Herpes Zoster: Penyebab, Gejala, Pencegahan Vaksin Shingrix
.jpg)
Pernahkah Anda merasakan ruam kulit yang menyakitkan dan muncul tiba-tiba di satu sisi tubuh? Bisa jadi itu bukan sekadar alergi atau iritasi biasa, melainkan tanda dari Herpes Zoster, atau yang lebih dikenal sebagai cacar ular.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang pernah terkena cacar air. Kabar baiknya, kini sudah ada vaksin Shingrix yang efektif mencegah kekambuhan dan memperkecil risiko komplikasi. Sebelum terlambat, yuk kenali lebih dalam penyebab, gejala, dan cara pencegahannya.
Apa Itu Herpes Zoster?
Herpes zoster, atau sering disebut cacar ular, adalah infeksi virus yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster, penyebab cacar air. Biasanya tubuh yang sudah pernah terkena virus cacar air dan sembuh, virusnya tetap ada di dalam sistem saraf namun “tertidur”. Dalam kondisi tertentu, seperti saat imunitas menurun, virus ini bisa kembali aktif setelah bertahun-tahun. Herpes zoster lebih sering terjadi pada orang lanjut usia atau mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Gejala Herpes Zoster
Gejala penyakit ini umumnya diawali dengan rasa nyeri, terbakar, maupun kesemutan hanya pada satu titik area tubuh sebelum timbul ruam.Dalam beberapa hari, muncul ruam merah yang kemudian berubah menjadi lepuhan berisi cairan. Gejala ini bisa disertai demam ringan, kelelahan, dan sensitivitas terhadap cahaya.
Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, herpes zoster berisiko menyebabkan berbagai komplikasi yang mengganggu. Untuk itu, penting mengenali gejalanya sejak awal. Berikut beberapa tanda yang patut diwaspadai:
1. Munculnya Ruam dan Lepuh di Satu Sisi Tubuh
Ciri utama dari herpes zoster yaitu munculnya ruam yang terbatas di satu sisi tubuh, terlihat seolah mengikuti jalur saraf tertentu. Ruam ini umumnya muncul di area dada, punggung, atau wajah, tergantung lokasi virus aktif kembali. Pola searah ini menjadi pembeda utama dari ruam akibat kondisi lain. Lokasinya yang spesifik sering kali membuatnya mudah dikenali oleh tenaga medis.
Ruam ini terasa gatal dan menyakitkan, dan bisa sangat mengganggu aktivitas harian. Dalam beberapa kasus, ruam dapat menyebar ke area yang lebih luas jika tidak diobati.
2. Nyeri atau Sensasi Terbakar Sebelum Ruam
Salah satu tanda awal herpes zoster adalah munculnya nyeri hebat atau rasa terbakar sebelum ruam terlihat. Nyeri ini sering disalahartikan sebagai gejala kondisi lain seperti serangan jantung atau masalah pencernaan. Sensasi ini muncul karena virus menyerang jaringan saraf. Deteksi dini sangat penting agar pengobatan antivirus bisa segera diberikan.
3. Jaringan Kulit di Sekitar Ruam Membengkak
Kulit di sekitar ruam herpes zoster biasanya akan tampak merah dan membengkak. Sistem imun pada virus yang aktif yang menyebabkan peradangan terjadi.Pembengkakan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, terutama saat disentuh atau bergesekan dengan pakaian. Penggunaan salep atau obat anti-inflamasi dapat membantu meredakan gejala ini.
4. Ruam Berkembang Menjadi Luka Lepuh
Seiring waktu, ruam akan berkembang menjadi luka lepuh berisi cairan yang mudah pecah. Lepuh ini sangat menular hingga mengering dan membentuk keropeng. Biasanya hal ini berlangsung kurang lebih satu minggu sampai 10 hari tergantung daya tahan tubuh penderita. Penting untuk menjaga kebersihan kulit agar tidak terjadi infeksi sekunder.
