Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Apa Sih Perbedaan HSV-1 dan HSV-2? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini!

Apa Sih Perbedaan HSV-1 dan HSV-2?

Meskipun dapat menimbulkan ruam yang serupa, HSV-1 dan HSV-2 memiliki karakteristik yang berbeda. Karenanya untuk dapat menerapkan pengobatan dan perawatan yang tepat, Anda perlu mengetahui apa saja perbedaan antara HSV-1 dan HSV-2 pada artikel ini.


Sumber: smartypance.com

Seperti gambar di atas, virus herpes simpleks tipe 1 dan 2 merupakan dua jenis virus yang sangat menular. Keduanya dapat menyebabkan lepuhan berair pada kulit dan selaput lender mulut, bibir, hidung, alat kelamin, rektum, dan mata.

Meski begitu, infeksi HSV-1 dan HSV-2 bisa menimbulkan perbedaan gejala dan tingkat keparahan, yang memerlukan pendekatan perawatan dan pengobatan yang juga berbeda.

Lewat artikel ini, Granostic akan membagikan apa saja perbedaan HSV-1 dan HSV-2 yang perlu Sobat ketahui. Simak, ya!

Pengertian HSV-1 dan HSV-2

HSV-1 (Herpes Simplex Virus tipe 1)

Herpes simplex virus tipe 1, HSV-1, merupakan jenis virus herpes simpleks yang banyak menimbulkan lesi oral di sekitar bibir dan mulut, yang juga dikenal dengan luka dingin (cold sores).

HSV-2 (Herpes Simplex Virus tipe 2)

Sementara itu, Herpes simplex virus tipe 2 atau HSV-2, merupakan jenis virus herpes simpleks yang banyak menginfeksi area genital, yang bisa menimbulkan lesi di sekitar vagina, penis, di sekitar anus, pantat, atau paha.

Perbedaan Utama antara HSV-1 dan HSV-2

1. Lokasi Infeksi

HSV-1

Umumnya menimbulkan lesi di sekitar bibir dan mulut, namun tidak menutup kemungkinan untuk menyebar ke area genital lewat seks oral.

HSV-2

Sementara HSV-2 menimbulkan lesi di sekitar area genital, vagina, penis, paha, pantat, dan anus. Akan tetapi lesi herpes genital juga dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain lewat cairan yang keluar dari lesi.

2. Cara Penularan

HSV-1

Penularan dan penyebaran virus herpes dilakukan dengan kontak langsung, baik sentuhan kulit ke kulit maupun lewat cairan tubuh. HSV-1 umumnya disebarkan melalui saliva, meskipun orang tersebut tidak memiliki gejala aktif atau sakit yang disebabkan oleh herpes.

Melakukan kontak dengan orang yang memiliki lesi terbuka juga bisa menularkan virus tersebut, seperti ciuman atau oral seks.
Selain itu, HSV-1 juga dapat ditularkan melalui kontak dengan objek yang terkontaminasi seperti minuman atau pisau cukur. Meski demikian, metode penularan ini sangatlah kecil terjadi.

HSV-2

Penyebaran dan penularan HSV-2 pun sama, namun karena utamanya virus ini dapat menimbulkan lepuhan di area genital, maka penularannya pun banyaknya terjadi lewat hubungan seksual. Namun herpes genital ini juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama proses persalinan.

3. Gejala

HSV-1

Gejala infeksi herpes oral biasanya muncul dalam waktu satu hingga tiga minggu dari pertama terinfeksi, berikut penjelasannya:

  1. Sebelum Anda menyadari adanya luka, Anda dapat merasa sangat lelah, kehilangan nafsu makan, bahkan mengalami demam ringan.
  2. Gejala awal biasanya berupa luka lepuhan yang dapat muncul di gusi, bibir, mulut, atau tenggorokan.
  3. Beberapa orang bahkan dapat mengalami sakit tenggorokan.
  4. Gejala biasanya dapat bertahan hingga 3 minggu sebelum benar-benar mereda.

