Kenali Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 Sejak Dini
-(1).jpg)
Saat membicarakan soal diabetes, Anda mungkin hanya terpikirkan oleh satu tipe kondisi medis saja. Padahal diabetes dibedakan dalam dua tipe, yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Lantas apa bedanya?
Pada Juni 2025 lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui platform resminya, menerangkan bahwa 5,9% peserta Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diikuti oleh lebih dari 8,2 juta masyarakat Indonesia, terdeteksi menderita diabetes melitus.
Angka ini tidaklah kecil, mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki akses pemeriksaan kesehatan rutin. Sehingga masih ada banyak kemungkinan penderita diabetes yang belum terdeteksi secara medis.
Sebagian besar orang yang menderita diabetes, mengidap diabetes tipe 2. Namun terdapat juga diabetes tipe 1, yang mungkin lebih jarang dibicarakan dan keberadaannya sering disalahkenali sebagai diabetes tipe 2.
Nah, dalam artikel ini, Granostic akan mengajak Anda untuk menyimak apa saja perbedaan diabetes tipe 1 dan 2. Agar Anda dapat mengenalinya, memeriksakannya, dan mendapatkan perawatan sedini mungkin.
Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Pentingnya Kenali Diabetes Sejak Dini
Banyak dari masyarakat Indonesia yang kerap mengabaikan gejala-gejala awal diabetes dan baru memeriksakan diri mereka ke dokter atau melakukan cek gula darah ketika gejalanya terasa berat.
Nah, memangnya kenapa sih mengenali diabetes sejak dini itu penting? Jawabannya sederhana, karena diabetes sering kali dijuluki sebagai silent killer. Sehingga tanpa pemeriksaan rutin, kadar gula darah yang tinggi bisa diam-diam merusak organ tubuh tanpa kita sadari.
Berikut adalah beberapa manfaat utama jika Sobat mengenali risiko diabetes sejak dini:
-
Mencegah Komplikasi Jangka Panjang: Dengan deteksi dini, Sobat bisa menghindari risiko kerusakan permanen pada jantung, ginjal, saraf, hingga penglihatan (retinopati) yang biasanya muncul akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun.
-
Memungkinkan Perubahan Gaya Hidup yang Tepat: Khususnya pada kondisi prediabetes, deteksi awal memungkinkan Sobat untuk memutar balik kondisi tersebut melalui pola makan dan olahraga sebelum benar-benar berkembang menjadi diabetes tipe 2.
-
Meningkatkan Kualitas Hidup: Penanganan yang dimulai sejak awal jauh lebih mudah dilakukan dan tidak serumit pengobatan saat kondisi sudah parah. Hal ini membantu Sobat tetap produktif dan beraktivitas tanpa hambatan fisik yang berarti.
Nah, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, diabetes memiliki dua tipe yang berbeda. Untuk membedakan antara diabetes tipe 1 dan 2, mari kita mulai dengan mengenal karakteristik umum dari keduanya berikut ini.
Mengenal Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah kondisi medis di mana sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan menghancurkan sel-sel di pankreas yang bertugas menghasilkan insulin. Akibatnya, pankreas kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin.
Padahal insulin merupakan hormon kunci yang berfungsi membantu gula darah masuk ke dalam sel tubuh untuk diolah menjadi energi. Tanpa insulin, gula akan menumpuk di aliran darah dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.
Penyebab utama dari diabetes tipe 1 bersifat autoimun dan belum diketahui secara pasti pemicunya, namun faktor genetik dan paparan virus tertentu diduga kuat memiliki peran. Kondisi ini tidak berkaitan dengan pola makan atau gaya hidup seseorang, melainkan lebih kepada faktor biologis yang tidak dapat dicegah. Oleh karena itu, penderita diabetes tipe 1 mutlak membutuhkan terapi insulin seumur hidup untuk bertahan hidup.
Mengenal Diabetes Tipe 2
Sementara itu, diabetes tipe 2 merupakan bentuk diabetes yang paling umum ditemukan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalami gangguan dalam cara merespons insulin (resistensi insulin) untuk menjaga kadar gula darah normal.
Berbeda dengan tipe 1, pada tipe 2 pankreas masih bekerja, namun fungsinya sudah tidak lagi optimal. Jika dibiarkan, kadar gula darah yang terus tinggi ini akan merusak pembuluh darah di seluruh tubuh.
