Ini Gaya Hidup Tidak Sehat Pemicu NAFLD pada Orang Kurus
.jpg)
Non-Alcoholic fatty liver disease (NAFLD) selama ini selalu dikaitkan dengan obesitas. Tapi tahukah, Sobat, bahwa orang kurus juga memiliki risiko mengembangkan NAFLD karena gaya hidup yang tidak sehat?
Belakangan ini para peneliti mulai meneliti bagaimana NAFLD terjadi pada orang dengan berat badan normal hingga kurus. Berbagai studi mengindikasikan bahwa setidaknya 40% pengidap NAFLD adalah orang-orang non-obesitas dan 20% diantaranya digolongkan sebagai "lean NAFLD" (NAFLD pada orang kurus).
Lantas bagaimana dan mengapa orang kurus bisa terkena NAFLD? Mari simak penjelasan lengkap yang telah dirangkumkan Granostic untukmu berikut ini.
Mengapa Orang Kurus Bisa Terkena NAFLD?
Memahami berbagai penyebab Utama mengapa NAFLD terjadi pada orang kurus adalah Langkah yang krusial. Dengan demikian, kita dapat mengetahui bagaimana pencegahan, perawatan, dan pengobatan yang tepat untuk mengatasi kondisi medis ini.Berikut beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab mengapa lean NAFLD terjadi:
Distribusi Lemak Visceral
Lemak visceral merupakan lemak yang menumpuk dan melekat langsung pada sekitar organ dalam. Lemak ini banyak ditemukan pada rongga perut, yang menempel pada organ seperti pankreas, usus, hingga hati.Tak seperti lemak yang terletak di bawah kulit kita, lemak visceral ini bersifat berbahaya karena dapat menghasilkan zat kimia dan hormone yang meningkatkan risiko berbagai masalah Kesehatan, salah satunya adalah NAFLD.
Pada orang kurus distribusi lemak visceral ini juga bisa lebih tinggi daripada orang gemuk. Misalnya, orang kurus tampak lebih ramping karena lemak di Bawah kulit yang sedikit. Namun, lemak visceral (yang berada di perut) bisa tetap tinggi, yang bisa ditandai dengan perut buncit dan sejenisnya. Hal ini membuat orang kurus memiliki risiko yang sama besarnya untuk mengembangkan NAFLD.
Gaya Hidup Tidak Sehat
Distribusi lemak visceral yang terpusat pada perut dan pinggang ini juga dapat terjadi karena gaya hidup yang tak sehat. Melansir dari Global Liver, dikatakan bahwa diet tak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan mengonsumsi produk tinggi gula dan kolesterol bisa meningkatkan risiko perkembangan NAFLD pada orang kurus.Faktor Genetik dan Metabolik
Selain gaya hidup, orang kurus dapat mengembangkan NAFLD karena faktor genetik dan metabolik. Di mana kedua faktor ini juga memiliki peranan yang sangat besar pada kasus lean NAFLD.Masih dari Global Liver, jika ditinjau dari kelompok etnisnya, orang India Asia yang kurus, non-alkohol, non-diabetes, dan non-perokok, memiliki risiko dua kali lebih tinggi mengembangkan NAFLD. Fenomena ini juga berkaitan dengan status metabolik yang lebih buruk.
Faktor Risiko NAFLD pada Orang Kurus
Selain dari ketiga penyebab utama yang telah disebutkan sebelumnya, orang kurus juga berpotensi besar mengembangkan NAFLD bila mereka memiliki beberapa faktor risiko berikut ini:Dislipidemia
Dislipidemia adalah kondisi ketika kadar lemak dalam darah seperti kolesterol LDL (jahat), kolesterol HDL (baik), atau trigliserida, yang tidak berada pada level yang sehat. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko NAFLD, bahkan pada orang yang tubuhnya terlihat ramping.Pada orang kurus, dislipidemia seringkali muncul tanpa gejala. Lemak dalam darah yang tinggi akan disimpan dalam berbagai jaringan tubuh, termasuk hati. Jika penumpukan ini terus terjadi, hati bisa mengalami perlemakan meskipun berat badan tidak naik drastis.
