Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Kabar Terbaru Granostic Diagnostic Center

GRANOMIC HIPERLIPIDEMIA
Tes untuk skrining variasi gen hilipidemia dalam tubuh. Hiperlipidemia adalah kondisi dimana lemak dalam pembuluh darah melebihi batas normal. Yang mana hal ini dapat menyebabkan penyakit stroke, kanker dan penyakit pembuluh darah lainnya. Periksakan diri anda jika anda mengalami : 1. Memiliki kadar kolesterol di atas normal 2. Dalam kondisi obesitas yang ditandai dengan lingkar perut yang besar 3. Memiliki riwayat kadar kolesterol tinggi dalam keluarga 4. Tidak ada perubahan angka kadar kolesterol meskipun sudah menerapkan gaya hidup sehat 5. Mengonsumsi alkohol 6. Merokok  
STROKE
Stroke atau Cerebrovaskular accident menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal ataupun global karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih. Stroke merupakan kematian beberapa sel otak secara mendadak disebabkan karena kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak hilang karena adanya penyumbatan atau pecahnya arteri di otak. Stroke merupakan karakteristik klasik yang menunjukkan terjadinya defisit neurologis yang dikaitkan dengan cedera fokal akut dari sistem saraf pusat (SSP) yang berasal dari pembuluh darah, termasuk infark serebral, perdarahan serebral dan perdarahan subaraknoid, dan merupakan penyebab utama kecacatan serta kematian di seluruh dunia (AHA/ASA, 2013).Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sekitar sel otak mati akibat terhentinya aliran darah akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Terhentinya aliran darah berarti suplai oksigen dan nutrisi ke otak juga terhenti sehingga beberapa bagian otak tidak dapat berfungsi dengan baik.Matinya jaringan otak bisa mengakibatkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan otak tersebut. Jika tidak segera ditangani , penyakit ini bisa berakibat fatal & berujung kematian. Meskipun bisa diselamatkan, kadang – kadang si penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, menghilangnya sebagaian ingatan, atau menghilangnya kemampuan berbicara. Bentuknya bisa berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, dan gangguan rasa pada kulit wajah, lengan, atau tungkai.KLASIFIKASI STROKEStroke dibagi menjadi dua tipe yaitu iskemik dengan angka kejadian sebesar 87% dan hemoragik sebesar 13% (American Stroke Association, 2016). Klasifikasi penyakit stroke terdiri dari beberapa kategori, diantaranya adalah berdasarkan kelainan patologis, secara garis besar stroke dibagi dalam dua tipe yaitu, stroke iskemik disebut juga infark atau non-hemorragic disebabkan oleh gumpalan atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak yang sebelumnya sudah mengalami aterosklerosis. Stroke iskemik terdiri dari tiga macam yaitu stroke emboli (1/3), stroke thrombosis (2/3) dan hipoperfusi stroke. Tipe kedua adalah stroke hemoragik terjadi karena kerusakan atau pecahnya pembuluh darah di otak, perdarahan dapat disebabkan karena hipertensi yang terjadi sangat lama dan anuerisma otak. Ada dua macam stroke hemoragik yaitu subarachnoid hemorrhage dan intracerebral hemorrhage.Stroke iskemik terjadi karena adanya obstruksi pada pembuluh yang mensuplai darah ke otak. Hal yang mendasari terjadinya obstruksi adalah peningkatan deposit lemak yang melapisi pembuluh darah atau biasa disebut sebagai ateroskelrosis. Kondisi ini kemudian menyebabkan dua obstruksi yaitu trombosis serebral dan emboli serebral. Trombosis serebral mengacu pada trombus (bekuan darah) yang berkembang di bagian pembuluh darah yang tersumbat. Emboli serebral mengacu pada bekuan darah yang umumnya terbentuk pada lokasi lain pada sistem peredaran darah, biasanya jantung dan arteri besar di dada bagian atas dan leher. Sebagian dari pecahan bekuan darah lepas, memasuki aliran darah dan berjalan melalui pembuluh darah otak hingga mencapai pada pembuluh darah yang lebih kecil untuk dimasuki oleh plak tersebut. Penyebab penting kedua terjadinya emboli adalah denyut jantung yang tidak teratur, yang dikenal sebagai fibrilasi atrium. Ini menyebabkan kondisi di mana bekuan darah terbentuk di jantung kemudian lepas dan berjalan ke otak.Stroke Hemoragik merupakan akibat dari pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menyebabkan pendarahan di sekitar otak. Darah yang keluar kemudian terakumulasi dan menekan jaringan sekitar otak. Hal ini disebabkan karena dua hal, yaitu anuerisma dan arteriovenous malformation. Anuerisma merupakan pembuluh darah lemah yang membentuk balon yang jika dibiarkan akan menyebabkan ruptur dan berdarah hingga ke otak. Sedangkan arteriovenous malformation merupakan sekelompok pembuluh darah yang terbentuk secara abnormal dan salah satu satu dari pembuluh darah itu dapat mengalami ruptur dan meyebabkan darah masuk ke otak, biasanya terjadi karena hipertensi, aterosklerosis, kebiasaan merokok dan faktor usia. Ada dua tipe stroke hemoragik, yaitu intracerebral hemmorhage dan subarachnoid hemorrhage. Intracerebral hemorrhage (ICH) biasanya disebabkan hipertensi yang meyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, disfungsi autoregulatori dengan aliran otak yang berlebihan, arteriopati, aneurisma intracranial (biasanya juga terjadi pada pendarahan subarachnoid), arteriovenous malformation (penyebab pada 60% kasus), trombosis vena sinus serebral dan infark vena, tumor otak dan tumor SSP primer, dan penyalahan penggunaan obat (misalnya, kokain dan amfetamin). Subarachnoid hemorrhage 80% disebabkan karena aneurisma intrakranial, kemudian diikuti oleh arteriovenous malformation sebagai sebab kedua dengan persentase 10%, sisanya disebabkan karena angioma, tumor, dan trombosis kortikal.ETIOLOGI ATAU PENYEBAB STROKETerhambatnya pasokan darah ke otak beberapa detik saja bisa mengakibatkan pingsan. Apalagi penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah pada otak, mampu mengakibatkan sel – sel saraf pada otak menjadi rusak & mengakibatkan kelumpuhan. Berbagai faktor yang mampu mengakibatkan stroke, seperti faktor keturunan, gaya hidup, dam komplikasi penyakit. Orang – orang yang mempunyai satu atau lebih factor risiko pada bawah ini digolongkan ke pada stroke prone person, yaitu orang yang mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami stroke daripada orang normal suatu ketika selama bepergian hidupnya bila tidak diawasi. Terdapat 2 macam faktor yang mengakibatkan orang mengalami stroke (Agromedia, 2009) yaitu :Faktor Yang Tidak Dapat Diubah1) KeturunanPara ahli meyakini terdapat hubungan antara risiko stroke dengan factor keturunan, walaupun secara tidak langsung. Pasien yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke perlu mewaspadai factor-faktor yang dapat menyebabkan stroke, seperti hipertensi dan hiperkolesterol.2) Jenis KelaminMenurut studi kasus yang sering ditemukan, laki – laki lebih berisiko terkena stroke tiga kali lipat dibandingkan dengan wanita. Laki – laki cenderung terkena stroke iskemik, sedangkan wanita cenderung terkena hemoragik.3) UmurMayoritas stroke menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Namun, dengan pola makan dan jenis makanan yang ada sekarang ini, tidak menutup kemungkinan stroke bisa menyerang mereka yang berusia muda.4) RasRas kulit hitam lebih berisiko terkena stroke dibandingkan dengan ras kulit putih. Hal ini disebabkan, dugaan dari angka kejadian hipertensi dan konsumsi garam yang tinggi pada ras kulit hitam.Faktor Yang Dapat Diubah1) HipertensiHipertensi dapat menyebabkan stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Hipertensi menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel – sel endotel pembuluh darah melalui mekanisme perusakan lipid di bawah otot polos. Karena itu, sangat penting untuk mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal untuk menurunkan risiko terjadinya serangan stroke. Menurut Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa 50% kasus stroke berhubungan dengan hipertensi dan terdapat 25,8% penduduk menderita hipertensi (Kemenkes RI, 2017).2) Penyakit JantungPenyakit jantung coroner, dan orang yang melakukan pemasangan katup jantung buatan akan meningkatkan risiko stroke. Stroke emboli biasanya disebabkan kelainan penyakit jantung tersebut.3) Diabetes MellitusPenyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan mempercepat terjadinya arteriosklerosis pada arteri kecil termasuk pembuluh darah otak. Selain itu, risiko terkena stroke menjadi 2,6 kali lebih besar pada pria dan 3,8 kali lebih besar pada wanita dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Jika seseorang sudah pernah terkena stroke, sebaiknya pertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal untuk mencegah berulangnya stroke dan mencegah meluasnya kerusakan jaringan otak.4) Obesitas (Kegemukan)Kaitan antara obesitas atau kegemukan terhadap serangan stroke belum diketahui secara pasti. Namun, secara epidemiologis, orang yang mengalami obesitas cenderung menderita hipertensi, hiperkolesterol, dan diabetes mellitus. Menurut Kemkes RI menyatakan 1 dari 5 kasus stroke terjadi akibat obesitas dan terdapat 26,1% penduduk kurang aktivitas fisik (Kemenkes RI, 2017).5) HiperkolesterolKolesterol merupakan zat yang paling berperan dalam terbentuknya arteriosklerosis pada lapisan dalam pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah terutama pembuluh darah di otak. Jika penyumbatan telah menutupi seluruh rongga pembuluh darah, maka aliran darah pada jaringan otak terhenti dan terjadilah stroke. Data Kemenkes RI menyatakan 1 dari 4 kasus stroke berhubungan dengan kadar LDL tinggi dan sekitar 15,9% penduduk > 15 tahun memiliki kadar LDL tinggi (Kemenkes RI, 2017).6) Faktor Gaya HidupGaya Hidup yang Tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik dan kurang olahraga, meningkatkan risiko terkena penyakit stroke. Hal ini disebabkan, gaya hidup yang tidak sehat rentan terkena obesitas, diabetes, arteriosclerosis, dan penyakit jantung. Penyakit tersebut sebagai salah satu pemicu terjadinya stroke.Merokok Nikotin pada rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, menurunkan kolesterol HDL, meningkatkan kolesterol LDL, dan mempercepat arteriosclerosis. Kebiasaan merokok merupakan factor risiko yang potensial terhadap serangan stroke iskemik dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah pada daerah posterior otak. Perokok berat mempunyai risiko terkena stroke dua kali lipat. Risiko terkena stroke akan berkurang jika telah berhenti merokok selama lima tahun dibandingkan dengan terus merokok. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 dari 10 kasus stroke berhubungan dengan merokok dan terdapat 36,3% penduduk usia > 15 tahun yang merokok , perempuan usia >10 tahun (1,9%) (Kemenskes Republik Indonesia, 2017). Stres Stres dapat mengakibatkan hati memproduksi radikal bebas lebih banyak dan mempengaruhi system imunitas tubuh secara umum sehingga mengganggu fungsi hormonal. Stres yang berujung pada depresi dapat menjadi salah satu factor terjadinya stroke. Bagaimana depresi dapat meningkatkan stroke, sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas. Mekanisme yang mungkin adalah stres dan depresi menyebabkan peningkatan tekanan darah yang berarti juga meningkatkan risiko stres.Konsumsi Alkohol dan Obat – Obatan TerlarangObat – Obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 juta kasus stroke berhubungan dengan konsumsi alkohol berlebihan dan sekitar 4,6% penduduk > 10 tahun minum – minuman beralkohol (Kemenskes Republik Indonesia, 2017).GEJALA KLINIS STROKEGejala awal stroke sering tidak diketahui oleh penderitanya. Stroke sering muncul secara tiba – tiba, serta berlangsung cepat dan langsung menyebabkan penderita tidak sadar diri. Karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala awal terjadinya stroke. Berikut beberapa gejala awal terjadinya stroke :Nyeri kepala disertai penurunan kesadaran, bahkan bisa mengalami koma (perdarahan otak).Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Mendadak seluruh badan lemas dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop attack) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop). Gangguan penglihatan (mata kabur) pada satu atau dua mata. Gangguan keseimbangan berupa vertigo dan sempoyongan (ataksia). Rasa baal pada wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi. Kelemahan atau kelumpuhan wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi.Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara (afasia).Gangguan daya ingat atau memori baru (amnesia). Gangguan menelan cairan atau makanan padat (disfagia).Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala stroke terbagi menjadi tiga, sebagai berikut :Bagian system saraf pusat, yaitu kelemahan otot (hemiplegia), kaku, dan menurunnya fungsi sensorik.Batang otak, yang terdapat 12 saraf kranial. Gejalanya yaitu lidah melemah; kemampuan membau, mengecap, mendengar, melihat secara parsial atau keseluruhan menjadi menurun; serta kemampuan reflex, ekspresi wajah, pernafasan, dan detak jantung menjadi terganggu. Cerebral cortex. Cerebral cortex merupakan permukaan luar cerebrum, apabila Cerebral cortex ini mengalami gangguan akan menyebabkan tidak bisa berbicara (afasia), kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan – gerakan yang bertujuan (apraksia), daya ingat menurun, kegagalan melaksanakan sebuah fungsi sebagaian badan (hemiparese), dan kebingungan. Jika tanda – tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), yang merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Keadaan ini sangat menguntungkan karena penderita bisa sembuh 100%.Namun, penderita harus tetap waspada terhadap gejala – gejala stroke yang mungkin timbul (Agromedia, 2009).Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia gejala dan tanda – tanda stroke adalah dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yang terdiri dari :Se, Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba – tiba Ge, Gerak separuh anggota tubuh melemah secara tiba – tibaRa, Bicara pelo / tiba – tiba tidak dapat bicara / tidak mengerti kata – kata / bicara tidak nyambung Ke, Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuhR, Rabun, pandangan satu mata kabur terjadi secara tiba – tibaS, Sakit kepala hebat yang muncul tiba – tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.PEMERIKSAAN PENUNJANG STROKEPemeriksaan penunjang dilakukan untuk memastikan jenis serangan stroke, letak sumbatan atau penyempitan pembuluh darah, letak perdarahan, serta luas jaringan otak yang mengalami kerusakan (Indarwati , Sari, & Dewi, 2008)CT-Scan Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infarkPemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) Pemeriksaan MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark atau hemoragik (Oktavianus, 2014). MRI mempunyai banyak keunggulan dibanding CT dalam mengevaluasi stroke, MRI lebih sensitif dalam mendeteksi infark, terutama yang berlokasi di batang otak dan serebelum Pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA) Merupakan metode non-infasif yang memperlihatkan arteri karotis dan sirkulasi serebral serta dapat menunjukan adanya oklusi(Hartono, 2010) Pemeriksaan ultrasonografi karotis dan dopler transkranial Mengukur aliran darah serebral dan mendeteksi penurunan aliran darah stenosis di dalam arteri karotis dan arteri vetebrobasilaris selain menunjukan luasnya sirkulasi kolateral. Kedua pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengkaji perburukkan penyakit vaskular dan mengevaluasi efek terapi yang ditimbulkan pada vasospasme, seperti yang terjadi pada perdarahan subaraknoid. Angiografi serebral merupakan prosedur invasif yang menggunakan media kontras untuk menunjukan pembuluh darah serebral, kepatenan, dan lokasi stenosis, oklusi atau aneurisma. Pemeriksaan aliran darah serebral membantu menentukan derajat vasopasme Pemeriksaan lumbal pungsi Pemeriksaan fungsi lumbal menunjukkan adanya tekanan. Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA, sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranialPemeriksaan EKG Dapat membantu mengidentifikasi penyebab kardiak jika stroke emboli dicurigai terjadi (Hartono, 2010) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal, kadar glukosa, lipid, kolestrol, dan trigliserida dilakukan untuk membantu menegakan diagnoseEEG (Electro Enchepalografi) Mengidentifikasi masalah di dasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifikAngiografi serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obtruksi arteri, oklusi/rupturSinar X tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada perdarahan sub arachnoid.Pemeriksaan foto thorax Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari masa yang meluas.PENCEGAHAN PENYAKIT STROKEPencegahan stroke bertujuan untuk mengendalikan angka kematian akibat stroke dan kejadian stroke, memperkecil kemungkinan disabilitas akibat stroke serta mencegah terjadinya stroke berulang. Bentuk – bentuk upaya pencegahan stroke yang dapat dilakukan:Pencegahan Primer. Pencegahan Primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang sehat atau kelompok berisiko yang belum terkena stroke untuk mencegah kemungkinan terjadinya serangan stroke yang pertama, dengan mengendalikan faktor risiko dan mendeteksi diri serangan stroke. Hal ini dapat dilakukan dengan:     1) Peningkatan aktivitas fisik     2) Penyediaan pangan sehat & percepatan perbaikan gizi     3) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit     