Toksoplasmosis pada Wanita - Apa Itu?

Selama menjalani masa kehamilan, Anda pasti kerap mendengar berbagai petuah dari berbagai pihak. Salah satunya mungkin berbunyi, “Jangan makan makanan mentah, nanti bikin bayi tak sehat.”
Ternyata himbauan ini bukan sekadar mitos yang dibuat-buat untuk menakuti Anda, loh. Karena makan makanan mentah dapat mengandung berbagai kuman dan parasit berbahaya, contohnya Toxoplasma gondii (T. Gondii) yang menyebabkan penyakit toksoplasmosis.
Pada dasarnya toksoplasmosis ini dapat menyerang siapa saja, utamanya yang memiliki daya tahan tubuh lemah. Meski awalnya tidak menyebabkan gejala yang signifikan, toksoplasmosis dapat menjadi dorman dan berkembang, hingga menimbulkan komplikasi serius dan mengancam jiwa.
Saat hamil, infeksi T. Gondii dapat diturunkan pada janin lewat plasenta. Hal ini meningkatkan risiko keguguran, lahir mati, atau masalah kesehatan yang serius pada anak di masa mendatang.
Nah, mengingat betapa gawatnya toksoplasmosis ini pada wanita hamil dan janin, mari kita simak penjelasan lebih lengkap mengenai gejala, penyebab, dan cara penyebarannya berikut ini!
Apa Saja Gejala Toksoplasmosis?
Sobat Granostic, kebanyakan orang yang terjangkit toksoplasmosis tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas. Namun, umumnya, toksoplasmosis dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut:
1. Demam Ringan
Demam merupakan gejala yang sangat umum terjadi karena infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri, kuman, maupun virus. Begitu pula saat parasit penyebab toksoplasmosis menginfeksi tubuh Anda, sistem imun dapat bereaksi dan melawan infeksi.
Perlawanan sistem imun terhadap infeksi ini memicu inflamasi dalam tubuh, yang kemudian meningkatkan suhu tubuh Anda dan menimbulkan demam ringan.
2. Kelelahan dan Nyeri Otot
Selain demam ringan, infeksi T. Gondii juga dapat memicu gejala seperti kelelahan dan nyeri otot. Kedua sensasi ini juga timbul sebagai reaksi sistem imun terhadap infeksi parasit tersebut.
3. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening
Toksoplasmosis juga dapat memicu pembengkakan kelenjar getah bening, karena infeksi ini dapat memicu respon imun tubuh. Kelenjar getah bening dapat tetap membesar selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah infeksi berlalu.
4. Sakit Kepala
Gejala lain yang dapat timbul karena infeksi T. Gondii adalah rasa sakit kepala, yang timbul sebagai reaksi sistem imun dalam melawan infeksi.
5. Nyeri Tenggorokan
Toksoplasmosis diketahui dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan flu, salah satunya sakit tenggorokan.
Gangguan penglihatan
Toksoplasmosis juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan, yang terjadi karena peradangan dan jaringan parut yang ditimbulkan pada mata. Peradangan ini dapat terjadi pada retina dan koroid, lapisan pembuluh darah yang ada di bawah retina.
Penyebab Toksoplasmosis
Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii (T. gondii). Seseorang dapat tertular toksoplasmosis jika secara tidak sengaja menelan sesuatu yang telah terkontaminasi oleh parasit ini.
Karena sifat parasit yang mampu bertahan dalam tubuh, gejala toksoplasmosis bisa muncul baik saat pertama kali terinfeksi maupun di kemudian hari.
Pada awal infeksi, sebagian orang mungkin mengalami gejala ringan yang menyerupai flu. Namun, dalam banyak kasus, sistem kekebalan tubuh mampu mengendalikan infeksi tanpa menimbulkan tanda-tanda yang jelas.
Selama proses pertahanan tubuh melawan parasit, T. gondii membentuk kista kecil dalam tubuh dan dapat bertahan dalam keadaan tidak aktif untuk waktu yang lama.
Penelitian menunjukkan bahwa kista ini dapat pecah secara berkala, memicu respons imun tubuh untuk melawannya. Biasanya, proses ini berlangsung tanpa menimbulkan gejala.
