Apa Itu Lupus? Berikut Penjelasan dan Tantangan Diagnosisnya

Disebut juga sebagai "penyakit seribu wajah", lupus menjadi salah satu penyakit dengan prevalensi yang cukup besar di Indonesia. Sayangnya, tak banyak orang yang memahami apa itu lupus, gejala, cara mengobati, hingga bagaimana dukungan yang diperlukan oleh penderitanya.
Pada dasarnya, lupus merupakan jenis penyakit tidak menular (PTM) yang prevalensi kasusnya meningkat cukup teratur di Indonesia. Mengutip dari jurnal kesehatan yang diunggah Universitas Muhammadiyah Surakarta, Indonesia memiliki prevalensi kasus lupus sekitar 1.250.000 orang.
Lupus juga diketahui sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Penderitanya dapat mengalami gejala yang ringan hingga berat, yang dapat mengganggu aktivitas harian mereka. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk mengetahui segala hal tentang lupus, baik untuk menjaga diri maupun memberikan dukungan bagi penderita lupus di sekitar kita.
Lewat artikel ini, Granostic akan membantu Sobat sekalian untuk memahami apa itu lupus dengan mendetail. Mari kita mulai dari pengertian lupus terlebih dahulu. Simak, yuk!
Apa Itu Lupus?
Nama lainnya, Lupus Eritematosus Sistemik (LES), lupus adalah kondisi autoimun, di mana sistem imun tubuh yang seharusnya melindungi justru menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Peradangan akibat lupus bisa memengaruhi berbagai sistem tubuh, seperti sendi, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung, hingga paru-paru.
Namun, yang membuat lupus cukup sulit dikenali adalah karena gejala-gejalanya sering menyerupai penyakit lain. Salah satu ciri khas lupus yang cukup dikenal adalah ruam kemerahan di wajah yang membentuk pola seperti kupu-kupu di kedua pipi, tapi tidak semua penderita mengalami gejala ini.
Beberapa orang memang memiliki kecenderungan genetik terhadap lupus, dan kondisinya bisa dipicu oleh infeksi, konsumsi obat tertentu, bahkan paparan sinar matahari. Meski lupus belum bisa disembuhkan sepenuhnya, berbagai terapi yang tersedia dapat membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderitanya.
Gejala dan Ciri-Ciri Umum Lupus
Tidak semua pasien lupus mengalami gejala yang sama. Karakteristik dan gejala dapat muncul tiba-tiba atau berkembang secara perlahan. Tingkat keparahannya pun berbeda-beda pada tiap orang, misalnya bergantung pada bagian tubuh mana yang terdampak dari penyakit tersebut.
Akan tetapi, ada beberapa gejala umum yang kerap dikeluhkan oleh penderita lupus, seperti:
Gejala Umum
1. Demam tanpa sebab
Demam yang datang tanpa alasan merupakan gejala umum yang sering dialami oleh penderita lupus. Gejala ini dapat terjadi ketika penderitanya mengalami kekambuhan, hingga sebagai gejala infeksi atau peradangan yang terkait dengan kondisi lupus tersebut.
2. Kelelahan ekstrem (fatigue)
Gejala umum dari penyakit lupus selanjutnya adalah kelelahan ekstrem, yang dapat terjadi karena berbagai faktor. Sebab lupus dapat menyebabkan inflamasi, anemia, gangguan tidur, hingga depresi atau fibromyalgia.
3. Nyeri sendi dan otot
Melansir dari Hospital for Special Surgery (HSS) 95% penderita lupus mengeluhkan rasa nyeri pada sendi dan otot mereka. Kondisi ini dapat terjadi karena inflamasi pada lapisan sendi yang kemudian menyebabkan pembengkakan, nyeri yang intens, hingga kekakuan.
4. Pembengkakan pada tangan atau kaki
Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa tak hanya menyebabkan rasa nyeri pada otot maupun sendi, lupus juga dapat memicu pembengkakan akibat peradangan atau inflamasi yang dipicunya.
