Tes Penyakit Menular Seksual di Surabaya

Melakukan tes atau skrining penyakit menular seksual sangatlah penting dilakukan, apalagi jika Sobat termasuk aktif secara seksual. Namun dimanakah tempat tes penyakit menular seksual di Surabaya?
Penyakit menular seksual (PMS) merupakan kondisi yang sangat umum terjadi. Seperti namanya, PMS merupakan kategori penyakit yang metode penularannya melalui hubungan seksual. Contohnya HIV/AIDS, kondiloma akuminata akibat infeksi HPV, dan banyak lainnya.
Kita tidak bisa mengasumsikan diri sendiri tidak terinfeksi hanya karena tidak bergejala. Banyak jenis PMS yang bersifat asimtomatik, sehingga sangat mungkin kita tertular dan mengembangkan PMS tanpa mengetahuinya sama sekali.
Selain itu ada banyak alasan lain mengapa tes penyakit menular seksual ini perlu kita lakukan secara berkala. Berikut penjelasan lengkapnya, Sobat!
Mengenal Pentingnya Melakukan Tes Penyakit Menular Seksual
Ada banyak alasan mengapa melakukan tes penyakit menular seksual secara teratur sangat penting dilakukan, misalnya:Deteksi Dini
Melansir dari website Very Well Health, banyak penderita PMS tidak memeriksakan dirinya atau terlambat didiagnosa karena mereka tidak mengalami gejala signifikan. Ini karena PMS juga tidak selalu bergejala, sebagai contoh lebih dari 70% perempuan dengan klamidia tidak menunjukkan gejala spesifik.Karena itu dengan melakukan pemeriksaan secara rutin kita dapat mendeteksi dini adanya PMS. Sehingga kita dapat memeroleh perawatan yang tepat sesegera mungkin, yang penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius dan menimbulkan komplikasi.
Pencegahan Penularan
Melakukan tes PMS juga dapat berperan besar dalam pencegahan penularan. Apalagi kalau Anda suka bergonta-ganti pasangan, yang membuat Anda semakin rentan untuk terinfeksi dan menyebarkan infeksi pada orang lain.Perencanaan Kesehatan
Pemeriksaan PMS juga dapat membantu merancang perencanaan kesehatan yang tepat sesuai gaya hidup, kebutuhan, dan kondisi tubuh Anda. Apalagi prosedur pemeriksaan PMS meliputi konsultasi, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium yang dapat memberikan hasil menyeluruh.Bersama dokter, Anda dapat merancang perencanaan kesehatan yang dipersonalisasikan sesuai dengan kondisi tubuh Anda.
Kapan Harus Melakukan Tes PMS?
Sebagian besar orang memeriksakan diri mereka ketika mendapati adanya gejala tak biasa pada tubuh mereka. Namun, pada penderita PMS langkah ini kurang tepat, karena banyak jenis PMS yang bersifat asimtomatik. Dalam kondisi ini, seseorang bisa tanpa sadar menularkan infeksi ke pasangannya.Oleh karena itu, penting bagi Anda, Sobat Granostic, untuk mengetahui kapan sebaiknya melakukan tes PMS, meskipun tidak merasakan gejala apa pun. Berikut beberapa kondisi yang sangat direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan PMS:
1. Aktif secara seksual, terutama dengan pasangan baru atau berganti-ganti pasangan
Jika Anda aktif secara seksual, terutama dengan pasangan baru atau memiliki lebih dari satu pasangan seksual, risiko tertular PMS akan meningkat secara signifikan. Ini karena Anda bisa saja terpapar virus atau bakteri dari seseorang yang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi, mengingat banyak PMS seperti klamidia, gonore, dan herpes bisa menular tanpa gejala.Tes PMS secara berkala dapat menjadi bentuk perlindungan, bukan hanya untuk diri Anda, tetapi juga untuk pasangan Anda. Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini, Anda bisa mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas dan memulai pengobatan lebih awal jika dibutuhkan.
2. Mengalami gejala seperti luka, gatal, atau nyeri di area genital
Gejala seperti luka terbuka, lepuhan, rasa gatal intens, nyeri saat buang air kecil, atau keluarnya cairan tidak normal dari area genital adalah tanda-tanda khas dari beberapa PMS, termasuk herpes, gonore, dan trikomoniasis. Jika Anda mengalami salah satu dari keluhan tersebut, tes PMS sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.Menunda pemeriksaan hanya akan memperbesar risiko komplikasi, termasuk penularan ke pasangan atau perkembangan infeksi ke tahap yang lebih serius. Dengan melakukan tes, Anda bisa memastikan penyebab keluhan tersebut dan mendapat penanganan medis yang sesuai.
