Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Apa Itu NAFDL? Disini Jawaban Selengkapnya!

nafdl apa itu?

Melawan obesitas bukan hanya tentang membuat penampilan Anda menjadi menarik di mata orang lain, tapi juga sangat penting untuk mencegah berbagai masalah kesehatan. Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) adalah salah satunya. Namun tahukah Anda sebenarnya apa itu NAFLD?

Disebut juga sebagai perlemakan hati non-alkohol, penyakit ini termasuk sangat umum terjadi pada masyarakat. Bahkan jika tidak mendapat penanganan yang serius dan segera akan berkembang menjadi lebih serius.

Karena itu, lewat artikel kali ini, Granostic membagikan berbagai informasi yang perlu Anda ketahui soal NAFLD. Simak, yuk!

Pengertian NAFLD

Sobat Granostic, tahukah Anda bahwa lemak tidak hanya menumpuk di perut atau paha, tapi juga bisa menumpuk di hati? Kondisi ini dikenal sebagai penyakit hati berlemak nonalkohol, atau disingkat NAFLD (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease). Meski namanya mengandung kata “nonalkohol,” penyakit ini bukan disebabkan oleh konsumsi alkohol, melainkan akibat gangguan metabolik dalam tubuh, seperti kelebihan berat badan atau obesitas.

Dalam kondisi NAFLD, lemak menumpuk berlebihan di jaringan hati. Ini menyebabkan hati tidak bisa bekerja secara optimal. NAFLD kini menjadi salah satu penyakit hati paling umum di dunia, terutama di negara-negara dengan angka obesitas yang tinggi seperti kawasan Timur Tengah dan negara-negara Barat.

NAFLD memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Yang paling ringan disebut sebagai steatosis hati, yaitu kondisi di mana lemak mulai menumpuk di hati tapi belum menyebabkan peradangan serius. Namun, jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi bentuk yang lebih berat, yaitu NASH (Non-Alcoholic Steatohepatitis).

Melansir dari Mayo Clinic pada tahap NASH, peradangan dan kerusakan mulai terjadi di jaringan hati akibat penumpukan lemak. Jika dibiarkan terus-menerus, peradangan ini dapat menyebabkan jaringan parut hati (sirosis) bahkan berisiko berkembang menjadi kanker hati. Secara medis, kerusakan akibat NASH bisa mirip dengan kerusakan hati pada orang yang terlalu sering mengonsumsi alkohol, meskipun pasien NASH tidak minum alkohol.

Gejala NAFLD

NAFLD umumnya tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Namun kondisi ini juga dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut:

1. Kelelahan Berlebih

NAFLD dapat menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan berlebihan, yang juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor berkaitan dengan fungsi liver dan dampaknya pada produksi energi dalam tubuh.

Kelebihan lemak yang menumpuk pada liver dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan. Hal ini berpotensi berdampak pada kemampuan liver untuk memproduksi dan meregulasi energi dengan optimal serta efektif.

2. Nyeri atau Ketidaknyamanan di Perut Kanan Atas

Gejala ini timbul karena liver berada pada lokasi tersebut, yang dapat membengkak akibat penumpukan lemak. Pembengkakan ini dapat memberikan tekanan pada jaringan sekitarnya dan kapsul hati, sehingga menimbulkan rasa nyeri tumpul atau penuh.

3. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab

NAFLD terkadang dapat menyebabkan penurunan berat badan tiba-tiba, meskipun ini bukan gejala utamanya. Penurunan berat badan ini terjadi akibat perkembangan penyakit menjadi lebih serius, atau karena mereka memiliki lemak liver yang lebih banyak daripada kondisi normalnya.

4. Pembesaran Hati

Gejala umum dari NAFLD selanjutnya adalah pembesaran hati, yang terjadi akibat pembengkakan karena penumpukan lemak pada liver. Kondisi ini juga bisa berkembang dengan menimbulkan peradangan dan kerusakan pada hati.

Penyebab NAFLD

Setelah menyimak apa saja yang menjadi gejala NAFLD, Sobat Granostic juga perlu mengetahui apa saja faktor yang berperan sebagai penyebabnya utamanya.

Penyebab Utama NAFDL

Obesitas

Obesitas menjadi salah satu penyebab timbulnya penumpukan lemak pada liver, utamanya jika lemak terpusat pada pinggang.

Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 juga sangat berkaitan dengan NAFLD, terutama karena resistensi insulin dan penumpukan lemak di hati. Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes, bersama dengan faktor risiko umum obesitas dan sindrom metabolic, juga berkontribusi pada perkembangan NAFLD.

Dislipidemia

Dislipidemia, yang juga ditandai dengan kadar lipid darah tak normal, berperan penting dalam perkembangan NAFLD. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memproses dan menyimpan lemak secara efisien. Dengan demikian, kemungkinan penumpukan lemak pada hati juga semakin besar.

