Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Edukasi Granostic

Pain Clinic: Klinik Nyeri dengan Pendekatan Medis Modern dan Terpercaya
Mengalami nyeri berkepanjangan bisa sangat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup. Tetapi sekarang Anda tidak perlu khawatir atau merasa takut dengan rasa nyeri itu.Ada Pain Clinic yang hadir untuk mengatasi beragam masalah nyeri dengan melakukan pendekatan medis yang terpercaya serta minim invasif. Klinik nyeri ini menjadi rujukan bagi banyak pasien yang membutuhkan penanganan profesional, efektif, dan aman.Apa Itu Pain Clinic?Pain Clinic adalah klinik nyeri modern yang mengintegrasikan teknologi medis terkini dengan pendekatan personal untuk membantu pasien mengatasi berbagai jenis nyeri, baik akut maupun kronik. Fokus utama klinik ini adalah membantu pasien hidup lebih nyaman tanpa ketergantungan obat atau operasi besar.Jenis Nyeri yang Bisa DitanganiAda beberapa jenis nyeri yang bisa ditangani di klinik nyeri:Nyeri Akut dan Nyeri KronikPain Clinic menangani nyeri akut (tiba-tiba dan tajam) maupun kronik (berlangsung lama), termasuk nyeri yang tidak membaik meski sudah minum obat dalam waktu lama.Nyeri Pascabedah dan CederaNyeri setelah operasi atau trauma bisa menghambat pemulihan. Di klinik nyeri Pain Clinic, penanganannya difokuskan agar pasien bisa pulih lebih cepat dan nyaman.Nyeri Akibat Penyakit Penyerta (Termasuk Cancer Pain)Pasien kanker sering mengalami nyeri kompleks. Pain Clinic memiliki pendekatan spesifik untuk mengurangi rasa sakit tanpa memperberat kondisi pasien.Nyeri Saraf KejepitKeluhan seperti kesemutan, nyeri menjalar, hingga lemah otot akibat saraf terjepit bisa diredakan dengan intervensi medis minim invasif.Nyeri Tulang BelakangDiskus hernia, skoliosis, atau degenerasi tulang belakang dapat menyebabkan nyeri terus-menerus. Klinik ini menangani dengan terapi yang disesuaikan kondisi tulang dan saraf.Nyeri Leher dan Kepala (Cervical Gadget Syndrome)Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan nyeri leher, bahu, hingga kepala. Pain Clinic menangani keluhan ini dengan terapi rehabilitatif dan postural.Baca Juga: Cara Antisipasi dan Cegah Nyeri LeherPendekatan Medis Modern dengan Pain ClinicPain Clinic menghadirkan pendekatan medis yang menyeluruh dan berbasis teknologi modern dalam menangani nyeri. Tidak hanya fokus pada menghilangkan rasa sakit, tapi juga mencari akar penyebabnya melalui diagnosis yang akurat. Berikut ini pendekatan pada klinik nyeri yang perlu diketahui:Diagnosis LengkapSetiap kasus nyeri memiliki penyebab yang berbeda, sehingga diperlukan pemeriksaan awal yang mendalam untuk menentukan jenis dan sumber nyeri secara tepat. Pain Clinic memanfaatkan berbagai prosedur diagnostik berbasis teknologi untuk memastikan penanganan dilakukan secara tepat sasaran, seperti:Stress Test: Mengevaluasi kemampuan jantung dalam kondisi aktivitas, penting bagi pasien dengan keluhan nyeri dada atau kelelahan ekstrem.Echocardiography: Melihat kondisi jantung secara real-time untuk menentukan apakah nyeri berasal dari gangguan kardiovaskular.USG: Mendeteksi gangguan jaringan lunak, otot, tendon, atau ligamen yang menyebabkan nyeri muskuloskeletal.Terapi Minim Invasif: RadiofrequencyMerupakan cara pembakaran saraf nyeri dengan memanfaatkan frekuensi radio agar bisa mengurangi rasa sakit meski tanpa melakukan operasi besar.Radiologi Modern: C‑ArmMenggunakan sebuah teknologi pencitraan yang bisa memandu tindakan medis dengan akurat serta real time, sehingga bisa menekan resiko dan lebih efisien.Keunggulan Atasi Nyeri dengan Layanan Pain ClinicMengatasi nyeri tidak selalu harus melalui jalan operasi atau konsumsi obat jangka panjang. Pain Clinic menawarkan solusi yang lebih aman dan nyaman melalui prosedur minim invasif yang dirancang untuk memberikan hasil maksimal dengan risiko minimal. Berikut ini keunggulan yang diberikan Pain Clinic pada pasien:1. Tanpa OperasiPenanganan dilakukan dengan metode intervensi non-bedah, seperti injeksi, ablasi, atau stimulasi saraf. Minim risiko dan waktu pemulihan lebih cepat.2. Pemulihan Lebih CepatKarena prosedurnya minim luka, pasien bisa kembali beraktivitas dalam waktu lebih singkat dibanding operasi konvensional.3. Kualitas Hidup MeningkatPasien jadi memiliki kualitas hidup lebih baik dikarenakan tidak perlu bergantung pada obat. Rasa nyeri bisa dikendalikan secara efektif.Tim Medis Spesialis di Balik Layanan Pain ClinicKesuksesan terapi nyeri di Pain Clinic tidak lepas dari peran tim dokter ahli yang bekerja secara kolaboratif lintas disiplin. Setiap pasien ditangani oleh tenaga medis profesional sesuai spesialisasi nyeri yang dialami, dengan pendekatan individual yang holistik dan berbasis bukti klinis.Dokter Spesialis Penanganan NyeriFokus pada gangguan tulang belakang dan saraf kejepit dan hal lain yg menjadi sumber nyeri.Dokter Spesialis Jantung & Penyakit DalamTim medis yang nanti mengidentifikasi rasa nyeri yang berkaitan dengan organ jantung dan metabolik.Ahli Radiologi IntervensiMelakukan tindakan berbasis pencitraan modern dengan presisi tinggi.Tim Rehabilitasi dan FisioterapiMembantu pemulihan otot, sendi, dan postur tubuh pasien pasca intervensi.Siapa yang Cocok Menjalani Terapi Pain Clinic?Layanan di Pain Clinic dirancang untuk berbagai kalangan pasien yang mengalami keluhan nyeri, baik yang baru muncul maupun yang sudah berlangsung lama. Klinik ini menjadi pilihan ideal bagi mereka yang ingin terbebas dari nyeri secara efektif tanpa harus bergantung pada obat atau menjalani operasi besar. Berikut ini pasien yang ditangani di klinik nyeri:Pasien dengan Nyeri BerkepanjanganTerutama pasien dengan nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidak kunjung reda. Tanpa penanganan yang tepat, nyeri kronik bisa menurunkan kualitas hidup secara signifikan dan berdampak pada kesehatan mental.Mereka yang Tidak Merespons Obat Nyeri BiasaJika konsumsi obat sudah tidak efektif, pendekatan non-farmakologis menjadi pilihan yang lebih bijak. Pain Clinic menyediakan alternatif terapi intervensi yang lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping jangka panjang pada pasien.Pasien yang Ingin Menghindari OperasiAlternatif terbaik bagi yang takut atau tidak memungkinkan menjalani prosedur pembedahan. Teknologi minim invasif di Pain Clinic memungkinkan pasien mendapatkan hasil optimal tanpa harus dirawat inap.Penderita Cancer Pain dan Nyeri PascabedahPerlu penanganan multidisiplin agar tetap bisa menjalani hidup dengan nyaman. Pendekatan terintegrasi ini dirancang untuk meringankan nyeri tanpa mengganggu proses penyembuhan utama pasien.Pentingnya Memilih Klinik Nyeri yang TerpercayaTidak semua nyeri bisa diobati dengan satu metode. Dibutuhkan diagnosis akurat, tim ahli, serta teknologi yang mendukung. Klinik nyeri terpercaya seperti Pain Clinic memastikan Anda mendapatkan semua itu dalam satu tempat.Kenapa Harus Pilih Layanan Pain Clinic GranosticDalam memilih klinik nyeri, penting untuk mempertimbangkan lebih dari sekadar lokasi atau harga. Pain Clinic Granostic menawarkan keunggulan menyeluruh dirancang untuk memberikan penanganan nyeri yang lebih efektif, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien.1. Layanan Medis Terpadu di Satu TempatMulai dari diagnosis hingga terapi, semuanya tersedia tanpa harus pindah-pindah rumah sakit. Hal ini memberikan kenyamanan dan efisiensi waktu bagi pasien dalam menjalani seluruh proses perawatan.2. Ditangani oleh Dokter Ahli BerpengalamanTim multidisiplin dengan rekam jejak medis yang solid di bidangnya masing-masing. Setiap tindakan dilakukan berdasarkan panduan klinis terkini yang terbukti aman dan efektif.3. Teknologi Medis Bertaraf InternasionalMenggunakan peralatan terbaru seperti C-Arm, echocardiography, dan radiofrequency. Teknologi ini memastikan hasil diagnosis lebih akurat dan tindakan medis lebih presisi.4. Pendekatan Personal untuk Setiap PasienSetiap pasien ditangani secara individual sesuai riwayat medis dan kebutuhan spesifiknya. Pendekatan ini membantu menciptakan rencana terapi yang lebih efektif dan berorientasi pada hasil jangka panjang.Tak perlu lagi menahan nyeri berlarut-larut atau bingung harus ke mana. Dengan teknologi medis modern, pendekatan minim invasif, serta tim dokter spesialis yang berpengalaman, Pain Clinic Granostic siap menjadi solusi terbaik bagi Anda yang ingin kembali hidup bebas dari nyeri.Yuk, segera periksakan diri Anda pada Granostic Medical Center. Faster is better, because you are matter. Hubungi tim kami untuk informasi lebih lanjut serta melakukan booking appointment melalui telepon di (021) 5994080 atau WhatsApp di 0822-3090-0900.Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:The Kingsley Clinic. (2025). Radiofrequency Ablation: Minimally Invasive Pain Relief Guide. Diakses 2025.American Academy of Stem Cell and Extractive Medicine (AASEM). (2025). 5 Effective Strategies for C-Arm Pain Management: A Personal Story and Expert Tips. Diakses 2025.ScienceDirect. (2025). Emerging Role of Advanced Imaging in Interventional Pain Procedures. Diakses 2025.Taylor & Francis Online. (2025). Pain Management Journal (IPMT20): About This Journal. Diakses 2025.Jurnal Administrasi Publik, Universitas Brawijaya. (2025). Tentang Jurnal dan Publikasi Ilmiah. Diakses 2025.UCSF Pain Management Center. (2025). Understanding Pain: Types of Pain. Diakses 2025.Thienhaus, O., & Cole, B.E. (2002). Classification of Pain. Diakses 2025.
Tes Penyakit Menular Seksual di Surabaya
Melakukan tes atau skrining penyakit menular seksual sangatlah penting dilakukan, apalagi jika Sobat termasuk aktif secara seksual. Namun dimanakah tempat tes penyakit menular seksual di Surabaya?Penyakit menular seksual (PMS) merupakan kondisi yang sangat umum terjadi. Seperti namanya, PMS merupakan kategori penyakit yang metode penularannya melalui hubungan seksual. Contohnya HIV/AIDS, kondiloma akuminata akibat infeksi HPV, dan banyak lainnya.Kita tidak bisa mengasumsikan diri sendiri tidak terinfeksi hanya karena tidak bergejala. Banyak jenis PMS yang bersifat asimtomatik, sehingga sangat mungkin kita tertular dan mengembangkan PMS tanpa mengetahuinya sama sekali.Selain itu ada banyak alasan lain mengapa tes penyakit menular seksual ini perlu kita lakukan secara berkala. Berikut penjelasan lengkapnya, Sobat!Mengenal Pentingnya Melakukan Tes Penyakit Menular SeksualAda banyak alasan mengapa melakukan tes penyakit menular seksual secara teratur sangat penting dilakukan, misalnya:Deteksi DiniMelansir dari website Very Well Health, banyak penderita PMS tidak memeriksakan dirinya atau terlambat didiagnosa karena mereka tidak mengalami gejala signifikan. Ini karena PMS juga tidak selalu bergejala, sebagai contoh lebih dari 70% perempuan dengan klamidia tidak menunjukkan gejala spesifik.Karena itu dengan melakukan pemeriksaan secara rutin kita dapat mendeteksi dini adanya PMS. Sehingga kita dapat memeroleh perawatan yang tepat sesegera mungkin, yang penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius dan menimbulkan komplikasi.Pencegahan PenularanMelakukan tes PMS juga dapat berperan besar dalam pencegahan penularan. Apalagi kalau Anda suka bergonta-ganti pasangan, yang membuat Anda semakin rentan untuk terinfeksi dan menyebarkan infeksi pada orang lain.Perencanaan KesehatanPemeriksaan PMS juga dapat membantu merancang perencanaan kesehatan yang tepat sesuai gaya hidup, kebutuhan, dan kondisi tubuh Anda. Apalagi prosedur pemeriksaan PMS meliputi konsultasi, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium yang dapat memberikan hasil menyeluruh.Bersama dokter, Anda dapat merancang perencanaan kesehatan yang dipersonalisasikan sesuai dengan kondisi tubuh Anda.Kapan Harus Melakukan Tes PMS?Sebagian besar orang memeriksakan diri mereka ketika mendapati adanya gejala tak biasa pada tubuh mereka. Namun, pada penderita PMS langkah ini kurang tepat, karena banyak jenis PMS yang bersifat asimtomatik. Dalam kondisi ini, seseorang bisa tanpa sadar menularkan infeksi ke pasangannya.Oleh karena itu, penting bagi Anda, Sobat Granostic, untuk mengetahui kapan sebaiknya melakukan tes PMS, meskipun tidak merasakan gejala apa pun. Berikut beberapa kondisi yang sangat direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan PMS:1. Aktif secara seksual, terutama dengan pasangan baru atau berganti-ganti pasanganJika Anda aktif secara seksual, terutama dengan pasangan baru atau memiliki lebih dari satu pasangan seksual, risiko tertular PMS akan meningkat secara signifikan. Ini karena Anda bisa saja terpapar virus atau bakteri dari seseorang yang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi, mengingat banyak PMS seperti klamidia, gonore, dan herpes bisa menular tanpa gejala.Tes PMS secara berkala dapat menjadi bentuk perlindungan, bukan hanya untuk diri Anda, tetapi juga untuk pasangan Anda. Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini, Anda bisa mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas dan memulai pengobatan lebih awal jika dibutuhkan.2. Mengalami gejala seperti luka, gatal, atau nyeri di area genitalGejala seperti luka terbuka, lepuhan, rasa gatal intens, nyeri saat buang air kecil, atau keluarnya cairan tidak normal dari area genital adalah tanda-tanda khas dari beberapa PMS, termasuk herpes, gonore, dan trikomoniasis. Jika Anda mengalami salah satu dari keluhan tersebut, tes PMS sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.Menunda pemeriksaan hanya akan memperbesar risiko komplikasi, termasuk penularan ke pasangan atau perkembangan infeksi ke tahap yang lebih serius. Dengan melakukan tes, Anda bisa memastikan penyebab keluhan tersebut dan mendapat penanganan medis yang sesuai.3. Memiliki riwayat PMS atau pasangan yang terinfeksiJika Anda pernah didiagnosis mengidap PMS, atau memiliki pasangan yang diketahui terinfeksi, maka Anda sangat disarankan untuk rutin melakukan tes PMS lanjutan. Beberapa jenis PMS bisa kambuh kembali (seperti herpes), atau bahkan berisiko menular ulang jika pasangan belum sembuh sepenuhnya.Selain itu, PMS seperti sifilis, HIV, dan hepatitis B atau C bisa berdampak jangka panjang jika tidak ditangani dengan baik. Melakukan tes secara berkala dapat membantu Anda memantau kondisi kesehatan dan mencegah kemungkinan infeksi ulang atau penularan.4. Ingin merencanakan kehamilan atau sedang hamilPemeriksaan PMS menjadi sangat penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan atau dalam masa kehamilan. Beberapa jenis PMS dapat membahayakan janin, termasuk herpes, sifilis, HIV, dan klamidia, yang bisa menular dari ibu ke bayi selama kehamilan atau persalinan.Tes PMS sebelum atau selama kehamilan memungkinkan dokter mendeteksi dan menangani infeksi lebih awal, sehingga risiko komplikasi pada kehamilan dan janin bisa ditekan. Selain itu, ini juga menjadi bentuk tanggung jawab kesehatan bersama bagi pasangan yang ingin membangun keluarga yang sehat.Apakah Herpes Termasuk Penyakit Menular Seksual?Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu Sobat ketahui bahwa ada banyak jenis virus herpes yang berbeda-beda dan tak semuanya ditularkan melalui hubungan seksual. Tiga jenis herpes yang sangat umum ditemukan dalam masyarakat antara lain:Herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1), sering menyebabkan timbulnya luka lepuhan di sekitar mulut (herpes oral).Herpes simplex virus tipe 2 (HSV-2), jenis herpes yang menyebabkan timbulnya luka lepuh di area genital seperti pada penis, vulva, anus, atau selangkangan.Herpes zoster, terjadi karena infeksi virus varicella-zoster, yang juga menjadi penyebab timbulnya penyakit cacar air pada seseorang.HSV-1 dan HSV-2 sangat mudah menular dan tergolong dalam penyakit menular seksual (PMS), karena dapat disebarkan melalui hubungan seks oral maupun vaginal. Sementara itu, herpes zoster tak bisa dikatakan “menular” begitu saja, karena yang disebarkan bukanlah penyakitnya melainkan transmisi virusnya.Virus herpes zoster ini dapat disebarkan pada orang lain melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan luka cacar air. Karenanya, berhubungan intim dengan penderita herpes zoster juga bisa meningkatkan kemungkinan terpapar virus varicella-zoster, karena sentuhan kulit ke luka lepuhan. Virus ini kemudian dapat menjadi reaktif dan menimbulkan gejala cacar air, khususnya jika orang yang tertular tersebut belum pernah mengalami cacar air sebelumnya.Nah, untuk mendeteksi dini infeksi herpes dan mencegah penyebaran virus pada orang terdekat, ada beberapa tes medis yang bisa Anda pertimbangkan untuk dilakukan.Tes Antibodi (IgG dan IgM):Tes antibodi bertujuan untuk mendeteksi respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi herpes. Antibodi IgM biasanya muncul lebih awal saat infeksi baru terjadi, sementara IgG muncul beberapa minggu setelah infeksi dan bisa bertahan seumur hidup. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa menentukan apakah infeksi herpes yang dialami pasien bersifat baru atau sudah lama.Pemeriksaan antibodi dilakukan melalui sampel darah, dan hasilnya cukup informatif meskipun tidak bisa menentukan lokasi pasti dari infeksi (apakah di mulut atau genital). Tes ini sangat berguna bagi orang yang tidak memiliki gejala tetapi ingin tahu apakah mereka pernah terpapar virus herpes.Tes PCR (Polymerase Chain Reaction):Tes PCR bekerja dengan mendeteksi materi genetik (DNA) dari virus herpes secara langsung, sehingga memiliki akurasi tinggi bahkan saat virus hanya sedikit jumlahnya. Tes ini sangat berguna dalam mendiagnosis infeksi aktif, terutama jika luka herpes sedang muncul dan dokter mengambil sampel dari luka tersebut.Selain dari luka, PCR juga bisa dilakukan dari sampel darah, cairan tubuh, atau cairan tulang belakang dalam kasus tertentu. Tes ini sangat sensitif dan merupakan pilihan utama dalam mendeteksi herpes, terutama jika hasil kultur virus atau antibodi tidak memberikan kepastian.Kultur Virus:Kultur virus dilakukan dengan mengambil sampel dari luka aktif dan mencoba menumbuhkan virus di laboratorium. Jika virus tumbuh, maka hasilnya positif. Tes ini biasanya digunakan saat pasien memiliki luka baru yang bisa dijadikan sampel segar, karena virus lebih mudah diidentifikasi pada fase ini.Kultur virus cenderung kurang sensitif dibanding PCR, terutama jika luka sudah mulai sembuh. Namun, jika berhasil, kultur bisa memberikan informasi yang jelas mengenai jenis virus yang menginfeksi, baik HSV-1 atau HSV-2.Prosedur Tes Penyakit Menular Seksual di Granostic SurabayaMenjalani prosedur tes PMS bisa memberikan tekanan dan stres tersendiri bagi pasien. Granostic sangat memahami situasi ini, serta berkomitmen untuk memberikan layanan tes PMS yang tidak hanya efisien dan profesional, namun juga penuh empatik.Berikut ini prosedur tes PMS yang akan Anda lewati bersama tim Granostic Surabaya:Konsultasi Awal: merupakan langkah awal yang meliputi proses wawancara medis dan diskusi bersama dokter. Melalui prosedur ini dokter dapat mengetahui riwayat kesehatan pasien dan keluarganya, gaya hidup, juga bagaimana kemungkinan PMS dapat berkembang pada diri pasien.Pengambilan Sampel: setelah konsultasi awal, dokter dapat merekomendasikan tes lanjutan yang diperlukan sesuai dengan analisis awal kondisi pasien. Sampel yang diambil bisa berupa darah, urin, atau swab dari area yang terinfeksi.Analisis Laboratorium: Sampel diuji untuk mendeteksi keberadaan virus atau antibodi. Pengujian ini juga dilakukan dengan standar operasional yang ketat, menggunakan mesin berteknologi modern, dan dilakukan oleh tenaga medis profesional.Hasil dan Konsultasi Lanjutan: Dokter akan menganalisis dan menjelaskan hasil tes, serta menerangkan langkah selanjutnya atau penanganan yang perlu dilakukan.Vaksin Shingrix untuk Pencegahan Herpes Meskipun herpes zoster tidak serta merta menular dan termasuk dalam PMS, namun virus penyebabnya dapat menyebar pada orang lain dengan sentuhan langsung. Anak-anak dan orang-orang dalam golongan rentan, lebih mudah untuk terinfeksi dan menimbulkan gejala yang lebih parah.Kabar baiknya, terdapat vaksinasi untuk mencegah herpes zoster. Jika Anda terinfeksi dengan herpes zoster, vaksinasi ini dapat melindungi Anda dan keluarga dari infeksi herpes zoster hingga 90 persen. Akan tetapi menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin ini tidak dapat digunakan untuk semua kalangan secara sembarangan. Melainkan sangat efektif untuk individu dengan sistem imun lemah, seperti orang dewasa di atas usia 50 tahun dan anak-anak muda berusia 18 tahun yang mengalami defisiensi imun.Beberapa manfaat melakukan vaksinasi Shingrix antara lain:Mencegah Herpes ZosterVaksinasi ini bisa mencegah herpes zoster atau cacar api, yang terjadi akibat infeksi virus dan menyebabkan ruam kulit yang terasa nyeri serta gatal.Mengurangi Keparahan GejalaJika penularan herpes tidak bisa dihindari, bukan berarti prosedur vaksinasi yang Anda lakukan akan sia-sia. Justru vaksinasi dapat membantu mengurangi keparahan gejala dan mengurangi risiko komplikasi di masa mendatang.Mencegah KomplikasiMelakukan vaksinasi Shingrix juga membantu mencegah komplikasi dari infeksi virus herpes yang dapat berupa nyeri syaraf jangka panjang, radang selaput otak/selaput otak, hingga radang paru dan jenis PMS lainnya.Biaya Tes Penyakit Menular Seksual di SurabayaBiaya tes PMS di Surabaya sangatlah beragam, bergantung jenis tes yang Anda ambil dan dimana Anda melakukannya. Dari rangkuman Granostic, biaya yang perlu Anda siapkan dapat berada pada rentang Rp 400 ribu hingga Rp 1.8 juta.Kabar baiknya, Granostic menghadirkan layanan pemeriksaan PMS yang aman, akurat, dan lengkap untuk Anda. Biaya yang kami tawarkan pun sangatlah kompetitif, karena Anda dapat mengambil paket tes PMS yang sudah terdiri dari berbagai pemeriksaan dan prosedur konsultasi.Biaya paket tes PMS di Granostic Surabaya ini sebesar Rp 1.7 juta hingga Rp 2 jutaan saja, loh! Anda bisa mendapatkan informasi lebih lanjut terkait paket tes PMS lainnya di Granostic dengan langsung menghubungi nomor customer care kami, ya!Efek Samping Tes PMSSebagian besar tes PMS tergolong aman dan tidak menimbulkan efek samping yang serius. Namun, beberapa orang mungkin mengalami sensasi tidak nyaman yang bersifat ringan dan sementara setelah menjalani prosedur pemeriksaan. Efek samping ini umumnya tergantung pada jenis tes yang dilakukan, seperti tes darah, swab, atau pemeriksaan urin.Nyeri atau MemarSetelah menjalani tes darah sebagai bagian dari pemeriksaan PMS, sebagian orang bisa merasakan nyeri ringan atau muncul memar kecil di area bekas tusukan jarum. Ini terjadi karena jarum yang digunakan untuk mengambil darah bisa menekan pembuluh darah kecil di bawah kulit. Biasanya, sensasi ini bersifat sementara dan akan membaik dalam waktu 1–3 hari tanpa pengobatan khusus.Untuk meredakannya, Anda bisa menempelkan kompres dingin pada area yang nyeri atau menghindari aktivitas berat yang melibatkan lengan selama sehari. Bila nyeri berlanjut lebih dari tiga hari atau muncul bengkak tidak biasa, sebaiknya konsultasikan ke tenaga medis.Ketidaknyamanan Pada tes PMS yang melibatkan pengambilan sampel dari area genital, seperti swab serviks atau uretra, sebagian orang bisa merasakan ketidaknyamanan atau sensasi perih ringan. Hal ini disebabkan karena area tersebut cukup sensitif, terutama jika sedang mengalami iritasi atau infeksi.Namun, Anda tidak perlu khawatir. Sensasi ini biasanya hilang dalam beberapa jam hingga satu hari, dan tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang. Tenaga medis yang profesional dan berpengalaman akan memastikan prosedur dilakukan dengan aman, cepat, dan seminimal mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman.Pemeriksaan dan Vaksinasi di Granostic Diagnostic CenterJika Anda sedang mempertimbangkan untuk melakukan tes PMS atau vaksinasi sebagai langkah proteksi diri, Granostic Diagnostic Center hadir sebagai solusi yang tepat dan terpercaya bagi Anda di Surabaya. Kami memahami bahwa isu kesehatan seksual seringkali menjadi hal yang sensitif, karena itu layanan kami dibangun dengan prinsip ramah, profesional, dan empatik.Setiap pemeriksaan dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dan terlatih dalam memberikan pelayanan yang penuh privasi dan kenyamanan. Anda tidak hanya mendapatkan hasil tes yang akurat, tetapi juga edukasi menyeluruh mengenai kondisi dan tindakan lanjutan yang tepat. Baik itu untuk pemeriksaan herpes, HIV, sifilis, klamidia, gonore, atau jenis PMS lainnya, Anda akan didampingi dari awal hingga akhir dengan pendekatan yang personal.Di Granostic, kami juga menggunakan teknologi diagnostik terkini seperti PCR sensitivitas tinggi dan panel imunoserologi yang dapat mendeteksi infeksi dengan presisi. Selain itu, tersedia pula layanan vaksinasi untuk HPV dan Hepatitis B sebagai bagian dari upaya pencegahan infeksi menular seksual yang lebih luas.Jangan menunggu gejala muncul. Yuk, jadwalkan pemeriksaan PMS atau konsultasi kesehatan seksual Anda secara mudah dan cepat melalui sistem booking online Granostic Diagnostic Center. Perlindungan dimulai dari kesadaran, dan Granostic siap menjadi partner Anda dalam menjaga kesehatan dengan penuh empati.Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Apex Medical Professionals. (2024). 5 Important Reasons You Need to Get Tested for STDs. Diakses 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Shingles Vaccines. Diakses 2025.Verywell Health. (2024). Five Reasons Everyone Should Get Tested for STDs. Diakses 2025.Australian Government Department of Health and Aged Care. (2024). Shingles (Herpes Zoster) Immunisation Service. Diakses 2025.GSK Canada. (2024). Shingrix – Shingles Vaccine Information. Diakses 2025.