Menurut jurnal Hepatology, sekitar 20% pasien NAFLD tidak mengalami obesitas, namun memiliki kelainan profil lipid.
Oleh karena itu, penting bagi siapa pun, tidak hanya orang dengan kelebihan berat badan, untuk secara rutin memeriksakan kadar kolesterol dan trigliserida mereka.
Resistensi Insulin
Resistensi insulin adalah kondisi ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik, sehingga kadar gula darah cenderung meningkat. Meski lebih umum pada penderita diabetes atau obesitas, resistensi insulin juga bisa terjadi pada orang kurus, terutama jika gaya hidup mereka tidak sehat.Masalahnya, insulin tidak hanya mengatur gula darah. Ia juga memengaruhi bagaimana lemak disimpan dalam tubuh. Ketika insulin tidak bekerja optimal, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak di organ-organ penting seperti hati.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menyebut bahwa resistensi insulin adalah kunci utama dalam perkembangan NAFLD, bahkan tanpa obesitas. Untuk itu, menjaga sensitivitas insulin tetap baik sangat penting, salah satunya dengan pola makan rendah gula dan rutin beraktivitas fisik.
Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi memang lebih dikenal sebagai penyebab stroke dan penyakit jantung. Tapi tahukah Anda bahwa hipertensi juga bisa memperburuk fungsi hati?Tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan stres oksidatif dan peradangan di dalam tubuh, termasuk di organ hati. Peradangan inilah yang kemudian memicu perubahan struktur dan fungsi hati, yang lama-kelamaan bisa menjadi NAFLD. Bahkan pada orang yang tidak mengalami kelebihan berat badan, hipertensi tetap menjadi faktor risiko penting.
Menurut NIDDK, penderita hipertensi dua kali lebih berisiko mengalami kerusakan hati akibat penumpukan lemak, dibandingkan mereka yang tekanan darahnya normal. Maka dari itu, penting untuk menjaga tekanan darah tetap stabil, meskipun tubuh Anda tampak sehat di luar.
Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah kumpulan dari beberapa kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kelebihan lemak di perut, dan kelainan kadar kolesterol. Bahkan jika Anda hanya memiliki satu atau dua dari komponen tersebut, risiko terkena NAFLD tetap meningkat, meski berat badan Anda termasuk normal.Beberapa orang dengan tubuh kurus ternyata memiliki distribusi lemak yang tidak seimbang, khususnya di area perut (visceral fat). Lemak jenis ini lebih aktif secara metabolik dan sangat berisiko menyebabkan kerusakan hati.
World Health Organization (WHO) juga menyebut bahwa lingkar pinggang yang besar adalah indikator risiko metabolik, tak peduli angka berat badan Anda. Maka dari itu, penting untuk memantau kondisi tubuh secara menyeluruh, bukan hanya melihat angka timbangan saja.
Kurang Tidur
Kualitas tidur yang buruk ternyata juga bisa berkontribusi terhadap perkembangan NAFLD. Saat tubuh kekurangan tidur, terjadi gangguan pada sistem metabolisme, termasuk metabolisme glukosa dan lemak. Ini bisa menyebabkan resistensi insulin, meningkatkan kadar kortisol, dan memperparah peradangan dalam tubuh.Beberapa studi yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews menunjukkan bahwa kurang tidur (kurang dari 6 jam per malam) berkaitan dengan peningkatan risiko NAFLD, bahkan pada orang tanpa obesitas. Apalagi jika pola tidurnya terganggu dalam jangka panjang.
Agar tubuh dan hati Anda tetap sehat, usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam, dan hindari begadang atau pola tidur tidak teratur.
Mekanisme Terjadinya NAFLD pada Orang Kurus
Setelah memahami penyebab dan faktor risiko seseorang dengan berat badan normal, bahkan cenderung kurus, mengembangkan NAFLD. Sobat mungkin masih bertanya-tanya, bagaimana kondisi ini bisa terjadi?Pada bagian ini, Granostic akan menjelaskan bagaimana mekanisme terjadinya NAFLD pada orang kurus. Simak, ya!
