Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285

Ini Loh New Mom! Panduan MPASI Bayi 6 Bulan

MPASI bayi 6 bulan

Makanan Pendamping ASI (MPASI) direkomendasikan untuk diberikan pada bayi ketika memasuki usia 6 bulan. Namun, pada praktek pengenalan awal MPASI untuk anak ini, sangat mungkin bila Moms akan mengalami kendala. Agar tak salah, Moms bisa mengikuti panduan MPASI bayi 6 bulan dalam artikel ini. Penasaran?
Sebelumnya, Moms mungkin bertanya-tanya, mengapa begitu penting untuk memberikan makanan pendamping pada bayi? Mengingat mereka belum mahir mengunyah maupun belum bisa memakan dalam porsi yang besar. Apakah susu saja tidak cukup?
Melansir dari berbagai jurnal kesehatan, saat memasuki usia 6 bulan si Kecil memerlukan gizi yang lebih banyak, yang tak dapat dicukupi hanya dengan ASI atau susu formula.
Tak hanya pemenuhan gizi, MPASI juga berfungsi melatih kemampuan otot oromotor dan motorik pada bayi, serta mencegah masalah gizi pada si Kecil.
Meski begitu, memulai memperkenalkan makanan pendamping pada anak bisa jadi cukup tricky di awal. Sebab tak sedikit juga kasus dimana anak-anak menolak MPASI yang diberikan oleh orang tua.
Nah, di bawah ini, Klinik Granostic akan memberikan panduan MPASI untuk bayi 6 bulan yang bisa Moms praktekkan di rumah. Catat, ya, Moms!

Pembiasaan Makan Bayi

Panduan pertama, mulailah melakukan pembiasaan makan pada si Kecil. Hal ini bisa jadi cukup sulit di awal, mengingat si Kecil terbiasa mengatasi rasa lapar mereka dengan susu formula atau ASI.
Namun, Anda bisa melakukan beberapa langkah pembiasaan di bawah ini:

1. Mulai Secara Bertahap

Mulailah dengan memperkenalkan makanan secara bertahap pada si Kecil. Tak perlu langsung menyuguhkannya dalam porsi besar dengan ragam pilihan menu yang variatif. Moms, selalu bisa memulainya dengan porsi yang kecil sebanyak 2–3 sendok makan, juga dalam 2–3 kali sehari.
Setelah itu, Moms bisa menaikkan porsi dan menetapkan frekuensi makan si Kecil secara bertahap sesuai dengan perkembangan makannya. Pastikan juga Moms tidak memaksakan si Kecil untuk menghabiskan seluruh MPASI tersebut, sebab akan menimbulkan trauma dan justru memicu Gerakan Tutup Mulut (GTM).

2. Kenali Tanda-tanda Kesiapan

Selain umur, Moms juga perlu menyimak kesiapan si Kecil untuk menerima MPASI dari kemampuan motorik dan sensoriknya. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa si Kecil sudah siap untuk MPASI, yakni:

3. Ciptakan Suasana Nyaman

Agar upaya pengenalan MPASI ini berjalan lancar, sangat penting untuk orang tua menciptakan suasana yang nyaman saat sedang makan.
Karena ketika Anda membentuk suasana yang tak menyenangkan, anak-anak bisa salah mengartikan bahwa kegiatan makan menjadi suatu hal yang menakutkan.

Jadwal Pemberian MPASI

Perlu Moms dan Dads ketahui, bahwa menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG), jumlah energi total yang dibutuhkan oleh bayi berusia 6 bulan adalah sekitar 550 kilokalori (kkal) tiap harinya.
Nah, karena itu, Anda bisa menerapkan jadwal MPASI yang ideal untuk memenuhi kebutuhan gizi dan energi anak dengan tepat. Seperti:

1. Frekuensi Awal

Berdasarkan panduan IDAI bayi 6 bulan, Anda dapat mempersiapkan MPASI sebanyak 2–3 sendok makan atau setengah mangkuk berukuran 250 ml. Porsi ini diselingi dengan 1–2 kali makan camilan.
Sementara itu, frekuensi makanan Utama ini dapat dilakukan 3 kali sehari dan diselingi menyusu setiap 3–4 jam.

