Cek Screening TBC di Surabaya

Sobat, tahukah Anda bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan TBC, salah satunya adalah cek screening TBC yang bisa Anda akses di klinik Granostic Surabaya.
Seperti yang Anda ketahui, tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit menular yang dapat menimbulkan gejala-gejala berat dan bahkan fatal bila tidak ditangani dengan tepat. TBC cukup mudah menular lewat udara, yakni lewat droplet saliva dari pasien dengan TBC aktif yang menyembur saat ia sedang batuk, bersin, meludah, ataupun bernyanyi dan bicara.
Screening TBC memiliki peranan penting untuk deteksi dini dan pencegahan penularannya. Karena itu, dalam artikel ini Granostic akan mengupas tuntas apa itu screening TBC dan prosedur yang harus Anda lalui. Simak, yuk!
Pengertian Screening TBC
Screening TBC merupakan prosedur pemeriksaan medis untuk mendeteksi dini penyakit tuberkulosis. Prosedur ini dapat dilakukan dengan mencari tanda-tanda bakteri penyebab TBC pada orang yang berisiko tinggi terpapar dan tertular.
Adapun kelompok orang yang berisiko tinggi terkena TBC dan perlu melakukan screening misalnya:
1. Orang yang mengalami batuk berkepanjangan lebih dari 3 minggu.
Batuk merupakan salah satu gejala yang cukup umum, yang dapat terjadi karena berbagai kondisi, seperti flu maupun TBC. Bedanya batuk karena flu tidak akan bertahan lebih lama dari 3 minggu atau hingga berbulan-bulan.
Berbeda dengan TBC, batuk karena infeksi bakteri ini tidak akan bertahan selama berminggu-minggu. Bahkan tidak membaik meski Anda mengobatinya dengan obat batuk biasa.
Karena itu, jika Anda mengalami batuk berkepanjangan dan tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang bahkan setelah minum obat, segera periksakan diri ke dokter, ya.
2. Orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TB aktif.
TBC tidak menular lewat jabat tangan atau kontak fisik dengan penderitanya. Namun, ketika Anda memiliki kontak yang erat seperti tinggal bersama, bekerja dalam ruangan yang sama, dan sejenisnya, hal ini bisa meningkatkan risiko terpapar bakteri TBC.
3. Pasien dengan daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau diabetes.
Orang dengan daya tahan tubuh lemah juga sangat direkomendasikan melakukan screening TBC, seperti pada penderita HIV/AIDS dan diabetes. Ini karena saat sistem imun tubuh lemah, tubuh lebih mudah terinfeksi bakteri TBC.
4. Orang yang sering mengalami demam berkepanjangan tanpa sebab jelas.
Seseorang yang sering mengalami demam berkepanjangan juga perlu melakukan screening TBC. Ini karena demam merupakan salah satu tanda bahwa sistem imun Anda tengah bekerja untuk melawan infeksi.
Demam berkepanjangan dan berulang, menandakan bahwa tubuh Anda sering terpapar penyakit sehingga sistem imun sering dalam mode aktif. Untuk mengetahui sebab utamanya, Anda perlu melakukan berbagai tes kesehatan termasuk screening TBC.
5. Pekerja di lingkungan dengan risiko tinggi, seperti tenaga medis atau pekerja tambang.
Screening TBC juga sangat dianjurkan dilakukan oleh orang yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi, seperti tenaga kerja medis yang sering melayani pasien-pasien TB. Juga pekerja tambang yang kerap bekerja di area berudara lembap, sehingga risiko terjadinya infeksi akibat bakteri atau kuman lainnya juga tinggi.
Efektivitas Screening TBC
Di klinik Granostic Surabaya, skrining TBC dilakukan dengan berbagai metode yang terstruktur dan komprehensif. Sehingga dapat memberikan hasil pemeriksaan yang akurat dan mendetail.
Adapun efektivitas skrining TBC ini dapat digunakan sebagai:
1. Deteksi dini
Tujuan utama skrining TBC adalah untuk deteksi dini keberadaan bakteri penyebab TBC dalam tubuh. Dengan demikian, penderita TBC bisa memeroleh perawatan yang tepat sedini mungkin dan dapat meminimalisir tingkat keparahan gejala, maupun kemungkinan adanya komplikasi.
