Nyeri Kronis: Pengertian dan Bagaimana Otak Memengaruhi Rasa Nyeri

Nyeri kronis bukan sekadar nyeri akut yang berlangsung lebih lama. Ketika nyeri menetap atau berulang selama berbulan-bulan, sistem saraf dapat mengalami perubahan dalam cara menerima, memproses, dan memodulasi sinyal nyeri.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri kronis adalah nyeri yang menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan penyakit atau cedera yang masih berlangsung, tetapi pada sebagian pasien nyeri dapat tetap muncul meskipun penyebab awal sudah ditangani.
Karena mekanismenya kompleks, memahami bagaimana otak dan sistem saraf memengaruhi pengalaman nyeri menjadi bagian penting dalam penanganannya.
Apa Itu Nyeri Kronis?
Nyeri kronis adalah nyeri yang menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Berbeda dari nyeri akut yang umumnya berperan sebagai respons perlindungan terhadap cedera atau ancaman kerusakan jaringan, nyeri kronis dapat menjadi masalah kesehatan tersendiri dan berdampak pada fungsi serta kualitas hidup.
Dalam klasifikasi IASP dan ICD-11, nyeri kronis dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, termasuk chronic primary pain dan chronic secondary pain.
Pada chronic secondary pain, nyeri berkaitan dengan kondisi atau penyakit yang mendasarinya. Sementara itu, chronic primary pain merupakan kondisi ketika nyeri menjadi masalah utama dan berkaitan dengan distress emosional atau gangguan fungsi yang signifikan, setelah diagnosis lain tidak lebih baik menjelaskan keluhan tersebut.
Artinya, nyeri kronis tidak selalu memiliki mekanisme yang sama pada setiap pasien.
Bagaimana Otak Memproses Rasa Nyeri?
Nyeri bukan sekadar sinyal yang dikirim dari bagian tubuh menuju otak lalu diterjemahkan secara sederhana menjadi rasa sakit.
Pemrosesan nyeri melibatkan jaringan saraf yang luas dan berinteraksi dengan sistem sensorik, emosional, kognitif, serta mekanisme modulasi nyeri. Penelitian mengenai sistem otak pada nyeri kronis menunjukkan bahwa pengalaman nyeri bersifat kompleks dan melibatkan berbagai jaringan otak, bukan satu area tunggal.
Secara sederhana, prosesnya dapat dipahami sebagai berikut:
Rangsangan dari tubuh → sistem saraf → pemrosesan dan modulasi → pengalaman nyeri
Pada setiap tahap tersebut, informasi dapat dipengaruhi oleh kondisi tubuh, pengalaman sebelumnya, perhatian, emosi, konteks, dan faktor lainnya.
Itulah sebabnya dua orang yang mengalami kondisi fisik serupa belum tentu merasakan nyeri dengan intensitas yang sama.
Hubungan Otak dengan Intensitas Nyeri
Otak tidak hanya menerima informasi mengenai rangsangan dari tubuh, tetapi juga berperan dalam memodulasi pengalaman nyeri.
Jaringan otak yang berkaitan dengan perhatian, emosi, motivasi, dan proses kognitif dapat berinteraksi dengan sistem pemrosesan nyeri. Penelitian neuroimaging menunjukkan adanya perubahan pada beberapa jaringan otak pada kondisi nyeri kronis, meskipun hubungan antara perubahan tersebut dan pengalaman nyeri tidak selalu sederhana atau sama pada setiap pasien.
Dengan demikian, bukan berarti “nyeri hanya ada di otak”. Sebaliknya, otak merupakan bagian penting dari sistem biologis yang menghasilkan dan memodulasi pengalaman nyeri.
Hubungan Stres dan Faktor Psikologis dengan Nyeri Kronis
Stres, kecemasan, ketakutan terhadap gerakan, pola pikir tertentu mengenai nyeri, gangguan tidur, serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi pengalaman dan perjalanan nyeri. Faktor-faktor tersebut berinteraksi dengan proses biologis dan tidak berdiri sendiri sebagai satu-satunya penyebab.
Tinjauan sistematis terhadap faktor biopsikososial menemukan berbagai faktor yang berkaitan dengan perkembangan nyeri muskuloskeletal kronis, termasuk tingkat nyeri yang tinggi, fear avoidance, dukungan sosial yang lebih rendah, dan sejumlah faktor lainnya. Namun, hubungan tersebut tidak berarti satu faktor tertentu secara otomatis menyebabkan nyeri kronis pada setiap individu.