3. Memiliki riwayat PMS atau pasangan yang terinfeksi
Jika Anda pernah didiagnosis mengidap PMS, atau memiliki pasangan yang diketahui terinfeksi, maka Anda sangat disarankan untuk rutin melakukan tes PMS lanjutan. Beberapa jenis PMS bisa kambuh kembali (seperti herpes), atau bahkan berisiko menular ulang jika pasangan belum sembuh sepenuhnya.Selain itu, PMS seperti sifilis, HIV, dan hepatitis B atau C bisa berdampak jangka panjang jika tidak ditangani dengan baik. Melakukan tes secara berkala dapat membantu Anda memantau kondisi kesehatan dan mencegah kemungkinan infeksi ulang atau penularan.
4. Ingin merencanakan kehamilan atau sedang hamil
Pemeriksaan PMS menjadi sangat penting bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan atau dalam masa kehamilan. Beberapa jenis PMS dapat membahayakan janin, termasuk herpes, sifilis, HIV, dan klamidia, yang bisa menular dari ibu ke bayi selama kehamilan atau persalinan.Tes PMS sebelum atau selama kehamilan memungkinkan dokter mendeteksi dan menangani infeksi lebih awal, sehingga risiko komplikasi pada kehamilan dan janin bisa ditekan. Selain itu, ini juga menjadi bentuk tanggung jawab kesehatan bersama bagi pasangan yang ingin membangun keluarga yang sehat.
Apakah Herpes Termasuk Penyakit Menular Seksual?
Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu Sobat ketahui bahwa ada banyak jenis virus herpes yang berbeda-beda dan tak semuanya ditularkan melalui hubungan seksual. Tiga jenis herpes yang sangat umum ditemukan dalam masyarakat antara lain:- Herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1), sering menyebabkan timbulnya luka lepuhan di sekitar mulut (herpes oral).
- Herpes simplex virus tipe 2 (HSV-2), jenis herpes yang menyebabkan timbulnya luka lepuh di area genital seperti pada penis, vulva, anus, atau selangkangan.
- Herpes zoster, terjadi karena infeksi virus varicella-zoster, yang juga menjadi penyebab timbulnya penyakit cacar air pada seseorang.
HSV-1 dan HSV-2 sangat mudah menular dan tergolong dalam penyakit menular seksual (PMS), karena dapat disebarkan melalui hubungan seks oral maupun vaginal. Sementara itu, herpes zoster tak bisa dikatakan “menular” begitu saja, karena yang disebarkan bukanlah penyakitnya melainkan transmisi virusnya.
Virus herpes zoster ini dapat disebarkan pada orang lain melalui kontak langsung dengan cairan dari lepuhan luka cacar air. Karenanya, berhubungan intim dengan penderita herpes zoster juga bisa meningkatkan kemungkinan terpapar virus varicella-zoster, karena sentuhan kulit ke luka lepuhan. Virus ini kemudian dapat menjadi reaktif dan menimbulkan gejala cacar air, khususnya jika orang yang tertular tersebut belum pernah mengalami cacar air sebelumnya.
Nah, untuk mendeteksi dini infeksi herpes dan mencegah penyebaran virus pada orang terdekat, ada beberapa tes medis yang bisa Anda pertimbangkan untuk dilakukan.
Tes Antibodi (IgG dan IgM):
Tes antibodi bertujuan untuk mendeteksi respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi herpes. Antibodi IgM biasanya muncul lebih awal saat infeksi baru terjadi, sementara IgG muncul beberapa minggu setelah infeksi dan bisa bertahan seumur hidup. Melalui pemeriksaan ini, dokter bisa menentukan apakah infeksi herpes yang dialami pasien bersifat baru atau sudah lama.Pemeriksaan antibodi dilakukan melalui sampel darah, dan hasilnya cukup informatif meskipun tidak bisa menentukan lokasi pasti dari infeksi (apakah di mulut atau genital). Tes ini sangat berguna bagi orang yang tidak memiliki gejala tetapi ingin tahu apakah mereka pernah terpapar virus herpes.
Tes PCR (Polymerase Chain Reaction):
Tes PCR bekerja dengan mendeteksi materi genetik (DNA) dari virus herpes secara langsung, sehingga memiliki akurasi tinggi bahkan saat virus hanya sedikit jumlahnya. Tes ini sangat berguna dalam mendiagnosis infeksi aktif, terutama jika luka herpes sedang muncul dan dokter mengambil sampel dari luka tersebut.Selain dari luka, PCR juga bisa dilakukan dari sampel darah, cairan tubuh, atau cairan tulang belakang dalam kasus tertentu. Tes ini sangat sensitif dan merupakan pilihan utama dalam mendeteksi herpes, terutama jika hasil kultur virus atau antibodi tidak memberikan kepastian.