Hipertensi

Hipertensi dan NAFLD memiliki hubungan yang erat, bahkan sering kali terjadi bersamaan karena mekanisme perkembangannya yang serupa. Ini khususnya timbul ketika resistensi insulin dan peradangan sistemik terjadi. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memperburuk gejala atau perkembangan satu sama lain, yakni NAFLD dapat meningkatkan risiko hipertensi dan begitu sebaliknya.

Resistensi Insulin

NAFLD juga dapat berkembang karena resistensi insulin, yang bisa terjadi karena diabetes tipe 2. Ini karena, insulin normalnya dapat membantu menekan lipolysis, yakni pemecahan lemak untuk energi. Jadi ketika resisten insulin mengganggu proses ini, akan lebih banyak lemak dilepaskan dari jaringan adiposa dan dikirim ke hati, yang kemudian menyebabkan penumpukan lemak di hati.

Faktor Lain yang Berkontribusi

Pola Makan Tinggi Lemak dan Gula

Salah satu penyebab paling umum dari NAFLD adalah kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula tambahan. Lemak yang tidak sehat, terutama dari makanan olahan, gorengan, makanan cepat saji, serta camilan tinggi kalori seperti keripik, donat, dan kue manis, dapat menyebabkan tubuh menyimpan lebih banyak lemak, termasuk di organ hati.

Begitu juga dengan gula berlebih, terutama dari minuman manis seperti soda, teh kemasan, atau kopi dengan tambahan sirup, dapat memicu lonjakan kadar glukosa darah. Akibatnya, tubuh mengubah kelebihan gula menjadi lemak yang disimpan di hati. Inilah yang kemudian memicu steatosis hati, atau hati berlemak.

Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menerapkan pola makan yang seimbang, seperti memperbanyak sayur, buah, protein tanpa lemak, serta mengurangi makanan tinggi gula dan lemak jenuh.

Kurangnya Aktivitas Fisik

Kurangnya bergerak juga berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko NAFLD. Saat tubuh jarang digunakan untuk beraktivitas, maka kalori yang masuk tidak terbakar dengan optimal, sehingga lebih mudah disimpan dalam bentuk lemak, termasuk lemak hati.

Tak hanya itu, gaya hidup sedentari (banyak duduk, minim aktivitas fisik) berhubungan erat dengan gangguan metabolik seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Ketiganya merupakan faktor risiko utama dalam perkembangan NAFLD. Aktivitas fisik yang teratur membantu tubuh mengatur kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menurunkan kadar lemak tubuh secara keseluruhan, termasuk lemak yang menumpuk di hati.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu. Jadi, yuk mulai rutin bergerak, misalnya jalan kaki, bersepeda, atau sekadar senam ringan di rumah.

Genetik

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa faktor genetik juga dapat berperan dalam perkembangan NAFLD. Beberapa orang mewarisi gen tertentu yang membuat tubuh mereka lebih rentan menyimpan lemak di hati, bahkan jika berat badan mereka tergolong normal.

Salah satu gen yang dikaitkan dengan peningkatan risiko NAFLD adalah PNPLA3. Gen ini memengaruhi cara tubuh menyimpan dan mengatur lemak di hati. Jika seseorang memiliki varian gen ini, maka kemungkinan berkembangnya NAFLD bisa menjadi lebih tinggi, terutama jika diiringi pola hidup tidak sehat.

Namun penting diingat, meskipun genetik bisa memengaruhi risiko, gaya hidup tetap menjadi penentu utama. Dengan menerapkan pola makan sehat, rajin bergerak, dan menghindari kebiasaan buruk, risiko terjadinya NAFLD bisa diminimalkan — bahkan pada mereka yang memiliki faktor keturunan.

Diagnosis NAFLD

Karena umumnya NAFLD tidak menimbulkan gejala yang signifikan, kondisi ini seringnya ditemukan ketika pemeriksaan medis dilakukan untuk masalah kesehatan lainnya sampai merujuk adanya masalah pada hati.

Nah, Sobat berikut ini ada beberapa prosedur yang dilakukan untuk mendeteksi NAFLD secara medis, yakni:

1. Pemeriksaan Laboratorium

Tes Fungsi Hati

Pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu prosedur diagnosis NAFLD, seperti tes fungsi hati. Tes ini dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan hati secara keseluruhan, serta mendeteksi adanya masalah atau gangguan pada organ hati kita.

Prosedur tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah dan mengukur kadar zat tertentu yang diproduksi oleh hati kita seperti enzim hati, protein, bilirubin, dan banyak lainnya.