Namun, jika sistem kekebalan tubuh melemah, kista yang pecah dapat menyebabkan reaktivasi infeksi, yang berpotensi menimbulkan gejala toksoplasmosis yang lebih parah.
Bagaimana Toksoplasmosis Menular?
Toksoplasmosis umumnya ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi parasit T. gondii. Parasit ini berkembang biak dalam usus kucing dan dikeluarkan melalui kotorannya. Kotoran kucing yang mengandung parasit dapat mencemari tanah, air, tanaman, dan bahan makanan yang dikonsumsi manusia.
Beberapa cara utama penularan toksoplasmosis meliputi:
1. Konsumsi Makanan Mentah atau Kurang Matang
Daging dan kerang yang tidak dimasak dengan sempurna, serta produk segar yang tidak dicuci, dapat menjadi sumber infeksi.
Daging dari hewan seperti sapi, kambing, domba, babi, dan ayam berpotensi membawa parasit jika tidak dimasak dengan benar. Selain itu, susu kambing yang belum dipasteurisasi serta air yang tidak diolah juga dapat menjadi media penyebaran parasit.
Kontaminasi dengan kotoran kucing yang mengandung parasit
Kucing yang berburu atau diberi makan daging mentah lebih berisiko membawa parasit toksoplasma. Seseorang dapat tertular jika menyentuh mulut setelah menangani benda yang terkontaminasi kotoran kucing, seperti saat berkebun atau membersihkan kotak pasir kucing.
2. Mengonsumsi Air atau Makanan yang Terkontaminasi.
Penularan toksoplasmosis juga dapat terjadi melalui konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi. Karena itu, Anda selalu dianjurkan untuk merebus air hingga matang sebelum mengonsumsinya, serta memastikan bahwa wadah sanitasi selalu dalam kondisi yang bersih.
Kontaminasi melalui tangan yang tidak dicuci setelah berkebun atau menyentuh tanah yang terinfeksi.
Tanah yang terkontaminasi dapat menyebarkan parasit ke buah dan sayuran. Jika tidak dicuci dengan baik sebelum dikonsumsi, parasit ini dapat masuk ke dalam tubuh. Selain itu, peralatan dapur seperti talenan, pisau, atau peralatan lain yang bersentuhan dengan daging mentah juga bisa menjadi perantara penyebaran infeksi.
3. Penularan dari Ibu ke Janin Selama Kehamilan (transmisi kongenital).
Meskipun toksoplasmosis tidak menular antar manusia, seorang ibu hamil yang terinfeksi dapat menularkan parasit kepada janinnya melalui plasenta. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada bayi.
Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari orang yang terinfeksi (jarang terjadi).
Meskipun jarang terjadi, toksoplasmosis dapat ditularkan melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi.
Siapa yang Berisiko Mengalami Toksoplasmosis?
Toksoplasmosis memang dapat menyerang siapa saja, terlepas dari jenis gender maupun usia seseorang. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami infeksi serius, antara lain:
Ibu hamil
Wanita hamil lebih rentan terhadap toksoplasmosis karena perubahan pada sistem imun mereka. Selain itu, parasit ini memiliki kemampuan untuk menembus plasenta dan menginfeksi janin, yang dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius pada bayi yang belum lahir.
Individu dengan Sistem Imun Lemah
Orang dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau mereka yang menjalani pengobatan imunosupresif (misalnya setelah transplantasi organ), memiliki risiko lebih tinggi mengalami toksoplasmosis yang parah. Jika sistem kekebalan tubuh melemah setelah infeksi awal, parasit dapat kembali aktif dan memicu infeksi baru yang lebih berbahaya.
Orang yang Sering Menangani Kucing atau Berkebun
Individu yang sering menangani kucing atau melakukan aktivitas berkebun berisiko lebih tinggi terkena toksoplasmosis. Parasit penyebab toksoplasmosis dapat ditemukan di kotoran kucing dan tanah yang terkontaminasi, sehingga penting untuk selalu menjaga kebersihan tangan setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko.
