Influenza A dan B: Perbedaan, Gejala, dan Cara Pencegahannya
.jpg)
Selama ini kita sering mengira bahwa influenza hanyalah satu jenis kondisi medis, padahal influenza juga memiliki tipe A dan B. Namun tahukah Sobat Granostic apa yang membedakan influenza A dan B?
Influenza, atau lebih diketahui sebagai flu, merupakan infeksi saluran pernapasan yang kerap terjadi di musim gugur dan dingin. Virus ini dapat menular melalui droplet saliva saat penderitanya bersin-bersin atau batuk.
Namun yang tak banyak diketahui, influenza terdiri dari beberapa tipe, yang juga berbeda dengan flu biasa. Influenza dapat memicu kondisi medis yang lebih parah dan kronis, seperti asma, masalah jantung, hingga diabetes. Bahkan dalam beberapa kasus influenza dapat menyebabkan kematian.
Nah, agar Sobat Granostic dapat memeroleh perawatan yang tepat, ada baiknya untuk mengenal tipe influenza A dan B. Mulai dari perbedaan, gejala, hingga cara pencegahannya.
Penasaran? Mari simak penjelasannya di bawah ini, ya!
Influenza dan Bedanya dengan Flu Biasa
Seperti yang telah kita singgung sebelumnya, influenza dan flu biasa merupakan dua kondisi medis yang berbeda. Meskipun keduanya tampak memiliki gejala yang mirip, namun perbedaan antara influenza dan flu biasa dapat ditemukan dari tingkat keparahan gejala serta virus penyebabnya.
Melansir dari Center for Diseases Control and Prevention (CDC) influenza disebabkan oleh infeksi virus influenza saja, sementara flu biasa dapat terjadi akibat infeksi berbagai jenis virus termasuk rhinovirus, parainfluenza, dan coronavirus musiman.
Meski memiliki gejala yang hampir serupa, influenza umumnya memiliki gejala yang lebih parah dibanding flu biasa. Bahkan melansir dari CDC, Ketika flu biasa tidak menyebabkan masalah kesehatan serius, influenza dapat dikaitkan dengan kasus komplikasi yang cukup serius.
Mengenal Jenis Virus Influenza
Berbeda dengan flu biasa, influenza hanya disebabkan oleh virus influenza. Namun, virus influenza ini tidak hanya ada satu jenis saja. Di bawah ini, kita akan menyimak penjelasan lebih detail mengenai jenis virus influenza A dan B:
Virus Influenza A
Virus Influenza A adalah jenis virus flu yang paling dinamis karena mampu menginfeksi manusia serta berbagai jenis hewan, seperti burung dan babi. Hal ini menjadikannya satu-satunya jenis influenza yang memiliki potensi memicu pandemi global. Penularannya terjadi secara cepat melalui droplet di udara atau kontak dengan permukaan yang tercemar kuman.
Karakteristik utama virus ini adalah kemampuannya untuk bermutasi dengan sangat cepat melalui proses antigenic drift dan shift. Mutasi yang konstan ini memungkinkan virus untuk terus "mengecoh" sistem kekebalan tubuh manusia, meskipun seseorang sudah pernah terinfeksi sebelumnya.
Gejala yang ditimbulkan biasanya muncul secara mendadak dan bersifat berat, seperti demam tinggi, nyeri otot hebat, serta kelelahan ekstrem. Pada kelompok berisiko tinggi, infeksi tipe A sering kali memicu komplikasi serius pada saluran pernapasan, seperti pneumonia, yang memerlukan penanganan medis intensif.
Virus Influenza B
Berbeda dengan tipe A, virus Influenza B hampir secara eksklusif hanya menyerang manusia, sehingga tidak memiliki risiko menyebabkan pandemi global. Virus ini terbagi menjadi dua garis keturunan utama, yaitu Victoria dan Yamagata. Meski cakupannya lebih terbatas, tipe B tetap menjadi penyebab utama wabah musiman yang signifikan di berbagai komunitas.
Pola penularannya serupa dengan tipe A, namun struktur genetiknya cenderung lebih stabil dan bermutasi lebih lambat. Meski sering dianggap lebih ringan, virus ini sebenarnya sangat berbahaya bagi anak-anak dan remaja, karena sering memicu gejala sistem pencernaan seperti mual dan diare di samping gejala pernapasan standar.
