Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Premarital Check Up: Manfaat, Jenis, dan Waktu Terbaik Melakukannya

Premarital Check Up: Manfaat, Jenis, dan Waktu Terbaik Melakukannya

Persiapan pernikahan tidak hanya mencakup gedung, katering, undangan, dan kebutuhan acara. Kondisi kesehatan Anda dan pasangan juga perlu dipersiapkan sebelum membangun rumah tangga.

Salah satu caranya adalah dengan menjalani premarital check up. Pemeriksaan ini membantu calon pengantin mengetahui kondisi kesehatan masing masing, mendeteksi faktor risiko sejak dini, dan merencanakan kehamilan dengan lebih baik.

Premarital check up bukan pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang layak menikah. Jika ditemukan masalah kesehatan, hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk mendapatkan pengobatan, vaksinasi, konseling, atau pemeriksaan lanjutan yang sesuai.

Apa Itu Premarital Check Up?

Premarital check up adalah rangkaian pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum menikah. Pemeriksaan biasanya mencakup konsultasi riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, penilaian status imunisasi, serta konseling kesehatan sesuai kebutuhan.

Tujuan utamanya adalah mengenali kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan diri sendiri, pasangan, kehamilan, atau calon anak. Pemeriksaan ini juga dapat membantu mengoptimalkan kondisi kesehatan sebelum pasangan mulai merencanakan kehamilan. Konsep tersebut sejalan dengan perawatan prakonsepsi yang bertujuan mengidentifikasi dan menangani faktor kesehatan sebelum kehamilan terjadi.

Jenis tes yang diberikan tidak selalu sama untuk setiap pasangan. Dokter akan menyesuaikannya berdasarkan usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, riwayat penyakit keluarga, status imunisasi, gaya hidup, dan rencana memiliki anak.

Mengapa Premarital Check Up Penting?

Sebagian masalah kesehatan tidak selalu menimbulkan gejala. Seseorang dapat terlihat sehat, tetapi memiliki anemia, gangguan gula darah, infeksi tertentu, atau menjadi pembawa sifat penyakit keturunan.

Melalui pemeriksaan lebih awal, pasangan memiliki waktu untuk memahami kondisi tersebut dan menentukan langkah selanjutnya bersama tenaga medis.

1. Mendeteksi masalah kesehatan sejak dini

Pemeriksaan dapat membantu menemukan kondisi yang sebelumnya tidak diketahui, seperti anemia, tekanan darah tinggi, gangguan gula darah, atau infeksi tertentu.

Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan sebelum kondisi berkembang atau memengaruhi rencana kehamilan.

2. Mengurangi risiko penularan kepada pasangan

Beberapa infeksi dapat menular melalui hubungan seksual atau kontak dengan darah, misalnya HIV, sifilis, serta hepatitis B.

Mengetahui status kesehatan sejak awal membantu pasangan memperoleh pengobatan, vaksinasi, atau edukasi untuk mengurangi risiko penularan. Program skrining calon pengantin di Indonesia juga mencakup perhatian terhadap HIV, sifilis, anemia, dan status imunisasi tertentu.

3. Membantu mempersiapkan kehamilan

Pemeriksaan sebelum menikah dapat menjadi bagian dari persiapan sebelum kehamilan, khususnya bagi pasangan yang berencana segera memiliki anak.

Dokter dapat menilai kondisi kesehatan, obat yang sedang digunakan, status imunisasi, riwayat penyakit, dan faktor lain yang mungkin memengaruhi kehamilan. Perawatan sebelum kehamilan juga dapat mencakup pemeriksaan fisik, konseling nutrisi dan gaya hidup, serta pengendalian penyakit tertentu.

4. Mengenali risiko penyakit keturunan

Riwayat keluarga dapat membantu dokter menilai kemungkinan adanya penyakit yang diturunkan, seperti talasemia atau kelainan genetik tertentu.

Jika terdapat faktor risiko, pasangan mungkin disarankan menjalani pemeriksaan tambahan atau konseling genetik. Mengetahui status pembawa sifat bukan berarti pasangan tidak dapat menikah, tetapi membantu mereka memahami risiko dan pilihan yang tersedia.

5. Membantu pasangan mengambil keputusan berdasarkan informasi medis

Hasil pemeriksaan dapat membuka komunikasi mengenai kondisi kesehatan masing masing secara lebih jujur dan terarah.

Jika ditemukan kondisi tertentu, pasangan dapat berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil keputusan tentang pengobatan, vaksinasi, waktu merencanakan kehamilan, atau pemeriksaan berikutnya.

Siapa yang Perlu Melakukan Premarital Check Up?

Premarital check up ditujukan bagi calon pengantin laki laki maupun perempuan, termasuk mereka yang merasa sehat dan tidak memiliki keluhan.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 menyatakan bahwa calon pengantin laki laki dan perempuan harus menjalani deteksi dini penyakit atau skrining kesehatan di Puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan lain sesuai standar.

