Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Kenapa Sudah Selesai Menstruasi Tapi Keluar Darah Lagi?

Kenapa Sudah Selesai Menstruasi Tapi Keluar Darah Lagi?

Sobat Granostic, saat mendapati darah Kembali keluar setelah masa menstruasi selesai pasti membuat siapapun merasa khawatir. Namun jangan panik dulu sebelum Anda mengetahui apa penyebab utama keluar darah setelah menstruasi, yang akan Granostic jelaskan padamu.
Pada dasarnya, ada banyak hal yang menyebabkan keluarnya darah setelah menstruasi, yang tak semuanya berbahaya atau menunjukkan masalah medis yang serius. Namun sangat penting bagi Anda mengetahui bagaimana tanda perdarahan setelah menstruasi yang serius, penanganannya yang tepat, dan kapan Anda perlu memeriksakan diri ke dokter.
Semua informasi tersebut akan dibahas dengan lengkap dalam rangkuman Granostic berikut ini:

Penyebab Keluar Darah Setelah Menstruasi

Keluarnya darah setelah menstruasi dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti ketidakseimbangan hormon, ovulasi, penggunaan kontrasepsi, hingga berbagai masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan segera. Berikut penjelasan lebih lengkapnya!

1. Ketidakseimbangan Hormon

Keluar darah setelah menstruasi dapat diakibatkan oleh ketidakseimbangan hormonal, yang kerap terjadi Ketika periode menstruasi Anda tidak teratur. Melansir dari VeryWellHealth.com, hormone seks dalam tubuh akan berfluktuasi dan siklus menstruasi yang biasa tidak lagi dapat diprediksi seperti sebelumnya.
Hal ini normal dan wajar, apalagi jika terjadi pada anak-anak perempuan yang baru mendapatkan menstruasi pertamanya atau perempuan dewasa yang memasuki masa menopause.
Namun, ada kondisi medis hormonal tertentu yang juga dapat menyebabkan bercak darah dan perdarahan yang lebih banyak di antara periode menstruasi. Kondisi ini memerlukan perawatan medis segera, seperti:

2. Ovulasi

Selain ketidakseimbangan hormon, keluar darah setelah haid juga dapat disebabkan oleh ovulasi. Perdarahan akibat ovulasi dapat terjadi selama atau tepat sebelum dan sesudah ovulasi, yang dapat terjadi di tengah-tengah siklus menstruasi.
Perubahan tingkat estrogen dalam tubuh dapat menyebabkan ovulasi, kemudian jika Anda hanya menemukan bercak darah ringan maka hal ini tidak menyebabkan kondisi yang serius.

3. Penggunaan Kontrasepsi Hormonal

Keluar darah setelah menstruasi dapat terjadi karena penggunaan kontrasepsi, yang dapat menyebabkan perubahan hormon pada tubuh Anda, utamanya estrogen.
Melansir dari VeryWellHealth.com, memulai, menghentikan penggunaan, hingga melewatkan dosis kontrasepsi oral dapat menyebabkan perdarahan. Selain itu, pil dosis rendah atau penggunaan pil jangka Panjang juga dapat menyebabkan perdarahan tersebut.
Lebih lanjut, penggunaan kontrasepsi hormonal juga dapat menyebabkan keluarnya darah secara tidak teratur. Contoh dari kontrasepsi metode hormonal misalnya kontrasepsi patch, implant, atau suntikan. Perdarahan utamanya dapat terjadi ketika Anda lupa meminum atau menggunakan alat kontrasepsi tersebut.

4. Infeksi atau Peradangan

Melansir dari Medical News Today, beberapa jenis infeksi menular seksual dapat menyebabkan perdarahan di vagina, contohnya klamidia. Namun, tak hanya dapat ditemukan di antara periode datang bulan, perdarahan karena klamidia juga dapat terjadi selama atau setelah melakukan hubungan seksual.
Selain itu, infeksi juga menjadi penyebab umum dari keluarnya darah setelah menstruasi selesai. Sel dalam sistem reproduksi Anda sangatlah sensitif, sehingga adanya inflamasi di sana dapat dengan mudah menyebabkan perdarahan.
Selain perdarahan infeksi juga biasanya disertai dengan keputihan, yang berwarna putih, kuning, hingga hijau. Sehingga ketika mendapati gejala tersebut, Anda sangat disarankan untuk melakukan konsultasi langsung Bersama dengan dokter spesialis.

