Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

NAPZA: Pengertian, Jenis, Contoh, Bahaya, Dampak Pengaruh, dan Cara Menghindarinya

NAPZA: Pengertian, Jenis, Contoh, Bahaya, Dampak Pengaruh, dan Cara Menghindarinya

Kita sering mendengar istilah NAPZA di berbagai media, tetapi sejauh mana kita benar-benar memahaminya?

NAPZA atau Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya adalah kelompok zat yang dapat memengaruhi kerja sistem saraf manusia. Meski dalam dunia medis beberapa zat ini digunakan untuk pengobatan, penyalahgunaannya telah menjadi salah satu masalah serius di masyarakat.

Penyalahgunaan NAPZA merupakan isu yang sangat kompleks. Penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, melibatkan kerja sama berbagai disiplin ilmu, sektor, serta partisipasi aktif masyarakat secara konsisten, berkelanjutan, dan terus-menerus.

Secara tidak langsung, penyalahgunaan NAPZA tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga, lingkungan, bahkan bangsa secara keseluruhan. Dampaknya bisa terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan terganggu, hubungan sosial rusak, hingga masa depan yang terancam.

Karena itu, Granostic akan membahas secara lengkap tentang apa itu NAPZA, bahaya, dampaknya, hingga langkah-langkah untuk menjauh darinya. Langsung simak, yuk!

Pengertian NAPZA

Secara umum, NAPZA mengacu pada berbagai jenis zat yang dapat memengaruhi fungsi sistem saraf pusat, baik secara fisik, maupun psikologis.

Sebagian dari zat ini sebenarnya memiliki manfaat medis, seperti digunakan untuk pengobatan tertentu di bawah pengawasan dokter.

Namun, ketika disalahgunakan atau digunakan tanpa aturan, NAPZA bisa menimbulkan dampak berbahaya yang memengaruhi kesehatan, perilaku, hingga kehidupan sosial seseorang.

Untuk memahami lebih dalam, mari kita mulai dengan mengetahui apa itu NAPZA secara lebih spesifik dan mengapa penting bagi kita untuk mengenalnya.

1. Narkotika

Narkotika adalah salah satu jenis zat dalam kategori NAPZA yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Fungsinya dapat menyebabkan efek penenang, menghilangkan rasa sakit, bahkan membuat pengguna merasa euforia atau melayang.

Oleh karena itu, narkotika sering digunakan dalam dunia medis, misalnya sebagai obat bius untuk operasi atau penghilang rasa nyeri bagi pasien tertentu.

Namun, di balik manfaat medisnya, narkotika memiliki risiko tinggi untuk disalahgunakan. Penggunaan tanpa pengawasan dokter atau dalam dosis yang tidak sesuai bisa menyebabkan ketergantungan, kerusakan organ tubuh, bahkan kematian. Beberapa contoh narkotika yang sering disalahgunakan adalah morfin, heroin, dan opium.

Bahaya narkotika tidak hanya berdampak pada individu yang menggunakannya, tetapi juga pada keluarga, lingkungan, dan masyarakat secara luas.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa itu narkotika dan bagaimana menghindarinya agar tidak terjerumus dalam dampak buruk yang ditimbulkannya.

2. Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat yang memengaruhi sistem saraf pusat dan cara kerja otak. Efeknya dapat mengubah suasana hati, cara berpikir, dan cara berperilaku seseorang.

Dalam dunia medis, psikotropika sering digunakan untuk mengobati gangguan mental atau kejiwaan, seperti depresi, kecemasan, atau insomnia. Contoh psikotropika adalah obat-obatan, seperti obat penenang (diazepam) dan stimulan (amfetamin).

Namun, penggunaan psikotropika tanpa resep atau pengawasan dokter bisa sangat berbahaya. Penyalahgunaan zat ini sering dilakukan untuk mendapatkan sensasi tertentu, seperti perasaan tenang, energi berlebih, atau bahkan halusinasi.

