Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Kabar Terbaru Granostic Diagnostic Center

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Granostic Center dan Naleya Genomik Indonesia
Pada hari ini Granostic Center, yang diwakili oleh Bapak Arditya Irawan, S.T, menandatangani perjanjian kerjasama dengan Naleya Genomik Indonesia untuk memperkuat layanan pemeriksaan genomik Indonesia. Proses penandatanganan perjanjian ini disaksikan oleh Bapak Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan Republik Indonesia.Perjanjian ini menjadi penanda kemajuan dalam industri kesehatan Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan kondisi kesehatan di IndonesiaTerima kasih atas dukungan semua pihak dan nantikan inovasi kesehatan lain dari Granostic Center
Myoma Uteri
PengertianMioma uteri merupakan tumor jinak yang berasal dari otot polos rahim. Tumor ini sering juga disebut sebagai fibroid atau leiomioma. Penyebab sel tumor ini dapat terbentuk karena adanya mutasi genetik, kemudian berkembang akibat induksi hormon estrogen dan progesterone. Leiomioma uteri merupakan jenis tumor jinak yang dapat menyerang segala rentan usia. Dari epidemiologi menunjukkan bahwa 70% kasus dapat terjadi pada usia 50 tahun, di mana 30-40% kasus pada masa perimenopause dan 20-25% kasus pada wanita usia reproduksi. Jumlah dan ukuran mioma sangat bervariasi, terkadang dapat ditemukan satu atau juga lebih dari satu untuk mioma yang tumbuh di tubuh kita. Mioma mampu tumbuh di bagian dinding luar rahim, pada otot rahim, atau bisa juga di bagian dinding dalam rahim sendiri. Ini jenis tumor yang lebih banyak ditemukan. Rata-rata pada wanita di atas usia 30 tahun. Mioma dapat diklasifikasikan atas beberapa tipe antara lain:Tipe 0 - Merupakan pedunculated intracavitary myoma yaitu tumor berada di submukosa dan sebagian dalam rongga rahim.Tipe 1 - Merupakan tipe submukosa dengan < 50% bagian tumor berada di intramural.Tipe 2 - Merupakan tipe tumor menyerang ≥ 50% intramural.Tipe 3 - Merupakan tipe tumor dengan seluruh bagian tumor berada dalam dinding uterus yang berdekatan dengan endometrium.Tipe 4 - Tipe tumor intramural yang lokasinya berada dalam miometrium.Tipe 5 - Tipe serosa dengan ≥ 50% bagian tumor berada pada intramural.Tipe 6 - Jenis subserosa yang mengenai < 50% intramural.Tipe 7 - Tipe pedunculated subserous.Tipe 8 - Kategori lain ditandai dengan pertumbuhan jaringan di luar miometrium yang disebut cervicalparasitic lesion.Mioma intramural merupakan jenis yang paling banyak, sedangkan mioma submukosa merupakan mioma paling jarang ditemukan kasusnya. PenyebabPenyebab pasti mioma belum diketahui secara pasti. Mioma jarang sekali ditemukan pada remaja sebelum pubertas. Karena mioma sangat dipengaruhi oleh hormon reproduksi dan hanya manifestasi selama usia reproduktif (Anwar dkk, 2011). Tetapi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor pada mioma, di samping faktor predisposisi genetik :EstrogenMioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hidroxydesidrogenase mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak dari pada miometrium normal. ProgesteronProgesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.Hormon pertumbuhan (growth hormone)Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa, yaitu HPL (Human Placenta Lactogen), terlihat pada periode ini dan memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leymioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan estrogen.Faktor RisikoBeberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang mioma, antara lain:Sudah berusia lebih dari 40 tahun.Riwayat keluarga mengidap mioma.Menstruasi pertama sebelum usia 10 tahun.Belum pernah hamil sebelumnya (wanita yang sudah pernah memiliki anak cenderung lebih jarang mengalami mioma).Berat badan berlebih atau obesitas.Diet tinggi konsumsi daging merah, tetapi rendah sayuran hijau.Kebiasaan konsumsi minuman beralkohol.Kebiasaan merokok.Penggunaan alat kontrasepsi hormonal yang tinggi estrogen.Keturunan ras Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan 2,9 kali lebih tinggi dibandingkan ras Kaukasia.GejalaUmumnya, mioma tidak menimbulkan gejala yang disadari pengidapnya. Tetapi ada beberapa gejala umum yang dapat dirasakan, antara lain :Menstruasi dalam jumlah banyak.Perut terasa penuh dan membesar.Gangguan berkemih akibat ukuran mioma yang menekan saluran kemih.Keluarnya mioma melalui leher rahim yang umumnya disertai nyeri hebat, sehingga menyebabkan luka dan terjadinya infeksi sekunder.Konstipasi akibat mioma menekan bagian bawah usus besar.Nyeri panggul berkepanjangan dan tak kunjung sembuh, yang dapat dirasakan saat menstruasi, setelah berhubungan seksual, atau saat terjadi penekanan pada panggul.Penimbunan cairan di rongga perut.Komplikasi Mioma UteriMioma uteri yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi berupa:Nyeri berat atau perdarahan berat yang memerlukan tindakan pembedahan segera.Terpuntirnya mioma uteri yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah. Bila hal ini terjadi, dokter akan merencanakan operasi segera.Anemia atau kurang darah akibat perdarahan hebat.Infeksi saluran kemih.Bila tumor rahim terlalu besar, tumor rahim ini dapat menekan kandung kemih dan menyebabkan sulitnya buang air kecil.Kemandulan.Pada ibu hamil yang mengalami mioma uteri dapat menyebabkan prosesi melahirkan secara prematur akibat terdesaknya rahim oleh tumor, perdarahan hebat setelah melahirkan, keguguran, dan lain-lain.Pemeriksaan PenunjangUntuk memastikan diagnosis mioma uteri, dokter bisa melakukan beberapa langkah pemeriksaan di bawah ini:Tes laboratorium Hitung darah lengkap dan apusan darah : Leukositosis dapat disebabkan oleh nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunnya kadar hemoglobin dan hematokrit menunjukan adanya kehilangan darah yang kronik.Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin Sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang simetrik menyerupai kehamilan atau terdapat bersamaan dengan kehamilan.Ultrasonografi, apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat membantu.Pielogram intravena a. Pap smear serviks selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelum histerektomi.b. Histerosal pingogram dianjurkan bila klien menginginkan anak lagi dikemudian hari untuk mengevaluasi distorsi rongga uterus dan kelangsungan tuba falopi (Nurarif & Kusuma, 2013).PencegahanLangkah pencegahan mioma uteri tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebab kondisi ini juga belum diketahui secara pasti. Namun beberapa langkah di bawah ini diduga dapat membantu dalam mencegah mioma uteri:Menerapkan pola hidup sehat, seperti mempertahankan berat badan ideal dan memilih makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.Menggunakan kontrasepsi hormonal.PengobatanCara mengobati mioma uteri umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama Anda sudah mengalami kondisi tersebut. Pada kebanyakan kasus, mioma tidak perlu diobati jika tidak menyebabkan gejala. Seiring berjalannya waktu, mioma dapat menyusut dan menghilang setelah menopause tanpa pengobatan. Namun bila gejala mioma menetap, maka diperlukan pengobatan untuk mengatasi gejala dan mengurangi ukuran mioma uteri. Penanganan mioma uteri dapat menggunakan obat-obatan, pilihan obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi mioma uteri adalah:Asam traneksamat untuk mengatasi perdarahan yang berat.NSAID untuk meredakan nyeri.Obat-obatan hormonal yang dapat meredakan gejala terkait menstruasi atau mengecilkan ukuran mioma. Contohnya, gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonist, progestin, atau alat KB dalam rahim yang mengandung progesteron.Daftar PustakaHealthline. https://www.healthline.com/health/uterine-fibroids#outlookDiakses pada 29 September 2021Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/uterine-fibroids/symptoms-causes/syc-20354288Diakses pada 29 September 2021Web MD. Diakses pada 2019. What Are Uterine Fibroids?http://eprints.umpo.ac.id/6124/3/BAB%202.pdfRafael FV, Geraldine EE. Pathophysiology of uterine myomas and its clinical implications. New York: Springer; 2015Andrea C, Jacopo DG, Piergiorgio S, Nina M, Stefano RG, Petro L, et al. Uterine fibroids: Pathogenesis and interactions with endometrium and endomyometrial junction. Obstet Gynecol Int. 2013;2013:173184.Persatuan obstetri dan ginekologi. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 2006 .p. 129-30Maria SD, Edward MB. Uterine fibroids: Diagnosis and treatment. Am Fam Physician. 2017;95(2):100-7Alistair RW. Uterine fibroids-what’s new? Pubmed Central. 2017; 6: 2109.Radmilla S, Ljijiana M, Antonio M, Andrea T. Epidemiology of uterine myomas: A review. Internat J Fertil Steril. 2016;9(4):424-35file:///C:/Users/HP/Downloads/371-594-1-SM.pdf diakses pada tanggal 14 September 2022
Awas! Ternyata Ini Bahaya Dari Duduk Terlalu Lama!
