Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Jangan Gampang Diagnosa Sendiri! Pelajari Mitos dan Fakta Penyakit Stroke

mitos dan fakta penyakit stroke

Stroke merupakan jenis penyakit gawat darurat yang perlu penanganan secara cepat dan tepat. Sayangnya, tak sedikit mitos yang beredar membuat penanganan stroke jadi lambat dan menimbulkan dampak besar pada pasien. Nah, apa saja mitos dan fakta penyakit stroke tersebut?
Bagi Anda yang belum tahu, stroke sendiri merupakan jenis penyakit yang timbul akibat adanya gangguan pada saluran pembuluh darah ke otak. Gangguan ini dapat terjadi karena adanya penyumbatan (iskemik), juga karena pecahnya pembuluh darah di otak (hemoragik).
Kendati dikategorikan sebagai kondisi medis yang fatal, serangan stroke sendiri bisa dicegah dan diminimalisir dampaknya dengan perawatan yang tepat. Akan tetapi, beredarnya mitos-mitos yang salah membuat masyarakat kadang keliru mendiagnosa gejala yang mereka alami, sehingga terjadi keterlambatan penanganan.
Agar Sobat Granostic tak salah langkah, mari pelajari berbagai mitos dan fakta mengenai penyakit stroke di bawah ini.

Mitos 1:Stroke Hanya Menyerang Orang Tua? 

Fakta 

Kata siapa, penyakit stroke hanya dapat menyerang para lansia atau orang tua? Meski memang banyak terjadi pada seseorang yang berusia di atas 55 tahun, akan tetapi bukan berarti anak muda pun tak memiliki risiko terkena stroke.
Justru kasus serangan stroke pada individu di bawah 50 tahun pun meningkat. Penyebab serangan stroke di usia muda ini pun beragam mulai dari gaya hidup tak sehat, akibat diabetes, hipertensi, serta obesitas.

Mitos 2: Stroke Tidak Dapat Dicegah 

Fakta

Meskipun datang serangan penyakit ini mendadak, bukan berarti stroke tidak dapat dicegah sama sekali. Jika kita menyimak dari penyebabnya, penyakit stroke sangat bisa kita hindari dengan beralih menjalani gaya hidup yang lebih sehat, serta mengelola berbagai faktor risikonya.
Nah, Sobat, ada beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena stroke, yakni:

Mitos 3: Stroke Tidak Bisa Diobati 

Fakta 

Mitos yang satu ini paling sering diterima oleh masyarakat, padahal stroke bisa disembuhkan. Khususnya bila pasien mendapatkan penanganan yang tepat saat memasuki golden period, yakni rentang waktu kurang dari 4,5 jam setelah serangan stroke.
Selain itu, ketika pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin maka segala dampak yang terjadi nantinya itu dapat diminimalisir. Bahkan mengurangi risiko terjadinya cacat permanen pada pasien.

Mitos 4: Gejala Stroke Akan Hilang dengan Sendirinya 

Fakta 

Jangan pernah menganggap bahwa gejala stroke akan hilang dengan sendirinya. Sebab, saat serangan stroke terjadi, sel-sel otak dapat mengalami kerusakan hingga mati karena tidak ada asupan nutrisi dan oksigen dari pembuluh darah.
Hal ini akan berakibat fatal, begitu Anda mengabaikannya. Tak hanya menimbulkan kecacatan pada pasien, namun juga bisa mengarah pada dampak yang lebih buruk.
Karenanya, ketika Anda merasakan gejala awal stroke, bahkan ringan sekalipun, segera kunjungi klinik/puskesmas/rumah sakit setempat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Dengan begitu, dampak dari stroke tersebut dapat diminimalisir dan tidak menurunkan kualitas hidup pasien secara drastis di masa mendatang.

Mitos 5: Stroke Tidak Akan Terjadi Lagi Setelah Satu Kali Terjadi 

Fakta 

Salah satu mitos mengenai stroke yang sangat menyesatkan adalah bahwa seseorang yang telah mengalami serangan stroke sekali, tidak akan lagi kambuh. Hal ini salah besar, sebab penderita stroke memiliki risiko lebih besar untuk mengalami serangan stroke berulang.
Bahkan, pada kasus serangan berulang ini gejala dan dampaknya pada tubuh pun akan lebih berat daripada serangan stroke pertama. Karenanya, sangat penting untuk melakukan pengobatan secara tuntas, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan demi memantau kondisi tubuh pasien.