Ciri Khas pada Kulit
1. Ruam kupu-kupu di pipi dan hidung
Ruam kupu-kupu yang muncul di sepanjang area pipi dan hidung adalah salah satu gejala khas dari lupus. Biasanya ruam ini tampak kemerahan, berbentuk kupu-kupu, yang timbul setelah terpapar sinar matahari dalam waktu yang lama. Sebagian besar penderita lupus mengalami gejala ini, namun ada juga yang tidak.
2. Sensitif terhadap sinar matahari
Seorang pengidap lupus memiliki kulit yang lebih sensitif terhadap sinar matahari. Ini terjadi karena sistem imun mereka bekerja secara abnormal terhadap sel-sel rusak akibat paparan sinar UV.
Padahal seharusnya, ketika sinar UV merusak sel, sistem imun akan membersihkan sel tersebut. Namun pada penderita lupus, hal ini tidak terjadi atau malah menyerang sel-sel yang sehat. Akhirnya, penderita akan mengalami peradangan dan ruam fotosensitif.
3. Ruam di kulit kepala, dada, atau punggung
Ruam lupus tak hanya terjadi pada kulit wajah, melainkan juga dapat berdampak pada kulit kepala, dada, atau punggung penderita.
Gejala Organ Dalam
1. Sesak napas (paru-paru)
Tak hanya pada kulit, lupus juga dapat menyebabkan sesak napas. Gejala ini sangat umum terjadi, terutama jika lupus menyerang paru-paru penderitanya, seperti pada kasus radang selaput dada atau radang paru-paru.
2. Nyeri dada (jantung)
Namun, jika lupus menimbulkan peradangan pada jantung, maka dapat menimbulkan nyeri dada. Misalnya, pericarditis atau radang selaput jantung, yang dapat memicu rasa nyeri dada yang tajam dan intens saat bernapas.
3. Pembengkakan (ginjal)
Lupus juga dapat menyebabkan pembengkakan pada organ dalam, salah satunya ginjal, atau nefritis lupus. Kondisi ini terjadi ketika lupus menyerang dan menyebabkan peradangan pada ginjal, sehingga terjadi kerusakan pada glomerulus.
4. Kejang atau gangguan saraf (otak)
Jika lupus menyerang saraf otak dan menimbulkan peradangan pada area tersebut, maka penderita dapat mengalami kejang atau gangguan saraf.
Gejala Lain
1. Sariawan berulang
Sariawan merupakan kondisi ringan yang sangat umum terjadi, khususnya kalau sistem kekebalan tubuh kita melemah. Pada penderita lupus, mereka dapat mengalami sariawan berulang dapat muncul sebagai reaksi autoimun, perubahan hormon pada pasien, obat-obatan, dan banyak lainnya.
2. Rambut rontok parah
Selain sariawan berulang atau alopecia, juga merupakan gejala umum dari lupus. Gejala ini timbul akibat inflamasi dan aktivitas sistem imun yang berdampak pada folikel rambut serta kesehatan kulit kepala pasien.
3. Penurunan berat badan tanpa sebab
Seorang penderita lupus juga dapat mengalami penurunan berat badan tanpa sebab. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh menurunya nafsu makan secara drastis, masalah pada pencernaan, hingga efek samping dari pengobatan lupus.
Gejala-gejala ini bisa muncul secara tiba-tiba, memburuk, kemudian membaik (flare-up dan remisi).
Penyebab Lupus - Multifaktor dan Belum Sepenuhnya Diketahui
Penyebab pasti penyakit lupus hingga kini belum diketahui dengan pasti. Namun, kombinasi dari faktor genetik, hormon, lingkungan, dan penggunaan obat-obatan tertentu diyakini dapat menjadi pemicu kondisi ini.
Lebih detailnya, Sobat bisa simak beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko lupus berikut ini.
1. Genetik
Faktor genetik disinyalir menjadi penyebab utama seseorang dapat mengembangkan lupus. Melansir dari Cleveland Clinic, orang dengan mutase genetik tertentu dapat meningkatkan risiko mereka terkena lupus.
2. Hormon
Selain faktor genetik, perubahan atau reaksi hormon dalam tubuh seseorang, utamanya hormon estrogen, juga meningkatkan risiko berkembangnya lupus.
