Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Apa Itu PPOK – Penyakit Paru Kronis yang Sering Diabaikan?

Apa Itu PPOK – Penyakit Paru Kronis yang Sering Diabaikan?

Sobat Granostic, tahukah Anda bahwa Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) termasuk dalam penyakit mematikan ketiga di dunia? Fakta pentingnya lagi, angka kasus PPOK di Indonesia juga cukup signifikan. Lantas tahukah Anda apa itu Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) tersebut?


World Health Organization (WHO) mendeskripsikan PPOK sebagai sebuah kondisi medis umum yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, yang menghambat saluran napas dan membuat seseorang sulit untuk bernapas.


Lebih lanjut, WHO juga menuturkan bahwa PPOK menjadi penyebab 3.5 juta kasus kematian pada tahun 2021 dari seluruh dunia. Karenanya, PPOK tidak boleh diabaikan dan harus mendapatkan perhatian khusus.


Di Indonesia sendiri kasus PPOK cukup signifikan, mengingat kita sangat rentan terpapar polusi udara dan mayoritas penduduknya adalah perokok aktif. Sayangnya, banyak dari kita yang justru abai dengan risiko PPOK dan berakibat mengembangkan penyakit ini di kemudian hari.


Nah, lewat artikel ini, Granostic akan mengajak Anda untuk membahas lebih jauh mengenai apa itu PPOK, gejala dan ciri-ciri, penyebab, hingga cara menanganinya. Simak, yuk!


Mengenal PPOK Lebih Dalam

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah nama yang digunakan untuk menggambarkan beberapa kondisi yang membuat pernapasan menjadi lebih sulit. Biasanya, masalah pernapasan ini tidak langsung parah, tetapi semakin lama, gejalanya bisa memburuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Meski begitu, dengan pengobatan yang tepat, kondisi ini masih bisa dikendalikan.
PPOK mencakup dua kondisi utama yang sering terjadi, yaitu:


Bronkitis kronis

Bronkitis kronis adalah peradangan pada saluran pernapasan, seperti tenggorokan dan bronkus, yang terjadi terus-menerus. Penderita bronkitis kronis biasanya mengalami batuk dan sesak napas hampir setiap hari dalam sebulan, terjadi berulang selama tiga bulan setiap tahunnya, dan berlangsung lebih dari dua tahun. Melansir dari Mayo Clinic, kini istilah bronkitis kronis lebih tepat diganti dengan PPOK, karena hampir semua orang yang memiliki bronkitis kronis juga mengalami penyumbatan saluran napas.

Emfisema

Emfisema adalah kerusakan pada kantung udara kecil (alveoli) di paru-paru. Kerusakan ini bisa membuat udara terperangkap dalam paru-paru, yang pada gilirannya menyebabkan sesak napas. Jika udara terjebak terlalu banyak, dada bisa terlihat lebih penuh, seolah seperti bentuk tong.

Alveoli adalah kantung-kantung udara kecil dan tipis yang terletak di ujung saluran udara paru-paru. Dalam kondisi normal, paru-paru kita memiliki sekitar 300 juta alveoli. Ketika kita menghirup udara, udara tersebut masuk ke alveoli untuk menyerap oksigen, yang kemudian masuk ke dalam darah. Ketika kita menghembuskan napas, alveoli menyusut dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh.

Sebagai gambaran, Anda dapat membayangkan paru-paru seperti bungkus gelembung udara. Alveoli adalah gelembung-gelembung kecil di dalamnya. Namun, jika Anda menderita emfisema, gelembung-gelembung ini akan pecah dan berubah menjadi kantong udara besar. Hal ini mengurangi luas permukaan paru-paru untuk mengambil oksigen, yang membuat Anda semakin sulit bernapas.

Gejala dan Ciri-Ciri PPOK

PPOK bisa sulit dikenali di awal karena gejalanya sering mirip dengan masalah pernapasan biasa. Bahkan, gejalanya mungkin baru muncul setelah paru-paru mengalami kerusakan yang cukup parah. Biasanya, gejala PPOK akan semakin memburuk seiring waktu, terutama jika Anda terus merokok atau terpapar zat yang bisa merusak saluran napas.

