Kenali Perbedaan PPOK vs TB Paru agar Tidak Salah Penanganan

Memiliki gejala yang mirip, banyak orang yang masih salah mengenali Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dengan Tuberkulosis (TB) Paru. Padahal keduanya tidaklah sama dan memerlukan penanganan medis yang berbeda. Lantas bagaimana cara mengenali perbedaan PPOK dan TB Paru?
PPOK dan TB paru merupakan dua jenis penyakit pernapasan yang paling sering terjadi di Indonesia. Pada tahun 2023, Global TB Report menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dengan penderita TBC terbanyak di dunia. Dalam laporan tersebut, Indonesia memiliki satu juta lebih kasus TBC baru, dengan angka kematian mencapai 134 ribu per tahunnya.
Tak jauh beda dengan TB, PPOK juga cukup masih berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada 2021 menyebutkan sebanyak 9.2 juta orang menderita PPOK.
Baik PPOK dan TB paru pada awalnya dapat menimbulkan gejala yang mirip, seperti batuk kronis, mengi, sulit bernapas, hingga penurunan berat badan. Akan tetapi keduanya merupakan kondisi medis yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang tak sama pula.
Nah, agar Anda tak salah mengenali, mari simak penjelasan lengkap soal PPOK vs. TB paru berikut ini!
1. Perbedaan Penyebab
Perbedaan antara PPOK dan TB Paru dapat dilihat dari apa yang menjadi penyebab utama kemunculannya, seperti dalam penjelasan berikut.
PPOK
Melansir dari Jurnal Riset Kesehatan Nasional, PPOK merupakan penyakit paru progresif yang menunjukkan gejala-gejala awal yang mulanya bersifat intermiten, yang kemudian muncul tiap hari dan makin sering seiring dengan perkembangannya.
Nah, penyebab utama PPOK ini adalah kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Sebagai contoh, merokok, terpapar asap kendaraan/pabrik/atau polusi Udara lainnya, hingga paparan jangka Panjang terhadap zat kimia di tempat kerja.
TB Paru
Sementara itu, TB Paru terjadi karena infeksi bakteri (atau kuman) yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB masuk ke dalam tubuh dan menyerang berbagai bagian dalam tubuh, namun yang paling umum adalah paru-paru.
Bakteri TB tidak selalu dapat menimbulkan gejala, kondisi ini dinamakan infeksi TB laten. Meski tidak menimbulkan gejala, pasien TB laten tetap memerlukan pengobatan agar infeksi tidak berkembang menjadi aktif.
2. Perbedaan Gejala Utama
Meskipun sekilas tampak mirip, perbedaan TB Paru dan PPOK juga dapat kita lihat pada gejala utamanya. Berikut penjelasannya, Sobat.
Gejala PPOK
Gejala PPOK kebanyakan tidak tampak sampai Sebagian besar bagian paru-paru mengalami kerusakan. Gejala umumnya akan memburuk seiring dengan perkembangan penyakit, apalagi kalau pasien tetap terekspos asap rokok atau jenis iritan lain.
Beberapa gejala utama PPOK meliputi:
- Kesulitan bernapas, khususnya Ketika beraktivitas fisik.
- Mengi
- Batuk kronis, dapat disertai dengan dahak yang banyak (bening, kuning, atau kehijauan).
- Rasa sesak di dada, atau dada terasa berat.
- Merasa mudah lelah atau tidak berenergi.
- Sering mengalami infeksi saluran napas.
- Penurunan berat badan tanpa sebab.
- Pembengkakan pada kaki.
- Bibir dan kuku tampak membiru.
Gejala TB Paru
Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), TB Paru aktif dapat menimbulkan beberapa gejala berikut:
- Batuk yang bertahan selama 3 minggu atau lebih.
- Nyeri dada.
- Batuk berdarah atau berdahak.
- Rasa lemas dan kelelahan.
- Penurunan berat badan secara drastis.
- Kehilangan nafsu makan.
- Meriang dan demam.
- Keringat malam.