Keberadaan ponsel mempermudah aksesibilitas dalam melakukan sesuatu. Misalnya saat seseorang mau membeli barang, ia harus keluar menuju toko atau sebagainya untuk mendapatkannya, namun dengan ponsel mereka cukup mengakses internet dan membuka toko online terkait. Dan barang pun akan diantar sampai ke rumah. Akibat dari fenomena ini mudah saja disimpulkan, mobilitas orang-orang menjadi lebih terbatas, atau singkatnya manusia semakin mager atau malas gerak.Perilaku malas ini ditunjukkan dalam bentuk duduk terlalu lama. Dengan duduk dalam waktu lama ini tanpa adanya pergerakan tubuh lain, dapat mengakibatkan gangguan pada sistem metabolisme. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari dampak negatif dari kebiasaan duduk berlama-lama.Risiko kesehatan yang timbul akibat duduk terlalu lama tidak hanya berlaku bagi mereka yang gemar bermain ponsel atau enggan bergerak. Orang yang bekerja di perkantoran yang identik dengan duduk di kursi kemudian mengetik komputer juga rentan terhadap gangguan ini.Berikut adalah ulasan mengenai dampak buruk dari duduk yang terlalu lama.1. Sakit PunggungKetika duduk, tidak hanya punggung yang menjadi tumpuan beban, tetapi juga tulang belakang dan juga leher. Terutama jika posisi duduknya tidak benar, ini dapat menyebabkan otot pada punggung dan leher menjadi tegang. Situasi ini dapat terjadi ketika seseorang duduk terlalu lama di tempat kerja, di dalam mobil, atau bahkan di rumah.Tinjauan dr. Verury Verona Handayani dari Halodoc, dalam durasi duduk yang lama, otot fleksor pinggul menjadi lebih pendek. Hal ini dapat menghambat aktivitas gluteus dan menyebabkan paha belakang menanggung beban berlebih. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kemiringan panggul anterior yang dapat memicu nyeri pada bagian bawah punggung, gangguan mekanika gerakan, bahkan menghambat respons timbal balik tubuh.2. Gangguan Postur TubuhMeskipun dampaknya tidak segera terlihat, duduk terlalu lama dapat mengakibatkan gangguan postur tubuh secara sementara atau bahkan permanen. Beberapa efek dari gejala ini yang umum dirasakan diantaranya rasa sakit yang berlebihan di leher dan bahu, perubahan postur tulang belakang akibat menjadi tumpuan atau sebagai penopang tubuh saat duduk, serta gangguan pada sendi bagian belakang yang disebabkan oleh keterbatasan gerakan bagian belakang tubuh.3. Penyakit JantungDarah yang mengalir ke dalam tubuh mengalami penurunan laju pergerakan, yang menyebabkan otot menjadi tidak mampu membakar kalori dengan efisien. Posisi duduk yang terlalu lama dapat menghambat proses metabolisme, yang merupakan kunci dalam pembakaran kalori. Dalam konteks kalori, terdapat kandungan lemak yang apabila terakumulasi di dalam pembuluh darah, dapat mengakibatkan penyumbatan. Akibatnya, terjadi gangguan pada sistem peredaran darah, yang berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan, terutama terkait dengan kesehatan jantung. 4. Perut BuncitFenomena ini terkait erat dengan penumpukan lemak di dalam tubuh. Ketika kita duduk untuk waktu yang lama, lipoprotein lipase, sebuah enzim yang berfungsi untuk mengolah lemak dan gula dalam tubuh, tidak bekerja secara optimal. Hal ini menyebabkan proses metabolisme berjalan lebih lambat, dan akhirnya lemak mulai menumpuk.Dilansir dari National Library of Medicine, dari studi penelitian tahun 2003 terlalu lama duduk akan mengurangi stimulasi lipoprotein lipase membuat tubuh kesulitan dalam membakar lemak yang disimpan. Seiring waktu, lemak ini dapat terakumulasi di berbagai bagian tubuh, termasuk perut. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika berat badan meningkat dan perut terlihat semakin buncit. Perut yang buncit juga dapat menjadi indikasi penumpukan lemak di sekitar organ dalam, yang dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik.5. Atrofi OtotDengan duduk dalam jangka waktu lama, otot besar di area bokong tidak menanggung beban dengan cukup, sehingga tekanan dan kekuatan beralih ke area yang lebih lemah. Otot bokong yang tidak aktif secara terus-menerus dapat mengalami atrofi otot, yang dapat merusak postur tubuh, hal ini memang tidak berdampak pada kesehatan, namun pada wanita yang menginginkan postur tubuh yang elegan, hal ini sangat dihindari.Dampaknya adalah, bentuk bokong dapat menjadi datar atau sering disebut sebagai 'bokong meja'. Selain itu, otot-otot bokong yang melemah juga akan kehilangan kemampuannya untuk menstabilkan panggul, sehingga tubuh cenderung miring ke depan dan menimbulkan tekanan tambahan pada bagian bawah tulang belakang.6. OsteoporosisMenurut Badan Kesehatan Dunia WHO, osteoporosis merupakan suatu gangguan sistemik pada tulang yang dicirikan oleh penurunan kualitas kepadatan massa tulang, menyebabkan tulang menjadi lebih rentan terhadap kerapuhan. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko patah tulang.Penting untuk dicatat bahwa melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat membantu memperkuat tulang dan meningkatkan massa tulang secara keseluruhan. Namun, selama bekerja di kantor, hal tersebut tidak memungkinkan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan tulang. Oleh karena itu, risiko terkena osteoporosis dapat meningkat dengan adanya hambatan tersebut.7. Kanker Kandung KemihTerdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa gaya hidup yang kurang aktif dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko terkena kanker, termasuk kanker kandung kemih. Namun untuk saat ini belum ditemukan bukti akurat yang mendukung klaim bahwa duduk terlalu lama secara langsung dapat menyebabkan hal tersebut.8. DVT (Deep vein thrombosis)Dikutip dari Healthdirect Australia, penyakit yang dikenal sebagai trombosis vena merupakan gejala pembentukan gumpalan darah di dalam pembuluh darah vena, khususnya pada bagian dalam tubuh, hal ini biasanya terjadi di area tungkai. Keadaan ini dapat berkembang menjadi serius dan berpotensi menyebabkan komplikasi jika tidak diidentifikasi dan diobati dengan cepat.DVT dapat timbul sebagai akibat dari berbagai faktor, salah satunya adalah kebiasaan duduk terlalu lama. Saat seseorang menghabiskan waktu yang lama dalam posisi duduk, misalnya selama penerbangan panjang atau perjalanan darat yang tidak terputus, aliran darah dapat melambat, menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan gumpalan darah. Hal ini terutama berpotensi terjadi pada pembuluh darah vena yang berada di bagian dalam tubuh.9. Nyeri KronisPostur duduk yang tidak benar, kekakuan dan ketegangan pada otot, dan distribusi beban yang tidak merata di sekitar punggung dan pinggul jika dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan pada cakram intervertebralis dan merangsang saraf-saraf di sekitarnya. Akibatnya, rasa nyeri bisa menjadi lebih intens dan bahkan menetap dalam jangka waktu yang lebih lama, menciptakan kondisi yang dikenal sebagai nyeri kronis.Nyeri kronis ini bisa berujung pada kelumpuhan permanen. Oleh karena itu, penting untuk menyadari pentingnya postur duduk yang benar dan melakukan langkah-langkah pencegahan, seperti mengatur kursi dan meja dengan ergonomis, melakukan istirahat singkat untuk meregangkan otot-otot, dan jangan lupa untuk stretching secara berkala. Langkah-langkah sederhana ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan tubuh secara keseluruhan dan mengurangi potensi masalah kesehatan yang berkaitan dengan postur duduk yang tidak benar.
