Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Kabar Terbaru Granostic Diagnostic Center

MALARIA
Malaria adalah suatu penyakit akut maupun kronik disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium dengan manifestasi berupa demam, anemia dan pembesaran limpa. Sedangkan menurut ahli lain malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan oleh infeksi Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah, dengan gejala demam, menggigil, anemia, dan pembesaran limpa.ETIOLOGIAda 2 jenis makhluk yang berperan besar dalam penularan malaria yaitu parasit malaria yangdisebut Plasmodium dan nyamuk anopheles betina. Parasit malaria memiliki siklus hidup yang kompleks, untuk kelangsungan hidupnya parasit tersebut membutuhkan host (tempatnya menumpang hidup) baik pada manusia maupun nyamuk, yaitu nyamuk anopheles. Ada empat jenis spesies parasit malaria di dunia yang dapat menginfeksi sel darah merah manusia. yaitu:Plasmodium falciparumPlasmodium vivaxPlasmodium malariaePlasmodium ovaleKeempat spesies parasit malaria tersebut menyebabkan jenis penyakit malaria yang berbeda yaitu:Plasmodium falciparumMenyebabkan malaria falsiparum. Merupakan jenis penyakit malaria yang terberat dan satu-satunya parasit malaria yang menimbulkan penyakit mikrovaskular, karena dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat seperti cerebral malaria (malaria otak), anemia berat, syok, gagal ginjal akut, perdarahan, sesak nafas, dll.Plasmodium vivaxMenyebabkan malaria tertiana. Gejala demam berulang dengan interval bebas demam 2 hari. Telah ditemukan juga kasus malaria berat yang disebabkan oleh Plasmodium vivax.Plasmodium malariaeMenyebabkan malaria quartana. Asimtomatis dalam waktu lama. Gejala demam berulang dengan interval bebas demam 3 hari.Plasmodium ovaleJenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat. Seringkali sembuh tanpa pengobatan. Seorang penderita dapat dihinggapi oleh lebih dari satu jenis plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Biasanya campuran P.Falciparum dengan P.Vivax atau P.Malariae. Infeksi campuran tiga jenis sekaligus jarang sekali terjadi. Infeksi jenis ini biasanya terjadi di daerah yang tinggi angka penularannya. Malaria yang disebabkan oleh P.Vivax dan P.Malariae dapat kambuh jika tidak diobati dengan baik. Malaria yang disebabkan oleh spesies selain P.Falciparum jarang berakibat fatal, namun menurunkan kondisi tubuh yang menyebabkan lemah, menggigil dan demam yang biasanya berlangsung 10-14 hari.Kehidupan nyamuk sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan yang ada, seperti suhu, kelembaban, curah hujan, dan sebagainya. Efektifitas vektor untuk menularkan malaria ditentukan hal-hal sebagai berikut:Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia.Kesukaan menghisap darah manusia atau antropofilia.Frekuensi menghisap darah (ini tergantung dari suhu).Lamanya sporogoni (berkembangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi efektif).Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi jumlah yang berbeda-beda menurut spesies.Nyamuk Anopheles betina menggigit antara waktu senja dan subuh, dengan jumlah yang berbeda-beda menurut spesiesnya. Kebiasaan makan dan istrahat nyamuk Anopheles dapat dikelompokkan menjadi: Endofilik : suka tinggal dalam rumah/bangunan.Eksofilik : suka tinggal diluar rumah.Endofagi : menggigit dalam rumah/bangunan.Eksofagi : menggigit diluar rumah/bangunan.Antroprofili : suka menggigit manusia.Zoofili : suka menggigit binatang.GEJALA MALARIAGejala demam tergantung jenis malaria. Sifat demam akut (paroksismal) yang didahului oleh stadium dingin (menggigil) diikuti demam tinggi kemudian berkeringat banyak. Gejala klasik ini biasanya ditemukan pada penderita non imun (berasal dari daerah non endemis). Selain gejala klasik di atas, dapat ditemukan gejala lain seperti nyeri kepala, mual, muntah, diare, pegal-pegal, dan nyeri otot . Gejala tersebut biasanya terdapat pada orang-orang yang tinggal di daerah endemis (imun). BAHAYA MALARIAJika tidak ditangani segera dapat menjadi malaria berat yang menyebabkan kematianMalaria dapat menyebabkan anemia yang mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya manusia.Malaria pada wanita hamil jika tidak diobati dapat menyebabkan keguguran, lahir kurang bulan (prematur) dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta lahir mati.PENCEGAHAN MALARIA Upaya pencegahan malaria adalah dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko malaria, mencegah gigitan nyamuk, pengendalian vektor dan kemoprofilaksis. Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan kelambu berinsektisida, repelen, kawat kasa nyamuk dan lain-lain. Obat yang digunakan untuk kemoprofilaksis adalah doksisiklin dengan dosis 100mg/hari. Obat ini diberikan 1-2 hari sebelum bepergian, selama berada di daerah tersebut sampai 4 minggu setelah kembali. Tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan anak di bawah umur 8 tahun dan tidak boleh diberikan lebih dari 6 bulan.DIAGNOSIS1. AnamnesisKeluhan utama dapat meliputi demam, menggigil, dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal. Riwayat berkunjung dan bermalam 1 - 4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria. Riwayat tinggal didaerah endemik malaria. Riwayat sakit malaria. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir. Gejala klinis pada anak dapat tidak jelas. Riwayat mendapat transfusi darah. Selain hal-hal tadi, pada pasien penderita malaria berat, dapat ditemukan keadaan seperti gangguan kesadaran dalam berbagai derajat, Keadaan umum yang lemah, Kejang-kejang, panas sangat tinggi, Mata dan tubuh kuning, Perdarahan hidung, gusi, atau saluran cerna, nafas cepat (sesak napas), Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum, Warna air seni seperti teh pekat dan dapat sampai kehitaman, Jumlah air seni kurang bahkan sampai tidak ada dan telapak tangan sangat pucat.2. Pemeriksaan fisik Malaria RinganDemam (pengukuran dengan termometer ≥ 37,5°C), Konjungtiva atau telapak tangan pucat, pembesaran limpa (splenomegali), dan pembesaran hati (hepatomegali).BMalaria BeratMortalitas: Hampir 100% tanpa pengobatan, Tatalaksana adekuat: 20%, Infeksi oleh P.falciparum disertai dengan salah satu atau lebih kelainan yaitu Malaria serebral, gangguan status mental, Kejang multipel, Koma, Hipoglikemia: gula darah < 50 mg/dL, Distress pernafasan, Temperatur > 40°C, tidak responsif dengan asetaminofen, Hipotensi, Oliguria atau anuria, Anemia dengan nilai hematokrit 1,5 mg/dL, Parasitemia > 5%, Bentuk Lanjut (tropozoit lanjut atau schizont) P. Falciparum pada apusan darah tepi, Hemoglobinuria, Perdarahan spontan, dan Kuning.3. Pemeriksaan laboratoriumA. Pemeriksaan dengan mikroskopPemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/Iapangan/rumah sakit untuk menentukan ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif), Spesies dan stadium plasmodium, Kepadatan parasite.Untuk penderita tersangka malaria berat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:1. Bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu diperiksa ulang setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut2. Bila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3 hari berturut-turut tidak ditemukanparasit maka diagnosis malaria disingkirkan.B. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test).Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metode imunokromatografi, dalam bentuk dipstik. Tes ini sangat bermanfaat pada unit gawat darurat, pada saat terjadi kejadian luar biasa dan di daerah terpencil yang tidak tersedia fasilitas lab serta untuk survey tertentu.C. Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat.pemeriksaan penunjang meliputi; darah rutin, kimia darah lain (gula darah, serum bilirubin,SGOT & SGPT, alkali fosfatase, albumin/globulin, ureum, kreatinin, natrium dan kalium,anaIisis gas darah, EKG, Foto toraks, Analisis cairan serebrospinalis), Biakan darah dan ujiserologi, dan Urinalisis.KESIMPULANMalaria harus segera ditangani untuk mencegah risiko terjadinya komplikasi yang berbahaya. Penanganan malaria dapat dilakukan dengan pemberian obat antimalaria yang jenisnya disesuaikan dengan parasit penyebab malaria, tingkat keparahan, atau wilayah yang pernah ditinggali penderita.PENULIS: Miftakhul JannahEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Harijanto PN. Malaria. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, edisi IV. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, Hal: 1754-60, 2006.Mansyor A dkk. Malaria. Dalam: kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga, Jilid I, Jakarta, Fakultas Kedokteran UI, Hal: 409-16, 2001.Purwaningsih S. Diagnosis Malaria. Dalam: Harijanto PN (editor). Malaria, Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Penanganan. Jakarta: EGC, Hal: 185-92, 2000.Kemenkes RI. 2017. Penatalaksanaan Kasus Malaria. Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
MENILAI SPERMA BAIK DAN BURUK
Apakah Anda seorang laki-laki dewasa yang mungkin kebingungan untuk menilai sperma Anda. Mungkin Anda sedang bertanya-tanya bahwa sperma yang saya miliki apakah cukup normal atau malah memiliki masalah? Sebenarnya bisakah sperma dinilai baik buruknya hanya dari kasat mata tanpa harus ke laboratorium? Mungkin banyak sekali khususnya laki-laki dewasa yang mempertanyakan pertanyaan diatas, sehingga disini kita akan bersama-sama membahas kualitas sperma yang baik dan buruk itu seperti apa jika dinilai dari kasat mata.Kualitas sperma yang sehat merupakan salah satu hal penting bagi pria yang berharap memiliki momongan, hal ini perlu diketahui bagi pria untuk memahami mengenai kondisi kesuburan yang dimilikinya, karna banyak pria yang merasa bahwa kondisi sperma mereka sangat baik-baik saja tetapi sebetulnya tidaklah sesehat itu.Ketika sperma tidak dalam kondisi sehat maka otomatis rasa percaya diri seorang pria itu akan menurun. Hal ini juga memengaruhi tingkat kegairahan seorang pria ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan mereka. Untuk itulah, penting bagi para pria untuk mengenali ciri-ciri sperma tersebut.Ciri-ciri sperma sehat antara lain adalah:KONSISTENSINYA KENTAL Ciri-ciri sperma sehat yang pertama adalah bentuknya (konsistensi) kental dan ini adalah salah satu ciri yang paling utama. Kalau bentuknya kental tidak perlu diragukan lagi bahwa sperma tersebut adalah yang sehat/baik.SPERMA YANG DI KELUARKAN DALAM JUMLAH BANYAK Ciri lain dari sperma yang sehat adalah bisa dilihat dari jumlahnya saat dikeluarkan. Apabila jumlahnya banyak, maka tak diragukan lagi bahwa keadaannya normal-normal saja. Rata-rata, pria akan merasakan keanehan apabila sperma yang dikeluarkan tidaklah begitu banyakSPERMA LENGKETSelain dari ciri-ciri di atas, ciri satu ini juga penting untuk Anda perhatikan karena ciri sperma yang lengket menandakan bahwa sperma sangat sehat. Mungkin kemudian pertanyaannya adalah bagaimana cara untuk mengeceknya. Anda tinggal melihat sperma yang sudah dikeluarkan sewaktu ejakulasi dan meniliknya, apakah lengket atau tidak.BERBAU SEPERTI DAUN AKASIASelain dari bentuk atau tekstur, jumlah dan juga warna, ada satu lagi yang perlu sangat diperhatikan bila ingin tahu sperma Anda sehat atau tidak. Perhatikanlah aroma atau baunya ketika proses ejakulasi. Beberapa orang dengan masalah pada sperma akan mendapati baunya kurang enak dan cukup mengganggu.DAN UNTUK SPERMA YANG KURANG SEHAT ANTARA LAINSPERMA ENCER ATAU TERLALU KENTAL KURANG LENGKET ATAU TERLALU LENGKETWARNA TIDAK WAJAR (misal berwarna kemerahan)BERBAU BUSUK ATAU MENYEGAT TIDAK SEDAP SPERMA HANYA DAPAT KELUAR SEKALI DALAM SEHARIItulah sejumlah informasi mengenai ciri-ciri sperma sehat maupun yang tidak sehat secara kasat mata. Penting untuk mengenalinya supaya Anda bisa melakukan pemeriksaan yang lebih mendetail di laboratorium dan dapat diterapi secepatnya bila memang ada masalah pada sperma. Tak hanya penanganan dari dokter, Anda juga perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, seperti mengikuti tips diet sehat, memilah asupan makanan dan berolahraga secara rajin.Daftar Pustaka & Referensi :PENULIS: AzizEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahAziz N. Interpreting Semen Analysis and Level 2 Sperm Testing.Springer 2017;1: 19 – 32Bergmann M. Physiology of spermatogenesis. Androl Clin 2006; 1: 272– 281