4) Peningkatan kualitas lingkungan     5) Peningkatan edukasi hidup sehat     6) Peningkatan perilaku hidup sehat, yang diimplementasikan dalam perilaku “CERDIK” yaitu : C ; Cek kesehatan secara berkala,            E ; Enyahkan asap rokok, R ; Rajin aktivitas fisik, D ; Diet sehat dengan gizi seimbang, I ; Istirahat yang cukup, K ; Kelola stressPencegahan Sekunder Pencegahan Sekunder adalah pencegahan yang dilakukan pada orang yang sudah mengalami serangan stroke, agar tidak terjadi serangan stroke berulang yaitu dengan penambahan obat pengencer darah seperti aspirin. Disamping pengendalian faktor risiko lainnya, individu pasca stroke tetap secara rutin dan teratur mengontrol faktor risiko (P2PTM Kemenkes RI, 2018).PENULIS: Tri Miranda PrasastiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Agromedia, R. (2009). Solusi Sehat Mengatasi Stroke (1st ed.)Kemenskes Republik Indonesia. (2017). Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Stroke di Indonesia. Farida, I., & Amalia, N. (2009). mengantisipasi stroke : petunjuk mudah, lengkap, dan praktis sehari-hari. Yogjakarta: Buku Biru.Hartono, A. (2010). Patofisiologi : Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Indarwati , L., Sari, W., & Dewi, C. S. (2008). Care Yourself, Stroke. Penebar Plus: Depok
Answer All Your Needs
Answer to all your needs is here!Tes gen yang dapat digunakan untuk:Mendeteksi penyakit (saat belum menunjukkan gejala)Mencegah penyakit (faktor keturunan)Mengobati secara tepat untuk setiap penyakitMerancang gaya hidup sehat yang disesuaikan dengan setiap individuMENGAPA harus skrining gen?Hemat BiayaHemat WaktuPengobatan tepatMetode diet yang dipersonalisasikan sesuai landasan profesionalGaya hidup lebih sehatGRANOMIC : Granostic Genomic ServicePelayanan tes genetika dengan hasil tercepat!Dikerjakan oleh PROFESIONALLayanan pemeriksaan LENGKAPHasil sangat AKURATDengan metode yang NYAMANGranomic - Answer All Your Needs
DIET Seimbang yang BAIK | Health Podcast
Bagaimana fenomena “Remaja Jompo” ini menyebabkan penyakit-penyakit metabolik?    Gangguan metabolik adalah suatu kejadian yang terjadi karena proses metabolisme yang gagal dan menyebabkan tubuh memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit zat yang penting agar tetap sehat. Dengan begitu, beberapa penyakit dapat terjadi ketika beberapa zat penting tersebut kurang atau lebih.Terdapat multi-faktor yang memengaruhi terjadinya Gangguan Metabolik dalam isi podcast kali ini, yaitu:Orang-orang dengan orangtua yang memiliki riwayat, lebih rentan mengalami gejala metabolik lebih tinggi, apalagi ketika mereka termasuk dari “Remaja Jompo”. Tidak ada aktivitas rutin hingga pola makan yang tidak dijaga akan menyebabkan penumpukan kalori dan lemak. Jika dibiarkan kalori dan lemak yang sudah menumpuk akan menyumbat pembuluh darah.Apakah kita harus tetap memperhatikan 4 Sehat 5 Sempurna? Apakah harus seperti itu? Atau ada makanan tertentu yang harus kita hindari?    4 Sehat 5 Sempurna memiliki semua nutrisi baik makro maupun mikronutrien memang dibutuhkan. Namun, apakah dari 4 Sehat 5 Sempurna termasuk ke dalam makanan yang higienis dan bersih dalam pengolahannya? Lantas komposisi di dalamnya seperti apa? Apakah sudah seimbang dengan kegiatan sehari-hari, di mana tubuh membutuhkan semua nutrisi dari sana.    Yuk, simak podcast dalam tema "Remaja Jompo" bersama dr. Aji Wibowo di Youtube Granostic, serta ikuti podcast-podcast bermanfaat lainnya.
RUBELLA
    Rubella adalah penyakit akut dan mudah menular Ini sering menginfeksi anak-anak dan dewasa muda yang rentan. Penyakit Ini memiliki gejala klinis ringan dan 50% tidak menunjukkan gejala. Infeksi rubella pada Wanita hamil dapat mengalami keguguran atau kecacatan Lahir permanen atau dikenal sebagai bayi dengan Sindrom rubella kongenital (CRS). akibat yang ditimbulkan oleh rubella adalah cacat seumur hidup yang harus ditanggung oleh penderita, keluarga, bahkan bangsa dan negara.(WHO Weekly Epidemiological Record, No. 29, 2011, 301-316)Epidemiologi Penyakit Rubela    Angka penemuan kasus dan kematian karena campak dan rubela di Indonesia pada tahun 2014-2018 yang dilaporkan adalah 14.192 positif rubela. kurang lebih 77% penderita merupakan anak usia di bawah 15 tahun. (Kemenkes, 2019)Patogenesis dan Penularan RubelaPenyebab Rubella Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh togaviridae Jenis rub virus yang termasuk golongan virus RNA. Virus rubela cepat mati oleh sinar ultra violet, bahan kimia, bahan asam dan pemanasan. Virus rubela dapat menembus sawar placenta dan menginfeksi janin.Akibat hal tersebut dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin, antara lain: abortus, lahir mati atau cacat berat kongenital (birth defects) yang dikenal sebagai penyakit Congenital Rubella Syndrome (CRS). Rubella juga dapat ditularkan melalui droplet saluran pernapasan saat batuk atau bersin. Virus dapat berkembang biak di nasofaring dan kelenjar getah bening regional. Dengan percikan cairan seperti air liur atau keringat orang lain.Masa Inkubasi Penyakit Rubella Masa inkubasi penyakit rubela berkisar antara 14–21 hari.GejalaGejala penyakit rubela ditandai dengan:Demam ringan (37,2°C) dan bercak merah/rash/ruam makulopapuler (sering terjadi pada ana-anak) Pembesaran kelenjar getah bening (limfe) di belakang telinga, leher belakang dan sub occipital.Rubela pada wanita dewasa sering menimbulkan arthritis atau arthralgia.Dampak Infeksi RubelaDampak infeksi rubela pada wanita hamil, terutama pada kehamilan trimester pertama, dapat mengakibatkan abortus, lahir mati atau bayi lahir dengan CRSBentuk kelainan pada CRS:Kelainan jantung: Patent Ductus Arteriosus (PDA), Defek Septum Atrial/Atrial Septal Defect (ASD), Defek Septum Ventrikel/Ventricular Septal Defect (VSD), Stenosis Katup Pulmonal/Pulmonary Stenosis (PS)Kelainan pada mata: Katarak Kongenital, Glaukoma Kongenital, Pigmentary Retinopathy; Kelainan pendengaran: Tuli Sensouri Neural/ Sensouri Neural Hearing Loss (SNHL)Kelainan pada sistim saraf pusat: retardasi mental, mikrocephalia dan meningoensefalitis; Kelainan lain: purpura, splenomegali, ikterik yang muncul dalam 24 jam setelah lahir, radioluscent bone, serta gangguan pertumbuhanPemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menunjang diagnosis infeksi virus rubella dan untuk status imunologis. Karena prosedur isolasi virus sangat lama dan mahal serta respon antibodi inang sangat cepat dan spesifik maka pemeriksaan serologis lebih sering dilakukan. Bahan pemeriksaan untuk menentukan adanya infeksi virus rubella dapat diambil dari apusan (swab) tenggorok, darah, urin dan lain-lain. Berikut tabel yang memuat jenis pemeriksaan dan spesimen yang digunakan untuk menentukan infeksi virus rubella.Secara garis besar, pemeriksaan laboratorik untuk menentukan infeksi virus rubella dibagi menjadi 3 yaitu:Isolasi VirusVirus rubella dapat diisolasi dari sekret hidung, darah, apusan tenggorok, urin, dan cairan serebrospinalis penderita rubella. Virus juga dapat diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu setelah munculnya ruam. Meskipun metode isolasi ini merupakan diagnosis pasti untuk menentukan infeksi rubella, metode ini jarang dilakukan Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 karena prosedur pemeriksaan yang rumit. Hal ini menyebabkan metode isolasi virus bukan sebagai metode diagnostik rutin. Untuk isolasi secara primer spesimen klinis, sering menggunakan kultur sel yaitu Vero; African green monkey kidney (AGMK) atau dengan RK-13. Virus rubella dapat ditemui dengan adanya Cytophatic effects (CPE).Pemeriksaan SerologiPemeriksaan serologis digunakan untuk mendiagnosis infeksi virus rubella kongenital dan pascanatal (sering dikerjakan di anak-anak dan orang dewasa muda) dan untuk menentukan status imunologik terhadap rubella. Pemeriksaan terhadap wanita hamil yang pernah bersentuhan dengan penderita rubella, memerlukan upaya diagnosis serologis secara tepat dan teliti. Jika penderita memperlihatkan gejala klinis yang semakin memberat, maka harus segera dikerjakan pemeriksaan imunoasai enzim (ELISA) terhadap serum penderita untuk menetukan adanya IgM spesifik-rubella, yang dapat dipastikan dengan memeriksa dengan cara yang sama setelah 5 hari kemudian. Penderita tanpa gejala klinis tetapi terdiagnosis secara serologis merupakan sebuah masalah khusus. Mereka mungkin sedang mengalami infeksi primer atau re-infeksi karena telah mendapatkan vaksinasi dan memiliki antibodi. Pengukuran kadar IgG rubella dengan ELISA juga dapat membantu membedakan infeksi primer dan re-infeksi. Secara spesifik, ada 5 tujuan pemeriksaan serologis rubella, yaitu:Membantu menetapkan diagnosis rubella kongenital. Dalam hal ini dilakukan imunoasai IgM terhadap rubellaMembantu menetapkan diagnosis rubella akut pada penderita yang dicurigai. Untuk itu perlu dilakukan imunoasai IgM terhadap penderitaMemeriksa ibu dengan anamnesis ruam “rubellaform” di masa lalu, sebelum dan pada awal kehamilan. Sebab ruam kulit semacam ini, dapat disebabkan oleh berbagai macam virus yang lainMemantau ibu hamil yang dicurigai terinfeksi rubella selama kehamilan sebab seringkali ibu tersebut pada awal kehamilannya terpajan virus rubella (misalnya di BKIA dan Puskesmas)Mengetahui derajat imunitas seseorang pascavaksinasi. Adanya antibodi IgG rubella dalam serum penderita menunjukkan bahwa penderita tersebut pernah terinfeksi virus dan mungkin memiliki kekebalan terhadap virus rubella. Penafsiran hasil IgM dan IgG ELISA untuk rubella sebagai uji saring untuk Jurnal Averrous Vol.4 No.1 2018 kehamilan adalah sebagai berikut: sebelum kehamilan, bila positif ada perlindungan (proteksi) dan bila negatif berarti tidak diberikan, kehamilan muda (trimester pertama).Kadar IgG ≥15 IU/ml, umumnya dianggap dapat melindungi janin terhadap rubella. Setelah vaksinasi; bila positif berarti ada perlindungan dan bila negatif berarti tidak ada.Pemeriksaan RNA VirusJenis pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengenali RNA virus rubella antara lainPolymerase Chain Reaction (PCR): PCR merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk menemukan RNA virus. Di Inggris, PCR digunakan sebagai metode evaluasi rutin untuk menemukan virus rubella dalam spesimen klinis. Penemuan RNA rubella dalam cairan amnion menggunakan RT-PCR mempunyai sensitivitas 87–100%. Amniosintesis seharusnya dilakukan kurang dari 8 minggu setelah onset infeksi dan setelah 15 minggu konsepsi. Uji RT-PCR menggunakan sampel air liur merupakan alternatif pengganti serum yang sering digunakan untuk kepentingan pengawasan (surveillance).Reverse Transcription-Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP) RT- LAMP adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mengenali RNA virus rubella. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan sensitivitas antara pemeriksaan RT-LAMP, RT-PCR dan isolasi virus yang dilakukan di Jepang, ternyata didapatkan hasil 77,8% untuk RT-LAMP, 66,7% untuk RT-PCR dan 33,3% untuk isolasi virus. Pemeriksaan RT-LAMP mirip dengan pemeriksaan RT-PCR tetapi hasil pemeriksaan di RT-LAMP dapat diketahui dengan melihat tingkat kekeruhan (turbidity) setelah dilakukan inkubasi di alat turbidimeter.Pencegahan Tindakan pencegahan terbaik adalah vaksinasi sesuai dengan jadwal vaksinasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Vaksinasi MMR pertama berusia 15 bulan dan yang kedua berusia 5 tahun. Vaksinasi juga dapat diberikan sebelum bepergian ke daerah endemis rubella dan setidaknya satu bulan sebelum kehamilan.Rubella dapat dicegah dengan mempraktikkan kebiasaan berikut:Menjaga kebersihan diri, yaitu mandi secara teratur dan mencuci tangan dengan sabun. Hindari kontak dengan penderita rubella. Isolasi penderita rubella di ruangan terpisah dari keluarga mereka.PENULIS: Vicky Nur FadilaEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Medicalnewstoday. Diakses pada 2022. Rubella (German measles)Pedoman. Campak & Rubella 2022Fitriany, Julia dan Husna, Yulia. 2018. Sindrom Rubella Kongenital. Bagian ilmu Kesehatan anak, Universitas Malikussaleh: Lhokseumawe