5. Polip Rahim atau Serviks

Polip adalah jaringan abnormal dan memiliki tangkai yang dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh, termasuk rahim atau serviks. Tumbuhnya polip pada daerah ini dapat menyebabkan perdarahan di luar menstruasi, sehingga membutuhkan penanganan medis untuk menghilangkannya.

6. Miom Uteri

Miom uteri juga dapat menjadi penyebab keluar darah setelah masa menstruasi selesai. Ini terjadi karena miom dapat mengganggu pengelupasan normal lapisan uterus, yang dapat menyebabkan perdarahan hebat, bercak darah, dan kram.

7. Endometriosis atau Adenomiosis

Endometriosis atau Adenomiosis merupakan kondisi Ketika endometrium atau lapisan permukaan rongga rahim tumbuh dalam dinding otot Rahim. Walaupun pada umumnya tidak menimbulkan masalah serius, akan tetapi adenomyosis dapat menyebabkan perdarahan, nyeri, dan berpengaruh buruk pada kualitas hidup Anda, Sobat.

8. Kanker Serviks

Pada umumnya, perdarahan di antara periode datang bulan tidak menunjukkan masalah Kesehatan yang serius. Akan tetapi, perdarahan di luar periode menstruasi juga dapat menjadi gejala dari beberapa jenis kanker, termasuk kanker serviks.
Melansir dari Medical News Today, perdarahan di antara periode menstruasi atau setelah berhubungan seksual merupakan gejala umum kanker serviks. Kondisi ini juga dapat disertai dengan berbagai gejala lain seperti rasa sakit atau tidak nyaman selama berhubungan seksual hingga keputihan. Baca selengkapnya mengenai, Apa Saja Tanda-Tanda Kanker Serviks yang Wajib Diketahui?.

Tips Mengatasi Perdarahan Setelah Menstruasi

Setelah menyimak apa saja yang menjadi penyebabnya, Sobat Granostic pun perlu mengetahui bagaimana cara mengatasi perdarahan setelah menstruasi yang tepat berikut ini:

1. Pantau Pola Menstruasi

Mengatasi perdarahan setelah menstruasi akan disesuaikan dengan kondisi medis yang mendasarinya, karena itu sebagai langkah pertama, Anda perlu memantau pola menstruasi dengan teliti.
Catat berapa lama siklus menstruasi Anda biasanya, hingga gejala-gejala yang menyertai menstruasi yang Anda alami. Anda juga perlu mencatat mengenai perdarahan pasca-menstruasi tersebut, berapa lama perdarahan tersebut terjadi, seberapa banyak, dan apakah menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman lainnya, dan sebagainya.
Memantau dan mencatat pola menstruasi Anda dapat membantu dokter untuk menganalisis serta memberikan diagnosa yang lebih akurat untuk mendefinisikan kondisi Anda. Sehingga dokter juga dapat meresepkan obat dan merekomendasikan perawatan yang efektif untuk mengatasinya.

2. Konsumsi Makanan Sehat

Sobat Granostic, apa yang kita makan sangat berpengaruh pada kesehatan tubuh kita secara umum, termasuk kesehatan sistem reproduksi kita. Melansir dari National Institute of Health (NIH), beberapa jenis mikronutrien dan suplemen makanan dapat memberikan dampak yang sangat baik untuk Kesehatan reproduksi pria maupun Wanita. Jenis mikronutrien yang dimaksud dapat berupa zinc, selenium, antioksidan, zat besi, vitamin D, B12, E, dan C.
Selain itu, menurut Healthline.com, sebuah studi di tahun 2017 menunjukkan bahwa manajemen berat badan dan perubahan berat badan dapat memengaruhi siklus menstruasi serta menyebabkan bercak darah. Karena itu, Anda direkomendasikan untuk dapat menjaga berat badan tetap stabil dan dalam rentang yang sehat.

3. Kurangi Stres

Telah sejak lama hubungan stres dan kesehatan tubuh terbukti memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Sebuah studi di tahun 2025 menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara tingginya tingkat stress dan menstruasi yang tidak teratur pada perempuan-perempuan muda.
Karena itu, sangat penting untuk mencegah perdarahan di luar masa menstruasi dengan mengatur stress Anda, misalnya lewat:

Anda juga dapat mengatur jadwal kunjungan bersama psikolog atau ahli untuk mendapatkan perawatan khusus, bilamana Anda kesulitan untuk menetralisir stres yang Anda alami seorang diri.