Mereka yang Sering Mengonsumsi Daging Mentah atau Kurang Matang
Seseorang yang sering mengonsumsi daging mentah atau kurang matang juga berisiko tinggi untuk terinfeksi toksoplasmosis. Sebagai contoh, Sobat Granostic pasti kerap menemukan berita orang-orang keracunan seafood atau setelah memakan daging mentah ketika melancong ke luar negeri.
Toksoplasmosis pada Ibu Hamil
Kondisi imun yang naik turun selama kehamilan dapat membuat ibu rentan mengalami infeksi toksoplasmosis. Infeksi T. gondii yang terjadi saat hamil pun dapat ditularkan ibu pada janin yang dikandungnya.
Hal ini bisa menimbulkan efek membahayakan pada janin, seperti:
1. Keguguran atau Bayi Lahir Mati
Penyebaran toksoplasmosis dari ibu ke janin dapat memberikan dampak yang fatal pada si Kecil, yakni dengan meningkatkan risiko keguguran atau bayi lahir mati. Apalagi jika infeksi ini terjadi pada trimester pertama kehamilan.
2. Kelainan Perkembangan Otak dan Sistem Saraf
Pada bayi yang mengalami toksoplasmosis, infeksi parasit ini dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf mereka. Sehingga meningkatkan risiko adanya masalah kesehatan yang serius pada anak di masa mendatang.
Cacat lahir, termasuk gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran
Toksoplasmosis juga dapat meningkatkan risiko cacat lahir, misalnya bayi mengalami gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran.
3. Hidrosefalus (penumpukan cairan di otak)
Gangguan medis lain yang dapat anak alami akibat infeksi T. gonii selama kehamilan adalah adanya penumpukan cairan di otak, yang disebut juga sebagai hidrosefalus.
Hidrosefalus dapat memicu berbagai gejala yang mengganggu perkembangan dan kualitas hidup anak, seperti sakit kepala, penglihatan kabur, gangguan bicara atau ingatan, gangguan keseimbangan dan koordinasi, dan banyak lainnya.
4. Epilepsi atau Keterlambatan Perkembangan
Karena dampaknya yang signifikan pada kesehatan anak, baik ketika masih dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, toksoplasmosis akhirnya berpengaruh pada perkembangan anak secara umum.
Infeksi ini juga dapat menjadi penyebab anak mengalami epilepsi, yang menyebabkan kejang-kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak anak.
Bagaimana Mendiagnosis Toksoplasmosis?
Sobat, jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mencurigakan, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Untuk memastikan apakah seseorang terkena toksoplasmosis, ada beberapa metode diagnosis yang bisa dilakukan oleh tenaga medis. Yuk, simak!
Tes Darah
Tes darah adalah cara paling umum untuk mendeteksi toksoplasmosis. Dokter akan mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium guna mencari antibodi terhadap parasit Toxoplasma gondii. Selain itu, tes ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi potongan DNA dari parasit tersebut.
Tes PCR (Polymerase Chain Reaction)
Tes PCR digunakan untuk mendeteksi DNA parasit Toxoplasma gondii dalam cairan tubuh, seperti darah, cairan serebrospinal (CSF), atau cairan ketuban. Tes ini sangat berguna untuk mendiagnosis toksoplasmosis kongenital (yang ditularkan dari ibu ke janin), toksoplasmosis pada mata, dan toksoplasmosis yang menyerang otak. Selain itu, PCR juga bisa digunakan untuk memantau perkembangan penyakit serta efektivitas pengobatan.
Pemeriksaan USG janin
Bagi ibu hamil yang telah terdiagnosis toksoplasmosis, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan USG untuk melihat kondisi janin. Meskipun USG tidak bisa secara langsung mendiagnosis infeksi, pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi adanya perubahan pada otak janin yang bisa mengindikasikan infeksi toksoplasma.
Amniosentesis
Jika dokter mencurigai adanya toksoplasmosis kongenital, mereka mungkin akan merekomendasikan amniosentesis. Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel cairan ketuban menggunakan jarum kecil, yang kemudian diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi keberadaan parasit T. gondii.