HSV-2

Sementara itu pada herpes genital, biasanya gejala akan timbul dalam waktu dua hingga 14 hari dari waktu pertama Anda terinfeksi. Beberapa gejala yang menyertainya yakni:

  1. Hilangnya nafsu makan, rasa pegal-pegal, dan demam.
  2. Kelenjar getah bening terasa nyeri dan sakit saat buang air kecil.
  3. Sebelum lepuhan muncul, Anda bisa merasakan sensasi kesemutan, terbakar, atau gatal pada alat kelamin.
  4. Lepuhan biasanya bertahan selama 1 hingga 2 minggu, kemudian hilang.

4. Menyerang Anak-anak dan Dewasa

HSV-1

HSV-1 dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. Bahkan melansir dari GoodRx.com, jenis infeksi herpes yang paling sering terjadi pada anak disebabkan oleh HSV-1.

HSV-2

Sementara itu, HSV-2 lebih umum ditemukan pada orang dewasa yang aktif secara seksual. Namun, virus ini bisa ditularkan dari ibu ke bayi melalui proses persalinan.

5. Faktor Kambuh

Virus herpes simpleks dapat hidup dalam waktu yang lama dalam tubuh kita, bahkan meski Anda tidak memiliki gejala apapun setelah infeksi awal. Hal ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.

Namun, dari waktu ke waktu, virus ini dapat menjadi aktif dan menimbulkan lepuhan-lepuhan di kulit Anda. Biasanya gejala akan muncul di lokasi yang sama dengan infeksi awal.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab kekambuhan gejala hepatitis simpleks ini, yakni:

Stres

Stres, baik secara fisik maupun emosional, dapat menjadi salah satu faktor kambuhnya herpes. Pada artikel ilmiah di jurnal Brain, Behaviour and Immunity, dikatakan bahwa stress harian, depresi, dan kecemasan menjadi salah satu penyebab kekambuhan herpes genital.

Ini terjadi karena stress membuat sistem imun melemah, yang membuka kesempatan bagi virus herpes yang ada dalam tubuh untuk reaktif dan menyebabkan kekambuhan gejala.

Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah

Sistem imun yang melemah juga bisa menyebabkan virus herpes dalam tubuh menjadi reaktif dan menimbulkan kekambuhan gejala.

Demam atau Penyakit Lain

Demam atau penyakit lain yang kita alami juga bisa menjadi faktor kambuhnya gejala herpes. Hal ini terjadi karena penyakit dapat membuat, atau berkaitan erat, dengan sistem tubuh kita yang sedang lemah.

Misalnya, pada seorang penderita HIV atau penyakit menular seksual lainnya, mereka cenderung mengalami defisiensi sistem imun. Sehingga tubuh pasien HIV akan mengalami pelemahan kemampuan dalam melawan penyakit serta infeksi, termasuk herpes simpleks tersebut.

Paparan Sinar Matahari Berlebihan

Meski HSV-1 sangat umum dialami oleh masyarakat, rupanya tak banyak yang tahu bahwa paparan sinar matahari berlebihan bisa memicu dan memperburuk herpes simpleks, loh.

Hal ini terjadi karena sinar ultraviolet dalam paparan matahari dapat mengaktifkan HSV-1 yang sebelumnya telah bersembunyi dalam sel saraf kita, yang kemudian memicu kekambuhan.

Tes Diagnostik HSV-1 dan HSV-2

Setelah memahami perbedaan antara HSV-1 dan HSV-2, langkah selanjutnya adalah mengetahui bagaimana diagnosis infeksi herpes ditegakkan secara medis.

Meskipun gejalanya kadang cukup khas, seperti luka lepuh atau nyeri pada area mulut dan genital, dokter tetap memerlukan konfirmasi dari pemeriksaan laboratorium agar diagnosisnya akurat. Hal ini penting untuk memastikan penanganan yang tepat dan mencegah penularan lebih lanjut.

