Apa Itu Pneumonia? Simak Penjelasan Lengkapnya Disini!

Tahukah Sobat Granostic, bahwa kasus kematian akibat pneumonia di Indonesia meningkat hingga tiga kali lipat pada 2024 lalu? Bahkan penyakit ini tidak hanya menyerang orang dewasa atau lansia, namun juga anak-anak dan balita.
Melansir dari CNN Indonesia, pada tahun 2024 lalu, angka kematian akibat pneumonia mencapai 188 jiwa dari 1.278 kasus terdiagnosis. Bahkan per Januari 2025, telah tercatat 105 kasus pneumonia baru dengan jumlah kematian sebanyak 12 jiwa, atau lebih dari 8% dari total kasus.
Anak-anak dan lansia adalah kelompok yang sangat rentan mengembangkan gejala pneumonia yang parah. Karena itu, penting bagi Sobat mengetahui apa itu pneumonia, jenis-jenisnya, serta bagaimana cara pencegahan dan pengobatannya yang tepat.
Berikut rangkuman lengkap yang diberikan Granostic soal pneumonia untuk Anda. Simak, yuk!
Pengertian Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit paru-paru yang terjadi akibat infeksi bakteri, virus, ataupun fungi (jamur). Kondisi ini menyebabkan jaringan di paru-paru membengkak atau mengalami peradangan, kemudian menyebabkan munculnya cairan atau nanah di paru-paru penderitanya.Penyakit ini dapat menyerang salah satu sisi paru-paru, atau keduanya sekaligus. Jika terjadi pada kedua paru-paru, maka kondisi ini disebut pneumonia bilateral atau pneumonia ganda. Keduanya memiliki penanganan yang berbeda, karena tingka keparahan gejala dan risiko komplikasinya juga berbeda.
Prevalensi Pneumonia di Dunia dan Indonesia
Global
Pneumonia merupakan penyakit yang terjadi hampir di seluruh penjuru dunia, karena itu prevalensinya secara global juga sangat tinggi.Pada tahun 2021, Clinic Barcelona menyebutkan bahwa pneumonia menjadi penyebab dari 2.5 juta kematian setiap tahunnya di berbagai wilayah dunia. World Health Organization (WHO) pun menyebutkan bahwa pneumonia membunuh lebih dari 808 ribu anak-anak di bawah usia 5 tahun di tahun 2017.
Tak hanya anak-anak, lebih lanjut WHO menjelaskan, lansia juga menjadi kelompok dengan risiko tinggi terinfeksi pneumonia. Karena itu, kampanye dan program vaksinasi pneumonia sangatlah digalakkan di berbagai negara untuk menekan angka penyebaran dan meminimalisir angka kematian akibat kondisi medis ini.
Indonesia
Telah kita singgung sebelumnya, bahwa kasus pneumonia di Indonesia mengalami peningkatan di tahun 2024. Bahkan angka kasus kematian akibat pneumonia bisa mencapai 188 jiwa di tahun tersebut.Sementara Kementerian Kesehatan Indonesia, juga menyebutkan bahwa laporan dari BPJS di tahun 2023, menunjukkan bahwa pneumonia menjadi penyakit dengan biaya pengobatan yang tertinggi di Indonesia.
Hingga kini prevalensi kasus pneumonia dan kematian yang diakibatkannya masihlah tinggi, bahkan mengalami kenaikan. Karena itu, pemerintah mengupayakan berbagai program kesehatan yang terpadu untuk menekan kasus pneumonia di Indonesia.
Jenis-Jenis Pneumonia
Sobat Granostic, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur. Selain jenis penyebab infeksinya yang berbeda, pneumonia juga dibagi kedalam beberapa jenis berdasarkan dimana Anda mendapatkannya.Agar lebih jelas, berikut ini beberapa jenis pneumonia yang perlu Anda ketahui, Sobat.