3. Lingkungan
Kondisi lingkungan tempat tanggal dan Berapa banyak paparan polusi atau sinar UV, juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena lupus.
4. Obat-obatan
Lupus juga dapat dipicu oleh penggunaan beberapa jenis obat-obatan yang digunakan untuk mengontrol tekanan darah, pereda gejala, hingga antibiotik.
Orang-orang yang mengembangkan lupus karena obat-obatan ini biasanya akan membaik setelah mereka berhenti mengonsumsi obat-obatan tersebut. Namun, sangat jarang terjadi gejala lupus ini akan bertahan lama setelah pengobatan dihentikan.
Tantangan dalam Diagnosis Lupus
Sobat Granostic, kasus lupus di Indonesia memiliki prevalensi yang cukup tinggi. Namun, banyak orang yang belum teredukasi dan mengetahui bagaimana gejala atau penanganan penyakit ini.
Ini terjadi, salah satunya, karena adanya berbagai tantangan dalam diagnosis lupus, seperti:
1. Tidak ada satu tes pasti
Diagnosis lupus cenderung sukar dilakukan karena tidak ada tes spesifik yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi penyakit ini. Prosedur diagnosis biasanya menjadi bagian dari diagnosis yang berbeda.
Hal ini berarti, dokter mungkin menggunakan beberapa tes sekaligus untuk memastikan apa yang menyebabkan gejala tersebut muncul hingga akhirnya mendiagnosis Anda dengan lupus.
2. Gejalanya menyerupai penyakit lain
Selain butterfly rash-nya, lupus juga memiliki gejala yang sangat umum dan menyerupai penyakit lain. Sehingga sulit untuk diidentifikasi dari gejalanya saja.
3. Penderita sering terlambat menyadari gejala awal
Karena kurangnya edukasi, deteksi dan diagnosa yang sulit, membuat penderita sering terlambat menyadari gejala awal lupus. Hal ini menyebabkan penderita tidak mendapatkan perawatan yang tepat sedini mungkin, yang berpengaruh pada efektivitas pengobatan.
Oleh karena itu, diagnosis lupus memerlukan pendekatan menyeluruh:
Wawancara medis & riwayat gejala
Tahapan awal dalam diagnosis lupus biasanya diawali dengan diskusi mendalam antara pasien dan dokter mengenai keluhan yang dirasakan, riwayat gejala yang pernah dialami, serta riwayat kesehatan keluarga.
Karena lupus bisa memengaruhi berbagai organ sekaligus, penting bagi dokter untuk menggali keluhan sekecil apa pun, mulai dari nyeri sendi, kelelahan kronis, hingga munculnya ruam di kulit. Tahap ini membantu dokter menyusun gambaran awal dan memutuskan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.
Pemeriksaan fisik menyeluruh
Pemeriksaan fisik menjadi langkah penting untuk mengamati langsung tanda-tanda klinis yang mungkin mengarah pada lupus. Dokter akan memeriksa kondisi kulit, sendi, tekanan darah, dan tanda-tanda peradangan lainnya.
Jika ditemukan ruam khas seperti butterfly rash, rambut rontok, atau pembengkakan sendi, hal ini bisa menjadi petunjuk awal bahwa pasien mungkin mengidap penyakit autoimun.
- Pemeriksaan laboratorium: termasuk tes ANA (antinuclear antibody), Anti-dsDNA, Anti-Sm, dan tes fungsi organ
Langkah ini bertujuan mendeteksi kelainan imunologi yang khas pada lupus. Beberapa tes penting yang dilakukan di antaranya: - Tes ANA (Antinuclear Antibody): Merupakan salah satu tes penanda autoimun yang paling umum. Hasil positif ANA menjadi titik awal untuk mempertimbangkan lupus, meskipun juga bisa muncul pada kondisi autoimun lainnya.
- Anti-dsDNA & Anti-Sm: Tes ini lebih spesifik untuk lupus. Jika hasilnya positif, maka kemungkinan besar pasien memang mengalami lupus sistemik (SLE).