Ada beberapa jenis tes diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus herpes, baik itu HSV-1 maupun HSV-2. Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya.

Tes PCR (Polymerase Chain Reaction):

Tes PCR merupakan metode yang sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan DNA virus herpes secara langsung. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel dari lesi atau cairan tubuh (seperti darah, cairan genital, atau air liur), lalu diperiksa di laboratorium untuk mencari potongan DNA virus HSV-1 atau HSV-2.

Cara kerja tes PCR adalah dengan menggandakan (amplifikasi) materi genetik virus, sehingga walaupun jumlah virus dalam tubuh sangat sedikit, tetap bisa dideteksi. PCR menjadi tes pilihan utama, terutama pada infeksi primer atau pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah, karena hasilnya sangat akurat dan mampu membedakan antara HSV-1 dan HSV-2.

Tes Antibodi:

Tes antibodi digunakan untuk mendeteksi respons imun tubuh terhadap infeksi herpes, yaitu dengan mencari keberadaan antibodi IgG atau IgM terhadap HSV-1 dan HSV-2 dalam darah. IgM biasanya muncul lebih awal saat infeksi pertama kali terjadi, sementara IgG menunjukkan bahwa seseorang pernah atau sedang terinfeksi virus tersebut.

Pemeriksaan ini sangat berguna pada pasien tanpa gejala aktif, misalnya jika seseorang ingin mengetahui apakah dirinya pernah terpapar virus herpes sebelumnya.

Meskipun tidak mendeteksi virus secara langsung, tes ini dapat membantu memperkirakan kapan infeksi terjadi, serta menentukan jenis HSV yang menyerang.

Kultur Virus:

Tes kultur virus dilakukan dengan mengambil sampel langsung dari luka atau lepuhan herpes untuk ditanam di media khusus dan melihat apakah virus akan tumbuh. Jika virus berhasil tumbuh di laboratorium, ini menandakan adanya infeksi aktif.

Namun, metode ini cenderung kurang sensitif dibanding PCR, terutama jika lesi sudah mulai mengering atau luka berada di tahap penyembuhan. Meski begitu, kultur virus masih digunakan di beberapa fasilitas laboratorium karena biayanya relatif lebih rendah dan dapat membedakan jenis virus herpes.

Pencegahan HSV-1 dan HSV-2

Sobat Granostic, walaupun herpes simpleks termasuk infeksi yang umum terjadi, penularannya tetap bisa dicegah dengan beberapa langkah sederhana dan kebiasaan hidup sehat. Pencegahan tidak hanya melindungi diri Anda, tapi juga mencegah penyebaran ke pasangan atau orang-orang di sekitar.

Yuk, simak apa saja langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan!

1. Hindari Kontak Langsung dengan Luka Herpes

Salah satu cara paling efektif mencegah penularan herpes adalah dengan tidak menyentuh luka atau lepuh aktif milik orang lain, termasuk saat berciuman, berhubungan seksual, atau bersentuhan kulit dengan kulit. Virus herpes sangat mudah menular saat luka masih terbuka atau dalam fase aktif.

Misalnya, jika seseorang sedang mengalami luka lepuh di mulut (cold sore), sebaiknya hindari ciuman atau kontak kulit langsung. Begitu pula pada herpes genital, aktivitas seksual sebaiknya ditunda hingga luka benar-benar sembuh.

2. Gunakan Kondom Saat Berhubungan Seksual

Penggunaan kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan HSV-2 secara signifikan, terutama karena virus menyebar melalui kontak langsung dengan kulit atau selaput lendir. Meskipun kondom tidak menutupi seluruh area kulit, penggunaannya tetap memberikan perlindungan tambahan.

Penting diingat, herpes bisa menular bahkan saat tidak ada gejala. Oleh karena itu, penggunaan kondom bukan hanya untuk mencegah kehamilan, tetapi juga untuk melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) seperti herpes.

