Masalah Nutrisi Anak: Penyebab, Dampak, Cara Mengatasinya
03 Oktober 2025
Nutrisi merupakan pondasi utama bagi tumbuh kembang anak. Sayangnya hingga kini masih banyak anak yang mengalami masalah nutrisi, mulai dari kekurangan gizi (malnutrisi), gizi buruk, hingga kelebihan berat badan akibat asupan yang tidak seimbang.Menurut World Health Organization ( 2023), sekitar 149 juta anak di bawah usia 5 tahun di dunia mengalami stunting, sementara 37 juta anak lainnya mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Fakta ini menunjukkan bahwa masalah nutrisi anak bisa hadir dalam berbagai bentuk, baik akibat kekurangan maupun kelebihan gizi.Baca Juga: Kenali Pemenuhan Nutrisi untuk Pencegahan Stunting pada AnakSebagai orang tua, Anda memegang peran penting dalam memastikan kebutuhan gizi si kecil terpenuhi sejak dini. Pemahaman yang tepat tentang jenis, jumlah, dan pola makan anak dapat membantu mencegah berbagai masalah nutrisi sejak awal.Dalam artikel ini, Granostic akan mengajak Anda untuk menyimak lebih jauh mengenai mengapa nutrisi anak sangat penting diperhatikan, apa saja penyebab dan dampaknya, serta bagaimana cara mengatasinya secara tepat.Mengapa Nutrisi Anak Sangat Penting Diperhatikan?Nutrisi yang baik merupakan kunci utama bagi anak untuk tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak-anak membutuhkan kombinasi yang seimbang antara makronutrien (protein, karbohidrat, dan lemak) serta mikronutrien (vitamin dan mineral) untuk mendukung proses pertumbuhan yang kompleks. Setiap sel, jaringan, dan organ dalam tubuh anak berkembang pesat, sehingga asupan gizi yang cukup menjadi bahan bakar bagi semua proses tersebut.Nutrisi juga berperan besar dalam perkembangan otak. Selain itu pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (mulai dari kehamilan hingga usia dua tahun) merupakan fase kritis pembentukan otak dan sistem saraf anak. Kekurangan zat penting seperti asam lemak omega-3, zat besi, seng, dan yodium pada fase ini dapat menghambat perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak di kemudian hari.Baca Juga: Ketahui Peran Nutrisi Dalam Menjaga Tubuh Tetap OptimalSelain mendukung pertumbuhan dan kecerdasan, nutrisi yang baik juga berfungsi menjaga daya tahan tubuh anak. Mayo Clinic menjelaskan bahwa vitamin A, C, D, serta mineral seperti seng dan selenium membantu memperkuat sistem imun, sehingga anak tidak mudah terserang infeksi.Ketika asupan nutrisi terganggu, sistem kekebalan pun melemah, membuat anak lebih rentan terhadap penyakit seperti flu, diare, dan infeksi saluran pernapasan.Tak kalah penting, pola makan bergizi seimbang sejak dini juga membantu mencegah penyakit kronis di masa depan. Menurut WHO, anak yang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan rendah serat memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas dan sindrom metabolik di usia remaja atau dewasa.Karena itu, memberikan pola makan yang sehat dan seimbang bukan hanya untuk pertumbuhan saat ini, tetapi juga untuk masa depan anak yang lebih sehat dan produktif.Masalah Nutrisi Anak yang Umum TerjadiSetelah memahami betapa pentingnya nutrisi bagi tumbuh kembang anak, hal berikutnya yang perlu Anda pahami adalah jenis-jenis masalah nutrisi yang umum terjadi. Pengetahuan ini sangat penting agar orang tua bisa lebih peka terhadap tanda-tanda awal kekurangan atau kelebihan gizi, serta segera mengambil langkah yang tepat sebelum kondisi anak memburuk.Masalah nutrisi pada anak dapat terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu gizi kurang, gizi lebih, dan defisiensi mikronutrien. Ketiganya sama-sama dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan kesehatan jangka panjang anak, hanya saja penyebab dan gejalanya bisa berbeda.Gizi kurang (underweight, stunting, wasting)Gizi kurang terjadi ketika anak tidak mendapatkan cukup energi, protein, atau zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhannya. Menurut WHO, kondisi ini bisa muncul dalam tiga bentuk:Underweight, yaitu berat badan anak lebih rendah dari standar