Langkah Pencegahan Toksoplasmosis
Setelah mengetahui bagaimana toksoplasmosis bisa menyebar, ada baiknya kita melakukan langkah-langkah pencegahan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi ini. Berikut beberapa cara mudah yang bisa Anda terapkan:
1. Masak Daging hingga Matang Sempurna
Sobat, jangan asal makan daging setengah matang, ya! Pastikan daging dimasak hingga suhu yang cukup tinggi untuk membunuh parasit. Gunakan termometer daging jika perlu, dan hindari mengonsumsi makanan laut mentah seperti tiram,
Melansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), Anda direkomendasikan untuk masak daging dan ikan utuh hingga suhu minimal 145 F (63 C) dan diamkan selama minimal tiga menit. Masak daging giling hingga suhu minimal 160 F (71 C). Masak unggas utuh dan giling hingga suhu minimal 165 F (74 C). Jangan makan kerang, remis, atau tiram mentah, terutama selama kehamilan.
2. Cuci Tangan dengan Sabun Setelah Menangani Daging Mentah atau Berkebun.
Selalu praktikkan kebiasaan sehat dengan rutin mencuci tangan dengan sabun, khususnya setelah mengolah daging mentah atau berkebung. Cuci tangan juga sangat penting dilakukan sebelum Anda makan atau minum, untuk mencegah parasit toksoplasmosis masuk dalam pencernaan.
3. Gunakan Sarung Tangan Saat Berkebun
Bagi Sobat yang hobi berkebun, jangan lupa menggunakan sarung tangan! Tanah bisa saja terkontaminasi oleh kotoran kucing yang mengandung parasit toksoplasma. Setelah selesai berkebun, segera cuci tangan dengan sabun dan air bersih.
Hindari konsumsi susu dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi.
Susu mentah dan produk olahan susu yang tidak dipasteurisasi bisa menjadi sumber infeksi parasit. Pilihlah produk susu yang telah melewati proses pasteurisasi untuk menghindari risiko toksoplasmosis.
4. Cuci Buah dan Sayur dengan Bersih Sebelum Dikonsumsi
Buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan baik bisa saja mengandung parasit. Sebelum dikonsumsi atau diolah, pastikan untuk mencucinya dengan air mengalir guna menghilangkan kotoran dan kontaminasi.
5. Jaga Kebersihan Lingkungan dan Hewan Peliharaan
Memiliki hewan peliharaan memang menyenangkan, tapi kebersihannya juga harus dijaga! Bersihkan kandang atau tempat bermain kucing secara rutin, serta hindari kontak langsung dengan kotorannya.
6. Hindari Kontak Langsung dengan Kotoran Kucing
Jika Anda hamil atau memiliki sistem imun yang lemah, sebaiknya minta bantuan orang lain untuk membersihkan kotak pasir kucing. Jika harus melakukannya sendiri, gunakan sarung tangan dan masker, lalu cuci tangan hingga bersih setelahnya.
CDC juga merekomendasikan untuk rutin mengganti kotak pasir kucing setiap hari. Parasit Toxoplasma tidak menular sampai 1 – 5 hari setelah kucing mengeluarkannya melalui fesesnya. Dengan membersihkan kotak pasir setiap hari, Anda membuang feses sebelum menjadi menular.
Apa Saja Komplikasi yang Dapat Terjadi?
Tak hanya berdampak fatal bagi janin dan anak-anak, toksoplasmosis juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi medis lain yang perlu diwaspadai, seperti:
1. Infeksi Mata Kronis (toksoplasmosis okular)
Toksoplasmosis okular merupakan infeksi T. gondii yang terjadi pada satu atau kedua mata. Kondisi ini paling umum terjadi pada remaja atau dewasa muda, yang terlahir dengan infeksi T. gondii bawaan.
Komplikasi toksoplasmosis ini jarang terjadi di saat pertama kali Anda terinfeksi T. gondii. Gejala yang timbul akibat komplikasi ini antara lain:
- Timbul rasa sakit pada mata.
- Pandangan yang kabur.
- Kebutaan.