Aplikasi MyGranostic Permudah Masyarakat Peroleh Layanan Kesehatan 24 Jam
Beritahu – Kesadaran masyarakat akan kesehatan terus meningkat seiring mahalnya biaya pengobatan ketika sakit, bahkan tak sedikit yang melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala sebagai langkah preventif mengatasi penyakit yang ada di tubuh sebelum jatuh sakit.Menjawab kebutuhan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang prima dan terintegrasi, Granostic Center laboratorium klinik di Jalan Dharmahusada nomor 146, Surabaya, memberikan pelayanan diagnostic secara komprehensif, akurat dan cepat sejak tahun 2007, baik untuk pemeriksaan individu maupun korporasi.President Direktur Klinik Granostic Prof Hananiel Prakasya Wijaya mengatakan Granostic Center membuka layanan kesehatan selama 24 jam nonstop yang dapat dijangkau kapan saja.“Layanan tes kesehatan 24 jam cocok untuk masyarakat yang butuh akses cepat dan mendadak. Misalnya untuk bepergian,”katanya ditemui usai Soft Opening Gedung Baru, Fasilitas baru dan peluncuran Aplikasi MyGranostic, Jumat (11/11/2022).“Seperti kita tahu di era pandemi seperti sekarang, masyarakat lebih peduli dengan kesehatan. Namun, karena keterbatasan waktu, mereka tidak bisa menjangkau layanan tes kesehatan di klinik dengan jam layanan yang terbatas,” imbuhnya.Diakui Hananiel Prakasya Wijaya saat ini bisa memberikan layanan selama 24 jam hanya rumah sakit. Sedangkan klinik laboratorium belum ada.“Meski di rumah sakit buka 24 jam, tapi di masa pandemi seperti sekarang, orang pasti takut untuk datang ke sana. Dan untuk itu kami membaca peluang tersebut guna menghadirkan layanan 24 jam, dan juga layanan panggil di rumah dengan harga yang sama. Untuk tarif kita lebih murah 20 persen dibandingkan laboratorium lain,” jelasnya.Selain layanan tes untuk Covd-19 seperti, Swab PCR, Saliva PCR, Swab Antigen, dan Antibodi, Granostic Center juga melayani layanan medical check-up, hematologi, dan beberapa tes kesehatan lainnya.Saat ini Granostic Center juga sudah meluncurkan aplikasi yang dapat dijangkau seluruh masyarakat untuk memberikan kemudahan, supaya dapat lebih cepat mendapatkan penanganan kesehatan kapanpun dengan hanya membuka aplikasi MyGranostic.“Karena kami memang berfokus kepada pasien, bukan dokternya atau rumah sakitnya. Untuk itu dengan menggunakan applikasi MyGranosic pasien yang membutuhkan jawaban cepat dari tenaga kesehatan yang berkompeten,” tegasnya.Ditegaskan Hananiel, kedepan klinik Granostic berencana akan ekspansi di daerah Surabaya Barat dan Jakarta yang bekerjasama dengan laborarium luar negeri dengan layanan yang lebih lengkap. Salah satunya deteksi panel cancer yang selama ini harus dikirim ke Jerman dengan durasi waktu hingga tiga bulan baru bisa mendapatkan hasil.“Sementara untuk itu perlu waktu dan penanganan cepat berkaitan dengan obat kemoterapi yang pas. Dengan adanya lab di Indonesia, bisa diketahui hasil lebih cepat dan bisa ditangani dengan lebih cepat pula,” ujar Hananiel Prakasya.Hananiel pun menjelaskan, layanan dengan aplikasi MyGranostic dapat digunakan untuk memesan pemeriksaan secara online, mengakses jadwal praktik dokter, konsultasi hasil pemeriksaan, serta akses antrian dari manapun dan kapanpun. Layanan ini sudah tersedia di playstore dan akan segera tersedia di Appstore.Granostic Center meluncurkan berbagai layanan dan pemeriksaan yang dapat mendukung masyarakat untuk mewujudkan kondisi kesehatan yang semakin baik. Diantaranya Granomic yakni layanan pemeriksaan genetik yang dapat dimanfaatkan siapapun sebagai bentuk pencegahan terhadap berbagai penyakit kronis. Pemeriksaan Granomic ini telah berstandart internasional karena terafiliasi dengan official partner dari Granostic CenterSaat ini terdapat 7 jenis produk Granomic yang sudah launching, di antaranya Granomic Cancer yakni pemeriksaan mendeteksi penyakit kanker pada masyarakat sebelum muncul gejala sama sekali. Granomic Stroke yakni pemeriksaan untuk mendeteksi adanya risiko penyakit stroke akibat gen yang diturunkan dari keluarga.Juga Granomic Pharmacogenomic, pemeriksaan yang digunakan untuk melihat bagaimana tubuh pasien merespon berbagai jenis obat sehingga dapat dijadikan pedoman untuk merancang pengobatan terbaik untuk berbagai penyakit.Granomic Hiperlipidemia, yaitu pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya risiko lemak darah tinggi yang dapat mengarah pada berbagai penyakit lainnya seperti penyumbatan pembuluh darah. Granomic Sudden Cardiac Arrest pemeriksaan yang dapat mendeteksi risiko henti jantung mendadak pada semua pasien meskipun belum pernah mengalami serangan jantung sebelumnya.Granomic Maternity Program Test adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi risiko kelainan genetik seperti Down Syndrome, Patau Syndrome dan lain sebagainya pada calon bayi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sejak suami-istri menjalankan program kehamilan juga Granomic Life Style Test untuk melihat risiko penyakit secara keturunan maupun melihat garis keturunan bayi dari pasien.(bi2)Artikel Asli, Baca Di Sini : Beritahu.co
Granostic Dharma Husada Sukses Perkuat Layanan Home Care
TIMESINDONESIA, SURABAYA – Laboratorium Klinik Granostic Center meresmikan gedung baru di Jalan Dharma Husada Surabaya. Gedung ini merupakan peremajaan dari Granostic sebelumnya. Renovasi wajah baru gedung lama berlangsung selama enam bulan dan baru siap beroperasi pada hari ini, Jumat (11/11/2022).Peresmian dilakukan oleh Presiden Direktur Granostic Center Adj Prof Hananiel Prakasya Wijaya, Komisaris dr. Agus Chairul Anab, Sp.BS dan Direktur Arditya Wirawan ST, MBA. "Wajah baru ini menjadi momentum cara baru Granostic dalam melayani di era baru," terang Prof Hananiel.Ia mengatakan Granostic sendiri mulai beroperasi sebagai laboratorium klinik mikrobiologi yang kebanyakan melayani rekanan dokter dan rumah sakit di Surabaya sejak 2007. Namun saat ini lansekap pelayanan telah berubah."Terjadi pergeseran orientasi dari hospitals atau dokter sentrik menjadi pasien sentrik. Fokus yang dulu utamanya pada dokter dan rumah sakit sekarang fokus pada pasien," jelas Prof Hananiel. Pada tahun 2021 terjadi perubahan pemegang saham di PT Persada Medika Utama sebagai founding dari Granostic. Hal ini turut disertai dengan perubahan manajemen dan masuknya Kortex pada tahun yang sama.Kortex memotori perubahan pada sistem pelayanan kesehatan Indonesia bekerja sama dengan Persada Capital dan PT Sentra sehingga mengubah visi, strategi dan konsep layanan Granostic. Saat ini Granostic memiliki visi, cara dan strategi baru untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Perubahan yang dilakukan adalah fokus pada pasien dengan fokus menjadi mitra pasien dalam kebutuhan laboratorium secara mudah. "Kita melayani pasien langsung bukan lewat rumah sakit ataupun dokter," ucapnya. Konsen connective care antara rumah dengan klinik ini disebut menjadi tren ke depan."Dan saat ini semua tidak berfokus lagi di rumah sakit. Tetapi bagaimana kita sebagai fasyankes datang ke rumah pasien. Saya kira ini menjadi tren dan bahwa setiap kita memiliki pola terapi berbeda sesuai dengan profil genetik yang ada," ungkapnya. Konsep home care tersebut sudah diluncurkan sejak awal dan saat ini sudah mendominasi pasar Granostic. "Jadi sebagian besar pasar dari Granostic adalah home care selain kita 24 jam," ucap Prof Hananiel. Perpaduan dari knowledge, skills dan peralatan terkini serta terintegrasi digital menjadi kunci bagi Granostic. "Kita gabungkan berbagai kelebihan itu," ujarnya. Sedangkan konsep gedung Granostic minimalis, modern dan fungsional dilengkapi alat-alat laboratorium terkini. Layanan ini untuk melengkapi medical check up pasien perorangan maupun perusahaan. Paradigma sehat