1. Pneumonia Komunitas (Community-Acquired Pneumonia)
Tipe pneumonia ini terjadi Ketika seseorang terinfeksi di luar area rumah sakit, atau tidak karena menggunakan fasilitas perawatan rumah sakit dalam jangka waktu lama. Pneumonia komunitas ini bisa menular lewat kontak dengan orang lain yang mengidapnya, menghirup droplet yang terinfeksi bakteri, atau berbagai rute penyebaran infeksi lainnya dalam komunitas/kelompok masyarakat.2. Pneumonia Rumah Sakit (Hospital-Acquired Pneumonia)
Disebut juga sebagai hospital-acquired pneumonia karena pneumonia ini menjangkit penderitanya ketika mereka berada di rumah sakit. Melansir dari WebMD.com, kondisi ini bisa bersifat sangat serius karena bakteri penyebab pneumonia dapat resisten terhadap antibiotik.Anda dapat terinfeksi pneumonia di rumah sakit bila Anda dalam situasi atau kondisi berikut ini:
- Menggunakan alat bantu pernapasan;
- Tidak dapat batuk cukup kuat untuk membersihkan paru-paru;
- Sistem imun jadi menurun karena kondisi medis tertentu atau perawatan medis yang dijalani selama di rumah sakit.
3. Pneumonia Aspirasi
Pneumonia aspirasi merupakan tipe pneumonia terjadi karena penderitanya menghirup atau menyedot benda lain selain udara ke dalam saluran pernapasannya. Benda lain ini termasuk makanan, cairan, saliva, asam lambung, muntahan, atau bahkan benda asing yang sangat kecil.4. Pneumonia "Walking" (Atypical Pneumonia)
Terkadang disebut juga sebagai 'atypical' pneumonia, tipe ini tergolong memiliki gejala yang lebih ringan daripada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Walking pneumonia, menurut WebMD.com, dapat menimbulkan gejala yang serupa dengan flu.Jenis pneumonia ini juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur yang masuk ke dalam paru-paru penderitanya. Perbedaan utama dari walking pneumonia dengan jenis lainnya adalah terletak pada tingkat keparahan gejalanya, yang proses perawatan atau pengobatannya tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit maupun bed rest.
Penyebab Pneumonia
Selain mengetahui apa saja jenis-jenisnya, Sobat Granostic juga perlu tahu apa saja yang menjadi penyebab pneumonia berikut ini:1. Bakteri (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae)
Kebanyakan kasus pneumonia komunitas yang terjadi pada orang-orang dewasa, umumnya terjadi akibat infeksi bakteri pneumonia. Penyebarannya lewat droplet yang terkontaminasi bakteri pneumonia, yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan atau tubuh Anda lewat hidung maupun mulut.Ada dua jenis bakteri yang dapat menyebabkan pneumonia, yakni Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Di mana, jika sistem imun Anda lemah, maka kemungkinan Anda untuk terjangkit bakteri pneumonia ini jadi lebih tinggi.
2. Virus (Influenza, RSV, SARS-CoV-2)
Selain bakteri, pneumonia juga dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti influenza, RSV, dan SARS-CoV-2. Virus juga menjadi penyebab pneumonia paling banyak kedua setelah infeksi bakteri.Selain itu, melansir dari WebMD.com, gejala dari pneumonia yang disebabkan oleh virus ini memiliki kemiripan dengan gejala flu. Mulai dari demam, meriang, batuk kering, hidung tersumbat, nyeri otot, sakit kepala, hingga kelelahan berlebihan.
3. Jamur (Pneumocystis jirovecii, terutama pada individu dengan sistem imun lemah)
Pneumonia juga dapat terjadi berkat infeksi jamur, seperti pneumocytis jirovecii. Infeksi jamur pneumonia ini lebih sering terjadi pada individu dengan sistem imun yang lemah.Anda dapat mengalami pneumonia fungal dengan menghirup partikel kecil Bernama spora jamur. Orang-orang dengan profesi tertentu memiliki risiko lebih tinggi terkena fungal pneumonia, seperti:
- Petani yang bekerja di sekitar kotoran burung, kelelawar, atau binatang pengerat (tikus).
- Tukang kebun yang bekerja mengolah tanah.
- Hingga anggota militer atau pekerja konstruksi yang berada di lingkungan berdebu tinggi.