Kenali Penularan Herpes Tanpa Gejala yang Wajib Diketahui
Herpes Zoster atau lebih dikenal sebagai cacar ular, merupakan infeksi virus yang disebabkan oleh reaktivasi virus Varicella zoster, virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Meski umumnya Herpes Zoster dikenal karena gejala khas berupa ruam melepuh dan nyeri hebat, tahukah Anda bahwa virus ini juga bisa menular meski tidak menunjukkan gejala yang jelas?Fenomena Herpes Zoster tanpa gejala kerap tidak disadari oleh penderitanya. Virus dapat hidup di dalam tubuh dalam kondisi laten dan tidak menimbulkan tanda-tanda fisik. Namun dalam kondisi tertentu, virus bisa menyebar atau menular kepada orang lain khususnya mereka yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksin.Lalu, bagaimana cara Herpes Zoster bisa menyebar tanpa gejala, dan bagaimana mencegahnya? Berikut penjelasan lengkap dari Granostic.Mengapa Herpes Zoster Bisa Menular Tanpa Gejala?Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus Varicella zoster tidak hilang sepenuhnya dari tubuh. Virus ini tetap berdiam di dalam sistem saraf dan dapat kembali aktif di kemudian hari sebagai Herpes Zoster.Saat berada dalam kondisi laten, virus tidak menyebabkan ruam atau keluhan apa pun. Namun, pada sebagian orang, virus ini bisa mengalami "subklinis reaktivasi", yaitu aktif kembali tanpa menimbulkan gejala yang terlihat secara fisik. Dalam kondisi ini, seseorang berpotensi menyebarkan virus tanpa mengetahui dirinya sebagai pembawa virus aktif.Penularan paling mungkin terjadi pada orang dengan imunitas rendah atau pada individu yang belum memiliki kekebalan terhadap Varicella zoster (misalnya bayi, anak-anak, atau orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air dan belum divaksin).Jenis Penularan Herpes Zoster Tanpa Gejala1. Kontak Langsung dengan Lesi Tak TerlihatPada beberapa kasus, reaktivasi virus terjadi dengan gejala sangat ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Namun, virus tetap bisa keluar melalui kulit atau saluran napas, meskipun tidak tampak jelas. Kontak langsung dengan bagian tubuh yang tampak sehat tapi mengandung virus aktif bisa menyebabkan penularan.2. Partikel Udara dan DropletMeski lebih jarang, pada fase awal atau subklinis, virus Varicella zoster juga dapat menyebar melalui droplet (percikan air liur) atau partikel udara. Risiko ini terutama berlaku di lingkungan tertutup, seperti rumah sakit atau rumah dengan ventilasi buruk.Melansir dari CDC, penyebaran virus penyebab herpes zoster ini juga dapat terjadi ketika seseorang dengan tidak sengaja menghirup virus dari luka lepuhan. Jadi, hindari untuk mengendus atau mencium aroma dari luka herpes atau cacar Anda.3. Kontaminasi BendaMeski jarang, virus juga bisa bertahan di permukaan benda dalam waktu singkat. Kontak dengan benda yang terkena cairan dari luka melepuh yang belum terlihat bisa menjadi media penularan, terutama bagi orang dengan kekebalan tubuh rendah.Siapa yang Paling Rentan Tertular?Meski tidak semudah HSV-1 dan HSV-2, virus penyebab herpes zoster masih dapat disebarkan melalui kontak langsung dengan cairan dari luka ruam yang ditimbulkannya. Risiko penularan juga akan semakin tinggi jika seseorang tersebut termasuk dalam kelompok rentan.Baca Juga: Kenali Perbedaan Antara HSV-1 dan HSV-2Nah, siapa saja yang termasuk dalam kelompok rentan tersebut? Berikut penjelasannya, Sobat!Orang yang Belum Pernah Terkena Cacar AirJika seseorang belum pernah terkena cacar air sebelumnya, dapat diartikan bahwa tubuhnya belum memiliki antibodi untuk melawan virus varicella-zoster. Sehingga ketika terpapar virus herpes untuk pertama kalinya, sistem imun tubuh akan memperlakukannya seperti infeksi baru, yang membuat penularan lebih mudah.Namun, dalam banyak kasus, infeksi virus ini akan membuat penderitanya mengalami cacar air terlebih dahulu, bukan langsung herpes zoster. Menurut CDC, sekali tubuh mengalami cacar air, virus ini dapat menetap di dalam sistem saraf dan aktif kembali di kemudian hari menjadi herpes zoster.Orang yang Belum Menerima Vaksin Varicella atau ShingrixPeranan vaksinasi sangatlah penting dalam pencegahan penularan penyakit, termasuk penyebaran virus Varicella-zoster, yang juga menjadi penyebab cacar air dan herpes zoster. Vaksin varicella merupakan jenis vaksinasi untuk mencegah cacar air, uag umumnya diberikan pada anak-anak. Sementara vaksin shingriz diberikan pada orang dewasa dan anak-anak muda dengan daya tahan tubuh lemah karena kondisi medis tertentu.Lansia Berusia 50 Tahun atau LebihLansia juga termasuk kelompok orang yang rentan tertular virus herpes zoster, karena daya tahan tubuh mereka yang menurun secara alami. Melansir dari CDC, orang-orang yang berusia lebih dari 50 tahun pun sangat direkomendasikan untuk mendapatkan vaksinasi shingrix.Vaksinasi ini tak hanya dapat mencegah penularan, namun dapat meminimalisir gejala yang ditimbulkan saat kekambuhan atau ketika virus kembali aktif. Juga mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.Pasien dengan ImunokompromiPada orang-orang yang memiliki kondisi imunokompromi, juga termasuk dalam kelompok yang rentan tertular virus herpes zoster. Sebab kondisi ini menyebabkan sistem imun tubuh melemah dan tidak dapat bekerja secara normal dalam melawan infeksi penyakit.Imunokompromi sering dialami oleh pasien HIV/AIDS, kanker, atau pasien yang sedang mengalami pengobatan imunosupresif. CDC juga menekankan bahawa kelompok ini harus mendapatkan perhatian khusus dalam pencegahan, termasuk melalui vaksinasi Shingrix bila memungkinkan.Tenaga Medis yang Merawat Pasien Herpes ZosterMereka yang bekerja di bidang kesehatan, terutama yang sering merawat pasien dengan ruam aktif herpes zoster, juga memiliki risiko lebih tinggi tertular, terutama jika belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan luka lepuh atau cairan dari kulit pasien yang terinfeksi.Meski umumnya tenaga medis sudah terlindungi oleh prosedur standar (seperti menggunakan sarung tangan dan APD), namun risiko tetap ada. Sobat yang bekerja sebagai tenaga medis juga disarankan untuk mendapatkan vaksinasi jika mereka belum memiliki kekebalan terhadap varicella-zoster. Tujuannya tentu agar tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga pasien lain yang sedang mereka rawat, khususnya pasien dengan sistem kekebalan lemah.Herpes Zoster Tanpa Gejala: Bahaya yang TerlupakanKarena tidak menunjukkan gejala fisik, banyak penderita tidak menyadari bahwa dirinya bisa menjadi sumber penularan. Ini bisa sangat berisiko bagi orang-orang di sekitar yang belum memiliki kekebalan terhadap Varicella zoster.Bahkan ketika gejala Herpes Zoster tidak tampak, risiko komplikasi jangka panjang seperti neuralgia pascaherpes (PHN) tetap bisa muncul. Ini adalah kondisi nyeri saraf yang berlangsung berbulan-bulan setelah infeksi utama mereda.Cara Mencegah Penularan Herpes Zoster Tanpa Gejala1. Vaksinasi ShingrixVaksin Shingrix adalah cara paling efektif untuk mencegah Herpes Zoster dan komplikasinya, termasuk pada orang yang tidak menunjukkan gejala. CDC juga menyebutkan bahwa vaksinasi ini dapat membantu melindungi masyarakat dan lansia dari infeksi virus herpes zoster hingga 90% lebih.Lebih lanjut, CDC juga menekankan bahwa vaksinasi Shingrix sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang termasuk dalam kelompok rentan, misalnya:Orang usia 50 tahun ke atasOrang usia 18 tahun ke atas dengan imunitas lemahVaksin ini tidak hanya mencegah gejala klinis, tapi juga mengurangi kemungkinan reaktivasi virus secara diam-diam.2. Edukasi dan KesadaranSelain vaksinasi, edukasi dan menumbuhkan kesadaran mengenai herpes zoster juga dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif. Ini karena banyak orang yang masih menganggap herpes zoster tidak menular dan meremehkan gejala yang ditimbulkannya. Terlebih, pada beberapa kasus, herpes zoster dapat terjadi tanpa gejala fisik.Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat juga akan memiliki kesadaran untuk melindungi diri mereka dan menghentikan penularan herpes ke orang-orang di sekitarnya.3. Hindari Kontak dengan Individu RentanJika Anda pernah mengalami cacar air atau memiliki riwayat herpes zoster, hindarilah kontak langsung dengan bayi, ibu hamil, atau penderita imunodefisiensi, bahkan saat Anda merasa sehat. Ini karena virus herpes zoster dapat menular lewat cairan dari luka ruam yang Anda alami. Misalnya ketika anak-anak tak sengaja menyentuh atau menggaruk luka tersebut, yang menjadikan lepuhan terpecah dan cairan tertempel pada tangan mereka.Meski tak serta merta menimbulkan herpes zoster, virus ini dapat memicu cacar air pada anak-anak dan orang-orang yang belum pernah mengalaminya. Yang kemudian, ketika cacar air sembuh, virus tersebut tidak serta merta hilang. Melainkan tinggal di dalam tubuh, tanpa menimbulkan gejala fisik.Pentingnya Pemeriksaan DiniKarena herpes zoster bisa berada dalam tubuh kita dan tidak menimbulkan gejala sama sekali, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk mendeteksi keberadaannya. Granostic Diagnostic Center menyediakan layanan deteksi dini dan konsultasi vaksinasi.Pemeriksaan dini ini menjadi sangat penting bagi kelompok rentan, seperti:Lansia, karena kekebalan tubuhnya yang menurun seiring dengan pertambahan usia dan bisa mengembangkan gejala yang serius ketika tertular virus herpes zoster.Pengidap penyakit kronis, karena biasanya memiliki daya tahan tubuh lebih lemah sebagai akibat dari pengobatan jangka panjang dan penyakit yang kronis.Pasien yang sedang menjalani terapi imunosupresif, kelompok ini sangat rentan terinfeksi karena sistem kekebalan tubuhnya yang melemah dan sulit melawan infeksi penyakit.Layanan pemeriksaan dan deteksi dini herpes zoster di Granostic meliputi:Tes Antibodi Varicella-Zoster (VZV):Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah tubuh Anda memiliki kekebalan terhadap virus varicella-zoster, dengan mendeteksi keberadaan antibodi VZV dalam darah Anda. Antibodi ini akan terbentuk dalam tubuh jika Anda sudah pernah mengalami cacar air sebelumnya, atau setelah Anda melakukan vaksinasi.Tes PCR:Pada kasus penularan tanpa gejala, dokter dapat menyarankan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi adanya reaktivasi virus varicella-zoster dalam tubuh. PCR bekerja dengan cara mencari jejak DNA virus secara langsung dari sampel, biasanya dari darah, cairan dari lepuh kulit, atau cairan serebrospinal pada kasus yang lebih berat.Kedua prosedur deteksi dini ini dilakukan dengan mengikuti standar operasional yang ditetapkan. Juga diawasi oleh dokter dan tenaga medis berpengalaman, sehingga prosedurnya akan berjalan aman dan efisien.Hasil dari pemeriksaan ini pun dapat Anda peroleh dalam waktu relatif cepat, serta dapat dengan mudah Anda akses melalui aplikasi atau website resmi Granostic.Konsultasi Vaksin dan Dokter di Granostic Diagnostic CenterSetelah menyimak bagaimana peluang dan cara penularan herpes meski tidak bergejala di atas, Anda mungkin masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab dengan baik. Misalnya terkait keamanan vaksin, dosis, dan edukasi lengkap lainnya tentang pencegahan penularan herpes.Kekhawatiran ini dapat Anda atasi dengan berkonsultasi dan memeriksakan kesehatan secara rutin bersama dokter di Granostic Diagnostic Center Surabaya. Bersama tim medis kami, Anda dapat menjalani proses pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh, pelayanan yang ramah, efisien, dan akses informasi kesehatan yang mudah.Untuk melakukan konsultasi vaksin bersama dokter ahli kami, Anda bisa langsung mendaftar secara online lewat chat WhatsApp di bawah ini, ya!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Mehta, S. K., Cohrs, R. J., Schmid, D. S., Gilden, D. H., & Pierson, D. L. (2004). Asymptomatic reactivation and shedding of infectious VZV in astronauts. J Med Virol. Diakses 2025.Papaevangelou, V., et al. (2013). Subclinical VZV reactivation in immunocompetent children in ICU. Clin Microbiol Infect. Diakses 2025.Gilden, D. H., et al. (2010). Virologic evidence of VZV reactivation without rash. Curr Top Microbiol Immunol. Diakses 2025.Rooney, B. V., et al. (2019). Reaktivasi subklinis VZV pada astronaut. Front Microbiol. Diakses 2025.Kennedy, P. G., et al. (2016). Varicella-zoster virus infection: latency & reactivation. Nat Rev Dis Primers. Diakses 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025). About Shingles (Herpes Zoster). Diakses Juni 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Shingles Vaccination. Diakses Juni 2025.
Apa Sih Perbedaan HSV-1 dan HSV-2? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini!
Meskipun dapat menimbulkan ruam yang serupa, HSV-1 dan HSV-2 memiliki karakteristik yang berbeda. Karenanya untuk dapat menerapkan pengobatan dan perawatan yang tepat, Anda perlu mengetahui apa saja perbedaan antara HSV-1 dan HSV-2 pada artikel ini.Sumber: smartypance.comSeperti gambar di atas, virus herpes simpleks tipe 1 dan 2 merupakan dua jenis virus yang sangat menular. Keduanya dapat menyebabkan lepuhan berair pada kulit dan selaput lender mulut, bibir, hidung, alat kelamin, rektum, dan mata.Meski begitu, infeksi HSV-1 dan HSV-2 bisa menimbulkan perbedaan gejala dan tingkat keparahan, yang memerlukan pendekatan perawatan dan pengobatan yang juga berbeda.Lewat artikel ini, Granostic akan membagikan apa saja perbedaan HSV-1 dan HSV-2 yang perlu Sobat ketahui. Simak, ya!Pengertian HSV-1 dan HSV-2HSV-1 (Herpes Simplex Virus tipe 1)Herpes simplex virus tipe 1, HSV-1, merupakan jenis virus herpes simpleks yang banyak menimbulkan lesi oral di sekitar bibir dan mulut, yang juga dikenal dengan luka dingin (cold sores).HSV-2 (Herpes Simplex Virus tipe 2)Sementara itu, Herpes simplex virus tipe 2 atau HSV-2, merupakan jenis virus herpes simpleks yang banyak menginfeksi area genital, yang bisa menimbulkan lesi di sekitar vagina, penis, di sekitar anus, pantat, atau paha.Perbedaan Utama antara HSV-1 dan HSV-21. Lokasi InfeksiHSV-1Umumnya menimbulkan lesi di sekitar bibir dan mulut, namun tidak menutup kemungkinan untuk menyebar ke area genital lewat seks oral.HSV-2Sementara HSV-2 menimbulkan lesi di sekitar area genital, vagina, penis, paha, pantat, dan anus. Akan tetapi lesi herpes genital juga dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain lewat cairan yang keluar dari lesi.2. Cara PenularanHSV-1Penularan dan penyebaran virus herpes dilakukan dengan kontak langsung, baik sentuhan kulit ke kulit maupun lewat cairan tubuh. HSV-1 umumnya disebarkan melalui saliva, meskipun orang tersebut tidak memiliki gejala aktif atau sakit yang disebabkan oleh herpes. Melakukan kontak dengan orang yang memiliki lesi terbuka juga bisa menularkan virus tersebut, seperti ciuman atau oral seks.Selain itu, HSV-1 juga dapat ditularkan melalui kontak dengan objek yang terkontaminasi seperti minuman atau pisau cukur. Meski demikian, metode penularan ini sangatlah kecil terjadi.HSV-2Penyebaran dan penularan HSV-2 pun sama, namun karena utamanya virus ini dapat menimbulkan lepuhan di area genital, maka penularannya pun banyaknya terjadi lewat hubungan seksual. Namun herpes genital ini juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama proses persalinan.3. GejalaHSV-1Gejala infeksi herpes oral biasanya muncul dalam waktu satu hingga tiga minggu dari pertama terinfeksi, berikut penjelasannya:Sebelum Anda menyadari adanya luka, Anda dapat merasa sangat lelah, kehilangan nafsu makan, bahkan mengalami demam ringan.Gejala awal biasanya berupa luka lepuhan yang dapat muncul di gusi, bibir, mulut, atau tenggorokan.Beberapa orang bahkan dapat mengalami sakit tenggorokan.Gejala biasanya dapat bertahan hingga 3 minggu sebelum benar-benar mereda.HSV-2Sementara itu pada herpes genital, biasanya gejala akan timbul dalam waktu dua hingga 14 hari dari waktu pertama Anda terinfeksi. Beberapa gejala yang menyertainya yakni:Hilangnya nafsu makan, rasa pegal-pegal, dan demam.Kelenjar getah bening terasa nyeri dan sakit saat buang air kecil.Sebelum lepuhan muncul, Anda bisa merasakan sensasi kesemutan, terbakar, atau gatal pada alat kelamin.Lepuhan biasanya bertahan selama 1 hingga 2 minggu, kemudian hilang.4. Menyerang Anak-anak dan DewasaHSV-1HSV-1 dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. Bahkan melansir dari GoodRx.com, jenis infeksi herpes yang paling sering terjadi pada anak disebabkan oleh HSV-1. HSV-2Sementara itu, HSV-2 lebih umum ditemukan pada orang dewasa yang aktif secara seksual. Namun, virus ini bisa ditularkan dari ibu ke bayi melalui proses persalinan.5. Faktor KambuhVirus herpes simpleks dapat hidup dalam waktu yang lama dalam tubuh kita, bahkan meski Anda tidak memiliki gejala apapun setelah infeksi awal. Hal ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.Namun, dari waktu ke waktu, virus ini dapat menjadi aktif dan menimbulkan lepuhan-lepuhan di kulit Anda. Biasanya gejala akan muncul di lokasi yang sama dengan infeksi awal.Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab kekambuhan gejala hepatitis simpleks ini, yakni:StresStres, baik secara fisik maupun emosional, dapat menjadi salah satu faktor kambuhnya herpes. Pada artikel ilmiah di jurnal Brain, Behaviour and Immunity, dikatakan bahwa stress harian, depresi, dan kecemasan menjadi salah satu penyebab kekambuhan herpes genital.Ini terjadi karena stress membuat sistem imun melemah, yang membuka kesempatan bagi virus herpes yang ada dalam tubuh untuk reaktif dan menyebabkan kekambuhan gejala.Sistem Kekebalan Tubuh yang LemahSistem imun yang melemah juga bisa menyebabkan virus herpes dalam tubuh menjadi reaktif dan menimbulkan kekambuhan gejala. Demam atau Penyakit LainDemam atau penyakit lain yang kita alami juga bisa menjadi faktor kambuhnya gejala herpes. Hal ini terjadi karena penyakit dapat membuat, atau berkaitan erat, dengan sistem tubuh kita yang sedang lemah.Misalnya, pada seorang penderita HIV atau penyakit menular seksual lainnya, mereka cenderung mengalami defisiensi sistem imun. Sehingga tubuh pasien HIV akan mengalami pelemahan kemampuan dalam melawan penyakit serta infeksi, termasuk herpes simpleks tersebut.Baca Juga: Kenali Perbedaan HIV dan AIDSPaparan Sinar Matahari BerlebihanMeski HSV-1 sangat umum dialami oleh masyarakat, rupanya tak banyak yang tahu bahwa paparan sinar matahari berlebihan bisa memicu dan memperburuk herpes simpleks, loh. Hal ini terjadi karena sinar ultraviolet dalam paparan matahari dapat mengaktifkan HSV-1 yang sebelumnya telah bersembunyi dalam sel saraf kita, yang kemudian memicu kekambuhan.Tes Diagnostik HSV-1 dan HSV-2Setelah memahami perbedaan antara HSV-1 dan HSV-2, langkah selanjutnya adalah mengetahui bagaimana diagnosis infeksi herpes ditegakkan secara medis. Meskipun gejalanya kadang cukup khas, seperti luka lepuh atau nyeri pada area mulut dan genital, dokter tetap memerlukan konfirmasi dari pemeriksaan laboratorium agar diagnosisnya akurat. Hal ini penting untuk memastikan penanganan yang tepat dan mencegah penularan lebih lanjut.Ada beberapa jenis tes diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus herpes, baik itu HSV-1 maupun HSV-2. Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya.Tes PCR (Polymerase Chain Reaction):Tes PCR merupakan metode yang sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan DNA virus herpes secara langsung. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel dari lesi atau cairan tubuh (seperti darah, cairan genital, atau air liur), lalu diperiksa di laboratorium untuk mencari potongan DNA virus HSV-1 atau HSV-2.Cara kerja tes PCR adalah dengan menggandakan (amplifikasi) materi genetik virus, sehingga walaupun jumlah virus dalam tubuh sangat sedikit, tetap bisa dideteksi. PCR menjadi tes pilihan utama, terutama pada infeksi primer atau pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah, karena hasilnya sangat akurat dan mampu membedakan antara HSV-1 dan HSV-2.Tes Antibodi:Tes antibodi digunakan untuk mendeteksi respons imun tubuh terhadap infeksi herpes, yaitu dengan mencari keberadaan antibodi IgG atau IgM terhadap HSV-1 dan HSV-2 dalam darah. IgM biasanya muncul lebih awal saat infeksi pertama kali terjadi, sementara IgG menunjukkan bahwa seseorang pernah atau sedang terinfeksi virus tersebut.Pemeriksaan ini sangat berguna pada pasien tanpa gejala aktif, misalnya jika seseorang ingin mengetahui apakah dirinya pernah terpapar virus herpes sebelumnya. Meskipun tidak mendeteksi virus secara langsung, tes ini dapat membantu memperkirakan kapan infeksi terjadi, serta menentukan jenis HSV yang menyerang.Kultur Virus:Tes kultur virus dilakukan dengan mengambil sampel langsung dari luka atau lepuhan herpes untuk ditanam di media khusus dan melihat apakah virus akan tumbuh. Jika virus berhasil tumbuh di laboratorium, ini menandakan adanya infeksi aktif.Namun, metode ini cenderung kurang sensitif dibanding PCR, terutama jika lesi sudah mulai mengering atau luka berada di tahap penyembuhan. Meski begitu, kultur virus masih digunakan di beberapa fasilitas laboratorium karena biayanya relatif lebih rendah dan dapat membedakan jenis virus herpes.Pencegahan HSV-1 dan HSV-2Sobat Granostic, walaupun herpes simpleks termasuk infeksi yang umum terjadi, penularannya tetap bisa dicegah dengan beberapa langkah sederhana dan kebiasaan hidup sehat. Pencegahan tidak hanya melindungi diri Anda, tapi juga mencegah penyebaran ke pasangan atau orang-orang di sekitar. Yuk, simak apa saja langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan!1. Hindari Kontak Langsung dengan Luka HerpesSalah satu cara paling efektif mencegah penularan herpes adalah dengan tidak menyentuh luka atau lepuh aktif milik orang lain, termasuk saat berciuman, berhubungan seksual, atau bersentuhan kulit dengan kulit. Virus herpes sangat mudah menular saat luka masih terbuka atau dalam fase aktif.Misalnya, jika seseorang sedang mengalami luka lepuh di mulut (cold sore), sebaiknya hindari ciuman atau kontak kulit langsung. Begitu pula pada herpes genital, aktivitas seksual sebaiknya ditunda hingga luka benar-benar sembuh.2. Gunakan Kondom Saat Berhubungan SeksualPenggunaan kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan HSV-2 secara signifikan, terutama karena virus menyebar melalui kontak langsung dengan kulit atau selaput lendir. Meskipun kondom tidak menutupi seluruh area kulit, penggunaannya tetap memberikan perlindungan tambahan.Penting diingat, herpes bisa menular bahkan saat tidak ada gejala. Oleh karena itu, penggunaan kondom bukan hanya untuk mencegah kehamilan, tetapi juga untuk melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) seperti herpes.3. Hindari Peralatan Makan, Lipstik, atau Barang Pribadi LainnyaVirus herpes bisa menyebar melalui benda yang terkontaminasi air liur atau cairan dari luka. Maka, hindarilah berbagi barang pribadi seperti sendok, garpu, gelas, lipstik, atau handuk dengan orang yang sedang memiliki luka aktif, terutama pada area mulut.Langkah ini sangat penting untuk mencegah penyebaran HSV-1, terutama dalam lingkungan keluarga atau tempat tinggal bersama. Menjaga kebersihan pribadi dan tidak sembarangan menggunakan barang milik orang lain adalah kebiasaan sehat yang sangat membantu.4. Jaga Sistem Kekebalan Tubuh dengan Pola Hidup SehatSistem imun yang kuat dapat mencegah reaktivasi virus herpes yang sudah tertidur (laten) di dalam tubuh. Banyak orang terinfeksi herpes, tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun karena sistem kekebalan tubuh mampu menekannya.Beberapa cara menjaga kekebalan tubuh antara lain:Tidur cukup minimal 7–8 jam sehariKonsumsi makanan bergizi seimbangRutin berolahragaHindari stres berlebihanHindari rokok dan alkoholDengan gaya hidup sehat, tubuh Anda akan lebih siap melawan infeksi dan mengurangi risiko kekambuhan herpes yang bisa memengaruhi kualitas hidup.Penggunaan Vaksin dan Konsultasi Dokter di GranosticSelain melakukan beberapa upaya pencegahan di atas, Anda dapat memaksimalkan perlindungan diri dan keluarga dari infeksi HSV-1 dan HSV-2 melalui vaksinasi serta konsultasi dokter di Granostic Surabaya.Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) vaksinasi herpes adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri Anda dan keluarga dari infeksi virus tersebut. Dikatakan pula bahwa vaksinasi ini terbukti efektif hingga 90 persen.Namun sebelum benar-benar melakukan vaksinasi, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Bersama Granostic, Anda dapat memeroleh pelayanan vaksinasi dan konsultasi ini dalam satu paket.Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, wawancara medis, hingga pemeriksaan lanjutan jika diperlukan. Dengan demikian, dokter dapat memberikan edukasi, analisis, dan rekomendasi pengambilan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan diri dan keluarga Anda.Untuk mendaftar layanan vaksinasi dan konsultasi bersama dokter Granostic Surabaya, Anda dapat langsung hubungi tim kami melalui tombol WhatsApp di bawah ini!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Pathology Tests Explained. (2024). Herpes Simplex Virus 1 and 2. Diakses tahun 2025.Smarty PANCE. (2024). Human Herpes (HHV) – Herpes Simplex Viral Infections. Diakses tahun 2025.Johns Hopkins Medicine. (2024). Herpes (HSV-1 and HSV-2). Diakses tahun 2025.WebMD. (2024). Pain Management for Herpes. Diakses tahun 2025.Verywell Health. (2024). HSV-1 vs. HSV-2: Differences and Similarities. Diakses tahun 2025.GoodRx. (2024). Understanding the Difference Between HSV-1 and HSV-2. Diakses tahun 2025.World Health Organization (WHO). (2024). Herpes Simplex Virus: Fact Sheet. Diakses tahun 2025.Superdrug Online Doctor. (2024). Genital Herpes: Causes. Diakses tahun 2025.FemiClear. (2024). How Does Stress Affect Herpes?. Diakses tahun 2025.Wald, A. et al. (2011). The Effects of Daily Distress and Personality on Genital HSV Shedding and Lesions: A Randomized, Double Blind, Placebo-Controlled Crossover Trial of Acyclovir in HSV-2 Seropositive Women. 5280 Functional Medicine. Diakses tahun 2025.Medical News Today. (2024). Blocking the JNK Pathway Prevents Reactivation of Herpes Simplex Virus. Diakses tahun 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Shingles (Herpes Zoster) Vaccines. Diakses tahun 2025.