1. Penumpukan Lemak Visceral
NAFLD pada orang kurus terjadi karena penumpukan lemak visceral yang berada di area perut, yang juga dapat menimbulkan menumpuknya lemak pada organ hati. Penumpukan ini dapat meningkatkan peradangan dan resistensi insulin, yang kemudian menyebabkan berbagai masalah atau kerusakan hati.2. Disfungsi Mitokondria
Disfungsi mitokondria juga memiliki peranan signifikan dalam pengembangan NAFLD. Khususnya dalam meningkatkan stress oksidatif dan defisit energi yang disebabkan oleh masuknya asam lemak berlebihan ke dalam hepatosit.Perubahan ini mengganggu fungsi normal mitokondria, termasuk produksi energi dan mekanisme antioksidan, yang dapat berkontribusi lebih lanjut pada kerusakan hati.
3. Stres Oksidatif
Ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan tubuh untuk menetralkannya dengan antioksidan disebut sebagai stress oksidatif. Kondisi ini juga menjadi pemicu dan mendukung perkembangan NAFLD pada orang bertubuh kurus.Sebab ketidakseimbangan ini dapat berpengaruh pada fungsi mitokondria dan endoplasmic reticulum (ER) stress, yang kemudian dapat menyebabkan perkembangan NAFLD ke non-alcoholic steatohepatitis (NASH).
4. Peradangan Kronis
Penumpukan lemak pada hati dapat menimbulkan peradangan kronis, yang kemudian dapat berkembang menjadi NAFLD. Jika peradangan ini tidak ditangani segera, dapat mengembangkan penyakit ke dalam bentuk yang lebih serius.Diagnosis NAFLD pada Orang Kurus
1. Pemeriksaan Laboratorium
Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati adalah pemeriksaan darah yang digunakan untuk melihat seberapa baik kinerja hati Anda. Pemeriksaan ini mengukur kadar enzim dan protein tertentu, seperti ALT (alanine aminotransferase), AST (aspartate aminotransferase), dan bilirubin. Jika nilai-nilai ini meningkat, bisa menjadi tanda adanya peradangan atau kerusakan pada sel-sel hati.Bagi orang kurus yang dicurigai mengalami NAFLD, tes ini menjadi langkah awal yang sangat penting. Pasalnya, NAFLD pada orang kurus sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga tes darah menjadi salah satu indikator utama untuk mendeteksi masalah sejak dini. Hasil dari tes ini juga membantu dokter memantau perkembangan penyakit dan menilai respon terhadap pengobatan.
Profil Lipid
Tes profil lipid dilakukan untuk memeriksa kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida dalam darah. Ketidakseimbangan kadar lemak darah bisa menjadi faktor pemicu NAFLD, bahkan pada orang yang tidak mengalami obesitas.Banyak kasus NAFLD pada orang kurus terjadi karena mereka memiliki trigliserida tinggi atau kadar HDL yang rendah, meskipun berat badan terlihat normal. Oleh karena itu, pemeriksaan ini penting untuk menilai risiko metabolik yang bisa memperburuk kondisi hati.
Dengan mengetahui profil lipid secara lengkap, dokter bisa menyarankan perubahan gaya hidup atau terapi untuk menurunkan risiko komplikasi lebih lanjut.
2. Pemeriksaan Pencitraan
Ultrasonografi (USG) Abdomen
USG abdomen adalah salah satu tes pencitraan non-invasif yang sering digunakan untuk mendeteksi adanya penumpukan lemak di hati. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar organ-organ dalam perut, termasuk hati.Bagi orang kurus, USG sangat berguna untuk mendeteksi perubahan struktur hati, terutama ketika hasil tes darah menunjukkan kelainan. Meskipun USG tidak bisa menilai tingkat kerusakan hati secara mendalam, ia cukup efektif untuk memantau progres penyakit dan mendeteksi tanda-tanda awal steatosis (penumpukan lemak).