Profil Lipid

Selain tes fungsi hati, pemeriksaan laboratorium lainnya dilakukan untuk mendeteksi NAFLD adalah pemeriksaan profil lipid. Pemeriksaan ini dapat membantu mengukur kadar lemak dalam darah, seperti kolesterol dan trigliserida.

2. Imaging (Pencitraan)

Ultrasonografi (USG) Abdomen

USG abdominal dilakukan untuk memvisualisasikan kondisi abdomen, yang biasanya digunakan sebagai prosedur awal dalam mendeteksi penyakit hati.

FibroScan (Transient Elastography)

Prosedur non-invasive ini digunakan untuk menilai kekakuan hati, termasuk pada pasien dengan NAFLD. Teknik ini bekerja dengan mengukur kecepatan gelombang geser yang dihasilkan oleh perangkat dan ditransmisikan melalui hati.

MRI atau CT Scan

Diagnosis NAFLD juga dapat dilakukan melalui prosedur MRI atau CT Scan. Pemeriksaan ini bekerja sangat baik untuk mendeteksi NAFLD, namun tidak dapat digunakan untuk membedakan antara NAFLD dan NASH.

3. Biopsi Hati

Biopsi hati merupakan prosedur paling ideal yang digunakan untuk mendeteksi adanya NAFLD. Prosedur ini dilakukan dengan memindahkan sebagian kecil jaringan pada hati menggunakan jarum yang sangat kecil, yang dimasukkan lewat dinding abdomen. Jaringan ini kemudian diteliti di dalam laboratorium, untuk dianalisis keberadaan inflamasi dan luka.

Komplikasi NAFLD

NAFLD jika tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi lebih serius dan menimbulkan komplikasi, seperti:

Steatohepatitis Non-Alkohol (NASH)

Non-Alcoholic Steatohepatitis (NASH) merupakan tipe penyakit hati yang ditandai dengan penumpukan lemak di hati, yang disertai dengan peradangan dan kerusakan pada organ tersebut. NAFLD yang tidak diobati sesegera mungkin dapat berkembang menjadi NASH.

Fibrosis Hati

NAFLD juga dapat memicu fibrosis hati, yakni proses terbentuknya jaringan parut di hati yang kerap disebabkan oleh cedera hati kronis atau peradangan. Kondisi ini dapat terjadi ketika hati mencoba mengurangi peradangan akibat NAFLD dan NASH, proses ini menciptakan jaringan parut.

Bersamaan dengan inflamasi yang terus terjadi, fibrosis menyebar pada sebagian besar jaringan hati.

Sirosis Hati

Komplikasi selanjutnya dari NAFLD adalah sirosis hati, yang timbul karena luka pada hati, seperti kerusakan yang terjadi karena inflamasi. Secara spesifik kondisi ini terjadi ketika hati penderita NAFLD mengalami kerusakan yang parah, pada bagian jaringannya digantikan oleh jaringan parut, sehingga dapat mengganggu jalannya fungsi hati.

Kanker Hati (Hepatocellular Carcinoma)

Ketika peradangan dan sirosis tidak dirawat dengan tepat sesegera mungkin, maka kondisi ini dapat berkembang ke kanker hati atau Hepatocellular Carcinoma.

Jenis kanker hati ini merupakan yang paling umum ditemukan dalam masyarakat, yang timbul dari sel hati bernama hepatosit. Sirosis hati menjadi salah satu penyebab utama berkembangnya kanker ini.

Apakah NAFLD Bisa Sembuh?

Pada pengertian tradisional, NAFLD tidak dapat sepenuhnya disembuhkan, tetapi dapat diobati dan dipulihkan dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Karena itu, fokus pengobatan dan perawatan yang dianjurkan oleh dokter akan berpusat pada pengurangan lemak di hati, meredakan peradangan, hingga mencegah kerusakan hati lebih lanjut.

Anda dapat menyimak apa saja prosedur pengobatan NAFLD yang direkomendasikan oleh dokter berikut ini:

Pengobatan NAFLD

1. Perubahan Gaya Hidup

Penurunan Berat Badan

Menurunkan berat badan adalah langkah pertama dan paling efektif dalam mengatasi NAFLD. Menurut American Association for the Study of Liver Diseases (AASLD), menurunkan berat badan sekitar 7–10% dari berat awal dapat secara signifikan mengurangi lemak hati, peradangan, dan bahkan memperbaiki kerusakan sel hati.

Tips menurunkan berat badan secara sehat:

Pola Makan Sehat

Pola makan berperan besar dalam proses pemulihan NAFLD. Diet sehat membantu mengurangi penumpukan lemak di hati dan meningkatkan fungsi hati secara keseluruhan.

Salah satu pendekatan yang banyak disarankan adalah Diet Mediterania, yang menekankan konsumsi makanan alami, rendah gula, dan kaya antioksidan. Perbanyak juga konsumsi serat, omega-3, vitamin E, dan air putih, serta batasi makanan tinggi garam dan lemak trans.