juga menjadi kunci strategi. Saat ini Granostic Laboratorium menyiapkan layanan selama 24 jam sepanjang hari. "Kami siap untuk melayani pasien secara langsung dengan harga terjangkau," kata dia. Digitalisasi KesehatanSecara layanan, Granostic merambah sistem digital mulai dari information system, billing, Apps, website, e-payment, lab information system dan sebagainya. Semua terpandu berbasis Cloud yang menjadi album yang dapat diakses pasien sewaktu-waktu dan dapat digunakan. Aplikasi MyGranostic merupakan layanan aplikasi digital yang dapat digunakan untuk memesan pemeriksaan secara online, mengakses jadwal praktik dokter, konsultasi hasil pemeriksaan, serta akses antrian dari manapun dan kapanpun. Layanan ini sudah tersedia di playstore dan akan segera tersedia di Appstore. Prof Hananiel menerangkan awal transformasi digital tersebut mengacu pada beberapa perubahan kebutuhan layanan dan mengacu pada regulasi pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan. Berdasarkan data 2022, terdapat 3.000 rumah sakit, 7.500 klinik, 7.500 praktik bersama dan 1.400 laboratorium klinik yang tersebar di Indonesia. Semuanya mau tidak mau harus ikut di dalam perubahan jika ingin survive. Keadaan ini membawa seluruh provider harus berbenah menyesuaikan perubahan tuntutan zaman. "Salah satunya di Peraturan Menteri Kesehatan 24 mensyaratkan semuanya harus melaksanakan elektronik managering club di tahun depan. Kita bayangkan betapa banyak jumlahnya sampai sekitar 20 ribu institusi ini harus berbenah menuju digitalisasi kesehatan," ujarnya. Prof Hananiel mengatakan, angka inflasi kesehatan di Indonesia tiga kali lipat lebih tinggi daripada inflasi umum. Di mana inflasi umum sebesar 4 persen. Sedangkan inflasi kesehatan ada di angka 12 persen setiap tahunnya. "Ini menjadi concern utama bahwa jangan-jangan teknologinya ada tapi kita tidak mampu untuk berobat karena inflasi yang lebih tinggi ini. Dan itu sudah terjadi di beberapa negara maju," ungkap Prof Hananiel. Prof Hananiel berharap digitalisasi kesehatan tidak disalahartikan hanya dengan membeli komputer atau memiliki IoS untuk mendaftar secara mandiri. "Ini menjadi masalah besar yang harus kita pikirkan juga. Transformasi digitalisasi kesehatan saya kira ini juga menjadi buah bibir saat ini di mana hampir semua rumah sakit sedang bergeser melakukan digitalisasi," katanya. Lompatan Layanan Usai mengenalkan Apps digital, Granostic Center juga telah melakukan sejumlah lompatan dengan meluncurkan berbagai layanan dan pemeriksaan Adapun layanan dan pemeriksaan tersebut adalah Granomic. Merupakan layanan pemeriksaan genetik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bentuk pencegahan terhadap berbagai penyakit kronis. "Pemeriksaan Granomic ini telah berstandart internasional karena terafiliasi dengan official partner dari Granostic Center. Saat ini terdapat 7 jenis produk Granomic yang sudah launching," kata Manager Medis Granostic dr.Mayfanny Tanzilia SpPK.Tujuh jenis produk tersebut adalah Granomic Cancer, Granomic Stroke, Granomic Pharmacogenomic, Granomic Hiperlipidemia, Granomic Sudden Cardiac Arrest, Granomic Maternity Program Test dan Granomic Life Style Test. Tak hanya itu saja. Granostic Center juga memiliki Layanan Granostic Siaga. Layanan ini tersinkronisasi dengan aplikasi Whatsapp dan tersedia hotline bagi pasien yang memiliki kasus bersifat mendesakKemudian Pemeriksaan Berbasis Internasional. Pemeriksaan ini telah disertifikasi secara internasional, karena terafiliasi dengan partner dari Granostic Center. Sertifikasi ini mendukung Granostic untuk melakukan pemeriksaan diagnostik yang belum bisa dilakukan di Indonesia. Adapun partner-partner dari Granostic Center adalah GC Labs, yang merupakan laboratorium klinik terbesar di Korea Selatan, Mayo Clinic, yang merupakan penyedia layanan neurologis profesional di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Singapura.Lalu ada Nalagenetics, yaitu penyedia layanan genetik dari Singapura, GC Genome, yang merupakan laboratorium genetik nomor 1 di Korea Selatan dan Bangkok Genomic Innovation, yang merupakan penyedia layanan genetik terbesar di Thailand. Layanan dan pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan laboratorium klinis serta dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat secara optimal. Granostic Center juga terus berupaya untuk memperluas jangkauan pelayanan laboratorium agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Upaya ini diwujudkan melalui pembukaan cabang di beberapa kota di Indonesia serta membuka cabang di wilayah Surabaya Barat dalam waktu dekat.Dari sisi rujukan, Granostic juga memiliki partner laboratorium luar negeri baik dari Korea, Amerika, Eropa, Thailand yang siap menerima pemeriksaan-pemeriksaan spesial yang tidak bisa dilakukan oleh rumah sakit atau laboratorium di Indonesia secara cepat. "Saat ini kami sedang menjajaki kemungkinan untuk menghadirkan layanan spesial di Indonesia dengan melakukan kerja sama co-branding sehingga ke depan tidak perlu selalu mengirimkannya ke luar," ungkap Direktur Granostic Center Adj Prof Hananiel Prakasya Wijaya. (*)  Penulis : Lely Yuana Informasi Original dapat diakses Di Sini
Granostic Center Soft Opening : New Building, New Facility, and New Mobile Application
Pada 11 November 2022 yang lalu, Granostic Center secara resmi membuka gedung baru dengan fasilitas baru pada masyarakat. Setelah melakukan renovasi kurang lebih 1tahun, gedung laboratorium Granostic Center kini sudah dapat memberikan pelayanan pada seluruh masyarakat. Gedung baru ini memiliki konsep feels like home yang emngedepankan kenyamanan saat melakukan pemeriksaan serta keamanan privasi bagi seluruh pasien Granostic Center. Dilengkapi dengan peralatan laboratorium yang modern dan berteknologi tinggi sehingga akan memberikan hasil pemeriksaan yang akurat dan cepat. Selain pembukaan gedung baru untuk masyrakat umum, pada acara soft opening ini diluncurkan pula beberapa layanan dan pemeriksaan, di antaranya adalah : Pemeriksaan Granomic : Layanan pemeriksaan genetik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bentuk pencegahan terhadap berbagai penyakit kronis. Pemeriksaan Granomic ini telah berstandart internasional karena terafiliasi dengan official partner dari Granostic CenterAplikasi MyGranosticLayanan aplikasi digital yang dapat digunakan untuk memesan pemeriksaan secara online, mengakses jadwal praktik dokter, konsultasi hasil pemeriksaan, serta akses antrian dari manapun dan kapanpun. Layanan ini sudah tersedia di playstore dan akan segera tersedia di Appstore   Layanan Granostic Siaga Layanan pemantauan kesehatan bagi pasien dengan riwayat pemeriksaan yang berisiko untuk berbagai penyakit kronis. Pemantauan dilakukan oleh tim kesehatan yang profesional dan ahli di bidangnya. Layanan ini tersinkronisasi dengan aplikasi Whatsapp dan tersedia hotline bagi pasien yang memiliki kasus bersifat mendesakGranostic Center juga memperkenalkan mitra-mitra internasional yang telah menjalin kerjasama resmi, di antaranya adalah : A. GC Labs, yang merupakan laboratorium klinik terbesar di Korea Selatan B. Mayo Clinic, yang merupakan penyedia layanan neurologis profesional di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Singapura C. Nalagenetics, yaitu penyedia layanan genetik dari Singapura D. GC Genome, yang merupakan laboratorium genetik nomor 1 di Korea Selatan E. Bangkok Genomic Innovation, yang merupakan penyedia layanan genetik terbesar di ThailandInovasi layanan dan pemeriksaan yang diberikan oleh Granostic ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga Surabaya, dan Granostic akan segera memperluas jangkauan layanannya dengan membuka berbagai cabang di kota-kota lain dalam waktu dekat.  