2. Radang Otak (ensefalitis)
Toksoplasmosis juga dapat menyebabkan radang otak, atau ensefalitis toksoplasma. Gejala yang ditimbulkan dari komplikasi ini antara lain:
- Terjadi pembengkakan kelenjar getah bening
- Turunnya kesadaran
- Gangguan koordinasi tubuh pasien
- Kelemahan pada satu sisi tubuh
- Kesulitan dalam berbicara
- Timbulnya masalah penglihatan
3. Kejang
- Kebingungan
- Sakit kepala
- Demam
- Kerusakan organ dalam
Toksoplasmosis juga dapat berdampak fatal pada kesehatan tubuh dengan memicu kerusakan organ dalam. Sebagai contoh, toksoplasmosis dapat Kembali aktif di paru-paru (toksoplasmosis paru), yang dapat bermanifestasi sebagai demam, sesak napas, mengi, sesak dada, dan batuk-batuk.
4. Gangguan Perkembangan dan Cacat Bawaan pada Bayi
Ketika disebarkan pada janin atau menginfeksi bayi, toksoplasmosis dapat memicu gangguan perkembangan dan meningkatkan risiko cacat bawaan pada bayi. Bahkan, dampak toksoplasmosis pada anak-anak dapat bersifat jangka panjang, dengan kembali aktif saat mereka remaja atau berusia dewasa muda.
Bagaimana Pengobatan Toksoplasmosis?
Mengingat dampaknya yang sangat signifikan pada kesehatan, Anda pasti sangat panik ketika mengalami toksoplasmosis. Toksoplasmosis ditangani dengan penggunaan obat-obatan anti-parasitik dan antibiotik. Kombinasi obat-obatan ini dapat menghentikan T. gondii untuk terus berkembang dan bereproduksi dalam tubuh Anda.
Kombinasi obat-obatan yang dimaksud misalnya:
Pyrimethamine
Pyrimethamine merupakan obat antiparasitic yang dapat digunakan untuk merawat toksoplasmosis.
Sulfadiazine
Sementara itu, sulfadiazine merupakan antibakteri yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri di otak, telinga, atau saluran kencing Anda. Obat ini juga dapat membantu mencegah infeksi bagi orang dengan potensi infeksi yang tinggi.
Spiramycin
Spiramycine merupakan salah satu obat yang dapat diresepkan untuk mengatasi infeksi toksoplasmosis. Namun obat ini tidak direkomendasikan dikonsumsi oleh ibu hamil dengan usia kehamilan lebih dari 18 minggu.
Asam folinat (Leucovorin)
Leucovorin merupakan jenis obat yang dapat mencegah dan mengatasi efek samping berbahaya dari beberapa tipe pengobatan, termasuk kombinasi obat-obatan yang diresepkan untuk mengatasi toksoplasmosis.
Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan lengkap mengenai toksoplasmosis pada wanita, termasuk uraian mengenai gejala, penyebab, penyebaran, cara diganosa, hingga langkah pengobatan dan pencegahannya.
Bila Anda mengalami gejala-gejala toksoplasmosis di atas, segera kunjungi dokter di klinik Granostic Surabaya untuk melakukan pemeriksaan medis dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Dapatkan layanan konsultasi eksklusif bersama dr. Dina Fitriana, Sp.OG, dokter spesialis kandungan berpengalaman di Granostic Surabaya.
Selain itu, untuk mencegah dan deteksi dini adanya infeksi parasit yang berpotensi menganggu kesehatan janin Anda, baiknya lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Pemeriksaan TORCH di Surabaya di klinik Granostic dilakukan dengan standar pelayanan yang tinggi, diawasi oleh tenaga medis ahli dan berpengalaman, serta menggunakan teknologi modern. Hasil pemeriksaan pun dapat Anda peroleh dengan cepat dan akurat.
Tunggu apa lagi? Jaga kesehatan janin dan ibu dengan rutin melakukan cek kesehatan di klinik Granostic Surabaya!
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Toxoplasmosis. Cleveland Clinic. Diakses 2025
- About Toxoplasmosis. CDC. Diakses 2025
- Toxoplasmosis. Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). Diakses 2025
- Immune response against toxoplasmosis—some recent updates RH: Toxoplasma gondii immune response. National Library of
- Medicine. Madiha Sana 1,*, Muhammad Rashid 2,*, Imran Rashid 1,✉, Haroon Akbar 1, Jorge E Gomez-Marin 3, Isabelle Dimier-Poisson 4. Diakses 2025
- Symptoms of Toxoplasmosis. Very Well Health. Medically reviewed by Ronald Lubelchek, MDDiakses 2025