2. Waktu Makan

Sementara untuk jadwal atau Waktu makan, Anda bisa menerapkan contoh yang diberikan oleh IDAI berikut ini:

Komposisi dan Bahan MPASI yang Sesuai

Selain membentuk kebiasaan dan jadwal makan, Anda juga perlu memperhatikan komposisi dan bahan makanan yang sesuai untuk MPASI. Berikut beberapa bahan yang wajib ada dalam menu si Kecil, loh Moms.

1. Karbohidrat

Makanan berkarbohidrat kompleks juga sangat penting karena mengandung mineral dan vitamin, juga protein sebagai asupan harian si Kecil. Contoh makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks antara lain beras merah, buncis, lentil, kacang poloh, hingga olahan gandum utuh.

2. Protein

Protein nabati dan hewani sangatlah baik untuk mendukung perkembangan serta pertumbuhan tubuh si Kecil.
Protein hewani mengandung zat besi yang baik untuk cegah anemia, juga memiliki asam amino yang baik untuk otot dan tulang si Kecil.
Sementara itu, protein nabati dapat melengkapi asupan protein si Kecil untuk mencegah stunting.
Beberapa contoh sumber protein baik nabati maupun hewani misalnya daging, telur, ikan, keju, susu, hati ayam, juga kacang edamame, kedelai, alpukat, dan banyak lainnya.

3. Sayuran

Selain itu, sayur-sayuran juga sangat penting untuk dimasukkan dalam komposisi MPASI si kecil. Sebab, bahan pangan ini mengandung banyak mineral dan vitamin yang sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh si Kecil.

4. Buah-buahan

Buah-buahan segar juga bisa Anda masukkan dalam jadwal MPASI, khususnya juga sebagai camilan. Bahan pangan ini dapat melengkapi kebutuhan vitamin, mineral, dan cairan dalam tubuh si Kecil.

5. Lemak Sehat

Dalam masa pertumbuhan, anak-anak perlu mendapatkan supan gizi yang cukup, termasuk lemak sehat. Sumber lemak sehat ini dapat diperoleh dari buah alpukat, coklat hitam, biji chia, minyak zaitun, hingga kacang-kacangan.

Apa Saja Menu MPASI yang Tepat?

Setelah menyimak komposisi MPASI di atas, apakah sudah terpikirkan oleh Moms menu seperti apa yang tepat untuk si Kecil? Kalau belum, langsung simak inspirasinya di bawah ini, ya!

Hari 1-3: Pure Buah atau Sayur

Di hari pertama hingga ketiga di awal pengenalan MPASI pada si Kecil, Moms bisa memilih bahan makanan yang mudah dan ringan seperti buah dan sayur.
Cara membuat puree sendiri sangatlah mudah, Moms. Anda hanya perlu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, mengukusnya ketika buah atau sayur tersebut memiliki tekstur yang padat dan keras, lalu menghaluskannya.
Namun, untuk buah dengan tekstur yang lembek seperti pisang atau alpukat, Anda tidak perlu merebusnya dan cukup langsung melumatnya saja.
Berikut ini resep pure buah pisang yang bisa Anda berikan untuk si Kecil:
Bahan:

  1. Siapkan satu buah pisang yang berukuran kecil dan telah matang,
  2. Siapkan air, susu formula atau ASI untuk membantu mempermudah melumatkan pisang.

Cara:

  1. Kupas dan potong-potong kecil pisang yang telah disiapkan.
  2. Hancurkan dan haluskan pisang menggunakan garpu, atau langsung menggunakan blender.
  3. Setelahnya tambahkan ASI, susu formula, atau air untuk membuat konsistensi puree sesuai keinginan.
  4. Sajikan pada si Kecil selagi masih segar.

Hari 4-6: Tambahkan Karbohidrat

Setelah si Kecil sudah terbiasa dengan jadwal makan yang Anda berikan, maka sudah waktunya untuk menambah komposisi MPASI si Kecil, yakni menambahkan karbohidrat.
Anda bisa menggunakan beras merah atau kentang dan menyajikannya sebagai bubur atau dengan cara ditumbuk halus.
Berikut resep menu karbohidrat bubur nasi dan salmon yang bisa Anda coba di rumah:
Bahan:

  1. Siapkan 60 gram nasi
  2. Dua potong daging ikan salmon segar
  3. 1 siung bawang putih, geprek dan cacah hingga sangat halus
  4. Perasan jeruk nipis
  5. Seledri secukupnya saja