FibroScan
FibroScan atau elastografi transient adalah pemeriksaan yang lebih canggih dibanding USG. Alat ini dapat mengukur kekakuan hati dan tingkat perlemakan dengan lebih akurat tanpa perlu pembedahan. Kekakuan hati biasanya meningkat jika ada fibrosis (jaringan parut) akibat NAFLD yang sudah berkembang.Pada orang kurus yang mengalami NAFLD tipe ringan hingga sedang, FibroScan bisa membantu dokter menentukan apakah penyakit sudah berkembang ke tahap lebih serius seperti steatohepatitis atau sirosis. Pemeriksaan ini nyaman, cepat, dan hasilnya bisa langsung digunakan untuk menyusun rencana terapi.
3. Biopsi Hati
Biopsi hati merupakan prosedur medis di mana sampel kecil jaringan hati diambil menggunakan jarum halus, lalu dianalisis di laboratorium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan jika hasil tes darah dan pencitraan tidak bisa memberikan diagnosis yang pasti, atau jika dokter mencurigai adanya kerusakan hati tingkat lanjut.Pada pasien kurus dengan NAFLD, biopsi sangat penting untuk membedakan antara hati berlemak biasa dan steatohepatitis non-alkohol (NASH), yaitu kondisi yang sudah disertai peradangan dan kerusakan sel hati. Biopsi juga satu-satunya cara yang dapat memastikan sejauh mana jaringan hati mengalami fibrosis atau sirosis.
Meski termasuk prosedur invasif, biopsi hati tetap aman jika dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dan bisa memberikan informasi yang sangat akurat untuk menentukan arah pengobatan.
Pengobatan NAFLD pada Orang Kurus
1. Perubahan Gaya Hidup
Pola Makan Sehat
Gaya hidup memiliki peranan penting dalam perkembangan NAFLD pada orang kurus, apalagi yang berkaitan dengan pola makan. Karena itu, sebagai upaya penyembuhan dan pemulihan NAFLD pada orang kurus, perubahan pola makan yang sehat menjadi langkah yang perlu dilakukan.Anda dapat mulai mengonsumsi makanan yang kaya buah, sayuran, dan makanan dengan protein sehat. Sebaliknya, hindari makanan mengandung gula dan garam yang tinggi, karena keduanya dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan hipertensi yang sangat berkaitan erat dengan NAFLD.
Aktivitas Fisik
Menjadi aktif secara fisik tak hanya sebagai bagian dari upaya pencegahan NAFLD, namun juga dapat membantu pemulihan fungsi hati. Buat target mingguan setidaknya 150 menit per minggunya.Akan tetapi bila Anda sebelumnya tidak olahraga secara teratur, Anda dapat memulainya secara perlahan dan konsultasikan dengan dokter mengenai olahraga yang ideal sesuai kebutuhan Anda.
Tidur Cukup
Tidur yang tidak berkualitas dan tidak cukup juga dapat meningkatkan faktor risiko NAFLD pada orang kurus. Karena itu, Anda bisa menjaga durasi tidur yang ideal dan meningkatkan kualitas istirahat malam Anda dengan rutinitas yang menenangkan.2. Pengelolaan Kondisi Terkait
Kontrol Gula Darah
Pengobatan NAFLD juga dapat dilakukan dengan mengontrol kondisi terkait, misalnya diabetes tipe 2. Penyakit ini bisa menyebabkan resistensi insulin yang berperan penting dalam pengembangan NAFLD.Karena itu, sebagai upaya pengobatan Anda dapat mengontrol kadar gula darah secara teratur. Misalnya dengan mengurangi makanan atau minuman manis, menghindari makanan kemasan, juga melakukan pengecekan gula darah secara berkala.