Itu disebut dengan gejala sistemik yang biasa muncul secara bersamaan dengan ruam atau bisa juga sebelumnya. Tidak semua penderita mengalami gejala yang sama, tergantung kondisi fisik dan tingkat keparahan infeksi. Disarankan untuk membawa ke dokter jika gejala sudah lama muncul dan tidak hilang. Penanganan yang cepat akan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Selain gejala sistemik ada yang perlu diwaspadai seperti:
Gejala lain:
- Demam
- Menggigil
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Sensitif terhadap cahaya
- Sakit perut
Herpes zoster yang menyerang area mata disebut herpes zoster oftalmikus. Kondisi ini bisa berisiko menyebabkan gangguan penglihatan permanen jika tidak segera diobati. Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata sangat dianjurkan. Penggunaan antivirus dan tetes mata akan membantu mengendalikan infeksi.
Gejala di area mata:
- Mata terasa terbakar dan nyeri berdenyut
- Mata merah dan meradang
- Kelopak mata membengkak
- Penglihatan kabur
Penyebab Herpes Zoster
Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella-zoster yang kembali aktif setelah bertahun-tahun tidak menimbulkan gejala. Aktivasi kembali virus ini biasanya dipicu oleh penurunan imunitas tubuh. Penyakit ini tidak bisa ditularkan dari orang lain yang sedang terkena, tetapi bisa menular sebagai cacar air ke orang yang belum pernah mengalaminya. Oleh karena itu, penting menjaga daya tahan tubuh dan kebersihan pribadi.
Penuaan
Penuaan adalah faktor risiko utama herpes zoster karena menurunnya fungsi sistem kekebalan tubuh secara alami. Orang berusia di atas 50 tahun lebih rentan terkena reaktivasi virus ini. Oleh karena itu, kelompok usia ini sangat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi. Gaya hidup sehat juga membantu memperkuat sistem imun.
Sistem Imun yang Lemah
Individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, seperti penderita HIV, kanker, atau yang sedang menjalani kemoterapi, berisiko tinggi mengalami herpes zoster. Penggunaan obat imunosupresif juga dapat meningkatkan risiko. Sistem imun yang melemah membuat tubuh kesulitan menahan virus yang kembali aktif. Pencegahan dengan vaksin sangat direkomendasikan pada kelompok ini.
Stres
Stres emosional atau fisik yang berkepanjangan dapat memicu reaktivasi virus varicella-zoster. Stres mengganggu keseimbangan hormonal dan menurunkan daya tahan tubuh. Banyak kasus herpes zoster terjadi setelah seseorang mengalami tekanan mental berat. Mengelola stres adalah bagian penting dari pencegahan penyakit ini.
Komplikasi Herpes Zoster yang Perlu Diwaspadai
Jika tidak segera ditangani, herpes zoster bisa menimbulkan berbagai komplikasi serius. Komplikasi yang paling umum adalah nyeri saraf jangka panjang atau neuralgia pasca-herpes. Infeksi juga bisa menyebar ke mata atau menyebabkan infeksi kulit berat. Deteksi dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang.
1. Terjadinya Infeksi Kulit
Lepuh yang terbuka dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri, menyebabkan infeksi sekunder. Kulit yang terinfeksi tampak merah, bernanah, dan terasa lebih nyeri. Infeksi ini bisa memerlukan pengobatan antibiotik. Menjaga kebersihan kulit dan tidak menggaruk ruam sangat dianjurkan.
2. Neuralgia Pasca Herpes (PHN)
PHN adalah kondisi nyeri saraf kronis yang terjadi setelah ruam herpes zoster menghilang. Rasa nyeri dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. PHN lebih sering terjadi pada pasien lanjut usia. Pengobatan dengan antidepresan, obat anti nyeri saraf, atau terapi saraf diperlukan untuk meredakan gejalanya.
3. Masalah Penglihatan
Jika herpes zoster menyerang mata, bisa terjadi peradangan serius pada kornea dan retina. Hal ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan sementara atau permanen. Komplikasi ini membutuhkan penanganan segera oleh dokter mata. Vaksinasi dan deteksi dini adalah langkah penting untuk mencegah kondisi ini.