Kultur Virus:
Kultur virus dilakukan dengan mengambil sampel dari luka aktif dan mencoba menumbuhkan virus di laboratorium. Jika virus tumbuh, maka hasilnya positif. Tes ini biasanya digunakan saat pasien memiliki luka baru yang bisa dijadikan sampel segar, karena virus lebih mudah diidentifikasi pada fase ini.Kultur virus cenderung kurang sensitif dibanding PCR, terutama jika luka sudah mulai sembuh. Namun, jika berhasil, kultur bisa memberikan informasi yang jelas mengenai jenis virus yang menginfeksi, baik HSV-1 atau HSV-2.
Prosedur Tes Penyakit Menular Seksual di Granostic Surabaya
Menjalani prosedur tes PMS bisa memberikan tekanan dan stres tersendiri bagi pasien. Granostic sangat memahami situasi ini, serta berkomitmen untuk memberikan layanan tes PMS yang tidak hanya efisien dan profesional, namun juga penuh empatik.Berikut ini prosedur tes PMS yang akan Anda lewati bersama tim Granostic Surabaya:
- Konsultasi Awal: merupakan langkah awal yang meliputi proses wawancara medis dan diskusi bersama dokter. Melalui prosedur ini dokter dapat mengetahui riwayat kesehatan pasien dan keluarganya, gaya hidup, juga bagaimana kemungkinan PMS dapat berkembang pada diri pasien.
- Pengambilan Sampel: setelah konsultasi awal, dokter dapat merekomendasikan tes lanjutan yang diperlukan sesuai dengan analisis awal kondisi pasien. Sampel yang diambil bisa berupa darah, urin, atau swab dari area yang terinfeksi.
- Analisis Laboratorium: Sampel diuji untuk mendeteksi keberadaan virus atau antibodi. Pengujian ini juga dilakukan dengan standar operasional yang ketat, menggunakan mesin berteknologi modern, dan dilakukan oleh tenaga medis profesional.
- Hasil dan Konsultasi Lanjutan: Dokter akan menganalisis dan menjelaskan hasil tes, serta menerangkan langkah selanjutnya atau penanganan yang perlu dilakukan.
Vaksin Shingrix untuk Pencegahan Herpes
Meskipun herpes zoster tidak serta merta menular dan termasuk dalam PMS, namun virus penyebabnya dapat menyebar pada orang lain dengan sentuhan langsung. Anak-anak dan orang-orang dalam golongan rentan, lebih mudah untuk terinfeksi dan menimbulkan gejala yang lebih parah.Kabar baiknya, terdapat vaksinasi untuk mencegah herpes zoster. Jika Anda terinfeksi dengan herpes zoster, vaksinasi ini dapat melindungi Anda dan keluarga dari infeksi herpes zoster hingga 90 persen.
Akan tetapi menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksin ini tidak dapat digunakan untuk semua kalangan secara sembarangan. Melainkan sangat efektif untuk individu dengan sistem imun lemah, seperti orang dewasa di atas usia 50 tahun dan anak-anak muda berusia 18 tahun yang mengalami defisiensi imun.
Beberapa manfaat melakukan vaksinasi Shingrix antara lain:
- Mencegah Herpes Zoster
Vaksinasi ini bisa mencegah herpes zoster atau cacar api, yang terjadi akibat infeksi virus dan menyebabkan ruam kulit yang terasa nyeri serta gatal.
- Mengurangi Keparahan Gejala
Jika penularan herpes tidak bisa dihindari, bukan berarti prosedur vaksinasi yang Anda lakukan akan sia-sia. Justru vaksinasi dapat membantu mengurangi keparahan gejala dan mengurangi risiko komplikasi di masa mendatang.
- Mencegah Komplikasi
Melakukan vaksinasi Shingrix juga membantu mencegah komplikasi dari infeksi virus herpes yang dapat berupa nyeri syaraf jangka panjang, radang selaput otak/selaput otak, hingga radang paru dan jenis PMS lainnya.
Biaya Tes Penyakit Menular Seksual di Surabaya
Biaya tes PMS di Surabaya sangatlah beragam, bergantung jenis tes yang Anda ambil dan dimana Anda melakukannya. Dari rangkuman Granostic, biaya yang perlu Anda siapkan dapat berada pada rentang Rp 400 ribu hingga Rp 1.8 juta.Kabar baiknya, Granostic menghadirkan layanan pemeriksaan PMS yang aman, akurat, dan lengkap untuk Anda. Biaya yang kami tawarkan pun sangatlah kompetitif, karena Anda dapat mengambil paket tes PMS yang sudah terdiri dari berbagai pemeriksaan dan prosedur konsultasi.