Berikut adalah beberapa gejala umum dan tanda-tanda yang bisa membantu Anda mengenali PPOK:

1. Sesak napas

Sesak napas merupakan salah satu gejala umum PPOK. Anda bahkan dapat merasa membutuhkan lebih banyak tenaga untuk bernapas, atau lebih mudah terengah-engah saat beraktivitas.

2. Batuk kronis

Batuk yang terus-menerus atau batuk yang mengeluarkan banyak lendir juga dapat menjadi gejala umum PPOK. Batuk kronis ini bisa terjadi karena adanya peradangan dan penyempitan saluran Udara, sehingga dapat memicu produksi lendir berlebih.

3. Produksi dahak berlebih

Pada penderita PPOK, produksi lendir meningkat karena peradangan dan kerusakan saluran napas. Lendir berlebih ini sering disebabkan oleh paparan iritan seperti asap rokok. Tubuh berusaha mengeluarkan lendir tersebut melalui batuk, yang bisa menyebabkan saluran napas tersumbat dan membuat pernapasan semakin sulit.

4. Bunyi napas mengi

Mengi adalah suara bersiul atau mencicit yang terdengar saat bernapas, kondisi ini juga bisa menjadi gejala PPOK. Suara ini muncul karena saluran napas yang menyempit, sehingga udara yang mengalir melalui saluran tersebut menyebabkan getaran.

Penyempitan saluran napas ini bisa disebabkan oleh peradangan, pembengkakan, lendir, atau kerusakan paru-paru. Mengi biasanya terdengar lebih jelas saat Anda menghembuskan napas.

5. Mudah lelah

Penderita PPOK sering merasa lebih cepat lelah. Ini disebabkan oleh berkurangnya aliran udara dan oksigen ke tubuh, yang membuat tubuh kesulitan mendapatkan cukup oksigen. Faktor lain yang membuat tubuh lebih mudah lelah termasuk usaha ekstra untuk bernapas, berkurangnya aktivitas fisik karena sesak napas, serta komplikasi seperti gagal jantung atau depresi.

6. Infeksi saluran pernapasan berulang

Karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, penderita PPOK lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan. Infeksi bakteri dan virus ini bisa memperburuk kondisi dan menyebabkan masalah pernapasan semakin serius.

7. Penurunan berat badan

Penurunan berat badan yang drastis bisa menjadi tanda bahwa PPOK sudah mencapai tahap parah. Pada kondisi ini, kerusakan paru-paru membuat ruang di paru-paru semakin sempit, yang menyebabkan diafragma (otot yang membantu pernapasan) menjadi datar. Ini membuat pernapasan lebih sulit dan tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk bernapas, yang bisa menyebabkan penurunan berat badan yang tidak sehat.

Selain itu, kondisi PPOK juga bisa menyebabkan masalah pencernaan. Makanan tertentu atau makan terlalu cepat bisa membuat perut kembung atau terganggu, yang memperburuk kesulitan bernapas. Jika ini terjadi, Anda mungkin menjadi kurang nafsu makan dan sulit mengonsumsi makanan sehat. Beberapa makanan yang bisa memicu masalah ini adalah makanan pedas, berlemak, atau yang tinggi garam dan kafein.

8. Kebiruan pada bibir atau kuku

Salah satu gejala PPOK yang serius adalah perubahan warna kebiruan pada bibir atau kuku, yang dikenal dengan sebutan sianosis. Ini terjadi ketika darah tidak membawa cukup oksigen, yang bisa menjadi tanda bahwa kondisi Anda membutuhkan perhatian medis segera.

Penyebab Utama PPOK

1. Merokok

Tahukah Sobat, bahwa sebagian besar kasus PPOK, sekitar 75%, terjadi pada orang yang memiliki kebiasaan merokok. Karena saat rokok dibakar, lebih dari 7.000 zat kimia dilepaskan, dan banyak di antaranya sangat berbahaya bagi tubuh.