Hemofilia
HEMOFILLIA adalah kelainan pembekuan darah yang diturunkan ibu ke anak laki-laki. Faktor-faktor pembekuan darah di dalam plasma darah dilambangkan dengan angka romawi, contoh: Faktor VIII: Faktor Delapan dan Faktor IX: Faktor Sembilan.Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah yang menyebabkan darah menjadi sulit membeku. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya faktor pembekuan darah alias koagulasi di dalam tubuh. Penyakit hemofilia adalah kelainan yang tidak dapat disembuhkan. Pengobatan yang ada saat ini bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi kesehatan di kemudian hari.Terdapat tiga jenis penyakit hemofilia:Hemofilia A yakni disebut sebagai hemofilia klasik yang diturunkan secara genetik. Hemofilia tipe A adalah penyakit yang terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembekuan darah VIII. Biasanya, hemofilia tipe A dikaitkan dengan kehamilan, penggunaan obat-obatan tertentu, penyakit kanker, lupus dan rematik.Hemofilia B adalah kondisi yang terjadi karena tubuh kekurangan faktor pembekuan darah IX. Kondisi ini biasanya diwariskan oleh ibu, tapi bisa juga terjadi ketika gen berubah atau bermutasi sebelum bayi dilahirkan.Hemofilia C merupakan gangguan yang disebabkan oleh berkurangnya faktor pembekuan darah XI. Kondisi ini juga disebut dengan sindrom Rosenthal. Kasus kejadian hemofilia C tergolong paling jarang ditemukan dibandingkan dengan jenis lainnyaPENYEBAB HEMOFILLIAHemofilia terjadi akibat mutasi genetik yang menyebabkan darah kekurangan faktor pembekuan VIII atau IX. Kekurangan faktor tersebut menyebabkan darah sukar membeku sehingga perdarahan sulit berhenti.Mutasi genetik yang terjadi pada hemofilia mempengaruhi kromosom X. Kelainan pada kromosom X kemudian diturunkan oleh ayah, ibu, atau kedua orang tua kepada anak.Hemofilia yang bergejala biasanya terjadi pada laki-laki. Anak perempuan lebih sering menjadi pembawa (carrier) gen abnormal yang berpotensi untuk diwariskan kepada keturunannya.Namun, dalam kasus acquired hemophilia, ada beberapa penyebab lain yang membuat seseorang mengalami gangguan pada produksi faktor pembekuan darah sekalipun tidak memiliki keturunan. Beberapa di antaranya adalah:Masalah pada sistem imun tubuhPenyakit peradangan kronis, seperti rheumatoid arthritis, lupus, dan diabetesPenyakit hati, seperti hepatitis atau sirosisKankerGEJALA HEMOFILLIAGejala utama hemofilia adalah darah yang sukar membeku sehingga menyebabkan perdarahan sulit berhenti atau berlangsung lebih lama selain itu juga terdapat gejala lain nya seperti: Perdarahan yang sulit berhenti, misalnya pada mimisan atau luka goresPerdarahan pada gusiPerdarahan yang sulit berhenti setelah operasi, misalnya setelah sunat (sirkumsisi)Darah pada urine dan tinjaMudah mengalami memarPerdarahan pada sendi yang ditandai dengan nyeri dan bengkak pada sendi siku dan lututTingkat keparahan perdarahan yang dialami penderita hemofilia tergantung pada jumlah faktor pembekuan dalam darah.Pada hemofilia ringan, jumlah faktor pembekuan dalam darah bervariasi dari 5 hingga 50%. Orang dengan hemofilia ringan mungkin tidak memiliki gejala apapun. Namun, pasien mungkin mengalami pendarahan yang sulit dihentikan jika lukanya cukup parah atau baru saja menjalani prosedur medis, seperti operasi dan pencabutan gigi.DIAGNOSIS HEMOFILLIATes darah untuk menentukan jumlah sel darah lengkap. Walaupun tidak mempengaruhi sel darah merah secara langsung, namun pendarahan akibat hemofilia dapat menyebabkan seseorang kekurangan sel darah merah dan hemoglobin (anemia).Tes darah juga dilakukan untuk mendeteksi fungsi dan kerja faktor pembekuan darah melalui pemeriksaan PT (prothrombin time), APTT (activated partial thromboplastin time), dan fibrinogen. Pemeriksaan ini juga bisa menentukan tingkat keparahan hemofilia, dengan mengukur jumlah faktor VIII dan IX.Tes genetikTes genetik dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik yang menyebabkan hemofilia, terutama pada orang yang keluarganya memiliki riwayat hemofilia. Tes ini juga dapat mengetahui apakah seseorang merupakan pembawa (carrier) hemofilia.Tes genetik pada ibu hamil dapat mengetahui risiko janin menderita hemofilia. Pemeriksaan yang bisa dilakukan selama kehamilan meliputi:Chronionic villus sampling (CVS), yaitu pengambilan sampel dari plasenta untuk melihat apakah janin mengalami hemofilia. Tes ini dilakukan pada minggu ke-11 sampai ke-14 masa kehamilan.Amniocentesis, yaitu tes untuk memeriksa sampel cairan ketuban. Tes ini dilakukan pada minggu ke-15 sampai ke-20 masa kehamilan.Tingkatan penyakit hemofilia:Hemofilia ringan ditunjukkan dengan faktor pembekuan dalam plasma di antara 5-40 persen.Hemofilia sedang ditandai dengan faktor pembekuan dalam plasma sekitar 1-5 persen.Hemofilia berat diindikasikan dengan faktor pembekuan dalam plasma kurang dari 1 persen. Setelah dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, pilihan pengobatan dan perawatan sudah bisa ditentukan.Ada beberapa upaya yang bisa mencegah terjadinya luka dan cedera, yaitu:Menghindari kegiatan yang berisiko menyebabkan cederaMenggunakan pelindung, seperti helm, pelindung lutut, dan pelindung siku, jika harus melakukan aktivitas yang berisikoMemeriksakan diri ke dokter secara rutin untuk memantau kondisi hemofilia dan kadar faktor pembekuan yang dimilikiTidak meminum obat yang dapat memengaruhi proses pembekuan darah, seperti aspirin, tanpa resep dokterMenjaga kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut, termasuk rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigiPENULIS: Vicky Nur Fadila EDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Shapiro, S., et al. (2022). Cardiovascular Disease in Hereditary Haemophilia: The Challenges of Longevity. British Journal of Haematology, 00, pp. 1–10.Kadhim, K., Al-Lami, F., & Baldawi, K. (2019). Epidemiological Profile of Hemophilia in Baghdad-Iraq. Inquiry: The Journal of Health Care Organization, Provision, and Financing, 56, pp. 0046958019845280What Is Hemophilia? – CDC. (2020). Retrieved 16 April 2020Hemophilia A – National Hemophilia Foundation. (n.d.). Retrieved 16 April 2020Hemophilia B – National Hemophilia Foundation. (n.d.). Retrieved 16 April 2020