Healthy Weekend
Nikmati potongan langsung 20% untuk semua pemeriksaan setiap hari Sabtu dan Minggu 
Kanker Pankreas
Pankreas adalah kelenjar yang terletak jauh di perut di antara perut dan tulang belakang, menghubungkan duodenum. Ini adalah organ pencernaan, terutama untuk sekresi enzim pencernaan untuk membantu pencernaan, dan pembuatan insulin untuk memantau kadar gula darah. Pankreas terletak jauh di dalam perut, di belakang perut dan usus besar dan kecil. Kanker pankreas merupakan kanker yang agresif. Sebagai tumor ganas di dalam pankreas tumbuh perlahan, dan menyembunyikan dirinya, tidak mudah untuk mendeteksi pada tahap awal. Meskipun untuk orang yang memiliki pemeriksaan rutin setiap tahun, sulit untuk mengetahui apakah orang tersebut telah mendapat kanker pankreas melalui tes umum. Oleh karena itu, kanker pankreas biasanya didiagnosis pada stadium lanjut sehingga menunda perawatan yang diperlukan dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang buruk. Bahkan pasien bisa menjalani operasi untuk mengangkat tumor, rentang hidupnya lebih pendek dibanding pasien kanker lainnya.Faktor Risiko Penyakit Kanker PrankeasSebagian besar pasien kanker pankreas berusia di atas 65 tahun, dan faktor risiko lainnya meliputi: Suku bangsa: Orang kulit hitam memiliki risiko yang lebih tinggi.Gender: pria memiliki risiko yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan WanitaMerokok: Peluang perokok untuk mengidap penyakit ini 2 hingga 3 kali lebih tinggi daripada non-perokok.Metabolisme gula yang tidak normal: Penderita diabetes mellitus memiliki risiko yang lebih tinggi.Kelebihan berat badan: Orang gemuk memiliki risiko yang lebih tinggi.Pola makan: Orang dengan asupan lemak hewani yang berkepanjangan dan konsumsi sayuran dan buah yang buruk lebih cenderung terkena penyakit ini .Kimia: Orang yang terpapar secara berkepanjangan terhadap pestisida, minyak bumi, atau pewarna lebih rentan terhadap penyakit ini. Infeksi Helicobacter pylori: Risiko orang yang terinfeksi bakteri ini 2 kali lebih tinggi.Pankreatitis herediter: Pankreatitis kronis herediter akan menambah risiko terkena kanker pankreas, namun jarang terjadi.Pankreatitis kronis: Pankreatitis kronis biasanya ditemukan bersamaan dengan kanker pankreas, namun yang pertama mungkin bukan Penyebabnya.Cara Mecegah Kanker PrankeasMeskipun kanker pankreas tidak dapat dicegah sepenuhnya, modifikasi gaya hidup dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit ini: Hindari asap rokok: asap rokok mengandung zat penyebab kanker yang bisa menghancurkan DNA yang memantau pertumbuhan sel.Pertahankan berat badan yang sehat: Berat badan yang berlebihan meningkatkan risiko terkena kanker pankreas. Pengurangan berat badan harus bertahap dan sehat.Berolahraga secara teratur: Jumlah latihan yang sesuai dapat mengurangi risiko terkena kanker.Miliki diet sehat & seimbang: Mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah dan makanan dengan lemak hewani rendah. Hindari kontajk langsung dengan bahan kimia berbahaya atau menerapkan tindakan pengamanan yang sesuai1.Jenis kanker PrankeasKanker pankreas terbagi menjadi dua jenis, yaitu:Pancreatic adenocarsinomaPancreatic adenocarsinoma adalah kanker pankreas yang tumbuh dari sel eksokrin, yaitu sel yang memproduksi enzim pankreas. Diperkirakan, 95% dari seluruh kasus kanker pankreas adalah jenis pancreatic adenocarsinoma.Pancreatic neuroendocrine tumors (NETs)Pancreatic neuroendocrine tumors adalah jenis kanker pankreas yang tumbuh di sel endokrin, yaitu sel yang memproduksi hormon dan mengelola kadar gula darah2.Gejala Kanker PankreasKanker pankreas pada stadium (tahap) awal umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun, seiring sel kanker berkembang dan mencapai stadium lanjut, gejala yang dapat muncul antara lain:Hilang nafsu makanBerat badan menurun tanpa sebab yang jelasGatal-gatal di kulitPerut kembungMual dan muntahDiareSembelitUrine berwarna gelapTinja berwarna pucatTubuh mudah lelahKulit dan putih mata (sklera) menguningPenggumpalan darahSakit perut yang menjalar ke punggungDemam atau menggigilKanker pankreas juga dapat memicu munculnya penyakit lain, seperti diabetes dan depresi. Akan tetapi, sering kali penyakit-penyakit ini tidak disadari sebagai bagian dari gejala kanker pankreas.Diagnosis Kanker PankreasDokter akan menanyakan gejala dan riwayat penyakit pasien, termasuk bertanya tentang gaya hidup pasien, seperti kebiasaan merokok dan pola makan. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, antara lain dengan melihat tanda penyakit kuning dan mendeteksi benjolan di perut.Setelah itu, dokter juga dapat menjalankan beberapa pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis, seperti:Tes darah, untuk mendeteksi protein CA19-9 serta untuk mengukur kadar hormon insulin, glukagon, dan somatostatin, yang terkait dengan sel kanker pankreasPemindaian dengan CT scan, PET scan, atau MRI, untuk melihat kondisi pankreas dan organ lain di dalam tubuhEndoscopic ultrasound (EUS), untuk melihat kondisi pankreas dari dalam perut dengan endoskopi dan USGEndoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP), yaitu endoskopi yang dibantu dengan foto Rontgen, untuk mengetahui kondisi saluran empedu dan pankreasOctreotide scan atau octreoscan, untuk mendeteksi keberadaan kanker pankreas yang berasal dari sel endokrinBiopsi atau pengambilan sampel dari jaringan yang dicurigai sebagai kanker pankreas untuk kemudian diteliti lebih lanjut dengan mikroskopSetelah pasien dipastikan menderita kanker pankreas, dokter akan menentukan tingkat keparahan kanker pankreas. Penentuan ini akan membantu dokter dalam memilih metode pengobatan yang tepat.Berikut ini adalah stadium atau tingkat keparahan pada kanker pankreas:Stadium 0 (karsinoma in situ)Pada stadium ini, sel yang tidak normal ditemukan pada dinding pankreas, tapi belum berupa kanker dan belum menyebar.Stadium 1Stadium 1 menandakan bahwa kanker hanya terdapat di pankreas dan belum menyebar ke organ lain, dengan ukuran kanker antara 2–4 cm.Stadium 2Pada stadium 2, kanker telah berukuran lebih dari 4 cm atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitar pankreas.Stadium 3Stadium 3 menandakan bahwa kanker telah menyebar ke saraf, pembuluh darah besar, atau ke lebih dari 4 kelenjar getah bening di dekat pankreas, tapi belum menyebar ke organ lain.Stadium 4Stadium 4 berarti kanker telah menyebar luas ke organ tubuh lain yang jauh dari pankreas, seperti paru-paru, hati, atau peritoneum (selaput yang melapisi dinding dalam perut).Pengobatan Kanker PankreasPengobatan kanker pankreas akan disesuaikan dengan stadium kanker, bagian pankreas yang terserang kanker, dan kondisi pasien secara menyeluruh. Tujuan pengobatannya adalah untuk menyingkirkan sel kanker agar tidak menyebar ke organ lain.Beberapa metode yang dapat digunakan dokter untuk mengatasi kanker pankreas adalah:    1. KemoterapiKemoterapi adalah pemberian obat-obatan khusus untuk membunuh sel kanker. Obat yang diberikan bisa berupa obat tunggal atau kombinasi, baik dalam bentuk minum (oral), suntikan, atau infus.Kemoterapi bisa dilakukan pada kanker pankreas stadium awal atau lanjut untuk menyusutkan atau mengontrol pertumbuhan kanker.    2. RadioterapiRadioterapi atau terapi radiasi adalah prosedur untuk menghancurkan sel kanker, dengan menggunakan sinar berkekuatan tinggi, seperti sinar-X dan proton. Terapi radiasi dapat dilakukan sebelum atau setelah bedah.Radioterapi bisa dikombinasikan dengan kemoterapi (kemoradiasi). Biasanya, kombinasi ini dilakukan sebelum bedah untuk menyusutkan ukuran kanker sehingga lebih mudah diangkat.Kemoradiasi juga bisa dilakukan setelah bedah untuk mengurangi risiko kanker pankreas kambuh kembali. Selain itu, kemoradiasi juga bisa dilakukan pada kanker pankreas yang tidak dapat ditangani dengan operasi.    