Apa Perbedaan Hepatitis A, B dan C?
10 Juli 2024
![]()
Hepatitis merupakan jenis penyakit yang menjadi masalah kesehatan di penjuru dunia. Jenis dari penyakit hepatitis ini pun ada banyak, seperti hepatitis A, B, dan C. Lantas tahukah Anda, apa saja perbedaan dari hepatitis A, B, dan C tersebut?
Hepatitis merupakan jenis penyakit yang mengakibatkan peradangan pada organ hati. Faktor penyebabnya sangat beragam, dari infeksi virus, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, terpapar zat berbahaya atau overdosis obat-obatan tertentu, dan banyak lainnya.
Hepatitis A, B, dan C adalah tiga contoh dari beberapa jenis hepatitis yang sering terjadi di Indonesia. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, cara penularan, hingga penanganannya.
Berikut ini Granostic akan membagikan apa saja perbedaan mengenai hepatitis A, B, dan C tersebut. Simak baik-baik, ya, Sobat!
Hepatitis merupakan jenis penyakit yang mengakibatkan peradangan pada organ hati. Faktor penyebabnya sangat beragam, dari infeksi virus, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, terpapar zat berbahaya atau overdosis obat-obatan tertentu, dan banyak lainnya.
Hepatitis A, B, dan C adalah tiga contoh dari beberapa jenis hepatitis yang sering terjadi di Indonesia. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda, baik dari penyebab, gejala, cara penularan, hingga penanganannya.
Berikut ini Granostic akan membagikan apa saja perbedaan mengenai hepatitis A, B, dan C tersebut. Simak baik-baik, ya, Sobat!
Hepatitis A
Merupakan jenis penyakit hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A atau HAV. Jenis hepatitis ini umumnya tidak memiliki gejala serius, serta dapat sembuh total dalam beberapa bulan.Namun dalam kasus yang langka terjadi, hepatitis A dapat memiliki status akut dan memberikan dampak besar pada organ hati. Sehingga akan mengancam jiwa bila tidak ditangani dengan baik.
Penyebaran Hepatitis A
Mengonsumsi makanan dan minuman dalam kondisi yang kurang bersih, misal tidak mencuci tangan terlebih dahulu.Tidak sengaja mengonsumsi minuman atau makanan yang terkontaminasi virus HAV dari feses.
Berinteraksi dengan pengidap hepatitis A secara dekat.
Berhubungan seksual dengan pengidap hepatitis A, meski tanpa pengaman penularan bisa saja terjadi.
Gejala Hepatitis A
Ketika terserang hepatitis A seseorang bisa saja pada awalnya tidak merasakan gejala apapun. Atau, tidak menyadarinya karena gejala terlalu ringan.Namun, gejala tersebut umumnya akan bertambah setelah 4 minggu sejak pertama kali terinfeksi. Gejala ini bahkan bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Berikut gejala hepatitis A yang perlu Anda tahu:
- Merasakan Lelah yang berlebihan, dapat disertai nyeri sendi dan otot.
- Demam atau naiknya suhu tubuh.
- Mengalami penurunan nafsu makan.
- Merasa sakit di bagian kanan atas perut.
- Adanya perubahan warna pada urine dan feses yang jadi lebih gelap.
- Timbul gatal-gatal pada tubuh.
Langkah Pengobatan Hepatitis A
Berikut ini Langkah yang dapat diambil pasien dalam pengobatan hepatitis A:- Mengunjungi klinik kesehatan, melakukan cek kondisi tubuh, serta konsultasi dengan dokter.
- Konsumsi obat yang diberikan oleh dokter sesuai dengan resep dan dosis yang diberikan.
- Perbanyak istirahat dan perhatikan ruangan tempat tanggal agar tetap nyaman serta bersih.
- Hindari konsumsi alkohol dan berhubungan seksual dengan pasangan, untuk mencegah makin parah dan penularan.
- Terapkan kebiasaan yang sehat dan bersih, seperti rajin mencuci tangan serta memasak menu makan dengan tingkat kematangan yang pas.
Hepatitis B
Selanjutnya adalah hepatitis B, yang terjadi akibat infeksi virus hepatitis B atau HBV. Berbeda dengan tipe A, hepatitis B memiliki dua tingkat keparahan yakni akut dan kronis.Hepatitis B akut akut bersifat sementara. Umumnya terjadi kurang lebih 6 bulan lamanya, setelah seseorang pertama kali terpapar HBV. Kondisi ini bisa saja berkembang menjadi kronis, namun tidak selalu demikian.
Sementara infeksi hepatitis kronis bersifat jangka panjang. Kondisi ini terjadi karena virus tersebut menetap dalam tubuh, kemudian berkembang dan berkemungkinan besar memicu komplikasi lainnya.
Penyebaran Hepatitis B
Penularan HBV ini dapat terjadi karena kontak individu ke individu yang lain lewat darah, air mani, saliva, dan berbagai cairan tubuh lainnya.Karenanya, secara umum berikut beberapa cara penyebaran HBV:
- Kontak seksual tanpa menggunakan pengaman, yang menyebabkan virus mudah tertular lewat darah, liur, cairan vagina, dan air mani.
- Penggunaan jarum suntik bersama-sama dengan pengidap hepatitis B.