Berikut Tips Diet Sehat untuk Penderita NAFLD
Meskipun sering terjadi pada orang dengan obesitas, siapapun bisa mengembangkan Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Apalagi kalau kita tidak menerapkan gaya hidup dan pola makan yang sehat.NAFLD merupakan kondisi di mana terjadi penumpukan lemak di hati, namun tidak disebabkan oleh konsumsi alkohol secara berlebihan. Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius seperti non-alcoholic steatohepatitis (NASH), sirosis hati, hingga kanker hati.Kebanyakan kasus NAFLD dikaitkan dengan kondisi kelebihan berat badan, atau obesitas. Namun, orang yang kurus dengan berat badan normal juga bisa mengembangkan penyakit ini. Salah satunya dikarenakan gaya hidup dan pola makan yang tak sehat.Baca Juga: Apa Ciri-Ciri Obesitas yang Perlu DiwaspadaiDalam artikel ini, Granostic akan menjelaskan rekomendasi makanan yang diperbolehkan dan harus dihindari oleh penderita NAFLD, serta tips pola makan yang tepat. Seperti apa?10 Rekomendasi Makanan yang DiperbolehkanMemilih menu makanan yang sehat dan bergizi tinggi sangatlah penting dalam upaya pencegahan maupun penyembuhan NAFLD. Berikut ini 10 rekomendasi makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh penderita NAFLD:1. Sayuran HijauSayuran hijau selalu menjadi komponen penting dalam diet sehat yang Anda lakukan, utamanya bagi penderita NAFLD. Berbagi komponen dalam sayuran hijau, seperti bayam, dapat membantu mengatasi NAFLD.Melansir dari Healthline, di tahun 2021 sebuah penelitian menemukan bahwa mengonsumsi bayam dapat mengurangi risiko NAFLD. Kemungkinan besar, hal ini dipengaruhi oleh kandungan nitrat dan polifenol yang ada dalam sayuran hijau.2. Ikan Omega-3 Ikan yang tinggi omega-3 seperti salmon, sarden, tuna, dan trout bisa membantu mengurangi inflamasi dan penumpukan lemak di hati. Berbagai penelitian bahkan mengatakan bahwa suplemen omega-3 dapat memberikan manfaat pada penderita NAFLD dengan mengurangi lemak hati, meningkatkan perlindungan kolesterol HDL, dan meminimalisir kadar trigliserida dalam darah.3. Kacang-kacangan Kacang dan kedelai juga menunjukkan tendensi untuk mengurangi risiko NAFLD. Sebuah ulasan ilmiah mengenai diet dan Kesehatan hati menunjukkan bahwa kacang-kacangan tak hanya kaya akan nutrisi. Namun juga mengandung pati resisten yang membantu meningkatkan kesehatan usus.Kacang juga dapat membantu mengurangi inflamasi, resistensi insulin, stress oksidatif, hingga meminimalisir kemungkinan NAFLD.4. Buah-buahanMakanan yang sehat dan direkomendasikan untuk penderita NAFLD adalah buah-buahan. Ini karena buah-buahan mengandung berbagai jenis vitamin dan nutrisi lain, yang dapat membantu meningkatkan Kesehatan tubuh dan pencernaan.Lebih dari itu, buah seperti beri-berian dan jeruk, memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Sehingga dapat meningkatkan kesehatan hati dan mencegah kerusakan lebih lanjut karena stress oksidatif.Namun, konsumsi buah-buahan pada penderita NAFLD juga tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Beberapa buah-buahan seperti pisang, anggur, dan mangga kaya akan fruktosa. Sebab kandungan ini dapat memperburuk kondisi NAFLD.5. Minyak SehatMakanan dengan kandungan minyak sehat juga dapat membantu memaksimalkan proses pemulihan pada pasien NAFLD, misalnya extra virgin olive oil (EVOO). Minyak ini kaya akan lemak tak jenuh tanggal dan memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi EVOO dapat mengurangi penumpukan lemak hati, meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi inflamasi pada hati.6. Kopi Tanpa Gula TambahanMakanan lain yang termasuk dalam menu diet sehat NAFLD adalah kopi tanpa gula tambahan. Melansir dari Mayo Clinic, beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan kopi dapat mengurangi risiko NAFLD dan meminimalisir terjadinya jaringan parut pada hati. Meskipun belum jelas bagaimana kopi dapat membantu dalam pemulihan NAFLD, akan tetapi kandungan dalam kopi tanpa gula dapat membantu mengurangi inflamasi dan memperlambat munculnya jaringan parut.7. Susu Rendah LemakSusu rendah lemak juga termasuk dalam menu diet sehat yang direkomendasikan untuk penderita NAFLD. Melansir dari Heritage Hospitals berbagai penelitian mendukung manfaat susu rendah lemak untuk Kesehatan hati. Khususnya ketika NAFLD baru saja terbentuk, susu dapat mengambil peran yang signifikan.Ini karena susu mengandung protein esensial, vitamin, mineral, dan lemak sehat, yang dapat mendukung fungsi hati dan pemulihan. Di mana kandungan-kandungan ini sangat diperlukan untuk melawan penumpukan lemak hati tingkat pertama.8. Biji-bijian UtuhSelain kacang, biji-bijian utuh juga direkomendasikan untuk masuk dalam menu diet sehat penderita NAFLD. Sebab mengonsumsi biji-bijian juga dapat membantu mengurangi gula darah dan trigliserida pada orang dengan obesitas. Sebagai tambahan, di tahun 2019, penelitian menemukan bahwa diet tinggi kacang-kacangan dan biji-bijian dapat membantu mengurangi kemungkinan NAFLD.9. Teh HijauSelain kopi, teh hijau juga dapat menjadi minuman yang bisa dikonsumsi secara rutin oleh penderia NAFLD. Teh hijau terkenal akan kandungan antioksidannya yang tinggi, sehingga dapat membantu mengurangi inflamasi, melawan radikal bebas, dan mendukung kesehatan organ hati secara umum.Meminumnya dalam suhu yang hangat juga membantu memberikan rasa nyaman dan menenangkan pikiran. Sehingga istirahat jadi lebih berkualitas, mengurangi rasa stres dan kecemasan berlebihan, yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengembangkan NAFLD.10. LegumLegum, juga dikenal dengan kacang-kacangan, dapat menjadi menu diet sehat yang bermanfaat bagi penderita NAFLD. Berbagai penelitian telah menyebutkan bahwa legum dapat membantu mengurangi gula darah dan trigliserida pada orang yang obesitas.10 Makanan yang Harus DihindariSobat Granostic, setelah mengetahui makanan sehat apa saja yang baik untuk penderita NAFLD, penting juga untuk memahami apa saja makanan yang sebaiknya dihindari agar kondisi hati tidak semakin memburuk. Beberapa jenis makanan bisa mempercepat penumpukan lemak di hati, memperparah peradangan, dan mengganggu metabolisme tubuh.Nah, berikut ini adalah 10 makanan yang perlu Anda batasi atau hindari sepenuhnya jika ingin menjaga kesehatan hati dan mencegah perkembangan NAFLD.1. Makanan Tinggi Lemak Jenuh dan TransLemak jenuh dan lemak trans dikenal sebagai musuh besar bagi kesehatan hati. Kedua jenis lemak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL), memperparah resistensi insulin, dan memicu peradangan di hati—semuanya merupakan faktor yang memperburuk NAFLD.Contoh makanan tinggi lemak jenuh dan trans antara lain: gorengan, mentega, margarin padat, keripik dalam kemasan, makanan cepat saji, serta produk roti yang dibuat dengan shortening (seperti donat dan pastry). Menggantinya dengan lemak sehat seperti lemak tak jenuh dari alpukat, ikan, dan minyak zaitun bisa menjadi langkah bijak bagi penderita NAFLD.2. Gula TambahanKonsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat menyebabkan kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk lemak, termasuk di organ hati. Gula, terutama fruktosa, sangat mudah diubah menjadi lemak hati dan memperparah steatosis.Contoh makanan tinggi gula tambahan termasuk minuman manis (teh kemasan, soda, jus kemasan), kue, permen, sereal manis, dan yogurt dengan rasa tambahan. WHO sendiri menyarankan untuk membatasi asupan gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total kebutuhan energi harian, bahkan lebih rendah lagi bagi penderita NAFLD.3. Karbohidrat OlahanKarbohidrat olahan seperti nasi putih, roti putih, mi instan, dan biskuit rendah serat dapat dengan cepat meningkatkan kadar gula darah. Lonjakan glukosa ini merangsang produksi insulin yang pada akhirnya bisa mempercepat penumpukan lemak di hati.Penderita NAFLD disarankan untuk mengganti jenis karbohidrat ini dengan karbohidrat kompleks yang lebih kaya serat, seperti beras merah, oatmeal, roti gandum utuh, atau quinoa. Karbohidrat kompleks lebih lambat diserap tubuh sehingga menjaga kadar gula dan insulin tetap stabil.4. AlkoholMeskipun NAFLD tidak disebabkan oleh konsumsi alkohol, tetap saja alkohol bisa memperburuk kondisi hati. Alkohol merusak sel hati, meningkatkan stres oksidatif, dan mempercepat terjadinya peradangan dan fibrosis, terutama jika hati sudah dalam kondisi berlemak.Bagi penderita NAFLD, menghindari alkohol sepenuhnya adalah pilihan terbaik. Bahkan dalam jumlah kecil, alkohol bisa memperparah kerusakan hati pada orang yang sudah memiliki gangguan fungsi hati.5. Makanan Tinggi GaramAsupan garam berlebih bisa meningkatkan tekanan darah, menahan cairan dalam tubuh, dan memperburuk fungsi organ hati. Selain itu, makanan tinggi garam cenderung diproses dan mengandung bahan tambahan lain yang tak ramah bagi hati.Contoh makanan tinggi garam antara lain: makanan kalengan, sosis, mi instan, keripik, dan makanan beku siap saji. Upayakan untuk membatasi konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram per hari (sekitar satu sendok teh) seperti yang disarankan oleh WHO.6. Daging Merah BerlemakDaging merah tinggi lemak seperti iga sapi, sosis, daging giling berlemak, atau daging olahan lainnya dapat meningkatkan asupan lemak jenuh secara signifikan. Hal ini bisa memicu peradangan di hati dan memperburuk akumulasi lemak.Penderita NAFLD disarankan memilih daging rendah lemak seperti dada ayam tanpa kulit atau mengganti sebagian protein hewani dengan protein nabati seperti tahu, tempe, atau kacang-kacangan.7. Minuman BersodaMinuman bersoda termasuk salah satu penyumbang utama asupan gula tambahan harian. Minuman ini biasanya tinggi kandungan fruktosa, yang sangat cepat diubah menjadi lemak di hati. Selain itu, soda tidak mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.Studi menunjukkan bahwa konsumsi soda secara rutin dapat meningkatkan risiko NAFLD bahkan pada orang yang tidak mengalami obesitas. Maka dari itu, air putih, infused water, atau teh herbal tanpa gula jauh lebih baik untuk menjaga hati tetap sehat.8. Makanan Cepat SajiBurger, ayam goreng cepat saji, kentang goreng, dan pizza termasuk dalam kategori makanan yang sangat tinggi kalori, lemak jenuh, garam, dan sering kali mengandung gula tersembunyi. Kombinasi ini sangat tidak ideal bagi penderita NAFLD.Konsumsi rutin makanan cepat saji telah dikaitkan dengan peningkatan risiko perlemakan hati dan resistensi insulin, bahkan setelah jangka waktu yang singkat. Lebih baik memilih makanan rumahan yang diolah dengan bahan segar dan teknik masak rendah minyak seperti kukus atau panggang.9. Produk OlahanMakanan olahan seperti nugget, kornet, sosis, dan makanan beku sering kali mengandung lemak trans, natrium tinggi, serta pengawet dan pewarna buatan yang tidak baik bagi fungsi hati.Kandungan bahan kimia dan lemak tersembunyi dalam produk olahan dapat menambah beban kerja hati dalam memetabolisme zat-zat tersebut. Mengurangi konsumsi makanan olahan dapat membantu menurunkan peradangan hati secara signifikan.10. Camilan Manis dan AsinCamilan seperti keripik, cokelat, permen, biskuit manis, dan kue kering mungkin tampak sepele, tapi bisa menyumbang kalori kosong yang berlebihan tanpa memberi nutrisi berarti. Camilan ini umumnya tinggi gula, garam, dan lemak jenuh kombinasi yang sangat berisiko bagi penderita NAFLD.Untuk alternatif yang lebih sehat, penderita NAFLD bisa mencoba camilan seperti kacang almond tanpa garam, buah potong, atau yogurt rendah lemak tanpa gula tambahan.Contoh Pola Makan yang DirekomendasikanSetelah menyimak apa saja jenis makanan yang direkomendasikan untuk penderita NAFLD serta apa saja yang perlu dihindari, selanjutnya Anda perlu menerapkan pola makan yang teratur dan seimbang.Berikut ini Granostic akan memberikan contoh pola makan yang direkomendasikan untuk penderita NAFLD:Sarapan:Pada waktu sarapan Anda bisa menyajikan menu yang seimbang antara serat, karbohidrat, dan protein. Misalnya, 240 ml oatmeal hangat yang dicampur dengan dua sendok teh mentega almond, biji chia/selasih, dan 1 cangkir mixed berries. Maksimalkan makanan sarat nutrisi ini dengan satu cangkir kopi hitam atau teh hijau.Makan Siang:Sementara di siang hari Anda dapat mengombinasikan makanan yang lebih berat dan berenergi, untuk membuat Anda lebih bersemangat. Misalnya dengan menyajikan salad bayam dengan cuka balsamic dan minyak zaitun. Tiga ons ayam panggang tanpa garam (tidak berlebihan), satu kentang panggang kecil, satu brokoli, wortel, atau sayuran lain yang telah dimasak.Cemilan Sore:Sebagai cemilan sore, Anda dapat memadukan buah apel, pir, atau buah dengan tekstur padat lainnya, lalu kombinasikan dengan selai kacang atau hummus. Anda bisa memilih kombinasi paling ideal sesuai dengan selera Anda.Makan Malam:Untuk makan malam, Anda bisa kembali menghadirkan menu yang seimbang. Misalnya dengan membuat salad, salmon panggang, sayuran hijau yang telah direbus, dan buah-buahan sebagai penutupnya.Camilan Malam:Sebagai camilan, Anda dapat memilih buah-buahan segar yang dapat memberikan asupan cairan, rasa manis yang menyegarkan, hingga berbagai vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Contohnya semangka, pisang, melon, dan alpukat.Buah-buahan juga tidak akan membuat Anda terlalu kenyang, serta cenderung lebih mudah dicerna. Sehingga aman untuk dimakan di malam hari, namun hindari nyemil terlalu dekat dengan jam tidur, ya, Sobat.Baca Juga: Contoh Menu Diet untuk Penderita HipertensiKonsultasi Diet NAFLD di GranosticPoin utama dalam pengobatan NAFLD terletak pada perubahan gaya hidup, seperti lebih aktif dan mengubah menu makan agar lebih sehat. Jika Anda merasa kesulitan menentukan rencana diet NAFLD sendiri, berkonsultasi dengan dokter atau spesialis bisa menjadi pilihan yang tepat untuk Anda.Bagi warga Surabaya dan sekitarnya, Granostic hadir untuk menjawab kebutuhan Anda mengenai layanan konsultasi diet NFLD yang terpercaya. Rencana diet ini akan dipersonalisasikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh Anda.Di mana untuk mencapainya, diperlukan prosedur pemeriksaan kesehatan hati lengkap seperti:Pemeriksaan Laboratorium lengkapAgar bisa memberikan perencanaan diet yang sesuai dengan kebutuhan dan mendukung proses penyembuhan NAFLD Anda, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap. Pemeriksaan ini terdiri dari:Tes darah lengkapTes profil lipidPemeriksaan tekanan darahPemeriksaan fungsi hatiPemeriksaan gula darahdan banyak lainnyaSelain pemeriksaan laboratorium, dokter juga dapat menyarankan Anda untuk melakukan tes pencitraan bila menemukan indikasi masalah medis yang perlu diwaspadai.Konsultasi dengan Dokter SpesialisSetelah pemeriksaan laboratorium, Anda dapat langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk membicarakan soal faktor risiko kesehatan, edukasi pencegahan dan penanganan NAFLD, hingga merencanakan program diet yang tepat bersama.Dokter juga akan memberikan edukasi lengkap seputar NAFLD, dengan demikian Anda dapat menjaga diri dan keluarga lewat menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.Program Manajemen Gaya Hidup Sehat Melalui Granomic LifestyleSelain dua layanan di atas, Granostic juga menghadirkan program Granomic Lifestyle untuk membantu Anda menentukan gaya hidup yang tepat dan mengobati NAFLD. Granomic Lifestyle merupakan serangkaian tes genetik yang dilakukan di laboratorium medis Granostic Surabaya, diawasi dan dilakukan oleh tim medis ahli, juga dilengkapi layanan interpretasi hasil dan konsultasi bersama dokter spesialis.Pemeriksaan ini juga bisa mendeteksi 10 kategori dengan 500++ hasil, loh. Tertarik menggunakan layanan Granomic Lifestyle ini? Langsung hubungi tim Granostic sekarang juga, ya, Sobat!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Granostic Diagnostic Center. (2025). New Service! Granomic Lifestyle. Diakses tahun 2025.Healthline. (2024). Fatty Liver Diet: Foods to Eat and Avoid. Diakses tahun 2025.British Liver Trust. (2024). A Well-Balanced Diet for Liver Health. Diakses tahun 2025.Baylor College of Medicine. (2024). A Guide to What and How to Eat with Non-Alcoholic Fatty Liver Disease. Diakses tahun 2025.Mayo Clinic. (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease: Diagnosis and Treatment. Diakses tahun 2025.Heritage Hospitals. (2024). Is Milk Good for Fatty Liver?. Diakses tahun 2025.Alkhouri, N., et al. (2023). Effect of Dietary Interventions on Non-Alcoholic Fatty Liver Disease: A Review. PMC (PubMed Central). Diakses tahun 2025.