Fasilitas kesehatan kemudian dapat menerbitkan surat keterangan pemeriksaan kesehatan untuk keperluan perkawinan. Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila salah satu pasangan memiliki:

Kondisi tersebut tidak selalu berarti akan ditemukan penyakit. Informasi tersebut membantu dokter memilih pemeriksaan yang paling relevan.

Jenis Pemeriksaan dalam Premarital Check Up

Premarital check up bukan hanya satu jenis tes. Pemeriksaan dapat terdiri dari beberapa bagian yang saling melengkapi.

Jenis pemeriksaan

Contoh yang dinilai

Konsultasi riwayat kesehatan

Penyakit terdahulu, obat, riwayat keluarga, dan gaya hidup

Pemeriksaan fisik dasar

Tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan status gizi

Pemeriksaan darah dan urine

Darah lengkap, gula darah, golongan darah, rhesus, dan urine

Skrining penyakit menular

HIV, sifilis, hepatitis B, dan pemeriksaan lain sesuai risiko

Penilaian status imunisasi

Status imunisasi tetanus, hepatitis B, rubella, atau imunisasi lain

Pemeriksaan tambahan

Talasemia, fungsi organ, TORCH, atau pemeriksaan reproduksi sesuai indikasi

Daftar tersebut merupakan gambaran umum. Tidak semua calon pengantin perlu menjalani seluruh pemeriksaan.

Pemeriksaan kesehatan dasar

Pemeriksaan fisik membantu menilai kondisi kesehatan umum, misalnya melalui pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, dan status gizi.

Dokter juga dapat menanyakan kebiasaan merokok, pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat, serta riwayat penyakit yang pernah dialami.

Pemeriksaan darah dan urine

Pemeriksaan darah dapat mencakup darah lengkap, hemoglobin, gula darah, golongan darah, dan rhesus.

Pemeriksaan urine dapat dilakukan untuk membantu menilai kondisi saluran kemih, ginjal, atau masalah lain berdasarkan kebutuhan medis.

Skrining penyakit menular

Pemeriksaan dapat mencakup HIV, sifilis, hepatitis B, atau penyakit menular lain sesuai riwayat dan faktor risiko.

Hasil awal yang reaktif belum selalu menjadi diagnosis akhir. Dokter dapat merekomendasikan tes konfirmasi sebelum memberikan kesimpulan dan menentukan penanganan.

Pemeriksaan penyakit keturunan

Skrining talasemia atau pemeriksaan genetik lain biasanya dipertimbangkan apabila terdapat riwayat keluarga, hasil darah yang mengarah pada kelainan tertentu, atau faktor risiko lain.

Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui kemungkinan seseorang menjadi pembawa sifat suatu penyakit.

Pemeriksaan terkait kehamilan dan imunisasi

Bagi pasangan yang berencana memiliki anak, dokter dapat meninjau status imunisasi serta risiko infeksi yang dapat memengaruhi kehamilan.

Pemeriksaan seperti antibodi rubella atau komponen TORCH tertentu tidak selalu diberikan kepada semua calon pengantin. Kebutuhannya perlu ditentukan berdasarkan riwayat kesehatan, status imunisasi, gejala, serta pertimbangan dokter.

Pemeriksaan hormon dan kesuburan juga bukan bagian rutin bagi semua pasangan. Tes tersebut umumnya dilakukan jika terdapat gangguan menstruasi, keluhan reproduksi, riwayat penyakit tertentu, atau kesulitan mendapatkan kehamilan.

Bagaimana Proses Premarital Check Up Dilakukan?

Proses pemeriksaan dapat berbeda di setiap fasilitas kesehatan, tetapi umumnya terdiri dari empat tahap.

1. Konsultasi awal mengenai kondisi kesehatan

Dokter akan menanyakan riwayat penyakit, obat yang dikonsumsi, riwayat keluarga, status imunisasi, kebiasaan sehari hari, dan rencana kehamilan. Informasi yang lengkap membantu dokter menentukan tes yang sesuai.

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan dapat mencakup tekanan darah, berat badan, tinggi badan, status gizi, serta pemeriksaan fisik lain sesuai kebutuhan.

3. Pengambilan sampel

Sampel darah atau urine akan diambil sesuai jenis pemeriksaan yang direkomendasikan. Sebagian tes tidak memerlukan persiapan khusus. Namun, pasien mungkin diminta berpuasa jika pemeriksaan mencakup gula darah puasa atau profil metabolik tertentu.

4. Konsultasi hasil pemeriksaan

Dokter akan menjelaskan arti hasil pemeriksaan, kemungkinan faktor risiko, dan langkah yang perlu dilakukan. Tindak lanjut dapat berupa pengulangan tes, pemeriksaan konfirmasi, pengobatan, vaksinasi, perubahan gaya hidup, atau rujukan ke dokter spesialis.

Kapan Waktu Terbaik Melakukan Premarital Check Up?

Premarital check up sebaiknya dilakukan sekitar tiga hingga enam bulan sebelum pernikahan. Rentang waktu tersebut memberikan kesempatan yang cukup untuk melakukan pemeriksaan lanjutan atau menyelesaikan tindakan medis yang diperlukan.