PAKET PERAWATAN LUKA
Paket pemeriksaan dan perawatan luka, menangani : Luka Akut dan Kronis Luka Bakar Luka Kecelakaan Luka Akibat PenyakitBEST DEAL, TERSEDIA DALAM 3 PAKET : PAKET 1x : Rp. 990.000PAKET 3x : Rp. 2.180.000PAKET 6x : Rp. 3.480.000PAKET PEMERIKSAAN MELIPUTI : 1. Cek Laboratorium : Gula Darah Puasa, HbA1C*, Darah Lengkap**2. Perawatan luka oleh tenaga profesional 3. FREE konsultasi dan pemantauan oleh dokter 4. Harga spesial untuk telekonsultasi dengan dokter spesialis PAKET PERAWATAN HANYA BERLAKU 2 BULAN SEJAK PEMERIKSAAN AWAL *Pemeriksaan HbA1C hanya dilakukan di awal pemeriksaan **Pemeriksaan Darah Lengkap dilakukan 2x, di awal dan di akhir pemeriksaan ***Harga tertera belum termasuk biaya telekonsultasi dengan dokter spesialisKLIK DISINI UNTUK PESAN DAN INFORMASI LAINNYA 
Paket Pemeriksaan Penyakit : Kolesterol
Paket pemeriksaan kolesterol berguna untuk screening dan monitoring kadar lemak dalam tubuh. Meskipun lemak merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh, tetapi masih perlu untuk dipantau dan dicek secara berkala agar tidak memberikan dampak buruk bagi tubuh. Pemeriksaan dalam paket, meliputi : 1. Darah Lengkap 2. Kolesterol Total 3. HDL 4. LDL 5. Konsultasi dokter umum 6. Pemeriksaan tekanan darah KLIK DISINI UNTUK PESAN DAN INFORMASI LAINNYA
Paket Pemeriksaan Penyakit : Diabetes
Diabetes adalah penyakit banyak terjadi di Indonesia, dan sering juga disebut sebagai penyakit kencing manis dan penyakit gula. Penyakit ini terjadi karena hormon insulin pada tubuh manusia tidak bisa bekerja dengan maksimal. Penyakit diabetes dapat mengarah pada komplikasi lainnya jika tidak ditangani dengan baikPaket ini dapat digunakan untuk screening dan monitoring penyakit diabetes yang dideritaPaket meliputi : 1. Gula Darah Puasa 2. Glukosa Darah 2JPP3. HbA1C4. Konsultasi dengan dokter umum 5. Pemeriksaan tekanan darah KLIK DISINI UNTUK PEMESANAN DAN INFORMASI LAINNYA
LEPTOSPIROSIS
    Leptospirosis pada manusia pertama kali ditemukan oleh Van der Scheer pada tahun 1892 di Indonesia, namun isolasi baru dapat dilakukan pada tahun 1922 oleh Vervoort. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan saat ini leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena belum dapat dikendalikan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, selama tahun 2014 – 2016 terdapat tujuh provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten dan Kalimantan Selatan.    Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis menular yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Kejadian leptospirosis biasanya dihubungkan dengan bencana banjir, air pasang di daerah pantai, daerah rawa atau lahan gambut.EPIDEMIOLOGI    Leptospirosis tersebar luas di negara-negara yang beriklim tropis termasuk Indonesia. Kondisi lingkungan di wilayah tropis sangat mendukung penyebaran bakteri Leptospira, karena bakteri ini cocok hidup pada lingkungan dengan temperatur hangat, pH air dan tanah netral, kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Terlebih jika kondisi lingkungan dalam keadaan yang buruk yang mendukung perkembangan dan lama hidup bakteri. Di wilayah Asia Pasifik leptospirosis dikategorikan sebagai penyakit yang ditularkan melalui media air (water borne disease), terlebih air yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi jika ada kontak antara manusia dengan hewan atau lingkungan yang sudah terinfeksi bakteri Leptospira. Manifestasi leptospirosis ini beragam mulai dari gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. Sedangkan hewan yang terinfeksi oleh leptospira belum tentu tampak dalam kondisi sakit, karena bakteri ini bersifat komensal pada beberapa jenis hewan termasuk tikus yang dikenal sebagai reservoir leptospirosis di Indonesia. Secara alamiah leptospirosis terjadi karena adanya interaksi yang sangat kompleks dan beragam antara agent (pembawa penyakit), host (tuan tumah/pejamu) dan environment (lingkungan).Agent (Pembawa Penyakit)     Agent atau pembawa penyakit adalah mikroorganisme infeksius atau patogen. Pembawa leptospirosis adalah bakteri berbentuk spiral berpilin yang masuk dalam genus Leptospira. Bakteri ini bersifat komensal pada hewan dan secara alamiah memang berada di tubulus ginjal dan saluran kelamin hewan tertentu.    Bakteri Leptospira memiliki dua lapis membran, berbentuk spiral, lentur, tipis dengan tebal 0,1 µm dan panjang 10-20 µm. Pada kedua ujungnya terdapat kait berupa flagelum periplasmik. Bergerak maju mundur dan memutar sepanjang sumbunya. Bakteri ini dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan dan peka terhadap asam. Dalam air laut, air selokan dan air kemih yang pekat, bakteri ini akan cepat mati. Berdasarkan strainnya, bakteri Leptospira dibedakan menjadi strain yang patogen dan non patogen. Leptospira patogen dikenal sebagai L. interrogans, sedangkan yang non-patogen dikenal sebagai L. biflexa. Bakteri Leptospira memiliki lebih dari 250 buah serovar patogen yang terbagi ke dalam 25 serogrup. Beberapa serovar yang ditemukan selama ini di Indonesia antara lain adalah serovar hardjo, tarassovi, pomona, australis, rachmati, bataviae, djasiman, icterohamorragie, hebdomadis, autumnalis, dan canicola.Host (Tuan Rumah/Pejamu)     Host atau tuan rumah adalah manusia yang dapat terserang penyakit. Penyakit Leptospira memiliki dua pejamu, yaitu binatang/mamalia dan manusia. Mamalia yang menjadi pejamu ini dikenal dengan sebutan reservoir, berupa binatang buas dan juga ternak, termasuk tikus. Di Indonesia, sumber penularan utama leptospirosis adalah tikus. Tikus yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira terkadang tampak dalam keadaan sehat, karena bakteri ini bersifat komensal terhadap binatang inangnya. Beberapa spesies tikus yang menjadi reservoir leptospirosis di Indonesia di antaranya adalah Rattus tanezumi, Rattus norvegicus, Bandicota indica, Rattus exculan, Mus musculus dan Suncus murinus.    