Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285
Buka 24 Jam

Myoma Uteri

Pengertian

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang berasal dari otot polos rahim. Tumor ini sering juga disebut sebagai fibroid atau leiomioma. Penyebab sel tumor ini dapat terbentuk karena adanya mutasi genetik, kemudian berkembang akibat induksi hormon estrogen dan progesterone. Leiomioma uteri merupakan jenis tumor jinak yang dapat menyerang segala rentan usia. Dari epidemiologi menunjukkan bahwa 70% kasus dapat terjadi pada usia 50 tahun, di mana 30-40% kasus pada masa perimenopause dan 20-25% kasus pada wanita usia reproduksi. Jumlah dan ukuran mioma sangat bervariasi, terkadang dapat ditemukan satu atau juga lebih dari satu untuk mioma yang tumbuh di tubuh kita. Mioma mampu tumbuh di bagian dinding luar rahim, pada otot rahim, atau bisa juga di bagian dinding dalam rahim sendiri. Ini jenis tumor yang lebih banyak ditemukan. Rata-rata pada wanita di atas usia 30 tahun. Mioma dapat diklasifikasikan atas beberapa tipe antara lain:
  1. Tipe 0 - Merupakan pedunculated intracavitary myoma yaitu tumor berada di submukosa dan sebagian dalam rongga rahim.
  2. Tipe 1 - Merupakan tipe submukosa dengan < 50% bagian tumor berada di intramural.
  3. Tipe 2 - Merupakan tipe tumor menyerang ≥ 50% intramural.
  4. Tipe 3 - Merupakan tipe tumor dengan seluruh bagian tumor berada dalam dinding uterus yang berdekatan dengan endometrium.
  5. Tipe 4 - Tipe tumor intramural yang lokasinya berada dalam miometrium.
  6. Tipe 5 - Tipe serosa dengan ≥ 50% bagian tumor berada pada intramural.
  7. Tipe 6 - Jenis subserosa yang mengenai < 50% intramural.
  8. Tipe 7 - Tipe pedunculated subserous.
  9. Tipe 8 - Kategori lain ditandai dengan pertumbuhan jaringan di luar miometrium yang disebut cervicalparasitic lesion.

Mioma intramural merupakan jenis yang paling banyak, sedangkan mioma submukosa merupakan mioma paling jarang ditemukan kasusnya. 


Penyebab

Penyebab pasti mioma belum diketahui secara pasti. Mioma jarang sekali ditemukan pada remaja sebelum pubertas. Karena mioma sangat dipengaruhi oleh hormon reproduksi dan hanya manifestasi selama usia reproduktif (Anwar dkk, 2011). Tetapi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor pada mioma, di samping faktor predisposisi genetik :

  1. Estrogen
    Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hidroxydesidrogenase mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak dari pada miometrium normal.
  2.  Progesteron
    Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
  3. Hormon pertumbuhan (growth hormone)
    Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa, yaitu HPL (Human Placenta Lactogen), terlihat pada periode ini dan memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leymioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan estrogen.


Faktor Risiko

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang mioma, antara lain:


Gejala

Umumnya, mioma tidak menimbulkan gejala yang disadari pengidapnya. Tetapi ada beberapa gejala umum yang dapat dirasakan, antara lain :


Komplikasi Mioma Uteri

Mioma uteri yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi berupa:

Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis mioma uteri, dokter bisa melakukan beberapa langkah pemeriksaan di bawah ini:

  1. Tes laboratorium
    Hitung darah lengkap dan apusan darah : Leukositosis dapat disebabkan oleh nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunnya kadar hemoglobin dan hematokrit menunjukan adanya kehilangan darah yang kronik.
  2. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin Sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang simetrik menyerupai kehamilan atau terdapat bersamaan dengan kehamilan.
  3. Ultrasonografi, apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat membantu.
  4. Pielogram intravena
    a. Pap smear serviks selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelum histerektomi.
    b. Histerosal pingogram dianjurkan bila klien menginginkan anak lagi dikemudian hari untuk mengevaluasi distorsi rongga uterus dan kelangsungan tuba falopi (Nurarif & Kusuma, 2013).


Pencegahan

Langkah pencegahan mioma uteri tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebab kondisi ini juga belum diketahui secara pasti. Namun beberapa langkah di bawah ini diduga dapat membantu dalam mencegah mioma uteri:

  1. Menerapkan pola hidup sehat, seperti mempertahankan berat badan ideal dan memilih makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.
  2. Menggunakan kontrasepsi hormonal.


Pengobatan

Cara mengobati mioma uteri umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama Anda sudah mengalami kondisi tersebut. Pada kebanyakan kasus, mioma tidak perlu diobati jika tidak menyebabkan gejala. Seiring berjalannya waktu, mioma dapat menyusut dan menghilang setelah menopause tanpa pengobatan. Namun bila gejala mioma menetap, maka diperlukan pengobatan untuk mengatasi gejala dan mengurangi ukuran mioma uteri. Penanganan mioma uteri dapat menggunakan obat-obatan, pilihan obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi mioma uteri adalah:

  1. Asam traneksamat untuk mengatasi perdarahan yang berat.
  2. NSAID untuk meredakan nyeri.
  3. Obat-obatan hormonal yang dapat meredakan gejala terkait menstruasi atau mengecilkan ukuran mioma. Contohnya, gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonist, progestin, atau alat KB dalam rahim yang mengandung progesteron.


Daftar Pustaka

Home Service
Loading
Toast Message