Gejala klinis Influenza B sering kali sulit dibedakan dari tipe A tanpa uji laboratorium. Meskipun tidak memicu skala darurat global, infeksi tipe B tetap dapat menyebabkan tingkat rawat inap yang tinggi jika tidak diantisipasi dengan vaksinasi rutin, terutama karena kemampuannya menyerang individu dengan sistem imun yang belum sempurna.
Perbedaan Virus Influenza A dan B
Setelah mengetahui penjelasan mengenai apa itu virus influenza A dan B secara umum, mari kita simak apa saja perbedaan kedua virus influenza ini dari tiga aspek utama, mulai dari potensi wabah hingga pengaruhnya terhadap pengembangan vaksin.
Perbedaan dari sisi mutasi dan potensi wabah
Perbedaan paling mendasar terletak pada kecepatan mutasi dan jangkauan infeksinya. Virus Influenza A memiliki laju mutasi yang sangat progresif dan mampu melakukan pertukaran materi genetik antarspesies (hewan ke manusia), yang dapat menciptakan virus baru yang sama sekali asing bagi imun manusia. Sifat inilah yang membuat tipe A memiliki potensi besar untuk menyebabkan pandemi global yang melintasi batas-batas negara dalam waktu singkat.
Di sisi lain, virus Influenza B bermutasi jauh lebih lambat, sekitar dua hingga tiga kali lebih lambat daripada tipe A. Karena hanya menginfeksi manusia, peluang terjadinya rekombinasi genetik yang drastis sangat kecil. Oleh sebab itu, meskipun tipe B dapat menyebabkan epidemi atau wabah lokal yang parah selama musim flu, ia tidak memiliki kapasitas genetik untuk memicu krisis kesehatan global dalam skala pandemi seperti yang dimiliki oleh Influenza A.
Perbedaan pola penyebaran dan musim puncak
Secara epidemiologi, virus Influenza A sering kali mendominasi pada awal musim flu dan cenderung menjadi penyebab utama sebagian besar kasus rawat inap dan kematian terkait flu di seluruh dunia.
Penyebarannya sangat dipengaruhi oleh mobilitas manusia dan interaksi dengan lingkungan. Di daerah beriklim sedang, puncak infeksi tipe A biasanya terjadi pada musim dingin, sementara di wilayah tropis seperti Indonesia, kasusnya cenderung muncul sepanjang tahun dengan fluktuasi tertentu.
Sementara itu, virus Influenza B sering kali muncul belakangan atau menjelang akhir musim flu. Menariknya, pola penyebaran tipe B terkadang lebih berdampak secara tidak proporsional pada kelompok usia muda.
Data medis menunjukkan bahwa pada musim-musim tertentu, virus Influenza B dapat menjadi penyebab utama infeksi pada anak usia sekolah. Meskipun puncak musimnya mungkin berbeda, kedua virus ini sering kali bersirkulasi secara bersamaan di dalam masyarakat.
Perbedaan tingkat variasi strain dan implikasinya ke vaksin
Karena Influenza A memiliki subtipe yang sangat beragam dan terus berubah, tantangan utama dalam pembuatan vaksin adalah memprediksi strain mana yang akan dominan setiap tahunnya.
Ilmuwan harus memantau pergerakan subtipe seperti H1N1 dan H3N2 secara global untuk memastikan komponen vaksin tetap relevan. Ketidakcocokan strain dalam vaksin biasanya lebih sering terjadi pada tipe A karena kecepatannya dalam mengubah "wajah" protein permukaannya.
Pada Influenza B, karena variasi strainnya lebih terbatas hanya pada garis keturunan Victoria dan Yamagata, pengembangan vaksin cenderung lebih fokus pada cakupan perlindungan terhadap kedua garis keturunan tersebut.
Inilah alasan mengapa saat ini lebih disarankan menggunakan vaksin kuadrivalen, yang mengandung empat komponen (dua strain tipe A dan dua strain tipe B), untuk memberikan perlindungan menyeluruh. Dengan adanya stabilitas relatif pada tipe B, vaksinasi rutin terbukti sangat efektif dalam menurunkan angka mortalitas akibat garis keturunan virus tersebut.