4. Aspirasi (Masuknya makanan atau cairan ke paru-paru)
Selain karena bakteri, jamur, dan virus, pneumonia juga bisa terjadi akibat masuknya benda-benda asing ke dalam paru-paru. Benda asing ini dapat berupa cairan, makanan, asam lambung, muntahan, dan lainnya.Gejala Pneumonia
Gejala dan tanda-tanda pneumonia bisa berbeda-beda pada tiap individu, bergantung pada tipe dan penyebab infeksi pneumonia, juga kondisi dari penderitanya sendiri.Namun secara umum, berikut ini beberapa gejala pneumonia yang perlu Sobat Granostic ketahui:
- Demam dan menggigil
Demam dan menggigil merupakan gejala utama dari pneumonia, sebagai reaksi tubuh dalam melawan infeksi. Demam yang terjadi akibat pneumonia bisa mencapai suhu 40.55 derajat celcius. - Batuk dengan dahak
Selain demam, pneumonia juga dapat menimbulkan gejala batuk-batuk yang disertai dengan dahak yang berwarna kuning, hijau, atau bahkan disertai dengan darah. - Sesak napas
Pneumonia juga dapat menimbulkan sesak napas karena kantong udara di paru (alveolus) mengalami peradangan akibat infeksi, sehingga paru-paru terisi oleh cairan atau nanah. Peradangan dan penumpukan ini dapat mempersulit pernapasan pasien. - Nyeri dada saat bernapas atau batuk
Peradangan yang terjadi karena pneumonia juga dapat memicu nyeri dada, yang bisa semakin intens ketika penderitanya bernapas atau batuk-batuk. - Kelelahan
Sama halnya dengan kondisi medis lain yang disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa menyebabkan sensasi kelelahan yang tidak biasa. Gejala ini timbul sebagai bagian dari reaksi sistem imun tubuh terhadap infeksi pneumonia, juga jadi akibat dari demam tinggi yang dialami pasien. - Mual atau muntah
Mual dan muntah juga termasuk gejala yang umum terjadi pada penderita pneumonia. Gejala ini dapat timbul karena pneumonia menyebabkan saluran pernapasan, sehingga tubuh bereaksi dengan rasa mual dan muntah. - Diare
Nah, Sobat, tak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan saja, pneumonia juga bisa memicu diare. Gejala ini terjadi terutama bila pneumonia dipicu oleh infeksi bakteri atau virus.
Komplikasi Pneumonia
Meskipun menjalani perawatan dan pengobatan, orang-orang yang terjangkit pneumonia berkemungkinan besar mengembangkan komplikasi, utamanya mereka yang tergolong dalam kelompok berisiko tinggi. Komplikasi akibat pneumonia ini meliputi:- Bakteremia
Bacteremia, atau bakteri dalam aliran darah, terjadi akibat bakteri pneumonia yang ada di paru-paru menyebar melalui pembuluh darah. Hasilnya, infeksi ini pun turut menyebar ke berbagai organ, yang berpotensi menyebabkan gagal organ. - Abses Paru
Komplikasi pneumonia selanjutnya adalah abses paru. Abses ini terjadi jika nanah terbentuk di rongga paru-paru pasien, yang biasanya dapat diobati dengan konsumsi antibiotik.
Namun, abses paru yang lebih serius bisa memerlukan tindakan medis lain, seperti pembedahan atau drainase. Prosedur ini memerlukan memasukkan jarum atau tabung yang panjang ke dalam abses, sehingga nanah dapat dikeluarkan dari paru-paru pasien. - Efusi Pleura
Pneumonia dapat menyebabkan penumpukan cairan di ruang tipis antara jaringan yang melapisi paru-paru dengan rongga dada (pleura), kondisi ini disebut sebagai efusi pleura. - Gagal Napas
Jika pneumonia yang pasien alami tergolong parah, atau sebelumnya pasien memiliki kondisi paru yang kronis, maka sangat mungkin timbul komplikasi gagal napas.
Pencegahan Pneumonia
Meski pneumonia tergolong penyakit menular, bukan berarti kita tidak bisa mencegahnya. Justru sebaliknya, dengan langkah yang tepat, pneumonia bisa dicegah sejak dini. Upaya pencegahan ini sangat penting, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.Berikut ini adalah beberapa cara efektif untuk mencegah pneumonia yang bisa Anda terapkan mulai sekarang:
1. Vaksinasi
Vaksinasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk melindungi tubuh dari infeksi pneumonia. Ada beberapa jenis vaksin yang direkomendasikan, seperti:- Vaksin pneumokokus (PCV dan PPSV) untuk mencegah infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae, penyebab tersering pneumonia bakteri. Vaksin ini sangat dianjurkan bagi anak-anak, lansia usia ≥ 65 tahun, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit paru.
