Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Apa Itu Kanker Paru? Berikut Penjelasannya

Apa Itu Kanker Paru? Berikut Penjelasannya

Tahukah Sobat Granostic, bahwa kanker paru menjadi jenis penyakit kanker ketiga yang paling banyak terjadi di Indonesia? Kanker ini, khususnya, sangat kerap dialami oleh para pria. Lantas apa sih yang dimaksud dengan kanker paru? Lalu apa saja penyebab dan gejalanya?


Menurut artikel dalam Jurnal of Thoracic Oncology, pada tahun 2020, kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak didiagnosis pada pria di Indonesia. Bahkan angka kejadian kanker paru-paru pada pria diperkirakan sebesar 19,4 per 100 ribu orang. Lebih lanjut, angka kematian paru-paru pun tetap menjadi penyebab kematian terbanyak pada tahun tersebut.


Meskipun dampaknya fatal, kanker paru tidak begitu banyak dibicarakan atau mendapat banyak perhatian khusus di kalangan masyarakat. Akhirnya, masyarakat kurang teredukasi dan pasien kanker paru lebih sering mendapatkan perawatan yang terlambat.
Nah, Sobat Granostic, dalam artikel ini kita akan membahas lebih jauh mengenai kanker paru. Agar kita lebih memahami apa saja yang menjadi penyebab, gejala, hingga prosedur diagnosis dan perawatan yang tepat untuk menangani kanker paru ini.


Yuk, simak!


Apa Itu Kanker Paru?


Kanker paru-paru terjadi ketika sel-sel di paru-paru mulai tumbuh tidak terkendali. Paru-paru sendiri adalah dua organ berbentuk spons di dada yang bertugas membantu kita bernapas. Kebiasaan merokok jadi faktor risiko terbesar timbulnya kanker paru-paru.

Semakin lama dan banyak rokok yang dihisap, semakin tinggi pula peluang terserang kanker paru-paru. Tapi tenang, berhenti merokok, bahkan setelah bertahun-tahun menjadi perokok, tetap bisa menurunkan risiko secara drastis. Akan tetapi, kanker paru-paru juga bisa menyerang orang yang tidak pernah merokok sebatang pun.

Kanker paru ini dibagi ke dalam dua jenis, berdasarkan dari bentuk sel di bawah mikroskop. Jenis kanker yang pasien alami menentukan tipe perawatan yang diberikan oleh dokter. Ada dua jenis utama kanker paru:

1. Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC)

Disebut juga kanker paru non-sel kecil, jenis kanker paru ini sangatlah umum terjadi. Lebih dari 80 persen kasus kanker paru di dunia berjenis NSCLC.

NSCLC juga merupakan kategori yang mencakup beberapa jenis kanker paru, seperti karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar

2. Small Cell Lung Cancer (SCLC)

Sementara itu, kanker paru sel kecil merupakan jenis kanker paru yang kerap hanya terjadi pada perokok berat dalam jangka Panjang. Jenis kanker paru inipun cenderung lebih jarang terjadi dibandingkan dengan NSCLC.

Apa Penyebab Kanker Paru?

Sobat Granostic, ada banyak faktor yang dapat meningkatkan seseorang mengidap kanker paru-paru. Beberapa faktor risiko ini dapat dikontrol, namun beberapa lainnya sulit dikendalikan.

Nah, beberapa penyebab yang dapat meningkatkan faktor risiko seseorang mengidap kanker paru antara lain:

1. Merokok

Meskipun ada banyak factor lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengidap kanker paru-paru, merokok menjadi faktor risiko paling besar. Dalam hal ini, rokok tembakau jenis apapun termasuk rokok biasa, cerutu, atau pipa memiliki efek jangka panjang yang sama.

Melansir dari Cleveland Clinic, para ahli memperkirakan bahwa 80% kematian akibat kanker paru-paru selalu berkaitan dengan rokok. Rokok jenis vape pun disinyalir memiliki efek yang sama buruknya untuk kesehatan paru-paru Anda.

2. Paparan asap rokok (perokok pasif)

Selain itu, merokok juga tidak hanya merugikan perokok aktifnya. Namun juga orang-orang yang terpapar asap rokok tersebut dan tidak sengaja menghirupnya, yang disebut sebagai perokok pasif.

