Jl. Dharmahusada No.146, Mojo, Kec. Gubeng, Kota SBY, Jawa Timur 60285
Buka 24 Jam

LEPTOSPIROSIS

LEPTOSPIROSIS

    Leptospirosis pada manusia pertama kali ditemukan oleh Van der Scheer pada tahun 1892 di Indonesia, namun isolasi baru dapat dilakukan pada tahun 1922 oleh Vervoort. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan saat ini leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena belum dapat dikendalikan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, selama tahun 2014 – 2016 terdapat tujuh provinsi yang melaporkan adanya kejadian leptospirosis, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten dan Kalimantan Selatan.

    Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis menular yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menginfeksi manusia dan hewan. Kejadian leptospirosis biasanya dihubungkan dengan bencana banjir, air pasang di daerah pantai, daerah rawa atau lahan gambut.

EPIDEMIOLOGI

    Leptospirosis tersebar luas di negara-negara yang beriklim tropis termasuk Indonesia. Kondisi lingkungan di wilayah tropis sangat mendukung penyebaran bakteri Leptospira, karena bakteri ini cocok hidup pada lingkungan dengan temperatur hangat, pH air dan tanah netral, kelembaban dan curah hujan yang tinggi. Terlebih jika kondisi lingkungan dalam keadaan yang buruk yang mendukung perkembangan dan lama hidup bakteri. Di wilayah Asia Pasifik leptospirosis dikategorikan sebagai penyakit yang ditularkan melalui media air (water borne disease), terlebih air yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi jika ada kontak antara manusia dengan hewan atau lingkungan yang sudah terinfeksi bakteri Leptospira. Manifestasi leptospirosis ini beragam mulai dari gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal. Sedangkan hewan yang terinfeksi oleh leptospira belum tentu tampak dalam kondisi sakit, karena bakteri ini bersifat komensal pada beberapa jenis hewan termasuk tikus yang dikenal sebagai reservoir leptospirosis di Indonesia. Secara alamiah leptospirosis terjadi karena adanya interaksi yang sangat kompleks dan beragam antara agent (pembawa penyakit), host (tuan tumah/pejamu) dan environment (lingkungan).

    Agent atau pembawa penyakit adalah mikroorganisme infeksius atau patogen. Pembawa leptospirosis adalah bakteri berbentuk spiral berpilin yang masuk dalam genus Leptospira. Bakteri ini bersifat komensal pada hewan dan secara alamiah memang berada di tubulus ginjal dan saluran kelamin hewan tertentu.

    Bakteri Leptospira memiliki dua lapis membran, berbentuk spiral, lentur, tipis dengan tebal 0,1 µm dan panjang 10-20 µm. Pada kedua ujungnya terdapat kait berupa flagelum periplasmik. Bergerak maju mundur dan memutar sepanjang sumbunya. Bakteri ini dapat hidup di dalam air tawar selama kurang lebih satu bulan dan peka terhadap asam. Dalam air laut, air selokan dan air kemih yang pekat, bakteri ini akan cepat mati. Berdasarkan strainnya, bakteri Leptospira dibedakan menjadi strain yang patogen dan non patogen. Leptospira patogen dikenal sebagai L. interrogans, sedangkan yang non-patogen dikenal sebagai L. biflexa. Bakteri Leptospira memiliki lebih dari 250 buah serovar patogen yang terbagi ke dalam 25 serogrup. Beberapa serovar yang ditemukan selama ini di Indonesia antara lain adalah serovar hardjo, tarassovi, pomona, australis, rachmati, bataviae, djasiman, icterohamorragie, hebdomadis, autumnalis, dan canicola.

    Host atau tuan rumah adalah manusia yang dapat terserang penyakit. Penyakit Leptospira memiliki dua pejamu, yaitu binatang/mamalia dan manusia. Mamalia yang menjadi pejamu ini dikenal dengan sebutan reservoir, berupa binatang buas dan juga ternak, termasuk tikus. Di Indonesia, sumber penularan utama leptospirosis adalah tikus. Tikus yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira terkadang tampak dalam keadaan sehat, karena bakteri ini bersifat komensal terhadap binatang inangnya. Beberapa spesies tikus yang menjadi reservoir leptospirosis di Indonesia di antaranya adalah Rattus tanezumi, Rattus norvegicus, Bandicota indica, Rattus exculan, Mus musculus dan Suncus murinus.

    Leptospirosis pada manusia menampakkan gejala yang bervariasi, mulai dari gejala ringan sampai dengan berat, tergantung jenis serovar yang masuk ke dalam tubuh manusia. Gejala klinis leptospirosis setelah masa inkubasi berupa demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk, rasa tidak nyaman di badan, muntah, nyeri pada perut, diare, sufusi konjungtiva, jaundice, urin berwarna seperti teh, oliguria, anuria, batuk berdarah, perdarahan pada kulit, pusing dan lesu. Penyakit ini dapat menimbulkan kerusakan beberapa organ berupa kegagalan hati akut, kegagalan ginjal akut, perdarahan pada paru-paru, miokarditis dan meningoencephalitis yang berakhir pada kematian. Leptospirosis sebagian besar menyerang laki-laki pada usia produktif, bekerja di luar rumah, memiliki kontak dengan tikus dan juga air yang terkontaminasi dengan bakteri Leptospira.

    Lingkungan adalah faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi pembawa penyakit dan memberikan kesempatan pada pembawa penyakit untuk menyebarkan penyakit, termasuk faktor fisik, biologi dan sosial ekonomi.