3. OperasiTindakan operasi dilakukan pada kanker pankreas yang belum menyebar ke organ tubuh lain. Beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan adalah:Operasi Whipple atau pankreatikoduodenektomi, yaitu operasi untuk mengangkat bagian kepala pankreas dan sebagian dari organ lain, seperti usus dua belas jari, kandung empedu, saluran empedu, kelenjar getah bening, lambung, dan usus besarPankreatektomi distal, yaitu operasi untuk mengangkat bagian kiri pankreas dan, bila diperlukan, limpa pasienPankreatektomi total, yaitu prosedur untuk mengangkat seluruh pankreasPerlu diketahui, tidak semua kanker pankreas dapat diatasi dengan operasi, seperti pada kanker yang telah menyebar ke pembuluh darah besar, atau jika pasien juga menderita gagal hati atau gagal jantung tingkat lanjut. Pasalnya, pada kondisi tersebut, risiko terjadinya komplikasi akibat operasi akan lebih besar.Selain metode di atas, ada juga beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan dokter untuk meredakan gejala, yaitu:Pemberian analgesik opioid untuk meredakan nyeriPemberian antidepresan disertai konseling untuk meredakan depresiOperasi bypass dan pemasangan stent di saluran empedu, untuk meredakan gejala penyakit kuning, gatal-gatal, dan hilang nafsu makanKomplikasi Kanker PankreasKanker pankreas dapat berkembang dan menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti:Berat badan turun, yang bisa terjadi akibat pankreas tidak memproduksi enzim pencernaan dalam jumlah yang cukup, atau akibat kanker menekan lambung, sehingga membuat pasien sulit makanPenyakit kuning, yang dapat terjadi akibat kanker menyumbat saluran empeduNyeri perut, akibat sel-sel kanker di pankreas terus tumbuh dan menekan saraf di perutObstruksi atau penyumbatan usus, akibat kanker pankreas menekan usus dua belas jari, sehingga makanan yang telah dicerna di lambung tidak bisa turun ke ususPENULIS: Achmad Priyas Budi SantosoEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:https://www21.ha.org.hk/smartpatient/EM/MediaLibraries/EM/EMMedia/Pancreatic-Cancer_Bahasa-Indonesia.pdf?ext=.pdfhttps://www.alodokter.com/kanker-pankreas
RADANG
Siapa pun yang pernah keseleo pada pergelangan kaki, terpotong saat memotong sayuran, atau tersengat lebah berarti Anda telah melihat efek peradangan secara langsung. Rasa sakit, kemerahan, bengkak, dan panas yang dihasilkannya adalah mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan agen infeksi seperti bakteri dan memperbaiki kerusakan jaringan. Mungkin kurang jelas, tetapi sebenarnya prosesnya serupa yaitu adanya peradangan yang diakibatkan oleh infeksi seperti pilek, flu, atau COVID-19, dan lain-lain.Radang Akut VS Radang KronikCedera dan infeksi menghasilkan peradangan akut, mekanisme respons cepat tubuh yang bertujuan untuk melepaskan diri dari zat asing atau kuman berbahaya dan mengembalikannya ke keadaan seimbang. Pelepasan bahan kimia sebagai peringatan akan membunyikan alarm, yang menarik sel darah putih ke lokasi cedera. Beberapa dari sel-sel ini menetralkan zat asing tersebut, sementara yang lain membersihkan kerusakan yang dihasilkan dari serangan tersebut. Peradangan akut biasanya sembuh dengan cepat, dalam beberapa jam hingga hari.Peradangan kronis dapat dimulai melalui proses yang sama, dengan tubuh mencoba melepaskan diri dari apa yang ditafsirkan oleh sistem kekebalan sebagai musuh asing. Tapi ini bisa menjadi keadaan yang terus-menerus, bahkan jika ancaman yang dirasakan tidak benar-benar berbahaya bagi kesehatan seseorang. Pada gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis, lupus, diabetes tipe 1, kolitis ulserativa, dan multiple sclerosis, tubuh secara keliru bereaksi terhadap jaringannya sendiri seolah-olah jaringan itu asing, dan menghasilkan peradangan yang merusak terhadap jaringan tersebut.Jenis peradangan kronis tingkat rendah dapat terus aktif di bawah permukaan. Gaya hidup tidak sehat yang meliputi merokok, pola makan yang buruk, konsumsi alkohol, kurang aktifitas, stres, dan penambahan berat badan dapat menyebabkan jenis peradangan ini secara terus-menerus.Gejala dari RadangPeradangan akut menghasilkan gejala yang sangat jelas seperti :KemerahanNyeriTeraba hangatBengkakPeradangan kronis adalah proses yang lebih bertahap dan sulit terlihat. Ketika gejala muncul, dapat mencakup :KelelahanNyeri otot dan sendiSusah BAB, diare atau masalah pencernaan lainnyaPenambahan berat badanSakit kepalaMunculnya ruam kulitBerbeda dengan peradangan akut, gejala ini berlanjut dalam jangka panjang atau datang dan pergi seiring waktu.Penyakit yang berhubungan dengan radang kronik antara lain adalah sebagai berikut :Alzheimer dan DementiaKankerDepresi dan AnxietasTekanan darah tinggi Penyakit jantungStrokeDiabetes tipe 2AlergiAsmaKondisi kulit abnormal seperti jerawat, eksim dan psoriasisRadang sendiPemeriksaan Penunjang pada Kasus Radang Ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kasus radang, di antaranya :a. Laju Endap Darah (LED)Laju Endap Darah (LED) merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium sederhana dan rutin dikerjakan untuk mengetahui kecepatan pengendapan sel darah merah tiap jam di dalam tubuh. Peningkatan laju endap darah mengindikasikan adanya proses radang maupun infeksi di dalam tubuh.b. CRPC-reactive protein (CRP) adalah biomarker yang menjadi komponen utama pada reaksi radang. Protein plasma ini berasal dari hati, dimana kadar CRP akan meningkat dengan cepat sehingga menjadi jika terjadi cedera jaringan, radang atau infeksi. C-reactive protein tidak hanya meningkat pada respon radang akut, melainkan juga pada respon radang kronik. Kadar CRP dapat merefleksikan kadar radang yang terjadi, dan secara kuat berhubungan dengan berbagai penyakit. C-reactive protein sebagai penanda biokimia respon radang dan cedera jaringan distimulasi oleh produksi sitokin proradang. Sitokin proinflamasi terutama interleukin-6 (IL-6) menjadi komponen radang baik pada cedera neuronal maupun jaringan sinovial.c. Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR)Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) adalah cerminan dari derajat respon radang (neutrofil) dan status imun (limfosit) yang akan meningkat jika terjadi radang. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa NLR sangat mudah untuk diukur dan dapat berperan sebagai prediktor hasil klinis dari penyakit kanker, kardiovaskular, dan stroke. Selain itu, beberapa studi juga menemukan bahwa kadar NLR yang abnormal berasosiasi dengan penyakit autoimun seperti psoriasis, kolitis ulseratif, rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, Sjorgen’s syndrome, dan Behcet’s disease.d. Platelet to lymphocyte ratio (PLR)Selain NLR, platelet to lymphocyte ratio (PLR) juga dapat berperan sebagai penanda yang potensial untuk menentukan beratnya reaksi radang dan juga sebagai penanda prognostik respon radang dari beberapa penyakit, seperti kanker, emboli paru, perdarahan intrakranial, penyakit kardiovaskuler, maupun penyakit radang yang lain.Mengobati RadangBeberapa pengobatan radang antara lain meliputi obat golongan steroid, obat imunosupresan, dan lain sebagainya. Penggunaan obat-obatan tersebut dilakukan dalam pengawasan dokter. Perubahan gaya hidup merupakan salah satu pencegahan dan pengobatan yang utama dalam mengatasi radang kronik.Mencegah Terjadinya RadangBerikut adalah beberapa cara untuk mengatasi peradangan dan akibat dari peradangan : Mengkonsumsi makanan yang memiliki efek anti-radang, misal dalam hal ini mencakup buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan berlemak (salmon, sarden, tuna), dan minyak sehat. Membatasi makanan yang tinggi gula (soda, permen) dan karbohidrat olahan (kue, pai).Cobalah untuk melakukan setidaknya 150 menit latihan aerobik, ditambah dua atau lebih sesi latihan kekuatan, setiap minggu.Kelola berat badan dengan diet dan olahraga.Tidur setidaknya selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam.Berhenti merokok dan batasi alkohol hingga satu atau dua minuman setiap hari.Kurangi stres kronis dengan melakukan aktivitas santai seperti pernapasan dalam, meditasi, dan yoga.PENULIS: dr. Aji WibowoEDITOR: dr. May Fanny Tanzilia Sp.PK(K)KOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Harvard Medical School. 2020. All About Inflamation. Harvard Medical School: Harvard Health Publishing.Pan, L., Du, J., Li, T. & Liao, H. 2017. Platelet-to-lymphocyte ratio and neutrophil-tolymphocyte ratio associated with disease activity in patients with Takayasu's arteritis: a case-control study. BMJ Open, 7:e014451.Gao, S. Q., Huang, L. D., Dai, R. J., Chen, D. D., Hu, W. J. & Shan, Y. F. 2015. Neutrophillymphocyte ratio: a controversial marker in predicting Crohn's disease severity. Int J Clin Exp Pathol, 8:14779-85.