Bahkan, ada banyak sumber yang menyebutkan bahwa perokok pasif memiliki risiko yang lebih tinggi. Ini karena mereka terpapar asap rokok yang lebih kaya akan zat berbahaya, termasuk zat yang tidak terfilter oleh perokok aktif.


Baca selengkapnya mengenai, Apa Saja Bahaya bagi Perokok Pasif? Kenali Risikonya dan Cegah dari Sekarang.


3. Paparan polusi udara

Selain asap rokok, paparan polusi udara seperti debu, asap pabrik atau kendaraan, juga memiliki potensi negatif yang sama untuk saluran pernapasan dan kesehatan paru-paru kita. Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan paru-paru, menyebabkan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga kanker.

4. Paparan gas radon

Banyak masyarakat kita yang belum familiar mengenai apa itu radon? Serta bagaimana gas ini dapat memengaruhi Kesehatan pernapasan kita.

Radon merupakan gas radioaktif yang tidak memiliki warna, bau, ataupun rasa khusus. Gas ini berasal dari material batuan dasar dan melewati tanah.

Jika di ruang terbuka, radon tidak akan membahayakan kesehatan kita karena sifatnya yang mencair di Udara. Namun, gas ini dapat menjadi berbahaya bila merembes dan terperangkap dalam ruangan.

Melansir dari laman International Atomic Energy Agency (IAEA), radon dikenal sebagai penyebab Utama kanker paru-paru setelah rokok. Bahkan WHO menuturkan, radon diperkirakan menjadi penyebab tiga hingga empat persen kasus dari seluruh kasus kanker paru-paru di seluruh dunia.

5. Paparan zat karsinogenik di tempat kerja

Paparan zat karsinogenik di tempat kerja juga menjadi salah satu penyebab utama seseorang mengalami kanker paru-paru. Zat karsinogenik ini meliputi arsenic, kromium, nikel, hingga asbestos.

6. Riwayat penyakit paru kronis

Seseorang yang memiliki riwayat penyakit paru kronis juga berisiko tinggi untuk mengembangkan kanker paru-paru.

Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Kanker Paru?

Sobat Granostic, siapapun dapat mengembangkan kanker paru-paru, apalagi jika memiliki gaya hidup yang tak sehat. Namun, ada beberapa kelompok orang yang berisiko tinggi untuk mengalami kanker paru-paru, seperti:

Usia > 55 tahun

Sobat, seiring dengan bertambahnya usia kita maka kemampuan tubuh untuk melawan penyakit pun semakin berkurang. Karena itu, saat memasuki usia lanjut (lansia), seseorang lebih mudah terserang penyakit, termasuk mengembangkan kanker paru-paru.

Melansir dari artikel ilmiah dalam Jurnal Penelitian Bedah, usia rata-rata diagnosis kanker paru adalah di umur 70 tahun, serta hanya 6.7% kasus baru kanker paru-paru yang terjadi pada pasien berusia kurang dari 54 tahun.

Riwayat keluarga dengan kanker paru

Orang dengan riwayat keluarga yang memiliki kanker paru berisiko tinggi mengembangkan masalah kesehatan ini.
Pernah atau sedang mengalami penyakit paru menahun

Seseorang yang sedang atau pernah mengalami penyakit paru menahun juga berisiko tinggi mengembangkan kanker paru. Ini karena penyakit paru kronis ini dapat menimbulkan peradangan menahun, paparan zat karsinogen, hingga berbagai stress oksidatif yang dapat merusak DNA dan mutasi sel.

Tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi

Lingkungan tempat tinggal juga sangat berpengaruh dengan kesehatan sistem pernapasan Anda. Misalnya ketika tinggal di daerah dengan polusi udara yang tinggi pun dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker paru.

Paparan zat kimia di tempat kerja (pekerja pabrik, tambang, konstruksi)

Paparan zat kimia di tempat kerja dapat menyebabkan iritasi pada saluran napas dan paru-paru Anda. Jika terjadi dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu peradangan kronis dan berpotensi mengembangkan sel kanker di paru-paru.

Kurangnya konsumsi antioksidan dan serat dari buah dan sayur

Selain dari lingkungan, merokok, dan riwayat kesehatan keluarga, risiko seseorang terkena kanker paru juga bisa semakin tinggi karena diet yang tidak seimbang.