GRANOMIC PHARMACOGENOMIC
Mengapa Pharmacogenomic? Jangan sampai ini terjadi pada Anda dan keluarga! Temukan obat yang tepat untuk Anda dan keluarga!Tes gen untuk mengetahui reaksi berbagai macam obat dalam tubuh. Banyak pasien harus mengalami proses pengobatan yang panjang karena kesalahan pemberian obat.L - Efektif PenyembuhanE - Tepat PengobatanB - Hemat WaktuI - Hemat BiayaH - Maksimal Paket Pemeriksaan Meliputi:Pemeriksaan reaksi gen terhadap obat-obatanPedoman profesional untuk pengobatan penyakit Anda dan keluargaLayanan Home Service
GRANOMIC CANCER
Pria lebih rentang terkena kanker daripada wanita. Kasus kanker terbesar yang menyerang pria adalah kanker prostat. Terdapat lebih dari 13.000 pria mengalami kanker prostat. Dan banyak kasus terlambat ditangani karena tidak ada gejala yang ditimbulkan.Paket pemeriksaan meliputi:Pemeriksaan gen untuk mengetahui risiko kanker, terutama kanker prostatPemeriksaan gen untuk mengetahui penanganan yang tepat bagi kanker yang dipersonalisasikanApa saja yang dapat diketahui dalam pemeriksaan Granomic Cancer:Mendeteksi sel kanker dalam tubuh AndaMenyusun pengobatan yang tepat untuk kanker AndaMengetahui risiko kanker pada keturunan Anda
ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura)
Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) adalah penyakit yang menyebabkan tubuh mudah memar atau berdarah. Hal ini terjadi karena rendahnya jumlah sel keping darah (trombosit) dalam tubuh. ITP dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. Kondisi ini tidak menular sehingga interaksi langsung dengan penderita tidak menyebabkan seseorang tertular. Trombosit adalah sel darah yang berperan dalam proses penggumpalan darah untuk menghentikan perdarahan. Ketika jumlah trombosit rendah, seseorang akan mudah mengalami memar atau perdarahan.PENYEBAB ITPPenyebab ITP belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, dugaan utama penyebab ITP adalah gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang disebut penyakit autoimun. Pada penderita ITP, sistem kekebalan tubuh menganggap trombosit sebagai benda asing yang berbahaya sehingga dibentuk antibodi untuk menyerang trombosit. Hal inilah yang menyebabkan jumlah trombosit menurun. Selain itu, beberapa hal berikut ini juga dapat memicu munculnya ITP:Infeksi virus atau bakteri, umumnya pada anak-anakVaksinasiPaparan racun atau bahan kimia berbahaya, misalnya insektisidaPenyakit autoimun lain, misalnya SLEPengobatan kemoterapiGEJALA ITPGejala utama ITP adalah munculnya ruam merah atau memar di berbagai bagian tubuh dan perdarahan yang sulit dihentikan ketika luka. Beberapa tanda dan gejala tambahan lain yang disebabkan oleh ITP adalah:Rasa lelah yang berlebihanMimisanBercak darah pada urine atau tinjaGusi berdarah, terutama setelah menjalani perawatan gigiPerdarahan berlebihan saat menstruasiPada anak-anak, ITP terkadang tidak menimbulkan gejala. Jika muncul, gejala biasanya bersifat ringan dan berlangsung kurang dari 6 bulan (akut). Gejala ITP juga dapat berlangsung lebih dari 6 bulan (kronis), tetapi biasanya terjadi pada penderita dewasa.KAPAN HARUS KE DOKTER?ITP ditandai dengan perdarahan yang dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. Konsultasikan dengan dokter bila Anda sering mengalami perdarahan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau memar, terutama bila perdarahan tersebut terjadi secara spontan atau tanpa didahului cedera.Penderita ITP perlu berhati-hati dalam beraktivitas, khususnya aktivitas yang melibatkan kontak fisik dan berisiko menyebabkan cedera atau luka, misalnya bermain sepak bola. Bila mengalami luka, lakukan upaya untuk menghentikan perdarahan dengan menekan area yang berdarah.Bila perdarahan tidak juga berhenti, segera pergi ke instalasi gawat darurat (IGD) di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.DIAGNOSIS ITPDokter akan memeriksa seluruh bagian tubuh pasien untuk mendeteksi memar atau perdarahan. Jika terjadi perdarahan akibat luka, dokter akan memeriksa kondisi luka tersebut dan segera mengobatinya.Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk melihat jumlah trombosit. Jumlah trombosit normal adalah antara 150.000–400.000 per mikroliter. Penderita ITP memiliki trombosit di bawah nilai normal. Makin rendah trombosit, maka risiko perdarahan akan makin meningkat.Tidak ada pemeriksaan yang bisa memastikan ITP. Oleh sebab itu, dokter akan mencari dan menyingkirkan kemungkinan perdarahan dan rendahnya jumlah trombosit disebabkan oleh kondisi lain. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:Uji fungsi hatiPemeriksaan fungsi ginjalAspirasi sumsum tulangPENGOBATAN ITPITP yang ringan tidak memerlukan penanganan secara khusus, tetapi dokter akan memantau dan melakukan pemeriksaan trombosit secara rutin untuk mencegah perdarahan.Sedangkan pada ITP yang lebih parah, dokter akan memberikan penanganan untuk menjaga agar jumlah trombosit tidak turun sehingga tidak terjadi perdarahan.Penanganan ITP dapat diberikan dalam bentuk:OBAT-OBATAN:Sejumlah obat-obatan yang diberikan dokter untuk mengatasi ITP adalah:KortikosteroidKortikosteroid berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh dan jumlah trombosit. Dokter akan memberikan instruksi kepada pasien untuk berhenti mengonsumsi obat ini jika jumlah trombosit sudah kembali normal.EltrombopagJenis obat ini digunakan untuk membantu sumsum tulang agar dapat memproduksi lebih banyak trombosit.RituximabRituximab berfungsi untuk meredakan respons sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan rusaknya trombosit.Intravenous immunoglobulin (IVIg)IVIg adalah obat yang diberikan untuk meningkatkan jumlah trombosit ketika obat lain tidak lagi efektif dalam mengatasi ITP. Obat ini juga digunakan untuk meningkatkan jumlah darah ketika pasien mengalami perdarahan sebelum menjalani operasi. OPERASIJika ITP sudah parah dan obat-obatan tidak lagi efektif dalam