3. Perbedaan Umur dan Riwayat Pasien
PPOK
PPOK dapat menyerang siapa saja, terlepas dari gender atau usia mereka. Penyakit ini juga bahkan dapat diderita oleh anak-anak atau bayi, yang terpapar asap rokok dari lingkungan tempat tinggal mereka. Orang yang memiliki defisiensi AAT, kondisi kelainan genetic, juga berisiko tinggi mengidap PPOK.
TB Paru
Sementara itu, TB Paru juga dapat terjadi pada siapa saja, khususnya mereka yang tinggal di lingkungan endemik TB. Orang-orang yang memiliki sistem imun yang lemah karena kondisi Kesehatan tertentu, seperti diabetes, kanker, atau HIV juga sangat rentan terinfeksi TB.
4. Perbedaan Pola Perkembangan Penyakit
PPOK
Berbeda dengan penyakit TB, PPOK berkembang secara kronis dan perlahan. Pada awalnya seseorang tampak tidak mengembangkan kondisi yang serius, gejala juga tidak sering muncul. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan penyakit, gejala PPOK akan lebih sering muncul dan makin parah.
Bahkan gejala PPOK umumnya baru muncul saat terjadi kerusakan yang signifikan pada organ paru-paru pasien. Gejala yang muncul juga bisa bervariasi pada tiap pasien, seperti batuk-batuk kronis, mengi, sesak napas, dan lainnya.
TB Paru
Sementara itu, TB Paru berkembang dapat dimulai dari penularan infeksi melalui udara, yakni saat penderita TB aktif batuk atau bersin yang menyebabkan bakteri tak sengaja terhirup dan masuk ke dalam paru-paru pasien tertular.
Setelahnya, sistem kekebalan tubuh akan melawan infeksi bakteri TB. Namun jika usaha ini tidak berhasil, bakteri akan terus berkembang biak dan menyebabkan TB aktif, serta memicu berbagai gejala yang menyertainya. Akan tetapi bila infeksi dapat ditekan, maka pasien akan mengidap TB laten yang tidak menimbulkan gejala ataupun dapat menularkan penyakit tersebut pada orang lain.
5. Perbedaan Penularan
PPOK
Meskipun sama-sama menyebabkan batuk-batuk, Sobat Granostic harus ingat, bahwa PPOK tidak bersifat menular. Karena penyakit ini timbul karena kerusakan paru-paru yang terus-terusan terpapar zat iritan dalam Waktu yang lama, seperti asap rokok, polusi udara, hingga kelainan genetis dari lahir.
Jadi Anda tidak akan dapat tertular atau menularkan PPOK dari/pada orang lain, ya, Sobat. Akan tetapi, PPOK dapat membuat sistem kekebalan tubuh Anda melemah, sehingga rentan terkena infeksi saluran napas. Kalau soal infeksi, tentu saja hal ini menular.
TB Paru
Berbeda dengan PPOK, TB Paru justru dapat bersifat menular, khususnya pada pasien TB aktif. Bakteri TB dapat disebarkan melalui udara, yakni ketika penderita TB aktif bicara terlalu dekat dengan Anda, ketika batuk atau bersin, yang menyebabkan bakteri secara tidak sengaja terhirup dan masuk dalam paru-paru.
Melansir dari CDC bakteri TB dapat bertahan di udara selama beberapa jam, tergantung dengan lingkungannya. Jika lingkungan tersebut pengap atau memiliki sirkulasi udara yang buruk, bakteri TB dapat bertahan lebih lama.
6. Perbedaan Pemeriksaan Medis
PPOK
Karena dapat menimbulkan gejala yang cukup umum, PPOK sangat sulit didiagnosis hanya dengan menyimak gejalanya. Karena itu, banyak pengidap PPOK tidak mendapatkan diagnosis dengan tepat sampai kondisinya berkembang jauh.
