Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Apa Itu Demam Berdarah? Kenali Secara Lengkap Disini Yuk!

Kenali Demam Berdarah Secara Lengkap Disini

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan jenis penyakit yang disebarkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi virus dengue ke manusia. Penyakit ini kerap ditemukan di negara-negara tropis dan subtropis, Indonesia adalah salah satunya.

Bahkan menurut rilisan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), kasus DBD di Indonesia cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada minggu ke-43 tahun 2024, dilaporkan ada sebanyak 210.644 kasus DBD di 259 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Meskipun sekilas memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa, demam berdarah dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan segera dan tepat.
Karena itu, penting bagi Sobat Granostic untuk mengenali demam berdarah lewat ulasan lengkap di bawah ini!

Ciri-Ciri Demam Berdarah

Banyak orang yang masih sering menyalah kenali demam berdarah sebagai kondisi lain, seperti flu, sehingga pasien kerap terlambat mendapatkan penanganan. Agar Sobat tidak mengalami hal serupa, berikut ini penjelasan mengenai ciri-ciri demam berdarah:

1. Demam Tinggi Mendadak

Ciri khas utama demam berdarah adalah demam tinggi secara tiba-tiba, yang bisa mencapai 40°C. Demam tinggi ini biasanya berlangsung selama dua hingga tujuh hari dan bersifat bifasik, yang artinya dapat turun setelah beberapa hari, namun naik lagi setelahnya.

2. Nyeri Hebat dibelakang Mata, Otot, dan Sendi.

Ciri demam berdarah lainnya adalah rasa nyeri yang hebat di belakang mata, otot, dan sendi. Gejala ini terjadi karena terjadinya inflamasi di saraf mata atau sekitar mata Anda, yang akhirnya menyebabkan rasa nyeri, tidak nyaman, dan bahkan dapat disertai dengan pandangan yang buram.

3. Munculnya Bintik Merah pada Kulit

Demam berdarah juga dapat dikenali dari bintik-bintik merah yang muncul di seluruh area tubuh. Bintik-bintik merah ini terjadi karena kerusakan kapiler darah, serta umumnya tidak terlihat di awal paparan virus dengue. Namun baru muncul setelah dua hingga lima hari penderita demam berdarah mengalami demam.

4. Mimisan atau Gusi Berdarah

Demam berdarah juga dapat ditandai dengan terjadinya mimisan atau gusi berdarah. Hal ini terjadi karena virus dengue dapat merusak pembuluh darah, yang dapat menyebabkan kebocoran darah atau cairan. Bahkan, pada kasus demam berdarah yang parah, hal ini dapat menyebabkan pendarahan internal, syok, hingga kegagalan organ.

5. Mual, Muntah, dan Kehilangan Nafsu Makan.

Demam berdarah juga dapat menyebabkan mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Melansir dari The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy, setidaknya sebesar 40% pasien DBD mengeluhkan rasa tidak nyaman atau gangguan pada pencernaan mereka. Mulai dari nyeri perut, mual, muntah, hingga diare.
Rasa tidak nyaman di perut ini juga dapat membuat penderita demam berdarah kehilangan nafsu makan mereka.

6. Penurunan Jumlah Trombosit Dalam Darah

Ciri lain yang menandakan seseorang terkena demam berdarah adalah penurunan trombosit dalam darah. Hal ini terjadi karena infeksi virus dengue merusak trombosit dalam darah, serta mengurangi produksi trombosit dari sumsum tulang penderitanya.

7. Syok atau Lemas Berlebihan

Seseorang yang terkena demam berdarah pun kerap menunjukkan ciri syok atau lemas berlebihan. Hal ini terjadi karena berbagai sebab, seperti dehidrasi karena demam tinggi dan muntah-muntah, rasa nyeri di seluruh tubuh, hingga penurunan jumlah trombosit dalam darah.

Penyebab Demam Berdarah

Setelah mengenali ciri-ciri utama yang dapat menandakan seseorang terkena demam berdarah di atas, Sobat juga perlu memahami apa saja faktor yang dapat meningkatkan seseorang terinfeksi virus dengue berikut ini;

1. Lingkungan yang Banyak Genangan Air

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa demam berdarah ditularkan dari gigitan nyamuk yang telah terinfeksi oleh virus dengue, atau aedes aegypti.
Nah, jika seseorang tinggal di lingkungan yang banyak genangan air, tentu hal ini dapat meningkatkan risiko mereka untuk tergigit oleh nyamuk pembawa virus dengue tersebut.
Sebab, lingkungan dengan genangan air dapat menjadi tempat nyamuk aedes aegypti berkembang biak.