Penyebab diabetes tipe 2 sangat kompleks dan berkaitan erat dengan kombinasi antara faktor genetik dan gaya hidup. Pola makan tinggi gula, kurangnya aktivitas fisik, serta berat badan berlebih (obesitas) adalah pemicu utama yang mempercepat terjadinya resistensi insulin. Faktor usia di atas 45 tahun juga meningkatkan risiko, meski saat ini kasus tipe 2 makin banyak ditemukan pada usia yang lebih muda akibat gaya hidup modern yang kurang sehat.
Perbedaan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2
Setelah menyimak karakteristik umumnya, untuk dapat mengenali dengan baik diabetes tipe 1 dan tipe 2, Anda perlu menyimak perbedaan keduanya dari beberapa aspek berikut ini.
1. Perbedaan dari penyebab dan mekanisme tubuh
Perbedaan paling mendasar pada kedua jenis diabetes ini terletak pada sumber masalahnya di dalam tubuh. Pada diabetes tipe 1, masalahnya adalah defisiensi insulin absolut akibat reaksi autoimun, di mana sistem imun salah sasaran dan menghancurkan sel beta pankreas. Jadi, tubuh sama sekali tidak memproduksi insulin karena pabriknya telah rusak.
Sementara itu, diabetes tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin. Dalam mekanisme ini, pankreas sebenarnya masih memproduksi insulin, namun sel-sel tubuh tidak meresponsnya dengan baik (seperti kunci yang tidak lagi cocok dengan gemboknya). Akibatnya, gula darah tetap terjebak di aliran darah dan tidak bisa masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.
2. Perbedaan usia onset dan faktor risiko
Jika dilihat dari sisi waktu kemunculannya, diabetes tipe 1 sering dijuluki sebagai juvenile diabetes karena umumnya terdiagnosis pada usia anak-anak hingga dewasa muda, meskipun bisa terjadi di usia berapa pun. Faktor risikonya murni berasal dari genetika dan paparan lingkungan (seperti virus tertentu) yang memicu reaksi imun, sehingga kondisi ini tidak bisa dicegah melalui perubahan gaya hidup.
Sebaliknya, diabetes tipe 2 secara historis lebih banyak menyerang orang dewasa di atas usia 45 tahun, meski kini trennya bergeser ke usia yang lebih muda. Faktor risiko utamanya sangat berkaitan erat dengan gaya hidup, seperti berat badan berlebih (obesitas), kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak sehat. Kabar baiknya, berbeda dengan tipe 1, diabetes tipe 2 sangat mungkin dicegah atau ditunda kemunculannya dengan pola hidup sehat.
3. Perbedaan kebutuhan insulin
Penderita diabetes tipe 1 memiliki ketergantungan mutlak terhadap insulin eksternal seumur hidupnya. Karena tubuh sudah tidak memiliki sel penghasil insulin, mereka membutuhkan suntikan insulin atau pompa insulin setiap hari agar metabolisme tubuh tetap berjalan dan nyawa tetap terjaga. Tanpa asupan insulin dari luar, penderita tipe 1 sangat berisiko mengalami komplikasi fatal bernama Ketoasidosis Diabetikum (KAD).
Sementara bagi penderita diabetes tipe 2, penggunaan insulin biasanya bukan merupakan langkah pertama. Pengobatan awalnya sering kali difokuskan pada perubahan gaya hidup dan obat-obatan minum (seperti Metformin) yang membantu sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin.
Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, penderita tipe 2 mungkin saja membutuhkan tambahan suntikan insulin jika fungsi pankreas mereka terus menurun dan tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan tubuh.
4. Perbedaan gejala awal yang sering muncul
Kecepatan munculnya gejala juga menjadi pembeda yang sangat nyata. Pada diabetes tipe 1, gejala biasanya muncul secara mendadak dan sangat hebat dalam hitungan minggu. Gejala tersebut termasuk penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab, rasa haus yang ekstrem, dan sering buang air kecil. Karena serangannya yang cepat, penderita sering kali baru menyadari kondisinya saat sudah dalam keadaan darurat medis.
Pada diabetes tipe 2, gejalanya cenderung muncul sangat perlahan, bahkan bertahap selama bertahun-tahun sehingga sering kali tidak disadari. Penderitanya mungkin hanya merasa sedikit lebih cepat lelah, luka yang lama sembuh, atau penglihatan yang perlahan mulai kabur.
Sifat gejalanya yang tampak samar inilah yang membuat pemeriksaan gula darah secara rutin di fasilitas kesehatan menjadi sangat penting bagi Sobat Granostic yang memiliki faktor risiko.