- Tes Fungsi Organ (seperti ginjal dan hati): Karena lupus dapat menyerang organ dalam, pemeriksaan seperti ureum, kreatinin, enzim hati, hingga hitung darah lengkap penting untuk mengevaluasi sejauh mana organ tubuh terpengaruh.
Seluruh tes ini biasanya dilakukan secara bertahap dan dikaji bersama oleh dokter spesialis penyakit dalam atau reumatologi.
Imaging/USG
Jika dicurigai adanya gangguan pada organ dalam seperti radang pada paru, jantung, atau ginjal. Dokter bisa menyarankan pemeriksaan tambahan berupa USG abdomen, rontgen dada, atau bahkan MRI.
Imaging ini berfungsi untuk melihat secara langsung kondisi jaringan dan fungsi organ dalam tubuh pasien, serta mendeteksi adanya kerusakan atau peradangan yang tidak tampak secara fisik.
Apakah Lupus Bisa Disembuhkan?
Sayangnya hingga kini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan lupus secara total. Prosedur pengobatan yang ada dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi keparahan dan mengatasi gejala, mencegah kerusakan organ, menghindari flare-up, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Tujuan pengobatan lupus adalah:
1. Mengurangi gejala
Pengobatan lupus sangat berkaitan dengan gejala yang muncul. Dokter dapat menganalisis dan menentukan pengobatan yang tepat untuk membantu meminimalisir gejala, serta mencegah peradangan menjadi lebih buruk dan berdampak fatal bagi organ-organ pasien.
2. Mencegah kerusakan organ
Selain mengurangi gejala yang timbul, pengobatan lupus juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan organ. Sebab lupus dapat menimbulkan peradangan yang langsung bisa menyebabkan masalah serius pada organ yang diserang, seperti pada jantung, ginjal, hingga paru-paru Anda.
3. Menghindari flare-up
Flare-up merupakan periode di mana gejala lupus menjadi memburuk atau kembali lagi setelah sebelumnya mereda. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa sakit, peradangan, hingga kerusakan organ tubuh.
Gejala-gejala ini tak hanya dapat mengganggu aktivitas hariannya, namun juga dapat berdampak fatal bagi kesehatan penderita lupus. Karena itu, pengobatan lupus juga dikonsentrasikan membantu mengontrol kondisi penderitanya dan mencegah terjadinya flare-up.
4. Meningkatkan kualitas hidup
Pengobatan lupus secara umum dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Misalnya meminimalisir kekambuhan dan meredakan gejala yang timbul, sehingga penderita lupus dapat melakukan aktivitas harian mereka senormal mungkin.
Jenis Pengobatan yang Umum Digunakan
1. Kortikosteroid
Obat seperti prednison dan metilprednisolon kerap digunakan untuk mengontrol peradangan aktif, terutama bila lupus menyerang organ vital seperti ginjal atau otak.
Meski cukup efektif, penggunaan steroid dosis tinggi dalam jangka panjang bisa menimbulkan efek samping. Mulai dari penambahan berat badan, pengeroposan tulang, tekanan darah tinggi, hingga peningkatan risiko infeksi. Karena itu, dokter akan menyesuaikan dosis seefisien mungkin agar manfaatnya maksimal dan risikonya tetap terkendali.
2. Imunosupresan
Pada kasus lupus yang berat, dokter bisa meresepkan obat imunosupresif seperti azathioprine, mycophenolate mofetil, methotrexate, atau cyclosporine. Obat-obatan ini bekerja dengan cara memperlambat respons sistem imun yang menyerang tubuh sendiri.
Namun, penggunaannya perlu pemantauan ketat karena dapat meningkatkan risiko infeksi, gangguan hati, masalah kesuburan, bahkan risiko kanker pada jangka panjang.
3. Obat antimalaria
Obat seperti hidroksiklorokuin (Plaquenil), meskipun awalnya ditujukan untuk malaria, ternyata punya peran besar dalam menstabilkan gejala lupus. Obat ini membantu mengurangi kekambuhan dan nyeri sendi, serta memperbaiki keluhan kelelahan.
Namun, penggunaannya tetap perlu diawasi karena dalam kasus yang sangat jarang, bisa memengaruhi retina mata. Pemeriksaan mata secara berkala sangat dianjurkan selama pengobatan berlangsung.