Meski belum ada penelitian yang spesifik membahas ini, namun antioksidan diketahui dapat membantu menetralisir stress oksidatif yang berpotensi memicu mutasi sel dan mengembangkan sel kanker dalam tubuh.

Apa Saja Gejala Kanker Paru?

Kanker paru umumnya tidak menyebabkan gejala pada awal perkembangannya. Gejala baru muncul ketika penyakit ini jadi lebih parah. Namun mendeteksi dini adanya kanker paru dapat membuat perawatan dan pengobatan untuk mengatasinya jadi lebih efektif.
Nah, berikut ini adalah beberapa gejala yang umum terjadi saat seseorang mengalami kanker paru:

1. Batuk kronis yang tidak sembuh lebih dari 3 minggu

Batuk kronis yang bertahan lebih dari tiga minggu juga bisa menjadi gejala kanker paru.

2. Batuk berdarah atau berdahak berlebihan

Kanker paru dapat menyebabkan perdarahan pada saluran napas. Hal ini dapat membuat penderitanya mengalami batuk berdarah, yang terkadang bisa cukup parah.

3. Sesak napas atau napas cepat lelah

Orang dengan kanker paru juga dapat mengalami sesak napas jika sel kanker memblokir Sebagian besar saluran napas. Selain itu kanker paru juga dapat menimbulkan penumpukan cairan di sekitar paru-paru dan jantung. Cairan inilah yang membuat pasien sulit bernapas, karena berdampak pada ukuran paru-paru saat Anda menghirup udara.
Kesulitan bernapas ini juga dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen, yang akhirnya dapat membuat pasien kanker paru mudah merasa lelah.

4. Nyeri dada saat bernapas atau batuk

Kanker paru yang parah juga dapat menyebabkan rasa nyeri dada. Hal ini terjadi ketika kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain, seperti tulang dada.

5. Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau disertai dengan penurunan nafsu makan. Gejala ini dapat terjadi di awal atau beriringan dengan perkembangan kanker paru tersebut.

Melansir dari Lung Cancer Center, sel kanker membutuhkan lebih banyak energi daripada sel sehat, sehingga membuat tubuh membakar lebih banyak kalori daripada dalam kondisi normalnya.

6. Kehilangan nafsu makan

Seseorang yang mengalami kanker paru juga dapat kehilangan nafsu makan, yang dapat memengaruhi berat badan mereka. Hal ini terjadi ketika sistem imun juga mulai memproduksi substansi bernama cytokines yang dapat meningkatkan inflamasi.
Zat-zat ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dan memengaruhi hormon yang mengendalikan nafsu makan, yang bisa menjadikannya lebih berkurang.

7. Suara serak yang menetap

Meskipun tenggorokan serak dan sakit tidak selalu dikaitkan dengan kanker paru, namun kondisi ini dapat menjadi gejala dari komplikasi atau efek samping dari pengobatan penyakit tersebut.
Kanker paru dapat menyebabkan suara serak yang menetap, yang terasa seperti sakit tenggorokan, karena sel kanker dapat berdampak pada pita suara.

8. Sering demam ringan atau infeksi paru berulang

Pasien kanker paru juga dapat mengalami demam ringan atau infeksi paru yang berulang. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, termasuk tumor paru yang dapat menyumbat saluran napas, sehingga menyebabkan infeksi karena penumpukan cairan dan bakteri dalam paru-paru.

Infeksi berulang ini pun dapat terjadi karena beberapa pengobatan kanker dapat menyebabkan lemahnya system kekebalan tubuh. Sehingga pasien rentan mengalami infeksi, yang juga membuat mereka mengalami demam.
Selain itu, kanker paru juga dapat menyebabkan peradangan di area paru-paru dan saluran napas. Hal ini membuat risiko infeksi paru juga semakin tinggi.

Bagaimana Diagnosis Kanker Paru Dilakukan?

Karena gejala kanker paru secara umum baru terlihat setelah penyakit ini berkembang jauh. Maka untuk melakukan deteksi dini, Anda perlu melakukan pemeriksaan kesehatan paru secara teratur.
Selain itu, untuk mendiagnosis kanker paru, dokter juga akan melakukan beberapa prosedur medis berikut ini.