usianya.Stunting, yaitu tinggi badan anak lebih pendek dari rata-rata karena kekurangan gizi kronis dalam waktu lama.Wasting, yaitu kondisi ketika berat badan anak tidak sebanding dengan tinggi badannya akibat kekurangan energi akut.Kekurangan gizi umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang tidak memadai, infeksi berulang (seperti diare atau ISPA), atau pola makan yang monoton. Misalnya anak hanya mau makan nasi tanpa sumber protein dan sayuran. Anak dengan gizi kurang biasanya tampak lemah, mudah lelah, sering sakit, dan pertumbuhannya melambat.Gizi lebih (overweight, obesitas)Masalah gizi lebih kini menjadi tantangan baru di banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2023, sekitar 1 dari 5 anak usia sekolah mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi ini terjadi ketika anak mengonsumsi kalori lebih banyak daripada yang dibutuhkan tubuhnya, ditambah dengan aktivitas fisik yang rendah.Gizi lebih ditandai dengan penumpukan lemak tubuh berlebih, peningkatan berat badan yang signifikan, serta gejala seperti cepat lelah, sering mengantuk, atau napas terengah saat beraktivitas. Jika dibiarkan, obesitas pada anak dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, hingga masalah psikologis seperti rendah diri dan stres sosial.Defisiensi mikronutrien (kekurangan zat besi, vitamin D, atau kalsiumSelain kekurangan atau kelebihan kalori, anak juga bisa mengalami masalah nutrisi akibat kekurangan mikronutrien, yaitu vitamin dan mineral esensial yang dibutuhkan dalam jumlah kecil tetapi berperan besar bagi tubuh. Menurut WHO dan UNICEF, defisiensi zat besi, vitamin D, dan kalsium merupakan masalah gizi mikro yang paling sering terjadi pada anak-anak di dunia.Sementara itu kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, ditandai dengan anak tampak pucat, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi. Lalu defisiensi vitamin D dan kalsium bisa menghambat pertumbuhan tulang dan gigi, menyebabkan kelainan bentuk tulang (rakhitis), serta menurunkan imunitas tubuh.Baca Juga: Yuk, Kenali Beberapa Makanan Peningkat Imun Tubuh Ini!Masalah ini sering kali muncul karena pola makan yang kurang bervariasi, misalnya jarang makan daging, ikan, telur, susu, atau buah dan sayuran segar. Untuk mengatasinya, anak perlu diberikan asupan makanan bergizi seimbang serta suplemen vitamin atau mineral sesuai anjuran dokter.Penyebab Masalah Nutrisi pada AnakMasalah nutrisi tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan — mulai dari pola makan hingga kondisi kesehatan anak dan lingkungan tempat ia tumbuh. Dengan memahami penyebabnya, orang tua dapat melakukan langkah pencegahan lebih dini dan efektif.Faktor Pola MakanFaktor ini merupakan penyebab paling umum dari masalah nutrisi anak. Banyak anak yang terbiasa memilih makanan berdasarkan rasa, bukan nilai gizinya. Misalnya, terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, camilan tinggi gula, atau minuman manis, sementara asupan protein, sayur, dan buah justru sangat minim.Baca Juga: Kenapa Anak Tidak Mau Makan?Selain itu, kebiasaan makan tidak teratur dan porsi yang tidak sesuai usia juga berkontribusi terhadap gangguan gizi. Anak yang sulit makan atau mengalami “picky eating” berisiko mengalami kekurangan gizi, sedangkan anak yang terlalu sering ngemil berlebihan bisa mengalami kelebihan berat badan. Edukasi gizi sejak dini dan keterlibatan orang tua dalam menentukan menu sehat di rumah adalah kunci utama pencegahannya.Baca Juga: Apa Saja Solusi Anak Susah Makan?Faktor KesehatanBeberapa kondisi medis juga bisa menyebabkan anak mengalami masalah nutrisi. Misalnya, penyakit infeksi berulang, gangguan pencernaan seperti celiac disease atau intoleransi laktosa, serta gangguan penyerapan zat gizi di usus.Anak dengan penyakit kronis, misalnya kelainan jantung atau ginjal, juga sering kali mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan gizi harian karena metabolisme tubuhnya berbeda.Dalam kondisi seperti ini, pemeriksaan dan pemantauan rutin oleh dokter anak sangat penting. Dokter