4. Konsultasikan Penggunaan Kontrasepsi

Penggunaan kontrasepsi juga menjadi salah satu penyebab umum terjadinya perdarahan di luar masa menstruasi, sehingga sangat penting bagi Anda untuk melakukan konsultasi dulu dengan dokter sebelum menggunakan kontrasepsi metode apapun.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan kondisi tubuh Anda secara menyeluruh, sehingga dapat merekomendasikan jenis kontrasepsi yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.

5. Hindari Aktivitas Fisik Berlebihan

Aktif secara fisik dapat memberikan banyak manfaat untuk kesehatan tubuh, termasuk sistem reproduksi Anda. Namun, aktivitas fisik berlebihan perdarahan dan kram di luar masa menstruasi. Ini dapat terjadi karena adanya tekanan pada Rahim atau perubahan aliran darah.

6. Periksakan Diri ke Dokter

Tips untuk mengatasi perdarahan di luar masa menstruasi selanjutnya adalah dengan memeriksakan diri ke dokter. Langkah ini sangat penting untuk membantu menganalisis kondisi medis yang menjadi penyebab perdarahan, serta dokter dapat merekomendasikan perawatan dan meresepkan pengobatan sesuai kebutuhan.

Langkah Pencegahan Perdarahan Tidak Normal

Meskipun tidak selalu menunjukkan masalah kesehatan yang serius, bukan berarti Anda dapat membiarkan perdarahan di luar masa menstruasi ini begitu saja. Selain menerapkan cara mengatasi di atas, Anda juga dapat melakukan langkah pencegahan perdarahan tidak normal berikut ini:

1. Rutin Melakukan Pap Smear

Pap smear, atau tes Pap, adalah prosedur pemeriksaan untuk mengambil sampel sel serviks pada wanita. Tujuan dilakukannya tes ini dapat membantu mendeteksi kanker serviks dan sel-sel abnormal lain yang berpotensi berkembang menjadi kanker, serta dapat membantu mendeteksi beberapa jenis infeksi dan inflamasi.
Setiap wanita yang berusia di antara 21 hingga 30 tahun, baiknya melakukan tes Pap smear setidaknya sekali tiap tiga tahun atau sesuai anjuran dokter.. Sementara pada usia 30 hingga 65 tahun, setidaknya melakukan tes Pap sekali tiap 5 tahun atau sesuai anjuran dokter.
Rutin melakukan Pap smear tak hanya membantu mencegah terjadinya perdarahan di luar masa menstruasi, namun mencegah berbagai penyakit serius yang melatarbelakangi kemunculannya.

2. Menjaga Kebersihan Organ Intim

Langkah pencegahan perdarahan abnormal yang perlu Anda lakukan selanjutnya adalah dengan menjaga kebersihan organ intim. Tindakan ini dapat membantu mencegah terjadinya infeksi dan peradangan, yang dapat menyebabkan perdarahan.
Menjaga kebersihan organ intim dapat dilakukan dengan beberapa tips berikut:

3. Menjaga Pola Hidup Sehat

Cara paling dasar untuk mencegah perdarahan abnormal di luar masa menstruasi Anda, yakni dengan menerapkan pola hidup yang sehat. Mulai dari lebih aktif secara fisik, mengonsumsi menu yang sehat dan bergizi seimbang, dan menerapkan manajemen stres yang baik.

4. Menghindari Hubungan Seks Berisiko

Salah satu penyebab perdarahan abnormal di luar masa menstruasi adalah infeksi menular seksual, sehingga untuk mencegahnya Anda perlu menghindari melakukan hubungan seks berisiko. Misalnya Anda perlu menghindari bergonta-ganti pasangan, melakukan hubungan seks yang tidak aman (tanpa kondom), dan sejenisnya.
Selain itu, pastikan untuk langsung buang air kecil setelah Anda melakukan hubungan seks. Karena selama berhubungan seks, bakteri terkadang dapat masuk ke uretra. Sehingga setelah berhubungan seks, pastikan untuk membuang air kecil agar bakteri dapat turut terbuang dan menghindari penularan melalui infeksi saluran kemih.

