal sebagai TENS (transcutaneous electrical nerve stimulation). TENS melibatkan pengiriman arus listrik kecil melalui elektroda yang ditempatkan di kulit dengan tujuan menghambat impuls saraf yang menyebabkan rasa nyeri.
Di sisi lain, dokter memiliki opsi prosedur fisioterapi seperti:
a) Manipulasi sendi bahu. Prosedur manipulasi sendi bahu dimulai dengan memberikan bius total agar pasien tertidur dan tidak merasakan nyeri selama prosedur. Setelah pasien terbius, dokter akan menggerakkan bahu ke berbagai arah untuk merenggangkan jaringan kapsul sendi yang tegang.
b) Hydrodilatation. Prosedur ini melibatkan penyuntikan air steril yang dicampur dengan obat kortikosteroid ke dalam kapsul sendi. Tujuannya adalah meregangkan jaringan kapsul sendi bahu dan memfasilitasi gerakan sendi. Sebelum prosedur ini dilakukan, bahu akan diberi bius lokal terlebih dahulu.
c) Artroskopi. Prosedur artroskopi melibatkan penyisipan selang kecil yang dilengkapi kamera melalui sayatan di sekitar sendi bahu. Artroskopi bertujuan untuk mengangkat jaringan yang mengeras dan melekat di dalam sendi bahu.
2. Pemberian Obat-Obatan
Mengenai obat yang diberikan, dokter umumnya akan meresepkan analgesik atau obat pereda nyeri guna mengurangi tingkat nyeri yang dirasakan oleh penderita. Selain itu, mereka juga memberikan resep untuk antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen, dengan tujuan mengurangi peradangan dan pembengkakan yang mungkin terjadi akibat frozen shoulder. Adapun pilihan pengobatan lain yang dapat dipertimbangkan adalah pemberian obat pereda otot, yang bertujuan untuk meredakan ketegangan dan memfasilitasi gerakan sendi untuk bergerak.
3. Proses Pemulihan
Proses pemulihan merupakan suatu tahap yang krusial dalam mengembalikan fungsi otot lengan secara optimal setelah mengalami cedera atau kondisi tertentu. Rentang waktu untuk mencapai fase pemulihan ini bervariasi, dan umumnya membutuhkan waktu antara 6 bulan hingga 2 tahun, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan respons tubuh individu.
Pada fase pemulihan, terapi fisik memegang peran penting dalam mencapai hasil yang optimal. Tujuan utama dari terapi fisik pada tahap ini adalah untuk mengoptimalkan fleksibilitas, kekuatan, dan stabilitas bahu. Latihan-latihan khusus dirancang untuk memfokuskan pada pengembalian gerakan dan peningkatan kekuatan otot-otot yang terlibat dalam fungsi bahu.
Terapi fisik pada fase ini dapat mencakup berbagai teknik dan pendekatan, termasuk latihan rentang gerak, latihan kekuatan, dan stabilisasi. Latihan rentang gerak bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas sendi dan memastikan bahwa otot-otot sekitar bahu dapat bergerak dengan leluasa. Sementara itu, latihan kekuatan difokuskan pada membangun kembali kekuatan otot yang mengalami penurunan selama masa pemulihan.
Pergeseran fokus dari latihan pemulihan ke latihan penguatan menjadi aspek kunci dalam memastikan pemulihan yang berkelanjutan. Dengan meningkatnya kekuatan otot dan stabilitas bahu, individu yang menjalani proses pemulihan dapat secara bertahap kembali melakukan aktivitas sehari-hari dan aktivitas fisik yang lebih intens. Ini juga dapat mengurangi risiko kambuhnya frozen shoulder atau masalah serupa lain di masa depan.