Dampaknya bisa menyebabkan ketergantungan, gangguan mental, hingga kerusakan otak permanen.
Psikotropika sering kali hadir dalam bentuk pil, kapsul, atau cairan, dan penggunaannya yang salah dapat merusak masa depan, terutama bagi generasi muda.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui bahaya psikotropika dan menjauhi penggunaannya di luar keperluan medis yang sah.

3. Zat Adiktif lainnya

Zat adiktif lainnya merujuk pada berbagai jenis bahan selain narkotika dan psikotropika yang bisa menimbulkan ketergantungan atau kecanduan.

Zat ini seringkali ditemukan dalam produk yang tampak biasa digunakan sehari-hari, sehingga keberadaannya seringkali tidak disadari sebagai ancaman.

Beberapa contoh zat adiktif lainnya adalah nikotin pada rokok, alkohol, kafein, hingga inhalan seperti lem atau cairan pembersih tertentu.

Zat adiktif bekerja dengan cara memengaruhi sistem saraf sehingga tubuh merasa nyaman atau kecanduan untuk menggunakannya lagi. Meskipun beberapa zat seperti kafein masih dianggap aman dalam batas wajar, penggunaan berlebihan atau penyalahgunaan zat, seperti nikotin, alkohol, dan inhalan dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental.

Efek negatif dari zat adiktif lainnya bisa berupa gangguan pernapasan, kerusakan organ tubuh, hingga perubahan perilaku seperti agresivitas atau ketergantungan berat.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali zat-zat ini dan mengontrol penggunaannya, terutama di kalangan remaja yang sering kali menjadi target promosi produk berbahaya ini.

Jenis-Jenis NAPZA

Ada banyak jenis-jenis NAPZA yang harus Anda tahu, seperti dalam penjelasan di bawah ini.

1. Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bahan sintetis yang dapat menimbulkan efek tertentu pada tubuh, terutama dengan memengaruhi sistem saraf pusat.

Zat ini umumnya digunakan dalam dunia medis untuk meredakan rasa sakit atau keperluan bius, tetapi jika disalahgunakan, narkotika bisa menimbulkan dampak yang merusak tubuh dan jiwa.

Contoh Narkotika

Morfin adalah narkotika yang sering digunakan untuk mengatasi rasa sakit berat, seperti pada pasien yang sedang menjalani perawatan kanker. Walaupun sangat efektif dalam meredakan nyeri, morfin juga memiliki risiko tinggi menyebabkan ketergantungan.

Heroin adalah turunan dari morfin yang sangat adiktif. Zat ini sering disalahgunakan karena memberikan efek high yang intens, tetapi sangat berbahaya karena bisa menyebabkan overdosis, gangguan mental, dan kerusakan organ tubuh.

Kodein adalah narkotika yang lebih ringan dibandingkan morfin atau heroin. Biasanya digunakan sebagai obat batuk atau penghilang nyeri ringan. Meski lebih ringan, kodein tetap dapat menyebabkan ketergantungan jika digunakan secara tidak sesuai dengan resep.

Bahaya

Penyalahgunaan narkotika dapat menimbulkan berbagai bahaya yang sangat merugikan bagi tubuh dan kehidupan seseorang. Salah satu risiko terbesar adalah ketergantungan fisik dan psikologis, yang membuat penggunanya merasa sangat sulit untuk berhenti meski sudah menyadari dampak negatif yang ditimbulkan.

Narkotika yang digunakan tanpa pengawasan medis dapat merusak berbagai organ tubuh, seperti hati, ginjal, dan otak. Selain itu, penyalahgunaan narkotika juga meningkatkan kemungkinan overdosis, yang berpotensi menyebabkan kematian secara tiba-tiba.