Gejala Influenza Secara Umum
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa secara umum, gejala influenza muncul jauh lebih mendadak dan intens jika dibandingkan dengan batuk pilek biasa (common cold). Masa inkubasi virus ini tergolong singkat, di mana penderita biasanya mulai merasakan keluhan kesehatan hanya dalam waktu 1 hingga 4 hari setelah terpapar.
Meskipun setiap individu dapat menunjukkan reaksi yang berbeda, terdapat pola gejala sistemik yang konsisten seperti demam yang muncul tiba-tiba disertai kelemahan fisik yang nyata, sehingga sering kali mengganggu aktivitas harian secara total.
Berikut ini gejala khas influenza A dan B yang bisa Anda simak untuk mengenali perbedaannya:
Gejala Khas Influenza A
Influenza tipe A dikenal karena serangannya yang agresif dan bersifat sistemik (memengaruhi seluruh tubuh). Gejala ini sering kali menjadi tanda bahwa sistem imun sedang bereaksi kuat terhadap mutasi virus yang cukup aktif. Berikut adalah beberapa gejala utama yang sering dilaporkan pada kasus infeksi Influenza A:
-
Demam Tinggi dan Menggigil: Suhu tubuh biasanya meningkat drastis di atas 38°C yang muncul secara tiba-tiba.
-
Nyeri Otot dan Sendi (Mialgia): Rasa pegal dan nyeri yang hebat di seluruh tubuh, terutama pada bagian punggung dan kaki.
-
Sakit Kepala Berat: Nyeri kepala yang terasa berdenyut dan sering kali disertai rasa sakit di belakang mata.
-
Kelelahan Ekstrem (Fatigue): Rasa lemas yang luar biasa yang bisa bertahan hingga beberapa minggu setelah gejala lainnya mereda.
-
Gejala Pernapasan: Batuk kering yang persisten, sakit tenggorokan, dan terkadang disertai sesak napas jika mulai terjadi komplikasi paru.
Gejala Khas Influenza B
Meskipun gejalanya tumpang tindih dengan tipe A, Influenza tipe B memiliki karakteristik tertentu, terutama pada pola infeksinya yang sering menyerang populasi anak-anak. Salah satu ciri pembedanya adalah kecenderungan munculnya keluhan pada sistem pencernaan yang lebih menonjol. Gejala umum yang dirasakan meliputi:
-
Gangguan Pencernaan: Sering disertai dengan mual, muntah, serta diare (gejala ini jauh lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan dewasa).
-
Hidung Tersumbat dan Pilek: Meskipun tipe A juga menyebabkan pilek, gejala hidung berair biasanya terasa lebih dominan pada infeksi tipe B.
-
Sakit Tenggorokan yang Intens: Rasa perih atau mengganjal saat menelan yang sering kali disertai suara serak.
-
Batuk Berdahak atau Kering: Gangguan pernapasan yang bisa memicu rasa tidak nyaman pada dada.
-
Nafsu Makan Menurun: Akibat rasa mual dan hilangnya indra perasa atau penciuman sementara selama masa infeksi.
Cara Pencegahan Influenza A dan B
Meskipun cukup mudah ditularkan, bukan berarti influenza sama sekali tidak bisa dicegah. Sobat Granostic dapat menerapkan beberapa cara pencegahan influenza A dan B berikut ini:
Pencegahan dengan vaksin influenza
Salah satu upaya pencegahan influenza A dan B yang paling ampuh adalah melalui vaksinasi influenza. Melalui vaksinasi tubuh dapat membangun antibodi agar lebih siap dalam melawan virus influenza. Meskipun tidak menjamin seseorang 100% kebal dari infeksi influenza, vaksinasi dapat membantu meringankan gejala saat terjangkit dan mencegah pengembangan risiko komplikasi serius seperti pneumonia, rawat inap, bahkan kematian.
Kabar baiknya, Sobat dapat melakukan vaksinasi influenza (khususnya A dan B) di klinik Granostic Surabaya. Proses vaksinasi dilakukan oleh tenaga medis ahli dan dokter berpengalaman, menawarkan harga kompetitif dan transparan, serta prosedur medis yang ketat dan aman.