Zat-zat kimia dalam asap rokok ini melemahkan sistem pertahanan paru-paru, menyempitkan saluran pernapasan, menyebabkan peradangan, serta merusak kantung udara di paru-paru. Dan semua faktor ini berkontribusi pada perkembangan PPOK. Tak hanya rokok, produk tembakau lainnya, seperti rokok elektrik dan cerutu, juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini.

2. Polusi Udara

Selain rokok, polusi udara juga dapat menjadi salah satu penyebab seseorang mengidap PPOK. Khususnya paparan jangka panjang terhadap polusi udara, seperti partikel PM 2,5 dan nitrogen dioksida, meningkatkan risiko seseorang terkena PPOK. Partikel-partikel berbahaya ini berasal dari sumber-sumber seperti kendaraan bermotor, pabrik, pembangkit listrik, pembakaran kayu, serta kebakaran hutan.

Selain itu, kualitas udara yang buruk dapat memperburuk gejala PPOK, mempercepat penurunan fungsi paru-paru, dan meningkatkan risiko bagi siapa saja, terutama mereka yang sudah memiliki faktor risiko lain.

3. Paparan Zat Iritan di Tempat Kerja

Lingkungan kerja yang mengandung bahan kimia, debu, atau asap dalam waktu lama bisa menjadi faktor risiko utama bagi PPOK. Pekerjaan yang melibatkan paparan zat-zat ini menyebabkan sekitar 10-20% gejala pernapasan yang berhubungan dengan PPOK, membuat pekerja lebih rentan terhadap gangguan paru-paru.

4. Infeksi Pernapasan Berulang di Masa Kecil

Riwayat infeksi saluran pernapasan yang sering dialami di masa kecil ternyata bisa meningkatkan peluang seseorang mengidap PPOK di masa dewasa. Infeksi yang terjadi pada masa kanak-kanak bisa memengaruhi perkembangan paru-paru, menyebabkan peradangan, dan membuat saluran pernapasan lebih rentan terhadap kerusakan. Hal ini juga berisiko memperburuk kerusakan paru-paru akibat merokok di masa depan, mempercepat timbulnya PPOK.

5. Faktor Genetik

Faktor genetik juga memainkan peran dalam perkembangan PPOK, meskipun merokok tetap menjadi penyebab terbesar. Tidak semua orang dengan PPOK memiliki riwayat keluarga, tetapi beberapa orang mungkin lebih rentan karena kondisi genetik tertentu, seperti defisiensi alfa-1 antitripsin.

Defisiensi alfa-1 antitripsin adalah kondisi genetik yang memengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi protein pelindung paru-paru. Kondisi ini sering dikaitkan dengan emfisema, dan hanya dapat dideteksi melalui tes darah.

Apakah PPOK Bisa Disembuhkan?

Saat ini, belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan PPOK secara total. Namun, kabar baiknya, kondisi ini bisa dikelola dengan baik melalui perawatan yang tepat. Fokus utama penanganan PPOK adalah meredakan gejala, memperlambat perkembangan penyakit, serta mencegah komplikasi. Dokter biasanya akan merekomendasikan berbagai pendekatan berikut:

1. Memperlambat progresivitas penyakit

Kerusakan paru-paru akibat PPOK bersifat permanen, tapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Dengan pengobatan yang sesuai, perkembangan penyakit bisa diperlambat.

Berikut langkah-langkah pencegahan tingkat keparahan PPOK yang dapat direkomendasikan oleh dokter.

2. Mengurangi gejala

Gejala PPOK seperti batuk kronis, sesak napas, dan mengi bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi intensitas dan frekuensi gejala tersebut agar penderita bisa beraktivitas lebih nyaman.

3. Meningkatkan kemampuan bernapas

Karena PPOK menghambat aliran udara, beberapa jenis obat, seperti bronkodilator, diresepkan untuk membantu membuka saluran napas, sehingga proses bernapas menjadi lebih lega dan tidak terlalu melelahkan.