Leptospirosis pada manusia menampakkan gejala yang bervariasi, mulai dari gejala ringan sampai dengan berat, tergantung jenis serovar yang masuk ke dalam tubuh manusia. Gejala klinis leptospirosis setelah masa inkubasi berupa demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk, rasa tidak nyaman di badan, muntah, nyeri pada perut, diare, sufusi konjungtiva, jaundice, urin berwarna seperti teh, oliguria, anuria, batuk berdarah, perdarahan pada kulit, pusing dan lesu. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan beberapa organ berupa kegagalan hati akut, kegagalan ginjal akut, perdarahan pada paru-paru, miokarditis dan meningoencephalitis yang berakhir pada kematian. Leptospirosis sebagian besar menyerang laki-laki pada usia produktif, bekerja di luar rumah, memiliki kontak dengan tikus dan juga air yang terkontaminasi dengan bakteri Leptospira.LINGKUNGAN    Lingkungan adalah faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi pembawa penyakit dan memberikan kesempatan pada pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit, termasuk faktor fisik, biologi dan sosial ekonomi.    Penyakit leptospirosis ini biasanya terjadi pada wilayah tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi, udara yang hangat dan lembab serta biasanya terjadi setelah banjir berlangsung. Biasanya setelah banjir berakhir, manusia dan binatang akan terpapar oleh air maupun tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan dengan genangan air di sekitar rumah berhubungan dengan kejadian leptospirosis, selain itu, rumah dengan dinding dapur bukan dari tembok, tidak ada langit-langit di rumah, tempat sampah terbuka, kondisi rumah yang tidak rapi juga berhubungan dengan kejadian leptospirosis dan daerah yang rawan banjir.    Manusia dan binatang dapat terinfeksi oleh bakteri ini melalui kontak antara kulit atau mukosa dengan air maupun tanah yang mengandung urin binatang yang terinfeksi oleh bakteri ini. Infeksi juga dapat terjadi jika manusia mengkonsumsi air ataupun makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang ada di kulit, membran mukosa (hidung, mulut dan mata), atau bahkan melalui air minum. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri ini berada di dalam darah dan menyerang jaringan dan organ tubuh.DIAGNOSIS    Diagnosis leptospirosis dapat dilakukan baik pada hewan maupun manusia. Pada hewan diagnosis dilakukan pada ginjal dan limpa, sedangkan pada manusia diagnosis dilakukan pada serum, plasma darah, urin dan cairan serebrospinal. Diagnosis laboratorium leptospirosis melibatkan dua kelompok pengujian. Kelompok pertama didesain untuk mendeteksi antibodi anti-leptospira, sedangkan kelompok kedua untuk mendeteksi Leptospira, antigen Leptospira atau asam nukleat Leptospira pada cairan tubuh maupun jaringan.    Kultur dan Microscopic Agglutination Test (MAT) adalah standar emas untuk diagnosis laboratorium dan yang paling banyak digunakan. Beberapa cara skrining cepat penegakan diagnosis leptospirosis telah dikembangkan, di antaranya Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), uji aglutinasi lateks, uji aliran lateral dan dipstik IgM, tapi sayangnya sensitivitas alat tersebut masih sangat rendah terutama pada saat fase akut. Selain MAT, alat diagnosis yang digunakan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR) yang terbukti berguna untuk mendiagnosis leptospirosis lebih awal sebelum dimulainya produksi antibodi, sayangnya biaya operasional PCR ini sangat mahal, sehingga dirasa kurang efisien.    Diagnosis kasus leptospirosis pada manusia dapat dilakukan pada saat masa akut, transisi dari masa akut ke masa imun dan fase imun. Pada masa akut diagnosis dilakukan dengan mengkultur bakteri Leptospira dari darah, urin dan cairan serebrospinal; selain itu diagnosis dilakukan melalui PCR. Saat masa transisi dari fase akut ke fase imun diagnosis dilakukan melalui uji ELISA IgM dan dipstik. Pada saat fase imun diagnosis dilakukan melalui uji MAT, yang merupakan standar emas penegakan diagnosis leptospirosis berdasarkan rekomendasi dari WHO.PENGOBATAN    Pengobatan leptospirosis tergantung pada tingkat keparahannya. Bagi penderita leptosiprosis ringan pengobatannya berupa tablet doksisiklin dengan dosis 100 mg diminum dua kali sehari selama tujuh hari. Bagi penderita leptospirosis sedang dan/atau berat pengobatannya berupa penicilin G intravena dengan dosis 1,5 MU setiap enam jam selama tujuh hari. Jika terjadi gagal ginjal perlu dilakukan hemodialisa dan perlu dilakukan ventilasi pernafasan mekanis jika terjadi perdarahan pada paru-paru. Bagi orang yang memiliki risiko tinggi terkena leptospirosis, maka perlu diberikan doksisiklin oral sebagai profilaksis sebesar 200 mg per minggu selama terpapar risiko.PENCEGAHAN     Berdasarkan saran WHO, upaya pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu pada hewan sebagai sumber infeksi, jalur penularan dan manusia. Pada hewan sebagai sumber infeksi, pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin kepada hewan yang berpotensi tertular leptospirosis. Selain itu kebersihan kandang hewan peliharaan juga perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya leptospirosis pada hewan. Pada jalur penularan, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memutus jalur penularan.    