Ini Gaya Hidup Tidak Sehat Pemicu NAFLD pada Orang Kurus
Non-Alcoholic fatty liver disease (NAFLD) selama ini selalu dikaitkan dengan obesitas. Tapi tahukah, Sobat, bahwa orang kurus juga memiliki risiko mengembangkan NAFLD karena gaya hidup yang tidak sehat?Belakangan ini para peneliti mulai meneliti bagaimana NAFLD terjadi pada orang dengan berat badan normal hingga kurus. Berbagai studi mengindikasikan bahwa setidaknya 40% pengidap NAFLD adalah orang-orang non-obesitas dan 20% diantaranya digolongkan sebagai "lean NAFLD" (NAFLD pada orang kurus).Lantas bagaimana dan mengapa orang kurus bisa terkena NAFLD? Mari simak penjelasan lengkap yang telah dirangkumkan Granostic untukmu berikut ini.Mengapa Orang Kurus Bisa Terkena NAFLD?Memahami berbagai penyebab Utama mengapa NAFLD terjadi pada orang kurus adalah Langkah yang krusial. Dengan demikian, kita dapat mengetahui bagaimana pencegahan, perawatan, dan pengobatan yang tepat untuk mengatasi kondisi medis ini.Berikut beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab mengapa lean NAFLD terjadi:Distribusi Lemak VisceralLemak visceral merupakan lemak yang menumpuk dan melekat langsung pada sekitar organ dalam. Lemak ini banyak ditemukan pada rongga perut, yang menempel pada organ seperti pankreas, usus, hingga hati.Tak seperti lemak yang terletak di bawah kulit kita, lemak visceral ini bersifat berbahaya karena dapat menghasilkan zat kimia dan hormone yang meningkatkan risiko berbagai masalah Kesehatan, salah satunya adalah NAFLD.Pada orang kurus distribusi lemak visceral ini juga bisa lebih tinggi daripada orang gemuk. Misalnya, orang kurus tampak lebih ramping karena lemak di Bawah kulit yang sedikit. Namun, lemak visceral (yang berada di perut) bisa tetap tinggi, yang bisa ditandai dengan perut buncit dan sejenisnya. Hal ini membuat orang kurus memiliki risiko yang sama besarnya untuk mengembangkan NAFLD.Gaya Hidup Tidak SehatDistribusi lemak visceral yang terpusat pada perut dan pinggang ini juga dapat terjadi karena gaya hidup yang tak sehat. Melansir dari Global Liver, dikatakan bahwa diet tak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan mengonsumsi produk tinggi gula dan kolesterol bisa meningkatkan risiko perkembangan NAFLD pada orang kurus.Faktor Genetik dan MetabolikSelain gaya hidup, orang kurus dapat mengembangkan NAFLD karena faktor genetik dan metabolik. Di mana kedua faktor ini juga memiliki peranan yang sangat besar pada kasus lean NAFLD.Masih dari Global Liver, jika ditinjau dari kelompok etnisnya, orang India Asia yang kurus, non-alkohol, non-diabetes, dan non-perokok, memiliki risiko dua kali lebih tinggi mengembangkan NAFLD. Fenomena ini juga berkaitan dengan status metabolik yang lebih buruk.Faktor Risiko NAFLD pada Orang KurusSelain dari ketiga penyebab utama yang telah disebutkan sebelumnya, orang kurus juga berpotensi besar mengembangkan NAFLD bila mereka memiliki beberapa faktor risiko berikut ini:DislipidemiaDislipidemia adalah kondisi ketika kadar lemak dalam darah seperti kolesterol LDL (jahat), kolesterol HDL (baik), atau trigliserida, yang tidak berada pada level yang sehat. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko NAFLD, bahkan pada orang yang tubuhnya terlihat ramping.Pada orang kurus, dislipidemia seringkali muncul tanpa gejala. Lemak dalam darah yang tinggi akan disimpan dalam berbagai jaringan tubuh, termasuk hati. Jika penumpukan ini terus terjadi, hati bisa mengalami perlemakan meskipun berat badan tidak naik drastis. Menurut jurnal Hepatology, sekitar 20% pasien NAFLD tidak mengalami obesitas, namun memiliki kelainan profil lipid.Oleh karena itu, penting bagi siapa pun, tidak hanya orang dengan kelebihan berat badan, untuk secara rutin memeriksakan kadar kolesterol dan trigliserida mereka.Resistensi InsulinResistensi insulin adalah kondisi ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik, sehingga kadar gula darah cenderung meningkat. Meski lebih umum pada penderita diabetes atau obesitas, resistensi insulin juga bisa terjadi pada orang kurus, terutama jika gaya hidup mereka tidak sehat.Masalahnya, insulin tidak hanya mengatur gula darah. Ia juga memengaruhi bagaimana lemak disimpan dalam tubuh. Ketika insulin tidak bekerja optimal, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak di organ-organ penting seperti hati. Penelitian yang dimuat dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menyebut bahwa resistensi insulin adalah kunci utama dalam perkembangan NAFLD, bahkan tanpa obesitas. Untuk itu, menjaga sensitivitas insulin tetap baik sangat penting, salah satunya dengan pola makan rendah gula dan rutin beraktivitas fisik.HipertensiHipertensi atau tekanan darah tinggi memang lebih dikenal sebagai penyebab stroke dan penyakit jantung. Tapi tahukah Anda bahwa hipertensi juga bisa memperburuk fungsi hati?Baca Juga: Ini Komplikasi Hipertensi yang Sering TerjadiTekanan darah yang tinggi akan menyebabkan stres oksidatif dan peradangan di dalam tubuh, termasuk di organ hati. Peradangan inilah yang kemudian memicu perubahan struktur dan fungsi hati, yang lama-kelamaan bisa menjadi NAFLD. Bahkan pada orang yang tidak mengalami kelebihan berat badan, hipertensi tetap menjadi faktor risiko penting.Menurut NIDDK, penderita hipertensi dua kali lebih berisiko mengalami kerusakan hati akibat penumpukan lemak, dibandingkan mereka yang tekanan darahnya normal. Maka dari itu, penting untuk menjaga tekanan darah tetap stabil, meskipun tubuh Anda tampak sehat di luar.Sindrom MetabolikSindrom metabolik adalah kumpulan dari beberapa kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kelebihan lemak di perut, dan kelainan kadar kolesterol. Bahkan jika Anda hanya memiliki satu atau dua dari komponen tersebut, risiko terkena NAFLD tetap meningkat, meski berat badan Anda termasuk normal.Beberapa orang dengan tubuh kurus ternyata memiliki distribusi lemak yang tidak seimbang, khususnya di area perut (visceral fat). Lemak jenis ini lebih aktif secara metabolik dan sangat berisiko menyebabkan kerusakan hati. World Health Organization (WHO) juga menyebut bahwa lingkar pinggang yang besar adalah indikator risiko metabolik, tak peduli angka berat badan Anda. Maka dari itu, penting untuk memantau kondisi tubuh secara menyeluruh, bukan hanya melihat angka timbangan saja.Kurang TidurKualitas tidur yang buruk ternyata juga bisa berkontribusi terhadap perkembangan NAFLD. Saat tubuh kekurangan tidur, terjadi gangguan pada sistem metabolisme, termasuk metabolisme glukosa dan lemak. Ini bisa menyebabkan resistensi insulin, meningkatkan kadar kortisol, dan memperparah peradangan dalam tubuh.Beberapa studi yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa kurang tidur (kurang dari 6 jam per malam) berkaitan dengan peningkatan risiko NAFLD, bahkan pada orang tanpa obesitas. Apalagi jika pola tidurnya terganggu dalam jangka panjang.Agar tubuh dan hati Anda tetap sehat, usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam, dan hindari begadang atau pola tidur tidak teratur.Mekanisme Terjadinya NAFLD pada Orang KurusSetelah memahami penyebab dan faktor risiko seseorang dengan berat badan normal, bahkan cenderung kurus, mengembangkan NAFLD. Sobat mungkin masih bertanya-tanya, bagaimana kondisi ini bisa terjadi?Pada bagian ini, Granostic akan menjelaskan bagaimana mekanisme terjadinya NAFLD pada orang kurus. Simak, ya!1. Penumpukan Lemak VisceralNAFLD pada orang kurus terjadi karena penumpukan lemak visceral yang berada di area perut, yang juga dapat menimbulkan menumpuknya lemak pada organ hati. Penumpukan ini dapat meningkatkan peradangan dan resistensi insulin, yang kemudian menyebabkan berbagai masalah atau kerusakan hati.2. Disfungsi MitokondriaDisfungsi mitokondria juga memiliki peranan signifikan dalam pengembangan NAFLD. Khususnya dalam meningkatkan stress oksidatif dan defisit energi yang disebabkan oleh masuknya asam lemak berlebihan ke dalam hepatosit. Perubahan ini mengganggu fungsi normal mitokondria, termasuk produksi energi dan mekanisme antioksidan, yang dapat berkontribusi lebih lanjut pada kerusakan hati. 3. Stres OksidatifKetidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan tubuh untuk menetralkannya dengan antioksidan disebut sebagai stress oksidatif. Kondisi ini juga menjadi pemicu dan mendukung perkembangan NAFLD pada orang bertubuh kurus.Sebab ketidakseimbangan ini dapat berpengaruh pada fungsi mitokondria dan endoplasmic reticulum (ER) stress, yang kemudian dapat menyebabkan perkembangan NAFLD ke non-alcoholic steatohepatitis (NASH).4. Peradangan KronisPenumpukan lemak pada hati dapat menimbulkan peradangan kronis, yang kemudian dapat berkembang menjadi NAFLD. Jika peradangan ini tidak ditangani segera, dapat mengembangkan penyakit ke dalam bentuk yang lebih serius.Diagnosis NAFLD pada Orang Kurus1. Pemeriksaan LaboratoriumTes Fungsi HatiTes fungsi hati adalah pemeriksaan darah yang digunakan untuk melihat seberapa baik kinerja hati Anda. Pemeriksaan ini mengukur kadar enzim dan protein tertentu, seperti ALT (alanine aminotransferase), AST (aspartate aminotransferase), dan bilirubin. Jika nilai-nilai ini meningkat, bisa menjadi tanda adanya peradangan atau kerusakan pada sel-sel hati.Bagi orang kurus yang dicurigai mengalami NAFLD, tes ini menjadi langkah awal yang sangat penting. Pasalnya, NAFLD pada orang kurus sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga tes darah menjadi salah satu indikator utama untuk mendeteksi masalah sejak dini. Hasil dari tes ini juga membantu dokter memantau perkembangan penyakit dan menilai respon terhadap pengobatan.Profil LipidTes profil lipid dilakukan untuk memeriksa kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida dalam darah. Ketidakseimbangan kadar lemak darah bisa menjadi faktor pemicu NAFLD, bahkan pada orang yang tidak mengalami obesitas.Banyak kasus NAFLD pada orang kurus terjadi karena mereka memiliki trigliserida tinggi atau kadar HDL yang rendah, meskipun berat badan terlihat normal. Oleh karena itu, pemeriksaan ini penting untuk menilai risiko metabolik yang bisa memperburuk kondisi hati. Dengan mengetahui profil lipid secara lengkap, dokter bisa menyarankan perubahan gaya hidup atau terapi untuk menurunkan risiko komplikasi lebih lanjut.2. Pemeriksaan PencitraanUltrasonografi (USG) AbdomenUSG abdomen adalah salah satu tes pencitraan non-invasif yang sering digunakan untuk mendeteksi adanya penumpukan lemak di hati. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar organ-organ dalam perut, termasuk hati.Bagi orang kurus, USG sangat berguna untuk mendeteksi perubahan struktur hati, terutama ketika hasil tes darah menunjukkan kelainan. Meskipun USG tidak bisa menilai tingkat kerusakan hati secara mendalam, ia cukup efektif untuk memantau progres penyakit dan mendeteksi tanda-tanda awal steatosis (penumpukan lemak).FibroScanFibroScan atau elastografi transient adalah pemeriksaan yang lebih canggih dibanding USG. Alat ini dapat mengukur kekakuan hati dan tingkat perlemakan dengan lebih akurat tanpa perlu pembedahan. Kekakuan hati biasanya meningkat jika ada fibrosis (jaringan parut) akibat NAFLD yang sudah berkembang.Pada orang kurus yang mengalami NAFLD tipe ringan hingga sedang, FibroScan bisa membantu dokter menentukan apakah penyakit sudah berkembang ke tahap lebih serius seperti steatohepatitis atau sirosis. Pemeriksaan ini nyaman, cepat, dan hasilnya bisa langsung digunakan untuk menyusun rencana terapi.3. Biopsi HatiBiopsi hati merupakan prosedur medis di mana sampel kecil jaringan hati diambil menggunakan jarum halus, lalu dianalisis di laboratorium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan jika hasil tes darah dan pencitraan tidak bisa memberikan diagnosis yang pasti, atau jika dokter mencurigai adanya kerusakan hati tingkat lanjut.Pada pasien kurus dengan NAFLD, biopsi sangat penting untuk membedakan antara hati berlemak biasa dan steatohepatitis non-alkohol (NASH), yaitu kondisi yang sudah disertai peradangan dan kerusakan sel hati. Biopsi juga satu-satunya cara yang dapat memastikan sejauh mana jaringan hati mengalami fibrosis atau sirosis.Meski termasuk prosedur invasif, biopsi hati tetap aman jika dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dan bisa memberikan informasi yang sangat akurat untuk menentukan arah pengobatan.Pengobatan NAFLD pada Orang Kurus1. Perubahan Gaya HidupPola Makan SehatGaya hidup memiliki peranan penting dalam perkembangan NAFLD pada orang kurus, apalagi yang berkaitan dengan pola makan. Karena itu, sebagai upaya penyembuhan dan pemulihan NAFLD pada orang kurus, perubahan pola makan yang sehat menjadi langkah yang perlu dilakukan.Anda dapat mulai mengonsumsi makanan yang kaya buah, sayuran, dan makanan dengan protein sehat. Sebaliknya, hindari makanan mengandung gula dan garam yang tinggi, karena keduanya dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan hipertensi yang sangat berkaitan erat dengan NAFLD.Aktivitas FisikMenjadi aktif secara fisik tak hanya sebagai bagian dari upaya pencegahan NAFLD, namun juga dapat membantu pemulihan fungsi hati. Buat target mingguan setidaknya 150 menit per minggunya.Akan tetapi bila Anda sebelumnya tidak olahraga secara teratur, Anda dapat memulainya secara perlahan dan konsultasikan dengan dokter mengenai olahraga yang ideal sesuai kebutuhan Anda.Tidur CukupTidur yang tidak berkualitas dan tidak cukup juga dapat meningkatkan faktor risiko NAFLD pada orang kurus. Karena itu, Anda bisa menjaga durasi tidur yang ideal dan meningkatkan kualitas istirahat malam Anda dengan rutinitas yang menenangkan.2. Pengelolaan Kondisi TerkaitKontrol Gula DarahPengobatan NAFLD juga dapat dilakukan dengan mengontrol kondisi terkait, misalnya diabetes tipe 2. Penyakit ini bisa menyebabkan resistensi insulin yang berperan penting dalam pengembangan NAFLD.Karena itu, sebagai upaya pengobatan Anda dapat mengontrol kadar gula darah secara teratur. Misalnya dengan mengurangi makanan atau minuman manis, menghindari makanan kemasan, juga melakukan pengecekan gula darah secara berkala.Pengelolaan DislipidemiaDislipidemia juga perlu dikelola dengan baik, agar NAFLD juga lebih mudah diatasi. Prosedur ini dapat Anda lakukan bersama dokter, juga disertai dengan berbagai perubahan gaya hidup sehat untuk menjadi lebih baik. Mulai dari mengonsumsi makanan yang sehat, olahraga secara teratur, berhenti merokok, hingga manajemen stress dan melakukan terapi obat-obatan.Kontrol Tekanan DarahTekanan darah tinggi, atau hipertensi, juga sangat berkaitan dengan NAFLD. Karena itu, untuk memaksimalkan proses penyembuhan dan mencegah komplikasi, Anda perlu mengontrol tekanan darah Anda dengan baik. Diet sehat, berolahraga, dan obat-obatan tertentu dapat membantu menjaga tekanan darah Anda dalam angka normal.3. Obat-obatanSobat Granostic, hingga kini belum ada obat-obatan yang secara spesifik dapat mengatasi NAFLD. Sehingga obatan-obatan yang diberikan oleh dokter berpusat pada keluhan yang dirasakan oleh pasien.Akan tetapi Mayo Clinic menyebutkan, bahwa beberapa studi menjelaskan bahwa suplemen atau komponen natural dapat membantu memaksimalkan proses penyembuhan hati dari NAFLD. Misalnya, konsumsi vitamin E yang tinggi antioksidan dapat membantu melindungi hati dengan mengurangi serta menghalau kerusakan akibat radikal bebas.Konsultasi Medis di Granostic Diagnostic Center SurabayaSobat Granostic, setelah membaca uraian di atas, Anda pasti sudah memeroleh jawaban mengapa dan bagaimana orang dengan berat badan normal (bahkan kurus) dapat mengembangkan NAFLD.Sayangnya, kondisi ini tidak mudah terdeteksi secara fisik, bahkan NAFLD juga tidak menunjukkan gejala yang khas. Dengan demikian deteksi dini NAFLD dapat dilakukan lewat melakukan konsultasi dan pemeriksaan medis secara teratur. Soal ini, Granostic Diagnostic Center Surabaya dapat menjadi jawaban untuk Anda, Sobat!Granostic dapat memberikan layanan pemeriksaan terlengkap yang membantu Anda dalam mendeteksi NAFLD sedini mungkin, seperti:Pemeriksaan LaboratoriumProsedur pemeriksaan NAFLD di Granostic dimulai dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, seperti tes darah lengkap, tes profil lipid, tes hipertensi dan diabetes, dan banyak lainnya.USG AbdomenSelain pemeriksaan laboratorium, untuk mendiagnosis NAFLD dilakukan juga tes pencitraan seperti USG abdomen. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk menyimak kondisi organ dalam perut Anda dengan lebih detail.Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit DalamUntuk melengkapi prosedur deteksi dini tersebut, Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Bersama dokter Granostic, Anda dapat mendiskusikan keluhan terkait NAFLD, faktor risiko, dan membuat perencanaan perawatan serta pengobatan yang paling ideal dengan kondisi Anda.Sobat Granostic, bila Anda merasa sehat tapi memiliki faktor risiko seperti kadar kolesterol tinggi, riwayat keluarga penyakit hati, atau kebiasaan pola makan kurang sehat, maka melakukan skrining NAFLD sedini mungkin adalah langkah bijak.Granostic Diagnostic Center Surabaya menyediakan layanan pemeriksaan hati lengkap, mulai dari Tes darah, USG, Biopsi Hati (PA), dengan tenaga medis profesional dan hasil akurat. Pemeriksaan ini bisa menyelamatkan fungsi hati Anda sejak dini.Yuk, jadwalkan pemeriksaan sekarang dan jaga hati tetap sehat bersama Granostic!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Global Liver Institute. (2024). The Quiet Threat of Fatty Liver in Lean Individuals. Diakses 2025.Mayo Clinic. (2024). Nonalcoholic fatty liver disease: Diagnosis and treatment. Diakses 2025.Younossi, Z. M., Golabi, P., de Avila, L., Paik, J. M., Srishord, M., Fukui, N., & Qazi, T. (2020). The global epidemiology of NAFLD and NASH in patients with type 2 diabetes: A systematic review and meta-analysis. Journal of Hepatology, 71(4), 793–801. Diakses 2025.Mayo Clinic. (2024). Understanding lean NAFLD: Results from a population-based study. Diakses 2025.American Gastroenterological Association (AGA). (2024). New Clinical Practice Update: NAFLD Management for Lean Patients. Diakses 2025.
Apa Itu NAFDL? Disini Jawaban Selengkapnya!
Melawan obesitas bukan hanya tentang membuat penampilan Anda menjadi menarik di mata orang lain, tapi juga sangat penting untuk mencegah berbagai masalah kesehatan. Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) adalah salah satunya. Namun tahukah Anda sebenarnya apa itu NAFLD?Disebut juga sebagai perlemakan hati non-alkohol, penyakit ini termasuk sangat umum terjadi pada masyarakat. Bahkan jika tidak mendapat penanganan yang serius dan segera akan berkembang menjadi lebih serius.Karena itu, lewat artikel kali ini, Granostic membagikan berbagai informasi yang perlu Anda ketahui soal NAFLD. Simak, yuk! Pengertian NAFLDSobat Granostic, tahukah Anda bahwa lemak tidak hanya menumpuk di perut atau paha, tapi juga bisa menumpuk di hati? Kondisi ini dikenal sebagai penyakit hati berlemak nonalkohol, atau disingkat NAFLD (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease). Meski namanya mengandung kata “nonalkohol,” penyakit ini bukan disebabkan oleh konsumsi alkohol, melainkan akibat gangguan metabolik dalam tubuh, seperti kelebihan berat badan atau obesitas.Dalam kondisi NAFLD, lemak menumpuk berlebihan di jaringan hati. Ini menyebabkan hati tidak bisa bekerja secara optimal. NAFLD kini menjadi salah satu penyakit hati paling umum di dunia, terutama di negara-negara dengan angka obesitas yang tinggi seperti kawasan Timur Tengah dan negara-negara Barat.NAFLD memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Yang paling ringan disebut sebagai steatosis hati, yaitu kondisi di mana lemak mulai menumpuk di hati tapi belum menyebabkan peradangan serius. Namun, jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi bentuk yang lebih berat, yaitu NASH (Non-Alcoholic Steatohepatitis).Melansir dari Mayo Clinic pada tahap NASH, peradangan dan kerusakan mulai terjadi di jaringan hati akibat penumpukan lemak. Jika dibiarkan terus-menerus, peradangan ini dapat menyebabkan jaringan parut hati (sirosis) bahkan berisiko berkembang menjadi kanker hati. Secara medis, kerusakan akibat NASH bisa mirip dengan kerusakan hati pada orang yang terlalu sering mengonsumsi alkohol, meskipun pasien NASH tidak minum alkohol.Gejala NAFLDNAFLD umumnya tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Namun kondisi ini juga dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut:1. Kelelahan BerlebihNAFLD dapat menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan berlebihan, yang juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor berkaitan dengan fungsi liver dan dampaknya pada produksi energi dalam tubuh.Kelebihan lemak yang menumpuk pada liver dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan. Hal ini berpotensi berdampak pada kemampuan liver untuk memproduksi dan meregulasi energi dengan optimal serta efektif.2. Nyeri atau Ketidaknyamanan di Perut Kanan AtasGejala ini timbul karena liver berada pada lokasi tersebut, yang dapat membengkak akibat penumpukan lemak. Pembengkakan ini dapat memberikan tekanan pada jaringan sekitarnya dan kapsul hati, sehingga menimbulkan rasa nyeri tumpul atau penuh. 3. Penurunan Berat Badan Tanpa SebabNAFLD terkadang dapat menyebabkan penurunan berat badan tiba-tiba, meskipun ini bukan gejala utamanya. Penurunan berat badan ini terjadi akibat perkembangan penyakit menjadi lebih serius, atau karena mereka memiliki lemak liver yang lebih banyak daripada kondisi normalnya.4. Pembesaran HatiGejala umum dari NAFLD selanjutnya adalah pembesaran hati, yang terjadi akibat pembengkakan karena penumpukan lemak pada liver. Kondisi ini juga bisa berkembang dengan menimbulkan peradangan dan kerusakan pada hati.Penyebab NAFLDSetelah menyimak apa saja yang menjadi gejala NAFLD, Sobat Granostic juga perlu mengetahui apa saja faktor yang berperan sebagai penyebabnya utamanya.Penyebab Utama NAFDLObesitasObesitas menjadi salah satu penyebab timbulnya penumpukan lemak pada liver, utamanya jika lemak terpusat pada pinggang. Diabetes tipe 2Diabetes tipe 2 juga sangat berkaitan dengan NAFLD, terutama karena resistensi insulin dan penumpukan lemak di hati. Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes, bersama dengan faktor risiko umum obesitas dan sindrom metabolic, juga berkontribusi pada perkembangan NAFLD.Baca Juga: Pentingnya Cek Gula Darah untuk Hindari DiabetesDislipidemiaDislipidemia, yang juga ditandai dengan kadar lipid darah tak normal, berperan penting dalam perkembangan NAFLD. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memproses dan menyimpan lemak secara efisien. Dengan demikian, kemungkinan penumpukan lemak pada hati juga semakin besar.HipertensiHipertensi dan NAFLD memiliki hubungan yang erat, bahkan sering kali terjadi bersamaan karena mekanisme perkembangannya yang serupa. Ini khususnya timbul ketika resistensi insulin dan peradangan sistemik terjadi. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memperburuk gejala atau perkembangan satu sama lain, yakni NAFLD dapat meningkatkan risiko hipertensi dan begitu sebaliknya.Resistensi InsulinNAFLD juga dapat berkembang karena resistensi insulin, yang bisa terjadi karena diabetes tipe 2. Ini karena, insulin normalnya dapat membantu menekan lipolysis, yakni pemecahan lemak untuk energi. Jadi ketika resisten insulin mengganggu proses ini, akan lebih banyak lemak dilepaskan dari jaringan adiposa dan dikirim ke hati, yang kemudian menyebabkan penumpukan lemak di hati.Faktor Lain yang BerkontribusiPola Makan Tinggi Lemak dan GulaSalah satu penyebab paling umum dari NAFLD adalah kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula tambahan. Lemak yang tidak sehat, terutama dari makanan olahan, gorengan, makanan cepat saji, serta camilan tinggi kalori seperti keripik, donat, dan kue manis, dapat menyebabkan tubuh menyimpan lebih banyak lemak, termasuk di organ hati.Begitu juga dengan gula berlebih, terutama dari minuman manis seperti soda, teh kemasan, atau kopi dengan tambahan sirup, dapat memicu lonjakan kadar glukosa darah. Akibatnya, tubuh mengubah kelebihan gula menjadi lemak yang disimpan di hati. Inilah yang kemudian memicu steatosis hati, atau hati berlemak.Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menerapkan pola makan yang seimbang, seperti memperbanyak sayur, buah, protein tanpa lemak, serta mengurangi makanan tinggi gula dan lemak jenuh.Kurangnya Aktivitas FisikKurangnya bergerak juga berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko NAFLD. Saat tubuh jarang digunakan untuk beraktivitas, maka kalori yang masuk tidak terbakar dengan optimal, sehingga lebih mudah disimpan dalam bentuk lemak, termasuk lemak hati.Tak hanya itu, gaya hidup sedentari (banyak duduk, minim aktivitas fisik) berhubungan erat dengan gangguan metabolik seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Ketiganya merupakan faktor risiko utama dalam perkembangan NAFLD. Aktivitas fisik yang teratur membantu tubuh mengatur kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menurunkan kadar lemak tubuh secara keseluruhan, termasuk lemak yang menumpuk di hati.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu. Jadi, yuk mulai rutin bergerak, misalnya jalan kaki, bersepeda, atau sekadar senam ringan di rumah.GenetikMungkin tak banyak yang menyadari bahwa faktor genetik juga dapat berperan dalam perkembangan NAFLD. Beberapa orang mewarisi gen tertentu yang membuat tubuh mereka lebih rentan menyimpan lemak di hati, bahkan jika berat badan mereka tergolong normal.Salah satu gen yang dikaitkan dengan peningkatan risiko NAFLD adalah PNPLA3. Gen ini memengaruhi cara tubuh menyimpan dan mengatur lemak di hati. Jika seseorang memiliki varian gen ini, maka kemungkinan berkembangnya NAFLD bisa menjadi lebih tinggi, terutama jika diiringi pola hidup tidak sehat.Namun penting diingat, meskipun genetik bisa memengaruhi risiko, gaya hidup tetap menjadi penentu utama. Dengan menerapkan pola makan sehat, rajin bergerak, dan menghindari kebiasaan buruk, risiko terjadinya NAFLD bisa diminimalkan — bahkan pada mereka yang memiliki faktor keturunan.Diagnosis NAFLDKarena umumnya NAFLD tidak menimbulkan gejala yang signifikan, kondisi ini seringnya ditemukan ketika pemeriksaan medis dilakukan untuk masalah kesehatan lainnya sampai merujuk adanya masalah pada hati. Nah, Sobat berikut ini ada beberapa prosedur yang dilakukan untuk mendeteksi NAFLD secara medis, yakni:1. Pemeriksaan LaboratoriumTes Fungsi HatiPemeriksaan laboratorium menjadi salah satu prosedur diagnosis NAFLD, seperti tes fungsi hati. Tes ini dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan hati secara keseluruhan, serta mendeteksi adanya masalah atau gangguan pada organ hati kita. Prosedur tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah dan mengukur kadar zat tertentu yang diproduksi oleh hati kita seperti enzim hati, protein, bilirubin, dan banyak lainnya.Profil LipidSelain tes fungsi hati, pemeriksaan laboratorium lainnya dilakukan untuk mendeteksi NAFLD adalah pemeriksaan profil lipid. Pemeriksaan ini dapat membantu mengukur kadar lemak dalam darah, seperti kolesterol dan trigliserida.2. Imaging (Pencitraan)Ultrasonografi (USG) AbdomenUSG abdominal dilakukan untuk memvisualisasikan kondisi abdomen, yang biasanya digunakan sebagai prosedur awal dalam mendeteksi penyakit hati.FibroScan (Transient Elastography)Prosedur non-invasive ini digunakan untuk menilai kekakuan hati, termasuk pada pasien dengan NAFLD. Teknik ini bekerja dengan mengukur kecepatan gelombang geser yang dihasilkan oleh perangkat dan ditransmisikan melalui hati. MRI atau CT ScanDiagnosis NAFLD juga dapat dilakukan melalui prosedur MRI atau CT Scan. Pemeriksaan ini bekerja sangat baik untuk mendeteksi NAFLD, namun tidak dapat digunakan untuk membedakan antara NAFLD dan NASH.3. Biopsi HatiBiopsi hati merupakan prosedur paling ideal yang digunakan untuk mendeteksi adanya NAFLD. Prosedur ini dilakukan dengan memindahkan sebagian kecil jaringan pada hati menggunakan jarum yang sangat kecil, yang dimasukkan lewat dinding abdomen. Jaringan ini kemudian diteliti di dalam laboratorium, untuk dianalisis keberadaan inflamasi dan luka.Komplikasi NAFLDNAFLD jika tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi lebih serius dan menimbulkan komplikasi, seperti:Steatohepatitis Non-Alkohol (NASH)Non-Alcoholic Steatohepatitis (NASH) merupakan tipe penyakit hati yang ditandai dengan penumpukan lemak di hati, yang disertai dengan peradangan dan kerusakan pada organ tersebut. NAFLD yang tidak diobati sesegera mungkin dapat berkembang menjadi NASH.Fibrosis HatiNAFLD juga dapat memicu fibrosis hati, yakni proses terbentuknya jaringan parut di hati yang kerap disebabkan oleh cedera hati kronis atau peradangan. Kondisi ini dapat terjadi ketika hati mencoba mengurangi peradangan akibat NAFLD dan NASH, proses ini menciptakan jaringan parut.Bersamaan dengan inflamasi yang terus terjadi, fibrosis menyebar pada sebagian besar jaringan hati.Sirosis HatiKomplikasi selanjutnya dari NAFLD adalah sirosis hati, yang timbul karena luka pada hati, seperti kerusakan yang terjadi karena inflamasi. Secara spesifik kondisi ini terjadi ketika hati penderita NAFLD mengalami kerusakan yang parah, pada bagian jaringannya digantikan oleh jaringan parut, sehingga dapat mengganggu jalannya fungsi hati.Kanker Hati (Hepatocellular Carcinoma)Ketika peradangan dan sirosis tidak dirawat dengan tepat sesegera mungkin, maka kondisi ini dapat berkembang ke kanker hati atau Hepatocellular Carcinoma. Jenis kanker hati ini merupakan yang paling umum ditemukan dalam masyarakat, yang timbul dari sel hati bernama hepatosit. Sirosis hati menjadi salah satu penyebab utama berkembangnya kanker ini.Apakah NAFLD Bisa Sembuh?Pada pengertian tradisional, NAFLD tidak dapat sepenuhnya disembuhkan, tetapi dapat diobati dan dipulihkan dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Karena itu, fokus pengobatan dan perawatan yang dianjurkan oleh dokter akan berpusat pada pengurangan lemak di hati, meredakan peradangan, hingga mencegah kerusakan hati lebih lanjut.Anda dapat menyimak apa saja prosedur pengobatan NAFLD yang direkomendasikan oleh dokter berikut ini:Pengobatan NAFLD1. Perubahan Gaya HidupPenurunan Berat BadanMenurunkan berat badan adalah langkah pertama dan paling efektif dalam mengatasi NAFLD. Menurut American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD), menurunkan berat badan sekitar 7–10% dari berat awal dapat secara signifikan mengurangi lemak hati, peradangan, dan bahkan memperbaiki kerusakan sel hati.Tips menurunkan berat badan secara sehat:Hindari diet ekstrem.Fokuslah pada perubahan pola makan jangka panjang.Kurangi asupan kalori secara bertahap.Hindari makanan olahan tinggi lemak jenuh dan gula.Lakukan aktivitas fisik secara konsisten.Pantau kemajuan berat badan dan evaluasi secara berkala.Pola Makan SehatPola makan berperan besar dalam proses pemulihan NAFLD. Diet sehat membantu mengurangi penumpukan lemak di hati dan meningkatkan fungsi hati secara keseluruhan. Salah satu pendekatan yang banyak disarankan adalah Diet Mediterania, yang menekankan konsumsi makanan alami, rendah gula, dan kaya antioksidan. Perbanyak juga konsumsi serat, omega-3, vitamin E, dan air putih, serta batasi makanan tinggi garam dan lemak trans.Aktivitas FisikOlahraga rutin membantu membakar lemak, memperbaiki sensitivitas insulin, dan memperbaiki profil metabolik, semua ini penting dalam mengatasi NAFLD. Anda tidak perlu langsung melakukan olahraga berat. Yang penting adalah konsisten bergerak setiap hari.Contoh aktivitas fisik yang aman dan efektif:Jalan kaki cepat 30 menit per hari.Bersepeda santai.Senam aerobik ringan di rumah.Yoga atau pilates untuk fleksibilitas dan manajemen stres.WHO merekomendasikan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu untuk orang dewasa. Bila Anda memiliki keterbatasan fisik, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memulai program olahraga.2. Pengelolaan Kondisi TerkaitKontrol DiabetesDiabetes tipe 2 dan NAFLD seringkali saling berkaitan. Kadar gula darah yang tidak terkontrol memperburuk penumpukan lemak di hati dan mempercepat kerusakan hati. Maka, menjaga kadar gula darah tetap stabil sangat penting bagi penderita NAFLD.Tips kontrol diabetes yang efektif:Rutin cek gula darah dan HbA1c.Konsumsi makanan indeks glikemik rendah.Minum obat atau insulin sesuai anjuran dokter.Hindari stres dan tidur cukup.Pengelolaan DislipidemiaDislipidemia, yaitu kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal, juga berkontribusi terhadap perkembangan NAFLD. Kadar kolesterol tinggi dapat memperparah perlemakan hati dan memicu peradangan.Kontrol Tekanan DarahHipertensi menjadi faktor risiko tambahan pada pasien NAFLD. Tekanan darah tinggi meningkatkan stres oksidatif dan memperburuk kerusakan sel hati. Karena itu, pengendalian tekanan darah menjadi bagian penting dari pengobatan.3. Obat-obatanHingga saat ini, belum ada obat khusus yang secara langsung disetujui untuk mengobati NAFLD, namun beberapa obat dapat membantu mengelola kondisi yang menyertainya atau memperbaiki gejala.Screening Dini NAFLD di Granostic SurabayaSobat Granostic NAFLD bukanlah kondisi yang bisa diremehkan meskipun seringnya tidak menimbulkan gejala. Justru penyakit hati ini harus mendapatkan penanganan yang segera dan tepat agar tidak berkembang menjadi lebih parah.Karena tidak menunjukkan gejala yang signifikan di awal, pemeriksaan kesehatan secara rutin dan skiring fungsi hati secara teratur dapat mendeteksi dini NAFLD. Kabar baiknya, Granostic juga menyediakan layanan screening dini NAFLD untuk warga Surabaya dan sekitarnya, loh.Ada beberapa prosedur screening dini NAFLD di Granostic Surabaya, seperti:Pemeriksaan LaboratoriumScreening NAFLD dilakukan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium, termasuk tes darah yang terdiri dari:Tes darah lengkap.Pemeriksaan zat besi dalam darah dan sel-sel lainnya.Pemeriksaan enzim hati dan fungsi hati.Tes untuk hepatitis virus.Tes gula darah.Tes hemoglobin A1C, untuk menunjukkan seberapa stabil gula darah Anda.Profil lipid.USG AbdomenSelain pemeriksaan laboratorium, deteksi dini NAFLD di Granostic Surabaya juga dapat dilakukan dengan prosedur USG Abdomen. Prosedur ini dilakukan oleh staf medis ahli kami, juga menggunakan peralatan medis yang canggih dan termutakhir.Tes Fungsi Hati dan Profil LipidDiagnosa dan deteksi dini NAFLD juga dapat dilakukan melalui tes fungsi hati dan profil lipid. Keduanya dapat mendeteksi adanya masalah atau kerusakan hati akibat NAFLD atau NASH, atau masalah kesehatan hati lainnya.Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit DalamTak hanya prosedur pemeriksaannya yang lengkap dan teknologinya yang canggih, Granostic juga menawarkan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Bersama dengan dokter spesialis kami, Anda dapat mengonsultasikan keluhan, gejala, dan rasa khawatir Anda soal NAFLD. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan edukasi lengkap, terkait pengobatan, perawatan mandiri, hingga berbagai perencanaan gaya hidup sehat untuk mengembalikan fungsi hati Anda.Nah, Sobat itu adalah penjelasan lengkap soal apa itu NAFLD yang perlu Anda tahu. Jangan ragu untuk mengunjungi klinik Granostic dan lakukan screening deteksi dini NAFLD bila Anda merasakan gejala-gejala yang merujuk kondisi tersebut.Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Mayo Clinic. (2024). Nonalcoholic fatty liver disease: Diagnosis and treatment. Diakses 2025.National Health Service (NHS). (2024). Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Diakses 2025.American Liver Foundation. (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Diakses 2025.Healthline. (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Diakses 2025.FattyLiver.ca. (2024). Why Does Fatty Liver Cause Fatigue? Diakses 2025.WebMD. (2024). Fatty Liver Disease. Diakses 2025.National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease & NASH. Diakses 2025.