4. Mencegah komplikasi

Tanpa pengobatan yang konsisten, PPOK dapat memicu komplikasi serius. Itulah mengapa pemeriksaan kesehatan rutin dan kontrol medis menjadi penting agar kondisi tetap stabil dan komplikasi bisa dicegah sejak dini.

5. Meningkatkan kualitas hidup

Tujuan akhir dari semua pengobatan PPOK adalah memastikan penderita bisa menjalani hidup yang lebih nyaman dan aktif. Dengan gejala yang terkendali dan pernapasan yang lebih baik, aktivitas harian pun bisa dilakukan tanpa banyak gangguan.

Cara Mengatasi dan Menangani PPOK

Selain beberapa langkah pengobatan di atas, PPOK juga dapat diatasi dan ditangani dengan beberapa langkah berikut:

1. Berhenti Merokok

Langkah ini adalah pondasi utama dari setiap rencana pengobatan PPOK. Menghentikan kebiasaan merokok membantu memperlambat kerusakan paru-paru dan mengurangi gejala.

Jika Anda kesulitan berhenti, konsultasikan dengan dokter. Tersedia berbagai dukungan mulai dari terapi pengganti nikotin, obat-obatan khusus, hingga kelompok pendukung yang bisa membantu perjalanan berhenti merokok Anda. Hindari juga paparan asap rokok dari orang lain. Jika sobat granostic ingin memulai dari diri sendiri, baca selengkapnya mengenai 10+ Tips Berhenti Merokok Paling Ampuh dan Mudah.

2. Obat-obatan

Bronkodilator

Bronkodilator adalah obat yang biasanya tersedia dalam bentuk inhaler. Obat ini bekerja dengan mengendurkan otot di sekitar saluran napas. Biasanya tersedia dalam bentuk inhaler, dan ada dua jenis utama: kerja pendek (digunakan sebelum aktivitas) dan kerja panjang (untuk penggunaan rutin).

Steroid inhalasi

Kortikosteroid hirup, yang sering disebut steroid, dapat mengurangi peradangan saluran napas dan membantu mencegah serangan saat gejala PPOK memburuk. Akan Tetapi, penggunaan steroid inhalasi dapat memberikan efek samping berupa memar, infeksi mulut, hingga serak.

Antibiotik

Infeksi saluran pernapasan, seperti bronkitis akut, pneumonia, dan influenza, dapat memperburuk gejala PPOK. Dalam hal ini pemberian antibiotik seperti azitromisin bisa membantu, tapi penggunaannya harus hati-hati karena risiko resistensi.


Baca Selengkapnya mengenai, Apa Saja Pengobatan PPOK yang Tersedia Saat Ini?.


3. Terapi Oksigen

Jika kadar oksigen dalam darah terlalu rendah, dokter mungkin akan merekomendasikan penggunaan oksigen tambahan. Terapi ini bisa digunakan saat tidur, saat beraktivitas, atau sepanjang hari, tergantung kebutuhan. Tersedia juga perangkat oksigen portabel untuk mendukung mobilitas Anda.

4. Pulmonary Rehabilitation (Rehabilitasi Paru)

Selain melakukan terapi oksigen, penanganan PPOK selanjutnya juga dapat melalui program rehabilitasi paru. Melansir dari Mayo Clinic, dalam program ini biasanya menggabungkan pendidikan kesehatan, latihan fisik, teknik pernapasan, pemberian saran nutrisi, dan sesi konseling bersama dokter.

Menerapkan rehabilitasi paru-paru setelah gejala PPOK memburuk, dapat membantu mengurangi kemungkinan perawatan di rumah sakit. Selain itu, langkah ini juga memungkinkan pasien untuk dapat menjalani kehidupannya sehari-hari seoptimal mungkin.

5. Vaksinasi

Vaksin sangat penting bagi penderita PPOK karena mereka rentan terhadap infeksi saluran napas. Vaksin seperti influenza, pneumokokus, dan COVID-19 (SARS-CoV-2) disarankan untuk mencegah infeksi yang bisa memperparah kondisi.