Aktivitas Fisik

Olahraga rutin membantu membakar lemak, memperbaiki sensitivitas insulin, dan memperbaiki profil metabolik, semua ini penting dalam mengatasi NAFLD. Anda tidak perlu langsung melakukan olahraga berat. Yang penting adalah konsisten bergerak setiap hari.

Contoh aktivitas fisik yang aman dan efektif:

WHO merekomendasikan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu untuk orang dewasa. Bila Anda memiliki keterbatasan fisik, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum memulai program olahraga.

2. Pengelolaan Kondisi Terkait

Kontrol Diabetes

Diabetes tipe 2 dan NAFLD seringkali saling berkaitan. Kadar gula darah yang tidak terkontrol memperburuk penumpukan lemak di hati dan mempercepat kerusakan hati. Maka, menjaga kadar gula darah tetap stabil sangat penting bagi penderita NAFLD.

Tips kontrol diabetes yang efektif:

Pengelolaan Dislipidemia

Dislipidemia, yaitu kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal, juga berkontribusi terhadap perkembangan NAFLD. Kadar kolesterol tinggi dapat memperparah perlemakan hati dan memicu peradangan.

Kontrol Tekanan Darah
Hipertensi menjadi faktor risiko tambahan pada pasien NAFLD. Tekanan darah tinggi meningkatkan stres oksidatif dan memperburuk kerusakan sel hati. Karena itu, pengendalian tekanan darah menjadi bagian penting dari pengobatan.

3. Obat-obatan

Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang secara langsung disetujui untuk mengobati NAFLD, namun beberapa obat dapat membantu mengelola kondisi yang menyertainya atau memperbaiki gejala.

Screening Dini NAFLD di Granostic Surabaya

Sobat Granostic NAFLD bukanlah kondisi yang bisa diremehkan meskipun seringnya tidak menimbulkan gejala. Justru penyakit hati ini harus mendapatkan penanganan yang segera dan tepat agar tidak berkembang menjadi lebih parah.

Karena tidak menunjukkan gejala yang signifikan di awal, pemeriksaan kesehatan secara rutin dan skiring fungsi hati secara teratur dapat mendeteksi dini NAFLD. Kabar baiknya, Granostic juga menyediakan layanan screening dini NAFLD untuk warga Surabaya dan sekitarnya, loh.

Ada beberapa prosedur screening dini NAFLD di Granostic Surabaya, seperti:

Pemeriksaan Laboratorium

Screening NAFLD dilakukan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium, termasuk tes darah yang terdiri dari:

USG Abdomen

Selain pemeriksaan laboratorium, deteksi dini NAFLD di Granostic Surabaya juga dapat dilakukan dengan prosedur USG Abdomen. Prosedur ini dilakukan oleh staf medis ahli kami, juga menggunakan peralatan medis yang canggih dan termutakhir.

Tes Fungsi Hati dan Profil Lipid

Diagnosa dan deteksi dini NAFLD juga dapat dilakukan melalui tes fungsi hati dan profil lipid. Keduanya dapat mendeteksi adanya masalah atau kerusakan hati akibat NAFLD atau NASH, atau masalah kesehatan hati lainnya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Tak hanya prosedur pemeriksaannya yang lengkap dan teknologinya yang canggih, Granostic juga menawarkan layanan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam.

Bersama dengan dokter spesialis kami, Anda dapat mengonsultasikan keluhan, gejala, dan rasa khawatir Anda soal NAFLD. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan edukasi lengkap, terkait pengobatan, perawatan mandiri, hingga berbagai perencanaan gaya hidup sehat untuk mengembalikan fungsi hati Anda.

Nah, Sobat itu adalah penjelasan lengkap soal apa itu NAFLD yang perlu Anda tahu. Jangan ragu untuk mengunjungi klinik Granostic dan lakukan screening deteksi dini NAFLD bila Anda merasakan gejala-gejala yang merujuk kondisi tersebut.


Ditinjau Oleh:

Dr. Aji Wibowo


Sumber Referensi:

  1. Mayo Clinic. (2024). Nonalcoholic fatty liver disease: Diagnosis and treatment. Diakses 2025.
  2. National Health Service (NHS). (2024). Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Diakses 2025.
  3. American Liver Foundation. (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Diakses 2025.
  4. Healthline. (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Diakses 2025.
  5. FattyLiver.ca. (2024). Why Does Fatty Liver Cause Fatigue? Diakses 2025.
  6. WebMD. (2024). Fatty Liver Disease. Diakses 2025.
  7. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2024). Nonalcoholic Fatty Liver Disease & NASH. Diakses 2025.

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message