4. Obat biologis
Salah satu terapi terbaru adalah belimumab (Benlysta), yang diberikan melalui infus. Obat ini bekerja dengan menarget protein tertentu dalam sistem imun yang memicu peradangan.
Beberapa pasien merasakan perbaikan gejala setelah terapi ini, meski efek samping seperti mual, infeksi ringan, atau gangguan mood seperti depresi tetap perlu diwaspadai.
Cara Mengatasi Lupus - Tips Gaya Hidup Sehat
Selain menggunakan berbagai pengobatan medis di atas, gejala lupus dapat dikontrol dan diatasi dengan beberapa tips gaya hidup sehat berikut ini:
1. Kelola Stres
Stres berlebihan atau kecemasan yang tidak terkontrol juga bisa memicu kambuhnya gejala lupus. Karena itu, Anda dapat mencoba untuk mengelola stres dengan baik untuk mencegah kekambuhan dan flare-up.
2. Hindari Paparan Sinar Matahari Berlebih
Karena paparan sinar ultraviolet dapat memicu flare-up, Anda perlu mengenakan pakaian yang dapat melindungi kulit dari paparan langsung. Misalnya menggunakan pakaian panjang dan mengaplikasikan tabir surya, yang setidaknya memiliki SPF 55 setiap kali akan pergi ke luar rumah.
3. Istirahat Cukup
Anda juga perlu memastikan untuk istirahat dengan cukup, yakni setidaknya selama 7–8 jam sehari. Sebab beristirahat dapat membantu mengurangi rasa lelah yang Anda rasakan, mencegah kambuhnya penyakit, dan menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh.
4. Pola Makan Anti-Inflamasi
Pola makan yang sehat pada dasarnya memiliki banyak manfaat untuk Kesehatan tubuh kita, Sobat. Begitupula dalam mengontrol gejala lupus, Anda dapat mengubah pola makan dengan mengonsumsi menu-menu sehat seperti buah-buahan, sayuran, hingga biji-bijian utuh.
Anda juga direkomendasikan untuk menghindari makanan yang dapat menimbulkan peradangan (inflamasi). Melansir dari WebMD.com, jenis-jenis makanan tersebut misalnya makanan olahan, gorengan, daging merah, lemak hewani, hingga produk susu berlemak tinggi seperti susu murni, krim, keju, mentega, dan es krim.
5. Rutin Cek Kesehatan
Melakukan pemeriksaan rutin juga sangat direkomendasikan untuk penderita lupus, dengan tidak hanya memeriksakan diri ketika gejala timbul. Ini karena, pemeriksaan rutin dapat mengontrol dan mencegah gejala kambuh, serta dapat membantu mengatasi masalah kesehatan rutin, seperti stress, pola makan, hingga olahraga yang dapat mencegah komplikasi lupus.
Apakah Lupus Bisa Dicegah?
Melansir dari Cleveland Clinic, lupus tidak dapat dicegah karena ahli belum menemukan penyebab utama dari penyakit ini. Namun, Anda dapat mengontrol kesehatan tubuh secara berkala dan melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendeteksi dini risiko lupus, apalagi jika Anda memiliki keluarga atau orangtua yang mengidap penyakit ini.
Pentingnya Screening Lupus dan Autoimun di Granostic Surabaya
Untuk mendeteksi lupus sejak dini, pemeriksaan laboratorium menjadi kunci. Di Granostic Anda dapat melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap yang dapat menjadi deteksi dini lupus dan autoimun, loh.
Mendeteksi dini risiko mengembangkan lupus dapat membantu Anda untuk mencegah gejala terbentuk, meminimalisir risiko terjadinya komplikasi atau kerusakan organ karena penyakit ini. Anda bisa melakukan booking screening melalui Whatsapp kami.
Baca juga mengenai, Apa Saja Dukungan Psikososial bagi Pengidap Lupus? Ini Daftar Lengkapnya.
Kapan Sebaiknya Melakukan Tes Lupus?
