Mengapa Stres Bisa Memperparah Nyeri? Penjelasan Medisnya

Pernah merasa nyeri lebih mengganggu ketika sedang banyak pikiran, kurang tidur, atau menghadapi tekanan dalam waktu lama? Kondisi tersebut dapat terjadi karena stres dan nyeri saling berinteraksi melalui sistem saraf, hormon, serta berbagai faktor psikologis dan perilaku.
Hubungan ini bukan berarti nyeri hanya disebabkan oleh pikiran. Nyeri tetap merupakan pengalaman yang nyata, sementara stres dapat memengaruhi bagaimana tubuh memproses dan merespons sinyal nyeri.
Pada orang yang mengalami nyeri kronis, hubungan tersebut dapat membentuk siklus: stres dapat memperburuk pengalaman nyeri, sedangkan nyeri yang menetap juga dapat menjadi sumber stres.
Apa Hubungan antara Stres dan Nyeri?
Stres merupakan respons tubuh ketika seseorang menghadapi tuntutan atau situasi yang dianggap mengancam. Respons ini melibatkan beberapa sistem tubuh, termasuk sistem saraf otonom dan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis.
Sistem tersebut membantu tubuh beradaptasi terhadap situasi yang membutuhkan kewaspadaan. Namun, respons stres tidak berdiri sendiri. Sistem stres juga berinteraksi dengan mekanisme pemrosesan dan modulasi nyeri.
Penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara gangguan atau perubahan respons sistem saraf otonom dan HPA axis dengan sensitivitas nyeri pada sebagian orang dengan chronic primary pain. Namun, hasil penelitian masih beragam dan mekanisme hubungan stres dan nyeri belum sepenuhnya dipahami.
Dengan kata lain, stres dapat memengaruhi pengalaman nyeri, tetapi hubungan keduanya bersifat kompleks dan tidak sama pada setiap orang. Hubungan stres dan nyeri dapat membentuk sebuah siklus:
Stres → respons tubuh berubah → nyeri terasa lebih mengganggu → aktivitas dan tidur terganggu → muncul stres tambahan → nyeri semakin sulit dikelola
Siklus tersebut terutama relevan pada nyeri yang berlangsung lama.
Nyeri kronis sendiri dapat menjadi sumber tekanan psikologis karena memengaruhi aktivitas, pekerjaan, tidur, dan hubungan sosial. Sebaliknya, sejumlah faktor psikologis seperti distress, kecemasan, dan ketakutan dapat berhubungan dengan persistensi atau perkembangan nyeri muskuloskeletal.
Karena itu, penanganan nyeri kronis tidak selalu cukup jika hanya berfokus pada lokasi tubuh yang terasa sakit.
Mengapa Saat Stres Nyeri Bisa Terasa Lebih Berat?
Ada beberapa mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa seseorang merasa nyerinya lebih mengganggu ketika sedang stres.
1. Perubahan Pemrosesan dan Modulasi Nyeri
Stres dapat memengaruhi cara sistem saraf memproses dan memodulasi sinyal nyeri. Pada kondisi tertentu, perubahan respons sistem stres dapat berkaitan dengan meningkatnya sensitivitas terhadap nyeri.
Namun, respons tersebut tidak selalu sama. Stres akut dan stres berkepanjangan dapat menghasilkan respons fisiologis yang berbeda.
2. Ketegangan Otot
Saat berada dalam kondisi tegang, seseorang dapat tanpa sadar meningkatkan ketegangan pada kelompok otot tertentu. Jika berlangsung berulang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap keluhan seperti nyeri leher, bahu, atau punggung pada sebagian orang.
Namun, ketegangan otot bukan satu-satunya mekanisme yang menjelaskan hubungan stres dan nyeri.
3. Gangguan Tidur
Stres dapat mengganggu kualitas atau durasi tidur. Di sisi lain, tidur yang buruk juga dapat membuat seseorang lebih sulit menghadapi nyeri dan dapat memengaruhi fungsi sehari-hari.
Akibatnya, stres, gangguan tidur, dan nyeri dapat saling memperkuat.
4. Perubahan Perhatian terhadap Nyeri
Ketika seseorang terus-menerus mengkhawatirkan keluhan yang dialami, perhatian dapat lebih terfokus pada sensasi tubuh. Faktor kognitif dan emosional seperti kecemasan, distress, dan ketakutan terhadap nyeri juga dapat berhubungan dengan perjalanan nyeri muskuloskeletal.
Hal ini tidak berarti seseorang “membayangkan” rasa sakitnya. Faktor psikologis dapat memengaruhi pengalaman nyeri melalui interaksi dengan proses biologis.
Apakah Stres Bisa Menjadi Penyebab Nyeri?
Stres dapat berkontribusi terhadap muncul atau menetapnya nyeri pada kondisi tertentu, tetapi tidak tepat menyebut stres sebagai penyebab tunggal semua nyeri.
