Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Kenali Penularan Herpes Tanpa Gejala yang Wajib Diketahui

Penularan Herpes Tanpa Gejala

Herpes Zoster atau lebih dikenal sebagai cacar ular, merupakan infeksi virus yang disebabkan oleh reaktivasi virus Varicella zoster, virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Meski umumnya Herpes Zoster dikenal karena gejala khas berupa ruam melepuh dan nyeri hebat, tahukah Anda bahwa virus ini juga bisa menular meski tidak menunjukkan gejala yang jelas?

Fenomena Herpes Zoster tanpa gejala kerap tidak disadari oleh penderitanya. Virus dapat hidup di dalam tubuh dalam kondisi laten dan tidak menimbulkan tanda-tanda fisik. Namun dalam kondisi tertentu, virus bisa menyebar atau menular kepada orang lain khususnya mereka yang belum pernah terkena cacar air atau belum divaksin.

Lalu, bagaimana cara Herpes Zoster bisa menyebar tanpa gejala, dan bagaimana mencegahnya? Berikut penjelasan lengkap dari Granostic.

Mengapa Herpes Zoster Bisa Menular Tanpa Gejala?

Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus Varicella zoster tidak hilang sepenuhnya dari tubuh. Virus ini tetap berdiam di dalam sistem saraf dan dapat kembali aktif di kemudian hari sebagai Herpes Zoster.

Saat berada dalam kondisi laten, virus tidak menyebabkan ruam atau keluhan apa pun. Namun, pada sebagian orang, virus ini bisa mengalami "subklinis reaktivasi", yaitu aktif kembali tanpa menimbulkan gejala yang terlihat secara fisik. Dalam kondisi ini, seseorang berpotensi menyebarkan virus tanpa mengetahui dirinya sebagai pembawa virus aktif.

Penularan paling mungkin terjadi pada orang dengan imunitas rendah atau pada individu yang belum memiliki kekebalan terhadap Varicella zoster (misalnya bayi, anak-anak, atau orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air dan belum divaksin).

Jenis Penularan Herpes Zoster Tanpa Gejala

1. Kontak Langsung dengan Lesi Tak Terlihat

Pada beberapa kasus, reaktivasi virus terjadi dengan gejala sangat ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Namun, virus tetap bisa keluar melalui kulit atau saluran napas, meskipun tidak tampak jelas. Kontak langsung dengan bagian tubuh yang tampak sehat tapi mengandung virus aktif bisa menyebabkan penularan.

2. Partikel Udara dan Droplet

Meski lebih jarang, pada fase awal atau subklinis, virus Varicella zoster juga dapat menyebar melalui droplet (percikan air liur) atau partikel udara. Risiko ini terutama berlaku di lingkungan tertutup, seperti rumah sakit atau rumah dengan ventilasi buruk.

Melansir dari CDC, penyebaran virus penyebab herpes zoster ini juga dapat terjadi ketika seseorang dengan tidak sengaja menghirup virus dari luka lepuhan. Jadi, hindari untuk mengendus atau mencium aroma dari luka herpes atau cacar Anda.

3. Kontaminasi Benda

Meski jarang, virus juga bisa bertahan di permukaan benda dalam waktu singkat. Kontak dengan benda yang terkena cairan dari luka melepuh yang belum terlihat bisa menjadi media penularan, terutama bagi orang dengan kekebalan tubuh rendah.

Siapa yang Paling Rentan Tertular?

Meski tidak semudah HSV-1 dan HSV-2, virus penyebab herpes zoster masih dapat disebarkan melalui kontak langsung dengan cairan dari luka ruam yang ditimbulkannya. Risiko penularan juga akan semakin tinggi jika seseorang tersebut termasuk dalam kelompok rentan.

Nah, siapa saja yang termasuk dalam kelompok rentan tersebut? Berikut penjelasannya, Sobat!

Orang yang Belum Pernah Terkena Cacar Air

Jika seseorang belum pernah terkena cacar air sebelumnya, dapat diartikan bahwa tubuhnya belum memiliki antibodi untuk melawan virus varicella-zoster. Sehingga ketika terpapar virus herpes untuk pertama kalinya, sistem imun tubuh akan memperlakukannya seperti infeksi baru, yang membuat penularan lebih mudah.