Secara psikologis, narkotika dapat mengubah cara berpikir dan berperilaku, memicu gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, atau psikosis.
Selain dampak langsung pada kesehatan, narkotika juga merusak hubungan sosial, keluarga, dan pekerjaan. Ini karena ketergantungan pada zat tersebut bisa membuat seseorang kehilangan kontrol atas hidupnya.

2. Psikotropika

Psikotropika adalah zat yang bekerja pada sistem saraf pusat dan otak, sehingga dapat mengubah mood, pola pikir, serta perilaku seseorang. Zat ini sering digunakan dalam pengobatan untuk menangani masalah kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan.

Jika disalahgunakan, psikotropika dapat memberikan efek berbahaya yang dapat merusak fisik dan mental. Penggunaan psikotropika harus diawasi oleh tenaga medis, karena penyalahgunaannya bisa menyebabkan gangguan mental serius, ketergantungan, dan kerusakan organ tubuh.

Contoh Psikotropika

Ekstasi adalah salah satu jenis psikotropika yang sering disalahgunakan di kalangan anak muda, terutama di acara musik atau pesta.
Zat ini memberikan efek euforia atau kebahagiaan yang berlebihan, serta perasaan kedekatan dengan orang lain. Namun, penggunaan ekstasi dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti kerusakan otak dan masalah jantung.

LSD adalah psikotropika yang terkenal sebagai zat halusinogen. Ketika dikonsumsi, LSD dapat mengubah persepsi pengguna terhadap kenyataan, seperti melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada.
Meskipun beberapa orang menganggapnya sebagai pengalaman spiritual atau rekreasi, LSD dapat menyebabkan gangguan mental dan kecemasan yang mendalam.

Amfetamin adalah jenis stimulan yang bisa meningkatkan konsentrasi atau fokus, energi, dan kewaspadaan seseorang.
Zat ini sering digunakan oleh orang yang ingin tetap terjaga atau mengatasi rasa lelah, namun penyalahgunaannya bisa menyebabkan kecemasan, insomnia, dan gangguan psikologis lainnya. Penggunaan amfetamin dalam dosis tinggi dapat merusak organ tubuh, terutama jantung.

Bahaya

Bahaya psikotropika sangat besar, terutama ketika disalahgunakan atau digunakan tanpa resep medis. Meskipun dalam pengobatan psikotropika dapat membantu mengatasi gangguan mental, penggunaan yang tidak terkontrol dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologis.

Pengguna bisa merasa sulit untuk berhenti, bahkan ketika dampak negatifnya mulai muncul. Selain itu, psikotropika dapat menyebabkan gangguan mental, seperti kecemasan, paranoia, atau bahkan psikosis, yang mengubah cara berpikir dan berperilaku seseorang.

Penggunaan jangka panjang juga berisiko merusak organ tubuh, terutama otak dan jantung, yang dapat memengaruhi fungsi kognitif dan kesehatan fisik secara keseluruhan.

Tak hanya itu, psikotropika yang disalahgunakan juga bisa mengarah pada perubahan drastis dalam perilaku sosial, menyebabkan kerusakan dalam hubungan interpersonal dan karier.

3. Zat Adiktif Lainnya

Zat adiktif lainnya mencakup berbagai jenis bahan di luar narkotika dan psikotropika yang tetap memiliki kemampuan untuk menimbulkan kecanduan atau ketergantungan. Jenis zat adiktif ini seringkali ada dalam kehidupan sehari-hari, meskipun terkadang pengaruhnya tidak terlalu disadari.

Meskipun beberapa zat adiktif, seperti alkohol serta nikotin, legal dan dapat dikonsumsi secara bebas, penyalahgunaannya tetap berbahaya dan dapat menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan tubuh dan mental.

Contoh Zat Adiktif

Alkohol adalah zat yang terkandung dalam minuman beralkohol dan termasuk zat adiktif yang banyak dikonsumsi di berbagai budaya.
Konsumsi alkohol dalam jumlah wajar mungkin tidak menimbulkan masalah, namun jika dikonsumsi berlebihan atau secara rutin, alkohol bisa menyebabkan ketergantungan, gangguan hati, gangguan mental, dan memengaruhi fungsi tubuh secara keseluruhan.