2. Pengobatan lebih cepat
Jika dapat dideteksi dini, penderita TBC dapat memeroleh perawatan dan pengobatan lebih cepat. Hal ini sangat berpengaruh pada efektivitas pengobatan yang dilakukan, karena pada awal infeksi TB bakteri belum berkembang menjadi lebih parah.
3. Mencegah komplikasi
Melakukan skrining TBC juga dapat membantu mencegah komplikasi dari gejala-gejala TBC. Sebab, semakin lama Anda mengetahui keberadaan TBC, maka semakin lama juga Anda akan mendapatkan pengobatan.
Hal ini akan membuat bakteri TB lebih mudah berkembang dan menunjukkan gejala yang lebih parah. Selain itu, TBC juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius pada tubuh Anda.
4. Mengurangi penularan
Deteksi dini juga penting untuk mencegah dan melacak penularan TBC yang secara tidak sengaja dilakukan oleh penderita. Dengan demikian, skrining TBC juga dapat membantu memangkas rantai penularan TBC.
Jadwal Periksa Screening TBC
Pada dasarnya jadwal periksa skrining TBC dapat disesuaikan dengan seberapa besar risiko Anda terpapar bakteri penyebab TBC. Jika Anda bekerja atau beraktivitas di lingkungan yang tinggi risiko, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tahunan untuk mendeteksi dini TBC.
1. Orang dengan riwayat kontak langsung dengan penderita TB
Jika Anda melakukan kontak erat dengan penderita TB sebelumnya, maka segera lakukan cek skrining untuk menyimak apakah Anda tertular TBC dari kontak tersebut.
2. Pekerja dengan risiko tinggi
Jika Anda bekerja di lingkungan yang berisiko tinggi untuk terpapar TBC atau masalah saluran pernapasan lainnya, maka sangat ideal untuk melakukan skrining secara rutin setiap tahun.
3. Penderita HIV/AIDS atau penyakit kronis lainnya
Bagi penderita HIV/AIDS atau penyakit kronis lainnya yang dapat berpengaruh pada sistem imun, Anda tentu harus rutin melakukan kontrol ke dokter. Sehingga, Anda dapat mendiskusikan bersama dokter mengenai jadwal skrining TBC yang ideal.
Prosedur Pemeriksaan Screening TBC
Untuk mendiagnosis TB secara akurat, diperlukan serangkaian prosedur pemeriksaan yang komprehensif. Berikut adalah beberapa prosedur utama dalam skrining TB:
1. Anamnesis (Wawancara Medis)
Anamnesis adalah proses wawancara medis antara dokter dan pasien untuk mengumpulkan informasi mengenai gejala, riwayat kesehatan, serta faktor risiko yang mungkin dimiliki pasien.
Tujuan dari anamnesis adalah mengidentifikasi gejala yang mengarah pada TB, seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, demam, penurunan berat badan, dan keringat malam.
Selain itu, dokter juga akan menanyakan apakah pasien pernah kontak dengan penderita TB atau memiliki riwayat penyakit yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Anamnesis merupakan langkah awal yang krusial dalam proses diagnosis TB, karena informasi yang diperoleh akan menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.
2. Tes Mantoux (Uji Tuberkulin)
Tes Mantoux, atau uji tuberkulin, adalah metode untuk mendeteksi infeksi TB laten. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan sejumlah kecil protein tuberkulin (purified protein derivative/PPD) ke dalam lapisan kulit lengan bawah.
Setelah 48–72 jam, area suntikan akan diperiksa untuk melihat adanya reaksi berupa pembengkakan atau kemerahan.
Hasil tes dianggap positif jika terdapat benjolan dengan ukuran tertentu, yang menunjukkan bahwa individu tersebut pernah terpapar bakteri TB. Namun, tes ini tidak dapat membedakan antara infeksi laten dan aktif, sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan untuk konfirmasi.
3. Tes Darah (Interferon-Gamma Release Assays/IGRAs)
Interferon-Gamma Release Assays (IGRAs) adalah tes darah yang digunakan untuk mendeteksi infeksi TB dengan mengukur respons sistem kekebalan terhadap antigen spesifik Mycobacterium tuberculosis.
Dalam prosedur ini, sampel darah pasien akan dianalisis di laboratorium untuk mengukur pelepasan interferon-gamma oleh sel darah putih sebagai respons terhadap paparan antigen TB.
