Mitos dan Fakta tentang Pemeriksaan NIPT, Ini Kata Dokter

Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT) adalah pemeriksaan skrining yang semakin populer dalam dunia obstetri modern karena kemampuannya mendeteksi risiko kelainan kromosom sejak awal kehamilan.
Namun, masih banyak informasi keliru yang beredar di masyarakat mengenai tes ini. Artikel ini akan membantu meluruskan mitos dan menjelaskan fakta medis NIPT secara jelas dan ilmiah.
Mitos Umum tentang NIPT yang Perlu Diluruskan
Dalam beberapa tahun terakhir, NIPT semakin banyak digunakan dalam skrining prenatal karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang tinggi dibandingkan skrining tradisional.
Namun, adanya kesalahpahaman mengenai penggunaannya sering kali menyebabkan ibu hamil bingung dalam mengambil keputusan yang tepat. Artikel ini merangkum mitos umum yang beredar dan fakta medis berdasarkan bukti ilmiah.
1. NIPT hanya untuk ibu hamil berisiko tinggi
Beberapa orang percaya NIPT hanya relevan untuk ibu dengan risiko tinggi seperti usia >35 tahun. Padahal, secara klinis NIPT semakin digunakan secara luas dalam populasi umum karena dapat memberikan skrining dini terhadap trisomi umum pada janin tanpa perlu masuk dalam kategori risiko tinggi saja.
Banyak panduan internasional kini merekomendasikan NIPT sebagai opsi skrining awal bagi semua ibu hamil setelah konseling medis.
2. NIPT bisa menggantikan semua pemeriksaan kehamilan
Salah kaprah lainnya adalah menganggap NIPT bisa menggantikan semua pemeriksaan prenatal lain seperti USG atau tes darah konvensional.
Faktanya, NIPT adalah screening bukan diagnosis lengkap; pemeriksaan lain tetap diperlukan untuk menilai kesehatan janin secara keseluruhan. USG tetap berperan penting untuk menilai pertumbuhan, anatomi, dan kondisi struktural janin yang tidak dapat dideteksi oleh NIPT.
3. NIPT berbahaya bagi janin
Karena namanya terdengar seperti pemeriksaan invasif, banyak yang khawatir pemeriksaan ini membahayakan janin. Sesungguhnya, NIPT hanya memerlukan sampel darah ibu sehingga tidak menimbulkan risiko langsung bagi janin seperti prosedur invasif (misalnya amniosentesis).
Inilah alasan NIPT sering dipilih sebagai alternatif awal sebelum mempertimbangkan tindakan diagnostik invasif.
4. NIPT pasti memberikan hasil diagnosis
Banyak yang keliru berpikir bahwa hasil NIPT bisa langsung menjadi diagnosis pasti atas kelainan kromosom. Padahal, NIPT hanya menunjukkan kemungkinan risiko. Hasil positif tetap perlu konfirmasi dengan tes diagnostik seperti amniosentesis atau CVS.
Pendekatan ini penting untuk mencegah kesimpulan medis yang keliru dan keputusan klinis yang terlalu dini.
5. NIPT tidak perlu jika USG normal
USG melihat struktur dan anatomi janin, tetapi tidak optimal untuk deteksi kelainan kromosom. Sebaliknya, NIPT melihat DNA janin di dalam darah ibu untuk menilai risiko genetik, sehingga kedua pemeriksaan ini saling melengkapi.
Kombinasi USG dan NIPT justru memberikan gambaran kesehatan janin yang lebih komprehensif.
Fakta Medis tentang Pemeriksaan NIPT
Pemeriksaan NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing) didukung oleh banyak penelitian ilmiah internasional sebagai metode skrining prenatal yang aman dan akurat. Meski demikian, pemahaman yang tepat tentang fungsi dan keterbatasan NIPT sangat penting agar hasil pemeriksaan dapat dimaknai secara benar bersama tenaga medis.