KEJANG DEMAM
Apakah anda memiliki anak kecil dirumah? Atau mungkin saudara atau sepupu yang masih kecil? Tentunya mereka pastinya pernah mengalami sakit dan membuat mereka menjadi demam. Jika ini terjadi maka secepat mungkin berikan obat penurun demam pada mereka, karena pada anak-anak usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun dimana saat mereka mengalami demam yang tinggi (biasanya > 38o) saat itu juga mereka memiliki resiko untuk mengalami kejang. Kondisi ini yang kita kenal dengan kejang demam.PengertianKejang demam adalah sebuah penyakit yang biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia berusia 6 bulan samapai dengan 5 tahun dimana suhu tubuh anak sedang tinggi (demam) dan akan berguncang disertai dengan gerakan menyentak. Kejang demam berbeda dengan epilepsi dan umumnya tidak berbahaya.PenyebabInfeksiInfeksi yang disebabkan oleh virus dan bakteri atau mikroorganisme lain pada anak dapat memicu terjadinya demam tinggi dan meningkatkan resiko terjadinya kejang demam pada anak.Pasca VaksinasiBeberapa anak dapat mengalami demam setelah diberi imunisasi. Demam ini dapat memicu terjadinya kejang demam.Gejala Kejang DemamAnak mengalami demamTerjadi hentakan pada lengan dan tungkai anak (kejang)Mata keatasKehilangan kesadaranUmumnya kejang demam terjadi kurang dari 2 menit dan tidak akan berulang dalam kurun waktu 24 jam. Kejang ini disebut kejang sementara (sederhana) dan kesadaran anak akan kembali setelah kejang mereda. Harap diperhatikan apabila kejang terjadi lebih dari 15 menit atau berulang. Kejang ini disebut kejang kompleks dan dapat terjadi hanya dibagian tubuh tertentu.Penanganan Kejang DemamMembaringkan tubuh anak pada lantai. Jika terjadi pada bayi, rebahkan badan bayi dengan posisi kebawah menghadap kebawah dan jangan menahan tubuh bayi.Miringkan tubuh anak untuk mencegah tersumbatnya saluran pernapasan karena lidah Melonggarkan pakaian anakTidak menaruh sumbatan atau benda apapun kedalam mulut anakTidak menahan gerakan anakMenghitung durasi terjadinya demam dan memperhatikan anak saat demamKapan Harus Pergi ke Dokter Segera periksa ke dokter apabila anak mengalami kejang demam dengan durasi lebih dari 5 menit disertai dengan :Leher kakuMuntahSesak napasTerjadi berulangDiagnosis dan Pemeriksaan PenunjangDokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan anak, seperti: apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat kejang demam, apakah anak baru mendapat vaksinasi, dan gejala infeksi. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh dokter, antara lain : pemeriksaan darah, urine, dan EEG (Elektroensefalografi).Pencegahan Pencegahan yang dapat dilakukan agar anak tidak mengalami kejang demam, antara lain : memberikan obat penurun panas (Paracetamol) sehingga setiap orang tua atau keluarga yang memiliki khususnya anak-anak usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun diharuskan memiliki obat simpanan penurun panas dirumah dan atau obat anti kejang seperti diazepam. Untuk kejang yang terjadi lebih dari 5 menit akan diberikan obat anti kejang melalui dubur.PENULIS: Anggraeni Windi RosariEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:National Health Services UK (2019). Health A-Z. Febrile Seizures.Mayo Clinic (2021). Diseases and Conditions. Febrile Seizure.WebMD (2021). What Are Febrile (Fever) Seizures?Wells, D. Healthline (2021). What Is a Febrile Seizures?
Penyakit Refluks Gastroesofagus
GERD merupakan penyakit yang sangat umum terjadi pada pencernaan manusia. GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu simtom atau perubahan mukosa yang diakibatkan oleh gangguan sistem saluran pencernaan, di mana asam lambung dan isi perut mengalir kembali ke kerongkongan (esofagus). Aliran balik atau refluks ini dapat menyebabkan Anda merasakan sensasi perih dan panas seperti terbakar di bawah tulang dada atau dikenal dengan istilah heartburn.GERD dapat disebabkan akibat melemahnya sfingter esofagus atau otot-otot pembatas antara kerongkongan dan lambung sehingga menyebabkan refluks (aliran balik) atau naiknya isi dan asam lambung ke saluran esofagus (kerongkongan). Paparan asam lambung yang berulang-ulang naik ke esofagus akan mengakibatkan iritasi pada lapisan esofagus atau kerongkongan.Selain itu gerd juga dapat di picu oleh beberapa makanan dan minuman tertentu seperti makanan yang berkaitan dengan jenis makanan yang asam, pedas dan berminyak. Terlalu sering mengonsumsi makanan ini akan meningkatkan produksi asam lambung da melemahkan otot sfinger bawah serta melambatkan pengosongan lambung. Tidak hanya itu lebiasaan makan yang kurang baik juga dapat memperkuat gejala ini seperti makan yang terburu buru, seperti makan dalam porsi banyak sekaligus, dan langsung tidur setelah makan.Gejala GerdPada umumnya selain heartburn atau rasa terbakar di dada, penderita GERD juga akan merasakan keluhan atau gejala klinis seperti :Mual Rasa pahit di mulut Karies pada gigiRegurgitasi (makanan kembali ke mulut dari kerongkongan)Nyeri menelan atau kesulitan menalanBatuk kronis Sakit tenggorokan dan suara serakPerhatikan pula gejala lanjutan yang mungkin terkait dengan komplikasi Gerd atau masalah Kesehatan serius lain nya :Nyeri dada Kehilangan selera makan Muntah terus menerus Gangguan menelan Muntah mengandung darah Perubahan berat badan yang tidak bisa di jelaskan penyebabnyaPemeriksaan Penunjang GERDa. PPI TestPPI test dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada pasien dengan gejala tipikal dan tanpa adanya tanda bahaya atau risiko esofagus Barrett. Tes ini dilakukan dengan memberikan PPI dosis ganda selama 1-2 minggu tanpa didahului dengan pemeriksaan endoskopi. Jika gejala menghilang dengan pemberian PPI dan muncul kembali jika terapi PPI dihentikan, maka diagnosis GERD dapat ditegakkan. Tes dikatakan positif, apabila terjadi perbaikan klinis dalam 1 minggu sebanyak lebih dari 50%. Dalam sebuah studi metaanalisis, PPI test dinyatakan memiliki sensitivitas sebesar 80% dan spesifitas sebesar 74% untuk penegakan diagnosis pada pasien GERD dengan nyeri dada non kardiak. Hal ini Revisi Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) di Indonesia 12 menggambarkan PPI test dapat dipertimbangkan sebagai strategi yang berguna dan memiliki kemungkinan nilai ekonomis dalam manajemen pasien nyeri dada non kardiak tanpa tanda bahaya yang dicurigai memiliki kelainan esophagusb. EndoskopiPemeriksaan ini merupakan standar baku untuk diagnosis GERD dengan ditemukannya mucosal break di esofagus (esofagitis refluks). Dengan melakukan pemeriksaan endoskopik dapat dinilai perubahan makroskopik dari mukosa esofagus, serta dapat menyingkirkan keadaan patologis lain yang dapat menimbulkan gejala GERD. Jika tidak ditemukan muscosal break pada pemeriksaan endoskopi pasien GERD dengan gejala yang khas, keadaan ini disebut nonerosive reflux disease (NERD). Ditemukannya kelainan esofagitis pada pemeriksaan endoskopi yang dipastikandengan pemeriksaan histopatologi, dapat mengonfirmasi bahwa gejala heartburn atau regurgutasi memang karena GERD.Endoskopi untuk GERD tidak selalu dilakukan pada kunjungan pertama karena diagnosis GERD dapat dibuat berdasarkan gejala dan atau terapi empiris. Peran endoskopi gastrointestinal atas dalam menegakkan diagnosis GERD adalah:Mengonfirmasi keberadaan dan ketiadaan kerusakan esofagus termasuk erosi, ulserasi, striktur, esophagus Barret atau keganasan selain untuk mengeluarkan kelainan gastrointestinal atas lainnya.Mengevaluasi keparahan dari mocusal break menggunakan modifikasi klasifikasi Los Angeles atau klasifikasi Savarry-Miller.Spesimen biopsi diambil ketika ada kecurigaan esophagus Barret atau keganasan.c. Barium EsophagogramGastroesophageal reflux disease (GERD) didefinisikan sebagai gastroesophageal reflux yang mengakibatkan