Terapi Modern Proloterapi di Klinik Granostic Surabaya

Nyeri kronis dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, nyeri yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat menyebabkan gangguan tidur, menurunkan produktivitas, hingga berdampak pada kesehatan mental
Ketika obat pereda nyeri, fisioterapi, atau terapi konservatif lainnya belum memberikan hasil yang optimal, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi intervensi nyeri seperti Radio Frequency Ablation (RFA).
Radio Frequency Ablation merupakan prosedur medis minim invasif yang bertujuan mengurangi nyeri dengan menargetkan saraf tertentu yang menghantarkan sinyal nyeri ke otak. Terapi ini telah digunakan pada berbagai kondisi nyeri kronis dan dilakukan berdasarkan evaluasi medis yang menyeluruh.
Apa Itu Radio Frequency Ablation?
Radio Frequency Ablation (RFA) adalah prosedur medis yang menggunakan energi gelombang radio untuk menghasilkan panas terkontrol pada ujung saraf tertentu.
Panas tersebut bertujuan mengganggu kemampuan saraf dalam menghantarkan sinyal nyeri menuju otak. Dengan berkurangnya transmisi sinyal nyeri, pasien dapat merasakan penurunan intensitas nyeri dalam jangka waktu tertentu.
Penting untuk dipahami bahwa RFA tidak menghilangkan seluruh fungsi saraf. Prosedur ini hanya menargetkan saraf sensorik tertentu yang berperan dalam menghantarkan rasa nyeri.
Cara Kerja Radio Frequency Ablation
Rasa nyeri yang kita rasakan sebenarnya merupakan hasil dari perjalanan sinyal listrik yang dikirim oleh saraf menuju otak.
Pada kondisi nyeri kronis, saraf tertentu terus mengirimkan sinyal nyeri meskipun penyebab awalnya telah ditangani atau berlangsung dalam waktu lama.
Radio Frequency Ablation bekerja dengan cara:
- Mengidentifikasi saraf yang menjadi sumber nyeri.
- Menempatkan jarum khusus di dekat saraf target.
- Mengalirkan energi radio frekuensi melalui ujung jarum.
- Menghasilkan panas dengan suhu yang telah dikontrol.
- Mengurangi kemampuan saraf menghantarkan sinyal nyeri.
Karena hanya menargetkan saraf tertentu, jaringan di sekitar area tindakan tetap dapat dipertahankan semaksimal mungkin.
Kondisi yang Dapat Ditangani dengan RFA
Dokter dapat mempertimbangkan Radio Frequency Ablation pada beberapa kondisi berikut:
- Nyeri sendi tulang belakang (facet joint pain).
- Nyeri leher kronis.
- Nyeri punggung bawah kronis.
- Nyeri akibat osteoarthritis pada kondisi tertentu.
- Nyeri sendi sakroiliaka (sacroiliac joint pain).
- Beberapa jenis nyeri saraf kronis sesuai hasil evaluasi dokter.
Setiap pasien memerlukan pemeriksaan yang berbeda sehingga tidak semua jenis nyeri dapat ditangani dengan RFA.
Prosedur Radio Frequency Ablation
Konsultasi dan Evaluasi
Dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta meninjau hasil pemeriksaan penunjang seperti MRI, CT Scan, atau pencitraan lainnya bila diperlukan.
Persiapan Tindakan
Area tindakan dibersihkan dan pasien diposisikan sesuai lokasi saraf yang akan ditangani.
Pada banyak kasus, dokter menggunakan bantuan C-Arm Fluoroscopy, yaitu alat pencitraan sinar-X secara real-time yang membantu memastikan posisi jarum lebih akurat selama prosedur.
Pemasangan Jarum
Jarum khusus dimasukkan menuju area saraf target dengan panduan pencitraan.
Dokter dapat melakukan stimulasi ringan terlebih dahulu untuk memastikan posisi jarum sudah sesuai.
Pemberian Energi Radio Frekuensi
Energi radio frekuensi kemudian dialirkan selama beberapa detik hingga menit sesuai protokol medis sehingga terbentuk panas terkontrol pada saraf target.
Observasi Setelah Tindakan
Setelah prosedur selesai, pasien biasanya menjalani observasi singkat sebelum diperbolehkan pulang pada hari yang sama.
Apa Keunggulan Radio Frequency Ablation?
Dibandingkan tindakan bedah pada kondisi tertentu, Radio Frequency Ablation memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
- Prosedur minim invasif.
- Tidak memerlukan sayatan besar.
- Dilakukan sebagai tindakan rawat jalan pada banyak kasus.
- Waktu pemulihan relatif lebih cepat.
- Dapat membantu mengurangi kebutuhan obat pereda nyeri pada sebagian pasien.
- Membantu meningkatkan kualitas hidup apabila terapi berhasil.
Namun demikian, efektivitas terapi tetap dipengaruhi oleh penyebab nyeri, kondisi pasien, serta pemilihan indikasi yang tepat.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?
Segera konsultasikan dengan dokter apabila Anda mengalami:
- Nyeri leher atau pinggang yang berlangsung lebih dari tiga bulan.
- Nyeri yang tidak membaik dengan obat maupun fisioterapi.
- Nyeri yang mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
- Nyeri yang sering kambuh dan menurunkan kualitas hidup.
Pemeriksaan yang tepat akan membantu dokter menentukan penyebab nyeri sekaligus memilih terapi yang paling sesuai.
Konsultasikan Penanganan Nyeri Kronis di Granostic Surabaya
Granostic menyediakan layanan penanganan nyeri dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari konsultasi, pemeriksaan, hingga terapi intervensi sesuai indikasi medis.
Jika Anda mengalami nyeri kronis yang belum membaik, dokter di Granostic akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan apakah Radio Frequency Ablation (RFA) merupakan pilihan terapi yang tepat sesuai kondisi Anda.
FAQ Radio Frequency Ablation
Apakah Radio Frequency Ablation sama dengan operasi?
Tidak. Radio Frequency Ablation merupakan prosedur minim invasif yang dilakukan menggunakan jarum khusus tanpa sayatan besar seperti pada operasi.
Apakah prosedur RFA terasa sakit?
Dokter akan melakukan tindakan sesuai standar medis untuk menjaga kenyamanan pasien. Sebagian pasien hanya merasakan rasa tidak nyaman ringan selama prosedur.
Berapa lama prosedur Radio Frequency Ablation berlangsung?
Lama tindakan umumnya sekitar 30 hingga 90 menit, tergantung lokasi dan jumlah saraf yang ditangani.
Berapa lama manfaat Radio Frequency Ablation dapat bertahan?
Hasil terapi berbeda pada setiap pasien. Manfaatnya dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun, tergantung kondisi masing-masing.
Apakah semua penderita nyeri kronis dapat menjalani RFA?
Tidak. Dokter akan melakukan evaluasi terlebih dahulu untuk memastikan apakah penyebab nyeri sesuai dengan indikasi Radio Frequency Ablation.
Ditinjau Oleh:
dr. Adam Hilman
Sumber Referensi:
- American Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine. (n.d.). American Society of Regional Anesthesia and Pain Medicine. Diakses 2026.
- Cleveland Clinic. (n.d.). Radiofrequency Ablation (RFA). Diakses 2026.
- Johns Hopkins Medicine. (n.d.). Radiofrequency Ablation. Diakses 2026.
- StatPearls Publishing. (n.d.). Radiofrequency Ablation. Diakses 2026.
- Radiological Society of North America. (n.d.). Radiofrequency Ablation. Diakses 2026.

