Mitos dan Fakta Nyeri Pinggang, Ini Penjelasan dari Dokter
06 November 2025
Nyeri pinggang (low back pain) sering dianggap sebagai masalah “orang tua”, tapi belakangan makin banyak anak muda mengalaminya. Padahal, meski usia muda, nyeri pinggang bisa menjadi pertanda masalah serius dan memiliki konsekuensi jangka panjang jika tidak ditangani dengan benar. Berikut ini kupasan mitos dan fakta terkait nyeri pinggang pada anak muda, berdasarkan penjelasan dokter dan temuan ilmiah.Mengapa Anak Muda Bisa Kena Nyeri Pinggang?Bukan hanya lansia yang rentan terkena nyeri pinggang. Gaya hidup modern dan faktor medis bisa membuat anak muda makin rawan mengalami keluhan ini.Baca Juga: Mitos atau Fakta: Nyeri Sendi Tidak Selalu Karena UsiaFaktor Gaya Hidup ModernGaya hidup modern cenderung membuat orang jadi lebih pasif dan kurang menyadari postur tubuh saat beraktivitas. Anak muda yang duduk terlalu lama, misalnya saat belajar atau bekerja di depan layar, memberi beban terus-menerus pada otot punggung bawah. Pola aktivitas yang tidak seimbang, yakni minim gerak dan minim peregangan, menambah risiko ketegangan otot.Baca Juga: Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Kesehatan Tubuh di Masa MendatangPenggunaan Gadget Berlebihan & Postur BurukPenggunaan gadget seperti ponsel dan laptop dalam jangka panjang sering membuat kita membungkuk atau melengkungkan punggung dengan posisi yang tidak ergonomis. Postur duduk yang buruk ini bisa meningkatkan kekakuan otot punggung bawah dan berkontribusi pada nyeri.Baca Juga: Ketahui Beragam Postur Tubuh Normal Saat BeraktivitasSebuah studi eksperimental menunjukkan bahwa duduk dalam posisi “slump” selama beberapa jam meningkatkan kekakuan otot lumbar. Selain itu, penelitian menggunakan foto dan algoritma machine learning juga menegaskan hubungan antara postur duduk yang salah dan nyeri punggung bawah.Baca Juga: Berikut Cara Perbaiki Postur Tubuh Kembali NormalKurang Aktivitas FisikKurangnya aktivitas fisik juga menjadi pemicu. Studi sistematis pada remaja menunjukkan bahwa risiko nyeri pinggang meningkat baik pada mereka yang sangat tidak aktif maupun yang sangat aktif, hubungan ini bersifat U-shaped. Meski demikian, penelitian jangka panjang pada dewasa muda tidak selalu menunjukkan hubungan kuat antara aktivitas rekreasi dan penurunan nyeri pinggang, menunjukkan bahwa efeknya mungkin bersifat kompleks.Baca Juga: Berikut Beberapa Olahraga Yang Mampu Perbaiki Postur TubuhmuKebiasaan Duduk LamaDuduk dalam waktu lama terutama lebih dari 6 jam per hari terbukti menjadi faktor risiko nyeri pinggang pada anak muda. Penelitian lain pada pekerja kantor menunjukkan bahwa orang dengan nyeri pinggang kronis lebih mungkin memiliki pola duduk yang sangat statis dan jarang mengubah posisi.Penyebab Medis Nyeri Pinggang di Usia MudaSelain gaya hidup, ada faktor medis yang bisa menyebabkan nyeri pinggang pada anak muda dan kadang disalah artikan sebagai “sekadar pegal”.1. Cedera Otot atau LigamenKadang nyeri pinggang berasal dari cedera otot atau ligamen punggung bawah, misalnya karena angkatan beban berlebih, latihan tidak terkontrol, atau trauma ringan yang terakumulasi dari aktivitas sehari-hari. Ketegangan otot ini bisa menimbulkan nyeri lokal tanpa keterlibatan saraf.2. Hernia Nukleus Pulposus (Saraf Kejepit)Hernia atau “cakram herniasi” pada pinggang tak hanya terjadi pada orang tua. Sebuah studi pada remaja dan dewasa muda menemukan bahwa faktor risiko untuk herniasi cakram termasuk postur duduk yang buruk, durasi duduk harian lebih dari 6 jam, serta riwayat cedera punggung.Baca Juga: Cara Atasi Nyeri Saraf Kejepit Tanpa Operasi dengan Pain ClinicStudi MRI juga menunjukkan bahwa kasus herniasi cakram pada remaja bisa memiliki karakteristik berbeda dibanding orang dewasa, dan kadang berhubungan