IGRAs memiliki keunggulan dibandingkan Tes Mantoux karena tidak dipengaruhi oleh vaksinasi BCG sebelumnya dan memiliki spesifisitas yang lebih tinggi. Namun, seperti Tes Mantoux, IGRAs tidak dapat membedakan antara infeksi TB laten dan aktif.
4. Pemeriksaan Dahak (Tes Mikroskopis atau PCR)
Pemeriksaan dahak merupakan metode utama untuk mendiagnosis TB paru. Pasien diminta mengumpulkan sampel dahak, biasanya di pagi hari, yang kemudian akan dianalisis di laboratorium. Ada dua metode utama dalam pemeriksaan dahak:
- Tes Mikroskopis (Sputum Smear Microscopy): Sampel dahak dioleskan pada kaca objek, diwarnai dengan zat khusus, dan diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi keberadaan bakteri tahan asam seperti Mycobacterium tuberculosis. Metode ini cepat dan sederhana, namun sensitivitasnya terbatas.
- Polymerase Chain Reaction (PCR): Teknik molekuler yang mendeteksi materi genetik bakteri TB dalam sampel dahak. PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan tes mikroskopis, serta dapat memberikan hasil lebih cepat.
Selain itu, PCR dapat mendeteksi resistensi bakteri terhadap obat tertentu, membantu dalam penentuan regimen pengobatan yang tepat.
5. Rontgen Dada (X-Ray Thorax)
Rontgen dada adalah pemeriksaan pencitraan yang digunakan untuk melihat gambaran paru-paru dan mendeteksi kelainan yang mungkin disebabkan oleh infeksi TB. Pada pasien dengan TB aktif, rontgen dada dapat menunjukkan lesi atau infiltrat pada paru-paru yang khas untuk TB.
Meskipun demikian, hasil rontgen saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis TB, karena kelainan serupa dapat ditemukan pada penyakit paru lainnya. Oleh karena itu, rontgen dada biasanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis yang dikombinasikan dengan hasil pemeriksaan klinis dan laboratorium lainnya.
6. CT Scan (Jika Diperlukan)
Computed Tomography (CT) Scan adalah teknik pencitraan lanjutan yang memberikan gambaran detail struktur paru-paru. CT Scan dapat mendeteksi kelainan yang tidak terlihat pada rontgen dada biasa, seperti kavitas kecil atau limfadenopati mediastinum.
Prosedur ini biasanya dilakukan jika hasil rontgen tidak meyakinkan atau jika terdapat kecurigaan komplikasi atau penyebaran TB ke organ lain.
Meskipun memberikan informasi yang lebih rinci, CT Scan tidak rutin digunakan untuk semua pasien TB karena biaya yang lebih tinggi dan paparan radiasi yang lebih besar dibandingkan rontgen biasa.
Alat yang Digunakan dalam Screening TBC
Untuk memastikan diagnosis tuberkulosis (TBC) secara akurat, tenaga medis menggunakan berbagai alat yang dirancang khusus untuk mendeteksi keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis dalam tubuh.
Setiap alat memiliki fungsi spesifik yang membantu dalam proses screening dan diagnosis. Berikut beberapa alat utama yang digunakan dalam pemeriksaan TBC:
1. Syringe dan alat suntik tuberkulin
Syringe dan alat suntik tuberkulin digunakan dalam Tes Mantoux atau uji tuberkulin, yang merupakan salah satu metode screening awal untuk mendeteksi infeksi TBC laten.
Dalam prosedur ini, cairan tuberkulin disuntikkan secara intradermal ke lapisan kulit lengan bawah. Setelah 48–72 jam, dokter akan mengevaluasi reaksi kulit pasien. Jika muncul benjolan dengan ukuran tertentu, hasilnya bisa mengindikasikan adanya infeksi TBC.
2. Alat PCR (Polymerase Chain Reaction)
PCR adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi materi genetik dari bakteri Mycobacterium tuberculosis dalam sampel dahak pasien. Metode ini bekerja dengan cara memperbanyak fragmen DNA spesifik dari bakteri, sehingga keberadaannya bisa terdeteksi meskipun jumlahnya sangat sedikit.
PCR sering digunakan untuk memastikan diagnosis pada pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tidak jelas atau membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.