Pendekatan ini menjadi dasar dari model biopsikososial, yaitu kerangka yang mempertimbangkan faktor biologis, psikologis, dan sosial secara bersamaan dalam memahami nyeri.
Mengapa Nyeri Kronis Dapat Memengaruhi Tidur, Aktivitas, dan Emosi?
Nyeri kronis dapat membentuk hubungan timbal balik dengan berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Misalnya, nyeri dapat membuat seseorang sulit tidur atau mengurangi aktivitas. Kurang tidur dan keterbatasan aktivitas kemudian dapat memengaruhi kemampuan seseorang menghadapi nyeri. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada:
-
aktivitas sehari-hari,
-
kemampuan bekerja,
-
kualitas tidur,
-
aktivitas fisik,
-
suasana hati,
-
dan partisipasi sosial.
Dampaknya juga dapat berbeda pada setiap orang. IASP menempatkan fungsi dan dampak psikososial sebagai bagian penting dalam memahami chronic pain, bukan sekadar mengukur intensitas nyeri.
Kapan Nyeri Kronis Perlu Diperiksakan?
Nyeri yang menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan layak mendapatkan evaluasi medis, terutama apabila mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan menjadi semakin penting apabila nyeri:
-
terus memburuk,
-
mengganggu tidur atau aktivitas,
-
disertai gangguan fungsi,
-
tidak membaik dengan penanganan sebelumnya,
-
atau muncul bersama gejala lain yang mengkhawatirkan.
Tujuan pemeriksaan bukan hanya mencari lokasi yang sakit, tetapi memahami penyebab, mekanisme, dampak, dan faktor yang dapat memengaruhi perjalanan nyeri.
Penanganan Nyeri Kronis di Granostic Pain Clinic
Granostic Pain Clinic di Surabaya menyediakan evaluasi dan penanganan nyeri berdasarkan kondisi serta kebutuhan masing-masing pasien.
Evaluasi dapat mencakup riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, penilaian karakteristik nyeri, serta pemeriksaan penunjang apabila diperlukan. Berdasarkan hasil evaluasi, dokter dapat menentukan pendekatan penanganan yang sesuai, baik melalui terapi konservatif, rehabilitasi, obat-obatan, maupun prosedur intervensional pada pasien dengan indikasi yang tepat.
Pendekatan ini menempatkan prosedur sebagai bagian dari rencana penanganan nyeri secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada menghilangkan rasa sakit untuk sementara.
Jika nyeri telah berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi yang sesuai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Berapa lama nyeri disebut nyeri kronis?
Nyeri umumnya dikategorikan sebagai kronis apabila menetap atau berulang selama lebih dari tiga bulan. Namun, durasi saja tidak cukup untuk menentukan penyebab maupun mekanisme nyeri.
Apakah nyeri kronis berarti tubuh masih mengalami kerusakan?
Tidak selalu. Sebagian nyeri kronis berkaitan dengan kondisi yang masih berlangsung, sementara pada kondisi lain mekanisme pemrosesan nyeri dan perubahan sistem saraf dapat berperan. Evaluasi medis diperlukan untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.
Apakah stres dapat menyebabkan nyeri kronis?
Stres dapat memengaruhi pengalaman dan perjalanan nyeri, tetapi nyeri kronis tidak sebaiknya dianggap disebabkan oleh stres saja. Faktor biologis, psikologis, dan sosial dapat saling berinteraksi.
Apakah central sensitization sama dengan nyeri kronis?
Tidak. Central sensitization merupakan salah satu mekanisme yang dapat berperan dalam kondisi nyeri tertentu, sedangkan nyeri kronis merupakan kategori yang lebih luas dengan berbagai penyebab dan mekanisme.
Apakah nyeri kronis bisa sembuh?
Hasil penanganan berbeda pada setiap kondisi dan pasien. Tujuan terapi dapat mencakup mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi, memperbaiki kualitas tidur, serta membantu pasien kembali melakukan aktivitas. Tidak semua kondisi dapat dijanjikan sembuh sepenuhnya.
Apakah penderita nyeri kronis boleh berolahraga?
Pada banyak kondisi, aktivitas fisik yang disesuaikan dapat menjadi bagian dari penanganan. Namun, jenis dan intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, terutama jika terdapat penyakit atau cedera tertentu.