Pencegahan lewat gaya hidup dan kebiasaan harian
Selain melalui vaksinasi, Anda dapat melindungi diri dan keluarga dari infeksi influenza dengan menerapkan gaya hidup sehat dan kebiasaan harian yang baik. Melansir dari CDC Anda bisa menerapkan beberapa langkah pencegahan penularan influenza berikut ini:
-
Kurangi kontak langsung dan dekat dengan penderita influenza, atau jika Anda sakit terapkan physical distance untuk mencegah penularan ke orang lain.
-
Tutup mulut dan hidung Anda ketika di tempat umum, karena virus influenza virus dapat menular lewat droplet saliva di Udara yang keluar saat penderitanya bersin atau batuk.
-
Cuci tangan setiap sebelum makan atau habis keluar rumah, yang membantu melindungi Anda dari berbagai virus dan bakteri yang tak terlihat. Anda juga bisa menggunakan hand sanitizer dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk cuci tangan.
-
Hindari menyentuh mata, hidung atau mulut Anda.
-
Bersihkan udara ruangan, misalnya dengan menambahkan ventilasi yang baik, membersihkan AC Anda secara teratur, dan sebagainya.
Terapkan kebiasaan yang bersih dan gaya hidup sehat.
Kelompok Berisiko Tinggi Influenza A dan B
1. Anak kecil dan lansia
Anak-anak, terutama yang berusia di bawah 5 tahun, memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan, sehingga lebih sulit melawan invasi virus influenza yang agresif.
Di sisi lain, kelompok lansia (usia 65 tahun ke atas) mengalami penurunan fungsi imun secara alami atau immunosenescence, yang disertai dengan penurunan cadangan fungsional organ tubuh. Hal ini menyebabkan kedua kelompok usia ini sangat rentan mengalami komplikasi paru-paru seperti pneumonia serta dehidrasi berat akibat infeksi virus flu.
2. Ibu hamil dan pasca melahirkan
Selama masa kehamilan, terjadi perubahan besar pada sistem imun, fungsi jantung, dan kapasitas paru-paru untuk mendukung perkembangan janin. Perubahan fisiologis ini membuat ibu hamil lebih berisiko mengalami gejala influenza yang berat dibandingkan wanita yang tidak hamil.
Risiko ini tidak langsung hilang setelah persalinan; pada masa nifas atau pasca melahirkan, tubuh masih dalam proses pemulihan sehingga perlindungan terhadap infeksi virus tetap harus menjadi prioritas utama guna menghindari risiko peradangan paru.
3. Orang dengan penyakit kronis
Individu yang memiliki riwayat penyakit jangka panjang, seperti asma, penyakit jantung, diabetes, atau gangguan ginjal, berada pada garis merah risiko influenza. Virus flu dapat memperburuk kondisi penyakit penyerta tersebut.
Misalnya, pada penderita asma, influenza dapat memicu serangan sesak napas yang fatal, sementara pada penderita diabetes, infeksi ini dapat mengganggu kontrol gula darah. Ketidakmampuan tubuh untuk menjaga stabilitas organ saat diserang virus menjadikan vaksinasi sebagai pelindung krusial bagi kelompok ini.
4. Imunitas rendah dan pasien dengan terapi tertentu
Kelompok ini mencakup individu yang sistem pertahanannya melemah akibat kondisi medis seperti HIV/AIDS atau penderita kanker. Selain itu, pasien yang sedang menjalani terapi jangka panjang seperti kemoterapi atau penggunaan obat-obatan steroid juga memiliki respon imun yang tumpul.
Tanpa sistem imun yang bekerja optimal, virus influenza dapat bereplikasi dengan sangat cepat di dalam tubuh, yang sering kali berujung pada infeksi sistemik yang sulit dikendalikan hanya dengan obat-obatan standar.
5. Tenaga kesehatan dan orang dengan paparan tinggi
Tenaga medis dan staf rumah sakit berada di garis depan yang setiap hari berinteraksi langsung dengan pasien terinfeksi, sehingga frekuensi paparan virus mereka jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.
Selain risiko bagi diri sendiri, mereka juga berpotensi menjadi pembawa virus (carrier) bagi pasien rentan lainnya. Selain tenaga medis, orang yang bekerja di lingkungan padat atau sering bepergian dengan transportasi umum juga termasuk dalam kategori risiko paparan tinggi yang memerlukan proteksi tambahan melalui vaksinasi rutin.