3. Mikroskop Fluoresensi
Mikroskop fluoresensi merupakan alat yang digunakan dalam pemeriksaan mikroskopis dahak untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab TBC.
Dibandingkan dengan mikroskop cahaya konvensional, mikroskop fluoresensi memiliki sensitivitas yang lebih tinggi karena menggunakan pewarnaan khusus yang membuat bakteri tampak lebih jelas di bawah cahaya ultraviolet atau biru. Alat ini membantu dokter dalam mengidentifikasi kasus TBC lebih cepat dan akurat.
4. Mesin X-ray
Mesin X-ray atau rontgen dada digunakan untuk melihat kondisi paru-paru pasien yang diduga mengalami TBC aktif. Hasil rontgen dapat menunjukkan adanya lesi, kalsifikasi, atau infiltrat yang merupakan tanda khas infeksi TBC.
Meskipun tidak bisa digunakan sebagai metode diagnostik tunggal, X-ray sangat membantu dalam mendukung hasil pemeriksaan lain, terutama pada pasien yang hasil dahaknya negatif tetapi tetap memiliki gejala klinis TBC.
5. CT Scan
CT Scan digunakan dalam kasus tertentu ketika hasil pemeriksaan lain belum cukup memberikan gambaran yang jelas. Alat ini mampu menghasilkan gambar paru-paru dengan resolusi tinggi, sehingga bisa mendeteksi adanya kelainan yang lebih kecil atau tersembunyi yang mungkin tidak terlihat pada rontgen dada biasa.
CT Scan umumnya digunakan untuk mendiagnosis komplikasi TBC atau membedakan TBC dari penyakit paru lainnya.
Dengan bantuan alat-alat ini, proses screening dan diagnosis TBC menjadi lebih akurat, memungkinkan pasien mendapatkan perawatan yang tepat waktu dan efektif.
Biaya Screening TBC di Surabaya
Kabar baiknya, kini skrining TBC sangat mudah dilakukan dan dijangkau oleh masyarakat. Anda dapat melakukan skrining TBC ini di puskesmas, klinik, hingga rumah sakit terdekat dari rumah Anda.
Namun sebelum benar-benar melakukan skrining TBC, Anda mungkin bertanya-tanya seberapa besar sih biaya yang diperlukan?
Hasil rangkuman Granostic, rata-rata biaya skrining TBC di Surabaya berkisar Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung apakah ada layanan pemeriksaan tambahan yang akan Anda lakukan.
Periksa dan Konsultasi di Granostic Surabaya
Bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya, Anda juga bisa loh melakukan skrining TBC di klinik Granostic. Bersama tim medis kami, Anda dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh dan komprehensif, sehingga dapat memberikan hasil yang akurat.
Selain itu, dengan biaya yang kompetitif, klinik Granostic juga memberikan layanan skrining TBC terlengkap. Mulai dari konsultasi dengan dokter umum atau spesialis, tes mantoux, tes laboratorium, hingga tes pencitraan jika diperlukan.
Semua layanan pemeriksaan ini bersifat terpadu, yang memungkinkan Anda mendapatkan penanganan medis yang cepat dan efisien. Di tambah pendampingan dari perawat profesional kami dan fasilitas ruangan yang nyaman, akan memberikan pengalaman baik selama proses pemeriksaan dilakukan.
Nah, buat Sobat Granostic yang ingin melakukan konsultasi bersama dokter kami dan mendaftar skrining TBC, Anda dapat mendaftar secara online lewat laman Registrasi Online.
Yuk, Sobat, lindungi diri dan keluarga Anda dari infeksi bakteri penyebab TB dengan rutin screening TBC bersama klinik Granostic!
Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo
Sumber Referensi:
- Tuberculosis Screening. National Library of Medicine. Diakses 2025
- Tuberculosis: Systematic screening. WHO. Diakses 2025
- Tuberculosis (TB) Test. Cleveland Clinic. Diakses 2025
- Tuberculosis screening among HIV-positive inpatients: a systematic review and individual participant data meta-analysis.The Lancet Clinic. Ashar Dhana, MBBCha ∙ Yohhei Hamada, MDc,d ∙ Prof Andre P Kengne, PhDe ∙ Andrew D Kerkhoff, MDg ∙ Molebogeng X Rangaka, PhDb,d ∙ Tamara Kredo, PhD. Diakses 2025