6. Operasi

Operasi merupakan pilihan bagi sebagian orang dengan beberapa bentuk emfisema parah yang tidak cukup terbantu dengan obat-obatan saja. Ada pun pilihan prosedur operasi yang dapat diambil berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien PPOK meliputi:

Tips Pencegahan PPOK Sejak Dini

Meskipun belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan PPOK hingga tuntas, bukan berarti kita tidak bisa mencegah penyakit ini sama sekali.

Jika Anda memiliki salah satu faktor risiko PPOK yang disebutkan sebelumnya, atau sekadar ingin menjaga diri, Anda dapat menerapkan beberapa tips pencegahan PPOK sejak dini berikut.

1. Hindari Merokok dan Paparan Asap

Merokok merupakan penyebab utama terjadinya PPOK. Zat kimia dalam asap rokok dapat menyebabkan peradangan kronis, merusak kantung udara di paru-paru, dan menyumbat saluran napas.

Kalau Anda masih merokok, pertimbangkan dengan serius untuk berhenti. Bicarakan dengan dokter tentang metode berhenti merokok yang sesuai, mulai dari terapi nikotin hingga dukungan psikologis.

Jangan lupakan juga bahaya asap rokok dari orang lain (perokok pasif). Sebisa mungkin, hindari lingkungan yang memungkinkan Anda terpapar asap rokok, baik di rumah, kendaraan, maupun tempat kerja. Paru-paru Anda berhak mendapat udara bersih setiap saat.

2. Gunakan Masker di Lingkungan Polusi Tinggi

Selain asap rokok, berbagai polutan di udara juga dapat meningkatkan risiko PPOK. Paparan jangka panjang terhadap debu, asap kendaraan, uap kimia, atau asap dapur tanpa ventilasi yang baik dapat merusak paru-paru secara perlahan.

Gunakan masker pelindung jika Anda bekerja atau beraktivitas di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi. Pastikan tempat kerja memiliki ventilasi yang memadai dan hindari keluar rumah saat kualitas udara sedang buruk.

3. Rutin Melakukan Pemeriksaan Paru

Pemeriksaan kesehatan paru-paru secara rutin adalah langkah bijak untuk deteksi dini. PPOK bisa berkembang secara perlahan tanpa disadari, jadi melakukan cek kesehatan paru secara berkala bisa membantu mengetahui kondisi paru-paru sejak awal dan memungkinkan penanganan lebih cepat jika diperlukan.

4. Jaga Daya Tahan Tubuh

Menjaga daya tahan tubuh juga penting untuk mencegah berbagai gangguan paru, termasuk PPOK. Anda bisa mulai dengan menerapkan gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi, menjaga pola tidur yang cukup, serta rutin berolahraga.

Olahraga teratur tak hanya bermanfaat bagi tubuh secara umum, tapi juga membantu meningkatkan efisiensi paru-paru. Jika Anda belum terbiasa olahraga, mulailah perlahan dan konsultasikan dulu dengan dokter, terutama jika Anda punya masalah kesehatan lain.

5. Vaksinasi Rutin

Vaksinasi adalah salah satu cara penting untuk menjaga saluran pernapasan tetap sehat. Vaksin flu, pneumonia, dan COVID-19 dapat mencegah infeksi yang bisa memperburuk kondisi paru-paru dan meningkatkan risiko PPOK.
Dengan vaksinasi yang tepat, Anda membantu tubuh melawan infeksi yang bisa menjadi pemicu gangguan pernapasan kronis di kemudian hari.

Mengapa Pemeriksaan Dini Sangat Penting?

Sobat Granostic, meskipun tak langsung menunjukkan gejala serius di awal, keberadaan PPOK tidak bisa disepelekan. Penanganan sedini mungkin dapat membantu mencegah kerusakan fungsi paru-paru dan sistem pernapasan untuk lebih buruk, juga dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya.

Hal ini hanya dapat diperoleh dengan deteksi dini gejala PPOK. Deteksi dini juga dapat membantu meningkatkan efektivitas pengobatan dan perawatan medis yang dilakukan.