3. Hindari Peralatan Makan, Lipstik, atau Barang Pribadi Lainnya

Virus herpes bisa menyebar melalui benda yang terkontaminasi air liur atau cairan dari luka. Maka, hindarilah berbagi barang pribadi seperti sendok, garpu, gelas, lipstik, atau handuk dengan orang yang sedang memiliki luka aktif, terutama pada area mulut.

Langkah ini sangat penting untuk mencegah penyebaran HSV-1, terutama dalam lingkungan keluarga atau tempat tinggal bersama. Menjaga kebersihan pribadi dan tidak sembarangan menggunakan barang milik orang lain adalah kebiasaan sehat yang sangat membantu.

4. Jaga Sistem Kekebalan Tubuh dengan Pola Hidup Sehat

Sistem imun yang kuat dapat mencegah reaktivasi virus herpes yang sudah tertidur (laten) di dalam tubuh. Banyak orang terinfeksi herpes, tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun karena sistem kekebalan tubuh mampu menekannya.

Beberapa cara menjaga kekebalan tubuh antara lain:

Dengan gaya hidup sehat, tubuh Anda akan lebih siap melawan infeksi dan mengurangi risiko kekambuhan herpes yang bisa memengaruhi kualitas hidup.

Penggunaan Vaksin dan Konsultasi Dokter di Granostic

Selain melakukan beberapa upaya pencegahan di atas, Anda dapat memaksimalkan perlindungan diri dan keluarga dari infeksi HSV-1 dan HSV-2 melalui vaksinasi serta konsultasi dokter di Granostic Surabaya.

Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) vaksinasi herpes adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri Anda dan keluarga dari infeksi virus tersebut. Dikatakan pula bahwa vaksinasi ini terbukti efektif hingga 90 persen.

Namun sebelum benar-benar melakukan vaksinasi, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Bersama Granostic, Anda dapat memeroleh pelayanan vaksinasi dan konsultasi ini dalam satu paket.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, wawancara medis, hingga pemeriksaan lanjutan jika diperlukan. Dengan demikian, dokter dapat memberikan edukasi, analisis, dan rekomendasi pengambilan vaksin yang sesuai dengan kebutuhan diri dan keluarga Anda.

Untuk mendaftar layanan vaksinasi dan konsultasi bersama dokter Granostic Surabaya, Anda dapat langsung hubungi tim kami melalui tombol WhatsApp di bawah ini!


Ditinjau Oleh:

Dr. Aji Wibowo


Sumber Referensi:

  1. Pathology Tests Explained. (2024). Herpes Simplex Virus 1 and 2. Diakses tahun 2025.
  2. Smarty PANCE. (2024). Human Herpes (HHV) – Herpes Simplex Viral Infections. Diakses tahun 2025.
  3. Johns Hopkins Medicine. (2024). Herpes (HSV-1 and HSV-2). Diakses tahun 2025.
  4. WebMD. (2024). Pain Management for Herpes. Diakses tahun 2025.
  5. Verywell Health. (2024). HSV-1 vs. HSV-2: Differences and Similarities. Diakses tahun 2025.
  6. GoodRx. (2024). Understanding the Difference Between HSV-1 and HSV-2. Diakses tahun 2025.
  7. World Health Organization (WHO). (2024). Herpes Simplex Virus: Fact Sheet. Diakses tahun 2025.
  8. Superdrug Online Doctor. (2024). Genital Herpes: Causes. Diakses tahun 2025.
  9. FemiClear. (2024). How Does Stress Affect Herpes?. Diakses tahun 2025.
  10. Wald, A. et al. (2011). The Effects of Daily Distress and Personality on Genital HSV Shedding and Lesions: A Randomized, Double Blind, Placebo-Controlled Crossover Trial of Acyclovir in HSV-2 Seropositive Women. 5280 Functional Medicine. Diakses tahun 2025.
  11. Medical News Today. (2024). Blocking the JNK Pathway Prevents Reactivation of Herpes Simplex Virus. Diakses tahun 2025.
  12. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Shingles (Herpes Zoster) Vaccines. Diakses tahun 2025.

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message