Siapa yang Berisiko Mengalami Diabetes
Diabetes memang tidak menular, namun bibitnya bisa datang dari berbagai faktor yang ada di sekitar kita maupun dari dalam tubuh sendiri. Dengan memahami faktor risiko ini, Sobat Granostic bisa lebih waspada dan dapat mengambil langkah pencegahan sesegera mungkin sebelum terlambat.
Nah, berikut ini beberapa kategori masyarakat dengan faktor risiko tinggi mengalami diabetes:
Riwayat keluarga dan faktor genetik
Faktor genetik memegang peranan besar, terutama pada diabetes tipe 1 dan tipe 2. Jika Sobat memiliki orang tua atau saudara kandung yang menderita diabetes, maka risiko Sobat untuk mengalami kondisi serupa secara otomatis meningkat karena adanya kemiripan kode genetik yang mengatur metabolisme gula darah.
Meskipun genetik tidak bisa diubah, mengetahui adanya riwayat keluarga adalah modal penting agar Sobat bisa lebih disiplin dalam menjaga gaya hidup dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.
Pola makan dan gaya hidup
Gaya hidup modern yang serba instan sering kali menjadi pintu masuk bagi diabetes tipe 2. Sering mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat olahan, minuman berpemanis, serta kurangnya asupan serat dari sayur dan buah dapat memicu lonjakan gula darah yang terus-menerus.
Jika pola makan buruk ini menjadi kebiasaan jangka panjang, sel-sel tubuh lama-kelamaan akan menjadi lelah dan kurang sensitif terhadap insulin, yang akhirnya berujung pada diabetes.
- Baca Juga: Diet Seimbang Untuk Gaya Hidup Sehat
Berat badan berlebih dan kurang aktivitas fisik
Berat badan berlebih atau obesitas, terutama penumpukan lemak di area perut (lemak visceral), adalah pemicu utama resistensi insulin. Lemak yang berlebih dapat melepaskan senyawa kimia yang mengganggu kerja hormon insulin dalam menyalurkan gula ke sel-sel tubuh.
Hal ini diperparah jika Sobat jarang bergerak atau berolahraga, karena otot yang aktif sebenarnya sangat membantu tubuh dalam membakar gula darah secara alami dan menjaga berat badan tetap ideal.
Kondisi medis tertentu dan usia
Seiring bertambahnya usia, terutama setelah melewati angka 45 tahun, fungsi pankreas dan massa otot cenderung menurun, sehingga risiko diabetes tipe 2 meningkat. Inilah mengapa banyak pasien diabetes berusia lebih dari 45 tahun atau ketika memasuki usia lansia.
Selain faktor usia, beberapa kondisi medis seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol yang tidak normal, hingga riwayat diabetes saat hamil (diabetes gestasional) juga memperbesar peluang seseorang terkena diabetes di kemudian hari. Oleh karena itu, bagi Sobat yang berada dalam kategori ini, pemeriksaan gula darah secara berkala adalah investasi kesehatan yang sangat krusial.
Cara Mendeteksi Diabetes Sejak Dini
Setelah menyimak penjelasan di atas, Anda tentu setuju bahwa siapa saja berisiko mengalami diabetes dan sangat penting untuk mendeteksi keberadaan diabetes sedini mungkin sehingga Anda dapat melakukan upaya perawatan yang tepat.
Nah, kunci utama dalam melawan diabetes adalah dengan tidak membiarkannya bersembunyi. Karena gejala awal diabetes tipe 2 sering kali tidak terasa, pemeriksaan laboratorium adalah cara paling akurat untuk mengetahui kondisi metabolisme gula darah Sobat.
Berikut adalah beberapa metode medis yang umum digunakan untuk mendeteksi diabetes sejak dini:
Pemeriksaan gula darah puasa
Tes ini mengharuskan Sobat untuk berpuasa (tidak makan dan minum kecuali air putih) selama minimal 8 hingga 10 jam sebelum pengambilan sampel darah. Pemeriksaan ini sangat efektif untuk mengukur seberapa baik tubuh Sobat mengelola kadar gula dalam keadaan dasar tanpa pengaruh makanan terbaru. Hasil yang menunjukkan angka di atas batas normal menjadi sinyal awal adanya gangguan pada fungsi insulin atau potensi prediabetes.
Tes gula darah sewaktu dan HbA1c
Berbeda dengan tes puasa, Tes Gula Darah Sewaktu (GDS) dapat dilakukan kapan saja tanpa persiapan khusus, yang berguna untuk pengecekan cepat. Namun, untuk gambaran yang lebih akurat, dokter biasanya menyarankan tes HbA1c.