5. Melakukan Vaksinasi HPV

Anda juga dapat mencegah perdarahan abnormal, utamanya yang disebabkan oleh HPV atau kanker serviks, dengan melakukan vaksinasi HPV. Langsung saja untuk melakukan Vaksin HPV di Surabaya.

Kapan Harus ke Dokter?

Secara umum keluarnya darah setelah masa menstruasi masih tidak berbahaya, apalagi jika jumlahnya sedikit. Namun, Anda perlu mengunjungi dokter bila Anda mengalami:

Perdarahan setelah menstruasi yang berlangsung lebih dari 7 hari.

Jika Anda mengalami perdarahan abnormal setelah menstruasi yang berlangsung lebih dari 7 hari, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosa yang tepat. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan diagnosa tersebut, dokter akan meresepkan pengobatan paling sesuai dengan kondisi Anda.

Perdarahan berat atau menggumpal.

Selain saat berlangsung lama, Anda juga perlu mengunjungi dokter bila perdarahan yang Anda alami cukup berat atau hingga menggumpal.

Nyeri perut bagian bawah atau panggul.

Perdarahan yang disertai dengan rasa nyeri pada bagian bawah perut atau panggul juga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Selain menyebabkan rasa tidak nyaman, rasa nyeri ini juga bisa menjadi masalah yang lebih serius seperti adanya infeksi atau peradangan dalam sistem reproduksi Anda.

Keputihan berbau tidak sedap.

Keputihan juga bisa menjadi salah satu gejala yang harus Anda waspadai, apalagi jika keputihan ini memiliki bau yang tidak sedap, menyebabkan rasa gatal, berwarna pekat, kuning atau hijau, hingga memiliki tekstur yang menggumpal.
Keputihan ini bisa menjadi gejala bahwa Anda mengalami infeksi, sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk dapat memeroleh perawatan yang tepat.

Nyeri saat berhubungan intim.

Jika perdarahan yang Anda alami ini terjadi disertai dengan rasa nyeri saat berhubungan intim, maka Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Rasa nyeri ini dapat terjadi ketika Anda mengalami infeksi, terdapat polip, miom, dan berbagai kemungkinan lainnya.

Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan lengkap mengenai penyebab kenapa keluar darah setelah selesai menstruasi. Apakah Anda pernah mengalami situasi ini sebelumnya?

Daripada mendiagnosis kondisi Anda sendiri, baiknya lakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dan rekomendasi perawatan yang tepat. Anda dapat melakukan pemeriksaan ini di klinik terpercaya dengan bantuan dokter-dokter profesional, seperti di klinik Granostic Surabaya.

Selain melakukan pemeriksaan yang komprehensif, dokter Granostic juga dapat memberikan edukasi mendalam pada Anda terkait menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah terjadinya perdarahan kembali di masa mendatang.

Klinik Granostic juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan lengkap seperti Pap smear test, serta dapat memberikan layanan vaksinasi HPV, yang penting dalam upaya pencegahan perdarahan abnormal tersebut.
Anda dapat langsung mendaftarkan diri dan menjadwalkan kunjungan konsultasi dengan mengisi formulir Registrasi Online. Atau menggunakan layanan home care untuk cek kesehatan rutin di rumah saja.

Yuk, Sobat, jaga kesehatan tubuh dan sistem reproduksi Anda dengan rutin melakukan konsultasi bersama dokter ahli klinik Granostic!


Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo


Sumber Referensi:

  1. Causes of Vaginal Bleeding Between Periods. Very Well Health. Medically reviewed by Cordelia Nwankwo, MD. Diakses 2025
  2. What causes bleeding between periods?. Medical News Today. Medically reviewed by Stacy A. Henigsman, DO. Diakses 2025
  3. Vaginal Bleeding Between Periods. Healthline. Medically reviewed by Michael Weber, M.D. Diakses 2025
  4. What Are the Causes of Spotting After Periods?. Samplytics Technologies. Verified by Dr. Aditi Medical Practitioner, MBBS. Diakses 2025
  5. Spotting Between Periods. Web MD. Medically Reviewed by Poonam Sachdev. Diakses 2025
  6. Pap Smear. Cleveland Clinic. Diakses 2025
  7. Vaginal Hygiene – Do’s and Don’ts. Bloom ObGyn. Diakses 2025



Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message