1. Rontgen Thorax (X-Ray Dada)

Rontgen thorax atau x-ray dada merupakan salah satu metode pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi kanker paru. Prosedur medis ini menggunakan radiasi sinar-X untuk memvisualisasikan kondisi organ di dalam dada Anda, seperti jantung, paru-paru, juga tulang rusuk.

Lewat visualisasi X-ray ini, dokter dapat mendeteksi kanker paru-paru dengan menyimak adanya indikasi kelainan pada paru-paru pasien. Seperti keberadaan massa abnormal atau adanya lesi.
Kelainan ini dapat terjadi karena kanker, namun juga bisa merujuk pada kondisi medis lain. Karena itu, dokter juga akan melanjutkan pemeriksaan menggunakan metode lebih lanjut, seperti CT Scan.

2. CT Scan Dada

CT Scan dada juga menggunakan sinar-X yang dikombinasikan dengan teknologi computer, untuk membuat gambar penampang dada dan perut bagian atas dengan lebih komprehensif. Metode ini lebih mendetail daripada metode X-ray Dada, yang memungkinkan visualisasi jaringan lunak, seperti jantung dan paru-paru, yang lebih baik.

3. PET Scan atau MRI

Selain CT scan dada, dokter juga dapat merekomendasikan pasien untuk melakukan PET Scan atau MRI. Positron Emission Tomography, atau PET, merupakan tipe tes pencitraan yang menggunakan substansi radioaktif untuk menyimak kondisi organ dan jaringan didalamnya bekerja. Namun pemeriksaan ini memberikan detail 3D, yang menampilkan bagaimana fungsi metabolis dan biokimia bekerja.

4. Tes Dahak (Sitologi Sputum)

Selain tes pencitraan, diagnosis kanker paru juga dapat menggunakan tes laboratorium, yakni menggunakan dahak sebagai sampelnya. Pemeriksaan ini juga disebut sebagai sitologi sputum.

5. Bronkoskopi

Kalau hasil CT scan menunjukkan dugaan adanya kanker di bagian tengah dada, dokter mungkin akan menyarankan Anda menjalani bronkoskopi. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat langsung ke dalam saluran pernapasan dan mengambil sampel kecil jaringan (biopsi) untuk diperiksa lebih lanjut.

Saat bronkoskopi dilakukan, alat berbentuk tabung kecil dengan kamera di ujungnya, disebut bronkoskop, akan dimasukkan lewat mulut atau hidung Anda, menuju tenggorokan hingga ke saluran napas.
Agar Anda merasa lebih nyaman, biasanya dokter akan memberikan obat penenang dan anestesi lokal untuk membuat tenggorokan mati rasa. Proses ini umumnya berlangsung sekitar 30–40 menit.

6. Biopsi

Biopsi adalah prosedur medis untuk mengambil sedikit sampel jaringan, yang nantinya akan diperiksa di laboratorium. Ada beberapa metode yang bisa digunakan tim medis untuk melakukan biopsi pada kasus kanker paru-paru.

Selain bronskoskopi, ada juga prosedur mediastinoskopi, di mana dokter membuat sayatan kecil di pangkal leher, lalu memasukkan alat bedah ke belakang tulang dada untuk mengambil jaringan dari kelenjar getah bening.

Pilihan lain adalah biopsi jarum. Pada teknik ini, dokter menggunakan panduan gambar dari CT scan atau sinar-X untuk mengarahkan jarum melalui kulit dada Anda, langsung ke jaringan paru-paru, guna mengambil sel yang diduga kanker.
Terkadang, sampel juga bisa diambil dari kelenjar getah bening atau bagian lain tubuh tempat kanker kemungkinan sudah menyebar.

7. Tes Genetik Tumor (Granomic Cancer Panel)

Sebagai langkah untuk mendiagnosis kanker paru selanjutnya, dokter dapat menyarankan untuk melakukan tes genetik tumor. Pemeriksaan ini memungkinkan deteksi mutase genetic yang dapat meningkatkan risiko kanker.