Apa Saja Ciri-Ciri Obesitas yang Perlu Diwaspadai? Disini Selengkapnya
Tahukah Sobat, obesitas tak hanya berhubungan dengan kecantikan atau kosmetika. Lebih dari itu, obesitas juga diartikan sebagai masalah kesehatan yang kompleks dan melibatkan kelebihan berat badan. Namun, tak banyak orang yang mengetahui ciri-ciri obesitas dan dampaknya pada kesehatan mereka.Melansir dari Cleveland Clinic, obesitas digolongkan sebagai masalah medis yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Masalah Kesehatan yang dimaksud misalnya penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit hati, sleep apnea, hingga kanker tertentu.Meski memiliki dampak yang sangat signifikan pada kesehatan, banyak dari kita yang belum bisa mengenali ciri-ciri obesitas dan memahami bagaimana pengaruhnya pada tubuh. Agar tak jadi salah satunya, Anda perlu menyimak penjelasan mengenai ciri-ciri obesitas yang perlu diwaspadai dari Granostic berikut ini!Ciri-Ciri Obesitas yang Perlu DiwaspadaiSobat Granostic, banyak orang mengira obesitas hanya soal “berat badan naik”. Padahal, kondisi ini lebih kompleks dan bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan jantung.Sayangnya, tidak sedikit yang tidak menyadari bahwa tubuhnya sudah masuk kategori obesitas. Maka dari itu, penting untuk mengenali sejak dini ciri-ciri obesitas yang patut diwaspadai. Yuk, simak bersama!1. Indeks Massa Tubuh (IMT) TinggiIndeks Massa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara paling umum untuk menentukan apakah berat badan seseorang tergolong sehat. IMT dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus:IMT = Berat badan (kg) / (Tinggi badan dalam meter)^2Menurut World Health Organization (WHO), nilai IMT dapat mengelompokkan kondisi tubuh seseorang dalam beberapa kategori:NormalNilai IMT antara 18,5 hingga 24,9 dianggap sebagai berat badan yang ideal untuk pria maupun wanita dewasa. Untuk anak-anak dan lansia, penilaian IMT disesuaikan dengan kurva pertumbuhan dan faktor usia.OverweightJika IMT Anda berada di kisaran 23,0–24,9, ini berarti Anda tergolong kelebihan berat badan (overweight). Ini bisa menjadi alarm awal untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.Obesitas 1Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika nilai IMT-nya 25 - 29,9. Obesitas sendiri dibagi lagi menjadi beberapa tingkat, mulai dari obesitas kelas 1 (IMT 25–29,9).Obesitas 2Seseorang dikatakan mengalami obesitas tingkat 2 jika nilai IMT-nya >= 30. 2. Lingkar Pinggang yang Melebihi Batas NormalSelain IMT, ukuran lingkar pinggang juga menjadi indikator penting obesitas. Lemak yang menumpuk di area perut, terutama lemak visceral, berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.PriaLingkar pinggang dikatakan normal jika ukurannya kurang dari 90 cm. Jika lebih dari itu, terutama di atas 102 cm, Anda perlu waspada terhadap risiko obesitas abdominal.WanitaUntuk wanita, lingkar pinggang idealnya kurang dari 80 cm. Jika mencapai 88 cm atau lebih, ini menunjukkan penumpukan lemak di perut yang perlu diwaspadai.3. Mudah Lelah dan Sesak NapasSering merasa lelah meskipun tidak beraktivitas berat? Atau mengalami sesak napas saat berjalan sebentar? Ini bisa jadi tanda bahwa tubuh Anda membawa beban berlebih. Berat badan yang tidak ideal dapat membebani organ pernapasan dan jantung, membuat tubuh lebih cepat lelah karena harus bekerja ekstra untuk menyuplai oksigen ke seluruh tubuh.Selain itu, lemak yang menumpuk di area dada dan perut juga dapat menekan paru-paru, mengurangi kapasitas pernapasan. Akibatnya, penderita obesitas bisa merasa kehabisan napas meskipun hanya melakukan aktivitas ringan.4. Mendengkur dan Gangguan TidurObesitas sering dikaitkan dengan gangguan tidur, salah satunya adalah obstructive sleep apnea (OSA), yaitu kondisi saat saluran napas atas tersumbat saat tidur. Akibatnya, penderita bisa mendengkur keras, terbangun tiba-tiba, bahkan berhenti bernapas sejenak saat tidur.Lemak yang menumpuk di area leher dan saluran napas menjadi penyebab utama OSA. Gangguan ini tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tapi juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, aritmia jantung, bahkan stroke.5. Nyeri pada PersendianBerat badan berlebih memberikan tekanan ekstra pada sendi, terutama di bagian lutut, pergelangan kaki, dan punggung. Tak heran jika banyak penderita obesitas mengeluhkan nyeri sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.Dalam jangka panjang, tekanan terus-menerus pada sendi dapat memicu peradangan dan memperburuk kondisi seperti osteoartritis. Itulah mengapa menjaga berat badan ideal sangat penting demi kesehatan tulang dan sendi.6. Masalah KulitSobat Granostic, tahukah Anda bahwa obesitas juga bisa berdampak pada kesehatan kulit? Kelebihan berat badan membuat lipatan kulit menjadi lebih banyak dan lembap, sehingga mudah menimbulkan infeksi jamur dan bakteri.Selain itu, penderita obesitas juga sering mengalami kondisi seperti acanthosis nigricans (kulit menghitam di area lipatan), stretch marks, hingga ruam atau iritasi di bawah payudara, ketiak, atau lipatan perut. Masalah kulit ini bisa menjadi tanda bahwa tubuh mengalami ketidakseimbangan metabolik yang perlu segera ditangani.Cara Mengetahui Apakah Anda Mengalami ObesitasUntuk mengetahui Anda memasuki fase obesitas atau tidak, Anda dapat melakukan pengukuran mandiri di rumah atau berkonsultasi ke klinik Kesehatan terdekat. Beberapa pemeriksaan yang bisa Anda lakukan antara lain:1. Mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT)Cara untuk mengetahui apakah Anda obesitas atau tidak pertama adalah dengan menghitung IMT Anda. Jika IMT Anda berada di angka 30 atau lebih, maka Anda sudah masuk dalam kategori obesitas.Angka IMT lebih dari 30 akan meningkatkan risiko kesehatan yang lebih beragam dan kompleks. Sehingga Anda disarankan untuk memeriksa IMT ini tiap tahun sekali, sehingga dapat membantu menentukan risiko kesehatan Anda secara keseluruhan dan perawatan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.2. Mengukur Lingkar PinggangSelain lewat IMT, Anda juga bisa mengetahui apakah obesitas atau tidak dengan mengukur lingkar pinggang Anda. Langkah ini sangat mudah dilakukan di rumah, Anda hanya memerlukan pita ukur untuk mengukur jarak keliling pinggang Anda. Wanita dengan ukuran lingkar pinggang lebih dari 35 inci (89 sentimeter) dan laki-laki yang lebih dari 40 inci (102 sentimeter) memiliki risiko kesehatan yang lebih besar dari orang yang dengan lingkar pinggang lebih kecil.3. Konsultasi MedisAnda juga bisa memeriksa status obesitas Anda dengan melakukan konsultasi langsung bersama dokter. Dalam prosesnya, dokter akan melakukan wawancara medis terkait riwayat kesehatan, gaya hidup, dan Kesehatan mental Anda. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk mengukur tinggi, tanda-tanda vital, dan banyak lainnya.Dengan demikian, dokter dapat memberikan diagnosa yang lebih akurat mengenai status obesitas Anda, serta pengaruhnya pada kesehatan tubuh Anda. Dokter juga dapat memberikan saran perubahan gaya hidup, strategi menurunkan berat badan yang tepat, dan edukasi soal obesitas serta berat badan sehat yang lebih lengkap.Bahaya dan Dampak Kesehatan ObesitasObesitas bukan sekadar soal penampilan fisik atau angka timbangan. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi organ vital, meningkatkan risiko penyakit kronis, bahkan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Berikut penjelasan lengkap soal bahaya dan dampak kesehatan akibat obesitas yang perlu Sobat Granostic waspadai.1. Penyakit Jantung dan StrokeObesitas dapat menjadi pemicu utama berbagai gangguan kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner dan stroke. Lemak tubuh yang berlebihan, terutama lemak visceral (lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam), berkontribusi terhadap peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida, serta menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).Ketidakseimbangan ini dapat mempercepat terbentuknya plak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis), yang pada akhirnya menyempitkan atau menyumbat aliran darah ke jantung dan otak. Baca Juga: Cara Cek Kesehatan JantungSelain itu, obesitas sering kali disertai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi), yang juga memperbesar risiko serangan jantung dan stroke. Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, dan hal ini dapat menyebabkan pembesaran jantung (hipertrofi ventrikel kiri) serta gagal jantung.Tak hanya itu, studi dari American Heart Association menunjukkan bahwa orang dengan obesitas memiliki risiko hingga dua kali lipat lebih besar mengalami stroke dibandingkan mereka dengan berat badan normal. Inilah mengapa menurunkan berat badan dan menjaga pola makan sehat sangat penting dalam mencegah penyakit jantung dan stroke.2. Diabetes Tipe 2Diabetes tipe 2 adalah salah satu dampak paling umum dari obesitas. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, atau dikenal sebagai resistensi insulin. Insulin sendiri adalah hormon yang membantu sel menyerap glukosa dari darah. Namun, pada penderita obesitas, sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, sehingga kadar gula darah tetap tinggi.Lemak tubuh berlebih, terutama di area perut, menghasilkan zat peradangan (sitokin) yang dapat mengganggu sinyal insulin dalam tubuh. Akibatnya, kadar gula darah terus meningkat dan memicu terjadinya diabetes tipe 2. Tanpa pengendalian yang tepat, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah, ginjal, saraf, dan mata.Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lebih dari 80% penderita diabetes tipe 2 mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Maka, menjaga berat badan ideal bukan hanya soal penampilan—tapi langkah penting untuk mencegah penyakit yang serius.3. Penyakit Hati Berlemak Non-Alkoholik (NAFLD)Obesitas juga berkaitan erat dengan penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD), yaitu kondisi di mana terjadi penumpukan lemak berlebih di hati tanpa disebabkan oleh konsumsi alkohol. NAFLD bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti peradangan hati (steatohepatitis), fibrosis, hingga sirosis hati.Pada penderita obesitas, kelebihan kalori dari lemak dan gula sederhana disimpan dalam hati sebagai lemak. Jika tidak dikendalikan, penumpukan ini bisa mengganggu fungsi hati dan meningkatkan risiko gagal hati. NAFLD sering kali tidak menunjukkan gejala pada awalnya, sehingga hanya dapat terdeteksi melalui pemeriksaan medis, seperti USG atau tes fungsi hati.Data dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 orang dewasa di dunia mengalami NAFLD, dan sebagian besar di antaranya adalah individu dengan obesitas atau sindrom metabolik.Mengenali Tipe-Tipe Tubuh dan Risiko NAFLDMenariknya, risiko seseorang terhadap NAFLD juga dapat dipengaruhi oleh tipe bentuk tubuhnya. Dua tipe yang paling umum dikenal adalah tipe android (bentuk apel) dan tipe ginoid (bentuk pir).Tipe Android (Bentuk Apel)Tipe tubuh ini cenderung menyimpan lemak di area perut dan dada. Individu dengan bentuk tubuh android memiliki risiko lebih tinggi terhadap NAFLD, karena lemak visceral (lemak di dalam rongga perut) yang menumpuk sangat aktif secara metabolik dan bisa memicu peradangan hati.Tipe Ginoid (Bentuk Pir)Pada tipe ini, lemak lebih banyak tersimpan di area pinggul dan paha. Meskipun tetap harus diwaspadai, individu dengan tipe tubuh ginoid memiliki risiko lebih rendah terhadap NAFLD dibandingkan tipe android. Namun demikian, kelebihan berat badan dalam bentuk apa pun tetap dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan hati.4. Gangguan PernapasanObesitas dapat memperburuk fungsi sistem pernapasan. Lemak yang berlebih, terutama di area dada dan perut, membatasi ekspansi paru-paru saat bernapas. Akibatnya, penderita obesitas sering merasa sesak napas, terutama saat beraktivitas ringan atau saat tidur.Baca Juga: Apa Saja Penyebab Penyakit Asma? Ini PenjelasannyaSalah satu gangguan pernapasan yang umum pada orang dengan obesitas adalah obstructive sleep apnea (OSA), yaitu kondisi saat saluran napas atas menyempit selama tidur dan menyebabkan mendengkur keras serta henti napas sementara. OSA yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko hipertensi, gangguan jantung, hingga stroke.Tak hanya itu, obesitas juga dapat memperparah kondisi asma dan menurunkan efisiensi paru-paru. Maka dari itu, menjaga berat badan ideal sangat penting untuk menjaga kualitas pernapasan dan tidur Anda.5. Masalah ReproduksiObesitas juga berdampak pada sistem reproduksi, baik pada pria maupun wanita. Pada wanita, kelebihan lemak dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen dan progesteron, sehingga mengakibatkan gangguan menstruasi, sindrom ovarium polikistik (PCOS), dan kesulitan hamil.Sementara itu, pada pria, obesitas dapat menurunkan kadar hormon testosteron, yang berakibat pada penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, dan kualitas sperma yang buruk. Penelitian menunjukkan bahwa pria obesitas memiliki jumlah sperma dan motilitas sperma yang lebih rendah dibandingkan pria dengan berat badan normal.Tak hanya itu, wanita hamil dengan obesitas juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan, seperti diabetes gestasional, preeklamsia, dan kelahiran prematur. Oleh sebab itu, menjaga berat badan tetap sehat adalah salah satu langkah terbaik dalam merencanakan kehamilan yang aman dan sehat.Pencegahan ObesitasSetelah menyimak bagaimana pengaruh obesitas pada kesehatan tubuh, Anda pasti setuju kalau menjaga berat badan yang sehat adalah hal yang penting. Berikut ini, Granostic akan membagikan beberapa langkah pencegahan obesitas yang dapat Sobat terapkan dalam keseharian. Apa saja?1. Pola Makan SehatPola makan adalah fondasi utama dalam mencegah obesitas. Saat asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh, sisa kalori tersebut akan disimpan sebagai lemak. Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga pola makan yang seimbang, baik dari segi porsi maupun kandungan gizinya.Tips pola makan sehat untuk cegah obesitas:Perbanyak konsumsi sayur dan buah segar. Kandungan seratnya membantu rasa kenyang lebih lama dan mendukung sistem pencernaan yang sehat.Pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum utuh, kentang, atau oatmeal, dibandingkan karbohidrat sederhana seperti roti putih dan makanan manis.Batasi konsumsi gula, garam, dan lemak jenuh. WHO merekomendasikan konsumsi gula tidak lebih dari 10% dari total kebutuhan energi harian.Perhatikan porsi makan. Hindari makan berlebihan, terutama saat makan malam.Jangan lewatkan sarapan. Sarapan sehat mencegah rasa lapar berlebih dan ngemil berlebihan di siang hari.Menerapkan pola makan sehat bukan berarti Anda tidak bisa makan enak, melainkan menyesuaikan pilihan makanan agar tubuh tetap bugar tanpa kelebihan kalori.2. Aktivitas Fisik TeraturSelain pola makan, aktivitas fisik juga memiliki peran kunci dalam menjaga berat badan tetap ideal. Tubuh memerlukan aktivitas untuk membakar energi yang masuk melalui makanan. Tanpa gerak, kalori akan menumpuk dan berubah menjadi lemak tubuh.Menurut WHO, orang dewasa disarankan melakukan aktivitas fisik minimal 150–300 menit per minggu (sekitar 30 menit sehari selama 5 hari). Sedangkan anak-anak dan remaja dianjurkan untuk aktif setidaknya 60 menit per hari.Contoh aktivitas fisik yang bisa Anda lakukan:Berjalan kaki cepat di pagi atau sore hariBersepeda santaiSenam aerobik ringan di rumahBerenang atau bermain bulu tangkisYoga atau latihan kekuatan ringanTidak harus langsung berat, yang penting adalah konsistensi. Mulailah dari yang ringan dan menyenangkan, lalu tingkatkan perlahan-lahan sesuai kemampuan tubuh Anda.3. Tidur yang CukupSobat Granostic, tahukah Anda bahwa kurang tidur juga bisa memicu obesitas? Saat tidur tidak cukup, tubuh mengalami ketidakseimbangan hormon, terutama hormon ghrelin (peningkat nafsu makan) dan leptin (pengontrol rasa kenyang). Akibatnya, Anda cenderung merasa lapar berlebihan dan ngemil tak terkontrol.Selain itu, kurang tidur juga menurunkan energi dan semangat untuk berolahraga, sehingga tubuh membakar kalori lebih sedikit. Inilah kenapa tidur cukup bukan hanya soal istirahat, tapi bagian penting dari gaya hidup sehat.Durasi tidur yang disarankan untuk dewasa 7–9 jam per malam. Sementara untuk remaja sepanjang 8–10 jam per malam, lalu anak-anak 9–12 jam per malam (tergantung usia).4. Pemantauan Berat BadanLangkah terakhir dalam mencegah obesitas adalah memantau berat badan secara rutin. Dengan melakukannya, Anda bisa mendeteksi sedini mungkin apakah berat badan sudah mulai naik melebihi batas ideal atau tidak.Cara memantau berat badan dengan benar:Ukur berat badan Anda 1–2 kali seminggu, pada waktu yang sama (misalnya setiap Senin pagi setelah bangun tidur)Gunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengetahui apakah Anda masuk kategori normal, overweight, atau obesitasCatat hasilnya di jurnal atau aplikasi pelacak berat badan untuk melihat tren perubahannyaPerhatikan juga ukuran lingkar pinggang, karena bisa mencerminkan penumpukan lemak visceral yang berbahayaDengan memantau secara berkala, Anda bisa segera melakukan koreksi jika terjadi kenaikan berat badan yang tidak wajar.Konsultasi Medis di Granostic SurabayaSelain menerapkan langkah pencegahan di atas, Sobat juga bisa memaksimalkan upaya menjaga berat badan yang sehat dan mencegah obesitas lewat konsultasi medis di Granostic Surabaya.Berkonsultasi bersama dokter kami yang berpengalaman akan membantu Anda dalam memahami kondisi dan kebutuhan tubuh Anda dengan lebih baik. Apalagi prosedur pemeriksaan dan konsultasi yang dilakukan juga sangat menyeluruh, seperti:Evaluasi Status Gizi dan Kesehatan MetabolikBersama dokter dan tim medis ahli kami, Anda dapat melakukan evaluasi status gizi dan kesehatan metabolik. Prosedur ini dapat membantu mendeteksi masalah gizi, mengidentifikasi risiko penyakit yang berkaitan dengan sistem metabolic, dan merencanakan program diet hingga intervensi yang tepat sesuai kondisi Anda.Pemeriksaan Laboratorium Terkait Fungsi Hati dan Risiko NAFLDTak hanya pemeriksaan fisik dan prosedur wawancara medis, bersama Granostic Anda juga akan melalui tes laboratorium untuk memeriksa fungsi hati dan risiko NAFLD. Di mana kedua masalah kesehatan ini sangat berkaitan dengan obesitas.Rencana Penurunan Berat Badan yang Disesuaikan dengan Kebutuhan IndividuHasil pemeriksaan fisik, wawancara medis, dan laboratorium, akan membantu dokter untuk melihat serta menilai kondisi tubuh Anda secara holistik. Dengan demikian diagnosis yang diberikan akan bersifat akurat, yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rencana penurunan berat badan yang efisien dan efektif.Sobat Granostic, mencegah obesitas adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang tercinta. Jangan tunggu sampai gejala atau komplikasi muncul. Lakukan langkah-langkah sederhana di atas sebagai bagian dari gaya hidup sehat Anda.Dan jika Anda butuh bantuan, Granostic Diagnostic Center Surabaya siap membantu melalui layanan konsultasi dokter, pemeriksaan IMT dan lingkar pinggang, serta skrining metabolik yang terintegrasi. Yuk, konsultasi sekarang lewat klik WhatsApp di bawah ini!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:World Health Organization (WHO). (2024). Obesity. Diakses 2025.Mayo Clinic. (2024). Obesity: Symptoms and Causes. Diakses 2025.Cleveland Clinic. (2024). Weight Control and Obesity. Diakses 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Healthy Eating for a Healthy Weight. Diakses 2025.NSF – The National Sleep Foundation. (2024). How Many Hours of Sleep Do You Really Need? Diakses 2025.Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2024). Preventing Obesity. Diakses 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Consequences of Obesity. Diakses 2025.National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease & NASH. Diakses 2025.Sholikhah, M. S. (2023). Hubungan obesitas dengan risiko penyakit kardiovaskular: Tinjauan pustaka. Amerta Nutrition, 7(4), 515–523. Diakses 2025.Powell-Wiley, T. M., Poirier, P., Burke, L. E., Després, J.-P., Gordon-Larsen, P., Lavie, C. J., ... & American Heart Association Council on Lifestyle and Cardiometabolic Health. (2021). Obesity and Cardiovascular Disease: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation, 143(21), e984–e1010. Diakses 2025.