Bukti mengenai stres sebagai faktor risiko nyeri kronis juga berbeda menurut jenis nyeri dan populasi yang diteliti. Sebuah systematic review menemukan bukti mengenai peran perceived stress dan life stressors terhadap perkembangan gangguan muskuloskeletal kronis, tetapi kualitas bukti dinilai rendah dan penelitian yang tersedia masih terbatas.
Artinya, ketika seseorang mengalami nyeri, tetap penting untuk mengevaluasi kemungkinan penyebab medis seperti cedera, penyakit muskuloskeletal, gangguan saraf, atau kondisi lainnya.
Stres kemudian dapat dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi intensitas, persistensi, atau kemampuan seseorang menghadapi nyeri.
Cara Mengelola Stres agar Nyeri Lebih Terkendali
Mengelola stres bukan berarti menganggap nyeri hanya berasal dari faktor psikologis. Tujuannya adalah mengurangi salah satu faktor yang dapat memperburuk pengalaman nyeri dan membantu pasien menjalani aktivitas dengan lebih baik.
Beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan meliputi:
-
Menjaga Pola Tidur: Usahakan memiliki jadwal tidur yang teratur dan lingkungan tidur yang mendukung. Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebabnya.
-
Melakukan Aktivitas Fisik Sesuai Kondisi: Aktivitas fisik yang sesuai dapat menjadi bagian dari penanganan nyeri kronis. Jenis dan intensitas aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pasien, terutama jika terdapat cedera atau penyakit tertentu.
-
Latihan Relaksasi dan Pernapasan: Teknik relaksasi, pernapasan, mindfulness, atau pendekatan pengelolaan stres lainnya dapat digunakan sebagai bagian dari strategi nonfarmakologis. Namun, efek terhadap nyeri dapat berbeda antarindividu dan sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti evaluasi medis.
-
Mendapatkan Bantuan Profesional: Jika stres, kecemasan, gangguan tidur, atau nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pasien dapat mempertimbangkan konsultasi dengan dokter atau tenaga profesional terkait.
Penanganan Nyeri dengan Pendekatan Menyeluruh di Granostic
Granostic Pain Clinic di Surabaya melakukan evaluasi nyeri dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.
Pada pasien dengan nyeri kronis, dokter dapat menilai karakteristik nyeri, riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, faktor yang memperburuk atau mengurangi gejala, serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
Jika stres, gangguan tidur, atau faktor psikologis ikut memengaruhi keluhan, aspek tersebut dapat menjadi bagian dari pembahasan dalam rencana penanganan. Pilihan terapi kemudian disesuaikan dengan penyebab, mekanisme nyeri, kondisi pasien, dan tujuan terapi.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan stres tidak ditempatkan sebagai pengganti terapi medis, tetapi sebagai salah satu bagian dari strategi penanganan nyeri yang lebih menyeluruh.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah nyeri akibat stres berarti nyerinya hanya ada di pikiran?
Tidak. Nyeri merupakan pengalaman nyata yang melibatkan sistem saraf dan berbagai proses biologis. Stres dapat memengaruhi bagaimana tubuh memproses dan memodulasi nyeri, tetapi hal tersebut tidak berarti seseorang mengarang atau membayangkan rasa sakitnya.
Apakah stres bisa membuat nyeri kronis semakin parah?
Stres dapat berkaitan dengan meningkatnya sensitivitas atau gangguan akibat nyeri pada sebagian orang. Namun, respons setiap individu berbeda dan hubungan stres dengan nyeri bersifat kompleks. Penelitian terbaru menemukan hubungan antara beberapa penanda sistem stres dan sensitivitas nyeri, tetapi kualitas bukti masih bervariasi.
Apakah kortisol tinggi pasti menyebabkan nyeri?
Tidak. Kortisol merupakan bagian dari respons stres, tetapi hubungan kadar kortisol dengan nyeri tidak sesederhana hubungan sebab-akibat langsung. Penelitian menunjukkan hasil yang beragam dan masih terus berkembang.
Apakah mengurangi stres bisa menghilangkan nyeri?
Belum tentu. Mengelola stres dapat membantu sebagian orang mengendalikan faktor yang memperburuk nyeri, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan dan penanganan terhadap penyebab medis yang mendasarinya.
Apakah olahraga dapat membantu mengatasi stres dan nyeri?
Pada kondisi tertentu, aktivitas fisik yang disesuaikan dapat menjadi bagian dari penanganan nyeri kronis. Namun, jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Kapan harus berkonsultasi ke dokter?
Konsultasi sebaiknya dipertimbangkan jika nyeri menetap, berulang, semakin berat, mengganggu aktivitas atau tidur, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan. Evaluasi membantu menentukan apakah terdapat kondisi medis yang perlu ditangani selain faktor stres.