mengatasi gejala, dokter akan melakukan operasi pengangkatan organ limpa atau splenektomi.Prosedur splenektomi bertujuan untuk mencegah penghancuran trombosit di organ limpa. Meski demikian, prosedur operasi ini jarang sekali dilakukan karena berisiko menimbulkan infeksi.KOMPLIKASI ITPKomplikasi ITP yang dapat terjadi adalah perdarahan, baik di saluran pencernaan maupun di organ tubuh lain. Jika terjadi di otak, perdarahan dapat membahayakan nyawa penderitanya, tetapi kondisi ini sangat jarang terjadi.Penggunaan kortikosteroid cukup efektif dalam mengobati ITP. Meski begitu, obat ini berpotensi menyebabkan efek samping jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Efek samping yang dapat muncul adalah:KatarakOsteoporosisDiabetesHilangnya massa ototOperasi pengangkatan organ limpa dapat meningkatkan risiko terkena infeksi bakteri, karena limpa berperan dalam melawan infeksi.Penderita ITP yang sedang hamil dapat menjalani masa kehamilan dan persalinan secara normal. Namun, konsultasikan dengan dokter kandungan mengenai hal-hal apa saja yang perlu dilakukan dan dihindari, baik selama kehamilan maupun persalinan.Perlu diketahui, bayi yang lahir dari penderita ITP berisiko memiliki jumlah trombosit yang rendah. Jika hal ini terjadi, dokter anak akan melakukan pengawasan intensif pada bayi selama beberapa hari.Dalam kondisi normal, jumlah trombosit bayi akan menurun sebelum akhirnya naik kembali. Namun, jika jumlah trombosit bayi tidak juga meningkat selama beberapa hari, dokter akan memberikan penanganan untuk mempercepat peningkatan trombosit.PENCEGAHAN ITPMeskipun ITP sendiri tidak dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan, yaitu:Lindungi diri Anda dari hal-hal yang dapat menyebabkan cedera.Konsultasikan kepada dokter tentang obat-obatan yang aman untuk Anda. Dokter akan melarang penggunaan obat yang dapat memengaruhi kadar trombosit dan meningkatkan risiko perdarahan, seperti aspirin atau ibuprofen.Segera hubungi dokter jika Anda mengalami gejala infeksi, misalnya demam. Tindakan ini penting dilakukan jika Anda menderita ITP atau telah menjalani pengangkatan organ limpa.PENULIS: Muhammad Nurul LailiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Zainal, A., Salama, A., & Alweis, R. (2019). Immune Thrombocytopenic Purpura. Journal of Community Hospital Internal Medicine Perspectives, 9(1), pp. 59–61.Nomura, S. (2016). Advances in Diagnosis and Treatments for Immune Thrombocytopenia. Clinical Medicine Insights: Blood Disorders, 9, pp. 15-22. Platelet Disorder Support Association (2020). What is ITP?National Institute of Health (2022). MedlinePlus. Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP).Mayo Clinic (2021). Diseases & Conditions. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).Donahue, M. Healthline (2022). Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).
GRANOMIC STROKE
Tes skrining untuk mengetahui variasi gen stroke Mendeteksi risiko penyakit stroke pada tubuh manusia sebelum munculnya gejala Pemeriksaan dapat dilakukan sejak usia remaja
GRANOMIC KANKER
Granomic Cancer Tes skrining untuk mengetahui variasi gen kanker sebelum menunjukkan gejala Tes ini dapat dilakukan semua umur
GRANOMIC HIPERLIPIDEMIA
Tes untuk skrining variasi gen hilipidemia dalam tubuh. Hiperlipidemia adalah kondisi dimana lemak dalam pembuluh darah melebihi batas normal. Yang mana hal ini dapat menyebabkan penyakit stroke, kanker dan penyakit pembuluh darah lainnya. Periksakan diri anda jika anda mengalami : 1. Memiliki kadar kolesterol di atas normal 2. Dalam kondisi obesitas yang ditandai dengan lingkar perut yang besar 3. Memiliki riwayat kadar kolesterol tinggi dalam keluarga 4. Tidak ada perubahan angka kadar kolesterol meskipun sudah menerapkan gaya hidup sehat 5. Mengonsumsi alkohol 6. Merokok  
STROKE
Stroke atau Cerebrovaskular accident menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal ataupun global karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak dengan gejala-gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih. Stroke merupakan kematian beberapa sel otak secara mendadak disebabkan karena kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak hilang karena adanya penyumbatan atau pecahnya arteri di otak. Stroke merupakan karakteristik klasik yang menunjukkan terjadinya defisit neurologis yang dikaitkan dengan cedera fokal akut dari sistem saraf pusat (SSP) yang berasal dari pembuluh darah, termasuk infark serebral, perdarahan serebral dan perdarahan subaraknoid, dan merupakan penyebab utama kecacatan serta kematian di seluruh dunia (AHA/ASA, 2013).Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sekitar sel otak mati akibat terhentinya aliran darah akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Terhentinya aliran darah berarti suplai oksigen dan nutrisi ke otak juga terhenti sehingga beberapa bagian otak tidak dapat berfungsi dengan baik.Matinya jaringan otak bisa mengakibatkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan otak tersebut. Jika tidak segera ditangani , penyakit ini bisa berakibat fatal & berujung kematian. Meskipun bisa diselamatkan, kadang – kadang si penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, menghilangnya sebagaian ingatan, atau menghilangnya kemampuan berbicara. Bentuknya bisa berupa lumpuh sebelah (hemiplegia), berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan bicara, dan gangguan rasa pada kulit wajah, lengan, atau tungkai.KLASIFIKASI STROKEStroke dibagi menjadi dua tipe yaitu iskemik dengan angka kejadian sebesar 87% dan hemoragik sebesar 13% (American Stroke Association, 2016). Klasifikasi penyakit stroke terdiri dari beberapa kategori, diantaranya adalah berdasarkan kelainan patologis, secara garis besar stroke dibagi dalam dua tipe yaitu, stroke iskemik disebut juga infark atau non-hemorragic disebabkan oleh gumpalan atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak yang sebelumnya sudah mengalami aterosklerosis. Stroke iskemik terdiri dari tiga macam yaitu stroke emboli (1/3), stroke thrombosis (2/3) dan hipoperfusi stroke. Tipe kedua adalah stroke hemoragik