Pengelolaan Dislipidemia
Dislipidemia juga perlu dikelola dengan baik, agar NAFLD juga lebih mudah diatasi. Prosedur ini dapat Anda lakukan bersama dokter, juga disertai dengan berbagai perubahan gaya hidup sehat untuk menjadi lebih baik. Mulai dari mengonsumsi makanan yang sehat, olahraga secara teratur, berhenti merokok, hingga manajemen stress dan melakukan terapi obat-obatan.Kontrol Tekanan Darah
Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, juga sangat berkaitan dengan NAFLD. Karena itu, untuk memaksimalkan proses penyembuhan dan mencegah komplikasi, Anda perlu mengontrol tekanan darah Anda dengan baik. Diet sehat, berolahraga, dan obat-obatan tertentu dapat membantu menjaga tekanan darah Anda dalam angka normal.3. Obat-obatan
Sobat Granostic, hingga kini belum ada obat-obatan yang secara spesifik dapat mengatasi NAFLD. Sehingga obatan-obatan yang diberikan oleh dokter berpusat pada keluhan yang dirasakan oleh pasien.Akan tetapi Mayo Clinic menyebutkan, bahwa beberapa studi menjelaskan bahwa suplemen atau komponen natural dapat membantu memaksimalkan proses penyembuhan hati dari NAFLD. Misalnya, konsumsi vitamin E yang tinggi antioksidan dapat membantu melindungi hati dengan mengurangi serta menghalau kerusakan akibat radikal bebas.
Konsultasi Medis di Granostic Diagnostic Center Surabaya
Sobat Granostic, setelah membaca uraian di atas, Anda pasti sudah memeroleh jawaban mengapa dan bagaimana orang dengan berat badan normal (bahkan kurus) dapat mengembangkan NAFLD.Sayangnya, kondisi ini tidak mudah terdeteksi secara fisik, bahkan NAFLD juga tidak menunjukkan gejala yang khas. Dengan demikian deteksi dini NAFLD dapat dilakukan lewat melakukan konsultasi dan pemeriksaan medis secara teratur.
Soal ini, Granostic Diagnostic Center Surabaya dapat menjadi jawaban untuk Anda, Sobat!
Granostic dapat memberikan layanan pemeriksaan terlengkap yang membantu Anda dalam mendeteksi NAFLD sedini mungkin, seperti:
Pemeriksaan Laboratorium
Prosedur pemeriksaan NAFLD di Granostic dimulai dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, seperti tes darah lengkap, tes profil lipid, tes hipertensi dan diabetes, dan banyak lainnya.USG Abdomen
Selain pemeriksaan laboratorium, untuk mendiagnosis NAFLD dilakukan juga tes pencitraan seperti USG abdomen. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk menyimak kondisi organ dalam perut Anda dengan lebih detail.Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Untuk melengkapi prosedur deteksi dini tersebut, Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Bersama dokter Granostic, Anda dapat mendiskusikan keluhan terkait NAFLD, faktor risiko, dan membuat perencanaan perawatan serta pengobatan yang paling ideal dengan kondisi Anda.Sobat Granostic, bila Anda merasa sehat tapi memiliki faktor risiko seperti kadar kolesterol tinggi, riwayat keluarga penyakit hati, atau kebiasaan pola makan kurang sehat, maka melakukan skrining NAFLD sedini mungkin adalah langkah bijak.
Granostic Diagnostic Center Surabaya menyediakan layanan pemeriksaan hati lengkap, mulai dari Tes darah, USG, Biopsi Hati (PA), dengan tenaga medis profesional dan hasil akurat. Pemeriksaan ini bisa menyelamatkan fungsi hati Anda sejak dini.
Yuk, jadwalkan pemeriksaan sekarang dan jaga hati tetap sehat bersama Granostic!
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Global Liver Institute. (2024). The Quiet Threat of Fatty Liver in Lean Individuals. Diakses 2025.
- Mayo Clinic. (2024). Nonalcoholic fatty liver disease: Diagnosis and treatment. Diakses 2025.
- Younossi, Z. M., Golabi, P., de Avila, L., Paik, J. M., Srishord, M., Fukui, N., & Qazi, T. (2020). The global epidemiology of NAFLD and NASH in patients with type 2 diabetes: A systematic review and meta-analysis. Journal of Hepatology, 71(4), 793–801. Diakses 2025.
- Mayo Clinic. (2024). Understanding lean NAFLD: Results from a population-based study. Diakses 2025.
- American Gastroenterological Association (AGA). (2024). New Clinical Practice Update: NAFLD Management for Lean Patients. Diakses 2025.