Vaksin Prevenar di Surabaya - Perlindungan Optimal dari Infeksi Pneumokokus
Melengkapi vaksinasi sangatlah penting dalam upaya menjaga Kesehatan diri dan keluarga dari infeksi penyakit. Ada banyak jenis vaksin yang direkomendasikan oleh dokter dan peneliti di berbagai penjuru dunia, vaksinasi Prevenar adalah salah satunya. Lewat artikel ini, Granostic akan membahas secara mendetail mengenai apa itu vaksin Prevenar, jenis-jenisnya, manfaat dan tujuan vaksinasi, hingga rekomendasi tempat vaksinasi Prevenar yang kredibel. Penasaran?Apa Itu Vaksin Prevenar?Vaksin Prevenar merupakan jenis vaksin yang diberikan untuk melindungi seseorang dari penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Melansir dari National Institute of Health (NIH), Streptococcus pneumoniae merupakan jenis bakteri yang menyebabkan pneumonia, yang kemudian dikenal dengan infeksi pneumokokus.Infeksi pneumokokus sendiri merupakan masalah kesehatan global, yang bisa menimbulkan dampak yang fatal bagi penderitanya. Meskipun dapat menginfeksi siapa saja, tapi lansia dan balita termasuk kelompok berisiko tinggi terinfeksi pneumonia. Vaksin Prevenar sendiri hadir dalam beberapa jenis, yang perbedaannya didasarkan pada jenis antigen kapsular yang dibawanya. Untuk menemukan jenis vaksin yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh Anda, diperlukan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.Manfaat dan Tujuan Vaksinasi PrevenarAda beberapa manfaat dan tujuan utama melakukan vaksinasi prevenar, yang akan dijelaskan dalam uraian berikut ini:Manfaat1. Mencegah PneumoniaSeperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa bakteri S. pneumonia menjadi penyebab utama dari kasus pneumonia komunitas di berbagai wilayah di dunia. Penyakit ini mudah menular dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat.Nah, tujuan utama vaksin Prevenar ini dilakukan untuk mencegah infeksi S. pneumonia untuk berkembang, hingga menyebabkan pneumonia.2. Melindungi dari MeningitisSelain mencegah pneumonia, vaksin Prevenar juga membantu melindungi diri dari meningitis. Penyakit ini merupakan peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang, yang salah satu penyebabnya adalah infeksi bakteri pneumokokus.Karenanya, dengan melakukan vaksin Prevenar ini, Anda juga dapat mengurangi risiko mengidap atau mengembangkan penyakit meningitis.3. Mencegah Otitis MediaOtitis media, atau infeksi tengah telinga, juga dapat terjadi karena infeksi S. pneumoniae. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak dan dapat bersifat akut.4.Mencegah BakteremiaBakteremia merupakan salah satu komplikasi pneumonia yang sangat umum terjadi. Kondisi medis ini merujuk pada keberadaan bakteri pada aliran darah, yang memungkinkan bakteri S. pneumoniae untuk sampai dan berdampak pada organ tubuh lainnya.Tujuan1. Perlindungan IndividuTujuan vaksin Prevenar juga menjadi perlindungan individu dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi S. pneumoniae, seperti meningitis, pneumonia, dan beberapa penyakit saluran pernapasan lainnya.2. Perlindungan KomunitasSelain melindungi diri, kita juga dapat melindungi orang-orang di lingkungan kita dari penularan S. pneumoniae dengan melakukan vaksinasi. Hal ini juga membantu memotong penyebaran bakteri S. pneumoniae ketika Anda tinggal di daerah endemik, atau pernah melakukan perjalanan ke area tersebut.Jenis Vaksin PrevenarSobat Granostic, Saat ini, ada dua jenis vaksin Prevenar yang banyak digunakan, yaitu Prevenar 13 (PCV13) dan Prevenar 20 (PCV20). Keduanya sama-sama ampuh, tapi punya cakupan perlindungan yang berbeda. Yuk, simak perbedaan dan keunggulannya masing-masing!1. Prevenar 13 (PCV13)Prevenar 13 adalah vaksin konjugat pneumokokus yang mengandung 13 jenis serotipe bakteri Streptococcus pneumoniae. Vaksin ini telah lama digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia, dan terbukti efektif mencegah pneumonia, meningitis, serta infeksi telinga tengah pada bayi, anak-anak, orang dewasa, dan lansia.Menurut rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), PCV13 sebaiknya diberikan sejak usia 2 bulan sebagai bagian dari imunisasi rutin. Pada orang dewasa, terutama yang memiliki faktor risiko seperti penyakit paru kronis, diabetes, atau sistem imun lemah, vaksin ini juga sangat disarankan. Efektivitas PCV13 dalam menurunkan angka rawat inap dan kematian akibat pneumonia telah terbukti secara klinis.Perbedaan utama PCV13 dibandingkan vaksin Prevenar lainnya adalah cakupan serotipenya yang masih terbatas pada 13 jenis. Meski begitu, PCV13 tetap sangat relevan dan efektif sebagai pilihan imunisasi dasar, terutama bagi bayi dan anak.2. Prevenar 20 (PCV20)Prevenar 20 adalah generasi terbaru dari vaksin konjugat pneumokokus yang mengandung 20 serotipe bakteri, termasuk seluruh serotipe dalam PCV13 ditambah 7 serotipe tambahan yang lebih umum ditemukan pada kasus pneumonia di kalangan dewasa. Vaksin ini memberikan perlindungan yang lebih luas dan lebih mutakhir terhadap jenis-jenis bakteri yang sering bermutasi atau berevolusi.PCV20 telah disetujui oleh FDA dan mulai direkomendasikan oleh CDC untuk digunakan pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, terutama mereka yang memiliki risiko tinggi terkena pneumonia, seperti lansia, perokok aktif, penderita penyakit kronis, atau pasien dengan imunitas rendah.Dengan cakupan perlindungan yang lebih lengkap, PCV20 menawarkan opsi yang sangat baik untuk imunisasi lanjutan atau booster bagi orang dewasa. Vaksin ini bisa menjadi pilihan ideal jika Anda belum pernah menerima vaksin pneumokokus sebelumnya, atau jika ingin mendapatkan perlindungan ekstra dari jenis bakteri yang lebih beragam.Prosedur dan Dosis VaksinasiUntuk Bayi dan Anak-anakCenter for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksinasi pneumokokus idealnya dilakukan anak-anak usia di Bawah 5 tahun. Berikut rinciannya:Usia 2, 4, dan 6 bulanBerikan satu dosis pada saat anak-anak memasuki usia ke 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan.Usia 12-15 bulanSetelahnya, anak juga perlu mendapatkan satu suntikan lagi saat memasuki rentang usia 12 hingga 15 bulan. Jadi total suntikan vaksin PCV yang didapatkan si Kecil adalah 4 dosis, ya, Sobat.Untuk Anak-anak Usia 7-11 BulanDua dosisSementara untuk anak-anak usia 7 hingga 11 bulan, yang baru pertama mendapatkan suntik vaksin PCV, dosisnya bisa dua suntikan.Dosis boosterAgar efektivitas vaksin jadi kian maksimal, anak juga membutuhkan vaksin booster.Untuk Anak-anak Usia 12-23 BulanDua dosisBagi anak-anak usia 12 hingga 23 bulan yang belum mendapatkan vaksinasi PCV, mereka dapat memperoleh dua dosis vaksinasi.Untuk Anak-anak Usia 2-17 TahunSatu dosis tunggal.Menurut Food and Drug Distribution (FDA) pada anak-anak usia 2 hingga 17 tahun yang belum mendapatkan vaksinasi PCV sebelumnya, maka dosis yang diberikan cukup satu kali saja.Untuk Dewasa dan LansiaSatu dosis tunggalUntuk dewasa dan lansia berusia di atas 50 tahun, dosis vaksinasi yang diberikan cukup satu kali saja.Siapa Saja yang Direkomendasikan untuk Vaksinasi Prevenar?1. Bayi dan Anak-anakBayi dan anak-anak adalah kelompok paling rentan terhadap infeksi pneumokokus karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang sepenuhnya. Infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia berat, radang selaput otak (meningitis), dan infeksi telinga tengah.Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin Prevenar sebaiknya diberikan mulai usia 2 bulan. Vaksin ini terbukti mampu menurunkan risiko rawat inap akibat pneumonia dan mencegah kecacatan permanen yang bisa terjadi akibat komplikasi infeksi berat. Jadi, pemberian vaksin ini sejak dini adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan si kecil.2. Dewasa Usia ≥50 Tahun:Orang dewasa usia 50 tahun ke atas, terutama lansia, juga masuk kelompok yang berisiko tinggi mengalami pneumonia. Seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh akan menurun, sehingga lebih rentan terkena infeksi saluran napas, termasuk dari bakteri pneumokokus.Vaksin Prevenar, terutama Prevenar 20 (PCV20), sangat dianjurkan bagi kelompok usia ini karena memberikan cakupan perlindungan yang lebih luas terhadap berbagai jenis bakteri penyebab pneumonia. Vaksin ini bisa mencegah komplikasi berat, menurunkan risiko rawat inap, dan menjaga kualitas hidup di usia lanjut.3. Individu dengan Kondisi Medis TertentuBeberapa kondisi medis membuat seseorang lebih mudah terkena infeksi serius, termasuk pneumonia. Misalnya pada penderita diabetes mellitus, penyakit paru kronis (seperti PPOK atau asma), gangguan ginjal kronis, hingga HIV/AIDS atau penyakit yang menurunkan imunitas.Orang dengan kondisi seperti ini memiliki sistem imun yang lebih lemah sehingga lebih sulit melawan infeksi. Vaksin Prevenar membantu meningkatkan perlindungan dan mengurangi kemungkinan komplikasi berat akibat infeksi bakteri.4. Perokok AktifTahukah Anda? Perokok aktif juga termasuk kelompok yang direkomendasikan untuk vaksinasi Prevenar. Merokok merusak lapisan pelindung saluran napas dan melemahkan sistem kekebalan tubuh lokal di paru-paru. Hal ini memudahkan bakteri seperti Streptococcus pneumoniae untuk menyerang dan menyebabkan infeksi.Dengan mendapatkan vaksin Prevenar, para perokok dapat meminimalkan risiko terkena pneumonia berat, terutama jika mereka belum memiliki riwayat vaksinasi sebelumnya.Efek Samping Vaksin PrevenarVaksin Prevenar telah terbukti aman dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Namun, seperti prosedur medis lainnya, vaksinasi juga dapat menimbulkan reaksi ringan sebagai bagian dari respons tubuh terhadap suntikan. Efek samping ini umumnya bersifat sementara dan akan hilang dalam 1–2 hari. Berikut beberapa efek samping ringan yang mungkin terjadi:1. Nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan.Setelah disuntik, Anda bisa merasakan nyeri ringan, kemerahan, atau sedikit bengkak di area yang disuntik. Hal ini normal karena tubuh sedang bereaksi terhadap vaksin. Area suntikan akan membaik dalam beberapa hari tanpa perlu pengobatan khusus.2. Demam ringan.Sebagian orang, terutama anak-anak, bisa mengalami demam ringan setelah vaksinasi. Ini adalah tanda bahwa sistem kekebalan tubuh sedang aktif membentuk perlindungan terhadap bakteri yang ditargetkan oleh vaksin.3. Nafsu makan menurun.Anak-anak atau bayi yang baru menerima vaksin Prevenar bisa mengalami penurunan nafsu makan sementara. Ini merupakan reaksi umum akibat perubahan kondisi tubuh pasca imunisasi dan biasanya akan pulih dengan sendirinya dalam 1–2 hari.4. Rewel pada anak-anak.Beberapa anak mungkin menjadi lebih rewel setelah vaksinasi. Ini bisa terjadi karena rasa tidak nyaman di area suntikan atau demam ringan. Orang tua tidak perlu khawatir, karena ini adalah bagian dari proses adaptasi tubuh dan umumnya bersifat sementara.Biaya Vaksinasi Prevenar di SurabayaBiaya vaksinasi Prevenar ini sangat bergantung jenis vaksin yang Anda ambil, berapa banyak dosisnya, serta apa saja layanan yang Anda peroleh dari rumah sakit. Bagi masyarakat Surabaya yang ingin vaksin, biayanya berada pada rentang Rp 800 ribu hingga Rp 1,2 juta.Konsultasi dan Vaksinasi di Granostic Diagnostic Center SurabayaSobat Granostic, jika Anda sedang mempertimbangkan vaksinasi Prevenar (PCV) untuk diri sendiri, anak, atau anggota keluarga lainnya, Anda tidak perlu bingung harus mulai dari mana. Granostic Diagnostic Center Surabaya hadir sebagai solusi lengkap dan terpercaya untuk konsultasi serta vaksinasi PCV. Kami memahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan kesehatan yang berbeda, itulah sebabnya layanan kami dirancang personal dan menyeluruh, mulai dari edukasi medis, pemeriksaan kesehatan, hingga tindakan vaksinasi yang aman dan nyaman.Penasaran apa saja keunggulan layanan konsultasi dan vaksinasi di Granostic? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.1. Konsultasi DokterSebelum menerima vaksin Prevenar, sangat penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis yang kompeten. Di Granostic, Anda akan ditangani oleh tim dokter ahli yang sudah berpengalaman di bidang imunisasi dan kesehatan pernapasan. Melalui sesi konsultasi ini, Anda akan mendapatkan informasi yang jelas dan komprehensif tentang manfaat vaksin, jenis vaksin yang paling sesuai dengan kondisi Anda, serta jadwal penyuntikan yang dianjurkan.Kami percaya bahwa keputusan medis terbaik datang dari pemahaman yang utuh. Oleh karena itu, dokter di Granostic juga siap menjawab berbagai pertanyaan Anda terkait riwayat penyakit, kondisi medis yang menyertai, atau kekhawatiran tertentu seputar efek samping vaksin. Dengan begitu, Anda bisa menjalani vaksinasi dengan tenang dan percaya diri. Anda bisa melakukan booking jadwal dengan costumer care kami.2. Layanan Home ServiceUntuk Anda yang memiliki keterbatasan waktu, kesulitan bepergian, atau ingin kenyamanan ekstra, Granostic juga menyediakan layanan home service. Layanan ini memungkinkan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan vaksinasi langsung di rumah, tanpa harus datang ke klinik. Praktis, aman, dan tetap mengikuti standar medis yang ketat.Tim medis kami akan datang dengan peralatan lengkap dan menjaga protokol kesehatan secara ketat, sehingga kualitas pelayanan tetap terjaga meski dilakukan di rumah. Layanan ini sangat cocok untuk lansia, anak-anak, atau siapa pun yang membutuhkan kenyamanan lebih dalam menjalani proses vaksinasi.Jadi, tunggu apa lagi? Lindungi diri dan keluarga Anda dari pneumonia dengan langkah vaksinasi yang tepat. Granostic Diagnostic Center Surabaya siap mendampingi Anda melalui konsultasi yang menyeluruh dan layanan vaksinasi berkualitas, baik di klinik maupun di rumah Anda.Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:GoodRx. (2023, 15 Oktober). Compare Prevnar‑20 with pneumonia vaccines. Reviewed by Robert Chad Hakim, PharmD, BCCCP dan Cydnee Ng, PharmD. Diakses 2025Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025). Pneumococcal vaccine recommendations. Diakses 2025U.S. Food and Drug Administration (FDA). (2017). Package insert – Prevnar‑13. Diakses 2025National Center for Biotechnology Information (NCBI). (2019). Pneumococcal vaccines. In Immunology and vaccine strategies. Diakses 2025Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (n.d.). Sekilas Vaksin Pneumokokus. Diakses 2025Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (n.d.). Jadwal Imunisasi Anak – IDAI. Diakses 2025
Apa Itu Pneumonia? Simak Penjelasan Lengkapnya Disini!
Tahukah Sobat Granostic, bahwa kasus kematian akibat pneumonia di Indonesia meningkat hingga tiga kali lipat pada 2024 lalu? Bahkan penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa atau lansia, namun juga anak-anak dan balita.Melansir dari CNN Indonesia, pada tahun 2024 lalu, angka kematian akibat pneumonia mencapai 188 jiwa dari 1.278 kasus terdiagnosis. Bahkan per Januari 2025, telah tercatat 105 kasus pneumonia baru dengan jumlah kematian sebanyak 12 jiwa, atau lebih dari 8% dari total kasus.Anak-anak dan lansia adalah kelompok yang sangat rentan mengembangkan gejala pneumonia yang parah. Karena itu, penting bagi Sobat mengetahui apa itu pneumonia, jenis-jenisnya, serta bagaimana cara pencegahan dan pengobatannya yang tepat.Berikut rangkuman lengkap yang diberikan Granostic soal pneumonia untuk Anda. Simak, yuk!Pengertian PneumoniaPneumonia merupakan penyakit paru-paru yang terjadi akibat infeksi bakteri, virus, ataupun fungi (jamur). Kondisi ini menyebabkan jaringan di paru-paru membengkak atau mengalami peradangan, kemudian menyebabkan munculnya cairan atau nanah di paru-paru penderitanya.Penyakit ini dapat menyerang salah satu sisi paru-paru, atau keduanya sekaligus. Jika terjadi pada kedua paru-paru, maka kondisi ini disebut pneumonia bilateral atau pneumonia ganda. Keduanya memiliki penanganan yang berbeda, karena tingka keparahan gejala dan risiko komplikasinya juga berbeda.Prevalensi Pneumonia di Dunia dan IndonesiaGlobalPneumonia merupakan penyakit yang terjadi hampir di seluruh penjuru dunia, karena itu prevalensinya secara global juga sangat tinggi. Pada tahun 2021, Clinic Barcelona menyebutkan bahwa pneumonia menjadi penyebab dari 2.5 juta kematian setiap tahunnya di berbagai wilayah dunia. World Health Organization (WHO) pun menyebutkan bahwa pneumonia membunuh lebih dari 808 ribu anak-anak di bawah usia 5 tahun di tahun 2017.Tak hanya anak-anak, lebih lanjut WHO menjelaskan, lansia juga menjadi kelompok dengan risiko tinggi terinfeksi pneumonia. Karena itu, kampanye dan program vaksinasi pneumonia sangatlah digalakkan di berbagai negara untuk menekan angka penyebaran dan meminimalisir angka kematian akibat kondisi medis ini.IndonesiaTelah kita singgung sebelumnya, bahwa kasus pneumonia di Indonesia mengalami peningkatan di tahun 2024. Bahkan angka kasus kematian akibat pneumonia bisa mencapai 188 jiwa di tahun tersebut.Sementara Kementerian Kesehatan Indonesia, juga menyebutkan bahwa laporan dari BPJS di tahun 2023, menunjukkan bahwa pneumonia menjadi penyakit dengan biaya pengobatan yang tertinggi di Indonesia.Hingga kini prevalensi kasus pneumonia dan kematian yang diakibatkannya masihlah tinggi, bahkan mengalami kenaikan. Karena itu, pemerintah mengupayakan berbagai program kesehatan yang terpadu untuk menekan kasus pneumonia di Indonesia.Jenis-Jenis PneumoniaSobat Granostic, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur. Selain jenis penyebab infeksinya yang berbeda, pneumonia juga dibagi kedalam beberapa jenis berdasarkan dimana Anda mendapatkannya.Agar lebih jelas, berikut ini beberapa jenis pneumonia yang perlu Anda ketahui, Sobat.1. Pneumonia Komunitas (Community-Acquired Pneumonia)Tipe pneumonia ini terjadi Ketika seseorang terinfeksi di luar area rumah sakit, atau tidak karena menggunakan fasilitas perawatan rumah sakit dalam jangka waktu lama. Pneumonia komunitas ini bisa menular lewat kontak dengan orang lain yang mengidapnya, menghirup droplet yang terinfeksi bakteri, atau berbagai rute penyebaran infeksi lainnya dalam komunitas/kelompok masyarakat.2. Pneumonia Rumah Sakit (Hospital-Acquired Pneumonia)Disebut juga sebagai hospital-acquired pneumonia karena pneumonia ini menjangkit penderitanya ketika mereka berada di rumah sakit. Melansir dari WebMD.com, kondisi ini bisa bersifat sangat serius karena bakteri penyebab pneumonia dapat resisten terhadap antibiotik.Anda dapat terinfeksi pneumonia di rumah sakit bila Anda dalam situasi atau kondisi berikut ini:Menggunakan alat bantu pernapasan;Tidak dapat batuk cukup kuat untuk membersihkan paru-paru;Sistem imun jadi menurun karena kondisi medis tertentu atau perawatan medis yang dijalani selama di rumah sakit.3. Pneumonia AspirasiPneumonia aspirasi merupakan tipe pneumonia terjadi karena penderitanya menghirup atau menyedot benda lain selain udara ke dalam saluran pernapasannya. Benda lain ini termasuk makanan, cairan, saliva, asam lambung, muntahan, atau bahkan benda asing yang sangat kecil.4. Pneumonia "Walking" (Atypical Pneumonia)Terkadang disebut juga sebagai 'atypical' pneumonia, tipe ini tergolong memiliki gejala yang lebih ringan daripada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Walking pneumonia, menurut WebMD.com, dapat menimbulkan gejala yang serupa dengan flu.Jenis pneumonia ini juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur yang masuk ke dalam paru-paru penderitanya. Perbedaan utama dari walking pneumonia dengan jenis lainnya adalah terletak pada tingkat keparahan gejalanya, yang proses perawatan atau pengobatannya tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit maupun bed rest.Penyebab PneumoniaSelain mengetahui apa saja jenis-jenisnya, Sobat Granostic juga perlu tahu apa saja yang menjadi penyebab pneumonia berikut ini:1. Bakteri (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae)Kebanyakan kasus pneumonia komunitas yang terjadi pada orang-orang dewasa, umumnya terjadi akibat infeksi bakteri pneumonia. Penyebarannya lewat droplet yang terkontaminasi bakteri pneumonia, yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan atau tubuh Anda lewat hidung maupun mulut.Ada dua jenis bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia, yakni Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Di mana, jika sistem imun Anda lemah, maka kemungkinan Anda untuk terjangkit bakteri pneumonia ini jadi lebih tinggi.2. Virus (Influenza, RSV, SARS-CoV-2)Selain bakteri, pneumonia juga dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti influenza, RSV, dan SARS-CoV-2. Virus juga menjadi penyebab pneumonia paling banyak kedua setelah infeksi bakteri.Selain itu, melansir dari WebMD.com, gejala dari pneumonia yang disebabkan oleh virus ini memiliki kemiripan dengan gejala flu. Mulai dari demam, meriang, batuk kering, hidung tersumbat, nyeri otot, sakit kepala, hingga kelelahan berlebihan.3. Jamur (Pneumocystis jirovecii, terutama pada individu dengan sistem imun lemah)Pneumonia juga dapat terjadi berkat infeksi jamur, seperti pneumocytis jirovecii. Infeksi jamur pneumonia ini lebih sering terjadi pada individu dengan sistem imun yang lemah.Anda dapat mengalami pneumonia fungal dengan menghirup partikel kecil Bernama spora jamur. Orang-orang dengan profesi tertentu memiliki risiko lebih tinggi terkena fungal pneumonia, seperti:Petani yang bekerja di sekitar kotoran burung, kelelawar, atau binatang pengerat (tikus).Tukang kebun yang bekerja mengolah tanah.Hingga anggota militer atau pekerja konstruksi yang berada di lingkungan berdebu tinggi.4. Aspirasi (Masuknya makanan atau cairan ke paru-paru)Selain karena bakteri, jamur, dan virus, pneumonia juga bisa terjadi akibat masuknya benda-benda asing ke dalam paru-paru. Benda asing ini dapat berupa cairan, makanan, asam lambung, muntahan, dan lainnya.Gejala PneumoniaGejala dan tanda-tanda pneumonia bisa berbeda-beda pada tiap individu, bergantung pada tipe dan penyebab infeksi pneumonia, juga kondisi dari penderitanya sendiri.Namun secara umum, berikut ini beberapa gejala pneumonia yang perlu Sobat Granostic ketahui:Demam dan menggigilDemam dan menggigil merupakan gejala utama dari pneumonia, sebagai reaksi tubuh dalam melawan infeksi. Demam yang terjadi akibat pneumonia bisa mencapai suhu 40.55 derajat celcius.Batuk dengan dahakSelain demam, pneumonia juga dapat menimbulkan gejala batuk-batuk yang disertai dengan dahak yang berwarna kuning, hijau, atau bahkan disertai dengan darah.Sesak napasPneumonia juga dapat menimbulkan sesak napas karena kantong udara di paru (alveolus) mengalami peradangan akibat infeksi, sehingga paru-paru terisi oleh cairan atau nanah. Peradangan dan penumpukan ini dapat mempersulit pernapasan pasien.Nyeri dada saat bernapas atau batukPeradangan yang terjadi karena pneumonia juga dapat memicu nyeri dada, yang bisa semakin intens ketika penderitanya bernapas atau batuk-batuk.KelelahanSama halnya dengan kondisi medis lain yang disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa menyebabkan sensasi kelelahan yang tidak biasa. Gejala ini timbul sebagai bagian dari reaksi sistem imun tubuh terhadap infeksi pneumonia, juga jadi akibat dari demam tinggi yang dialami pasien.Mual atau muntahMual dan muntah juga termasuk gejala yang umum terjadi pada penderita pneumonia. Gejala ini dapat timbul karena pneumonia menyebabkan saluran pernapasan, sehingga tubuh bereaksi dengan rasa mual dan muntah.DiareNah, Sobat, tak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan saja, pneumonia juga bisa memicu diare. Gejala ini terjadi terutama bila pneumonia dipicu oleh infeksi bakteri atau virus.Komplikasi PneumoniaMeskipun menjalani perawatan dan pengobatan, orang-orang yang terjangkit pneumonia berkemungkinan besar mengembangkan komplikasi, utamanya mereka yang tergolong dalam kelompok berisiko tinggi. Komplikasi akibat pneumonia ini meliputi:BakteremiaBacteremia, atau bakteri dalam aliran darah, terjadi akibat bakteri pneumonia yang ada di paru-paru menyebar melalui pembuluh darah. Hasilnya, infeksi ini pun turut menyebar ke berbagai organ, yang berpotensi menyebabkan gagal organ.Abses ParuKomplikasi pneumonia selanjutnya adalah abses paru. Abses ini terjadi jika nanah terbentuk di rongga paru-paru pasien, yang biasanya dapat diobati dengan konsumsi antibiotik.Namun, abses paru yang lebih serius bisa memerlukan tindakan medis lain, seperti pembedahan atau drainase. Prosedur ini memerlukan memasukkan jarum atau tabung yang panjang ke dalam abses, sehingga nanah dapat dikeluarkan dari paru-paru pasien.Efusi PleuraPneumonia dapat menyebabkan penumpukan cairan di ruang tipis antara jaringan yang melapisi paru-paru dengan rongga dada (pleura), kondisi ini disebut sebagai efusi pleura.Gagal NapasJika pneumonia yang pasien alami tergolong parah, atau sebelumnya pasien memiliki kondisi paru yang kronis, maka sangat mungkin timbul komplikasi gagal napas.Pencegahan PneumoniaMeski pneumonia tergolong penyakit menular, bukan berarti kita tidak bisa mencegahnya. Justru sebaliknya, dengan langkah yang tepat, pneumonia bisa dicegah sejak dini. Upaya pencegahan ini sangat penting, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.Berikut ini adalah beberapa cara efektif untuk mencegah pneumonia yang bisa Anda terapkan mulai sekarang:1. VaksinasiVaksinasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk melindungi tubuh dari infeksi pneumonia. Ada beberapa jenis vaksin yang direkomendasikan, seperti:Vaksin pneumokokus (PCV dan PPSV) untuk mencegah infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae, penyebab tersering pneumonia bakteri. Vaksin ini sangat dianjurkan bagi anak-anak, lansia usia ≥ 65 tahun, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit paru.Vaksin influenza karena flu yang berat dapat berlanjut menjadi pneumonia.Vaksin Hib (Haemophilus influenzae tipe B) penting untuk anak-anak karena dapat mencegah pneumonia berat.Vaksin COVID-19 yang juga melindungi dari komplikasi pernapasan berat seperti pneumonia.Vaksin-vaksin ini telah terbukti aman dan efektif. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui jadwal vaksinasi yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan Anda.2. Kebersihan TanganCuci tangan tampaknya hal sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam mencegah penyebaran penyakit, termasuk pneumonia. Tangan yang kotor bisa membawa bakteri atau virus ke dalam tubuh, apalagi setelah menyentuh benda-benda di tempat umum.Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah batuk atau bersin. Jika tidak ada air, gunakan hand sanitizer berbasis alkohol.3. Gaya Hidup SehatMenjaga daya tahan tubuh adalah kunci penting dalam mencegah infeksi, termasuk pneumonia. Gaya hidup sehat yang bisa Anda terapkan antara lain:Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang kaya vitamin C, D, dan antioksidan.Berolahraga secara rutin.Tidur cukup dan mengelola stres.Tidak merokok, karena merokok dapat merusak paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.Minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembapan saluran napas.Dengan tubuh yang sehat, sistem kekebalan akan bekerja lebih optimal untuk melawan infeksi.4. Menghindari PaparanMengurangi risiko tertular pneumonia juga bisa dilakukan dengan menghindari paparan langsung terhadap sumber infeksi. Beberapa langkah yang bisa Anda terapkan antara lain:Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang batuk atau demam.Menggunakan masker saat berada di tempat ramai, terutama saat musim flu.Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik.Membersihkan permukaan benda secara rutin, terutama yang sering disentuh.Bagi penderita penyakit kronis atau yang sedang dalam masa pemulihan, langkah-langkah ini sangat penting dilakukan untuk mencegah komplikasi.Pengobatan PneumoniaMeski pneumonia bisa dicegah, tetap penting untuk mengetahui bagaimana cara menanganinya jika seseorang terdiagnosis pneumonia. Pengobatan pneumonia disesuaikan dengan penyebabnya, apakah disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Juga disesuaikan dengan tingkat keparahan gejalanya.Berikut adalah beberapa pendekatan medis yang umum dilakukan dalam pengobatan pneumonia:1. AntibiotikJika pneumonia disebabkan oleh bakteri, pengobatan utama adalah antibiotik. Dokter biasanya meresepkan antibiotik oral seperti amoksisilin, azitromisin, atau doksisiklin, tergantung pada usia dan kondisi pasien.Pada kasus yang lebih berat, terutama jika pasien dirawat di rumah sakit, antibiotik diberikan melalui infus. Jenis antibiotik seperti ceftriaxone atau levofloxacin dapat digunakan. Penggunaan antibiotik harus sesuai resep dokter untuk menghindari resistensi dan memastikan pemulihan optimal.2. AntiviralJika pneumonia disebabkan oleh infeksi virus seperti influenza atau COVID-19, dokter bisa memberikan obat antivirus. Contohnya adalah oseltamivir (Tamiflu) untuk flu, atau remdesivir untuk COVID-19.Antiviral bekerja dengan menghambat replikasi virus, sehingga gejala bisa lebih cepat membaik dan risiko komplikasi berkurang. Namun, antivirus hanya efektif jika diberikan dalam waktu tertentu sejak munculnya gejala, jadi penting untuk segera memeriksakan diri.3. Perawatan PendukungSelain obat-obatan, pasien pneumonia juga membutuhkan perawatan pendukung. Ini termasuk:Istirahat total untuk membantu tubuh melawan infeksi.Pemberian cairan agar tubuh tetap terhidrasi dan lendir di paru-paru lebih mudah dikeluarkan.Obat penurun demam seperti parasetamol atau ibuprofen untuk meredakan demam dan nyeri.Terapi oksigen jika kadar oksigen dalam darah menurun.Perawatan pendukung ini penting untuk mempercepat pemulihan, terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah.4. Rawat InapPneumonia yang berat, terutama pada bayi, lansia, atau pasien dengan penyakit penyerta, mungkin memerlukan rawat inap. Gejala yang mengindikasikan kebutuhan rawat inap antara lain:Sesak napas yang beratDemam tinggi yang tidak turunTekanan darah rendahPenurunan kesadaranDi rumah sakit, pasien akan mendapat pemantauan ketat, pemberian cairan dan obat infus, serta terapi oksigen. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat pulih sepenuhnya.Kapan Sebaiknya Melakukan Deteksi Dini Pneumonia?Sobat, pneumonia bukan hanya infeksi saluran napas biasa. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak awal, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan serius yang membahayakan nyawa.Oleh karena itu, deteksi dini pneumonia sangat penting dilakukan, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi. Pemeriksaan sejak awal dapat membantu mencegah komplikasi, mempercepat penanganan, dan meminimalkan dampak buruk pada paru-paru.Lantas, siapa saja yang sebaiknya melakukan deteksi dini pneumonia?1. Anak-anak di bawah 5 tahunAnak balita termasuk kelompok yang sangat rentan terkena pneumonia. Sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang, sehingga lebih mudah terserang infeksi bakteri maupun virus penyebab pneumonia.Deteksi dini sangat dianjurkan terutama jika anak:Sering mengalami batuk dan demam berulangTerlihat lemas atau napasnya cepatMemiliki riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendahMengidap gangguan nutrisi atau penyakit bawaan (seperti kelainan jantung atau paru)Jangan anggap remeh gejala batuk dan sesak napas pada anak. Segera konsultasikan dengan dokter bila gejala tidak kunjung membaik dalam beberapa hari.2. Lansia di atas 65 tahunSeiring bertambahnya usia, sistem imun dan fungsi paru-paru seseorang mengalami penurunan alami. Hal ini membuat lansia lebih berisiko mengalami infeksi berat seperti pneumonia, bahkan ketika gejalanya tampak ringan di awal.Deteksi dini sangat dianjurkan bagi lansia yang:Sering mengalami batuk berkepanjangan atau nyeri dadaMenderita penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau jantungMengalami penurunan nafsu makan, lemas, atau kebingungan tiba-tiba (delirium)Baru saja mengalami flu berat atau infeksi virus lainnyaMendeteksi pneumonia lebih awal pada lansia bisa mencegah kebutuhan rawat inap atau risiko komplikasi paru-paru yang lebih berat.3. Individu dengan penyakit kronisPenderita penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia akibat daya tahan tubuh yang terganggu. Beberapa contoh penyakit kronis yang rentan terhadap infeksi paru antara lain:Asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)Diabetes melitusGagal ginjal kronikPenyakit jantungKanker atau pasien yang menjalani kemoterapiBila Anda memiliki riwayat penyakit tersebut, sangat disarankan untuk melakukan skrining paru secara berkala guna memastikan tidak ada tanda-tanda awal infeksi yang bisa memburuk.4. PerokokMerokok merusak saluran napas dan melemahkan sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi. Zat berbahaya dalam rokok membuat paru-paru lebih rentan teriritasi dan terinfeksi, sehingga pneumonia lebih mudah berkembang.Jika Anda seorang perokok aktif (atau mantan perokok dengan gejala napas pendek dan batuk kronis), pemeriksaan paru secara rutin bisa membantu mendeteksi pneumonia sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih parah.5. Mereka yang mengalami gejala pernapasan yang menetap atau memburukPernah mengalami batuk berkepanjangan, demam yang tidak kunjung reda, atau napas terasa berat dan cepat? Jangan abaikan gejala-gejala ini, ya, Sobat Granostic. Meski awalnya terlihat seperti flu biasa, pneumonia bisa berkembang secara perlahan dan tak disadari. Maka sebaiknya segera lakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah ada infeksi di paru-paru.Konsultasi dan Layanan Deteksi Dini di Granostic SurabayaDi Granostic Surabaya, kami menyediakan layanan pemeriksaan dan deteksi dini pneumonia dengan pendekatan menyeluruh dan berbasis bukti medis. Bagi Anda yang termasuk dalam kelompok berisiko atau mengalami gejala mencurigakan, kami siap membantu dengan layanan yang cepat, akurat, dan nyaman.Berikut ini adalah rangkaian layanan deteksi dini pneumonia yang bisa Anda lakukan di Granostic:1. Pemeriksaan FisikLangkah pertama dalam deteksi pneumonia adalah pemeriksaan fisik oleh tenaga medis. Dokter akan memeriksa kondisi napas Anda, mendengarkan suara paru-paru menggunakan stetoskop, dan menilai tanda-tanda seperti frekuensi napas, suhu tubuh, serta nyeri dada.Pemeriksaan ini sangat penting untuk mengetahui apakah ada bunyi napas abnormal seperti suara "ronki" atau "crackles" yang bisa menandakan adanya infeksi di paru-paru.2. Tes LaboratoriumTes darah sering kali dilakukan untuk mengecek adanya tanda infeksi seperti peningkatan sel darah putih atau penanda peradangan (seperti CRP atau prokalsitonin). Bila dicurigai infeksi bakteri, dokter bisa menyarankan pemeriksaan dahak (sputum) untuk mengetahui jenis kuman penyebab.Tes laboratorium ini membantu menentukan jenis infeksi dan mempercepat pemberian pengobatan yang tepat.3. ImagingPemeriksaan pencitraan seperti rontgen dada (X-ray) merupakan metode paling umum untuk memastikan apakah terdapat infeksi di paru-paru. Pada kasus tertentu, dokter mungkin juga merekomendasikan CT scan jika hasil rontgen kurang jelas.Imaging ini membantu melihat lokasi infeksi, luas penyebarannya, dan mendeteksi komplikasi seperti efusi pleura (penumpukan cairan di paru).4. Konsultasi Spesialis dokter paru dan penyakit dalamUntuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang lebih komprehensif, Granostic juga menyediakan konsultasi dengan dokter spesialis paru dan dokter penyakit dalam. Dokter akan mengevaluasi hasil pemeriksaan Anda dan merancang penanganan sesuai dengan kondisi tubuh, riwayat penyakit, dan kebutuhan klinis Anda.Konsultasi ini sangat penting bagi Anda yang sudah mengalami gejala berat atau memiliki penyakit penyerta yang kompleks.Sobat, pneumonia bisa berbahaya jika tidak terdeteksi sejak awal, apalagi bagi mereka yang rentan. Jadi jangan tunggu gejalanya memburuk untuk memeriksakan diri ke dokter, sebab deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa.Granostic Surabaya hadir untuk memberikan layanan deteksi pneumonia yang akurat, cepat, dan profesional. Lindungi diri Anda dan orang terdekat dari risiko pneumonia dengan langkah tepat hari ini.Yuk, periksakan kondisi saluran napas Anda di Granostic Surabaya dan Booking pemeriksaan sekarang juga!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:American Lung Association. (2024). Learn About Pneumonia. Diakses 2025.Mayo Clinic. (2024). Pneumonia: Symptoms and Causes. Diakses 2025.Cleveland Clinic. (2024). Pneumonia: Symptoms, Causes & Treatment. Diakses 2025.CNN Indonesia. (2024, 6 Februari). Kematian akibat Pneumonia di Indonesia Naik Drastis Sepanjang 2024. Diakses 2025.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pneumonia Terus Ancam Anak-anak. Diakses 2025.World Health Organization (WHO). (2024). Pneumonia. Diakses 2025.WebMD. (2024). Types of Pneumonia. Diakses 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Pneumonia Prevention. Diakses 2025.Cleveland Clinic. (2024). Aspiration Pneumonia. Diakses 2025.Cleveland Clinic. (2024). Atypical (Walking) Pneumonia. Diakses 2025.
Apa Itu Tes NIPT Ibu Hamil? Pelajari Selengkapnya di Sini!
Agar dapat menjalani kehamilan yang sehat, Sobat Granostic perlu rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk menjalani tes NIPT khusus untuk ibu hamil. But wait, tahukah Anda apa itu tes NIPT?Menjalani kehamilan tidak pernah mudah untuk ibu, bahkan jika ini bukanlah kehamilan pertama Anda. Saat hamil, wajar bagi ibu untuk mengkhawatirkan perkembangan janinnya dan merasakan kecemasan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah, saat membayangkan proses persalinan nantinya.Nah, pertanyaan-pertanyaan Sobat akan kondisi janin dan kemungkinan keselamatan persalinan ini dapat dijawab melalui pemeriksaan medis secara teratur. Prosedur Non-invasive Prenatal Testing (NIPT), yang dapat mendeteksi kelainan genetis pada si Kecil.Pada artikel kali ini, Granostic akan menjelaskan secara rinci mengenai apa itu NIPT untuk ibu hamil, prosedur, tujuan dan manfaat dilakukannya, hingga Berapa biaya yang perlu Anda keluarkan untuk mengakses pemeriksaan ini. Penasaran?Pengertian Tes NIPTNIPT atau Non-Invasive Prenatal Testing adalah pemeriksaan skrining modern yang bisa dilakukan sejak awal kehamilan untuk mendeteksi kemungkinan adanya kelainan kromosom pada janin, seperti sindrom Down (trisomi 21), sindrom Edwards (trisomi 18), dan sindrom Patau (trisomi 13).Menariknya, tes ini juga dapat mengetahui jenis kelamin bayi sejak dini. Prosedurnya sangat sederhana, yakni hanya dengan pengambilan sampel darah dari ibu hamil, yang ternyata juga mengandung fragmen DNA janin.Melalui analisis DNA janin yang beredar di dalam darah ibu (dikenal sebagai cell-free DNA/cfDNA), para tenaga medis bisa mendapatkan gambaran awal tentang susunan genetik si kecil.Sampel darah ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa apakah ada indikasi kelainan kromosom tertentu. Namun perlu diingat, NIPT adalah tes skrining, bukan tes diagnosis. Artinya, hasilnya hanya menunjukkan kemungkinan atau risiko, bukan kepastian adanya kelainan.NIPT bersifat opsional, namun sangat direkomendasikan terutama bagi ibu hamil yang berisiko tinggi. Dokter atau konselor genetik Anda akan membantu menjelaskan hasilnya dan mendiskusikan langkah selanjutnya jika dibutuhkan. Mengapa Disebut “Non-Invasive”?Disebut non-invasive, NIPT memiliki prosedur yang aman dan berpeluang sangat rendah untuk menimbulkan efek samping berat pada ibu hamil maupun janin. Sehingga tes ini menjadi pilihan cerdas bagi Anda yang ingin lebih memahami kondisi janin secara menyeluruh sejak awal kehamilan, tanpa prosedur invasif yang membahayakan.Kelainan Kromosom yang Dapat Dideteksi Tes NIPTSeperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tes NIPT dapat membantu mendeteksi kelainan kromosom pada janin. Berikut penjelasan lebih lanjut soal kelainan kromosom yang dimaksud:1. Trisomi 21 (Down Syndrome)Trisomy 21, yang dikenal juga dengan down syndrome, merupakan kondisi kromosom yang paling banyak ditemui sebagai kondisi bawaan bayi baru lahir. Down syndrome sendiri terjadi karena anak memiliki satu pasang ekstra kromosom nomor 21.Tes NIPT dapat mendeteksi kelainan kromosom ini dengan menganalisis DNA janin yang ada dalam darah ibu hamil. Tepatnya, dengan memeriksa jumlah kromosom janin dan mengidentifikasi adanya kelebihan atau kekurangan kromosom, yang dapat mengarah pada kondisi down syndrome.2. Trisomi 18 (Edwards Syndrome)Selain trisomi 21, tes NIPT juga dapat mendeteksi kemungkinan trisomi 18 atau edwards syndrome pada janin. Kondisi ini tergolong serius, di mana kebanyakan janin yang mengalami edwards syndrome dapat mengalami kematian.3. Trisomi 13 (Patau Syndrome)Pemeriksaan NIPT juga dapat membantu mendeteksi trisomi 13 pada janin, atau patau syndrome.Trisomi ini juga tergolong kondisi yang sangat serius, karena dapat menyebabkan kematian janin. 4. Kelainan Kromosom SeksualTes NIPT juga dapat mendeteksi kelainan kromosom seksual pada janin, yakni:Turner Syndrome (XO)Turner syndrome, yang dikenal juga sebagai 45,X syndrome, merupakan kondisi yang hanya terjadi pada perempuan. Kondisi ini terjadi karena jumlah kromosom X pada penderitanya tidak lengkap, yakni harusnya dua copy hanya ada satu copy.Klinefelter Syndrome (XXY)Dikenal juga dengan sindrom XXY, kelainan kromosom ini hanya terjadi pada laki-laki. Di mana, kondisi ini terjadi saat penderitanya hanya memiliki lebih dari satu copy X.XYY Syndrome dan Triple X (XXX) SyndromeTrisomi X, atau yang juga dikenal sebagai sindrom triple X, adalah kondisi genetik di mana seorang perempuan memiliki satu kromosom X lebih banyak dari biasanya, jadi totalnya ada tiga kromosom X (47,XXX).Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan ciri fisik yang mencolok, meskipun sebagian perempuan mungkin memiliki postur tubuh yang sedikit lebih tinggi dari rata-rata. Secara umum, perempuan dengan trisomi X tetap mengalami pubertas secara normal dan tetap bisa hamil seperti wanita lainnya.Namun, kondisi ini bisa meningkatkan risiko gangguan belajar, keterlambatan bicara, dan perkembangan bahasa. Beberapa anak juga mungkin mengalami keterlambatan dalam kemampuan motorik, seperti duduk atau berjalan, serta memiliki otot tubuh yang cenderung lebih lemah (hipotonia).Sementara itu, Sindrom XYY adalah kondisi genetik di mana seorang pria memiliki kromosom Y tambahan, sehingga susunan kromosomnya menjadi XYY. Umumnya, pria dengan kondisi ini tumbuh lebih tinggi dari rata-rata, tetapi tidak menunjukkan ciri fisik yang mencolok. Produksi hormon testosteron dan perkembangan seksualnya pun biasanya tetap normal, dan mereka tetap bisa memiliki keturunan.Meski begitu, sindrom XYY bisa meningkatkan risiko keterlambatan bicara, kesulitan belajar, serta gangguan perkembangan motorik seperti duduk atau berjalan. Beberapa anak juga mengalami kelemahan otot, tremor ringan, atau kejang.Dari sisi psikososial, kondisi ini dapat dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan perilaku seperti ADHD, kecemasan, depresi, atau gangguan spektrum autisme yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.5. Mikrodelesi dan Duplikasi Kromosom (tergantung jenis NIPT)Selain beberapa kelainan kromosom di atas, tes NIPT juga dapat mendeteksi mikrodelesi dan duplikasi kromosom. Di mana kondisi ini dapat terjadi akibat hilangnya (delesi) atau penggandaan (duplikasi) segmen DNA yang sangat kecil pada kromosom. Kondisi ini dapat terjadi secara spontan atau diturunkan dari orang tua janin.Siapa yang Disarankan Menjalani Tes NIPT?Setelah memahami apa itu NIPT dan kondisi genetik apa saja yang dapat terdeteksi melalui tes ini, pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul di benak Anda adalah: siapa saja yang sebenarnya perlu mempertimbangkan untuk menjalani pemeriksaan ini?Meskipun bersifat opsional, NIPT sangat disarankan pada kondisi kehamilan tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelainan kromosom. Tes ini menjadi pilihan bijak untuk mendapatkan gambaran awal tentang kesehatan genetik janin, sehingga langkah medis selanjutnya dapat dipersiapkan lebih matang.1. Usia ibu ≥ 35 tahunIbu hamil yang berusia 35 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan kelainan kromosom, seperti sindrom Down. Seiring bertambahnya usia, kualitas dan pembelahan kromosom dalam sel telur bisa menurun, meningkatkan kemungkinan terjadinya kelainan genetik. Karena itu, NIPT menjadi pemeriksaan yang sangat dianjurkan pada kelompok usia ini sebagai langkah deteksi dini yang aman dan akurat.2. Memiliki riwayat kelainan genetik dalam keluargaJika Anda atau pasangan memiliki riwayat kelainan genetik di dalam keluarga—baik itu dari pihak ayah maupun ibu, maka NIPT bisa menjadi salah satu bentuk skrining yang bijaksana. Tes ini membantu mengidentifikasi apakah risiko tersebut juga dapat diturunkan kepada janin, sehingga Anda bisa mengambil keputusan medis lebih dini dan terinformasi.3. Hasil USG mencurigakanKadang, saat menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG), dokter menemukan temuan yang mencurigakan, seperti penebalan lipatan leher janin (NT), kelainan organ, atau pertumbuhan yang tidak sesuai usia kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, dokter bisa menyarankan NIPT untuk menilai apakah terdapat kemungkinan kelainan kromosom yang mendasarinya.4. Tes skrining awal (seperti NT Scan atau Double Marker) menunjukkan risiko tinggiBila hasil dari tes skrining awal kehamilan seperti Double Marker atau NT Scan menunjukkan risiko tinggi terhadap kelainan kromosom, NIPT bisa menjadi langkah lanjutan yang lebih spesifik dan akurat. Tes ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri dalam menindaklanjuti hasil skrining, tapi juga mengurangi kecemasan dengan prosedur yang aman bagi ibu dan janin.5. Kehamilan melalui program bayi tabung (IVF)Proses kehamilan dengan bantuan teknologi reproduksi seperti bayi tabung (IVF) biasanya melibatkan pemantauan ketat terhadap kondisi janin. Karena IVF bisa membawa risiko genetik tertentu atau kehamilan kembar, NIPT sangat direkomendasikan untuk memastikan bahwa perkembangan janin berlangsung normal dan sehat sejak dini.Kapan Waktu Ideal Melakukan Tes NIPT?Tes NIPT dapat dilakukan mulai usia kehamilan 10 minggu—yaitu pada awal trimester pertama. Ini adalah waktu ideal karena jumlah DNA janin (cfDNA) dalam darah ibu sudah cukup untuk dianalisis secara akurat.Semakin cepat dilakukan, semakin cepat pula Anda mendapatkan informasi penting mengenai kondisi janin, yang bisa membantu dalam merencanakan kehamilan dengan lebih baik. Meskipun bisa dilakukan di trimester kedua, pemeriksaan lebih awal tentu memberi keunggulan dalam deteksi dini.Bagaimana Proses Pemeriksaan Tes NIPT?Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk menjalani tes NIPT, tak perlu khawatir. Prosesnya sangat sederhana, tidak menyakitkan, dan bisa selesai dalam waktu singkat. Yuk, simak langkah-langkahnya di bawah ini:1. Konsultasi dengan dokter kandunganLangkah pertama adalah melakukan konsultasi dengan dokter kandungan yang berpengalaman seperti layanan konsultasi kehamilan yang komprehensif dan personal bersama dr. Dina Fitriana, Sp.OG, dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang berpengalaman Di Granostic Surabaya. Anda bisa menjadwalkan dan booking konsultasi bersama Dokter spesialis kandungan kami.Pada tahap ini, dokter akan mengevaluasi riwayat kehamilan Anda, hasil USG, serta tes sebelumnya jika ada. Konsultasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa NIPT memang diperlukan, dan menjelaskan manfaat serta keterbatasan tes kepada Anda dengan transparan.2. Pengambilan darah ibuSetelah dinyatakan siap, petugas medis akan mengambil sampel darah dari lengan Anda. Sampel ini akan mengandung campuran DNA ibu dan fragmen DNA janin (cfDNA) yang beredar secara alami di aliran darah. Prosedur ini cepat dan minim risiko—tanpa perlu menusuk rahim atau melakukan tindakan invasif lainnya.3. Pengolahan sampel di laboratoriumSampel darah Anda akan dikirim ke laboratorium genetika yang memiliki teknologi tinggi. Di sana, DNA janin yang berasal dari darah ibu akan dianalisis untuk melihat kemungkinan adanya kelainan kromosom, seperti trisomi 21, 18, atau 13. Proses ini sangat canggih dan membutuhkan ketelitian tinggi agar hasilnya akurat.4. Hasil keluar dalam 5–10 hari kerjaSetelah proses analisis selesai, hasil tes akan keluar dalam waktu sekitar 5 hingga 10 hari kerja. Hasil ini akan dikonsultasikan kembali oleh dokter kandungan Anda, disertai penjelasan menyeluruh dan rekomendasi medis bila dibutuhkan. Dengan proses yang cepat dan aman, NIPT memberi Anda ketenangan hati dalam menjalani kehamilan.Bagaimana Bentuk dan Arti Hasil Tes NIPT?Setelah menjalani tes NIPT, Anda akan menerima hasil berupa laporan digital atau cetak yang menunjukkan apakah janin Anda memiliki kemungkinan mengalami kelainan genetik tertentu. Hasil ini umumnya dikategorikan ke dalam dua kelompok utama: negatif (risiko rendah) dan positif (risiko tinggi). Penting untuk memahami arti dari setiap kategori ini agar Anda bisa mengambil langkah yang tepat bersama dokter.Hasil Negatif / Risiko RendahHasil dikatakan negatif atau menunjukkan risiko rendah jika tidak ditemukan tanda-tanda signifikan adanya kelainan kromosom yang diperiksa, seperti trisomi 21 (Down syndrome), trisomi 18, trisomi 13, atau gangguan pada kromosom seks.Artinya, kemungkinan janin mengalami kondisi tersebut sangat kecil. Namun perlu diingat, meskipun hasil ini menenangkan, tidak ada tes skrining yang memberikan jaminan 100%. Oleh karena itu, hasil ini tetap perlu dilengkapi dengan pemeriksaan kehamilan rutin.Hasil Positif / Risiko TinggiSebaliknya, hasil dikatakan positif atau berisiko tinggi jika ditemukan indikasi bahwa janin kemungkinan besar memiliki salah satu kelainan genetik yang diuji. Misalnya, risiko tinggi trisomi 21 berarti ada potensi lebih besar janin mengalami sindrom Down dibandingkan rata-rata.Namun, hasil positif bukan berarti diagnosis pasti. Tes ini hanya menunjukkan kemungkinan, bukan kepastian. Oleh sebab itu, dokter akan menyarankan pemeriksaan lanjutan, seperti amniosentesis atau CVS, untuk memastikan diagnosis secara definitif.Tingkat Akurasi NIPTTes NIPT dikenal memiliki tingkat akurasi tinggi dalam mendeteksi beberapa jenis kelainan genetik. Berikut gambaran akurasinya berdasarkan data medis yang tersedia:Trisomi 21 (Down Syndrome): akurasi deteksi sangat tinggi, mencapai sekitar 99%, dengan tingkat positif palsu (false positive rate) yang rendah.Trisomi 18 dan 13: akurasinya sedikit lebih rendah dibanding trisomi 21, yaitu sekitar 97% untuk trisomi 18 dan 80–90% untuk trisomi 13, tergantung metode dan laboratorium yang digunakan.Kelainan kromosom seks: akurasinya bervariasi antara 90–95%, tergantung jenis kelainan dan kondisi spesifik kehamilan.Apakah Tes NIPT Aman?Pemeriksaan NIPT sangatlah man, tidak ada risiko Kesehatan apapun pada janin. Ini karena tes dilakukan dengan mengambil sampel darah ibu saja.Berapa Biaya Tes NIPT di Indonesia?Biaya pemeriksaan tes NIPT sangatlah bervariasi, bergantung layanan tambahan yang Anda ambil dan dimana Anda melakukannya. Namun, secara umum tes NIPT di Indonesia berkisar Rp 5–20 juta.Karena biayanya yang besar ini banyak dari ibu hamil yang tidak atau menunda melakukan tes NIPT. Padahal tes ini bisa membantu mendeteksi dini kemungkinan adanya kelainan genetik pada janin.Menyadari hal ini, klinik Granostic menawarkan jasa konsultasi NIPT bersama dokter spesialis, yang dapat membantu menilai urgensi tes NIPT ini bagi para ibu. Lantas adakah keuntungan lain dengan melakukan konsultasi bersama dokter spesialis Granostic?Konsultasi NIPT di Granostic Bersama Dokter SpesialisAda alasan kenapa Granostic percaya diri dapat menjadi jawaban terbaik para ibu dan keluarga di Surabaya, yang membutuhkan layanan kesehatan profesional. Salah satu alasan utamanya adalah keberadaan dokter spesialis yang berpengalaman, termasuk dalam mendampingi ibu hamil.Bersama dr. Dina Fitriana, SpOG, Sobat Granostic yang berada di Surabaya dan sekitarnya dapat melakukan konsultasi NIPT dengan menyeluruh. Dokter kami akan memberikan edukasi lengkap, melakukan pemeriksaan fisik, laboratorium, hingga pencitraan untuk menyimak perkembangan janin. Bila ditemukan adanya tanda-tanda yang harus diwaspadai, dokter kami dapat memberikan saran perawatan dan tindakan yang diperlukan. Begitupula dengan tes NIPT, yang akan dianjurkan bila ditemukan tanda-tanda urgent mengenai status DNA janin Anda.Nah, untuk mendaftar layanan konsultasi NIPT di Granostic ini, Sobat dapat langsung mengubungi customer care kami dengan klik tombol WhatsApp, ya!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:WebMD. (2024). What Is Noninvasive Prenatal Testing (NIPT)? Diakses 2025.MedlinePlus. (2024). What is noninvasive prenatal testing (NIPT)? Diakses 2025.NHS Inform. (2024). Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT). Diakses 2025.Cleveland Clinic. (2024). Noninvasive Prenatal Testing (NIPT). Diakses 2025.Sonic Genetics. (2024). Conditions Identified by NIPT. Diakses 2025.