terjadi karena kerusakan atau pecahnya pembuluh darah di otak, perdarahan dapat disebabkan karena hipertensi yang terjadi sangat lama dan anuerisma otak. Ada dua macam stroke hemoragik yaitu subarachnoid hemorrhage dan intracerebral hemorrhage.Stroke iskemik terjadi karena adanya obstruksi pada pembuluh yang mensuplai darah ke otak. Hal yang mendasari terjadinya obstruksi adalah peningkatan deposit lemak yang melapisi pembuluh darah atau biasa disebut sebagai ateroskelrosis. Kondisi ini kemudian menyebabkan dua obstruksi yaitu trombosis serebral dan emboli serebral. Trombosis serebral mengacu pada trombus (bekuan darah) yang berkembang di bagian pembuluh darah yang tersumbat. Emboli serebral mengacu pada bekuan darah yang umumnya terbentuk pada lokasi lain pada sistem peredaran darah, biasanya jantung dan arteri besar di dada bagian atas dan leher. Sebagian dari pecahan bekuan darah lepas, memasuki aliran darah dan berjalan melalui pembuluh darah otak hingga mencapai pada pembuluh darah yang lebih kecil untuk dimasuki oleh plak tersebut. Penyebab penting kedua terjadinya emboli adalah denyut jantung yang tidak teratur, yang dikenal sebagai fibrilasi atrium. Ini menyebabkan kondisi di mana bekuan darah terbentuk di jantung kemudian lepas dan berjalan ke otak.Stroke Hemoragik merupakan akibat dari pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menyebabkan pendarahan di sekitar otak. Darah yang keluar kemudian terakumulasi dan menekan jaringan sekitar otak. Hal ini disebabkan karena dua hal, yaitu anuerisma dan arteriovenous malformation. Anuerisma merupakan pembuluh darah lemah yang membentuk balon yang jika dibiarkan akan menyebabkan ruptur dan berdarah hingga ke otak. Sedangkan arteriovenous malformation merupakan sekelompok pembuluh darah yang terbentuk secara abnormal dan salah satu satu dari pembuluh darah itu dapat mengalami ruptur dan meyebabkan darah masuk ke otak, biasanya terjadi karena hipertensi, aterosklerosis, kebiasaan merokok dan faktor usia. Ada dua tipe stroke hemoragik, yaitu intracerebral hemmorhage dan subarachnoid hemorrhage. Intracerebral hemorrhage (ICH) biasanya disebabkan hipertensi yang meyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, disfungsi autoregulatori dengan aliran otak yang berlebihan, arteriopati, aneurisma intracranial (biasanya juga terjadi pada pendarahan subarachnoid), arteriovenous malformation (penyebab pada 60% kasus), trombosis vena sinus serebral dan infark vena, tumor otak dan tumor SSP primer, dan penyalahan penggunaan obat (misalnya, kokain dan amfetamin). Subarachnoid hemorrhage 80% disebabkan karena aneurisma intrakranial, kemudian diikuti oleh arteriovenous malformation sebagai sebab kedua dengan persentase 10%, sisanya disebabkan karena angioma, tumor, dan trombosis kortikal.ETIOLOGI ATAU PENYEBAB STROKETerhambatnya pasokan darah ke otak beberapa detik saja bisa mengakibatkan pingsan. Apalagi penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah pada otak, mampu mengakibatkan sel – sel saraf pada otak menjadi rusak & mengakibatkan kelumpuhan. Berbagai faktor yang mampu mengakibatkan stroke, seperti faktor keturunan, gaya hidup, dam komplikasi penyakit. Orang – orang yang mempunyai satu atau lebih factor risiko pada bawah ini digolongkan ke pada stroke prone person, yaitu orang yang mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami stroke daripada orang normal suatu ketika selama bepergian hidupnya bila tidak diawasi. Terdapat 2 macam faktor yang mengakibatkan orang mengalami stroke (Agromedia, 2009) yaitu :Faktor Yang Tidak Dapat Diubah1) KeturunanPara ahli meyakini terdapat hubungan antara risiko stroke dengan factor keturunan, walaupun secara tidak langsung. Pasien yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat stroke perlu mewaspadai factor-faktor yang dapat menyebabkan stroke, seperti hipertensi dan hiperkolesterol.2) Jenis KelaminMenurut studi kasus yang sering ditemukan, laki – laki lebih berisiko terkena stroke tiga kali lipat dibandingkan dengan wanita. Laki – laki cenderung terkena stroke iskemik, sedangkan wanita cenderung terkena hemoragik.3) UmurMayoritas stroke menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Namun, dengan pola makan dan jenis makanan yang ada sekarang ini, tidak menutup kemungkinan stroke bisa menyerang mereka yang berusia muda.4) RasRas kulit hitam lebih berisiko terkena stroke dibandingkan dengan ras kulit putih. Hal ini disebabkan, dugaan dari angka kejadian hipertensi dan konsumsi garam yang tinggi pada ras kulit hitam.Faktor Yang Dapat Diubah1) HipertensiHipertensi dapat menyebabkan stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Hipertensi menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel – sel endotel pembuluh darah melalui mekanisme perusakan lipid di bawah otot polos. Karena itu, sangat penting untuk mempertahankan tekanan darah dalam keadaan normal untuk menurunkan risiko terjadinya serangan stroke. Menurut Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa 50% kasus stroke berhubungan dengan hipertensi dan terdapat 25,8% penduduk menderita hipertensi (Kemenkes RI, 2017).2) Penyakit JantungPenyakit jantung coroner, dan orang yang melakukan pemasangan katup jantung buatan akan meningkatkan risiko stroke. Stroke emboli biasanya disebabkan kelainan penyakit jantung tersebut.3) Diabetes MellitusPenyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan mempercepat terjadinya arteriosklerosis pada arteri kecil termasuk pembuluh darah otak. Selain itu, risiko terkena stroke menjadi 2,6 kali lebih besar pada pria dan 3,8 kali lebih besar pada wanita dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes. Jika seseorang sudah pernah terkena stroke, sebaiknya pertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal untuk mencegah berulangnya stroke dan mencegah meluasnya kerusakan jaringan otak.4) Obesitas (Kegemukan)Kaitan antara obesitas atau kegemukan terhadap serangan stroke belum diketahui secara pasti. Namun, secara epidemiologis, orang yang mengalami obesitas cenderung menderita hipertensi, hiperkolesterol, dan diabetes mellitus. Menurut