Kenali Pengobatan Kanker Serviks Secara Tepat

Didiagnosa mengidap kanker serviks bisa memberikan pukulan berat bagi siapapun. Jika Anda dalam posisi ini, berikan waktu sejenak bagi diri Anda untuk mencerna informasi yang ada, dan kembalilah bangkit karena kanker serviks bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Kanker serviks merupakan jenis kanker keempat yang paling banyak dialami oleh perempuan di seluruh dunia. Di Indonesia, kanker serviks menempati posisi kedua setelah kanker payudara, sebagai jenis kanker yang paling banyak diidap oleh perempuan Indonesia.
Kanker ini terjadi pada sel-sel leher rahim, tepatnya di bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Kendati di awal tidak menunjukkan gejala yang signifikan, kanker serviks bisa memberikan dampak yang fatal bagi kehidupan jika tidak ditangani dengan segera dan tepat.
Lewat artikel ini, Granostic akan membahas mengenai berbagai jenis pengobatan kanker serviks yang perlu Anda tahu, disertai dengan proses penyembuhan dan faktor yang memengaruhi efektivitas pengobatan tersebut.
Langsung simak, yuk!
Jenis Pengobatan Kanker Serviks
Pengobatan kanker serviks dapat terdiri dari berbagai metode dan prosedur, yang disesuaikan dengan stadium kanker dan kondisi kesehatan penderitanya.
Adapun beberapa metode pengobatan kanker serviks yang dimaksud meliputi:
1. Operasi (Bedah Kanker Serviks)
Operasi (disebut juga dengan prosedur pembedahan/bedah) merupakan prosedur yang umum digunakan dalam penanganan kanker serviks. Ada banyak jenis tipe pembedahan, yang sangat terkait dengan di mana lokasi kanker tersebut.
Jenis operasi kanker serviks:
Konisasi
Disebut juga dengan cold knife cone, merupakan prosedur bedah yang menggunakan pisau bedah untuk mengangkat sepotong jaringan berbentuk kerucut dari serviks dan saluran serviks. Jaringan ini mengandung sel kanker. Konisasi pisau dingin dilakukan di rumah sakit dengan anestesi umum, yang juga dapat digunakan untuk mengobati perubahan sel serviks tingkat tinggi.
Trakelektomi Radikal
Trakelektomi radikal, dikenal juga dengan servikotomi radikal, merupakan prosedur yang mengangkat serviks, jaringan di dekatnya, dan bagian atas vagina. Bahkan kelenjar getah bening juga dapat diangkat.
Pada prosedur ini, rahim tidak ikut diangkat. Namun setelah dokter bedah mengangkat serviks, dokter akan menempelkan rahim ke bagian vagina yang tersisa. Dengan demikian, pasien masih bisa memiliki anak setelah operasi dilakukan.
Histerektomi
Selanjutnya, jenis prosedur bedah yang digunakan dalam penanganan kanker serviks adalah histerektomi. Prosedur ini memungkinkan bedah pengangkatan seluruh bagian rahim (uterus) dan leher rahim (serviks). Ada beberapa jenis histerektomi, yakni:
Histerektomi Total
Jenis histerektomi ini memungkinkan pengangkatan uterus dan serviks secara total, yang dapat dilakukan tanpa sayatan pada perut (histerektomi vagina total) dan melalui sayatan besar pada perut (histerektomi abdomen total). Namun, bila histerektomi ini dilakukan melalui sayatan kecil pada perut maka disebut sebagai histerektomi laparoskopi total.
Histerektomi Radikal
Jenis histerektomi mengangkat uterus, serviks, bagian dari vagina, dan sebagian besar ligamen serta jaringan di sekitar organ-organ tersebut. Ovarium, tuba falopi, atau kelenjar getah bening di dekatnya juga dapat diangkat melalui prosedur ini.
2. Terapi Radiasi (Radioterapi)
Selain prosedur bedah, penanganan kanker serviks pun dapat dilakukan melalui prosedur terapi radiasi (radioterapi). Terapi radiasi menggunakan sinar-X berenergi tinggi, atau jenis radiasi lainnya, untuk membunuh sel kanker atau mencegahnya tumbuh dengan merusak DNA-nya. Ada dua jenis utama dari terapi radiasi ini, yakni:
Jenis radioterapi:
Radioterapi Eksternal
Terapi radiasi sinar eksternal menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirimkan radiasi ke bagian tubuh yang terkena kanker. Metode yang digunakan yakni melalui terapi radiasi termodulasi intensitas (IMRT), yang membantu mencegah radiasi merusak jaringan sehat di dekatnya.