Pemeriksaan dan Layanan PPOK di Granostic Surabaya

Nah, Sobat Granostic, menyimak bagaimana gejala, risiko, dan bahayanya, Anda pasti setuju bahwa deteksi dini dan pencegahan PPOK sangatlah penting dilakukan.

Kabar baiknya, Anda dapat melakukan pemeriksaan dan layanan screening paru di klinik Granostic Surabaya. Kami memiliki fasilitas pemeriksaan terlengkap, mencakup spirometri, tes fungsi paru, tes pencitraan (X-Ray dan CT-Scan), hingga tas laboratorium.

Tak hanya itu, pemeriksaan ini juga akan dilakukan dengan pendampingan dokter spesialis paru dan tenaga kesehatan ahli di bidangnya. Dengan demikian, Anda dapat melalui proses pemeriksaan secara efisien, nyaman, dan aman.
Jangan Abaikan PPOK!

PPOK mungkin awalnya hanya menyebabkan gejala sepele, yang tampaknya tidak membawa banyak dampak besar pada kesehatan Anda. Namun, penyakit ini dapat berkembang dan menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik, juga sedini mungkin.

Selain itu, kebiasaan merokok dan beberapa penyakit infeksi saluran pernapasan juga dapat menularkan penyakit pada anggota keluarga Anda. Khususnya pada anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna, sehingga lebih rentan terhadap infeksi saluran napas.

Yuk, jaga kesehatan paru Anda dan keluarga dengan booking sekarang untuk cek kesehatan di klinik Granostic Surabaya!


Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo


Sumber Referensi:

  1. World Health Organization (WHO). (2023). Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) – Fact Sheet. Ditinjau oleh tim kesehatan WHO. Diakses pada 2025.
  2. National Health Service (NHS UK). (n.d.). Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Ditinjau oleh NHS medical experts. Diakses pada 2025.
  3. Mayo Clinic. (n.d.). COPD: Symptoms and Causes. Ditinjau oleh tim medis Mayo Clinic. Diakses pada 2025.
  4. Mayo Clinic. (n.d.). COPD: Diagnosis and Treatment. Ditinjau oleh dokter spesialis paru dari Mayo Clinic. Diakses pada 2025.
  5. American Lung Association. (n.d.). What Causes COPD?. Disusun oleh tim ahli kesehatan paru dari American Lung Association. Diakses pada 2025.
  6. Healthline. (2023). How to Prevent COPD: Tips to Reduce Your Risk. Ditinjau oleh Dr. Elaine K. Luo, MD. Diakses pada 2025.
  7. Healthline. (2022). Coping with Fatigue from COPD. Ditinjau oleh tim medis Healthline. Diakses pada 2025.
  8. Healthline. (2022). COPD and Weight Loss. Artikel ditinjau oleh Dr. Judith Marcin, MD. Diakses pada 2025.
  9. Cleveland Clinic. (n.d.). Emphysema. Ditinjau oleh dokter spesialis paru-paru Cleveland Clinic. Diakses pada 2025.
  10. Cleveland Clinic. (n.d.). Chronic Bronchitis. ditinjau oleh tim medis Cleveland Clinic. Diakses pada 2025.





    Sumber:
    https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd)
    https://www.nhs.uk/conditions/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd/#:~:text=Chronic%20obstructive%20pulmonary%20disease%20(COPD)%20is%20the%20name%20for%20a,term%20inflammation%20of%20the%20airways
    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/symptoms-causes/syc-20353679
    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/diagnosis-treatment/drc-20353685
    https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/copd/what-causes-copd
    https://www.healthline.com/health/copd/how-to-prevent-copd#tips-to-prevent-copd
    https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/copd/what-causes-copd
    https://www.healthline.com/health/copd/coping-with-fatigue#copd-and-fatigue
    https://www.healthline.com/health/copd/weight-loss#why-weight-loss-happens
    https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9370-emphysema
    https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24645-chronic-bronchitis

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message