Kemkes RI menyatakan 1 dari 5 kasus stroke terjadi akibat obesitas dan terdapat 26,1% penduduk kurang aktivitas fisik (Kemenkes RI, 2017).5) HiperkolesterolKolesterol merupakan zat yang paling berperan dalam terbentuknya arteriosklerosis pada lapisan dalam pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah terutama pembuluh darah di otak. Jika penyumbatan telah menutupi seluruh rongga pembuluh darah, maka aliran darah pada jaringan otak terhenti dan terjadilah stroke. Data Kemenkes RI menyatakan 1 dari 4 kasus stroke berhubungan dengan kadar LDL tinggi dan sekitar 15,9% penduduk > 15 tahun memiliki kadar LDL tinggi (Kemenkes RI, 2017).6) Faktor Gaya HidupGaya Hidup yang Tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik dan kurang olahraga, meningkatkan risiko terkena penyakit stroke. Hal ini disebabkan, gaya hidup yang tidak sehat rentan terkena obesitas, diabetes, arteriosclerosis, dan penyakit jantung. Penyakit tersebut sebagai salah satu pemicu terjadinya stroke.Merokok Nikotin pada rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, menurunkan kolesterol HDL, meningkatkan kolesterol LDL, dan mempercepat arteriosclerosis. Kebiasaan merokok merupakan factor risiko yang potensial terhadap serangan stroke iskemik dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah pada daerah posterior otak. Perokok berat mempunyai risiko terkena stroke dua kali lipat. Risiko terkena stroke akan berkurang jika telah berhenti merokok selama lima tahun dibandingkan dengan terus merokok. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 dari 10 kasus stroke berhubungan dengan merokok dan terdapat 36,3% penduduk usia > 15 tahun yang merokok , perempuan usia >10 tahun (1,9%) (Kemenskes Republik Indonesia, 2017). Stres Stres dapat mengakibatkan hati memproduksi radikal bebas lebih banyak dan mempengaruhi system imunitas tubuh secara umum sehingga mengganggu fungsi hormonal. Stres yang berujung pada depresi dapat menjadi salah satu factor terjadinya stroke. Bagaimana depresi dapat meningkatkan stroke, sampai saat ini belum ada jawaban yang jelas. Mekanisme yang mungkin adalah stres dan depresi menyebabkan peningkatan tekanan darah yang berarti juga meningkatkan risiko stres.Konsumsi Alkohol dan Obat – Obatan TerlarangObat – Obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan stroke. Berdasarkan data Kemenkes RI menyatakan bahwa 1 juta kasus stroke berhubungan dengan konsumsi alkohol berlebihan dan sekitar 4,6% penduduk > 10 tahun minum – minuman beralkohol (Kemenskes Republik Indonesia, 2017).GEJALA KLINIS STROKEGejala awal stroke sering tidak diketahui oleh penderitanya. Stroke sering muncul secara tiba – tiba, serta berlangsung cepat dan langsung menyebabkan penderita tidak sadar diri. Karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala awal terjadinya stroke. Berikut beberapa gejala awal terjadinya stroke :Nyeri kepala disertai penurunan kesadaran, bahkan bisa mengalami koma (perdarahan otak).Kelemahan atau kelumpuhan pada lengan, tungkai, atau salah satu sisi tubuh. Mendadak seluruh badan lemas dan terkulai tanpa hilang kesadaran (drop attack) atau disertai hilang kesadaran sejenak (sinkop). Gangguan penglihatan (mata kabur) pada satu atau dua mata. Gangguan keseimbangan berupa vertigo dan sempoyongan (ataksia). Rasa baal pada wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi. Kelemahan atau kelumpuhan wajah atau anggota badan satu sisi atau dua sisi.Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan bicara (afasia).Gangguan daya ingat atau memori baru (amnesia). Gangguan menelan cairan atau makanan padat (disfagia).Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala stroke terbagi menjadi tiga, sebagai berikut :Bagian system saraf pusat, yaitu kelemahan otot (hemiplegia), kaku, dan menurunnya fungsi sensorik.Batang otak, yang terdapat 12 saraf kranial. Gejalanya yaitu lidah melemah; kemampuan membau, mengecap, mendengar, melihat secara parsial atau keseluruhan menjadi menurun; serta kemampuan reflex, ekspresi wajah, pernafasan, dan detak jantung menjadi terganggu. Cerebral cortex. Cerebral cortex merupakan permukaan luar cerebrum, apabila Cerebral cortex ini mengalami gangguan akan menyebabkan tidak bisa berbicara (afasia), kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan – gerakan yang bertujuan (apraksia), daya ingat menurun, kegagalan melaksanakan sebuah fungsi sebagaian badan (hemiparese), dan kebingungan. Jika tanda – tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), yang merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke. Keadaan ini sangat menguntungkan karena penderita bisa sembuh 100%.Namun, penderita harus tetap waspada terhadap gejala – gejala stroke yang mungkin timbul (Agromedia, 2009).Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia gejala dan tanda – tanda stroke adalah dengan slogan “SeGeRa Ke RS” yang terdiri dari :Se, Senyum tidak simetris (mencong ke satu sisi), tersedak, sulit menelan air minum secara tiba – tiba Ge, Gerak separuh anggota tubuh melemah secara tiba – tibaRa, Bicara pelo / tiba – tiba tidak dapat bicara / tidak mengerti kata – kata / bicara tidak nyambung Ke, Kebas atau baal, atau kesemutan separuh tubuhR, Rabun, pandangan satu mata kabur terjadi secara tiba – tibaS, Sakit kepala hebat yang muncul tiba – tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.PEMERIKSAAN PENUNJANG STROKEPemeriksaan penunjang dilakukan untuk memastikan jenis serangan stroke, letak sumbatan atau penyempitan pembuluh darah, letak perdarahan, serta luas jaringan otak yang mengalami kerusakan (Indarwati , Sari, & Dewi, 2008)CT-Scan Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infarkPemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) Pemeriksaan MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark atau hemoragik (Oktavianus, 2014). MRI mempunyai banyak keunggulan dibanding CT dalam mengevaluasi stroke, MRI lebih sensitif dalam mendeteksi infark, terutama yang berlokasi di batang otak dan serebelum Pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA) Merupakan metode non-infasif yang memperlihatkan