Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Apakah Premarital Check Up Hanya untuk yang Sakit? Ini Faktanya

Apakah Premarital Check Up Hanya untuk yang Sakit? Ini Faktanya

“Saya merasa sehat. Mengapa harus melakukan pemeriksaan sebelum menikah?”

Pertanyaan tersebut masih sering muncul di kalangan calon pengantin. Premarital check up kerap dianggap hanya diperlukan oleh orang yang memiliki keluhan, riwayat penyakit, atau masalah kesehatan tertentu.

Faktanya, premarital check up bukan hanya untuk orang yang sakit. Pemeriksaan ini merupakan bentuk skrining kesehatan yang justru dapat dilakukan ketika seseorang belum memiliki gejala.

Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan atau menentukan apakah seseorang layak menikah. Premarital check up membantu pasangan mengenali kondisi yang mungkin belum diketahui, memahami risiko kesehatan, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga dengan informasi medis yang lebih jelas.

Mitos dan Fakta Seputar Premarital Check Up

Mitos

Faktanya

Premarital check up hanya untuk orang yang sakit

Pemeriksaan juga ditujukan bagi orang yang merasa sehat karena beberapa kondisi tidak menimbulkan gejala

Hasil yang tidak normal berarti pernikahan harus dibatalkan

Hasil pemeriksaan digunakan untuk menentukan tindak lanjut, bukan memutuskan kelanjutan pernikahan

Jika tidak ada riwayat penyakit, pemeriksaan tidak diperlukan

Infeksi, anemia, atau status pembawa penyakit genetik dapat ditemukan tanpa riwayat keluhan

Semua pasangan harus menjalani tes yang sama

Jenis pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi, riwayat kesehatan, dan faktor risiko masing masing

Mengapa Orang yang Terlihat Sehat Tetap Perlu Diperiksa?

Merasa sehat tidak selalu berarti seluruh kondisi tubuh dapat diketahui tanpa pemeriksaan.

Beberapa penyakit berkembang secara perlahan atau tidak langsung menimbulkan keluhan. Seseorang juga dapat membawa infeksi atau sifat genetik tertentu tanpa menyadarinya.

Sebagai contoh, sebagian besar orang dengan hepatitis B kronis tidak mengalami gejala. Skrining melalui pemeriksaan darah diperlukan untuk mengetahui status infeksi secara lebih pasti.

Hal serupa dapat terjadi pada kondisi lain, seperti:

Program skrining calon pengantin di Indonesia saat ini juga mencakup pemeriksaan anemia, HIV, sifilis, dan hepatitis B, dengan pemeriksaan tambahan yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan.

Premarital Check Up Itu Skrining, Bukan Karena Keluhan

Pemeriksaan diagnostik biasanya dilakukan ketika seseorang memiliki gejala tertentu. Sementara itu, skrining bertujuan menemukan faktor risiko atau kondisi kesehatan sebelum gejalanya muncul.

Premarital check up termasuk dalam pendekatan skrining dan pencegahan. Pemeriksaan dilakukan agar kondisi yang berpotensi memengaruhi pasangan, kehamilan, atau calon anak dapat diketahui lebih awal.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025, upaya kesehatan bagi calon pengantin mencakup deteksi dini penyakit atau skrining kesehatan serta pemberian imunisasi. Pemeriksaan tersebut ditujukan kepada calon pengantin perempuan maupun laki laki.

Karena itu, tidak adanya keluhan bukan berarti pemeriksaan tidak bermanfaat.

Kondisi Tanpa Gejala yang Dapat Diketahui Lebih Awal

Premarital check up tidak selalu menemukan penyakit. Namun, pemeriksaan dapat membantu mengenali beberapa kondisi yang sebelumnya tidak disadari.

1. Anemia dan kelainan darah

Anemia ringan dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas. Pemeriksaan darah dapat membantu menilai kadar hemoglobin serta karakteristik sel darah merah.

Hasil tertentu juga dapat mengarah pada perlunya pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kemungkinan kekurangan zat besi atau sifat talasemia.

2. Hepatitis B

Hepatitis B dapat berlangsung tanpa gejala, tetapi tetap berisiko menular melalui hubungan seksual, kontak dengan darah, serta dari ibu kepada bayi.

Mengetahui status hepatitis B sebelum menikah memberi kesempatan bagi pasangan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, vaksinasi, atau konsultasi mengenai pencegahan penularan.

3. HIV dan sifilis

HIV dan sifilis tidak selalu menunjukkan tanda yang mudah dikenali pada tahap awal. Pemeriksaan laboratorium menjadi cara yang lebih tepat untuk mengetahui status infeksi.

Deteksi lebih awal memungkinkan pengobatan dan langkah pencegahan dilakukan sebelum kondisi berkembang atau ditularkan kepada pasangan.

4. Status pembawa sifat talasemia

Seseorang yang membawa sifat talasemia dapat terlihat sehat atau hanya mengalami perubahan ringan pada hasil darah.

Skrining pembawa sifat membantu pasangan mengetahui kemungkinan menurunkan kondisi genetik tertentu kepada anak. Jika ditemukan faktor risiko pada kedua pasangan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lebih lanjut dan konseling genetik.