Bersama Granomic Cancer Panel, Anda dapat melakukan tes genetik tumor yang tak hanya dapat membantu mendeteksi dini adanya risiko kanker dalam tubuh. Namun juga dapat membantu melindungi dan menjaga keluarga Anda dari risiko yang sama.
Granomic Cancer Panel juga menghadirkan layanan yang efisien, efektif, dan nyaman. Sehingga hasil pemeriksaan dapat keluar dengan cepat, sementara prosedur dilakukan bersama tenaga profesional dan terjamin aman.

Komplikasi yang Bisa Terjadi Akibat Kanker Paru

Setelah menyimak bagaimana gejala dan diagnosis kanker paru di atas, Anda juga perlu mengetahui apa saja komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit ini. Berikut penjelasan selengkapnya, Sobat.

1. Penyebaran kanker ke otak, hati, tulang, atau adrenal

Tak hanya berhenti pada paru-paru, sel kanker dapat menyebar ke otak, hati, tulang, atau adrenal. Hal ini dapat menimbulkan nyeri dan berbagai kondisi medis lain yang dapat memperburuk gejala kanker paru itu sendiri.
Penyebaran sel kanker ini terjadi ketika kanker paru berkembang ke stadium empat, kondisi ini juga dikenal dengan kanker metastasis.

2. Infeksi paru berulang (pneumonia)

Sobat Granostic, kanker paru juga dapat memicu penyumbatan di saluran udara yang dapat menyebabkan terjadinya penumpukan cairan di sekitar paru-paru pasien. Hal ini dapat meningkatkan risiko infeksi paru berulang, seperti pneumonia.

3. Efusi pleura (cairan di rongga paru)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kanker paru-paru bisa menyebabkan penumpukan cairan di area dada, kondisi ini dikenal sebagai efusi pleura. Cairan ini menumpuk di rongga pleura, yaitu ruang kecil di sekitar paru-paru dalam rongga dada.
Efusi pleura bisa membuat Anda merasa sesak napas. Kabar baiknya, ada prosedur medis yang bisa membantu mengeluarkan cairan tersebut dari dada. Selain itu, perawatan ini juga bertujuan untuk mencegah penumpukan cairan kembali terjadi.

4. Gagal napas akut

Kanker paru juga dapat menyebabkan gagal napas akut, kondisi ini terjadi karena sel kanker dapat memicu pembentukan cairan di rongga paru atau saluran pernapasan. Sehingga menyumbat aliran udara atau dapat menghambat pembesaran paru ketika pasien menarik napas, keduanya dapat menyebabkan pasien kesulitan bernapas atau mudah terengah-engah.

5. Nyeri kronis

Melansir dari WebMD.com, sekitara 20% hingga 40% pengidap kanker paru, mereka mengeluhkan nyeri dada. Kondisi ini terjadi karena tumor dalam kanker menyebabkan ketegangan atau menekan sel saraf di sekitarnya.
Rasa nyeri ini dapat berlangsung lama dengan tingkat keparahan yang bervariasi, bisa terasa sangat mengganggu saat penderitanya batuk, tertawa, atau bahkan sekadar menarik napas.

6. Gangguan suara dan menelan

Selain nyeri dada, kanker paru juga dapat menyebabkan gangguan suara dan menelan. Kondisi ini sekilas mirip dengan gejala radang tenggorokan.
Namun yang terjadi, sel kanker dapat mengiritasi pita suara sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman dan serak, yang mirip dengan gejala radang atau sakit tenggorokan.

Bagaimana Pengobatan Kanker Paru Dilakukan?

Adapun prosedur pengobatan kanker paru dapat dilakukan menggunakan beberapa metode berikut ini.

1. Operasi (Bedah Reseksi)

Salah satu pilihan awal dalam pengobatan kanker paru adalah melalui tindakan operasi, tergantung pada jenis kanker yang dialami. Jika Anda didiagnosis dengan NSCLC yang belum menyebar atau SCLC yang masih terbatas pada satu area, Anda mungkin menjadi kandidat untuk prosedur ini.

Dalam operasi, dokter bedah akan mengangkat tumor bersama sedikit jaringan sehat di sekitarnya untuk memastikan tidak ada sel kanker yang tersisa. Dalam beberapa kasus, seluruh atau sebagian paru-paru perlu diangkat (reseksi) demi meningkatkan peluang keberhasilan dan mencegah kanker kambuh di kemudian hari.