Nikotin adalah senyawa yang terdapat dalam rokok dan berbagai produk berbahan dasar tembakau. Zat ini menyebabkan ketergantungan fisik yang sangat kuat pada penggunanya.
Meskipun konsumsi nikotin melalui rokok sangat berisiko, karena dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, dan gangguan pernapasan, banyak orang tetap merasa sulit untuk berhenti merokok karena kecanduan.

Inhalan merupakan zat kimia yang biasanya ditemukan dalam berbagai produk rumah tangga, seperti lem, cat, atau bahan pembersih. Beberapa orang menyalahgunakan inhalan dengan cara menghirup uapnya untuk mendapatkan efek high. Penggunaan inhalan ini berbahaya karena dapat merusak otak, sistem pernapasan, bahkan menyebabkan kematian mendadak jika tidak hati-hati.

Bahaya

Bahaya zat adiktif lainnya, seperti alkohol, nikotin, dan inhalan, bisa sangat merusak, baik bagi tubuh maupun pikiran. Meskipun beberapa zat ini legal dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, penyalahgunaannya dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang serius.

Alkohol, misalnya, jika dikonsumsi berlebihan, bisa merusak hati, ginjal, dan otak, serta meningkatkan risiko kecelakaan dan perilaku agresif. Nikotin dalam rokok menyebabkan ketergantungan yang kuat, yang berujung pada gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan kanker.

Sementara itu, inhalan, meskipun sering dianggap sepele, dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan sistem pernapasan, bahkan kematian mendadak jika digunakan berlebihan.
Selain dampak fisik, ketergantungan pada zat-zat ini juga memengaruhi aspek sosial dan emosional, seperti hubungan dengan keluarga, teman, dan pekerjaan.

Dampak Penggunaan NAPZA

Penggunaan NAPZA dapat memberikan dampak yang sangat merugikan baik bagi individu maupun masyarakat. Dampak tersebut tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengganggu kesejahteraan mental, emosional, dan sosial seseorang.

Pada bagian ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai berbagai dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan NAPZA dan bagaimana hal tersebut memengaruhi kehidupan penggunanya.

1. Dampak Fisik

Ketika seseorang menyalahgunakan NAPZA, zat-zat tersebut dapat mengganggu fungsi normal tubuh, bahkan menyebabkan kerusakan yang permanen. Misalnya, penggunaan narkotika seperti heroin atau morfin dapat merusak sistem saraf pusat dan menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, kesulitan bergerak, dan gangguan memori.

Sementara itu, alkohol jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, termasuk sirosis, serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Nikotin yang terkandung dalam rokok juga memiliki dampak fisik yang serius. Mulai dari kerusakan paru-paru, peningkatan risiko kanker paru-paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.

Selain itu, psikotropika seperti ekstasi dan amfetamin dapat memengaruhi detak jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh. Bahkan dapat menyebabkan kerusakan pada organ jantung dan ginjal jika digunakan berlebihan.

Zat adiktif seperti inhalan juga berbahaya karena dapat merusak otak, menyebabkan gangguan pernapasan, dan bahkan menyebabkan keracunan yang mengancam jiwa.

2. Dampak Psikologis

Zat-zat dalam NAPZA ini memengaruhi sistem saraf pusat dan dapat mengubah cara otak berfungsi, yang pada gilirannya mempengaruhi suasana hati, pikiran, dan perilaku pengguna.

Salah satu dampak psikologis yang paling umum adalah ketergantungan atau kecanduan yang bisa membuat seseorang merasa sangat bergantung pada NAPZA. Dengan tujuan untuk merasakan kenyamanan atau kebahagiaan.