NIPT sebagai tes skrining bukan diagnosis
NIPT memang memiliki akurasi tinggi untuk mendeteksi trisomi seperti Down Syndrome (Trisomi 21), tetapi tetap dikategorikan sebagai tes skrining yang memberikan risiko atau kemungkinan, bukan diagnosis final.
Hasil NIPT tidak dimaksudkan untuk menetapkan kepastian medis, melainkan untuk mengidentifikasi kehamilan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan. Oleh karena itu, setiap hasil dengan risiko tinggi perlu dikonfirmasi melalui tes diagnostik invasif.
NIPT menggunakan sampel darah ibu
Prosedurnya sederhana: sampel darah ibu diambil untuk dianalisis DNA janin yang bebas beredar (cell-free DNA). Tidak ada tindakan invasif terhadap janin sehingga risiko medis sangat rendah.
Pengambilan darah ini umumnya dapat dilakukan mulai usia kehamilan tertentu sesuai rekomendasi medis. Keamanan prosedur menjadi salah satu keunggulan utama NIPT dibandingkan metode skrining prenatal lainnya.
NIPT membantu menilai risiko kelainan genetik tertentu
NIPT efektif terutama untuk kelainan kromosom utama seperti trisomi 21, 18, dan 13, serta beberapa kelainan kromosom seks. Namun, cakupan tes ini terbatas untuk kondisi-kondisi tertentu saja.
Tidak semua kelainan genetik atau struktural dapat terdeteksi melalui NIPT. Karena itu, pemilihan jenis pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kehamilan dan rekomendasi dokter.
Hasil NIPT perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan lain
Hasil NIPT paling baik jika dipadukan dengan penilaian klinis lain seperti USG atau pemeriksaan biomarker untuk mendapatkan gambaran kesehatan janin yang lebih menyeluruh.
Pendekatan kombinasi ini membantu meningkatkan akurasi penilaian risiko kehamilan. Dokter akan menggunakan seluruh data pemeriksaan untuk menentukan langkah pemantauan atau tindak lanjut yang paling tepat.
Tingkat Akurasi Pemeriksaan NIPT
Secara ilmiah, NIPT menunjukkan tingkat deteksi yang sangat tinggi untuk trisomi 21 (sering kali >99% sensitif dan spesifik), serta akurasi baik untuk trisomi 18 dan 13. Meski demikian, akurasi dapat dipengaruhi oleh faktor seperti jumlah DNA janin dalam darah ibu, usia kehamilan saat tes dilakukan, atau kondisi medis tertentu.
Namun, karena NIPT tetap merupakan screening, masih mungkin terjadi false positive atau false negative, sehingga konsultasi dengan dokter atau konselor genetik tetap penting untuk interpretasi hasil dan langkah lanjutan.
Keamanan Prosedur NIPT bagi Ibu dan Janin
Pemeriksaan NIPT dikenal sebagai metode skrining prenatal yang aman bagi ibu maupun janin. Prosedur ini hanya melibatkan pengambilan sampel darah ibu tanpa intervensi langsung ke dalam rahim.
Berbeda dengan prosedur diagnostik invasif, NIPT tidak meningkatkan risiko keguguran atau komplikasi kehamilan. Efek samping yang mungkin muncul umumnya ringan dan serupa dengan pengambilan darah biasa, seperti nyeri ringan di area suntikan. Oleh karena itu, NIPT sering direkomendasikan sebagai pilihan awal skrining sebelum mempertimbangkan pemeriksaan invasif.
Jika Anda ingin melakukan pemeriksaan NIPT dengan pendampingan dokter berpengalaman dan fasilitas medis yang terpercaya, Klinik Granostic Surabaya siap membantu Anda.
Dengan layanan yang profesional, teknologi pemeriksaan terkini, serta konsultasi yang komprehensif, Klinik Granostic Surabaya berkomitmen mendampingi setiap ibu hamil dalam mengambil keputusan terbaik bagi kesehatan ibu dan janin.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dan jadwalkan pemeriksaan NIPT Anda di Klinik Granostic Surabaya.