- Vaksin influenza karena flu yang berat dapat berlanjut menjadi pneumonia.
- Vaksin Hib (Haemophilus influenzae tipe B) penting untuk anak-anak karena dapat mencegah pneumonia berat.
- Vaksin COVID-19 yang juga melindungi dari komplikasi pernapasan berat seperti pneumonia.
Vaksin-vaksin ini telah terbukti aman dan efektif. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui jadwal vaksinasi yang sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan Anda.
2. Kebersihan Tangan
Cuci tangan tampaknya hal sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam mencegah penyebaran penyakit, termasuk pneumonia. Tangan yang kotor bisa membawa bakteri atau virus ke dalam tubuh, apalagi setelah menyentuh benda-benda di tempat umum.Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah batuk atau bersin. Jika tidak ada air, gunakan hand sanitizer berbasis alkohol.
3. Gaya Hidup Sehat
Menjaga daya tahan tubuh adalah kunci penting dalam mencegah infeksi, termasuk pneumonia. Gaya hidup sehat yang bisa Anda terapkan antara lain:- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang kaya vitamin C, D, dan antioksidan.
- Berolahraga secara rutin.
- Tidur cukup dan mengelola stres.
- Tidak merokok, karena merokok dapat merusak paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
- Minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembapan saluran napas.
Dengan tubuh yang sehat, sistem kekebalan akan bekerja lebih optimal untuk melawan infeksi.
4. Menghindari Paparan
Mengurangi risiko tertular pneumonia juga bisa dilakukan dengan menghindari paparan langsung terhadap sumber infeksi. Beberapa langkah yang bisa Anda terapkan antara lain:- Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang batuk atau demam.
- Menggunakan masker saat berada di tempat ramai, terutama saat musim flu.
- Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik.
- Membersihkan permukaan benda secara rutin, terutama yang sering disentuh.
Bagi penderita penyakit kronis atau yang sedang dalam masa pemulihan, langkah-langkah ini sangat penting dilakukan untuk mencegah komplikasi.
Pengobatan Pneumonia
Meski pneumonia bisa dicegah, tetap penting untuk mengetahui bagaimana cara menanganinya jika seseorang terdiagnosis pneumonia. Pengobatan pneumonia disesuaikan dengan penyebabnya, apakah disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Juga disesuaikan dengan tingkat keparahan gejalanya.Berikut adalah beberapa pendekatan medis yang umum dilakukan dalam pengobatan pneumonia:
1. Antibiotik
Jika pneumonia disebabkan oleh bakteri, pengobatan utama adalah antibiotik. Dokter biasanya meresepkan antibiotik oral seperti amoksisilin, azitromisin, atau doksisiklin, tergantung pada usia dan kondisi pasien.Pada kasus yang lebih berat, terutama jika pasien dirawat di rumah sakit, antibiotik diberikan melalui infus. Jenis antibiotik seperti ceftriaxone atau levofloxacin dapat digunakan. Penggunaan antibiotik harus sesuai resep dokter untuk menghindari resistensi dan memastikan pemulihan optimal.
2. Antiviral
Jika pneumonia disebabkan oleh infeksi virus seperti influenza atau COVID-19, dokter bisa memberikan obat antivirus. Contohnya adalah oseltamivir (Tamiflu) untuk flu, atau remdesivir untuk COVID-19.Antiviral bekerja dengan menghambat replikasi virus, sehingga gejala bisa lebih cepat membaik dan risiko komplikasi berkurang. Namun, antivirus hanya efektif jika diberikan dalam waktu tertentu sejak munculnya gejala, jadi penting untuk segera memeriksakan diri.
3. Perawatan Pendukung
Selain obat-obatan, pasien pneumonia juga membutuhkan perawatan pendukung. Ini termasuk:- Istirahat total untuk membantu tubuh melawan infeksi.
- Pemberian cairan agar tubuh tetap terhidrasi dan lendir di paru-paru lebih mudah dikeluarkan.
