Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285
Buka 24 Jam

TBC (TUBERKULOSIS)

TBC (TUBERKULOSIS)

    TB atau Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis atau BTA (Bakteri Tahan Asam). Penyakit ini menyerang paru-paru namun bisa juga menyebar ke anggota tubuh lainnya (ekstra paru). Penyakit ini menular melalui udara atau aerogen pada saat penderita TB batuk, bersin atau berbicara lalu mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri M. tuberculosis dan menyebar melalui udara. Kebijakan Pengendalian TB di Indonesia dilaksanakan melalui penggalangan kerja sama antara pemerintah, non pemerintah, swasta dan masyarakat dalam Gerakan Terpadu Nasional Pengendalian TB.

    KLASIFIKASI  

    Klasifikasi TBC Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik, dan riwayat pengobatan sebelumnya.

A. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:

  1. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.
  2. Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.

B. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB Paru:

1) Tuberkulosis paru BTA positif :

2) Tuberkulosis paru BTA negatif : 

C. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit. 

  1. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.
  2. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu: a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal. b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat kelamin.

    Catatan: Bila seorang pasien TB ekstra paru juga mempunyai TB paru, maka untuk kepentingan pencatatan, pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB paru. Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ, maka dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.

D. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe pasien, yaitu: 

  1. Kasus Baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
  2. Kasus Kambuh (Relaps) adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
  3. Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO) adalah pasien TB yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
  4. Kasus Gagal (Failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
  5. Kasus Pindahan (Transfer In) adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
  6. Kasus lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.
    Catatan: TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologi

Ciri-ciri Mycobacterium tuberculosis, yaitu :

  1. Berbentuk batang (basil) dengan panjang 1-10 mikron, dan lebar 0,2-0,8 mikron.
  2. Tahan terhadap suhu rendah (40oC hingga (-70oC) sehingga bisa bertahan hidup dalam waktu lama.
  3. Dalam suhu 30-37oC dapat bertahan hidup hingga kurang satu minggu.
  4. Bersifat tahan asam jika diperiksa secara mikroskopis dalam pewarnaan metode Ziehl-Neelsen.
  5. Bakteri tampak berbentuk batang berwarna merah dalam pemeriksaan mikroskop.
  6. Memerlukan media biakan khusus yaitu Loweinsten-Jensen dan Ogawa.
  7. Sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan ultraviolet, sehingga apabila terpapar langsung sebagian besar bakteri akan mati dalam beberapa menit.
  8. Bakteri dapat bersifat tidur atau tidak berkembang (dormant) (Kemenkes RI, 2014, 2017).

Etiologi atau Penyebab

Cara Penularan :

  1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).
  2. Infeksi akan terjadi bila seseorang menghirup udara yang mengandung percikan dahak pasien TB.
  3. Sekali batuk penderita TB dapat mengeluarkan 0- 3500 bakteri, sedangkan bersin 4500-1.000.000 bakteri.
  4. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan tertutup dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi udara yang baik dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan beberapa jam pada kondisi yang gelap dan lembab.
  5. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, maka makin tinggi daya penularan pasien tersebut.

Gejala Kritis

    Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.

Gejala Sistemik/Umum: 

  1. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
  2. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul
  3. Penurunan nafsu makan dan berat badan
  4. Perasaan tidak enak (malaise), lemah

Gejala Khusus: 

  1. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
  2. Kalau ada cairan di rongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  3. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  4. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang. Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Pemeriksaan Penunjang

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

  1. Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  2. Pemeriksaan fisik.
  3. Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  4. Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  5. Rontgen dada (thorax photo).
  6. Uji tuberkulin.

    Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS): 

    Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. 

Pencegahan

  1. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat
  2. Membudayakan perilaku etika ketika batuk
  3. Melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat
  4. Peningkatan daya tahan tubuh
  5. Penanganan penyakit penyerta TBC
  6. Penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan

PENULIS: Anggraeni Windi Rosari
EDITOR: dr. Aji Wibowo
KOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul Chotimah

Daftar Pustaka & Referensi :

Registrasi Online Home Service
Loading
Toast Message