FAQ Seputar Mitos dan Fakta NIPT
Seiring meningkatnya penggunaan NIPT, masih banyak pertanyaan yang muncul di kalangan ibu hamil mengenai manfaat dan keterbatasannya. Informasi yang tidak tepat dapat mempengaruhi pengambilan keputusan selama kehamilan.
Karena itu, penting memahami jawaban berbasis medis dari pertanyaan yang paling sering diajukan. Berikut beberapa FAQ yang sering muncul terkait mitos dan fakta pemeriksaan NIPT.
Apakah NIPT wajib untuk semua ibu hamil?
NIPT bukan pemeriksaan wajib bagi semua ibu hamil. Tes ini bersifat pilihan dan dilakukan berdasarkan pertimbangan medis serta kebutuhan masing-masing individu. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menentukan apakah NIPT sesuai dengan kondisi kehamilan.
Apakah NIPT bisa salah?
Meskipun memiliki tingkat akurasi tinggi, NIPT tetap berpotensi memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. Faktor seperti jumlah cell-free DNA janin dan kondisi biologis tertentu dapat mempengaruhi hasil. Oleh karena itu, hasil NIPT harus diinterpretasikan oleh tenaga medis berpengalaman.
Apakah hasil NIPT perlu tes lanjutan?
Hasil NIPT dengan risiko tinggi tidak dapat langsung dijadikan diagnosis pasti. Tes lanjutan seperti amniosentesis atau CVS diperlukan untuk memastikan adanya kelainan kromosom. Pemeriksaan lanjutan ini membantu memberikan kepastian diagnosis sebelum pengambilan keputusan medis.
Apakah NIPT bisa dilakukan lebih dari sekali?
Secara medis, NIPT dapat dilakukan lebih dari sekali bila ada indikasi tertentu. Namun, pengulangan tes biasanya tidak rutin dan harus berdasarkan rekomendasi dokter. Penilaian ulang dilakukan jika hasil sebelumnya tidak konklusif atau terdapat perubahan kondisi kehamilan.
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Taylor-Phillips, S., Freeman, K., Geppert, J., Agbebiyi, A., Uthman, O. A., Madan, J., Clarke, A., & Quenby, S. (2016). Accuracy of non-invasive prenatal testing using cell-free DNA for detection of Down, Edwards and Patau syndromes: A systematic review and meta-analysis. Diakses 2026.
- Pang, Y., Wang, C., Tang, J., Zhu, J., Chen, Y., Zhang, J., & Xu, Z. (2021). Clinical application of non-invasive prenatal testing in the detection of fetal chromosomal diseases. Diakses 2026.
- Yu, T., Xu, X., Wei, Q., Zhang, W., Liu, X., Jin, J., Qian, Y., & Dong, M. (2024). Non-invasive prenatal testing: Advances, clinical performance, and limitations. Diakses 2026.
- Liang, D., Cram, D. S., Tan, H., Linpeng, S., Liu, Y., Sun, H., Zhang, Y., Tian, F., Zhu, H., Xu, M., Wang, H., & Zhao, Y. (2020). Clinical utility of non-invasive prenatal screening for expanded chromosome abnormalities. Diakses 2026.
- Jayashankar, S. S., Nasaruddin, M. L., Hassan, M. F., Dasrilsyah, R. A., Shafiee, M. N., Ismail, N. A. S., & Alias, E. (2023). Non-invasive prenatal testing (NIPT): Reliability, challenges, and future directions. Diakses 2026.
- Motevasselian, M., Omrani, M. A., Saleh Gargari, S., Younesi, S., Taheri Amin, M. M., Jamali, S., Modarresi, M.-H., & Ghafouri-Fard, S. (2024). Performance of cell-free DNA as a screening tool based on first-trimester screening results. Diakses 2026.
- Zhang, Y., Li, J., Li, X., Wang, Y., Chen, Y., & Xu, Z. (2023). Expanded non-invasive prenatal testing for fetal aneuploidy and copy number variations. Diakses 2026.