Radioterapi Internal (Brachytherapy)
Sementara itu radioterapi internal menggunakan zat radioaktif yang disegel dalam jarum, biji, kabel, atau kateter yang ditempelkan langsung ke dalam atau di dekat kanker. Terapi radiasi ini juga dikenal dengan brakiterapi, atau brachytherapy.
3. Kemoterapi
Kemoterapi, disebut juga kemo, merupakan penanganan kanker serviks menggunakan obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau menghentikan pembelahannya. Kemoterapi dapat diresepkan sebagai pengobatan tanggal, atau dapat dikombinasikan dengan pengobatan lain.
Melansir dari National Cancer Institute (NCI), obat-obatan yang umumnya digunakan untuk mengobati kanker serviks meliputi:
- cisplatin
- carboplatin
- gemcitabine
- ifosfamide
- irinotecan
- paclitaxel
- topotecan
- vinorelbine
Selain beberapa jenis obat di atas, masih ada lagi contoh obat yang digunakan dalam pengobatan kanker serviks.
4. Terapi Target
Pengobatan kanker juga dapat melalui terapi tertarget (targeted therapy), yang menggunakan obat-obatan atau zat lain untuk memblokir enzim, protein, atau molekul tertentu yang terlibat dalam pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Terapi ini dapat menghambat pertumbuhan tumor tanpa menimbulkan efek samping pada jaringan yang sehat.
Selain itu, pengobatan terapi tertarget juga biasanya dikombinasikan dengan kemoterapi. Jenis pengobatan ini umumnya digunakan ketika kanker serviks telah berada pada stadium lanjut.
Contoh terapi target untuk kanker serviks:
Bevacizumab (Avastin)
Bevacizumab termasuk dalam obat penghambat angiogenesis. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi proses pembentukan pembuluh darah di tumor. Sehingga tumor pun terhambat dan menjadi mengecil.
5. Imunoterapi
Pengobatan kanker serviks ini juga dapat dilakukan dengan imunoterapi, yang bertujuan untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menghancurkan sel kanker dengan lebih baik.
Bagaimana imunoterapi bekerja?
Imunoterapi juga menggunakan obat tertentu, seperti pembrolizumab. Pembrolizumab mengandung antibodi monoklonal atau sel imun buatan, yang dapat membantu meningkatkan kerja sel-sel darah putih dalam membunuh sel kanker serviks.
Imunoterapi juga umumnya dikombinasikan dengan pengobatan kanker serviks lain, seperti kemoterapi dan terapi tertarget. Terapi ini umumnya diberikan pada penderita kanker serviks stadium lanjut, atau kanker serviks yang Kembali kambuh
Proses Penyembuhan dan Pemulihan Kanker Serviks
Selain berbagai prosedur pengobatan di atas, pengobatan kanker serviks juga melalui proses penyembuhan dan pemulihan dengan rincian tahapan berikut:
1. Pemantauan Setelah Pengobatan
Setelah dilakukannya tindakan-tindakan medis atau pemberian obat-obatan di atas, dokter juga akan melakukan pemantauan rutin setelah pengobatan. Langkah ini dilakukan untuk menyimak bagaimana efektivitas obat-obatan yang diresepkan dan memantau apakah terdapat efek samping tertentu.
Pemantauan kondisi pasien setelah pengobatan ini dapat dilakukan dengan beberapa prosedur medis berikut:
Pap smear dan tes HPV berkala
Lewat pemeriksaan Pap Smear dan tes HPV berkala, Anda dan tim tenaga medis dapat mengetahui bagaimana perkembangan sel-sel abnormal yang ada dalam leher rahim setelah mendapatkan pengobatan.
Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI
Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan penggunaan pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI untuk mendeteksi adanya komplikasi atau mengonfirmasi penyebaran kanker serviks.
Tes darah untuk memantau kesehatan pasien secara keseluruhan
Dokter juga dapat mengarahkan pasien untuk melakukan tes darah lengkap. Tes ini dilakukan untuk memantau kesehatan pasien secara keseluruhan, sebab saat mengalami kanker serviks dan melewati masa pengobatan, hal ini dapat memengaruhi kondisi pasien, baik secara psikologis maupun fisik.
2. Efek Samping dan Cara Mengatasinya
Selain memantau efektivitas pengobatan, dokter juga akan memantau efek samping yang dapat timbul selama dan pasca prosedur penanganan kanker serviks. Beberapa efek samping yang dimaksud misalnya:
Kelelahan
Kelelahan merupakan salah satu efek samping yang sangat umum muncul selama dan setelah prosedur pengobatan kanker serviks. Rasa lelah yang dimaksud dapat bersifat psikologis maupun fisik.