Sebagai contoh, pasangan mungkin memerlukan waktu untuk:

Pemeriksaan juga dapat dilakukan lebih awal, khususnya jika pasangan memiliki penyakit kronis, riwayat penyakit keluarga, atau berencana segera memiliki anak.

Apakah Hasil yang Tidak Normal Menghambat Pernikahan?

Tidak selalu. Hasil yang berada di luar nilai normal perlu dinilai berdasarkan jenis pemeriksaan, kondisi pasien, dan riwayat kesehatannya.

Hasil tersebut dapat menunjukkan perlunya pemeriksaan ulang, pengobatan, vaksinasi, atau konsultasi lebih lanjut. Peraturan kesehatan di Indonesia juga mengarahkan agar masalah yang ditemukan melalui skrining calon pengantin ditindaklanjuti dengan penatalaksanaan sesuai kondisi.

Karena itu, hasil premarital check up sebaiknya tidak ditafsirkan sendiri. Diskusikan hasilnya dengan dokter agar pasangan mendapatkan penjelasan yang tepat tanpa menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu.

Persiapkan Pernikahan Sehat Bersama Granostic

Premarital check up membantu Anda dan pasangan memulai kehidupan rumah tangga dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi kesehatan masing masing.

Granostic menyediakan layanan premarital check up dengan pilihan pemeriksaan yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan pasangan. Hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan bersama dokter untuk membantu memahami kondisi kesehatan dan menentukan langkah berikutnya.

Hubungi tim Granostic atau kunjungi klinik Granostic di Surabaya untuk mengetahui pilihan paket dan persiapan pemeriksaan sebelum menikah.

FAQ Seputar Premarital Check Up

Apakah premarital check up wajib bagi calon pengantin?

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 menyatakan bahwa calon pengantin laki laki dan perempuan harus menjalani skrining kesehatan. Surat keterangan sehat juga tercantum sebagai salah satu dokumen dalam persyaratan administrasi pencatatan nikah berdasarkan informasi Kementerian Agama mengenai PMA Nomor 30 Tahun 2024. Prosedur pelaksanaannya perlu dikonfirmasi kepada KUA, Dukcapil, atau fasilitas kesehatan di wilayah masing masing.

Apakah kedua pasangan harus menjalani pemeriksaan?

Ya, pemeriksaan ditujukan bagi calon pengantin laki laki dan perempuan. Namun, jenis tes tambahan dapat berbeda sesuai kondisi dan faktor risiko masing masing.

Berapa lama proses premarital check up?

Pemeriksaan fisik dan pengambilan sampel umumnya dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Waktu keluarnya hasil bergantung pada jenis tes dan metode laboratorium yang digunakan.

Apakah premarital check up sama dengan tes kesuburan?

Tidak. Premarital check up menilai kesehatan umum dan faktor risiko yang dapat memengaruhi pasangan atau rencana kehamilan. Pemeriksaan kesuburan dilakukan secara khusus apabila terdapat indikasi medis.

Apakah semua calon pengantin perlu menjalani tes TORCH?

Tidak. Pemeriksaan TORCH lengkap tidak selalu dibutuhkan oleh setiap calon pengantin. Dokter akan mempertimbangkan riwayat infeksi, gejala, status imunisasi, paparan, dan rencana kehamilan sebelum merekomendasikannya.

Apakah perlu berpuasa sebelum pemeriksaan?

Tidak semua tes membutuhkan puasa. Puasa mungkin diperlukan apabila paket mencakup gula darah puasa atau pemeriksaan tertentu lainnya. Ikuti instruksi dari klinik sebelum datang.

Bagaimana jika salah satu hasil pemeriksaan reaktif?

Hasil reaktif perlu dikonsultasikan dan mungkin memerlukan pemeriksaan konfirmasi. Dokter akan menjelaskan penanganan, pencegahan penularan, atau vaksinasi yang dapat dilakukan.

Apakah hasil premarital check up bersifat rahasia?

Ya. Hasil pemeriksaan merupakan informasi kesehatan pribadi. Hasil akan disampaikan kepada pasien dan hanya dapat dibagikan kepada pasangan atau pihak lain dengan persetujuan pasien.

Ditinjau Oleh:

dr. Adam Hilman

Sumber Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Reproduksi. Diakses 2026.
  2. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Syarat Administrasi Daftar Nikah Berdasarkan PMA Nomor 30 Tahun 2024. Diakses 2026.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Cek Kesehatan Gratis: Ini Manfaat dan Jenis Pemeriksaan yang Kamu Dapatkan. Diakses 2026.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Mengapa Cek Pra Nikah Penting untuk Kesehatan Pasangan?. Diakses 2026.
  5. World Health Organization. (2013). Preconception Care: Maximizing the Gains for Maternal and Child Health. Diakses 2026.
  6. American College of Obstetricians and Gynecologists. (2019). Prepregnancy Counseling. Diakses 2026.
  7. American College of Obstetricians and Gynecologists. (n.d.). Good Health Before Pregnancy: Prepregnancy Care. Diakses 2026.
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message