2. Kurangnya Kebersihan Lingkungan

Selain lingkungan yang banyak genangan air, lingkungan tempat tinggal yang kotor juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena demam berdarah. Misalnya, tumpukan barang bekas, ruangan yang tidak dibersihkan secara teratur, selokan yang tersumbat dan menggenang, dapat menjadi tempat-tempat nyamuk berkembang biak.

3. Sistem Imun yang Lemah

Sistem imun yang lemah juga dapat menjadi penyebab seseorang mengalami demam berdarah. Karena, daya tahan tubuh yang lemah tidak dapat melawan infeksi virus dengue dengan baik, sehingga berkembang dan menyebabkan demam berdarah.
Bahkan, lemahnya sistem imun ini bisa memengaruhi tingkat keparahan DBD penderitanya. Misalnya, DBD pada anak-anak dan lansia cenderung lebih parah.

4. Penyebaran Virus Melalui Orang yang Sudah Terinfeksi

Tak hanya disebarkan melalui gigitan nyamuk, DBD juga dapat ditularkan melalui orang yang telah terinfeksi. Namun, hal ini tidak terjadi secara langsung, ya. Tidak juga melalui droplet saliva saat bersin atau bertukar makanan.
Virus dengue dapat menular secara person to person ini terjadi misalnya pada ibu yang terkena DBD, bisa menularkan virus tersebut pada janinnya selama kehamilan atau sekitar waktu kelahirannya.

Selain itu penularan DBD dari orang yang terinfeksi juga dapat terjadi melalui prosedur medis tertentu, misalnya donor darah atau transplantasi organ. Perilaku berisiko lain seperti menyuntikkan jarum secara bergantian, juga dapat meningkatkan risiko penularan DBD. Meski begitu, penularan DBD melalui metode ini juga dapat dikatakan sangat langkah, Sobat.

Gejala Demam Berdarah

Demam berdarah memiliki gejala yang khas, dengan pola seperti pelana kuda. Secara umum, gejala demam berdarah ini dapat dilihat dari tiga fase, yakni:

1. Fase Demam (Hari 1-3)

Fase demam biasanya berlangsung selama kurang lebih 3 hari, dimulai 1 hingga 3 hari setelah tubuh tergigit nyamuk.. Fase ini umumnya menyebabkan kenaikan suhu tubuh secara mendadak, disertai sakit kepala, nyeri sendi dan otot, sakit punggung, muncul bintik-bintik merah di kulit, dan penurunan nafsu makan.
Melansir dari National Health Institute UK, kadang-kadang penderita demam berdarah juga menunjukkan gejala seperti flu dan gangguan pencernaan pada fase ini.

2. Fase Kritis (Hari 4-6)

Setelah melewati masa demam, pasien demam berdarah akan mengalami penurunan suhu tubuh, yang kadang disalahpahami sebagai tanda kesembuhan. Fase kritis umumnya terjadi pada hari ke 4 hingga 6, yang dapat berlangsung selama 24 hingga 48 jam.
Fase kritis merupakan fase yang paling berbahaya dari siklus DBD, sebab terdapat kemungkinan pasien mengalami pendarahan dan kebocoran plasma darah. Pendarahan dan kebocoran plasma darah dapat menyebabkan syok, serta berpotensi mengancam jiwa penderita DBD.

Karena itu, pengawasan pasien DBD pada fase kritis tidak boleh dikendorkan. Bahkan, cairan tubuh pasien harus dipantau dengan ketat agar tidak kekurangan atau kelebihan. Sebab cairan yang berlebih dalam pembuluh darah pasien, dapat menyebabkan kematian akibat gagal jantung dan edema paru.
Beberapa pasien dapat mengalami syok atau penurunan tekanan darah secara drastis, serta pendarahan pada gusi, hidung, ataupun kulit. Bahkan melansir dari NIH, fase kritis banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko pendarahan dan disfungsi hati.