2. Kemoterapi

Selain operasi, pilihan pengobatan lain yang sering direkomendasikan adalah kemoterapi. Metode ini biasanya menggunakan kombinasi beberapa jenis obat yang bertujuan menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Kemoterapi dapat diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor, setelah operasi untuk membasmi sisa sel kanker, atau dikombinasikan dengan terapi lain seperti imunoterapi. Pada kasus kanker paru-paru, obat kemoterapi umumnya diberikan melalui infus ke dalam pembuluh darah.

3. Radioterapi

Terapi radiasi juga menjadi pilihan penting dalam penanganan kanker paru-paru. Terapi ini memanfaatkan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel-sel kanker. Radiasi bisa digunakan sebagai pengobatan utama, dikombinasikan dengan operasi untuk meningkatkan keberhasilan, atau diterapkan sebagai terapi paliatif guna mengecilkan tumor dan meredakan rasa sakit. Baik pada kasus NSCLC maupun SCLC, radiasi sering kali menjadi bagian dari rencana perawatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

4. Terapi Target

Pada sebagian penderita NSCLC, sel kanker di paru-paru mengalami perubahan genetik tertentu (mutasi) yang mendorong pertumbuhan sel kanker. Untuk mengatasi hal ini, tersedia obat-obatan khusus yang dirancang untuk menargetkan mutasi tersebut, dengan tujuan memperlambat bahkan menghancurkan sel-sel kanker.
Selain itu, ada juga terapi dengan penghambat angiogenesis, yaitu obat yang bekerja dengan menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan tumor untuk berkembang.

5. Imunoterapi

Secara alami, tubuh kita memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan menghancurkan sel-sel yang rusak atau berbahaya. Namun, kanker memiliki strategi untuk menyamarkan dirinya agar tidak terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh.
Imunoterapi bekerja dengan mengungkapkan sel-sel kanker, memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan menyerang sel-sel tersebut, sehingga tubuh kita bisa melawan kanker dengan lebih efektif.

6. Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif adalah bagian dari pengobatan kanker paru-paru yang bertujuan untuk meredakan gejala-gejala yang muncul akibat penyakit ini. Beberapa terapi dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mempermudah pernapasan. Ini termasuk penanganan untuk mengecilkan atau mengangkat tumor yang menghalangi saluran udara, serta prosedur untuk mengeluarkan cairan yang terperangkap di sekitar paru-paru, sekaligus mencegah penumpukan cairan tersebut kembali.

Apakah Kanker Paru Bisa Dicegah?

Meskipun tidak diketahui secara jelas penyebab kanker paru, namun kita dapat mencegah atau mengurangi risiko penyakit ini. Beberapa langkah pencegahan risiko kanker paru antara lain:

1. Berhenti merokok

Merokok dapat memberikan dampak yang sangat besar pada Kesehatan paru, bahkan meningkatkan risiko kanker. Sehingga sebagai upaya pencegahan, Anda perlu menghentikan kebiasaan merokok, apapun jenisnya. Termasuk rokok tembakau, cerutu, hingga vapor. Bagi Anda Sobat Granostic yang ingin berhenti merokok, ikuti 10+ Tips Berhenti Merokok Paling Ampuh dan Mudah.

2. Gunakan masker dan pelindung pernapasan

Tak hanya orang yang aktif merokok, Anda yang hanya terpapar asap dari perokok lain juga memiliki risiko tinggi mengalami kanker paru. Karenanya gunakan masker dan pelindung pernapasan di tempat terbuka, untuk menghindari paparan asap rokok, asap kendaraan, asap pabrik, hingga polusi udara lainnya.

3. Perbanyak konsumsi makanan tinggi antioksidan

Pilihlah pola makan yang sehat dengan mengonsumsi beragam buah dan sayuran yang penuh dengan vitamin dan nutrisi penting. Makanan alami yang kaya gizi selalu menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan.
Makanan tinggi antioksidan juga dapat membantu menetralisir dampak buruk radikal bebas, yang dibawa oleh polusi, untuk mencegah pembentukan sel kanker dalam tubuh kita.