Kecanduan ini seringkali disertai dengan rasa cemas, depresi, dan ketidakmampuan untuk mengontrol keinginan untuk mengonsumsi zat tersebut, meskipun pengguna tahu bahwa itu berbahaya.

Penggunaan narkotika dan psikotropika, seperti heroin atau ekstasi, dapat menyebabkan gangguan mood, seperti perasaan euforia yang berlebihan, diikuti dengan perasaan cemas atau depresi yang mendalam setelah efeknya hilang.

Pengguna juga bisa mengalami paranoia, delusi, dan halusinasi yang membuat mereka terputus dari kenyataan dan kesulitan untuk berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari.

Zat-zat seperti alkohol dan nikotin juga dapat memicu gangguan mental, termasuk kecemasan yang berlebihan, depresi, dan gangguan tidur. Dalam beberapa kasus, penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan psikologis yang lebih serius, seperti psikosis atau gangguan kepribadian.

3. Dampak Sosial

Salah satu dampak sosial yang paling jelas adalah gangguan hubungan interpersonal. Pengguna NAPZA cenderung menjadi lebih tertutup, sulit berkomunikasi, atau bahkan menunjukkan perilaku agresif atau apatis terhadap orang lain.

Kondisi ini bisa mengganggu hubungan dengan keluarga, teman, maupun pasangan. Keluarga sering kali menjadi pihak yang paling terdampak karena mereka merasa cemas dan terbebani dengan masalah yang ditimbulkan oleh ketergantungan pada zat adiktif.

Pengguna NAPZA mungkin juga mengalami penurunan produktivitas kerja atau bahkan kehilangan pekerjaan karena ketergantungan mereka yang berujung pada kesulitan ekonomi.

Di tingkat yang lebih luas, dampak sosial ini juga mencakup penurunan kualitas hidup dalam masyarakat. Penyalahgunaan NAPZA dapat meningkatkan angka kejahatan, seperti pencurian atau kekerasan yang sering dilakukan oleh pengguna untuk mendapatkan zat tersebut.

Selain itu, adanya pengguna NAPZA yang tidak mendapatkan perawatan atau rehabilitasi yang tepat dapat menambah beban pada sistem kesehatan dan layanan sosial.

Cara Menghindari Penggunaan NAPZA

Menghindari penggunaan NAPZA adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial. Dengan semakin banyaknya bahaya yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan zat ini, penting bagi setiap individu untuk mengetahui cara-cara efektif untuk mencegah terjerumus ke dalam kecanduan.

Berikut ini beberapa cara menghindari penggunaan NAPZA yang bisa Anda ikuti:

1. Pendidikan dan Kesadaran

Pendidikan dan kesadaran merupakan cara utama untuk mencegah penggunaan NAPZA. Dengan memberikan informasi yang jelas dan menyeluruh mengenai bahaya dan dampak dari penyalahgunaan zat adiktif, baik di sekolah, rumah, atau masyarakat, kita dapat membantu individu membuat keputusan yang lebih bijak.

Pendidikan yang dimulai sejak usia dini dapat membentuk pola pikir yang sehat dan membekali anak-anak dengan pengetahuan untuk menolak godaan penggunaan NAPZA.

Kesadaran diri yang tinggi juga sangat penting karena seseorang yang sadar akan risiko penggunaan NAPZA cenderung memiliki keinginan kuat untuk menjaga kesehatan fisik dan mental mereka.

Hal ini mencakup pemahaman tentang efek jangka panjang yang merugikan, baik secara fisik, mental, maupun sosial yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan zat-zat tersebut.

2. Lingkungan Positif

Lingkungan yang mendukung dan positif juga memiliki peran besar dalam mencegah penggunaan NAPZA.
Ketika seseorang berada di lingkungan yang sehat, baik itu keluarga, teman, maupun tempat kerja atau sekolah, mereka lebih cenderung untuk menghindari penyalahgunaan zat adiktif.