Kondisi ini cenderung memburuk seiring berjalannya perawatan. Anda juga dapat merasa lemah dan kekurangan energi.
Rasa Lelah dapat berlanjut selama beberapa minggu setelah perawatan berakhir. Namun, biasanya perasaan ini dapat membaik secara bertahap.
Anda dapat melakukan berbagai hal untuk mengurangi rasa lelah ini, seperti berolahraga atau mencari dukungan emosional dari orang terdekat Anda.
Mual dan muntah
Pengobatan menggunakan obat-obatan, seperti kemoterapi, imunoterapi, terapi tertarget juga dapat menyebabkan rasa mual dan muntah. Cancer Research UK memberikan beberapa tips untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut, seperti:
- Menghindari makan atau menyiapkan makanan Ketika Anda merasa tidak nyaman.
- Mengurangi makanan yang digoreng, berlemak tinggi, atau makanan dengan aroma yang kuat.
- Minum banyak air untuk mencegah Anda dari dehidrasi.
- Lakukan teknik relaksasi untuk mengurangi sensasi tidak nyaman di perut.
- Anda dapat meminum minuman jahe hangat, yang dapat menenangkan dan memberikan rasa hangat di perut.
- Minuman bersoda membantu sebagian orang saat mereka merasa sakit.
Gangguan hormonal
Pengobatan kanker serviks juga dapat menimbulkan efek samping pada hormone pasien. Melansir dari American Cancer Society, salah satu efek samping umum dari kemoterapi adalah berubahnya siklus menstruasi, menopause dini, dan infertilitas (ketidakmampuan untuk hamil).
Masalah pencernaan
Efek samping lainnya yang dapat pasien alami selama menjalani prosedur pengobatan kanker serviks adalah timbulnya masalah pencernaan, seperti diare, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah.
3. Dukungan Psikologis dan Emosional
Mendapati dirinya terjangkit kanker serviks, tentu tidaklah mudah bagi pasien. Mereka sangat rawan mengalami stres dan depresi, yang dapat memperburuk kondisinya dan mengganggu proses pengobatan.
Karena itu, sangat penting bagi keluarga dan tenaga medis untuk memberikan dukungan psikologis maupun emosional agar pasien memiliki optimisme dalam menjalani pengobatan.
4. Gaya Hidup Sehat Setelah Pengobatan
Setelah menjalani pengobatan, pasien juga perlu menerapkan gaya hidup sehat juga sangat penting dilakukan. Hal ini dapat membantu tubuh merespon pengobatan dengan lebih baik, mengurangi risiko infeksi, dan meminimalisir adanya efek samping.
Beberapa contoh gaya hidup sehat yang dapat diterapkan oleh pasien antara lain:
Menjaga pola makan sehat dan bergizi
Salah satu langkah awal untuk menerapkan gaya hidup sehat adalah dengan menjaga pola makan teratur dan menu bergizi seimbang. Karena apapun yang kita makan juga sangat berpengaruh pada kesehatan tubuh secara umum.
Anda bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan nutrisi tinggi, seperti buah, sayur, biji-bijian, protein tanpa lemak, hingga lemak sehat, yang dapat membantu memperkuat sistem imun tubuh dan memberikan asupan energi yang dibutuhkan.
Berolahraga ringan secara rutin
Selain menerapkan pola makan sehat dan bergizi, Anda juga perlu berolahraga ringan secara rutin agar tubuh tetap bugar. Bagi penyintas kanker, olahraga juga dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan, meningkatkan kualitas hidup, dan membantu mengatasi efek samping pengobatan.
Selain itu, berolahraga juga dapat membantu meningkatkan suasana hati, sehingga cocok untuk dilakukan penyintas kanker yang rawan mengalami stress atau depresi selama proses pengobatan.
Menghindari rokok dan alkohol
Rokok dan alkohol pada dasarnya juga memiliki efek yang buruk terhadap kesehatan tubuh secara umum. Bagi penyintas kanker serviks, rokok dan alcohol dapat meningkatkan risiko kekambuhan, memperlama proses pemulihan, bahkan meningkatkan biaya perawatan dan memperbesar kemungkinan infeksi lainnya.
Mengelola stres dengan baik, seperti melalui meditasi atau yoga
Setelah proses pengobatan, pasien juga dapat menjalani berbagai kegiatan positif untuk mengelola stres dan mengembalikan kesehatan mental mereka. Kegiatan yang dimaksud dapat berupa meditasi, yoga, melakukan hobi-hobi baru yang menyenangkan, dan banyak lainnya.
Apakah Kanker Serviks Bisa Sembuh?