Sebaiknya, hindari mengonsumsi suplemen vitamin dalam jumlah yang berlebihan, karena dapat menimbulkan risiko. Misalnya, sejumlah penelitian yang mencoba mengurangi risiko kanker paru-paru pada perokok berat dengan memberikan suplemen beta karoten justru menemukan bahwa suplemen tersebut malah meningkatkan kemungkinan kanker pada mereka.

4. Rutin berolahraga dan jaga berat badan

Berolahraga memiliki manfaat yang beragam untuk menunjang kesehatan tubuh, termasuk dalam pencegahan kanker paru-paru. Aktif secara fisik akan membantu memperkuat daya tahan tubuh Anda, sehingga dapat mencegah infeksi penyakit.

5. Lakukan medical check-up tahunan

Sebagai langkah kontrol dan pencegahan, Anda juga perlu melakukan cek kesehatan rutin setiap tahun. Apalagi kanker paru cenderung tidak menampakkan gejala yang signifikan di awal perkembangannya.

Melakukan pemeriksaan kesehatan dapat membantu memantau kondisi kesehatan tubuh dan paru-paru Anda. Mendeteksi dini adanya masalah kesehatan dalam organ tubuh tersebut, sehingga Anda dapat memeroleh penanganan sedini mungkin.

6. Ikuti program screening kanker paru

Selain cek kesehatan biasa, Anda juga bisa mengikuti program screening kanker paru. Apalagi jika Anda termasuk dalam orang yang memiliki risiko tinggi kanker paru, seperti memiliki riwayat keluarga dengan kanker paru, pernah mengalami infeksi paru, dan banyak lainnya.

Deteksi Dini Melalui Screening Kanker Paru

Pemeriksaan kanker paru-paru memainkan peran krusial dalam mendeteksi penyakit ini sejak dini, yang bisa meningkatkan peluang kesembuhan dan kelangsungan hidup secara signifikan, terutama bagi mereka yang memiliki risiko tinggi.
Dengan deteksi lebih awal, tumor yang masih kecil dan terlokalisasi bisa lebih mudah diobati, seringkali dengan metode pengobatan yang lebih efektif dan lebih sedikit memerlukan intervensi agresif.

Nah, Sobat, Anda dapat melakukan screening kanker paru ini bersama tim medis ahli dan dokter spesialis paru dari klinik Granostic!

Lewat prosedur pelayanan yang efisien, Anda dapat melalui proses konsultasi dan pemeriksaan medis secara sistematis dan praktis. Proses screening kanker paru pun akan terasa lebih nyaman dan terjamin aman.

Selain itu, keluarnya hasil screening kanker paru inipun cepat dan dapat Anda akses dengan mudah secara online, loh. Anda juga dapat mendiskusikan hasil pemeriksaan langsung dengan dokter spesialis paru Granostic.

Menarik, bukan? Langsung saja buat janji temu dan jadwalkan screening kanker paru Anda bersama Granostic dengan klik tombol WhatsApp, Sobat!




Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo




Sumber Referensi:

  1. Horn, L., et al. (2023). Lung Cancer in 2023: Challenges and Advances. Journal of Thoracic Oncology, 18(10), 1337–1349. Artikel ilmiah peer-reviewed dari jurnal Journal of Thoracic Oncology. Diakses 2025
  2. WebMD. (n.d.). Where Cancer Can Spread in the Lungs. Artikel ditinjau oleh dokter pada tim medis WebMD. Diakses 2025
  3. Mayo Clinic. (n.d.). Lung Cancer – Symptoms and Causes. Konten ditinjau dan disusun oleh tim medis Mayo Clinic. Diakses 2025
  4. Cleveland Clinic. (n.d.). Lung Cancer – Management and Treatment. Informasi ditinjau oleh dokter Cleveland Clinic. Diakses 2025
  5. NHS UK. (n.d.). Lung Cancer – Diagnosis. Diakses 2025
  6. Cancer Research UK. (n.d.). Lung Cancer Symptoms. Diakses 2025
  7. Lung Cancer Center. (n.d.). Weight Loss and Appetite Symptoms in Lung Cancer. Informasi ditinjau oleh tim editorial medis. Diakses 2025
  8. Cleveland Clinic. (n.d.). Genetic Testing for Cancer Risk. Artikel ini ditinjau oleh dokter dari Cleveland Clinic. Diakses 2025





Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message