Misalnya, keluarga yang memberikan perhatian dan kasih sayang, serta teman-teman yang mendukung gaya hidup sehat, dapat menjadi penghalang yang efektif terhadap godaan untuk mencoba zat berbahaya.

Dengan menciptakan lingkungan yang positif, kita tidak hanya melindungi diri dari NAPZA, tetapi juga memperkuat ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

3. Mengembangkan Keterampilan Sosial

Mengembangkan keterampilan sosial adalah salah satu cara penting untuk menghindari penggunaan NAPZA. Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, menjalin hubungan yang sehat, serta mengelola konflik dengan cara yang positif.

Individu yang memiliki keterampilan sosial yang baik, cenderung lebih percaya diri dan mampu menanggapi tekanan teman sebaya.

Mereka bahkan dapat menghadapi situasi-situasi buruk dengan solutif, tanpa menyentuh NAPZA.
Selain itu, keterampilan sosial juga membantu seseorang untuk menemukan cara lain dalam mengatasi stres atau perasaan negatif tanpa bergantung pada zat adiktif.

Ketiga keterampilan sosial tersebut, seseorang akan lebih kuat dalam menjaga kesehatan mental dan fisiknya.

4. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga sangat berperan dalam mencegah penggunaan NAPZA, terutama di kalangan remaja dan anak muda. Keluarga yang peduli dan terbuka dapat memberikan perlindungan emosional yang kuat serta bimbingan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang sehat.

Dengan adanya komunikasi yang baik antara anggota keluarga, anak-anak merasa lebih nyaman untuk berbicara tentang masalah yang mereka hadapi dan tidak merasa terisolasi.

Keluarga juga bisa menjadi sumber kekuatan dalam memberikan contoh hidup yang positif, seperti menghindari kebiasaan buruk atau kebiasaan mengonsumsi zat adiktif.

Ketika anggota keluarga mendukung satu sama lain, baik secara moral maupun praktis, hal ini menciptakan ikatan yang memperkuat keputusan untuk menjaga jarak dari NAPZA.

Dengan dukungan keluarga yang solid, individu merasa lebih dihargai dan diperhatikan, yang secara tidak langsung membantu mereka menjaga gaya hidup sehat dan bebas dari kecanduan.

5. Pemeriksaan Rutin Kesehatan

Melakukan pemeriksaan rutin kesehatan adalah langkah preventif yang efektif untuk menghindari penggunaan NAPZA. Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu mendeteksi potensi masalah kesehatan sejak dini, termasuk gangguan yang mungkin timbul akibat penyalahgunaan zat adiktif.

Untuk melakukan pemeriksaan rutin yang komprehensif, Granostic bisa menjadi pilihan yang tepat. Granostic menawarkan layanan pemeriksaan kesehatan yang lengkap dengan teknologi terkini dan tenaga medis yang profesional.

Dengan melakukan pemeriksaan di Granostic, Anda tidak hanya mendapatkan pemantauan kesehatan yang akurat, tetapi juga bisa mendapatkan bimbingan yang tepat untuk hidup sehat tanpa terjerumus ke dalam penggunaan NAPZA.

Pemeriksaan ini akan membantu kamu untuk lebih sadar tentang pentingnya menjaga tubuh dan menghindari kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan.

Ingin tahu informasi lebih lanjut soal pemeriksaan kesehatan rutin dan tes NAPZA di klinik Granostic? Anda bisa langsung tanya-tanya lewat call center kami, atau klik tombol WhatsApp di bawah ini, ya!

Ditinjau Oleh:
Dr. Aji Wibowo

Sumber Referensi:

  1. Mencegah Remaja Tergoda NAPZA. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Ditulis Oleh dr. Husni Arbie. Diakses 2025
  2. Pengertian Narkoba Dan Bahaya Narkoba Bagi Kesehatan. BNN - Badan Narkotika Nasional. Diakses 2025
  3. Narkotika dan Psikotropika. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses 2025








Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message