Sobat Granostic, saat didiagnosis dengan kanker serviks Anda pasti merasa resah dan khawatir. Namun, kanker serviks bisa diobati dan memiliki peluang untuk sembuh, asalkan Anda mendapatkan perawatan serta pengobatan yang tepat.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang memengaruhi kesembuhan kanker serviks, seperti:
Faktor yang Mempengaruhi Kesembuhan Kanker Serviks
Stadium kanker saat didiagnosis
Tingkat stadium kanker saat didiagnosis menjadi faktor penting yang memengaruhi kesembuhan kanker serviks. Jika kanker serviks dapat dideteksi sedini mungkin, maka peluang kesembuhan bisa lebih besar. Sementara jika perawatan baru dilakukan ketika pasien berada di stadium lanjut, efektivitas pengobatan tidak akan maksimal.
Jenis pengobatan yang dilakukan
Selain stadium saat kanker didiagnosis, jenis pengobatan yang dilakukan juga berpengaruh dengan faktor kesembuhan kanker serviks. Seperti yang dijelaskan dalam National Library of Medicine, disebutkan bahwa penggunaan metode kombinasi dalam pengobatan kanker serviks cenderung memiliki efek yang signifikan daripada monoterapi (satu jenis terapi).
Lebih lanjut kombinasi terapi juga memiliki keuntungan lebih dibanding monoterapi, misalnya dapat mengurangi intensitas, biaya, jumlah siklus, dan efek samping yang terkait dengan dosis tinggi monoterapi.
Kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan
Hal lain yang menjadi faktor penting dalam harapan sembuh dan efektivitas pengobatan kanker serviks adalah kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Pasien dengan kondisi tubuh yang cenderung lebih sehat atau memiliki sistem imun yang lebih kuat, tentu akan menunjukkan efektivitas pengobatan yang lebih baik dibandingkan pasien dengan kondisi kesehatan yang lebih buruk.
Kepatuhan terhadap perawatan dan gaya hidup sehat
Satu lagi yang berpengaruh pada efektivitas pengobatan kanker serviks adalah kepatuhan pasien terhadap perawatan dan gaya hidup sehat yang dianjurkan oleh dokter.
Ini karena kanker serviks merupakan masalah kesehatan yang kompleks, serta membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang besar dalam proses pengobatannya.
Misalnya, ketika pasien tidak mematuhi anjuran atau dosis minum obat yang sesuai, bisa saja hal ini menyebabkan resistensi dan efek samping yang dapat menghambat proses penyembuhan pasien.
Begitu pula jika pasien menerapkan gaya hidup tak sehat, seperti minum-minuman beralkohol, terus merokok, dan berbagai kebiasaan lain yang dapat memengaruhi kondisi tubuh mereka. Sehingga membuat proses pengobatan tidak berjalan maksimal, atau bahkan dapat memperburuk gejala kanker serviks yang dialami.
Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan lengkap mengenai apa saja pengobatan kanker serviks, potensi efek samping, proses penyembuhan, dan faktor yang menentukan efektivitas pengobatan tersebut.
Telah dikatakan sebelumnya, bahwa dengan deteksi dini pasien dapat memiliki angka harapan kesembuhan yang tinggi. Deteksi dini ini dapat Anda lakukan dengan rutin melakukan cek kesehatan dan pemeriksaan kanker serviks, apalagi di tahap awal kanker serviks pasien dapat tidak menunjukkan gejala apapun.
Kabar baiknya, Anda dapat melakukan pemeriksaan kanker serviks rutin di klinik Granostic Surabaya, loh. Tak hanya itu, Anda juga dapat mengakses layanan vaksinasi HPV untuk mencegah infeksi human papillomavirus, yang menjadi penyebab dari banyak kasus kanker serviks di dunia.
Yuk, Sobat, lindungi diri dan keluarga Anda dari kanker serviks dengan rutin periksa serta vaksinasi HPV di klinik Granostic Surabaya!
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Cervical Cancer Treatment. National Library of Medicine. Diakses 2025
- Treatment of Cervical Cancer. CDC. Diakses 2025
- Cervical Cancer Treatment by Stage. U.S. Department of Health and Human Services at National Institutes of Health National Cancer Institute. Diakses 2025
- What Are the Treatments for Cervical Cancer?. WebMD. Medically Reviewed by Melinda Ratini, MS, DO. Diakses 2025
- Cervical cancer therapies: Current challenges and future perspectives. National Library of Medicine. Carly A Burmeister a,1, Saif F Khan a,1, Georgia Schäfer b,c,d, Nomonde Mbatani g,h, Tracey Adams g,h,i, Jennifer Moodley e,f,g, Sharon Prince. Diakses 2025
- Side effects of cervical cancer radiotherapy. Cancer Research UK. Diakses 2025