Melansir dari Mayo CLinic, pemeriksaan PPOK dapat meliputi proses wawancara medis untuk menyimak riwayat kesehatan dan gaya hidup. Selanjutnya, dokter dapat merekomendasikan serangkaian pemeriksaan fisik, termasuk menyimak kerja paru-paru Anda dan melakukan berbagai jenis tes medis. Berikut ini beberapa tes pemeriksaan yang dimaksud;
- Tes fungsi paru: spirometri, tes volume paru, tes difusi paru, oksimetri nadi, hingga tes treadmill.
- Tes pencitraan: Rontgen dada dan/atau CT-Scan.
- Tes laboratorium: analisis gas darah arteri, pengujian defisiensi AAT, dan tes darah.
TB Paru
Tak jauh berbeda, pemeriksaan TB Paru dapat dokter lakukan dengan menyimak nafas Anda menggunakan stetoskop, memeriksa adanya pembengkakan kelenjar getah bening, hingga melakukan wawancara medis seputar gejala yang Anda alami dan riwayat kesehatan serta keluarga Anda.
Jika Anda memiliki risiko tinggi terinfeksi TB, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium, seperti tes darah atau tes kulit. Pemeriksaan laboratorium ini dilakukan untuk menyimak adanya antibodi yang bereaksi terhadap infeksi TB.
7. Perbedaan Komplikasi
PPOK
Tak hanya dapat mengurangi kualitas hidup Anda, PPOK dapat menyebabkan komplikasi serius yang tak boleh diremehkan. Melansir dari Mayo Clinic, berikut ini beberapa komplikasi yang kerap terjadi pada penderita PPOK.
- Infeksi saluran pernapasan, yang sering terjadi karena penderita PPOK memiliki daya tahan yang lemah. Penderita PPOK juga sering terinfeksi flu atau pneumonia, yang dapat memperburuk pernapasan mereka dan menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada jaringan paru.
- Penyakit jantung, PPOK disinyalir dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, termasuk serangan jantung.
- Kanker paru, seseorang yang menderita PPOK juga lebih berisiko terkena kanker paru-paru.
- Tekanan darah tinggi di arteri paru, atau pulmonary hypertension.
- Kecemasan dan depresi, yang dapat mengganggu aktivitas harian Anda.
TB Paru
Sama halnya dengan PPOK, jika tidak ditangani dengan segera dan tepat, TB Paru juga dapat berkembang serta menimbulkan komplikasi serius. Komplikasi ini terjadi karena efek destruktif dari Mycobacterium tuberculosis yang ada dalam jaringan paru-paru dan sekitarnya.
Melansir dari National Library of Medicine, dikatakan bahwa TB paru dapat memiliki berbagai komplikasi seperti:
- Perdarahan dari arteri bronkial, paru dan intercostal.
- Memicu pneumotoraks spontan.
- Peradangan kelenjar getah bening yang dapat menyebabkan kompresi pada pohon bronkial, yang kemudian memicu bronkiektasis.
- Kerusakan paru yang luas dan kronis.
9. Perbedaan Pencegahan
Pencegahan PPOK
Tidak seperti penyakit pernapasan lainnya, PPOK seringnya memiliki penyebab yang cukup jelas. Misalnya karena paparan polutan, zat kimia, atau asap rokok yang dapat mengiritasi paru-paru dalam jangka waktu yang lama.
Karena itu, cara pencegahan PPOK pun dapat dilakukan dengan mulai menerapkan gaya hidup yang sehat. Berikut ini beberapa langkah yang bisa diikuti untuk mencegah terjadinya PPOK:
- berhenti merokok
- gunakan masker atau alat pelindung saluran pernapasan lain bekerja di lingkungan yang berisiko tinggi terpapar zat kimia, asap, ataupun debu.
- lakukan vaksinasi flu secara rutin, juga vaksin untuk mencegah pneumonia demi mengurangi risiko terjadinya infeksi pada saluran pernapasan.
- lakukan pemeriksaan kesehatan paru secara teratur.