Namun, dalam banyak kasus, infeksi virus ini akan membuat penderitanya mengalami cacar air terlebih dahulu, bukan langsung herpes zoster. Menurut CDC, sekali tubuh mengalami cacar air, virus ini dapat menetap di dalam sistem saraf dan aktif kembali di kemudian hari menjadi herpes zoster.

Orang yang Belum Menerima Vaksin Varicella atau Shingrix

Peranan vaksinasi sangatlah penting dalam pencegahan penularan penyakit, termasuk penyebaran virus Varicella-zoster, yang juga menjadi penyebab cacar air dan herpes zoster.

Vaksin varicella merupakan jenis vaksinasi untuk mencegah cacar air, uag umumnya diberikan pada anak-anak. Sementara vaksin shingriz diberikan pada orang dewasa dan anak-anak muda dengan daya tahan tubuh lemah karena kondisi medis tertentu.

Lansia Berusia 50 Tahun atau Lebih

Lansia juga termasuk kelompok orang yang rentan tertular virus herpes zoster, karena daya tahan tubuh mereka yang menurun secara alami. Melansir dari CDC, orang-orang yang berusia lebih dari 50 tahun pun sangat direkomendasikan untuk mendapatkan vaksinasi shingrix.

Vaksinasi ini tak hanya dapat mencegah penularan, namun dapat meminimalisir gejala yang ditimbulkan saat kekambuhan atau ketika virus kembali aktif. Juga mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.

Pasien dengan Imunokompromi

Pada orang-orang yang memiliki kondisi imunokompromi, juga termasuk dalam kelompok yang rentan tertular virus herpes zoster. Sebab kondisi ini menyebabkan sistem imun tubuh melemah dan tidak dapat bekerja secara normal dalam melawan infeksi penyakit.

Imunokompromi sering dialami oleh pasien HIV/AIDS, kanker, atau pasien yang sedang mengalami pengobatan imunosupresif. CDC juga menekankan bahawa kelompok ini harus mendapatkan perhatian khusus dalam pencegahan, termasuk melalui vaksinasi Shingrix bila memungkinkan.

Tenaga Medis yang Merawat Pasien Herpes Zoster

Mereka yang bekerja di bidang kesehatan, terutama yang sering merawat pasien dengan ruam aktif herpes zoster, juga memiliki risiko lebih tinggi tertular, terutama jika belum pernah terkena cacar air atau belum divaksinasi. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan luka lepuh atau cairan dari kulit pasien yang terinfeksi.

Meski umumnya tenaga medis sudah terlindungi oleh prosedur standar (seperti menggunakan sarung tangan dan APD), namun risiko tetap ada. Sobat yang bekerja sebagai tenaga medis juga disarankan untuk mendapatkan vaksinasi jika mereka belum memiliki kekebalan terhadap varicella-zoster.

Tujuannya tentu agar tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga pasien lain yang sedang mereka rawat, khususnya pasien dengan sistem kekebalan lemah.

Herpes Zoster Tanpa Gejala: Bahaya yang Terlupakan

Karena tidak menunjukkan gejala fisik, banyak penderita tidak menyadari bahwa dirinya bisa menjadi sumber penularan. Ini bisa sangat berisiko bagi orang-orang di sekitar yang belum memiliki kekebalan terhadap Varicella zoster.

Bahkan ketika gejala Herpes Zoster tidak tampak, risiko komplikasi jangka panjang seperti neuralgia pascaherpes (PHN) tetap bisa muncul. Ini adalah kondisi nyeri saraf yang berlangsung berbulan-bulan setelah infeksi utama mereda.

Cara Mencegah Penularan Herpes Zoster Tanpa Gejala

1. Vaksinasi Shingrix

Vaksin Shingrix adalah cara paling efektif untuk mencegah Herpes Zoster dan komplikasinya, termasuk pada orang yang tidak menunjukkan gejala. CDC juga menyebutkan bahwa vaksinasi ini dapat membantu melindungi masyarakat dan lansia dari infeksi virus herpes zoster hingga 90% lebih.

Lebih lanjut, CDC juga menekankan bahwa vaksinasi Shingrix sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang termasuk dalam kelompok rentan, misalnya:

Vaksin ini tidak hanya mencegah gejala klinis, tapi juga mengurangi kemungkinan reaktivasi virus secara diam-diam.