Vaksin Shingrix untuk Mencegah Herpes Zoster
Apa Itu Vaksin Shingrix?
Shingrix adalah vaksin non-live rekombinan yang dirancang untuk mencegah herpes zoster dan komplikasinya. Vaksin ini diberikan dalam dua dosis dengan jarak 2 hingga 6 bulan. Shingrix terbukti memiliki efektivitas tinggi, bahkan pada orang usia lanjut. Vaksin ini menggantikan vaksin zoster lama yang berbasis virus hidup.
Tujuan dan Manfaat Vaksin Shingrix
Vaksin Shingrix bertujuan melindungi tubuh dari infeksi herpes zoster dan neuralgia pasca-herpes. Efektivitasnya mencapai lebih dari 90% pada orang dewasa berusia 50 tahun ke atas. Vaksin ini juga memberikan perlindungan jangka panjang selama lebih dari lima tahun. Dengan vaksinasi, risiko komplikasi berat dapat ditekan secara signifikan.
Kapan Harus Melakukan Vaksin Shingrix?
Vaksinasi Shingrix direkomendasikan untuk orang berusia 50 tahun ke atas, meski tidak memiliki riwayat cacar air. Orang dewasa dengan sistem imun lemah juga disarankan mendapat vaksin ini. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan waktu vaksinasi yang tepat. Vaksin dapat diberikan meski pasien pernah mengalami herpes zoster sebelumnya.
Siapa yang Tidak Dianjurkan Vaksin Shingrix?
Vaksin Shingrix tidak dianjurkan untuk individu yang sedang mengalami infeksi akut berat atau demam tinggi. Orang yang memiliki alergi berat terhadap komponen vaksin juga sebaiknya menghindarinya. Wanita hamil disarankan menunda vaksinasi hingga setelah melahirkan. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda sebelum menerima vaksin.
Pengobatan Herpes Zoster
Pengobatan utama herpes zoster adalah dengan obat antivirus seperti acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir. Obat ini paling efektif jika diberikan dalam 72 jam sejak gejala muncul. Selain itu, obat pereda nyeri, antihistamin, dan krim topikal bisa membantu meredakan gejala. Penanganan yang cepat dapat mempercepat penyembuhan dan mengurangi risiko komplikasi.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Mengalami Gejala Awal Seperti Nyeri dan Ruam
Segera periksakan diri ke dokter jika Anda merasakan nyeri tajam atau sensasi terbakar disertai ruam. Diagnosis dan pengobatan dini akan mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi. Jangan tunggu sampai ruam menyebar atau lepuh pecah. Deteksi awal sangat penting, terutama bagi lansia.
Jika Ingin Memastikan Apakah Anda Perlu Vaksinasi
Jika Anda berusia 50 tahun ke atas atau memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi ke dokter untuk mempertimbangkan vaksinasi Shingrix. Pemeriksaan awal akan membantu menentukan apakah Anda termasuk kelompok risiko tinggi. Vaksinasi dapat melindungi Anda dari nyeri berkepanjangan dan gangguan serius akibat herpes zoster. Langkah pencegahan ini sangat direkomendasikan sebagai bagian dari perawatan kesehatan jangka panjang.
Jika Anda mengalami gejala herpes zoster atau ingin mendapatkan vaksin Shingrix sebagai langkah pencegahan, segera konsultasikan kondisi Anda dengan tenaga medis yang terpercaya. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti nyeri saraf berkepanjangan atau gangguan penglihatan.
Mari periksakan diri Anda pada Granostic Medical Center. Hubungi tim kami untuk informasi lebih lanjut serta untuk melakukan pemesanan jadwal konsultasi melalui telepon di (021) 5994080 atau WhatsApp di 0822-3090-0900.
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025). About Shingles (Herpes Zoster). Diakses 2025.
- National Center for Biotechnology Information (NCBI). (2025). Varicella Zoster Virus. In StatPearls. Diakses 2025.
- World Health Organization (WHO). (2025). Shingles (Herpes‑Zoster). Diakses 2025.