Lindungi Diri dari Influenza A dan B dengan Vaksin di Granostic Surabaya
Selain kelima kategori orang dengan risiko tinggi terinfeksi influenza di atas, pada dasarnya virus influenza dapat menyerang siapa saja. Namun bagi kategori rentan tersebut, influenza dapat memicu gejala yang lebih berat, bahkan cukup fatal. Karenanya, sangat penting untuk melindungi diri dan keluarga dari influenza dengan vaksinasi.
Menyadari urgensi ini, Klinik Granostic Surabaya menawarkan layanan vaksin influenza yang aman dan lengkap, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa serta lansia. Vaksinasi influenza di Granostic Surabaya juga dilakukan oleh profesional, melalui prosedur yang ketat dan nyaman, serta didukung layanan yang ramah dan modern.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut soal harga, prosedur, dan cara booking layanan konsultasi serta vaksinasi influenza di Granostic Surabaya, Anda dapat langsung menghubungi layanan customer service kami, ya. Tinggal klik tombol WhatsApp di bawah ini!
FAQ Seputar Influenza A dan B
Berikut ini beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan seputar influenza dan B:
Apakah influenza A lebih berbahaya dari B?
Dari riwayat sejarahnya, Influenza A sering dianggap lebih berbahaya karena kemampuannya memicu pandemi global dan menyebabkan gejala yang lebih akut pada orang dewasa. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Influenza B tidak bisa diremehkan.
Virus influenza B dapat menyebabkan keparahan penyakit yang setara dengan tipe A, terutama pada anak-anak dan remaja. Tingkat bahaya kedua virus ini sebenarnya sangat bergantung pada kondisi kesehatan penderita, usia, dan status vaksinasi mereka, sehingga keduanya memerlukan perhatian medis yang sama seriusnya.
Apakah gejalanya bisa dibedakan tanpa tes?
Secara klinis, hampir mustahil untuk membedakan infeksi Influenza A dan B hanya dengan melihat gejala fisik saja karena keduanya memiliki manifestasi yang sangat mirip, seperti demam, batuk, dan nyeri otot.
Meskipun Influenza B terkadang lebih menonjol dengan gejala pencernaan pada anak, satu-satunya cara akurat untuk memastikan jenis virus yang menyerang adalah melalui pemeriksaan laboratorium, seperti tes Rapid Antigen atau PCR Swab influenza. Identifikasi yang tepat sangat penting agar dokter dapat memberikan terapi antivirus yang sesuai.
Berapa lama influenza menular?
Seseorang yang terinfeksi influenza umumnya dapat menularkan virus satu hari sebelum gejala muncul hingga sekitar 5 sampai 7 hari setelah jatuh sakit. Namun, periode penularan ini bisa berlangsung lebih lama pada anak-anak atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Virus menyebar sangat mudah melalui udara saat penderita bersin atau berbicara, sehingga isolasi mandiri dan penggunaan masker sangat disarankan selama fase akut guna mencegah penyebaran di lingkungan keluarga maupun tempat kerja.
Apakah antibiotik diperlukan untuk influenza?
Penting untuk dipahami bahwa influenza disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik tidak efektif untuk mengobatinya karena antibiotik hanya diperuntukkan bagi infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru berisiko menyebabkan resistensi bakteri di masa depan.
Pengobatan influenza biasanya berfokus pada antivirus (seperti Oseltamivir) yang diresepkan dokter untuk menghambat replikasi virus, serta obat pendukung lainnya untuk meredakan gejala seperti penurun panas dan pereda nyeri.
Kapan sebaiknya harus ke dokter?
Anda harus segera mencari bantuan medis jika mengalami tanda-tanda bahaya seperti kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri dada yang menetap, pusing mendadak, serta gejala yang tidak kunjung membaik setelah 5 hari atau justru memburuk setelah sempat mereda.
Bagi kelompok risiko tinggi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis segera setelah gejala pertama muncul agar bisa mendapatkan penanganan dini yang tepat dan mencegah risiko rawat inap.
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Cleveland Clinic. (2024). Flu A vs. Flu B: What’s the Difference? Diakses 2025.
- Medical News Today. (2023). Flu A vs. Flu B: What are the differences? Diakses 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Cold vs. Flu. Diakses 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Actions to Prevent the Flu. Diakses 2025.