- Obat penurun demam seperti parasetamol atau ibuprofen untuk meredakan demam dan nyeri.
- Terapi oksigen jika kadar oksigen dalam darah menurun.
Perawatan pendukung ini penting untuk mempercepat pemulihan, terutama pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah.
4. Rawat Inap
Pneumonia yang berat, terutama pada bayi, lansia, atau pasien dengan penyakit penyerta, mungkin memerlukan rawat inap. Gejala yang mengindikasikan kebutuhan rawat inap antara lain:- Sesak napas yang berat
- Demam tinggi yang tidak turun
- Tekanan darah rendah
- Penurunan kesadaran
Di rumah sakit, pasien akan mendapat pemantauan ketat, pemberian cairan dan obat infus, serta terapi oksigen. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat pulih sepenuhnya.
Kapan Sebaiknya Melakukan Deteksi Dini Pneumonia?
Sobat, pneumonia bukan hanya infeksi saluran napas biasa. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak awal, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan serius yang membahayakan nyawa.Oleh karena itu, deteksi dini pneumonia sangat penting dilakukan, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi. Pemeriksaan sejak awal dapat membantu mencegah komplikasi, mempercepat penanganan, dan meminimalkan dampak buruk pada paru-paru.
Lantas, siapa saja yang sebaiknya melakukan deteksi dini pneumonia?
1. Anak-anak di bawah 5 tahun
Anak balita termasuk kelompok yang sangat rentan terkena pneumonia. Sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang, sehingga lebih mudah terserang infeksi bakteri maupun virus penyebab pneumonia.Deteksi dini sangat dianjurkan terutama jika anak:
- Sering mengalami batuk dan demam berulang
- Terlihat lemas atau napasnya cepat
- Memiliki riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendah
- Mengidap gangguan nutrisi atau penyakit bawaan (seperti kelainan jantung atau paru)
Jangan anggap remeh gejala batuk dan sesak napas pada anak. Segera konsultasikan dengan dokter bila gejala tidak kunjung membaik dalam beberapa hari.
2. Lansia di atas 65 tahun
Seiring bertambahnya usia, sistem imun dan fungsi paru-paru seseorang mengalami penurunan alami. Hal ini membuat lansia lebih berisiko mengalami infeksi berat seperti pneumonia, bahkan ketika gejalanya tampak ringan di awal.Deteksi dini sangat dianjurkan bagi lansia yang:
- Sering mengalami batuk berkepanjangan atau nyeri dada
- Menderita penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau jantung
- Mengalami penurunan nafsu makan, lemas, atau kebingungan tiba-tiba (delirium)
- Baru saja mengalami flu berat atau infeksi virus lainnya
Mendeteksi pneumonia lebih awal pada lansia bisa mencegah kebutuhan rawat inap atau risiko komplikasi paru-paru yang lebih berat.
3. Individu dengan penyakit kronis
Penderita penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia akibat daya tahan tubuh yang terganggu. Beberapa contoh penyakit kronis yang rentan terhadap infeksi paru antara lain:- Asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
- Diabetes melitus
- Gagal ginjal kronik
- Penyakit jantung
- Kanker atau pasien yang menjalani kemoterapi
Bila Anda memiliki riwayat penyakit tersebut, sangat disarankan untuk melakukan skrining paru secara berkala guna memastikan tidak ada tanda-tanda awal infeksi yang bisa memburuk.
4. Perokok
Merokok merusak saluran napas dan melemahkan sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi. Zat berbahaya dalam rokok membuat paru-paru lebih rentan teriritasi dan terinfeksi, sehingga pneumonia lebih mudah berkembang.Jika Anda seorang perokok aktif (atau mantan perokok dengan gejala napas pendek dan batuk kronis), pemeriksaan paru secara rutin bisa membantu mendeteksi pneumonia sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih parah.