Jalur penularan adalah lingkungan yang bisa menjadi tempat berkembang biak dan hidup bakteri Leptospira. Lingkungan dengan kondisi sanitasi yang buruk menjadi faktor risiko terjadinya leptospirosis. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus, termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah yang benar sehingga tidak menjadi sarang tikus.    Pada manusia, pencegahan yang bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan individu setelah beraktivitas di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis; pendidikan kesehatan untuk menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis; menjaga kebersihan kandang hewan peliharaan; membersihkan habitat sarang tikus; pemberantasan hewan pengerat bila kondisi memungkinkan dan pemberian kaporit atau sodium hipoklorit pada air tampungan yang akan digunakan oleh masyarakat. Selain itu perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini, terlebih bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi dan juga penyedia pelayanan kesehatan.PENULIS: Achmad Priyas Budi Santoso, A.md. KesEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011. 1-97 p.Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016. Jakarta; 2017.  Raharjo J, Hadisaputro S, Winarto. Faktor Risiko Host pada Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Demak. Balaba. 2015;11(2):105–10. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Terintegrasi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Tular Vektor Dan Reservoir di Jawa Tengah. Salatiga; 2014.Dll
Paket Pemeriksaan Penyakit Hipertensi
Penyakit hipertensi disebut juga sebagai 'silent killer disease', hal ini karena kebanyakan pasien hipertensi tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit ini sehingga penanganan penyakit ini terlambat dilakukan. Paket ini dapat digunakan untuk screening hepatitis maupun monitoring penyakitnya. Paket berisi : 1. HbA1C2. LDL3. Trigliserida 4. Ureum 5. Kreatinin 6. Asam Urat 7. Urine Lengkap 8. Kalium 9. Natrium 10. Kalsium 11. Klorida 12. EKG 13. Konsultasi dokter umum 14. Pemeriksaan tekanan darah KLIK DISINI UNTUK PESAN DAN INFORMASI LEBIH LANJUT
Diet Seimbang Untuk Gaya Hidup Sehat
Setelah membahas tentang fenomena remaja jompo yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik dan berlangsung lama, dr Aji menjelaskan tentang diet seimbang yang baik untuk memperbaiki gaya hidup, melalui Granostic Health Podcast ep. 2. Diet seimbang yang baik untuk tubuh harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing. Tidak hanya memerhatikan porsi makan, tetapi juga harus memerhatikan jenis makanan apa saja yang ada dalam satu porsi makan. Dr. Aji menyampaikan bahwa sebaiknya, pada 1 piring makan harus terisi dengan 1/3 karbohidrat, 1/3 lemak, dan 1/3 protein. Selain itu pemilihan jenis  makanan juga harus diperhatikan. Misalnya karbohidrat, sebisa mungkin memilih karbohidrat kompleks yang tidak mudah dicerna oleh tubuh, sehingga dapat kenyang lebih lama. Selanjutnya adalah lemak, pemilihan lemak juga harus diperhatikan, hal ini karena lemak yang kurang baik untuk tubuh akan menyumbat pembuluh-pembuluh darah dan dapat menyebabkan penyakit-penyakit lainnya. Maka dari itu lemak yang dipilih untuk dikonsumsi haruslah lemak tak jenuh, seperti lemak dari tumbuh-tumbuhan. 1/3 porsi berikutnya adalah protein. Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mengabaikan porsi protein dalam makanan sehari-harinya. Protein merupakan salah satu nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas dan membangun otot sehingga tubuh lebih berenergi. Pemilihan protein tidak harus dari suplemen atau vitamin, cukup dengan mengonsumsi kacang-kacangan, daging ayam, sapi maupun ikan. Tidak hanya nutrisi berupa karbohidrat, lemak dan protein, kebutuhan vitamin dan mineral juga harus diperhatikan. Meskipun perhitungannya tidak sekompleks nutrisi utama, vitamin dan mineral tidak dapat disepelekan. Vitamin dan mineral dapat dengan mudah didapatkan melalui buah dan sayur. Yang tidak kalah penting adalah variasi menu makanan setiap hari. Selain dapat menyebabkan kebosanan, mengonsumsi makanan yang tidak bervariasi dapat menyebabkan gizi yang masuk dalam tubuh tidak seimbang. Maka variasi makanan diperlukan untuk mencegah hal tersebut. SIMAK INFORMASI LENGKAPNYA DI CHANNEL YOUTUBE GRANOSTIC CENTER, ATAU KLIK LINK DI BAWAH INI : Granostic Health Podcast Ep.2 : Diet Seimbang
Sleep Hygiene untuk meningkatkan produktivitas
Istilah 'tidur produktif' merujuk pada kondisi di mana manusia beristirahat untuk meningkatkan produktivitas. Pada praktiknya metode tidur ini memperhatikan beberapa hal yang dapat mendukung tidur manusia lebih berkualitas. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah jam tidur. Untuk orang dewasa, jam tidur yang dibutuhkan tubuh adalah 6-8 jam dalam sehari, dan waktu tidur yang baik adalah di saat malam hari, yaitu pukul 10-5 pagi. Waktu tidur juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena hal ini berhubungan dengan jam kerja organ-organ dalam tubuh kita. Beberapa organ akan menurunkan kinerjanya di jam-jam tertentu, dan hal ini akan sangat baik jika didukung dengan mengurangi aktivitas tubuh. Setelah itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah sleep hygiene, yaitu kondisi tempat sobat beristirahat yang harus bebas dari gangguan. Di antaranya adalah gangguan kebisingan dan gangguan pencahayaan. Hal-hal ini akan membantu manusia untuk tidur dengan lebih berkualitas, yaitu tidur dengan nyenyak dan tubuh dapat beristirahat dengan maksimal, sehingga akan mendorong produktivitas kerja saat siang hari. Simak informasi lengkapnya di instagram Granostic Center, atau klik link di bawah ini : Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 1Granostic Health Info : Sleep Hygiene pt. 2
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message