akan membantu menyesuaikan jenis makanan, kebutuhan energi, hingga terapi nutrisi khusus bila dibutuhkan. Dengan begitu, anak tetap dapat tumbuh optimal meski memiliki kondisi kesehatan tertentu.Faktor Lingkungan dan PsikologisLingkungan tempat anak tumbuh juga memegang peranan besar dalam menentukan status gizinya. Akses terhadap makanan bergizi, kondisi sosial ekonomi keluarga, serta pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap kebiasaan makan anak.Anak yang tinggal di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi berisiko mengalami kekurangan gizi, sedangkan anak yang hidup di lingkungan perkotaan dengan banyak pilihan makanan cepat saji rentan mengalami obesitas.Dari sisi psikologis, stres, kecemasan, atau pola interaksi makan yang negatif juga dapat mengganggu nafsu makan anak. Misalnya, anak yang sering dipaksa makan atau dimarahi saat tidak mau makan cenderung mengembangkan hubungan yang buruk dengan makanan.Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan, memberi contoh pola makan sehat, dan memperhatikan kondisi emosional anak.Cara Mengatasi Masalah Nutrisi AnakMengetahui faktor-faktor penyebab masalah gizi membantu orang tua mencegah kondisi tersebut sejak dini. Namun, jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda kekurangan atau kelebihan gizi, langkah selanjutnya adalah mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki status gizi si Kecil secara bertahap dan aman.Baca Juga: Bagaimana Penanganan Anak Jika Terlanjur Stunting?Evaluasi Pola Makan HarianLangkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi pola makan harian anak. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa kebiasaan makan anak sehari-hari, seperti sering melewatkan sarapan, terlalu banyak jajan, atau kurang makan sayur dan buah. Hal ini dapat menjadi akar dari masalah gizi.Dengan mencatat jenis, porsi, dan frekuensi makanan yang dikonsumsi anak setiap hari, orang tua dapat menilai apakah asupan gizinya sudah seimbang atau belum. Bila ditemukan ketidakseimbangan (misalnya terlalu banyak karbohidrat dan sedikit protein), orang tua dapat mulai memperbaikinya secara perlahan, seperti menambahkan lauk berprotein, camilan sehat, serta mengatur jadwal makan yang teratur.Evaluasi ini juga bisa dilakukan bersama dokter anak atau ahli gizi agar kebutuhan energi dan zat gizi anak dihitung sesuai usia, berat badan, dan aktivitas hariannya.Edukasi Gizi Seimbang untuk Orang TuaPeran orang tua dalam menyediakan dan mengatur makanan sangat penting. Oleh karena itu, edukasi mengenai gizi seimbang menjadi kunci dalam mengatasi masalah nutrisi anak.Menurut pedoman Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan RI, porsi makan anak sebaiknya mencakup:½ piring buah dan sayur,¼ piring karbohidrat kompleks,dan ¼ piring protein (hewani dan nabati).Pemahaman seperti ini membantu orang tua menyusun menu harian yang beragam dan bergizi lengkap. Namun porsi ini juga perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan pertumbuhan si Kecil, ya, Sobat.Selain itu, edukasi gizi juga membantu orang tua mengenali produk makanan olahan tinggi gula, garam, dan lemak yang sebaiknya dibatasi. Dengan informasi yang tepat, orang tua bisa menjadi teladan dalam menerapkan pola makan sehat di rumah.Libatkan Anak dalam Pemilihan MakananMelibatkan anak dalam memilih atau menyiapkan makanan ternyata bisa menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kebiasaan makan sehat. Ketika anak diberi kesempatan untuk ikut menentukan menu. Misalnya memilih jenis sayur untuk makan malam atau ikut membantu membuat bekal sekolah, mereka cenderung lebih tertarik untuk mencoba makanan tersebut.Menurut Mayo Clinic, anak-anak yang merasa memiliki kendali dalam proses memilih makanan akan lebih terbuka terhadap makanan baru dan lebih jarang menolak makan. Strategi ini juga membangun hubungan positif dengan makanan sejak dini.Selain itu, melibatkan anak dalam kegiatan dapur seperti mencuci buah atau menata meja makan juga bisa menjadi momen edukatif yang menyenangkan