Biaya paket tes PMS di Granostic Surabaya ini sebesar Rp 1.7 juta hingga Rp 2 jutaan saja, loh! Anda bisa mendapatkan informasi lebih lanjut terkait paket tes PMS lainnya di Granostic dengan langsung menghubungi nomor customer care kami, ya!
Efek Samping Tes PMS
Sebagian besar tes PMS tergolong aman dan tidak menimbulkan efek samping yang serius. Namun, beberapa orang mungkin mengalami sensasi tidak nyaman yang bersifat ringan dan sementara setelah menjalani prosedur pemeriksaan. Efek samping ini umumnya tergantung pada jenis tes yang dilakukan, seperti tes darah, swab, atau pemeriksaan urin.Nyeri atau Memar
Setelah menjalani tes darah sebagai bagian dari pemeriksaan PMS, sebagian orang bisa merasakan nyeri ringan atau muncul memar kecil di area bekas tusukan jarum.Ini terjadi karena jarum yang digunakan untuk mengambil darah bisa menekan pembuluh darah kecil di bawah kulit. Biasanya, sensasi ini bersifat sementara dan akan membaik dalam waktu 1–3 hari tanpa pengobatan khusus.
Untuk meredakannya, Anda bisa menempelkan kompres dingin pada area yang nyeri atau menghindari aktivitas berat yang melibatkan lengan selama sehari. Bila nyeri berlanjut lebih dari tiga hari atau muncul bengkak tidak biasa, sebaiknya konsultasikan ke tenaga medis.
Ketidaknyamanan
Pada tes PMS yang melibatkan pengambilan sampel dari area genital, seperti swab serviks atau uretra, sebagian orang bisa merasakan ketidaknyamanan atau sensasi perih ringan. Hal ini disebabkan karena area tersebut cukup sensitif, terutama jika sedang mengalami iritasi atau infeksi.Namun, Anda tidak perlu khawatir. Sensasi ini biasanya hilang dalam beberapa jam hingga satu hari, dan tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang. Tenaga medis yang profesional dan berpengalaman akan memastikan prosedur dilakukan dengan aman, cepat, dan seminimal mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman.
Pemeriksaan dan Vaksinasi di Granostic Diagnostic Center
Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk melakukan tes PMS atau vaksinasi sebagai langkah proteksi diri, Granostic Diagnostic Center hadir sebagai solusi yang tepat dan terpercaya bagi Anda di Surabaya. Kami memahami bahwa isu kesehatan seksual seringkali menjadi hal yang sensitif, karena itu layanan kami dibangun dengan prinsip ramah, profesional, dan empatik.Setiap pemeriksaan dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dan terlatih dalam memberikan pelayanan yang penuh privasi dan kenyamanan.
Anda tidak hanya mendapatkan hasil tes yang akurat, tetapi juga edukasi menyeluruh mengenai kondisi dan tindakan lanjutan yang tepat. Baik itu untuk pemeriksaan herpes, HIV, sifilis, klamidia, gonore, atau jenis PMS lainnya, Anda akan didampingi dari awal hingga akhir dengan pendekatan yang personal.
Di Granostic, kami juga menggunakan teknologi diagnostik terkini seperti PCR sensitivitas tinggi dan panel imunoserologi yang dapat mendeteksi infeksi dengan presisi. Selain itu, tersedia pula layanan vaksinasi untuk HPV dan Hepatitis B sebagai bagian dari upaya pencegahan infeksi menular seksual yang lebih luas.
Jangan menunggu gejala muncul. Yuk, jadwalkan pemeriksaan PMS atau konsultasi kesehatan seksual Anda secara mudah dan cepat melalui sistem booking online Granostic Diagnostic Center.
Perlindungan dimulai dari kesadaran, dan Granostic siap menjadi partner Anda dalam menjaga kesehatan dengan penuh empati.
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Apex Medical Professionals. (2024). 5 Important Reasons You Need to Get Tested for STDs. Diakses 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Shingles Vaccines. Diakses 2025.
- Verywell Health. (2024). Five Reasons Everyone Should Get Tested for STDs. Diakses 2025.
- Australian Government Department of Health and Aged Care. (2024). Shingles (Herpes Zoster) Immunisation Service. Diakses 2025.
- GSK Canada. (2024). Shingrix – Shingles Vaccine Information. Diakses 2025.