    Penyakit leptospirosis ini biasanya terjadi pada wilayah tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi, udara yang hangat dan lembab serta biasanya terjadi setelah banjir berlangsung. Biasanya setelah banjir berakhir, manusia dan binatang akan terpapar oleh air maupun tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira. Lingkungan dengan genangan air di sekitar rumah berhubungan dengan kejadian leptospirosis, selain itu, rumah dengan dinding dapur bukan dari tembok, tidak ada langit-langit di rumah, tempat sampah terbuka, kondisi rumah yang tidak rapi juga berhubungan dengan kejadian leptospirosis dan daerah yang rawan banjir.

    Manusia dan binatang dapat terinfeksi oleh bakteri ini melalui kontak antara kulit atau mukosa dengan air maupun tanah yang mengandung urin binatang yang terinfeksi oleh bakteri ini. Infeksi juga dapat terjadi jika manusia mengkonsumsi air ataupun makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Leptospira. Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang ada di kulit, membran mukosa (hidung, mulut dan mata), atau bahkan melalui air minum. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, bakteri ini berada di dalam darah dan menyerang jaringan dan organ tubuh.

DIAGNOSIS

    Diagnosis leptospirosis dapat dilakukan baik pada hewan maupun manusia. Pada hewan diagnosis dilakukan pada ginjal dan limpa, sedangkan pada manusia diagnosis dilakukan pada serum, plasma darah, urin dan cairan serebrospinal. Diagnosis laboratorium leptospirosis melibatkan dua kelompok pengujian. Kelompok pertama didesain untuk mendeteksi antibodi anti-leptospira, sedangkan kelompok kedua untuk mendeteksi Leptospira, antigen Leptospira atau asam nukleat Leptospira pada cairan tubuh maupun jaringan.

    Kultur dan Microscopic Agglutination Test (MAT) adalah standar emas untuk diagnosis laboratorium dan yang paling banyak digunakan. Beberapa cara skrining cepat penegakan diagnosis leptospirosis telah dikembangkan, di antaranya Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), uji aglutinasi lateks, uji aliran lateral dan dipstik IgM, tapi sayangnya sensitivitas alat tersebut masih sangat rendah terutama pada saat fase akut. Selain MAT, alat diagnosis yang digunakan adalah Polymerase Chain Reaction (PCR) yang terbukti berguna untuk mendiagnosis leptospirosis lebih awal sebelum dimulainya produksi antibodi, sayangnya biaya operasional PCR ini sangat mahal, sehingga dirasa kurang efisien.

    Diagnosis kasus leptospirosis pada manusia dapat dilakukan pada saat masa akut, transisi dari masa akut ke masa imun dan fase imun. Pada masa akut diagnosis dilakukan dengan mengkultur bakteri Leptospira dari darah, urin dan cairan serebrospinal; selain itu diagnosis dilakukan melalui PCR. Saat masa transisi dari fase akut ke fase imun diagnosis dilakukan melalui uji ELISA IgM dan dipstik. Pada saat fase imun diagnosis dilakukan melalui uji MAT, yang merupakan standar emas penegakan diagnosis leptospirosis berdasarkan rekomendasi dari WHO.

PENGOBATAN

    Pengobatan leptospirosis tergantung pada tingkat keparahannya. Bagi penderita leptosiprosis ringan pengobatannya berupa tablet doksisiklin dengan dosis 100 mg diminum dua kali sehari selama tujuh hari. Bagi penderita leptospirosis sedang dan/atau berat pengobatannya berupa penicilin G intravena dengan dosis 1,5 MU setiap enam jam selama tujuh hari. Jika terjadi gagal ginjal perlu dilakukan hemodialisa dan perlu dilakukan ventilasi pernafasan mekanis jika terjadi perdarahan pada paru-paru. Bagi orang yang memiliki risiko tinggi terkena leptospirosis, maka perlu diberikan doksisiklin oral sebagai profilaksis sebesar 200 mg per minggu selama terpapar risiko.

PENCEGAHAN 

    Berdasarkan saran WHO, upaya pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dalam tiga cara, yaitu pada hewan sebagai sumber infeksi, jalur penularan dan manusia. Pada hewan sebagai sumber infeksi, pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin kepada hewan yang berpotensi tertular leptospirosis. Selain itu kebersihan kandang hewan peliharaan juga perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya leptospirosis pada hewan. Pada jalur penularan, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan memutus jalur penularan.

    Jalur penularan adalah lingkungan yang bisa menjadi tempat berkembang biak dan hidup bakteri Leptospira. Lingkungan dengan kondisi sanitasi yang buruk menjadi faktor risiko terjadinya leptospirosis. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus, termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah yang benar sehingga tidak menjadi sarang tikus.

    Pada manusia, pencegahan yang bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan individu setelah beraktivitas di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis; pendidikan kesehatan untuk menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis; menjaga kebersihan kandang hewan peliharaan; membersihkan habitat sarang tikus; pemberantasan hewan pengerat bila kondisi memungkinkan dan pemberian kaporit atau sodium hipoklorit pada air tampungan yang akan digunakan oleh masyarakat. Selain itu perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini, terlebih bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi dan juga penyedia pelayanan kesehatan.

PENULIS: Achmad Priyas Budi Santoso, A.md. Kes
EDITOR: dr. Aji Wibowo
KOPIEDITOR BAHASA INDONESIA: Chusnul Chotimah


Daftar Pustaka & Referensi :

Registrasi Online Home Service
Loading
Toast Message