Skrining Kehamilan di Surabaya
Sobat Granostic, menyambut kedatangan si Kecil dalam keluarga Anda pastinya memerlukan banyak persiapan. Salah satu yang paling penting adalah skrining kehamilan secara teratur.Skrining kehamilan membantu memastikan ibu dan janin yang dikandungnya dalam kondisi sehat. Dokter dapat memberikan pemeriksaan menyeluruh dan mendeteksi dini adanya masalah pada kesehatan ibu maupun janin sepanjang kehamilan.Nah, dalam artikel ini, Granostic akan membahas berbagai hal yang perlu Anda ketahui mengenai skrining kehamilan. Mulai dari definisi, jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan, tujuan, hingga rekomendasi tempat skrining kehamilan terbaik di Surabaya. Penasaran?Apa Itu Skrining Kehamilan?Skrining kehamilan merupakan serangkaian proses pemeriksaan kehamilan yang dilakukan secara teratur, dengan tujuan untuk mendeteksi adanya gangguan Kesehatan atau penyakit tertentu sedini mungkin pada ibu hamil. Jenis-Jenis Pemeriksaan dalam Skrining KehamilanSetelah memahami pentingnya skrining kehamilan untuk mendeteksi dini potensi risiko pada ibu dan janin, kini saatnya Anda mengetahui lebih dalam tentang jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan selama masa kehamilan.Berbagai pemeriksaan ini dirancang untuk memantau kesehatan kehamilan secara menyeluruh, mulai dari tes laboratorium hingga pemeriksaan fisik rutin. Dengan memahami setiap jenis pemeriksaan, Anda dapat mengambil peran aktif dalam menjaga kesehatan selama kehamilan.Langsung simak, yuk!1. Tes DarahTes darah merupakan pemeriksaan dasar yang penting dalam skrining kehamilan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui golongan darah, rhesus (Rh), kadar hemoglobin, serta mendeteksi adanya anemia, infeksi, atau kelainan darah lainnya. Tes darah juga berperan dalam mendeteksi antibodi yang bisa menyerang sel darah janin, terutama pada ibu dengan rhesus negatif.Selain itu, tes darah dapat memantau kadar hormon seperti human chorionic gonadotropin (hCG) dan progesteron yang penting untuk menjaga kehamilan tetap sehat. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi risiko preeklamsia melalui penilaian kadar protein tertentu, serta menilai status kekebalan terhadap infeksi seperti hepatitis B, HIV, dan sifilis. Dengan hasil yang akurat, dokter bisa segera mengambil tindakan bila ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian khusus.2. Tes UrineTes urine juga termasuk dalam pemeriksaan rutin selama kehamilan. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mendeteksi adanya protein, gula, atau bakteri dalam urine yang bisa menjadi tanda infeksi saluran kemih, diabetes gestasional, atau risiko preeklamsia.Kandungan protein yang tinggi dalam urine, misalnya, bisa menunjukkan adanya tekanan darah tinggi atau masalah ginjal. Sementara kadar gula yang tinggi dapat menjadi tanda awal diabetes selama kehamilan. Tes urine biasanya dilakukan secara rutin pada setiap kunjungan kontrol kehamilan karena sifatnya yang cepat, mudah, dan non-invasif.3. USG Kehamilan (Ultrasonografi)USG adalah salah satu prosedur paling penting dalam skrining kehamilan karena memungkinkan dokter melihat kondisi janin secara langsung. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar janin di dalam rahim.USG trimester pertama: dilakukan sekitar minggu ke-6 hingga ke-12, bertujuan memastikan lokasi janin, detak jantung, dan usia kehamilan. Ini juga dapat mendeteksi kehamilan ganda dan kelainan awal seperti kehamilan ektopik.USG trimester kedua: sekitar minggu ke-18 hingga 22, digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan janin, memeriksa organ dalam, serta mendeteksi kelainan struktural. Pemeriksaan ini dikenal juga sebagai "anatomy scan".USG trimester ketiga: membantu memantau posisi janin, jumlah cairan ketuban, serta kondisi plasenta menjelang persalinan. Ini juga penting untuk memastikan janin tumbuh dengan baik hingga akhir kehamilan.4. Pemeriksaan Fisik oleh Dokter SpesialisPemeriksaan fisik oleh dokter kandungan tetap menjadi komponen penting dalam memantau kehamilan Anda. Dokter akan mengevaluasi kondisi tubuh secara keseluruhan dan mengukur beberapa indikator penting.Pengukuran tekanan darahTekanan darah ibu hamil harus terus dipantau karena tekanan darah tinggi bisa menjadi tanda preeklamsia yang berisiko bagi ibu dan janin. Pemeriksaan ini mudah dilakukan namun sangat krusial untuk deteksi dini gangguan kehamilan.Pemeriksaan berat badan dan lingkar perutPertambahan berat badan selama kehamilan perlu dicatat untuk memastikan bahwa pertumbuhan janin berjalan sesuai harapan. Lingkar perut juga digunakan sebagai indikator perkembangan janin, terutama ketika dikombinasikan dengan tinggi fundus uteri.Detak jantung janin (DJJ)Pemeriksaan DJJ biasanya dilakukan dengan alat bernama doppler untuk memastikan detak jantung janin berada dalam kisaran normal. Irama jantung yang terlalu cepat atau lambat dapat menunjukkan adanya stres janin atau gangguan lainnya.Pemeriksaan tinggi fundus uteri (tinggi rahim) sesuai usia kehamilanTinggi fundus (puncak rahim) diukur secara manual untuk melihat apakah rahim berkembang sesuai usia kehamilan. Ini menjadi indikator pertumbuhan janin, terutama setelah trimester kedua. Bila tinggi fundus terlalu kecil atau terlalu besar, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan.5. Skrining Kelainan Genetik dan KromosomSelain memantau kesehatan fisik ibu dan janin, skrining kehamilan juga mencakup pemeriksaan untuk mendeteksi potensi kelainan genetik dan kromosom.Pemeriksaan ini penting untuk mengidentifikasi gangguan seperti Down Syndrome, Trisomi 18, dan Trisomi 13 sejak dini. Dengan hasil skrining yang akurat, Anda dan dokter dapat merencanakan tindakan medis yang sesuai atau memberikan dukungan yang optimal bagi janin.Berikut ini adalah beberapa jenis skrining genetik yang umum dilakukan selama kehamilan.NIPT (Non-Invasive Prenatal Test)NIPT adalah pemeriksaan genetik yang sangat sensitif dan dilakukan melalui sampel darah ibu. Tes ini mampu mendeteksi kelainan kromosom utama seperti Down Syndrome hanya dengan mengambil DNA janin dari darah ibu. Karena bersifat non-invasif, NIPT tidak membahayakan janin dan bisa dilakukan sejak usia kehamilan 10 minggu.Keunggulan NIPT terletak pada akurasinya yang tinggi dan minim risiko. Tes ini sangat disarankan untuk ibu hamil berisiko tinggi atau memiliki riwayat keluarga dengan kelainan genetik.PAPP-A dan hCGPemeriksaan ini biasanya dilakukan pada trimester pertama. PAPP-A (Pregnancy-Associated Plasma Protein A) dan hormon hCG (human Chorionic Gonadotropin) diukur untuk mengetahui risiko kelainan kromosom. Kadar yang tidak normal bisa menjadi indikator awal adanya gangguan seperti Down Syndrome.Pemeriksaan ini sering dipadukan dengan USG translucensi nukal untuk meningkatkan akurasi hasil skrining, sehingga deteksi dini bisa dilakukan dengan lebih tepat.Amniosentesis (opsional)Amniosentesis adalah prosedur invasif yang dilakukan dengan mengambil sampel cairan ketuban untuk menganalisis kromosom janin. Tes ini biasanya disarankan jika hasil NIPT menunjukkan risiko tinggi atau bila Anda memiliki faktor risiko tertentu seperti usia ibu di atas 35 tahun.Meski tergolong akurat, amniosentesis mengandung sedikit risiko seperti keguguran, sehingga perlu dipertimbangkan dengan matang melalui konsultasi dengan dokter spesialis kandungan.6. Skrining Infeksi MenularInfeksi selama kehamilan bisa membahayakan janin dan berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, skrining infeksi menular menjadi bagian penting dari pemeriksaan prenatal. Deteksi dini akan membantu dokter memberikan penanganan lebih cepat dan mencegah komplikasi serius.Beberapa infeksi yang umumnya disaring dalam pemeriksaan kehamilan meliputi:TORCHTORCH adalah akronim dari Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes Simpleks. Infeksi ini bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti gangguan pendengaran, keterbelakangan mental, dan gangguan penglihatan.Pemeriksaan TORCH dilakukan dengan tes darah. Jika ditemukan infeksi aktif, dokter akan memberikan pengobatan untuk meminimalkan dampaknya pada janin.HIV/AIDSTes HIV penting untuk mendeteksi infeksi virus HIV yang dapat ditularkan ke janin selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Jika terdeteksi sejak dini, pengobatan antiretroviral bisa diberikan untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi.Skrining HIV bersifat rutin dan aman. Tes ini menjadi langkah awal perlindungan bagi bayi dari risiko infeksi HIV.SifilisSifilis adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kelahiran prematur, kematian janin, atau gangguan perkembangan bayi. Tes sifilis dilakukan melalui pemeriksaan darah, dan pengobatannya relatif sederhana jika dideteksi sejak awal. Penanganan dini sifilis selama kehamilan terbukti efektif dalam mencegah komplikasi serius pada bayi.Hepatitis B dan CHepatitis B dan C adalah infeksi virus yang menyerang hati dan bisa ditularkan dari ibu ke bayi saat persalinan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi virus sejak awal dan menentukan apakah bayi memerlukan imunisasi tambahan setelah lahir.Dengan skrining Hepatitis yang rutin, Anda dapat melindungi si kecil dari kemungkinan infeksi kronis yang membahayakan di masa depan.Tujuan Skrining KehamilanMeskipun skrining kehamilan dapat diakses dengan mudah, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa pemeriksaan ini merepotkan. Padahal tujuan dari skrining kehamilan ini sangatlah banyak dan menguntungkan bagi keselamatan ibu maupun janin.Berikut ini beberapa tujuan skrining kehamilan yang penting Anda ketahui, Sobat!1. Mengetahui kondisi kesehatan ibu dan janin secara menyeluruhTujuan utama skrining kehamilan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kesehatan ibu dan janin secara menyeluruh. Ini termasuk bagaimana perkembangan janin dalam rahim, bagaimana dampaknya pada kesehatan fisik dan mental ibu, hingga dapat menyimak adanya tanda-tanda masalah kesehatan bagi keduanya.2. Deteksi dini risiko komplikasiKarena memungkinkan pemeriksaan menyeluruh kondisi ibu dan janin, skrining kehamilan dapat membantu mendeteksi dini risiko komplikasi. Sebab ibu hamil sangat rentan mengalami komplikasi seperti preeklampsia, yang dapat membahayakan nyawa ibu maupun si kecil.3. Menentukan jenis perawatan atau tindakan medis yang dibutuhkanLewat deteksi dini risiko komplikasi kehamilan, dokter dan tim medis dapat memberikan perawatan dan pengobatan yang cocok dengan kondisi ibu maupun janin.4. Meningkatkan angka keselamatan ibu dan bayiTujuan utama dari skrining kesehatan kehamilan ini yakni untuk meningkatkan angka keselamatan ibu dan bayi, dengan mendeteksi dini risiko gangguan kesehatan, menentukan perawatan dan pengobatan yang tepat, serta mencegah berkembangnya kondisi medis tertentu.Kapan Skrining Kehamilan Dilakukan?Sobat Granostic dapat melakukan skrining kehamilan sesuai dengan perkembangan janin dan usia kehamilan berikut ini:Trimester 1 (Usia Kehamilan 0–12 Minggu)Setelah Anda mengetahui bahwa Anda hamil, segera jadwalkan pemeriksaan Bersama dokter spesialis. Pada kunjungan pertama Anda, dokter dapat melakukan wawancara mengenai lingkungan tempat tanggal, gaya hidup, hingga riwayat kesehatan diri dan anggota keluarga Anda.Selain itu, dokter juga dapat memberikan edukasi mengenai prakiraan hari persalinan Anda, melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, hingga di akhir trimester satu Anda mungkin sudah dapat mendengar detak jantung janin lewat Doppler.Trimester 2 (Usia Kehamilan 13–27 Minggu)Pada trimester kedua, Anda dapat menjalani tes kesehatan rutin yang berkaitan dengan pemeriksaan fisik ibu, tes urine, tekanan darah, hingga bagaimana pertumbuhan si Kecil. Selain itu, pada periode kehamilan ini, Anda juga akan lebih banyak melakukan tes pencitraan seperti ultrasonografi (USG) untuk menyimak sejauh mana si Kecil berkembang.Trimester 3 (Usia Kehamilan 28–40 Minggu)Melansir dari WebMD.com, jenis pemeriksaan yang umumnya dilakukan selama skrining kehamilan di trimester tiga meliputi tes darah dan urine, pengukuran berat, tekanan darah, dan pengukuran tinggi fundus.Selain itu, dalam periode kehamilan ini, Anda juga akan melakukan tes infeksi saluran kencing atau IMS. Dokter juga dapat menyarankan untuk melakukan pengecekan detak jantung janin, tes non-stress, profil biopsi, tes USG, dan tes kontraksi.Apakah Ada Efek Samping Skrining Kehamilan?Sobat Granostic, saat menyimak prosedur skrining kehamilan yang bisa jadi cukup panjang dan kompleks, sangat wajar kalau Anda merasa khawatir dengan keamanannya. Namun, bisa dipastikan bahwa skrining kehamilan umumnya memiliki risiko efek samping yang sangat rendah.Bahkan biasanya tidak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya atau fatal untuk ibu dan janinnya. Efek samping yang mungkin terjadi seringnya juga bersifat ringan, utamanya dalam prosedur yang memerlukan proses pengambilan sampel darah, misalnya pada tes TORCH, skrining genetic, dan lainnya.Berapa Biaya Skrining Kehamilan di Surabaya?Sobat Granostic, biaya skrining kehamilan di Surabaya juga sangat kompetitif dan fleksibel. Anda bisa menyesuaikan jenis pemeriksaan dengan kebutuhan dan sesuai dengan rekomendasi dokter.Anda juga bisa mengambil paket pemeriksaan kehamilan yang menawarkan layanan kesehatan lengkap dengan harga yang lebih terjangkau di Granostic. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat langsung konfirmasi ke tim customer care kami di 0822-3090-0900.Yuk Skrining Kehamilan Menyeluruh di Granostic SurabayaSkrining kehamilan bukan sekadar formalitas medis. Ini adalah langkah awal yang penting untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi sejak trimester pertama hingga jelang persalinan.Melalui skrining yang rutin dan menyeluruh, berbagai risiko seperti kelainan kromosom, infeksi yang membahayakan janin, hingga gangguan pertumbuhan janin dapat terdeteksi lebih dini. Semakin awal risiko diketahui, semakin besar peluang untuk menanganinya dengan tepat.Di Surabaya, Granostic hadir sebagai solusi kesehatan ibu hamil yang mengedepankan kualitas, akurasi, dan kenyamanan. Dengan fasilitas modern, tim dokter spesialis kandungan berpengalaman, serta dukungan teknologi medis terkini, Granostic menjadi pilihan cerdas bagi ibu hamil yang ingin menjalani kehamilan yang sehat dan terpantau optimal.Yuk, simak apa saja layanan unggulan skrining kehamilan yang bisa Anda dapatkan di Granostic!Layanan Skrining Kehamilan di Granostic Surabaya1. Pemeriksaan lengkap Granostic menyediakan paket pemeriksaan lengkap yang mencakup seluruh aspek penting dalam pemantauan kehamilan. Mulai dari tes darah, tes urine, pengecekan tekanan darah, hingga pemantauan tinggi fundus uteri dan detak jantung janin. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memetakan kondisi kesehatan ibu dan janin secara menyeluruh, sehingga dokter bisa mengambil langkah preventif bila ditemukan indikasi risiko kehamilan.Manfaat pemeriksaan lengkap ini adalah Anda tidak perlu berpindah-pindah fasilitas kesehatan untuk melakukan berbagai jenis tes. Semua tersedia dalam satu tempat dengan kualitas layanan yang konsisten dan tenaga medis yang siap memberi edukasi dan pendampingan.2. USGPemeriksaan USG (Ultrasonografi) di Granostic dilakukan dengan peralatan ultramodern yang mampu memberikan gambar janin secara detail dan akurat. Baik itu USG transvaginal pada awal kehamilan maupun USG 2D/4D untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janin secara visual, semua dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan usia kehamilan Anda.USG yang dilakukan secara berkala bukan hanya memberikan gambaran tumbuh kembang janin, tapi juga memastikan posisi plasenta, volume air ketuban, hingga potensi kelainan struktural sejak dini. Semua interpretasi hasil akan dijelaskan langsung oleh dokter kandungan berpengalaman.3. Skrining infeksi TORCH lengkapPemeriksaan TORCH (Toksoplasma, Rubella, CMV, Herpes Simpleks) adalah bagian penting dari skrining kehamilan karena infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada janin, mulai dari gangguan penglihatan, pendengaran, hingga kerusakan sistem saraf pusat.Di Granostic, skrining TORCH dilakukan secara menyeluruh dan berbasis pemeriksaan laboratorium yang akurat. Dengan mengetahui status infeksi TORCH sedini mungkin, Anda bisa mendapatkan terapi atau pencegahan yang tepat untuk melindungi tumbuh kembang janin.4. Konsultasi dokter kandunganSetiap pemeriksaan di Granostic dilengkapi dengan konsultasi langsung bersama dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang berpengalaman. Konsultasi ini bukan hanya tempat untuk menjawab pertanyaan, tapi juga sesi edukatif yang membantu Anda memahami kondisi kehamilan secara utuh.Dapatkan layanan konsultasi eksklusif bersama dr. Dina Fitriana, Sp.OG, dokter spesialis kandungan berpengalaman di Granostic Surabaya dengan pendekatan ramah dan profesional.Dokter akan menjelaskan hasil pemeriksaan, memberikan saran medis, dan menyusun rencana tindak lanjut yang sesuai dengan kondisi Anda. Pendekatan yang empatik dan personal ini menjadikan setiap pasien merasa nyaman dan lebih percaya diri dalam menjalani kehamilan. 5. Laporan hasil cepat dan digitalDi era digital, Granostic menghadirkan inovasi layanan berupa laporan hasil pemeriksaan yang cepat dan dapat diakses secara online. Anda tidak perlu menunggu berhari-hari atau datang langsung ke klinik hanya untuk mengetahui hasil skrining.Semua data medis Anda akan disimpan secara aman dalam sistem yang dapat diakses dengan akun pribadi. Ini memudahkan Anda untuk memantau riwayat kesehatan kehamilan kapan saja dan di mana saja, serta memudahkan koordinasi dengan dokter dalam kunjungan berikutnya.Nah, buat Sobat Granostic yang siap menjalani kehamilan dengan tenang, cerdas, dan terpantau optimal, Granostic Surabaya adalah mitra kesehatan terbaik untuk Anda.Langsung jadwalkan kunjungan dan rasakan layanan skrining kehamilan yang menyeluruh, akurat, dan penuh perhatian! Klik tombol WhatsApp untuk mengatur jadwal pemeriksaan dan konsultasi bersama dokter spesialis kandungan kami, ya!Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Mayo Clinic. (2024). Prenatal care: 1st trimester visits. Diakses 2025.WebMD. (2024). Second Trimester Prenatal Tests. Diakses 2025.WebMD. (2024). Third Trimester Prenatal Tests. Diakses 2025.National Institutes of Health (NIH). (2021). Pregnancy Check-Ups: Make the Most of Prenatal Visits. Diakses 2025.National Health Service (NHS). (2024). Antenatal checks and tests. Diakses 2025.University OB/GYN Associates. (2024). Prenatal Care: The Importance of Early and Regular Check-ups. Diakses 2025.
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message