Tes HbA1c mengukur rata-rata kadar gula darah Sobat selama 2 hingga 3 bulan terakhir. Karena tidak dipengaruhi oleh apa yang Sobat makan sesaat sebelum tes, HbA1c menjadi standar emas untuk mendiagnosis diabetes dan memantau keberhasilan pengobatan jangka panjang.
Skrining meski tanpa gejala
Banyak orang merasa sehat-sehat saja sehingga enggan melakukan pemeriksaan, padahal kerusakan pembuluh darah bisa terjadi bahkan pada tahap prediabetes. Skrining rutin sangat disarankan bagi Sobat yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat keluarga, meski belum merasakan keluhan fisik.
Melakukan skrining lebih awal memungkinkan intervensi medis yang lebih ringan, seperti sekadar penyesuaian pola makan, sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi diabetes yang membutuhkan obat-obatan rutin.
Tes & Skrining Diabetes Sejak Dini di Klinik Granostic
Memahami kekhawatiran Sobat akan risiko diabetes, Klinik Granostic menyediakan layanan skrining yang komprehensif dan nyaman. Kami percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan data kesehatan yang akurat untuk masa depan yang lebih sehat.
Di Granostic, Sobat bisa melakukan berbagai rangkaian tes, mulai dari pemeriksaan gula darah dasar hingga tes HbA1c dengan dukungan teknologi laboratorium terkini. Tidak hanya mendapatkan hasil yang presisi, Sobat juga bisa berkonsultasi langsung dengan dokter ahli kami untuk menginterpretasikan hasil tes dan menyusun rencana kesehatan yang personal.
Yuk, lindungi diri dan keluarga Anda dari bahaya diabetes dengan rutin melakukan skrining di klinik Granostic Surabaya!
FAQ Seputar Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2
Agar Sobat Granostic tidak lagi ragu melakukan skrining, berikut jawaban singkat atas pertanyaan yang paling sering diajukan soal diabetes tipe 1 dan tipe 2:
Apakah diabetes tipe 1 bisa dicegah?
Tidak bisa. Hingga saat ini, belum ada cara untuk mencegah diabetes tipe 1 karena penyebabnya adalah reaksi autoimun (sistem imun menyerang diri sendiri) dan faktor genetik. Kondisi ini tidak berkaitan dengan pola makan atau gaya hidup, sehingga deteksi dini dan manajemen insulin adalah kunci utamanya.
Apakah diabetes tipe 2 bisa sembuh?
Tidak bisa sembuh total, namun bisa mencapai fase remisi. Diabetes adalah penyakit kronis, tetapi penderita tipe 2 bisa mengontrol kadar gula darah hingga kembali ke rentang normal tanpa obat melalui perubahan gaya hidup ekstrem (diet ketat dan olahraga). Meski mencapai remisi, kondisi ini tetap harus dipantau karena risiko kenaikan gula darah selalu ada.
Apakah penderita diabetes harus selalu pakai insulin?
Tergantung tipenya. Penderita tipe 1 wajib menggunakan insulin seumur hidup karena tubuh mereka tidak memproduksinya sama sekali. Bagi penderita tipe 2, penggunaan insulin biasanya menjadi pilihan terakhir jika perubahan gaya hidup dan obat-obatan minum sudah tidak lagi efektif menjaga kestabilan gula darah.
Apakah diabetes bisa diturunkan ke anak?
Ya, faktor risiko bisa diturunkan. Seseorang yang memiliki orang tua penderita diabetes memiliki kecenderungan genetik untuk mengalami hal yang sama. Namun, pada tipe 2, risiko ini bisa ditekan secara signifikan jika sang anak menerapkan pola hidup sehat sejak dini untuk mencegah gen tersebut "aktif".
Ditinjau oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Cleveland Clinic. (2024). Type 1 vs. Type 2 Diabetes: What’s the Difference? Diakses 2025.
- Joslin Diabetes Center. (2019). The Difference Between Type 1 and Type 2 Diabetes. Diakses 2025.
- Healthline. (2023). Type 1 vs. Type 2 Diabetes: What’s the Difference? Diakses 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). 82 Juta Warga Ikuti Cek Kesehatan Gratis. Diakses 2025.
- Medical News Today. (2023). Type 1 vs. Type 2 Diabetes: Causes, Symptoms, and Treatment. Diakses 2025.
- Cleveland Clinic. (2024). Diabetes: Symptoms, Causes, Diagnosis & Treatment. Diakses 2025.