Dikenal sebagai penyakit yang sulit dideteksi, banyak orang yang terlambat menyadari dirinya mengidap penyakit lupus dan akhirnya tidak mendapatkan perawatan sedini mungkin. Namun, dengan mengetahui kapan sebaiknya melakukan tes lupus, Anda dapat mencegah dan mengontrol gejalanya dengan baik.
Berikut ini beberapa kondisi yang jadi alarm bagi Anda untuk segera melakukan tes lupus:
1. Demam yang tidak kunjung turun
Jika tubuh sering mengalami demam ringan hingga sedang tanpa penyebab yang jelas, dan tak kunjung membaik dengan obat biasa, ini bisa jadi sinyal bahwa sistem imun sedang menyerang tubuh sendiri. Kondisi ini umum ditemukan pada penderita lupus sebagai bagian dari reaksi peradangan sistemik.
2. Nyeri sendi berulang tanpa sebab
Sering merasa nyeri atau kaku pada persendian, terutama di pagi hari? Mungkin Anda tidak mengalami cedera, tapi sendi terasa nyeri, bengkak, atau kaku secara berulang. Gejala seperti ini bisa mengarah pada lupus, terutama bila terjadi bersamaan dengan keluhan sistemik lainnya.
3. Ruam di wajah atau kulit sensitif terhadap matahari
Ciri khas lupus yang paling dikenal adalah ruam berbentuk kupu-kupu di area pipi dan hidung. Namun, lupus juga dapat memicu reaksi kulit yang sensitif terhadap paparan sinar matahari.
Jika kulit Anda mudah kemerahan, gatal, atau timbul ruam setelah terkena sinar matahari, jangan anggap remeh. Sebab ini bisa menjadi petunjuk awal lupus.
4. Kelelahan ekstrem yang tidak wajar
Merasa lelah terus-menerus meskipun sudah cukup istirahat bisa jadi tanda tubuh sedang melawan peradangan dari dalam. Kelelahan ekstrem adalah salah satu keluhan paling umum pada penderita lupus, dan sering kali diabaikan karena dianggap hanya kelelahan biasa.
5.Rambut rontok berlebihan
Meski rambut rontok bisa disebabkan oleh berbagai faktor, kerontokan yang tidak wajar dan terjadi bersamaan dengan gejala lain seperti ruam atau nyeri sendi, perlu diwaspadai.
Pada penderita lupus, sistem kekebalan tubuh bisa menyerang folikel rambut, menyebabkan kerontokan yang merata dan sering sulit diatasi dengan perawatan biasa.
Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan mengenai apa itu lupus, penyebab, cara perawatan dan pengobatannya.
Selanjutnya, jangan lupa untuk melakukan tes kesehatan secara rutin, dan segera lakukan skrining lupus bila Anda merasakan satu atau beberapa gejala umum dari penyakit ini di klinik Granostic Surabaya.
Bersama dokter berpengalaman kami, Anda dapat memeroleh pemeriksaan kesehatan menyeluruh, mengakses teknologi kesehatan yang canggih dan modern, sehingga memeroleh hasil dan diagnosa yang akurat.
Anda juga dapat merencanakan pengobatan dan kontrol kondisi lupus bersama dokter, sehingga gejala dapat terkontrol dengan baik.
Yuk, jaga kesehatan tubuh Anda dengan deteksi dini lupus bersama klinik Granostic Surabaya!
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Mayo Clinic. (n.d.). Lupus: Diagnosis and Treatment. Diakses 2025.
- Cleveland Clinic. (n.d.). Lupus. Diakses 2025.
- Lupus Foundation of America. (n.d.). What is Lupus?. Diakses 2025.
- WebMD. (n.d.). Nutrition and Diet with Lupus. Medically Reviewed by David Zelman, MD. Diakses 2025.
- Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. (n.d.). Situasi Lupus di Indonesia. Diakses 2025.
- Hospital for Special Surgery (HSS). (n.d.). Lupus and Fatigue. Review by Dr. Jessica R. Berman, MD. Diakses 2025.
- Rachman, A. (2019). Hubungan antara Dukungan Sosial dan Penerimaan Diri terhadap Kualitas Hidup Penderita Lupus. Thalamus, Vol. 5, No. 1. Diakses 2025.

