Berikut Ciri Ciri Kurang Gerak yang Banyak Menyerang Gen Z
![]()
Zaman yang semakin canggih dalam bidang teknologi, pada dasarnya memberikan kemudahan kepada generasi muda yang dikenal sebagai "Gen Z". Sayangnya, manfaat tersebut tidak selalu berdampak positif terhadap kesehatan mereka, bahkan sering kali mengakibatkan berbagai masalah kesehatan.
Banyak milenial saat ini memiliki kebiasaan hidup yang tidak sehat, padahal, menerapkan pola hidup sehat dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit yang berpotensi memengaruhi masa tua mereka. Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan banyak kaum Gen Z mengalami penyakit kronis sejak dini.
1. Keseringan Duduk Santai dan Berbaring Terlalu Lama
Sakit punggung, yang seringkali dikaitkan dengan orang tua, kini mulai dirasakan oleh orang yang lebih muda. Banyak individu usia 20-30 tahun mengalami keluhan pegal dan nyeri punggung yang menghambat segala produktivitas. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan dalam duduk dan berbaring untuk jangka waktu yang lama.
Kemajuan teknologi saat ini telah mengubah gaya hidup secara menyeluruh. Tidak lagi perlu pergi ke restoran atau supermarket, bahkan bertemu dengan orang lain, karena semuanya dapat dilakukan melalui smartphone. Meskipun begitu, hal ini juga berdampak negatif karena mengurangi aktivitas fisik yang diperlukan untuk mendapatkan hal-hal tersebut.
Kembali ke topik, duduk terlalu lama dapat mengganggu sistem metabolisme tubuh, bahkan meningkatkan risiko penyakit serius dalam jangka panjang. Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan, risiko ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang melakukan segala hal dengan perangkat ponselnya, tetapi juga bagi pekerja kantoran atau individu yang terpaksa duduk dalam waktu yang lama, yang juga berisiko mengalami gangguan metabolisme tubuh.
Tidak hanya sampai di situ, berbaring terlalu lama sambil bermain ponsel atau melakukan aktivitas lainnya juga dapat memicu timbulnya penyakit lain seperti obesitas dan serangan jantung.
2. Jarang Berolahraga
Menurut laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Global Status Report on Physical Activity 2022, mayoritas remaja di seluruh dunia kurang berpartisipasi dalam kegiatan fisik WHO juga menambahkan dan menyarankan agar anak-anak dan remaja usia 10-19 tahun untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik ringan selama setidaknya 60 menit per hari. Sementara itu, bagi usia 19 tahun ke atas, mereka merekomendasikan untuk melibatkan diri dalam latihan penguatan otot minimal dua kali seminggu, atau aktivitas fisik ringan minimal tiga kali seminggu.
Menerapkan aktivitas fisik sesuai rekomendasi minimal ini dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi, diabetes, serta berbagai jenis kanker.
Dalam informasi yang sama, aktivitas olahraga juga memiliki dampak positif dalam mengurangi tingkat depresi dan kecemasan, meningkatkan kemampuan kognitif, dan membantu mencegah kecelakaan akibat jatuh pada orang yang telah mencapai usia lanjut.
3. Jarang Bergerak
Gaya hidup modern dan akses mudah kepada teknologi canggih telah menyebabkan banyak orang menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan cepat. Dalam konteks yang sama, perkembangan teknologi saat ini telah mengubah secara menyeluruh pola hidup manusia. Sebelum teknologi menjadi begitu merajalela, orang harus keluar rumah untuk menyelesaikan berbagai urusan, tetapi sekarang, semuanya bisa dilakukan melalui smartphone. Oleh karena itu, generasi muda sering kali dianggap kurang aktif atau malas bergerak (mager).
Kebiasaan kurang aktif atau mager adalah sesuatu yang perlu diubah, tetapi bagi sebagian orang, kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari rutinitas harian mereka, dan mereka merasa nyaman dengannya. Dampak negatifnya mungkin tidak terasa secara langsung, tetapi akan mulai terasa setelah bertahun-tahun, terutama ketika seseorang memasuki usia di atas 50-60 tahun.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam aktivitas fisik dapat mengurangi risiko stroke pada pria hingga 60%. Penelitian lain yang diterbitkan juga membuktikan bahwa seseorang yang cukup bergerak atau beraktivitas fisik memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami stroke dan serangan jantung hingga 50%. Oleh karena itu, bagi mereka yang sering duduk bekerja atau terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar komputer atau terlalu sering berbaring, risiko mengalami stroke atau serangan jantung menjadi lebih besar.