Mitos 6: Stroke Tidak Menyebabkan Nyeri 

Fakta 

Meskipun stroke bisa membuat badan paralyze atau dalam keadaan paralisis, bukan berarti pasien tidak akan merasakan nyeri sama sekali. Sebaliknya, karena serangan stroke berdampak langsung pada saraf otak, yang menyebabkan pasien mungkin mengalami kekakuan, atau mengalami peningkatan tonus yang abnormal.
Kondisi ini menimbulkan rasa nyeri, kencang, dan membuat otot menjadi kaku. Sehingga tidak dapat bergerak dengan bebas.

Mitos 7: Hanya Ada Satu Jenis Stroke 

Fakta 

Serangan stroke dibedakan menjadi dua, menurut dari sumber gangguan pada saluran pembuluh darah ke otak. Jika gangguan tersebut timbul akibat penyumbatan pada pembuluh darah ke otak, maka disebut sebagai stroke iskemik.
Sementara jika gangguan tersebut terjadi karena pecahnya pembuluh darah di otak, maka disebut sebagai stroke hemoragik.
Karena penyebabnya berbeda, maka gejala yang ditimbulkan dan cara penanganannya yang tepat pun tak sama. Sehingga, Anda tidak bisa menyamakan antara stroke hemorgik dan iskemik begitu saja.

Mitos 8: Pemulihan Stroke Hanya Terjadi Dalam Beberapa Bulan Pertama 

Fakta 

Pemulihan stroke tidak hanya dilangsungkan pada beberapa bulan saja, akan tetapi perlu setidaknya 6 bulan sampai pasien kembali mendapatkan kualitas hidup yang baik.
Meski begitu, bukan berarti pasien stroke bisa hidup secara sembarangan lagi. Mereka harus tetap mengontrol gaya hidup untuk selalu sehat, juga memantau faktor risiko yang bisa mennyebabkan serangan berulang.

Mitos 9: Stroke Hanya Mempengaruhi Satu Sisi Tubuh 

Fakta 

Banyak desas desus berkata bahwa stroke hanya mempengaruhi satu sisi tubuh saja. Benarkah begitu?
Tentu tidak. Meski pada gejala stroke ringan, umumnya hanya satu sisi tubuh saja yang tampak terpengaruh secara fisik. Akan tetapi, kondisi ini dapa mempengaruhi sisi tubuh yang lain, bergantung bagian otak mana yang terdampak.
Selain itu, gejalanya pun tak hanya berkaitan dengan kelumpuhan sebagian tubuh saja. Melainkan mengurangi daya ingat, konsentrasi, hingga berpengaruh pada kondisi emosi dan psikologi penderita stroke.

Mitos 10: Hanya Dokter yang Bisa Mendeteksi Gejala Stroke 

Fakta 

Terdapat satu lagi mitos tentang stroke, yakni hanya seorang dokter atau spesialis saja yang bisa mendeteksi gejala stroke. Padahal, sebaliknya gejala stroke bisa dengan jelas Anda simak dan ketahui dari kondisi tubuh Anda.
Gejala awal stroke bahkan sangat jelas bagi orang awam sekalipun, seperti:

Baca Juga: Sudah Tau Dampak dari Penyakit Stroke? Ini Penjelasannya!

Ketika Anda merasakan gejala-gejala awal tersebut, penting untuk segera menghubungi dokter atau pergi ke klinik kesehatan terdekat demi mendapatkan pemeriksaan medis.
Nah, Sobat Granostic, itu adalah penjelasan mengenai mitos dan fakta seputar penyakit stroke yang perlu Anda tahu. Sehingga, ketika ada kerabat atau orang terdekat yang mengalami hal serupa, Anda tidak mengambil langkah yang salah dan fatal.
Selain bertindak cepat saat mengetahui adanya gejala stroke, Anda pun bisa mencegah serangan penyakit ini dengan rutin melakukan medical check up di Klinik Granostic.
Sebab, kami memiliki teknologi tes kesehatan terlengkap dan mutakhir, sehingga menghasilkan pemeriksaan yang akurat. Selain itu, bersama dokter spesialis dan tenaga medis ahli Klinik Granostic, Anda akan mendapatkan pelayanan yang cepat, tanggap, dan berkualitas.
Yuk, Sobat Granostic, lindungi diri dan keluarga Anda dari serangan penyakit stroke bersama Klinik Granostic!

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message