- Melalui ibu hamil ke janin yang dikandungnya.
Gejala Hepatitis B
Sama halnya dengan tipe A, hepatitis B bisa saja tidak memiliki gejala yang sangat tampak.Namun pada anak-anak di atas usia 5 tahun dan orang dewasa, gejala akan muncul dalam waktu 2 hingga 5 bulan setelah terinfeksi pertama kali.
Beberapa gejala yang umum dari infeksi HBV antara lain:
- Perubahan urin yang berwarna gelap, sementara feses jadi berwarna pucat.
- Mengalami diare.
- Merasa tubuh Lelah secara berlebihan. dapat disertai dengan nyeri sendi.
- Mengalami demam ringan.
- Nafsu makan menurun dan merasa mual atau muntah.
- Muncul ruam pada kulit
- Mengalami penyakit kuning.
- Serta pembuluh darah akan terlihat seperti sarang laba-laba pada kulit.
Langkah Pengobatan Hepatitis B
Berikut ini Langkah pengobatan hepatitis B yang dapat Anda lakukan:- Diagnosa: periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan perawatan tepat.
- Pengobatan setelah terpapar: dokter akan memberikan suntikan imunoglobulin dalam kurun waktu 12 jam setelah terpapar pertama kali. Tujuannya untuk memberikan perlindungan jangka pendek. Langkah ini pun dibarengi dengan pemberian vaksin.
- Pengobatan infeksi akut: karena sifatnya yang lama, dokter dapat menyarankan untuk pasien mendapatkan istirahat yang banyak, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
- Pengobatan infeksi kronis: dilakukan dengan memberikan beberapa obat antivirus, injeksi interferon, hingga transplantasi hati.
Hepatitis C
Sementara itu, hepatitis C merupakan jenis hepatitis yang terjadi akibat infeksi HCV atau virus hepatitis tipe C. Sama halnya dengan tipe B, jenis hepatitis ini pun dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat keparahannya, yakni akut dan kronis.Infeksi HCV akut umumnya tidak bergejala, serta persentase untuk menimbulkan kematian juga cukup kecil. Sekitar 15 hingga 45 persen pengidap hepatitis C berhasil sembuh dari tipe akut ini tanpa penanganan khusus.
Sementara itu, infeksi HCV kronis dapat memberikan gejala khusus dan memicu komplikasi pada tubuh pasien. Karenanya dibutuhkan penanganan yang tanggap, cepat, dan akurat untuk menangani infeksi HCV.
Penyebaran Hepatitis C
Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah, yang sebelumnya telah terkontaminasi virus HCV. Selain itu, penyebaran penyakit ini pun bisa melalui kontak seksual tanpa pengaman.Gejala Hepatitis C
Pada awalnya, hepatitis C tidak akan memberikan gejala yang signifikan bahkan sangat ringan sampai tak disadari oleh pasien. Akan tetapi, setelah infeksi dalam waktu yang lama, muncul beberapa gejala, seperti:- Pasien akan merasa kelelahan yang sangat, dapat disertai dengan rasa nyeri.
- Tubuh akan mudah memar dan berdarah.
- Nafsu makan menurun.
- Warna mata dan kulit akan menjadi kuning.
- Urine jadi berwarna lebih gelap, sementara feses menjadi lebih pudar.
- Kulit yang gatal, serta terkadang diiringi ruam dan banyak lainnya.
Langkah Pengobatan Hepatitis C
Sama halnya dengan tipe B, hepatitis C yang masih dalam skala akut akan dapat sembuh dengan sendirinya. Karenanya, secara umum dokter tidak akan memberi obat-obatan khusus, kecuali untuk meringankan gejala serius.Selain itu, dalam kondisi ini dokter pun bisa meresepkan antivirus untuk mencegah pengembangan HCV menjadi hepatitis C kronis.
Sementara pada penderita hepatitis C tipe kronis, diperlukan adanya pengobatan melalui obat antivirus untuk mencegah perkembangan virus. Sebab, virus HCV yang terus berkembang ini dapat menimbulkan kerusakan kronis pada organ hati, kemudian dapat terjadi komplikasi.
Perlu Anda ingat juga, bahwa hepatitis C ini merupakan jenis yang dapat menginfeksi secara berulang. Sehingga Anda perlu tetap menjaga diri dan berhati-hati untuk tidak terinfeksi kembali setelah proses pemulihan.
Nah, Sobat Granostic, itu adalah penjelasan mengenai perbedaan hepatitis A, B, dan C. Apakah penjelasan di atas mudah untuk Anda pahami, atau masih ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Anda soal hepatitis?
Jangan khawatir, Anda dapat langsung berdiskusi dengan tim medis kami tanpa berkunjung ke klinik lewat layanan Home Service. Layanan konsultasi online ini memungkinkan Anda untuk terhubung dengan dokter spesialis dimanapun dan kapanpun Anda membutuhkannya.
Selain itu, Granostic pun menyediakan layanan medical check up, yang dapat membantu Anda melakukan tes hepatitis A, B, maupun C. Dapatkan hasil pemeriksaan yang akurat dan arahan pengobatan yang tepat bersama dokter spesialis Klinik Granostic.
Yuk, cegah penularan hepatitis A, B, dan C dengan layanan pemeriksaan kesehatan Granostic!