Pencegahan TB Paru
Berbeda dengan PPOK, TB paru dapat terjadi ketika Anda terinfeksi kuman atau bakteri penyebabnya. Karena itu, langkah pencegahan TB paru berfokus pada mengurangi potensi Anda tertular oleh bakteri ini. Berikut langkah-langkah yang bisa Anda terapkan:
- hindari berpergian ke tempat atau wilayah dengan kasus TB yang tinggi,
- gunakan masker di tempat yang sumpek atau padat orang.
- saat Anda memiliki infeksi laten, patuhi pengobatan yang diresepkan oleh dokter agar infeksi tidak menjadi aktif dan menular
lakukan vaksinasi TB.
10. Apakah PPOK dan TB Paru Bisa Sembuh?
PPOK
Hingga kini sayangnya belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan PPOK secara menyeluruh. Pengobatan PPOK atau penanganan medis yang dilakukan baru terpusat pada bagaimana cara mengurangi gejala PPOK, mencegahnya berkembang menjadi lebih parah, serta bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderitanya.
TB Paru
Sementara itu, TB Paru dapat disembuhkan secara sepenuhnya. Kesembuhan pasien juga sangat bergantung pada kesuksesan pengobatan yang dilakukan. Sehingga sangat penting bagi pasien untuk meminum obat sesuai dosis dan jadwal yang diberikan dokter.
Pasien juga diharuskan untuk menyelesaikan pengobatan, yang bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Dengan demikian, bakteri TB dalam tubuh dapat dihilangkan dan mencegah terjadinya resistensi obat.
11. Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Baik TB Paru ataupun PPOK pada awal perkembangannya mungkin tidak menunjukkan gejala yang signifikan, atau bahkan mungkin mirip dengan penyakit flu biasa. Namun, jika gejala yang Anda alami tampak lebih sering terjadi dan timbul gejala-gejala mencurigakan lainnya, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosa yang lebih akurat.
Akan tetapi, sangat penting bagi Sobat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan paru-paru secara rutin. Tak hanya mengontrol kesehatan paru, pemeriksaan rutin ini juga dapat membantu mendeteksi dini adanya masalah pada organ paru Anda, termasuk menemukan adanya indikasi TB maupun PPOK.
Dengan deteksi dini, Anda dapat memeroleh perawatan tepat sejak awal perkembangan penyakit tersebut. Hal ini dapat memengaruhi efektivitas pengobatan dan membuat persentase keberhasilan pengobatan semakin besar.
Nah, kabar baiknya, Anda dapat melakukan pemeriksaan kesehatan paru secara rutin di klinik Granostic Surabaya, loh.
Kami menawarkan berbagai rangkaian pemeriksaan paru-paru lengkap, dari tes laboratorium, tes treadmill, tes pencitraan, hingga konsultasi langsung bersama dengan dokter spesialis paru.
Lindungi diri dan keluarga Anda dari TB Paru atau PPOK dengan rutin cek kesehatan paru di klinik Granostic Surabaya! Yuk booking sekarang melalui Whatsapp kami.
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Raviglione, M. C., & Sulis, G. (2021). Tuberculosis. In StatPearls. StatPearls Publishing. ditulis dan ditinjau oleh profesional medis. Diakses 2025
- Mayo Clinic. (n.d.). Tuberculosis – Symptoms and Causes. ditulis dan ditinjau oleh dokter. Diakses 2025
- Mayo Clinic. (n.d.). COPD – Symptoms and Causes. Ditulis oleh tim medis dan spesialis penyakit paru. Diakses 2025
- World Health Organization (WHO). (2023). Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) – Fact Sheet. ditulis oleh ahli epidemiologi dan dokter. Diakses 2025
- Cleveland Clinic. (n.d.). Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). ditinjau oleh dokter spesialis dari Cleveland Clinic. Diakses 2025
- Sari, D. K., Suryani, E., & Widodo, D. (2024). Relationship between TB history and COPD among post-TB patients in Indonesia: a cross-sectional study. Infectious Disease Reports, 16(2), 284–292. Artikel jurnal peer-reviewed yang melalui proses peninjauan ilmiah oleh pakar kesehatan. Diakses 2025