3. Fase Pemulihan (Hari 7-10)

Fase ketiga disebut sebagai fase pemulihan, di mana kebocoran pada pembuluh darah sistemik berhenti dan cairan yang keluar dari pembuluh darah akan mulai diserap Kembali. Fase pemulihan terjadi pada hari ke 7 hingga 10, atau 48 hingga 72 jam setelah melewati fase kritis.

Melansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), saat kondisi pasien membaik jumlah sel darah putih akan meningkat dan terjadi pemulihan jumlah trombosit. Namun beberapa pasien DBD bisa saja mengalami ruam yang mengelupas dan terasa gatal.

Cara Mengatasi Demam Berdarah

Melansir dari berbagai sumber, belum ada obat-obatan khusus untuk mengatasi demam berdarah. Karena itu, tindakan pengobatan yang diberikan akan fokus pada gejala dan kondisi pasien. Beberapa cara mengatasi gejala demam berdarah antara lain:

1. Istirahat Total

Beristirahat sangat penting untuk membantu daya tahan tubuh melawan infeksi, serta mencegah pasien mengalami dehidrasi serta memperburuk gejala DBD lainnya.

2. Minum Banyak Cairan

Saat terkena DBD, seseorang rentan mengalami dehidrasi, baik karena demam tinggi maupun karena muntah-muntah. Karena itu, pasien DBD perlu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih yang cukup. Namun, saat memasuki masa kritis, jumlah minum air putih juga perlu diawasi agar tidak berlebihan.

3. Memantau Jumlah Trombosit

DBD juga bisa menyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam darah secara drastis, yakni hingga kurang dari 100.000/µL darah. Penurunan trombosit perlu diawasi karena dapat menimbulkan pendarahan hebat, syok, hingga berpotensi menyebabkan kematian.

4. Mengonsumsi Makanan Bergizi

Mengonsumsi makanan bergizi tinggi, misalnya yang kaya akan mineral dan vitamin, sangatlah penting bagi penderita DBD. Jambu merupakan salah satu contoh makanan ideal untuk penderita DBD, karena kaya akan vitamin C yang dapat meningkatkan trombosit.
Selain jambu, Anda juga bisa menyiapkan kurma, pepaya, delima, dan kiwi yang memiliki kandungan antioksidan tinggi bagi pasien DBD. Antioksidan dan vitamin C juga dapat membantu memperkuat sistem imun, sehingga dapat mendorong pemulihan tubuh.
Pasien juga direkomendasikan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat dan bertekstur lembut agar lebih mudah dicerna, seperti sayuran rebus, telur rebus, serta banyak lainnya.

5. Obat Penurun Demam

Saat demam tinggi terjadi, dokter juga dapat memberikan obat penurun demam. contohnya paracetamol. Obat ini tak hanya efektif untuk meredakan demam akibat DBD, namun juga bisa membantu meringankan rasa nyeri tulang, sendi, dan otot, serta meredakan sakit kepala.

Namun, sangat penting untuk Sobat ingat, bahwa pemberian obat golongan antiradang nonsteroid (NSAID), tidak disarankan digunakan selama DBD. Contoh obat yang dimaksud antara lain aspirin, ketorolac, ibuprofen, dan diclofenac.

6. Rawat Inap Jika Diperlukan

Saat seseorang mengalami demam berdarah yang parah, maka diperlukan perawatan di rumah sakit dengan tenaga medis profesional untuk membantu pasien mendapatkan cairan dan elektrolit intravena, pemantauan tekanan darah, bahkan transfusi darah untuk mengganti kehilangan darah.

Baca Juga: Apa Tanda-Tanda Demam Berdarah Mulai Sembuh? Ini Jawabannya

Pencegahan Demam Berdarah dengan Vaksin DBD

Meskipun sekilas memiliki gejala yang mirip dengan flu, namun DBD memiliki gejala yang lebih parah dan perlu perawatan sesegera mungkin. Kabar baiknya, DBD dapat dicegah dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik, menjaga daya tahan tubuh, serta dengan melakukan vaksin DBD.
Vaksin DBD merupakan vaksin yang mengandung virus dengue yang dilemahkan, sehingga dapat merangsang pembentukan antibodi dalam tubuh Anda untuk melawan infeksi virus tersebut nantinya. Vaksin DBD ini juga dapat membantu mencegah DBD yang disebarkan melalui gigitan nyamuk, loh.
Meskipun tak banyak diketahui, CDC menuturkan bahwa pemberian vaksin DBD ini direkomendasikan untuk diberikan pada anak-anak usia 9 hingga 16 tahun di Amerika, yang tinggal di area endemik DBD.
Adapun manfaat dari vaksin DBD misalnya:

Manfaat Vaksin DBD

Vaksinasi DBD dapat membantu mengurangi infeksi virus dengue, khususnya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Vaksinasi juga dapat membantu menurunkan tingkat keparahan gejala DBD, serta meminimalisir kemungkinan adanya komplikasi yang membahayakan nyawa pasien DBD.