Pemeriksaan pembawa sifat idealnya dilakukan sebelum kehamilan agar pasangan memiliki waktu untuk memahami risiko reproduksi dan pilihan yang tersedia.

5. Gangguan gula darah dan tekanan darah

Kadar gula darah atau tekanan darah yang tinggi dapat ditemukan pada orang yang belum merasakan gejala.

Mengetahui kondisi tersebut lebih awal membantu pasien melakukan perubahan gaya hidup, menjalani pengobatan bila diperlukan, dan mengendalikan penyakit sebelum merencanakan kehamilan.

Apakah Semua Pasangan Sehat Memerlukan Tes yang Sama?

Tidak. Premarital check up perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasangan.

Pemeriksaan dasar dapat mencakup wawancara kesehatan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, dan skrining infeksi tertentu. Dokter kemudian dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan berdasarkan:

Sebagai contoh, panel TORCH lengkap tidak selalu diperlukan oleh setiap pasangan yang tidak memiliki gejala. Penilaian kekebalan rubella dapat dipertimbangkan sebelum kehamilan, tetapi pemeriksaan IgM rubella tidak direkomendasikan sebagai skrining rutin pada orang tanpa gejala.

Karena itu, pemeriksaan sebaiknya tidak dipilih hanya berdasarkan banyaknya jumlah tes. Konsultasi membantu memastikan bahwa setiap pemeriksaan memiliki tujuan yang jelas.

Merasa Sehat Tetap Perlu Memastikan Kondisi Tubuh

Premarital check up bukan hanya untuk calon pengantin yang sedang sakit. Pemeriksaan ini membantu pasangan yang merasa sehat mengenali kondisi tanpa gejala dan memahami faktor kesehatan sebelum memulai kehidupan berkeluarga.

Mengetahui kondisi lebih awal bukan berarti mengharapkan hasil yang buruk. Langkah tersebut justru memberikan kesempatan untuk melakukan pencegahan dan penanganan sebelum masalah kesehatan berkembang.

Granostic menyediakan layanan premarital check up dengan pilihan pemeriksaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Anda dan pasangan. Hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan bersama dokter agar setiap temuan dapat dipahami secara tepat.

Hubungi tim Granostic atau kunjungi klinik Granostic di Surabaya untuk mendapatkan informasi mengenai persiapan dan pilihan pemeriksaan sebelum menikah.

FAQ Seputar Premarital Check Up untuk Pasangan Sehat

Apakah orang yang tidak memiliki keluhan tetap perlu premarital check up?

Ya. Beberapa kondisi kesehatan tidak menimbulkan gejala sehingga hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium.

Jika hasil pemeriksaan normal, apakah premarital check up menjadi sia sia?

Tidak. Hasil normal membantu memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan pada saat pemeriksaan dan dapat memberikan ketenangan bagi pasangan.

Apakah pasangan yang sudah lama berpacaran tetap perlu diperiksa?

Ya. Lamanya hubungan tidak dapat menunjukkan status infeksi, kadar gula darah, anemia, atau apakah seseorang membawa sifat penyakit genetik.

Apakah hasil pemeriksaan yang tidak normal dapat membatalkan pernikahan?

Premarital check up tidak menentukan apakah pasangan boleh atau tidak boleh menikah. Pemeriksaan memberikan informasi medis yang dapat digunakan untuk menentukan pengobatan, pencegahan, atau konsultasi lanjutan.

Apakah semua pasangan harus menjalani tes TORCH?

Tidak. Panel TORCH lengkap tidak selalu diperlukan pada semua calon pengantin. Pemeriksaan perlu disesuaikan dengan gejala, riwayat kesehatan, status imunisasi, dan rekomendasi dokter.

Apakah pemeriksaan ini sama dengan tes kesuburan?

Tidak. Premarital check up menilai kesehatan umum dan faktor yang dapat memengaruhi pasangan atau rencana kehamilan. Tes kesuburan dilakukan berdasarkan indikasi tersendiri.

Apakah perlu berpuasa sebelum pemeriksaan?

Tergantung jenis pemeriksaannya. Puasa mungkin diperlukan jika paket mencakup gula darah puasa atau pemeriksaan metabolik tertentu. Ikuti petunjuk dari klinik sebelum datang.

Apakah hasil pemeriksaan bersifat rahasia?

Ya. Hasil pemeriksaan merupakan informasi medis pribadi. Penyampaiannya kepada pasangan atau pihak lain memerlukan persetujuan pasien.

Ditinjau Oleh:

dr. Adam Hilman

Sumber Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Reproduksi. Diakses 2026.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2015/2023 tentang Petunjuk Teknis Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer. Diakses 2026.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pra Nikah. Diakses 2026.
  4. Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Clinical Signs and Symptoms of Hepatitis B. Diakses 2026.
  5. Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Clinical Testing and Diagnosis for Hepatitis B. Diakses 2026.
  6. American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). Carrier Screening. Diakses 2026.
  7. American College of Obstetricians and Gynecologists. (2019). Prepregnancy Counseling. Diakses 2026.
  8. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Serology Testing for Rubella. Diakses 2026.
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message