5. Mereka yang mengalami gejala pernapasan yang menetap atau memburuk
Pernah mengalami batuk berkepanjangan, demam yang tidak kunjung reda, atau napas terasa berat dan cepat? Jangan abaikan gejala-gejala ini, ya, Sobat Granostic. Meski awalnya terlihat seperti flu biasa, pneumonia bisa berkembang secara perlahan dan tak disadari. Maka sebaiknya segera lakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah ada infeksi di paru-paru.Konsultasi dan Layanan Deteksi Dini di Granostic Surabaya
Di Granostic Surabaya, kami menyediakan layanan pemeriksaan dan deteksi dini pneumonia dengan pendekatan menyeluruh dan berbasis bukti medis. Bagi Anda yang termasuk dalam kelompok berisiko atau mengalami gejala mencurigakan, kami siap membantu dengan layanan yang cepat, akurat, dan nyaman.Berikut ini adalah rangkaian layanan deteksi dini pneumonia yang bisa Anda lakukan di Granostic:
1. Pemeriksaan Fisik
Langkah pertama dalam deteksi pneumonia adalah pemeriksaan fisik oleh tenaga medis. Dokter akan memeriksa kondisi napas Anda, mendengarkan suara paru-paru menggunakan stetoskop, dan menilai tanda-tanda seperti frekuensi napas, suhu tubuh, serta nyeri dada.Pemeriksaan ini sangat penting untuk mengetahui apakah ada bunyi napas abnormal seperti suara "ronki" atau "crackles" yang bisa menandakan adanya infeksi di paru-paru.
2. Tes Laboratorium
Tes darah sering kali dilakukan untuk mengecek adanya tanda infeksi seperti peningkatan sel darah putih atau penanda peradangan (seperti CRP atau prokalsitonin). Bila dicurigai infeksi bakteri, dokter bisa menyarankan pemeriksaan dahak (sputum) untuk mengetahui jenis kuman penyebab.Tes laboratorium ini membantu menentukan jenis infeksi dan mempercepat pemberian pengobatan yang tepat.
3. Imaging
Pemeriksaan pencitraan seperti rontgen dada (X-ray) merupakan metode paling umum untuk memastikan apakah terdapat infeksi di paru-paru. Pada kasus tertentu, dokter mungkin juga merekomendasikan CT scan jika hasil rontgen kurang jelas.Imaging ini membantu melihat lokasi infeksi, luas penyebarannya, dan mendeteksi komplikasi seperti efusi pleura (penumpukan cairan di paru).
4. Konsultasi Spesialis dokter paru dan penyakit dalam
Untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang lebih komprehensif, Granostic juga menyediakan konsultasi dengan dokter spesialis paru dan dokter penyakit dalam. Dokter akan mengevaluasi hasil pemeriksaan Anda dan merancang penanganan sesuai dengan kondisi tubuh, riwayat penyakit, dan kebutuhan klinis Anda.Konsultasi ini sangat penting bagi Anda yang sudah mengalami gejala berat atau memiliki penyakit penyerta yang kompleks.
Sobat, pneumonia bisa berbahaya jika tidak terdeteksi sejak awal, apalagi bagi mereka yang rentan. Jadi jangan tunggu gejalanya memburuk untuk memeriksakan diri ke dokter, sebab deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa.
Granostic Surabaya hadir untuk memberikan layanan deteksi pneumonia yang akurat, cepat, dan profesional. Lindungi diri Anda dan orang terdekat dari risiko pneumonia dengan langkah tepat hari ini.
Yuk, periksakan kondisi saluran napas Anda di Granostic Surabaya dan Booking pemeriksaan sekarang juga!
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- American Lung Association. (2024). Learn About Pneumonia. Diakses 2025.
- Mayo Clinic. (2024). Pneumonia: Symptoms and Causes. Diakses 2025.
- Cleveland Clinic. (2024). Pneumonia: Symptoms, Causes & Treatment. Diakses 2025.
- CNN Indonesia. (2024, 6 Februari). Kematian akibat Pneumonia di Indonesia Naik Drastis Sepanjang 2024. Diakses 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pneumonia Terus Ancam Anak-anak. Diakses 2025.
- World Health Organization (WHO). (2024). Pneumonia. Diakses 2025.
- WebMD. (2024). Types of Pneumonia. Diakses 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Pneumonia Prevention. Diakses 2025.
- Cleveland Clinic. (2024). Aspiration Pneumonia. Diakses 2025.
- Cleveland Clinic. (2024). Atypical (Walking) Pneumonia. Diakses 2025.