Vaksinasi DBD dapat membantu merangsang pembentukan antibodi yang dapat melawan perkembangan virus dengue dalam darah pasien. Sehingga, dapat mengurangi risiko komplikasi serius akibat DBD ketika terinfeksi.

Selain vaksinasi, langkah-langkah pencegahan lainnya yang bisa dilakukan adalah:

Telah dikatakan sebelumnya, bahwa genangan air dapat jadi tempat dimana nyamuk aedes aegypti berkembang biak. Genangan air ini tak hanya di pinggir jalan atau di selokan sekitar rumah Anda, namun juga air dalam baik mandi atau penampungan air.
Khususnya tempat penampungan air yang cenderung gelap akan menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Karena itu, pastikan untuk menutup rapat tempat penampungan air, agar nyamuk tidak bisa masuk dan hinggap untuk bertelur.

Selanjutnya, Anda perlu menghindari gigitan nyamuk sebisa mungkin. Anda dapat menggunakan kelambu di kamar atau memasang obat nyamuk.

Meskipun sudah menutup rapat, tidak menutup kemungkinan nyamuk dapat masuk ke dalam bak mandi Anda. Karena itu, untuk memastikan bak mandi bersih, baik dari kotoran, lumut, maupun jentik-jentik, bersihkanlah secara rutin.

Langkah selanjutnya untuk mencegah gigitan nyamuk demam berdarah, Anda bisa menanam tanaman pengusir nyamuk, seperti serai atau lavender.
Kedua tanaman ini dapat mengeluarkan aroma khas, yang tidak disukai oleh nyamuk. Sehingga dapat mengusir nyamuk dari ruang kamar Anda.

Anda juga bisa melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan menggunakan pakaian yang dapat menutupi kulit, atau yang berlengan panjang dan terbuat dari bahan tebal.

Nah, Sobat Granostic itu adalah penjelasan lengkap mengenai demam berdarah yang perlu Anda tahu. Mulai dari ciri-ciri, penyebab, gejala, cara mengatasi, hingga berbagai tips pencegahan yang bisa Anda terapkan di rumah.
DBD bisa jadi gawat bila tidak dirawat sesegera mungkin dengan tepat, karena itu jika Anda menyimak gejala-gejala DBD di atas ada pada diri atau keluarga Anda, segera periksa ke dokter.

Klinik Granostic memiliki tenaga medis ahli dan profesional yang dapat memberikan pemeriksaan menyeluruh saat Anda mengalami gejala-gejala DBD. Juga dapat memberikan perawatan dan pengobatan yang tepat, untuk membantu meminimalisir gejala DBD dan mengoptimalkan pemulihan tubuh Anda.

Untuk berkonsultasi dengan dokter Granostic, Anda dapat langsung menghubungi layanan customer care kami atau langsung klik Registrasi Online untuk menjadwalkan konsultasi.

Yuk, lindungi diri dan keluarga Anda dari DBD dengan rutin cek kesehatan bersama Granostic!

Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo


Sumber Referensi:

  1. Clinical Features of Dengue. CDC. Diakses 2025
  2. Dengue and severe dengue. WHO. Diakses 2025
  3. Dengue fever. Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). Diakses 2025
  4. Dengue Fever. Cleveland Clinic. Diakses 2025
  5. Abdominal Disturbances among Dengue Fever Patients. Department of Internal Medicine, Fatmawati General Hospital, Jakarta. **Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia/Dr. Cipto Mangunkusumo General National Hospital, Jakarta. ***Division of Hepatology, Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine University of Indonesia/Dr. Cipto Mangunkusumo General National Hospital, Jakarta. Arnold Hasahatan Harahap*, Marcellus Simadibrata**, Dadang Makmun**, Irsan Hasan***. Diakses 2025
  6. Waspada Penyakit di Musim Hujan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses 2025
Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message