dengan trauma atau aktivitas fisik intens.3. Kelainan Tulang Belakang (Skoliosis, Lordosis)Kelainan postur tulang belakang seperti skoliosis (membengkok ke samping) atau lordosis (lekukan bagian bawah punggung berlebihan) bisa jadi sumber nyeri. Penelitian menunjukkan bahwa pada mahasiswa kedokteran, lordosis lumbar berlebihan dikaitkan dengan nyeri punggung bawah, dan stres psikologis juga berkontribusi.Selain itu, pada orang dengan skoliosis idiopatik, aspek psikologis seperti kecemasan atau citra diri ternyata mempengaruhi tingkat nyeri di masa dewasa. Sebuah studi juga menemukan bahwa pada pasien remaja dengan idiopathic scoliosis, faktor seperti kecemasan dan absensi sekolah/kerja berkorelasi dengan nyeri tinggi.4. Gangguan Organ Internal (Ginjal, Reproduksi)Meskipun lebih jarang, nyeri pinggang bisa berasal dari organ internal seperti ginjal atau sistem reproduksi (misalnya infeksi ginjal atau batu ginjal). Karena sifatnya bisa tidak spesifik, penting untuk mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut jika nyeri disertai gejala lain seperti demam, gangguan kencing, atau nyeri saat berhubungan.5. Faktor Psikologis: Stres & Ketegangan OtotStres emosional dan kecemasan bisa memperburuk atau memicu nyeri pinggang melalui ketegangan otot kronis. Pada remaja atau dewasa muda dengan skoliosis, penelitian menunjukkan bahwa depresi dan citra diri yang buruk saat remaja dapat memprediksi nyeri punggung di kemudian hari.Faktor Risiko Jangka Panjang Jika Tidak DitanganiJika nyeri pinggang pada muda dibiarkan, efeknya bisa bertahan dan memperburuk kualitas hidup di masa depan.1. Nyeri KronisNyeri pinggang yang tidak ditangani bisa menjadi nyeri kronis, yang sulit disembuhkan dan berdampak pada kualitas hidup. Degenerasi cakram atau herniasi yang berulang bisa muncul jika pemicu awal tidak diperbaiki.Baca Juga: Pain Clinic: Pendekatan Holistik untuk Nyeri Kronis2. Penurunan Mobilitas & ProduktivitasNyeri berkepanjangan dapat membatasi gerakan, membuat aktivitas sehari-hari menjadi sulit, mengurangi fleksibilitas, dan akhirnya menurunkan produktivitas di sekolah atau kerja. Rasa sakit yang terus-menerus juga bisa menyebabkan seseorang menarik diri dari kegiatan fisik yang sehat.Baca Juga: Cara Mengatasi Nyeri Leher dan Pundak3. Risiko Kerusakan SarafPada kasus herniasi cakram, tekanan pada saraf bisa menyebabkan radikulopati (nyeri menjalar ke kaki), mati rasa, atau kelemahan otot. Jika tidak ditangani, ini bisa berdampak permanen atau memerlukan intervensi medis yang lebih invasif.4. Masalah Postur & Tulang Belakang di Masa DepanKelainan postur seperti lordosis atau skoliosis bisa memburuk tanpa intervensi, menyebabkan deformitas lebih serius, nyeri berulang, dan potensi komplikasi seperti masalah struktur tulang belakang. Ditambah lagi, stres otot kronis dari kebiasaan buruk bisa mempercepat degenerasi spinal.Kebiasaan yang Harus DihindariUntuk mencegah nyeri pinggang pada usia muda, penting sekali mengenali kebiasaan sehari-hari yang justru bisa memperparah risiko. Berikut beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari agar punggung bawah tetap sehat.Duduk Membungkuk atau Tanpa PenyanggaPostur duduk yang buruk misalnya membungkuk atau tidak menggunakan penyangga punggung memberi tekanan berlebih pada struktur tulang belakang dan otot lumbar. Penelitian menemukan hubungan signifikan antara posisi duduk pada laptop dan keluhan nyeri punggung bawah. Duduk lama dalam posisi tidak ergonomis dapat menyebabkan ketegangan otot dan degenerasi jaringan penyangga punggung.Jarang BerolahragaKurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor gaya hidup yang dikaitkan dengan nyeri pinggang. Dalam studi pada remaja, bukti menunjukkan hubungan “U-shaped” antara aktivitas fisik dan risiko nyeri punggung