gejala atau cedera pada epitel esofagus. Meskipun manajemen medis GERD telah membaik, dan meningkatnya jumlah prosedur bedah antirefluks laparoskopi adalah sedang dilakukan. Studi barium, endoskopi, manometri, dan pH pemantauan adalah semua komponen integral dari evaluasi pra operasi.Pemeriksaan menelan barium harus memungkinkan evaluasi kritis peristaltik esofagus, keberadaan dan tingkat refluks gastroesofageal, dan komplikasi termasuk esofagitis, striktur, dan Barrett Esophagus. Sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi hernia hiatus dan hernia longitudinal striktur, yang dapat menyebabkan esofagus memendek. Dalam kasus seperti itu, menjadi perlu bagi ahli bedah untuk memasukkan esofagus prosedur perpanjangan sebelum fundoplication; jika tidak, mungkin didapatkan hasil bedah yang buruk. Temuan radiografi postfundoplikasi normal sebagai komplikasi pasca operasi (misalnya, tight wrap, perforasi, abses, complete or partial dehiscence, striktur berulang, hernia berulang, intrathoracic migration of the wrap juga harus dikenali dan dipahami dengan jelas oleh ahli radiologi Mengingat GERD bersifat kronis dan prevalensi GERD simtomatik dan meningkatnya jumlah pasien yang menjalani intervensi bedah, sangat penting bahwa ahli radiologi memahami evaluasi pra dan pasca bedah pasien yang terkena GERDd. HistopatologiMetaplasia lapisan epitel intestinal pada esofagus didiagnosis sebagai Barret Esophagus ketika lokasinya pada esofagus bagian bawah dan bukan di lambung bagian atas. Mukosa esofagus menggambarkan bentuk yang tidak lengkap dari metaplasia intestinal tipe II dan tipe III. Morfologinya akan tampak seperti villiform pattern. Epitelium terdiri dari banyak sel goblet yang tersebar pada sel mucous intermediet. Pada beberapa penelitian menunjukkan kebanyakan Barret Esophagus merupakan campuran antara ketiga jenis mukosa, dimana yang terutama adalah mukosa tipe intestinal.Cara menghindari GERD:Menurunkan berat badan, jika memiliki berat badan yang berlebihBerhenti merokok Menghindari makan dalam porsi besar dan berat di malam hari Menghindari makanan pemicu seperti coklat kafein dan alcoholMakan maksimal 3 jam sebelum tidur Tidak langsung berbaring setelah makanMeninggikan posisi kepal saat berbaringTidak mengenakan pakai an terlalu ketatSebenarnya, setiap orang bisa mengalami gejala asam lambung naik, terutama setelah makan dalam jumlah yang banyak, makan pada larut malam, atau mengonsumsi makanan yang memicu produksi asam lambung. Asam lambung naik baru dikatakan sebagai penyakit jika gejala tersebut muncul paling tidak 2 kali dalam seminggu.Agar tidak menimbulkan komplikasi yang lebih parah, penting untuk mengenali gejala GERD dan lakukan langkah penanganan sejak dini untuk mengatasinya. Namun Anda perlu segera berkonsultasi ke dokter jika gejala GERD terjadi secara terus menerus dan tidak kunjung membaik.PENULIS: AzizEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:Sijabat H, Simadibrata M, Abdullah M, Syam AF. Gastroesophageal reflux disease in obese patients. Indones J Gastroenterol, Hepatol, Dig Endosc. 2008;9(1):1-5.Heaney LG, Conway E, Kelly C, Johnston BT, English C, Stevenson M, et al. Predictors of therapy GERD: outcome of a systematic evaluation protocol. Thorax. 2003;58(7):561-6.Diaz DM, Gibbons TE, Heiss K, Wulkan ML, Ricketts RR, Gold BD. Antireflux outcomes in gastroesophageal reflux disease. Am J Gastroenterol. 2005;100(8):1844-52.
CACAR MONYET
Monkey Pox atau biasanya disebut dengan cacar monyet merupakan salah satu penyakit yang saat ini tengah mendapatkan perhatian dan perbincangan serta viral di tengah masyarakat. Monkey Pox atau cacar monyet disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) yang termasuk genus orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis artinya dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus Ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kango.Penularan Monkey PoxVirus cacar monyet dapat menular ketika seseorang bersentuhan dengan hewan yang terinfeksi virus tersebut, orang yang terinfeksi, atau bahan yang terkontaminasi virus. Virus juga dapat menular melalui plasenta dari ibu hamil ke janin. Virus cacar monyet dapat menyebar dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi,. Virus juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada orang yang terinfeksi atau dengan bahan yang telah menyentuh cairan atau luka tubuh, seperti pakaian atau linen.Cacar monyet juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan luka infeksi, koreng, atau cairan tubuh penderita. Penyakit ini juga dapat menyebar melalui droplet pernapasan Ketika melakukan kontak dengan penderita secara berkepanjangan.Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terinfeksi virus cacar monyet. Sampai sekarang belum diketahui reservoir spesifiknya dan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Walaupun memiliki nama cacar monyet, namun monyet bukanlah reservoir utama.Gejala Monkey PoxPada manusia, gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar air, namun lebih ringan. Gejala dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, Lesi cacar (benjolan berisi air/nanah seluruh tubuh) dan kelelahan. Perbedaan utama antara gejala cacar air dan cacar monyet adalah cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati) sedangkan cacar air tidak. Masa inkubasi cacar monyet biasanya berkisar dari 6 hingga 13 hari tetapi dapat pula 5 hingga 21 hari.Dalam 1 sampai 3 hari (kadang-kadang lebih lama) setelah munculnya demam, penderita akan mengalami ruam, sering dimulai pada wajah kemudian menyebar ke bagian lain dari tubuh.Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2−4 minggu. Di Afrika, cacar monyet telah terbukti menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang yang terinfeksi penyakit tersebut.Pemeriksaan Penunjang Monkey PoxMetode pemeriksaan yang digunakan berdasarkan panduan WHO adalah deteksi material genetika terhadap genus Orthopoxvirus yang dikonfirmasi dengan deteksi spesies monkeypox menggunakan PCR dan/atau sekuensing. Uji serologi dengan ELISA untuk mengetahui kadar antibodi dapat dilakukan untuk penyelidikan lanjut adanya riwayat infeksi atau tujuan epidemiologis lainnya. Penggunaan sekuensing selain untuk kepentingan deteksi, metoda tersebut dapat digunakan untuk tujuan lanjut mengidentifikasi asal usul, epidemiologi, dan karakteristik dari virus tersebut.Secara singkat metode pemeriksaan berdasarkan jenis spesimennya diuraikan pada tabel berikut ini:Pencegahan Monkey PoxAda beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus cacar monyet, yang meliputi :Menghindari kontak langsung dengan hewan yang dapat menjadi reservoir/berkembang biaknya virus (termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi).Menghindari kontak dengan bahan apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit.Memisahkan pasien yang terinfeksi dari orang lain yang mungkin berisiko terinfeksi.Melakukan cuci tangan yang baik dan benar setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi.Menggunakan alat pelindung diri (APD) saat merawat pasien yang terinfeksiMemasak daging dengan benar dan matangPENULIS: Defanny Viendah RamadhaniEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi:https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2793012#:~:text=Monkeypox is a zoonotic virus,with material from monkeypox lesions.https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2022-DON385SE Dirjen P2P no 2752https://upk.kemkes.go.id/new/kemenkes-bersiap-menghadapi-cacar-monyet-Kementerian Kesehatan RI direktorat jenderal dan pengendalian penyakit. 2022. Pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit monkeypox. Kementerian Kesehatan republic Indonesia: Jakarta
Home Service
Loading
Toast Message