Cara Membuat:

  1. Lumuri ikan salmon yang telah disiapkan dengan air perasan jeruk nipis dan diamkan selama 10 menit.
  2. Setelahnya, kukus salmon bersamaan dengan bawang putih dan seledri selama 30 menit.
  3. Sambil menunggu salmon matang, lumat nasi sampai benar-benar halus. Anda dapat menambahkan air untuk membuat konsistensinya jadi lebih cair.
  4. Campurkan salmon yang matang ke dalam nasi yang telah dilumat.
  5. Bubur ikan salmon siap disajikan!

Hari 7-9: Campuran Buah dan Sayur

Selain menggunakannya secara terpisah, kombinasi buah dan sayur pun bisa menjadi pilihan yang menarik sebagai puree. Tak hanya menawarkan kombinasi rasa yang unik, Moms juga bisa memilih buah-buahan dengan warna-warna menarik untuk menarik perhatian si Kecil.
Sebagai inspirasi, Anda bisa membuat puree apel dan labu dengan panduan berikut ini:
Bahan-bahan yang disiapkan:

  1. 2 buah apel segar, yang sudah dikupas dan buang bijinya, serta potong kecil-kecil.
  2. 1 labu kecil, kupas dan buang bijinya, serta potong kecil-kecil.
  3. Air untuk merebus buah apel dan labu.

Cara:

  1. Rebus potongan apel dan labu hingga empuk, paling tidak selama 10–15 menit.
  2. Haluskan keduanya menggunakan garpu atau blender hingga tekstur benar-benar lembut.
  3. Campurkan apel dan labu yang sudah dihaluskan ke dalam wadah yang sama, jika puree tampak terlalu kental, Anda bisa menambahkan susu formula atau ASI untuk mengencerkannya.
  4. Puree siap untuk dihidangkan pada si Kecil!

Hari 10-12: Tambahkan Protein

Setelah memasuki hari kesepuluh dan dua belas, Anda bisa menambahkan protein ke dalam komposisi MPASI si Kecil. Protein yang dipilih bisa berupa telur, ayam, ikan, atau daging.
Misalnya, Anda bisa menyajikan puree brokoli, kentang dan ayam. Berikut cara membuatnya:
Bahan yang disiapkan:

  1. 1 buah kentang berukuran sedang atau secukupnya saja, kupas dan potong.
  2. 1/2 cangkir brokoli yang segar, kemudian potong kecil-kecil.
  3. Sediakan 50 gram daging ayam tanpa kulit, kemudian cincang halus.
  4. Siapkan 1 siung bawang merah dan putih, cincang keduanya hingga halus.
  5. Air secukupnya dan minyak jagung/zaitun untuk menumis.

Cara:

  1. Rebus potongan kentang yang sudah dicuci bersih hingga empuk.
  2. Sambil menunggu, Anda bisa memanaskan minyak zaitun/jagung di wajan
  3. Kemudian masukkan cacahan bawang putih dan merah, tumis hingga tercium aroma sedap
  4. Setelah itu, tambahkan daging ayam dan ke dalam wajan, tumis hingga matang.
  5. Setelah kentang terasa empuk, tambahkan brokoli ke panci untuk merebusnya sampai lembut.
  6. Kalau sudah, Anda bisa meniriskan kentang dan brokoli, kemudian gunakan blender untuk menghaluskan keduanya.
  7. Tambahkan tumis cacahan ayam ke dalam puree kentang dan brokoli, aduk hingga merata.
  8. Hidangkan untuk si Kecil Ketika suhu puree sudah lebih dingin, ya, Moms.

Hari 13-15: Campuran Lengkap

Selanjutnya, saat sudah memasuki hari ke-13 dan 15 MPASI, Anda bisa memberikan menu campuran yang lengkap. Dengan menggunakan kombinasi karbohidrat, protein, dan sayuran.
Sebagai contoh, kita dapat membuat bubur telur dan hati ayam dengan resep sebagai berikut:
Bahan:

  1. Siapkan nasi yang sudah matang sebanyak 60 gram
  2. 5 butir telur puyuh rebus, kupas kulitnya dan bersihkan terlebih dahulu
  3. 15 gram hati ayam, cincang dengan halus
  4. 15 gram buncis, cincang kecil-kecil
  5. 7,5 ml minyak jagung yang digunakan untuk menumis bahan-bahan tersebut.
  6. Masing-masing 1 siung bawang merah dan putih, cacah hingga halus.