bawah: baik sangat rendah maupun sangat tinggi aktivitas bisa meningkatkan risiko, sedangkan aktivitas moderat tampak protektif.Baca Juga: Mengapa Olahraga Penting Bagi Kesehatan Tubuh? Ini Alasannya!Sering Mengangkat Beban dengan Cara yang SalahMengangkat beban dengan postur tubuh yang salah (misalnya membungkuk tanpa melibatkan lutut) dapat memberikan tekanan besar pada tulang belakang bagian bawah. Secara biomekanik, cara mengangkat yang buruk meningkatkan beban lumbal dan risiko cedera struktur punggung.Meskipun pesan “angkat dengan jongkok” banyak dianjurkan, riset menunjukkan bahwa strategi angkat yang ideal bisa lebih kompleks dan tergantung tubuh seseorang; namun tetap sangat penting memperhatikan posisi punggung agar tidak terlalu melengkung.Tidur Tanpa Dukungan Tulang Punggung yang BaikMemilih kasur atau bantal yang tidak mendukung kontur alami tulang belakang bisa membuat punggung bawah “jatuh” ke posisi yang tidak fisiologis. Posisi tidur seperti ini dapat menyebabkan otot penahan punggung bekerja berlebihan saat malam, dan memicu nyeri.Beberapa orang tidur miring atau tengkurap tanpa pertimbangan postur, yang bisa memberi tekanan asimetris ke tulang belakang dan otot punggung bawah. Tanpa dukungan yang tepat, struktur spinal (seperti cakram) mungkin mengalami stres berulang yang seiring waktu bisa menyebabkan masalah.Cara Mencegah Nyeri Pinggang di Usia MudaMencegah nyeri pinggang di masa muda tidak selalu rumit; dengan kebiasaan yang tepat dan perhatian terhadap postur, kamu bisa mengurangi risiko besar. Berikut beberapa strategi efektif:1. Perbaiki Postur Duduk & BerdiriUsahakan duduk dengan punggung tegak, bahu rileks, dan kedua kaki menyentuh lantai atau pijakan kaki, posisi ini membantu mendistribusikan beban tubuh secara seimbang.Ketika berdiri, cobalah menjaga posisi tulang belakang netral dan hindari membungkuk atau mengunci lutut terlalu lama. Gunakan pengingat atau istirahat singkat untuk mengecek postur selama bekerja atau belajar misalnya setiap 30 sampai 60 menit.2. Lakukan Peregangan & Aktivitas Fisik Secara RutinSisihkan waktu harian atau beberapa kali seminggu untuk peregangan otot punggung, inti (core), dan pinggul ini membantu menjaga fleksibilitas dan mengurangi kekakuan.Aktivitas fisik yang moderat seperti jalan cepat, berenang, yoga, atau latihan kekuatan ringan terbukti lebih aman dan bermanfaat untuk pencegahan nyeri punggung dibanding aktivitas yang sangat ekstrem atau tidak aktif.3. Gunakan Kursi & Perangkat Kerja ErgonomisPilih kursi dengan sandaran yang mendukung lekukan lumbar dan dapat diatur (tinggi, sudut sandaran) agar sesuai dengan tubuhmu. Pastikan meja kerja dan layar laptop atau monitor berada pada ketinggian yang ideal agar kamu tidak harus menunduk secara berlebihan.4. Jaga Berat Badan IdealMemiliki berat badan yang sehat membantu mengurangi beban ekstra pada punggung bawah dan struktur tulang belakang. Kelebihan berat badan (obesitas) telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko low back pain.5. Batasi Gadget & Atur Posisi Mata Saat Menggunakan LaptopHindari penggunaan ponsel atau laptop dalam waktu lama dengan postur membungkuk atau menunduk, karena ini dapat memberi tekanan berlebih pada punggung bawah dan leher.Saat memakai laptop, posisikan layar agar sejajar mata atau sedikit di bawah agar kamu tidak perlu menunduk keras. Gunakan sandaran punggung dan bantal jika diperlukan,misalnya saat bekerja di sofa. Bantal tersebut untuk mendukung postur yang lebih baik.Baca Juga: Apa Ciri-Ciri Mata Terkena Radiasi HP atau Gadget Lainnya? Begini Solusi LengkapnyaKapan Harus Konsultasi ke Dokter?Tidak semua nyeri pinggang membutuhkan penanganan medis segera, tetapi ada kondisi tertentu yang tidak boleh diabaikan. Mengenali tanda bahaya membantu mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.Nyeri Tidak Membaik Setelah Beberapa HariJika nyeri pinggang tidak membaik setelah 3 sampai 7 hari meski sudah beristirahat, melakukan peregangan ringan, atau menggunakan kompres hangat, ini bisa menjadi tanda ada masalah yang lebih dalam. Kondisi tersebut bisa melibatkan otot, sendi, atau jaringan penunjang tulang belakang. Konsultasi ke dokter penting untuk memastikan penyebab dan menentukan terapi yang tepat.Nyeri Menjalar ke Kaki atau Disertai KebasNyeri pinggang yang menjalar hingga bokong, paha, atau betis dapat menandakan adanya iritasi atau tekanan pada saraf, seperti pada kasus saraf terjepit (HNP). Jika disertai sensasi kebas, kesemutan, atau rasa seperti tersengat listrik, penanganan perlu dilakukan lebih cepat. Kondisi ini berpotensi memburuk bila dibiarkan.Sulit Bergerak atau Ada Kelemahan OtotKesulitan berdiri, berjalan, atau membungkuk yang muncul tiba-tiba adalah sinyal bahwa struktur saraf atau otot sedang mengalami gangguan. Jika disertai kelemahan otot misalnya kaki terasa tidak kuat, ini merupakan tanda bahaya neurologis. Segera cari pertolongan medis untuk mencegah gangguan fungsi permanen.Nyeri Disertai Demam atau Penurunan Berat BadanNyeri pinggang yang muncul bersama demam, mual, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas bisa mengarah pada kondisi infeksi, gangguan ginjal, atau masalah sistemik lain. Tanda ini tidak boleh diabaikan karena dapat mengindikasikan penyakit serius yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.Layanan Pain Point di Klinik Granostic untuk Atasi NyeriKlinik Granostic menyediakan layanan Pain Point yang dirancang khusus untuk menangani berbagai jenis nyeri, termasuk nyeri pinggang pada usia muda maupun dewasa. Melalui pemeriksaan menyeluruh, dokter akan mengidentifikasi sumber nyeri, apakah berasal dari otot, saraf, atau struktur tulang belakang.Terapi yang diberikan bersifat individual dan berbasis bukti medis, mulai dari penanganan non-invasif hingga rekomendasi rehabilitasi. Dengan pendekatan yang terarah, pasien dapat merasakan perbaikan signifikan dan kembali beraktivitas dengan nyaman.Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Lau, K. K. L., Kwan, K. Y. H., Cheung, J. P. Y., Law, K. K. P., & Cheung, K. M. C. (2023). Impact of mental health components on the development of back pain in young adults with adolescent idiopathic scoliosis. European Spine Journal, 32(11), 3970–3978. Diakses 2025.Maharani, A. S., Makkiyah, F. A., Chairani, A., & Bustamani, N. (2025). A study of correlation lumbar lordosis, stress, central adiposity with low back pain in undergraduate medical students. Journal of Korean Neurosurgical Society, 68(5), 578–584. Diakses 2025.Qi, L., Luo, L., Meng, X., Zhang, J., Yu, T., Nie, X., & Liu, Q. (2023). Risk factors for lumbar disc herniation in adolescents and young adults: A case-control study. Frontiers in Surgery, 9, 1009568. Diakses 2025.Costici, E., De Salvatore, S., Oggiano, L., Sessa, S., Curri, C., Ruzzini, L., & Costici, P. F. (2024). The impact of physical activity on adolescent low back pain: A systematic review. Journal of Clinical Medicine, 13(19), 5760. Diakses 2025.Rajkumar, P., & Thakar, S. (2022). Risk factors and clinical profile of low back pain among adults: A cross-sectional study. Diakses 2025.Mazlina, M., & Fairus, M. (2021). Risk Factors of Low Back Pain and Its Relation to Physical Activity Among Adolescents. Biomechanics, 1(2), 253–266. Diakses 2025.Motiei-Langroudi, R., Setzer, M., & Gempt, J. (2024). Lumbar Disc Herniation in Adolescents and Young Adults: Clinical Course and Surgical Outcomes. Diakses 2025.Zapata, A. L., Moraes, A. J., Leone, C., & Doria-Filho, U. (2020). Back pain in adolescents: Prevalence and associated factors. Diakses 2025.