2. Edukasi dan Kesadaran

Selain vaksinasi, edukasi dan menumbuhkan kesadaran mengenai herpes zoster juga dapat menjadi langkah pencegahan yang efektif. Ini karena banyak orang yang masih menganggap herpes zoster tidak menular dan meremehkan gejala yang ditimbulkannya. Terlebih, pada beberapa kasus, herpes zoster dapat terjadi tanpa gejala fisik.

Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat juga akan memiliki kesadaran untuk melindungi diri mereka dan menghentikan penularan herpes ke orang-orang di sekitarnya.

3. Hindari Kontak dengan Individu Rentan

Jika Anda pernah mengalami cacar air atau memiliki riwayat herpes zoster, hindarilah kontak langsung dengan bayi, ibu hamil, atau penderita imunodefisiensi, bahkan saat Anda merasa sehat.

Ini karena virus herpes zoster dapat menular lewat cairan dari luka ruam yang Anda alami. Misalnya ketika anak-anak tak sengaja menyentuh atau menggaruk luka tersebut, yang menjadikan lepuhan terpecah dan cairan tertempel pada tangan mereka.

Meski tak serta merta menimbulkan herpes zoster, virus ini dapat memicu cacar air pada anak-anak dan orang-orang yang belum pernah mengalaminya. Yang kemudian, ketika cacar air sembuh, virus tersebut tidak serta merta hilang. Melainkan tinggal di dalam tubuh, tanpa menimbulkan gejala fisik.

Pentingnya Pemeriksaan Dini

Karena herpes zoster bisa berada dalam tubuh kita dan tidak menimbulkan gejala sama sekali, pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk mendeteksi keberadaannya. Granostic Diagnostic Center menyediakan layanan deteksi dini dan konsultasi vaksinasi.
Pemeriksaan dini ini menjadi sangat penting bagi kelompok rentan, seperti:

Layanan pemeriksaan dan deteksi dini herpes zoster di Granostic meliputi:

Kedua prosedur deteksi dini ini dilakukan dengan mengikuti standar operasional yang ditetapkan. Juga diawasi oleh dokter dan tenaga medis berpengalaman, sehingga prosedurnya akan berjalan aman dan efisien.

Hasil dari pemeriksaan ini pun dapat Anda peroleh dalam waktu relatif cepat, serta dapat dengan mudah Anda akses melalui aplikasi atau website resmi Granostic.

Konsultasi Vaksin dan Dokter di Granostic Diagnostic Center

Setelah menyimak bagaimana peluang dan cara penularan herpes meski tidak bergejala di atas, Anda mungkin masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab dengan baik. Misalnya terkait keamanan vaksin, dosis, dan edukasi lengkap lainnya tentang pencegahan penularan herpes.

Kekhawatiran ini dapat Anda atasi dengan berkonsultasi dan memeriksakan kesehatan secara rutin bersama dokter di Granostic Diagnostic Center Surabaya. Bersama tim medis kami, Anda dapat menjalani proses pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh, pelayanan yang ramah, efisien, dan akses informasi kesehatan yang mudah.

Untuk melakukan konsultasi vaksin bersama dokter ahli kami, Anda bisa langsung mendaftar secara online lewat chat WhatsApp di bawah ini, ya!


Ditinjau Oleh:

Dr. Aji Wibowo


Sumber Referensi:

  1. Mehta, S. K., Cohrs, R. J., Schmid, D. S., Gilden, D. H., & Pierson, D. L. (2004). Asymptomatic reactivation and shedding of infectious VZV in astronauts. J Med Virol. Diakses 2025.
  2. Papaevangelou, V., et al. (2013). Subclinical VZV reactivation in immunocompetent children in ICU. Clin Microbiol Infect. Diakses 2025.
  3. Gilden, D. H., et al. (2010). Virologic evidence of VZV reactivation without rash. Curr Top Microbiol Immunol. Diakses 2025.
  4. Rooney, B. V., et al. (2019). Reaktivasi subklinis VZV pada astronaut. Front Microbiol. Diakses 2025.
  5. Kennedy, P. G., et al. (2016). Varicella-zoster virus infection: latency & reactivation. Nat Rev Dis Primers. Diakses 2025.
  6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025). About Shingles (Herpes Zoster). Diakses Juni 2025.
  7. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Shingles Vaccination. Diakses Juni 2025.

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message