Cara:

  1. Panaskan minyak jagung, kemudian tumis bawang merah dan putih hingga tercium bau harum.
  2. Setelahnya masukkan potongan telur puyuh rebus, hati ayam, dan buncis cincang ke dalam wajan dan tumis hingga matang.
  3. Setelahnya masukkan nasi dan tambahkan air secukupnya hingga Anda mendapatkan tekstur bubur yang ideal untuk si Kecil.

Pastikan Bunda Juga Meminta Saran Dokter

Nah, setelah mengintip inspirasi menu di atas, sudah siapkah Moms untuk menerapkan jadwal dan menu MPASI sehat untuk si Kecil?
Jika masih merasa bingung, Moms juga bisa berkonsultasi dan meminta sarang langsung dari dokter anak. Kunjungi layanan kesehatan berkualitas seperti Klinik Granostic, yang menyajikan layanan Medical Check Up (MCU) menyeluruh dan profesional untuk si Kecil dalam layanan Baby Packages.

1. Konsultasi Awal

Lakukan konsultasi awal bersama dokter anak untuk membicarakan bagaimana kondisi tubuh anak, termasuk pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam proses ini Moms dan Dad, juga bisa menanyakan atau mendiskusikan keresahan Anda terhadap tumbuh kembang anak.
Dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kebiasaan anak, riwayat kesehatan, juga melakukan pemeriksaan fisik seperti menyimak berat dan panjang tubuh anak.

2. Pengenalan Bertahap

Selanjutnya, dokter pun bisa memberikan saran mengenai pengenalan bertahap MPASI yang paling cocok untuk anak sesuai dengan kondisi tubuhnya. Anda dapat meminta arahan dokter untuk membentuk jadwal, pola frekuensi, dan seberapa besar porsi MPASI yang diberikan sesuai tahapan usia si Kecil.

3. Pemantauan Pertumbuhan

Dengan berkonsultasi bersama dokter anak secara rutin, Anda pun dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara langsung. Selain itu, Anda juga bisa melihat bagaimana efek pemberian MPASI yang tepat ini terhadap kesehatan si Kecil.
Dokter dapat menyarankan menu makanan dan komposisi gizi yang bisa Anda kreasikan dalam MPASI si kecil untuk menunjang pertumbuhannya di masa mendatang.

4. Mengatasi Masalah Makan

Istilah Gerakan Tutup Mulut (GTM) bukanlah hal baru, dan bahkan begitu populer di kalangan orang tua. Masalah makan pada anak ini bukan satu-satunya dan bisa terjadi pada siapa saja.
Karena itu, sangat penting untuk melakukan konsultasi dan cek kesehatan rutin ke dokter anak demi dapat mendeteksi dini adanya masalah pada kebiasaan makan si Kecil. Dengan begitu, dokter dapat memberikan saran perawatan dan penanganan yang tepat untuk Anda.

5. Edukasi Nutrisi

Moms, meski saat ini mencari informasi seputar tips perawatan si Kecil di internet sangatlah mudah, namun tak ada yang bisa menggantikan esensi berkonsultasi langsung dengan dokter anak.
Ada banyak batasan informasi yang akan Anda temui ketika menggantungkan tips di Internet saja. Karena itu, perlu adanya pendampingan dari tenaga medis ahli untuk melihat bagaimana kondisi faktual dari si Kecil, sehingga Anda dapat memperoleh analisis yang lebih akurat dan tepat sasaran.
Dokter pun dapat memberikan edukasi seputar nutrisi dan gizi penting untuk anak, sesuai dengan kebutuhan dan hasil pemeriksaan kesehatan buah hati Anda. Yap, secara eksklusif!
Apalagi konsultasi bersama dokter di Klinik Granostic sendiri sangatlah mudah. Anda dapat mengatur janji temu secara online dengan klik tombol Home Service.
Yuk, Moms & Dads, selalu jaga dan kawal pertumbuhan si Kecil bersama dokter dan tenaga medis ahli lainnya di Klinik Granostic!

Home Service
Talk Talk to us
Loading
Toast Message