4. Kebiasaan Makan Berlebih Yang Memicu Obesitas
Makanan cepat saji, atau dikenal sebagai fast food seperti pizza, hamburger, donat, minuman boba, teh instan atau sebagainya memang selalu menggoda untuk dinikmati. Namun kenyataanya banyak dari kita menyukai makanan dan minuman tersebut tanpa memperdulikan dampak berikutnya.
Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan, sejatinya usia muda sangat membutuhkan nutrisi yang spesial dibandingkan kelompok umur lainnya. Kebutuhan nutrisi pada usia muda harus seimbang dengan aktivitasnya. Remaja membutuhkan lebih banyak protein, vitamin dan mineral dari setiap energi yang dikonsumsi dibandingkan dengan masa anak-anak yang mereka lewati sebelumnya. Makanan dan minuman instan yang selalu mereka konsumsi terus menerus akan mengakibatkan obesitas atau kegemukan, dan berbagai penyakit penyerta lainnya seperti diabetes, hipertensi, dan stroke.
5. Pola Hidup Yang Sembarangan
Secara umum, hipertensi lebih sering menjangkiti individu yang telah memasuki usia lanjut. Semakin bertambah usia seseorang, semakin besar risikonya untuk mengalami hipertensi. Namun, saat ini, di berbagai negara di seluruh dunia, terdapat banyak kasus hipertensi yang juga mempengaruhi orang yang masih relatif muda, termasuk di Indonesia.
Berdasarkan data dari penelitian kesehatan dasar yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, terdapat 8,7% penderita hipertensi dalam kelompok usia 15-24 tahun. Selain itu, menurut penelitian kesehatan dasar yang dilakukan pada tahun 2018, jumlah penderita hipertensi dalam kelompok usia muda naik menjadi 13,2%, dengan kelompok usia yang terkena risiko semakin menyempit pada rentang usia 18-24 tahun.
Penyebab utama dari masalah ini adalah gaya hidup yang tidak sehat yang diadopsi oleh generasi muda saat ini. Pentingnya pola hidup yang sehat dalam kehidupan sehari-hari tidak boleh diabaikan, karena pola hidup yang buruk dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk hipertensi.
Beberapa kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi tekanan darah diantaranya sebagai berikut:
● Pola Makan Yang Buruk
● Merokok
● Konsumsi Alkohol
● Begadang
6. Terlalu Banyak Menghabiskan Waktu Untuk Bekerja
Meskipun kita dianjurkan untuk melakukan aktivitas di usia muda, namun jika berlebihan juga akan berdampak buruk bagi kesehatan, terutama pada bagian sendi, otot dan tulang Anda. Di masa sulit seperti ini, banyak generasi Z yang setelah menyelesaikan masa wajib belajarnya (selepas SMA/SMK) tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan memilih untuk mengambil pekerjaan apa saja, karena keterbatasan lowongan pekerjaan tentunya yang menjadi faktor. Berbagai pekerjaan yang dilakukan, seperti driver ojek online, kurir,pramusaji, sales, dan pekerjaan fisik lainnya tentu akan menguras tenaga. Dan juga berpengaruh pada kesehatan tulang dan otot. Akibatnya, sering kita temui gejala nyeri punggung, pergelangan tangan, dan pundak dialami di usia muda.
Dikutip dari Cleveland Clinic, aktivitas kerja berlebihan tersebut dapat menyebabkan stres berkepanjangan pada otot dan sendi, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan kerusakan jangka panjang. ketidakseimbangan antara waktu bekerja dan istirahat dapat mengganggu regenerasi jaringan otot dan tulang, yang diperlukan untuk pemulihan dan pencegahan cedera. Akibatnya, seseorang dapat mengalami penurunan fleksibilitas, kekuatan, dan mobilitas, serta risiko osteoporosis atau arthritis yang meningkat. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara bekerja dan istirahat, serta merawat tubuh dengan latihan fisik dan perawatan yang tepat untuk menjaga kesehatan otot, tulang, dan sendi.