dan memperkuat ikatan keluarga.Hindari Memberi Tekanan Saat MakanSalah satu kesalahan umum orang tua adalah memaksa anak untuk makan atau memberi tekanan agar menghabiskan makanan. Meski tujuannya baik, cara ini justru dapat menciptakan stres dan hubungan negatif antara anak dan waktu makan.Anak yang merasa tertekan saat makan cenderung menjadi lebih rewel, sulit menerima makanan baru, bahkan bisa kehilangan nafsu makan. Menurut studi dari American Psychological Association (APA), tekanan emosional saat makan dapat mengganggu persepsi lapar dan kenyang anak, sehingga mereka sulit mengenali kebutuhan tubuhnya sendiri.Sebagai gantinya, orang tua disarankan untuk memberikan contoh positif: makan bersama keluarga, menyajikan makanan dengan tampilan menarik, dan memberi pujian kecil ketika anak mau mencoba makanan sehat. Pendekatan yang lembut dan sabar akan jauh lebih efektif dalam jangka panjang.Kapan Anak Perlu Konsultasi ke Dokter atau Ahli GiziTidak semua masalah nutrisi dapat diatasi hanya dengan perubahan pola makan di rumah. Orang tua perlu segera berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi apabila:Berat badan anak tidak naik sesuai grafik pertumbuhan (growth chart).Anak tampak lemas, mudah sakit, atau memiliki nafsu makan yang buruk.Terdapat tanda-tanda kekurangan zat gizi, seperti kulit pucat, rambut rontok, atau gusi mudah berdarah.Anak mengalami kenaikan berat badan berlebih secara cepat tanpa perubahan pola makan yang jelas.Dokter atau ahli gizi akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari pengukuran antropometri hingga analisis pola makan, untuk menentukan penyebab pasti dan rencana penanganan yang sesuai. Dalam beberapa kasus, anak mungkin memerlukan terapi gizi khusus atau suplemen vitamin dan mineral di bawah pengawasan medis.Ingat, penanganan masalah nutrisi yang tepat sejak dini dapat membantu anak tumbuh optimal, aktif, dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat. Jika Anda ragu terhadap kondisi gizi si Kecil, jangan tunda untuk berkonsultasi ke tenaga kesehatan profesional agar mendapatkan arahan yang tepat dan aman.Layanan Pemeriksaan dan Konsultasi Nutrisi Anak di Klinik GranosticUntuk membantu orang tua dalam memahami kondisi gizi dan pertumbuhan anak, Klinik Granostic menyediakan layanan pemeriksaan dan konsultasi nutrisi anak yang lengkap. Layanan ini dirancang agar orang tua tidak perlu menebak-nebak apakah anak sudah mendapatkan asupan gizi yang cukup, karena semuanya dapat diketahui melalui pemeriksaan yang akurat dan didampingi tenaga profesional.Pemeriksaan Status Gizi dan PertumbuhanLangkah pertama dalam menilai kesehatan nutrisi anak adalah pemeriksaan status gizi dan pertumbuhan. Di Klinik Granostic, pemeriksaan ini dilakukan secara menyeluruh dengan mengukur berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, serta indeks massa tubuh (IMT) sesuai usia anak.Hasil pemeriksaan kemudian dibandingkan dengan grafik pertumbuhan WHO untuk mengetahui apakah anak berada pada kategori normal, gizi kurang, atau berisiko obesitas. Dengan pemeriksaan rutin, perubahan kecil pada pola pertumbuhan anak bisa terdeteksi lebih awal, sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi masalah gizi yang lebih serius.Baca Juga: Perlunya Deteksi Dini Tumbuh Kembang AnakPemeriksaan Laboratorium GiziSelain pengukuran fisik, pemeriksaan laboratorium gizi juga tersedia untuk menilai kadar zat penting dalam tubuh anak. Pemeriksaan ini meliputi tes darah untuk mengetahui kadar hemoglobin, zat besi, vitamin D, kalsium, albumin, dan profil metabolik lainnya.Melalui hasil pemeriksaan laboratorium, dokter dapat mendeteksi adanya kekurangan mikronutrien, seperti anemia defisiensi besi atau hypovitaminosis D, yang sering kali tidak terlihat dari luar. Dengan demikian, rekomendasi nutrisi yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran, baik berupa pengaturan pola makan maupun pemberian suplemen jika dibutuhkan.Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak dan Ahli GiziDi Klinik Granostic, setiap hasil pemeriksaan akan dijelaskan secara detail oleh dokter spesialis anak dan ahli gizi klinis. Tim medis akan membantu orang tua memahami kondisi anak secara menyeluruh, termasuk kebutuhan kalori hariannya, jenis makanan yang sebaiknya dikonsumsi, hingga tips agar anak lebih mudah menerima makanan sehat.Pendekatan yang digunakan pun bersifat personal dan edukatif, yang tidak hanya memperbaiki angka di grafik pertumbuhan, tetapi juga membangun kebiasaan makan yang baik sejak dini. Dengan demikian, sebagai orang tua, Anda tidak hanya mendapat solusi jangka pendek, tetapi juga panduan untuk menjaga keseimbangan gizi anak dalam jangka panjang.Dukung Nutrisi Sehat Anak Bersama Klinik GranosticMenjaga nutrisi anak bukan sekadar memastikan ia makan cukup, tetapi juga memastikan apa yang dikonsumsinya benar-benar mendukung tumbuh kembang optimal. Di Klinik Granostic, Anda bisa mendapatkan pendampingan menyeluruh. Misalnya mulai dari pemeriksaan status gizi, deteksi dini gangguan nutrisi, hingga konsultasi dengan dokter berpengalaman.Klinik Granostic hadir dengan fasilitas yang nyaman, ramah anak, dan dilengkapi peralatan modern, sehingga anak merasa tenang selama pemeriksaan. Setiap prosedur dilakukan dengan standar medis yang tinggi dan pendekatan humanis, karena kami memahami bahwa setiap anak adalah individu yang unik dan berhak mendapatkan perhatian khusus terhadap kesehatannya.Jika Anda ingin memastikan tumbuh kembang si Kecil berjalan optimal, jadwalkan pemeriksaan nutrisi anak di Klinik Granostic. Tim dokter kami siap membantu Anda memantau kesehatan gizi anak secara akurat, memberikan saran yang sesuai, dan mendukung langkah Anda menciptakan generasi yang lebih sehat, aktif, dan bahagia.FAQ Seputar Masalah Nutrisi AnakBerikut ini beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh para Sobat Granostic mengenai masalah nutrisi anak.Apa tanda anak mengalami kekurangan nutrisi?Kekurangan nutrisi pada anak dapat berdampak pada perkembangan fisik dan psikologis mereka, yang dapat menyebabkan tanda-tanda berikut ini:Berat badan dan tinggi badan anak tidak optimal.Terhambatnya perkembangan motorik anak.Perkembangan otak dan kognitif yang terganggu.Tampak lemas dan tidak berenergi.Sistem imun tubuh yang lemah, sehingga mudah terserang penyakit.Masalah pada Kesehatan gigi.Konsentrasi yang lemah dan berdampak pada pemahaman serta capaian akademis anak.Apakah anak obesitas juga termasuk masalah nutrisi?Ya, obesitas atau kelebihan berat badan juga termasuk masalah nutrisi. Ini karena anak yang mengalami obesitas cenderung akan tetap obesitas hingga dewasa, yang bisa meningkatkan risiko perkembangan penyakit kronis di masa depan. Selain itu, obesitas juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan penurunan kepercayaan diri pada anak.Apakah suplemen bisa menggantikan makanan bergizi?Tidak. Ini karena suplemen hanya dirancang untuk melengkapi kebutuhan gizi yang kurang, bukan mengganti makanan secara total, Sobat.Apakah layanan gizi di Granostic menerima anak dengan alergi makanan?Ya, pelayanan gizi di Granostic menerima anak dengan alergi makanan dan dapat membantu orang tua untuk mengenali kondisi si Kecil dengan lebih baik. Ahli kesehatan Granostic juga dapat melakukan pemeriksaan lengkap, memberikan edukasi yang dibutuhkan pada orang tua, hingga merekomendasikan perawatan lanjutan bila diperlukan.Ditinjau Oleh:Dr. Aji WibowoSumber Referensi:Mayo Clinic. (2023). Nutrition for kids: Guidelines for a healthy diet. Diakses 2025.Mayo Clinic Press. (2024). Keeping your cool during family mealtimes with babies and toddlers. Diakses 2025.Cleveland Clinic. (2022). Malnutrition: Definition, Causes, Symptoms & Treatment. Diakses 2025.Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Benefits of Healthy Eating for Children. Diakses 2025.World Health Organization (WHO). (2024). Joint child malnutrition estimates (UNICEF–WHO–World Bank). Diakses 2025.Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2025). SSGI 2024: National Stunting Prevalence Drops to 19.8%. Diakses 2025.