arteri karotis dan sirkulasi serebral serta dapat menunjukan adanya oklusi(Hartono, 2010) Pemeriksaan ultrasonografi karotis dan dopler transkranial Mengukur aliran darah serebral dan mendeteksi penurunan aliran darah stenosis di dalam arteri karotis dan arteri vetebrobasilaris selain menunjukan luasnya sirkulasi kolateral. Kedua pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengkaji perburukkan penyakit vaskular dan mengevaluasi efek terapi yang ditimbulkan pada vasospasme, seperti yang terjadi pada perdarahan subaraknoid. Angiografi serebral merupakan prosedur invasif yang menggunakan media kontras untuk menunjukan pembuluh darah serebral, kepatenan, dan lokasi stenosis, oklusi atau aneurisma. Pemeriksaan aliran darah serebral membantu menentukan derajat vasopasme Pemeriksaan lumbal pungsi Pemeriksaan fungsi lumbal menunjukkan adanya tekanan. Tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA, sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya perdarahan subarachnoid atau intrakranialPemeriksaan EKG Dapat membantu mengidentifikasi penyebab kardiak jika stroke emboli dicurigai terjadi (Hartono, 2010) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal, kadar glukosa, lipid, kolestrol, dan trigliserida dilakukan untuk membantu menegakan diagnoseEEG (Electro Enchepalografi) Mengidentifikasi masalah di dasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifikAngiografi serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obtruksi arteri, oklusi/rupturSinar X tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat pada trobus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada perdarahan sub arachnoid.Pemeriksaan foto thorax Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari masa yang meluas.PENCEGAHAN PENYAKIT STROKEPencegahan stroke bertujuan untuk mengendalikan angka kematian akibat stroke dan kejadian stroke, memperkecil kemungkinan disabilitas akibat stroke serta mencegah terjadinya stroke berulang. Bentuk – bentuk upaya pencegahan stroke yang dapat dilakukan:Pencegahan Primer. Pencegahan Primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang sehat atau kelompok berisiko yang belum terkena stroke untuk mencegah kemungkinan terjadinya serangan stroke yang pertama, dengan mengendalikan faktor risiko dan mendeteksi diri serangan stroke. Hal ini dapat dilakukan dengan:     1) Peningkatan aktivitas fisik     2) Penyediaan pangan sehat & percepatan perbaikan gizi     3) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit     4) Peningkatan kualitas lingkungan     5) Peningkatan edukasi hidup sehat     6) Peningkatan perilaku hidup sehat, yang diimplementasikan dalam perilaku “CERDIK” yaitu : C ; Cek kesehatan secara berkala,            E ; Enyahkan asap rokok, R ; Rajin aktivitas fisik, D ; Diet sehat dengan gizi seimbang, I ; Istirahat yang cukup, K ; Kelola stressPencegahan Sekunder Pencegahan Sekunder adalah pencegahan yang dilakukan pada orang yang sudah mengalami serangan stroke, agar tidak terjadi serangan stroke berulang yaitu dengan penambahan obat pengencer darah seperti aspirin. Disamping pengendalian faktor risiko lainnya, individu pasca stroke tetap secara rutin dan teratur mengontrol faktor risiko (P2PTM Kemenkes RI, 2018).PENULIS: Tri Miranda PrasastiEDITOR: dr. Aji WibowoKOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul ChotimahDaftar Pustaka & Referensi :Agromedia, R. (2009). Solusi Sehat Mengatasi Stroke (1st ed.)Kemenskes Republik Indonesia. (2017). Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Stroke di Indonesia. Farida, I., & Amalia, N. (2009). mengantisipasi stroke : petunjuk mudah, lengkap, dan praktis sehari-hari. Yogjakarta: Buku Biru.Hartono, A. (2010). Patofisiologi : Aplikasi Pada Praktik Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Indarwati , L., Sari, W., & Dewi, C. S. (2008). Care Yourself, Stroke. Penebar Plus: Depok
Answer All Your Needs
Answer to all your needs is here!Tes gen yang dapat digunakan untuk:Mendeteksi penyakit (saat belum menunjukkan gejala)Mencegah penyakit (faktor keturunan)Mengobati secara tepat untuk setiap penyakitMerancang gaya hidup sehat yang disesuaikan dengan setiap individuMENGAPA harus skrining gen?Hemat BiayaHemat WaktuPengobatan tepatMetode diet yang dipersonalisasikan sesuai landasan profesionalGaya hidup lebih sehatGRANOMIC : Granostic Genomic ServicePelayanan tes genetika dengan hasil tercepat!Dikerjakan oleh PROFESIONALLayanan pemeriksaan LENGKAPHasil sangat AKURATDengan metode yang NYAMANGranomic - Answer All Your Needs
DIET Seimbang yang BAIK | Health Podcast
Bagaimana fenomena “Remaja Jompo” ini menyebabkan penyakit-penyakit metabolik?    Gangguan metabolik adalah suatu kejadian yang terjadi karena proses metabolisme yang gagal dan menyebabkan tubuh memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit zat yang penting agar tetap sehat. Dengan begitu, beberapa penyakit dapat terjadi ketika beberapa zat penting tersebut kurang atau lebih.Terdapat multi-faktor yang memengaruhi terjadinya Gangguan Metabolik dalam isi podcast kali ini, yaitu:Orang-orang dengan orangtua yang memiliki riwayat, lebih rentan mengalami gejala metabolik lebih tinggi, apalagi ketika mereka termasuk dari “Remaja Jompo”. Tidak ada aktivitas rutin hingga pola makan yang tidak dijaga akan menyebabkan penumpukan kalori dan lemak. Jika dibiarkan kalori dan lemak yang sudah menumpuk akan menyumbat pembuluh darah.Apakah kita harus tetap memperhatikan 4 Sehat 5 Sempurna? Apakah harus seperti itu? Atau ada makanan tertentu yang harus kita hindari?    4 Sehat 5 Sempurna memiliki semua nutrisi baik makro maupun mikronutrien memang dibutuhkan. Namun, apakah dari 4 Sehat 5 Sempurna termasuk ke dalam makanan yang higienis dan bersih dalam pengolahannya? Lantas komposisi di dalamnya seperti apa? Apakah sudah seimbang dengan kegiatan sehari-hari, di mana tubuh membutuhkan semua nutrisi dari sana.    Yuk, simak podcast dalam tema "Remaja Jompo" bersama dr. Aji Wibowo di Youtube Granostic, serta ikuti podcast-podcast bermanfaat lainnya.
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message